
Jam dinding berbentuk hati dengan warna merah muda yang bergantung pada titik tengah dinding kamar menunjukan angka dua tiga lewat lima belas. Alya masih saja berbaring malas setelah pulang kampus, sebagai mahasiswi baru Alya baru saja sedang beradaptasi dengan lingkungan dan kegiatan baru. Seperti hari ini, baru aja pulang kampus dan berniat tiduran, Yanti teman sekamarnya merengek minta ditemani ke kost teman laki-lakinya.
" Gue malas Yan, gue cape, lagian ngapain juga sih main-main ke tempat cowo, kurang kerjaan aja"
tolak Alya dan masih belum bersedia membuka matanya dengan ikhlas.
" Bentar doank Al, lagian ini mau meluruskan sesuatu, siapa tau hubungan Hani sama Afkar masih bisa diperbaiki"
Sahut Yanti sambil terus menggoyang tubuh Alya.
Akhirnya Alya duduk bersandar di tempat tidur
" Yan, ngapain sih ikut masalah orang, biarin aja lah, mau putus kek mau nyambung kek, emang lo punya kepentingan apa? udah dewasa ini mereka pasti tau lah apa yang terbaik buat mereka, lagian gue ya qa kenal sama Afkar dan baru ketemu sekali sama Hani, malas lah berurusan begitu".
Yanti mencubit pipi Alya kesal
" gue tu ya tidak mencampuri urusan pribadi mereka, Hani sahabat gue kalau gue bisa nolong kan lebih baik, ayo lah Al, temenin gue sekali aja ke tempat Afkar".
Huuhh, dengan berat hati Alya berdiri juga dari duduknya
" Ya udah, gue mandi dulu, siapa tau Afkar ganteng, kesempatan kan buat gue yang masih jomblo bahagia ini deketin dia"
" Eeh ni anak, diajakin buat benerin hubungan orang malah mau nya mereka putus beneran. Al gue tunggu ya, mandinya qa pake lama, tidak ngaruh juga elo mandi atau belum"
Alya membanting pintu kamar mandi, sialan !!
Alya, seorang gadis manis berambut cepak dengan kulit putih, tubuh nya yang mungil selalu membuatnya cantik dengan memakai apapun, kali ini Alya memakai pakaian seperti kebanyakan wanita seusianya, 18 tahun. Celana jeans biru dan baju kaos lengan panjang berwana kuning, kalau berkulit putih itu aman lah mau pakai baju warna apa aja, di tunjang tubuh mungil dan wajah imutnya, selama tidak ngomong, Alya cantiiikk pake banget, tapi kalau sudah keluar bicaranya cuman ada 2 pilihan, bisa bikin orang ketawa, atau bikin kesel.
2 remaja manis itu memasuki taxi yang mereka pesan via online yang mengantarkan mereka ke tempat tujuan, pastinya dengan misi yang berbeda. Yanti dengan maksud masih ingin sahabatnya Hani bisa memperbaiki hubungannya dengan Afkar, sedangkan Alya pengen liat wajah Afkar yang katanya cinta mati sama Hani dan belum bisa terima kalau harus pisah.
Perjalanan yang cuma memerlukan waktu selama 10 menit itupun berakhir. Alya diam memperhatikan sebuah rumah sederhana, dan rumah ini di bentuk hingga lebih mirip kost anak sekolahan dan mahasiswa karena langsung di desain membentuk kamar per kamar yang satu kamarnya di isi oleh satu orang, dan ini pastinya cuma boleh di huni sama manusia yang berjenis kelamin laki-laki.
" Al, masuk yuk, kita langsung ke kamar Afkar" .
Yanti menggandeng tangan mungil Alya menuju sebuah kamar di salah satu kamar yang bersusun itu. Beberapa kamar yang pintu nya terbuka langsung tambah terbuka saat mereka melewatinya
" Yan, kenalin dong temennya"
" Eh Yanti bawa yang manis nih hari ini, boleh gabung qa?"
Alya mencubit tangan Yanti
" lo sering ya kesini sampai mereka kenal ?
Yanti tersenyum
" Tidak sering sih, tapi adalah beberapa kali" Alya mencibir
" kok bisa sih cewe main ke tempat cowo"
Yanti diem aja, dalam hatinya ini lo juga sekarang main ke tempat cowo, qa nyadar neng? tapi dalam hati aja, bahaya juga kalau Alya ngambek dan ngajakin pulang, urusan belum beres, baru aja mau di mulai.
Tok ,,tok,, tok
Yanti mengetuk perlahan sebuah kamar agak pojokan, di depan kamar ada beberapa tanaman kecil di dalam pot, biarpun sederhana, tapi keliatan nyaman di pandang dan begitu asri. Beberapa bunga menawarkan warna cantik dan mempesona
" Yan, gue boleh nyolong yang ini qa ya" sambil jongkok memerhatikan salah satu pot yang bunga nya sedang mekar berwarna pink. Yanti menarik tangan Alya
" Qa boleh"
__ADS_1
" Satu aja Yan, hitung-hitung bayaran loe maksa gue ke sini, kan gue,,,"
Tiba-tiba pintu terbuka dan keluarlah seorang laki-laki muda tersenyum
"Haloo Yan, masuk yu. Oh ada temannya ya, kenalin aku Afkar"
Afkar menyodorkan tangan kanannya ke arah Alya. Alya pun menjulurkan tangannya
" gue Alya, teman sekamar Yanti, gue mahasiswi semester 1, tadi sebenarnya ogah di ajakin kesini karena baru aja pulang kuliah, masih cape, tapi ne anak maksa terus kaya balita pengen jajan permen tapi tidak dikasih mamanya, jadinya kan gue pusing, kalau tidak di iyain, ada kali ntar malem qa bisa tidur denger omelannya, gue qa minta bayaran sih, tapi kalo boleh,,,"
Yanti menonjok kening Alya
" Apaan sih kenalan aja kaya lagi seminar".
Afkar tersenyum tipis mendengar perkenalan Alya yang luar biasa cukup nyebelin.
" Tidak apa Yan, masuk yuk, maaf ya tempatnya kecil"
Sambil mempersilakan kedua makhluk itu duduk.
"mau minum apa?"
Alya tersenyum
" kalau ada juice alpukat boleh"
Yanti mencubit tangan Alya
"Aduh sakit Yan"
Afkar menggeleng
" kalau qa ada es sirop deh"
sambil tersenyum ngebayangin segernya jam segini panas-panas bisa menikmati es sirop berwarna merah. Tapi meliat mata Yanti yang melotot, Alya menurunkan lagi target minumannya " Kalau tidak ada es teh juga boleh"
Yanti tersenyum ke arah Afkar
" qa usah repot Af, air putih aja, takutnya Alya diabetes"
Alya langsung menggeleng
" Enggak, gue sehat aja, tidak ada riwayat diabetes"
Afkar tersenyum lagi
" Kalau cuman es teh, aku ada kok"
Afkar berjalan masuk ke arah dapur.
Yanti menarik tangan Alya yang lagi ngibas-ngibaskan tangan karena kepanasan.
"Jangan minta yang aneh-aneh ya, ini kost cowo, bukan depot, emang punya mereka minuman yang kamu minta"
"Iya bawel, lagian tuan rumah nya kan nawarin, ya di jawablah"
" tapi jawabnya kira-kira dong gimana kemampuan orang, kebiasaan ni anak"
Afkar datang dengan membawa 3 gelas es teh dan setoples kue kering.
__ADS_1
" Maaf ya seadanya ini, silakan di minum Alya, kayanya udah haus banget"
sambil menyodorkan gelas kepada Alya.
" Makasih ya Afkar, tau aja gue haus, apalagi denger ocehan Yanti dari tadi, makin haus aja"
Yanti mencibir
" kayanya dari tadi yang ngoceh lo deh".
Alya tidak tertarik sama sekali dengan isi percakapan Yanti dan Afkar, hupp membosankan membahas sesuatu yang ia tidak mengerti. Beberapa kali Afkar menoleh padanya seakan memperbolehkan Alya ikut memberi pendapat, tapi sejak awal percakapan Alya memang tidak ingin lebih jauh mengetahui permasalahan yang sebenarnya. Alya sempat mendengar kalau hubungan Hani dan Afkar sudah berjalan 2 tahun dan hubungan ini serius, bahkan orang tua Hani pun menyetujuinya.Tapi tiba- saja Hani meminta hubungan ini berakhir sementara Afkar masih ingin terus berlanjut. Entah lah apa yang membuat Hani membuat keputusan ini.
Alya lebih senang memperhatikan godaan bunga yang berteduh di dalam pot kecil depan kamar, sebelum pulang aku harus bisa dapetin ini bunga, secara lembut ataupun kasar. Sesekali Alya meneguk air pesanannya dan melahap kue di dalam toples, sebagai anak kost mendapatkan sajian gratisan ini harus dimaksimalkan, sebisanya apa aja yang ada di hadapannya bisa masuk perut kecilnya.
Alya menghentikan aktifitasnya ketika ia mendengar Afkar berkata lirih
" Aku sayang banget sama Hani, sebisanya aku menjaga dan membuatnya bahagia, tapi aku sudah lelah harus menuruti semua permintaannya yang semakin tidak masuk akal dan tidak mampu aku lakukan. Apalah kemampuanku yang cuma sebagai Office Boy, aku cuma punya cinta, aku sudah sangat sangat berjuang untuk mengimbanginya, bahkan aku harus cari kerja diluaran agar bisa membelikannya hadiah yang Hani mau, tapi sekarang dia tidak menghargai usahaku, bahkan mengakhiri begitu saja, seandainya Hani masih mau bertahan, aku janji akan lebih berusaha lagi Yan"
Pertama kali,,,Alya melihat secara live seorang laki-laki dengan wajah kesedihan karena ditinggal kekasih. Wajahnya tertunduk seperti putus asa. Dadanya berdegub, Alya tidak sabar.
" Maaf ka Afkar boleh Alya kasih saran?"
Afkar mengangkat wajahnya dan menatap Alya"
" Iya Al" sahutnya pelan
" Ka Afkar, ngapain ribet begini sih urusan di putusin, ni ya Alya kasih tau, kalau cewe minta ini minta itu sama cowoknya, itu sih namanya matre, lagian kaka kan udah banyak ngasih hadiah, bukan pelit, iya cukuplah. Trus tubuh ceking kaka ini mau kerja luaran gimana lagi, bisa-bisa tinggal tulang mesti kerja siang malam buat memenuhi keinginan dia yang udah berlebihan gitu. Biarpun kaka cuma OB kaka tu harus punya harga diri juga lah, jangan mau disiksa-siksa begini, berkorban pontang panting, emang kaka yakin dia jodoh kaka? ntar sudah kehabisan tenaga, sudah kehilangan akal pula, eeh malah akhirnya dikawinin orang, qa banget deh ka"
Yanti menyela celutukan Alya
"Eh anak kecil, apaan sih ini, gue kan lagi usaha biar mereka bisa baikan lagi, lo malah bikin Afkar tambah lemah"
"Yan, gue bukannya mau melemahkan ka Afkar ya, tapi malah menguatkan, liat aja sekarang dia, tampangnya suntuk begitu kaya dompet akhir bulan, badan ceking kaya orang kurang makan yang tinggal di pengungsian, bahkan dari tadi gue sama sekali tidak pernah liat dia ketawa, itukan menandakan dia sekarang sedang benar-benar sakit, sedang sedih, apa lo tega liat dia tambah disakitin sama sahabat lo yang matre itu, biar dia jadi mayat hidup?"
" ka Afkar ngaca deh sebentar"
Alya menarik lengan Afkar berdiri menuju cermin kecil yang berada di dinding ruangan, Afkar mengikuti tangan Alya yang menariknya.
" Kaka itu sebenarnya cakep, mungkin dari seluruh OB di kota ini ka Afkar adalah OB terganteng, cuma kusut aja,hehehe. Alya pernah ketemu Hani sekali pas dia ke kost maaf ya bukan menghina nih, kalau cepet-cepetan cari gantinya habis kaka putus, lebih cepat ka Afkar lah daripada Hani, soalnya tampang Hani tu biasa banget, rada mirip sih sama sahabatnya itu"
Sambil melirik ke arah Yanti yang mengepalkan tangannya pengen nonjokin mulut Alya.
Afkar kembali duduk daripada pusing sama saran Alya yang malah semakin mejerumuskan perasaannya.
"Perasaan tidak segampang itu Alya, aku benar-benar menyayangi Hani"
Afkar kembali tertunduk lemas.
" Jangan dengerin Alya ya, tidak guna dengerin dia, jangankan pernah merasa patah hati, jatuh cinta aja qa pernah walaupun pacarnya banyak"
Sambil melirik Alya
Alya pun mendekati mereka dan duduk ke posisi awal
" Biarpun gue belum pernah jatuh cinta, amit-amit gue ngerasain patah hati kaya gini, Ka Afkar nih kelewat drama, udah lah ka, g
Alya jadi sebel banget sama Hani, nanti kalau ketemu Alya jitak deh dia, buat balas kesedihan kaka. Dan sorry ya ka, kayanya kaka qa ada wibawanya banget sedih kaya gini, kesenengan banget Hani kalau liat sinetron begini, udah gaya kecakepan aja dia, Alya saranin ya ,,,"
Kali ini jitakan di kepala Alya dari jari Yanti benar-benar membuat Alya mengaduh.
__ADS_1
Ya deh emak, qa lagi gue kasih saran, daripada pulang benjol, sambil mengusap kepalanya.