
Kinaya terbangun dari tidurnya. Mendapati Samuel yang memeluknya dengan erat. Kinaya tersenyum lalu membelai wajah sang suami.
"Entah apa yang harus aku lakukan? Kenapa aku merasa sangat sulit kehilangan mu. Kehamilan ku membuat ku takut bahwa mas akan pergi meninggalkan ku. Takut kamu akan jauh dari ku mas. Aku bahkan mulai goyah jika menyangkut kepercayaan di antara kita. Jika kemarin aku tidak bisa mengendalikan diriku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada hubungan kita mas. " lirih Kinaya. Kinaya pun bangun dari tidurnya setelah meninggalkan kecupan di bibir Samuel.
Kinaya berlenggang ke kamar mandi. Membersihkan dirinya. Samuel yang saat itu sudah bangun duluan dari Kinaya. Membiarkan Kinaya memperhatikan dirinya saat bangun tidur. Mendengarkan semua keluhan di hati Kinaya.
Apa kamu meragukan mas, Nay? Apa mas kurang menunjukkan padamu bahwa mas tidak pernah melakukannya sama sekali. Mas benar-benar setia padamu. Apa selama ini kamu selalu meragukan mas? Samuel merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Dirinya yang tidak bisa mengontrol rumah tangganya sendiri. Menyalahkan dirinya yang tidak bisa menjaga perasaan istrinya. Harusnya Samuel sudah menyelesaikan masalah kemarin sebelum istrinya itu tahu
•••
Kinaya sudah selesai dengan ritual mandinya. Kinaya melihat Samuel masih tertidur lelap. Kinaya pun mendekat dan memberikan kecupan lembut di kening Samuel.
"Apa kamu tidak akan bangun mas? Sampai kapan kamu akan tertidur, Huh? " tanya Kinaya tersenyum melihat Samuel yang pura-pura tidur.
"Bangunlah. Aku tahu mas sudah bangun. Aku akan menyiapkan sarapan dulu untuk mas. " ucap Kinaya.
"Hoam. Sudah jam berapa, Nay? " tanya Samuel memeluk pinggang Kinaya yang ada di sampingnya. Menjadikan paha Kinaya untuk dijadikan bantal nya.
"Ini sudah waktunya mas siap-siap. Mas ke kantor kan?" Tanya Kinaya.
"Emm. Kalau begitu berikan mas kecupan di pagi hari. Mas akan bangun setelah mendapatkan kecupan dari mu. " ucap Samuel yang masih menutup rapat matanya. Kinaya pun tersenyum lalu memberikan kecupan lembut di bibir Samuel.
"Sudahlah. Waktunya mas siap-siap. Aku akan berada di bawah menunggu mas. " ucap Kinaya. Kinaya pun pergi ke meja riasnya. Menyisir rambutnya. Samuel mulai mengerjapkan matanya. Samuel tersenyum melihat sang istri di meja riasnya. Samuel mendekat dan memeluk Kinaya dari belakang.
"Jangan terlalu kelelahan. Dokter bilang itu tidak baik untuk dirimu dan juga bayi kita. " ucap Samuel. Kinaya pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Sekarang mandilah. Aku akan menyiapkan pakaian mas lalu membantu bi Yas di bawah. " ucap Kinaya yang pergi ke ruang ganti pakaian. Mengambilkan pakaian jas 3 lapisnya. Samuel sudah berada di kamar mandi membersihkan dirinya. Setelah beberapa saat Samuel keluar dan mulai memakai jas 3 lapisnya.
Samuel turun dari kamarnya. Mendapati Kinaya yang sedang membantu bi Yas menata makanan di meja makanan.
"Sudahlah. Mari kita sarapan sekarang. " Samuel membawa Kinaya duduk di pangkuannya. Kinaya tidak menolak karena hal itu adalah rutinitas yang biasa ia lakukan karena merupakan permintaan dari Samuel dari dulu.
"Kamu mau makan apa? " tanya Samuel.
"Nasi goreng pakai dadar gulung. " jawab Kinaya.
"Baiklah. Kamu harus makan banyak. Jangan buat anak mas ngeces nantinya. " ucap Samuel memberikan Suapan pertamanya pada Kinaya.
Setelah menyelesaikan sarapan paginya. Kinaya pun hendak mengantarkan Samuel keluar. Tiba-tiba langkah mereka berdua berhenti karena pelayan memanggil Kinaya.
__ADS_1
"Maaf nyonya. Den Reza bangun dan menangis tadi. " ucap pelayan itu memberikan Reza kepada Kinaya.
"Sini berikan pada saya, mbak. " ucap Kinaya mengambil Reza dari pelayan itu.
"Ada apa sayang? Apa yang mengganggumu? " tanya Kinaya memberikan kecupan di bibir mungil Reza. Samuel pun tersenyum melihat dua orang di depannya. Samuel pun ikut memberikan kecupan di bibir Reza.
"Baiklah. Mas akan berangkat dulu. " ucap Samuel memberikan kecupan di seluruh wajah Kinaya. Dan berpamitan dengan Reza. Terakhir dengan calon bayi mereka yang masih di dalam perut Kinaya.
"Papa pergi dulu. Jagalah Mama kalian untuk Papa. " ucap Samuel memberikan kecupan di perut Kinaya.
"Mas pergi dulu. Jangan pusingkan masalah yang kemarin. Jangan buat dirimu terbebani. " ucap Samuel memeluk Kinaya. Dan kecupan mendarat di kening sang istri. Kinaya pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Hati-hati mas. Jangan sampai kelelahan. " ucap Kinaya mencium punggung tangan Samuel.
"Baiklah. Jaga dirimu. " ucap Samuel yang langsung masuk ke dalam mobilnya. Meninggalkan keluarga kecilnya sebentar lalu berlenggang ke kantor. Menjalankan tugasnya sebagai seorang suami dan ayah yang baik untuk anak-anaknya.
Setibanya di kantor. Samuel di suguhkan oleh berkas-berkas yang menumpuk di mejanya. Tidak berapa berselang Hiro datang membawakan pesanan Tuanya. Beberapa buah segar dan jus kesukaannya.
"Apa kamu sudah menghubungi perusahaan Tarakan? " tanya Samuel tanpa menatap ke arah Hiro.
"Sudah, Tuan. Sesuai perjanjian, kita akan meeting dengannya siang nanti, sebelum makan siang. " jawab Hiro.
"Oh iya, apa yang aku perintahkan kemarin sudah kamu kerjakan. Aku ingin semuanya selesai siang nanti. Aku tidak ingin berlarut-larut dalam masalah dengan istriku. Kau paham itu! " Samuel menatap tajam ke arah Hiro.
"Siap, Tuan. Kalau begitu, saya pamit dulu untuk menyelesaikan semuanya. " jawab Hiro memberi hormat kepada Samuel sebelum meninggalkan ruang kerja Samuel.
"Emm. " jawab Samuel sekenanya.
Beberapa jam setelah itu, James datang bersama dengan Diana di sampingnya.
"Emm itu. Apa aku boleh menunggu di luar saja? " tanya Diana kepada James ketika mereka sedang menunggu Samuel datang di ruang meeting. James menatap gadis itu. Ada rasa ketakutan di wajahnya.
"Baiklah. Tapi, jangan melangkah jauh dari ruangan ini. Aku tidak mau kejadian yang sama terulang lagi. " ucap James mengusap kepala Diana. Tapi, Diana menghentikan langkahnya karena Samuel sudah masuk duluan.
"Mau kemana kamu? Duduklah, jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi. " ucap Samuel. Ya, Samuel menganggap Diana seperti adiknya sendiri. Meski ia bermusuhan dengan Roy tapi semua masalahnya hanya bersama Roy. Bukan, Diana. Samuel pun memutuskan untuk tidak membenci Diana. Dan membiarkan gadis itu ikut bergabung dalam meeting hari ini.
"Tidak, Tuan. Saya akan menunggu di luar saja. " Diana hendak keluar.
"Apa begini sikap sekretaris perusahaan Tarakan. Bahkan, sekretaris pergi keluar di saat meeting akan segera berlangsung. " Samuel duduk di kursinya. Seketika langkah Diana berhenti. Diana menatap ke arah James. Pria itu mengisyaratkan agar Kinaya kembali ke tempat duduknya. Diana tidak punya pilihan lainselain mengikuti permintaan James untuk duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak serius bekerja jangan di paksakan. Masih banyak orang yang membutuhkan posisi mu itu. " lanjut Samuel yang sibuk dengan berkas di depannya.
"Ini Tuan. Ada beberapa berkas yang perlu di tandatangani. " ucap Hiro yang ada di samping Samuel.
"Baiklah, semua berkas sudah saya setujui. Akan saya periksa ulang jika terjadi kesalahan yang tidak diinginkan. Kalau begitu, selamat atas kerjasama kita. Saya harap kita bisa terus bekerjasama kedepannya. " ucap Samuel memberikan tangannya agar berjabattangan dengan James. Samuel juga berjabat tangan dengan Diana.
"Baiklah. Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Sekali lagi terima kasih karena sudah mau bekerjasama dengan saya yang masih pemula dalam hal ini. " ucap James.
"Kalau begitu, seperti kamu akan menjadi saingan saya di masa depan. " ucap Samuel tersenyum.
"Hehe. Itu tak terpikirkan di benak saya. Saya akan berusaha untuk selalu menjadi lebih baik lagi dari ini. Itu saja yang saya inginkan di hidup saya ini. " jawab James.
"Baiklah. Kalau begitu saya permisi dulu. Saya ingin menemui istri saya dulu. " ucap Samuel yang langsung berlenggang meninggalkan James dan Diana berduaan. Dua orang itu menatap kepergian Samuel hingga tak melihat sosok pria yang gagah itu lagi.
"Cintanya untuk istrinya sangat kuat. Saat ini masih saja menyempatkan dirinya untuk bisa makan siang bersama istrinya. Aku jadi ingin cepat-cepat memiliki pendamping juga. " lirih James menatap arah kepergian Samuel. Diana merona mendengar ucapan James. Entah kenapa, dia merasa James sedang mengoda nya untuk mah jadi pasangannya.
"Ehem, aku mau ke toilet dulu. Apa kamu bisa menunggu ku sebentar? " tanya Diana.
"Baiklah. Aku akan mengantarmu sampai di depan toilet. " jawab James. Diana pun menganggukkan kepalanya, setuju.
.
.
.
.
.
Bersambung.
IG : gx_shi7
Terima kasih 😊😊
Jangan lupa dukungannya yah kesayangan. Aku pada kalian 😚😙😙
By : Nadila Sizy
__ADS_1
#Kinaya&Samuel_LFR