Belenggu Seorang Istri

Belenggu Seorang Istri
Pingsan


__ADS_3

Beberapa hari setelah mereka menginap di panti asuhan. Samuel memutuskan untuk kembali ke kediamannya. Hari ini tepat dua hari setelah pergi dari panti.


Hari ini Samuel pergi ke kantornya. Meninggalkan sang istri di rumah bersama sang anak. Meeting penting membuat dia terpaksa meninggalkan mereka. Kinaya sendiri tidak mempermasalahkannya. Pekerjaan lebih penting menurutnya. Apalagi ia hanya akan berada di rumah saja. Jadi, tidak akan terjadi sesuatu yang buruk padanya dan juga Reza.


Tepat pukul 11 siang. Ternyata adik perempuan Samuel datang. Naura mulai sok berkuasa di sana. Memerintahkan pelayan sesuka hatinya.


"Apa-apaan kalian semua. Aku meminta di buatkan pasta tapi kalian malah membuatkan aku makanan hewan ini. Aku bukan binatang yang suka kacang-kacangan ataupun sayur-sayuran. Sekarang buatkan makanan yang baru untukku. " perintah Naura dengan nada kesalnya.


"Maaf Nona. Tapi ini adalah anjuran makanan sehat untuk Nyonya Kinaya. Beliau butuh menyehatkan kandungannya. Untuk sementara di rumah ini dilarang menyantap makanan yang tidak higenis. Setidaknya tunggu sampai Nyonya lahiran. " jelas Bik Yas penuh hormat. Naura mengernyitkan keningnya.


"Emang apa yang telah terjadi terhadap wanita itu? Sakit apa dia? " tanya Naura.


"Nyonya sakit kehamilan Anemia, Nona. Yang saya tahu kandungan Nyonya lemah. Tidak boleh makan makanan yang nona minta barusan. Dan dilarang keras membuat Nyonya kelelahan. " jelas Bik Yas.


"Emm. Jadi begitu ya. Yaudah, kalian boleh pergi dari hadapanku. " ucap Naura. Naura pun pergi ke kamarnya yang ada di sana.


Di dalam kamar. Kinaya terlihat termenung di kasurnya. Wanita hamil itu tengah memikirkan keberadaan adik iparnya yang semenjak datang ke sini selalu bikin kerusuhan. Membuat dirinya tidak tenang.


"Aku tidak mungkin mengusirnya dari sini. Aku hanya berdoa semoga semuanya baik-baik saja. Semoga aku bisa melalui hari-hari ini dengan baik kedepannya. " lirih Kinaya.


Tok, tok, tok.


Pintu kamar Kinaya di ketuk dari luar.


"Masuk. " balas Kinaya.


Kinaya pun berdiri. Melihat adik iparnya yang berjalan mendekatinya.


"Apa ada yang kamu butuhkan, Ra? " tanya Kinaya lembut.


"Tsk, aku hanya bosan saja di rumah. Kau temani aku ke Mall yuk. Kita jalan-jalan ke luar. Membeli pakaian dan tas branded lainnya." ucap Naura. Kinaya terlihat diam. Mencoba memahami adik iparnya itu. Tidak biasanya Naura mau jalan-jalan bersamanya. Karena tidak mau berpikir buruk. Kinaya pun menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu kamu tunggu sebentar ya. Aku mau siap-siap dulu. " ucap Kinaya. Naura diam. Malas menanggapi ucapan Kinaya. Naura pun menunggu Kinaya di depan pintu kamar.


"Yaudah, aku sudah siap. Kita pergi sekarang. " ucap Kinaya.


"Ayuk. " balas Naura.


Mereka pun melangkahkan kaki mereka. Setibanya di lantai dasar. Kinaya di hampiri oleh Bik Yas. Menanyakan kemana Nyonya rumah itu akan pergi.


"Maaf, Nyonya. Nyonya mau kemana? Tuan berpesan agar Nyonya tetap berada di rumah. Atau saya akan di marahkan oleh tuan nanti. " ucap Bik Yas sopan. Kinaya pun menoleh ke arah Naura. Gadis itu terlihat kesal.

__ADS_1


"Apaan sih kamu. Kamu hanya pelayan di sini. Berani-beraninya kamu melarang kami pergi. Ayuk kita pergi. " ucap Naura kepada Kinaya. Naura pun melangkahkan kakinya keluar. Kinaya pun menoleh ke arah Bik Yas.


"Tidak apa-apa, Bik. Kami hanya sebentar kok. Saya janji saya akan baik-baik saja. Kalau begitu saya pergi dulu ya, Bik. Saya titip rumah sama Bibik. Kalau begitu saya pergi dulu. " ucap Kinaya kepada Bik Yas. Kinaya pun menyusul Naura yang sudah duluan masuk ke dalam mobilnya.


Kinaya pun menyusul Naura untuk masuk ke dalam mobil. Kinaya memilih untuk duduk di samping kemudi. Kinaya tidak mau adiknya beranggapan yang lain karena dia enak-enakan duduk di belakang seperti Nyonya besar.


Di rumah. Bik Yas terlihat cemas. Apalagi dia tahu sifat adik Tuannya itu. Bik Yas pun menelpon Samuel. Cukup lama Bik Yas menelpon Samuel tapi tidak di angkat -angkat oleh pria itu. Sampai akhirnya sudah 1 jam lebih Bik Yas mengabari Samuel baru di angkat oleh pria itu.


"Hallo, Bik. Ada apa? Istri saya Baik-baik saja, kan? " tanya Samuel yang sedang berada di ruangannya dengan masih di suguhkan oleh berkas-berkas yang menumpuk.


"I-itu , Tuan. Nona Naura datang dan mengajak Nyonya pergi keluar. Sudah lewat satu jam tapi mereka belum balik juga. " jelas Bik Yas.


"Apa? Kenapa bibik membiarkan istri saya keluar. Astaga. Sekarang mereka ada di mana? " tanya Samuel mulai khawatir.


"Saya tidak tahu, Tuan. Karena Nyonya tidak menjelaskan kemana ia akan pergi. " balas Bik Yas yang lagi-lagi membuat Samuel tidak bisa menahan kemarahannya. Samuel pun mematikan sepihak panggilan tersebut. Samuel pun bergegas keluar dari kantornya. Samuel langsung masuk ke dalam mobilnya yang sudah di stand by kan oleh supirnya.


Samuel pun mengendarai mobilnya. Di dalam mobil, Samuel berkali-kali menelpon sang istri tetapi tidak di angkat oleh bumil itu. Naura pun juga begitu. Kedua wanita itu tidak mengangkat panggilan telepon darinya. Hal itu membuat Samuel semakin marah. Apalagi Samuel tahu sang istri tidak boleh kelelahan. Hal itu akan berdampak buruk terhadap kehamilan istrinya tersebut.


Sampai akhirnya, Samuel sudah menghentikan mobilnya tepat di depan mansionnya. Samuel langsung masuk ke dalam rumah tanpa mematikan mesin mobilnya. Samuel langsung mencari keberadaan sang istri. Dia pikir istrinya itu sudah pulang. Nyatanya tidak. Samuel malah bertemu dengan Bik Yas.


"Kenapa bibik biarkan istri saya keluar. Bibik tahu kan jika istri saya itu tidak boleh kelelahan. Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya? " tanya Samuel marah.


Bik Yas hanya bisa diam dengan terus-menerus menyebutkan rasa penyesalannya. Samuel pun tidak bisa berbuat apa-apa. Samuel pun hanya bisa menunggu sang istri pulang.


"Kemana saja kamu? " tanya Samuel yang membuat kedua wanita itu tersentak kaget. Kinaya pun menatap kepada suaminya.


"Aku bilang. Kemana saja kamu? " tanya Samuel lagi kepada kedua wanita itu. Tidak ada panggilan sayang kepada istrinya. Dirinya sungguh marah saat ini. Samuel merasa di bohongi oleh istrinya. Bukannya Samuel tidak mengizinkan Kinaya pergi keluar. Hanya saja jika istrinya itu keluar tanpa pengawasannya dia mencemaskan sesuatu akan terjadi kepada istrinya itu. Entah apa yang terjadi. Tapi, Samuel punya firasat buruk istrinya itu dalam keadaan bahaya jika ia tidak bisa membuat istrinya tetap di rumah. Sedangkan 2 pengawal yang di tugaskannya tidak datang hari ini karena Samuel pikir istrinya itu tetap di rumah selama ia ke kantor.


"Mas. " panggil Kinaya melirih.


"Kemana saja kamu? Apa kamu tidak bisa menunggu aku pulang? Aku akan menemanimu kemana pun kamu pergi. Apa kata-kataku ini tidak bisa kamu pahami? " tanya Samuel dengan nada meninggi. Lebih tepatnya membentak istrinya tersebut. Kinaya sampai bergidik bahu mendengarnya. Naura yang melihat Kinaya di bentak hanya bisa tersenyum menyeringai.


"A-aku menemani Naura berbelanja mas. " balas Kinaya.


"Kakak. Jangan marah dengannya. Ini adalah kesalahan aku yang membawanya jalan-jalan. Maafkan aku, Kak. " ucap Naura memegang lengan Samuel.


"Apa kamu tidak belajar sopan santun. Dia adalah kakak iparmu. Harusnya kamu panggil dia kakak. Apa kamu paham? " bentak Samuel.


Naura diam sesaat.


"Iya, Kak. " balas Naura.

__ADS_1


"Sekarang pergi dari hadapanku. " ucap Samuel. Naura pun menuruti perintah Samuel.


Samuel pun beralih ke istrinya.


"Apa kamu tidak memikirkan anak kita? Lihatlah, mungkanya merah begitu. Bik, bibik. " panggil Samuel. Bik Yas pun menghampiri Tuannya.


"Iya, Tuan. " ucap Bik Yas yang sudah berada di samping Samuel.


"Bawa Reza ke dalam kamar, Bik. Mandikan dia dan jagalah dia. " perintah Samuel. Bik Yas pun mengambil alih Reza di gendongan Kinaya. Kinaya pun memberikan Reza kepada Bik Yas. Kinaya juga meletakkan belanjaan di tangannya di sofa yang ada di sana.


Samuel memperhatikan setiap pergerakan istrinya.


"Hanya karena berbelanja, kamu sampai tidak memikirkan keadaan janin di perutmu itu. Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya. Apa kamu bisa mengembalikan semuanya seperti semula? " tanya Samuel masih dengan nada marahnya. Kinaya bahkan tidak pernah di perlakuan oleh Samuel seperti ini sebelumnya.


"Mas, aku hanya. " ucap Kinaya terpotong karena Samuel langsung menyelanya. Terlihat bumil itu lesu. Tubuhnya sudah mulai lemah. Tapi, karena marah, Samuel tidak menyadarinya.


"Mau berbelanja. Yasudah, aku akan menemani kamu berbelanja sekarang. Sekarang ikut denganku. " ucap Samuel menarik tangan Kinaya keluar lagi dari rumah. Menarik dengan cepat lengan Kinaya. Sampai akhirnya, tubuh Kinaya tidak bisa menahan lagi.


"Mas. " lirih Kinaya. Samuel pun menghentikan langkahnya. Suara istrinya tidak seperti biasanya dan.


Bruk.


Kinaya terjatuh di pelukan Samuel. Jika saja Samuel tidak cepat menangkap sang istri. Sudah di pastikan wanita hamil itu terjatuh di lantai yang dingin itu.


"Sayang, Kinaya sayang. Bangun, sayang. " Samuel menepuk pelan pipi kiri Kinaya.


Karena tidak mendapatkan respon dari sang istri. Samuel pun memopong tubuh kecil Kinaya ke kamar mereka. Dengan hati-hati Samuel membaringkan tubuh Kinaya.


"Sayang. Maafkan mas, sayang. Bangun sayang. Janganbuat mas khawatir, sayang. "Ucap Samuel mencium berkali-kali wajah Kinaya.




.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2