
" Kamu harus memberinya istirahat banyak Sam. " sindir nyonya Malaka.
" Aku tahu Ma." seru Samuel mengedipkan satu matanya.
-
" Kamu harus banyak istirahat Nay. Jangan pikirkan apapun yang bisa membuatmu lelah. Anak kita butuh ketenangan Mamanya. " Samuel dengan perlahan membantu sang istri berbaring di kasur, menyelimutinya dengan selimut tebal setelah itu memberikan kecupan di kening sang istri.
" Mas mau keluar sebentar. Apa kamu butuh sesuatu dulu? Kalau iya biar mas ambil sekarang. " Samuel jaga-jaga dari pada Kinaya bolak balik naik jenjang hanya untuk hal seperti air atau apalah yang dibutuhkan wanita.
" Tidak perlu mas. Aku mau istirahat dulu. Mas pergilah kalau memang ada urusan yang penting. " seru Kinaya tersenyum agar Samuel bisa melakukan tugasnya. Kinaya pun memutuskan untuk langsung tidur agar Samuel bisa pergi lebih cepat.
" Baiklah. Kalau begitu mas akan keruang kerja ayah dulu. Panggil mas jika kamu butuh sesuatu, okey. " seru Samuel tersenyum mengusap kepala Kinaya dan langsung melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya.
Mama Samuel melihat Samuel turun. Dia pun langsung berdiri dan menghampiri anaknya.
" Loh! Kenapa kamu turun! Istrimu dibiarkan sendiri di kamar? Kalau begini bagus Mama berbincang saja dengan menantu Mama." nyonya Malaka hendak berjalan menuju kamar menantunya namun ditahan oleh Samuel.
" Istriku sudah tidur Ma, jangan bangunkan dia hanya untuk menemani Mama bicara." Samuel memegang kedua bahu Mamanya dan mendudukkan kembali Mamanya di sofa.
"Cih. Apa salahnya coba mengajak anak sendiri berbincang. Apa kamu belum puas sama istrimu seharian dirumah. Dasar anak muda. " sindir nyonya Malaka melipat kedua tangannya di dada.
" Mama, apa Mama tidak pernah muda. Pasti Mama sudah mengalaminya duluan dari pada aku kan! Dan Mama pasti tahu bagaimana rasanya ketika kita berada di samping orang yang kita sayangi kan? " Samuel membalas dengan sindiran namun nadanya bicara terdengar manis jika kalimat itu keluar dari mulutnya.
__ADS_1
" Heh. Sepertinya anak Mama ini tidak akan bisa jauh-jauh dari istrinya Pa." Nyonya Malaka menatap tuan Malaka yang hanya dibalas seringaian dibibir nya. Seketika mereka bersama tertawa bersama.
" Yaudah Ma, Pa Samuel mau ke ruang kerja dulu sebentar. " Samuel berlenggang ke ruang kerjanya ketika kedua orang tuanya menganggukkan kepalanya.
Disisi lain Kinaya berjinjit ke pintu, melihat Samuel sudah di ruang kerjanya atau belum, setelah memastikannya dia pun menutup pintu lalu mengeluarkan ponselnya.
" Hallo Ras. Bagaimana! Apakah sudah baikan dari kemarin?" tanya Kinaya yang sebelumnya menghawatirkan keadaan temannya itu. Kinaya berjalan menuju arah balkon kamarnya.
" Aku sudah tidak apa-apa Ki. Kamu sendiri bagaimana?"tanya Laras di seberang yang pura-pura peduli akan kesehatan sahabatnya.
" Aku baik-baik saja Ras. Sebenarnya aku telpon kamu hanya untuk bilang ... itu aku mau bilang rencana kita yang beberapa minggu lalu itu ... aku tidak jadi melakukannya ... maafkan aku Ras karena sudah mempermainkan kamu tapi aku benar-benar minta maaf, aku sungguh menyesal, lagian kan baru kita saja yang tahu. Jadi, ini tidak akan berpengaruh untukmu kan. Aku sebenarnya hanya mau ngomong itu saja. Aku tutup dulu yah ...." Kinaya merasa tidak enak karena meminta temannya untuk jadi madunya tapi dia juga yang membatalkannya disaat calon madunya sudah tertarik pada suaminya itu. Namun disaat Kinaya hendak menutup teleponnya. Tiba-tiba Laras mengatakan sesuatu.
" Kenapa Ki. Apa aku begitu mudah kamu permainan seperti ini. Apa aku begitu mudahnya bagimu hingga kamu meminta dan membatalkan sendiri rencana yang sudah kamu buat. Aku tidak menyangka kamu memperlakukan aku seperti ini Kinaya. " Laras mencoba memprovokasi Kinaya.
" Tapi aku tidak seperti dulu lagi. Aku jatuh hati pada suamimu saat kita bertemu di rumah sakit kemarin. Kenapa ketika aku sudah mulai menerima tapi kamu batalkan seenaknya saja. Kamu pikir harga diriku begitu rendah hingga bisa kamu permainankan seperti ini. " Laras pura-pura terpukul namun diseberang senyuman penuh seringaian di bibirnya mendengar suara Kinaya yang penuh penyesalan.
" Aku tidak habis pikir dengan jalan pikirmu. Aku harap kamu bisa selalu dengan suamimu kelak." Laras langsung memutuskan panggilannya dan terlihat senyuman licik di bibirnya.
" Kenapa! Kenapa jadi begini! Aku juga tidak mau melakukan hal ini tapi saat itu dia juga tidak menolaknya. Aku pikir dia juga setuju untuk dimadu oleh ku tapi kenapa sekarang dia seperti dipaksa begitu! Apa aku yang salah dalam semua ini. Aku yang salah." lirih Kinaya yang mulai terisak dan penuh penyesalan.
Samuel yang saat itu sudah kembali, dia pun sedikit mendengar kalimat istrinya yang sedang bicara dengan seseorang di seberang. Awalnya Samuel sedikit marah namun melihat istrinya yang seperti itu membuat dia ikut tersiksa oleh rasa penyesalan. Samuel pun mendekati Kinaya yang tengah duduk di kursi santai yang ada di balkon.
" Apa kamu menyesal sekarang? Apa kamu tahu kesalahan yang sudah kamu lakukan sekarang. Aku bahkan sudah melarangmu untuk jangan berhubungan lagi dengan dia agar kamu tidak tersakiti ataupun disakiti oleh wanita itu tapi kamu malah menabur garam dilukamu sendiri. " Samuel menatap iba pada istrinya dengan masih berdiri tegak di depan Kinaya.
__ADS_1
" Mas. Aku salah mas. Aku tidak tahu ternyata dia sudah menaruh hati padamu mas. Saat itu aku juga tidak akan memaksa dia jika dia menolak mas tapi saat itu dia malah langsung menerimanya mas. Jadi, aku pikir dia tidak terpaksa melakukannya mas. Aku harus bagaimana lagi mas!? " Kinaya bingung. Kini dirinya serba salah sendiri. Dia hanya bisa meneteskan air matanya saat ini. Samuel yang melihatnya pun menjadi tidak tega. Samuel berjongkok di depan istrinya, mengelus pipi Kinaya lalu berusaha tersenyum.
"Sudah. Jangan pikirkan lagi. Mas akan mencoba menyelesaikannya untukmu namun lain kali kalau ada apa-apa kabarkan mas langsung yah. " Samuel berdiri lalu membenamkan kepala Kinaya yang saat ini tengah sejajar dengan perut Sixpacknya. Kinaya hanya tersedu-sedu menyesali perbuatannya. Dia merasa bersalah setelah mempermainkan teman baiknya.
" Aku menyesal mas. Aku pasti akan mengakhirinya jika saat itu dia menolak mas. Tapi kali ini jawabannya berbeda cari sebelumnya mas. Apa aku salah dengan itu? " tanya Kinaya.
" Dia salah Nay tapi kamu juga ambil andil dalam hal ini. Jadi, mas tidak bisa berbuat apa-apa selain menyelesaikan ini semua untukmu. " seru Samuel memeluk erat Kinaya.
" Maafkan aku mas. Maafkan aku. "seru Kinaya semakin mempererat pelukkannya ke dalam dekapan Samuel.
" Ssstt. Tidak apa-apa Nay."
.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1