
"Yang habis ini temenin aku futsal ya"
ajak Arga ketika perkuliahan mereke selesai di jam 3 sore.
" Males ah Ga, gue mau istirahat"
sahut Alya sambil terus berjalan di koridor kampus, Arga terus mengekorinya
" Gue jua mau Al pacaran kaya orang-orang gitu jalan bareng, makan barang, nge mall bareng"
Rayu Arga sambil mensejejari langkah Alya yang walaupun jalannya cepat tapi langkahnya tidak panjang karena kaki mungilnya. Arga yang bertubuh tinggi dengan mudah bisa sejajar dengan Alya karena langkahnya bisa panjang.
" Kita kan pacaran memang tidak kaya orang lain, gue kan terpaksa, jadi ya jalaninnya seadanya"
sahut Alya cuek dan memberikan penekanan intonasi suara yang lebih di kata terpaksa.
"Ih kejam banget sih, mana ada pacaran seadanya, cakep-cakep gini pacar lo Al" sahut Arga memelas
Alya berhenti mendadak dan membuat Arga kaget dan menabrak tubuh Alya
" Yang, kalau nge rem tu jangan mendadak dong, kasih tanda dulu kek kaget gue"
" Ga, wangsit nya kapan datang sih, biar kita cepat putusnya"
" Pacar kurang ajar nih, baru juga 3 hari pacaran udah ngajak putus, emang tidak enak banget ya jalan ama gue?"
Alya tidak menjawab, dan langsung berjalan dengan cepat lagi menuju parkiran.
"Yang, besok-besok ikut ujian praktik bikin SIM deh, biar tau kalau nge rem dan nge gas itu ada aturannya, kebiasaan berhenti dan jalan itu suka-suka nya dia"
Celoteh Arga sambil ikutan berjalan menuju parkiran
Mereka berdua berboncengan menuju kost Alya dengan mengendarai motor super nyaring, kaya lagi nyanyi pake suara tenor
" Yang, bentar ya temenin gue futsal"
Alya diam aja
" Sayang, lo tidur?"
Alya mencubit pinggang Arga
" Udah bangun gue"
" Aaawww, ga ada romantisnya banget sih lo"
Tidak lama mereka sampai di depan kost Alya
" Jadi kan yang nemenin gue?"
tanya Arga lagi sambil melepaskan helm di kepalanya
"Tapi bentaran aja ya Ga, gue capek"
Arga tersenyum senang
" Iya tuan putri"
"Gue ganti baju dulu".
Alya melihat pintu kost nya terbuka, berarti sedang ada tamu, di kost itu dia memang kumpul sama teman-teman yang lain, ada 6 orang penghuninya, dan 1 kamar berisi 2 orang. Lumayan besar rumah kost yang Alya tempati, ada teras buat duduk santai, ada ruang tamu tempat ngumpul, di sambung dapur yang cukup luas buat para cewek ini bebas masak. Rumah ini juga mempunyai 2 lantai, dimana lantai atas khusus buat kamar dan balkon yang pas menghadap jalan. Alya paling senang duduk di balkon saat sore dan malam karena bisa memandangi mereka yang lalu lalang sambil memainkan gitarnya.
Alya berjalan menuju pintu diikuti Arga
" Eh ada ka Afkar, sudah lama ka?"
sapa Alya yang begitu masuk melihat Afkar sedang ngobrol dengan Yanti
Afkar tersenyum lembut
" Belum lama kok, kamu baru pulang kuliah Al?"
Alya mengangguk.
Merasa disampingnya ada Arga, Alya pun mengenalkannya
". Oh iya kenalin ini teman Alya"
Arga menjulurkan tangannya disambut oleh Afkar
"Kenalin Arga, pacar Alya"
katanya sambil senyum-senyum
" Afkar"
sambungnya.
Alya protes dengan perkenalan Arga
"Dia temen Alya ka"
"Pacar lah Al"
sambung Arga ikutan protes
" Iya pacar jadi-jadian"
Alya mulai deh kegilaannya
" Jadian beneran dong, kaya hantu aja pake jadi-jadian"
Afkar tambah bingung dan melerai keduanya
" Maksudnya apa"
__ADS_1
Alya bingung mau jawab apa, masa ia harus cerita semua ini di mulai dengan insiden robeknya celana.
Alya meninggalkan mereka dan menuju lantai atas karena sudah janji mau menemani Arga latihan futsal.
Pakaian kuliah sudah berganti dengan pakaian santainya. Celana jeans dan atasan kaos putih bergambar gitar besar menjadi satu-satunya penghias di pakaiannya sore itu. Rambut cepaknya cuma perlu di sisir beberapa kali ke belakang. Alya cukup memoles tipis bedak dan lipstik ke wajahnya, Alya memang tidak bisa dan tidak punya alat make up seperti gadis lainnya, karena selain cantik alami, gayanya memang sedikit tomboy, Alya merasa belum penting memiliki alat makeup. Memandang wajahnya sebentar di depan cermin membuatnya tersenyum.
" Cakep juga gue, pantas aja Arga tidak mau putus dari gue"
celotehnya sendiri.
Tidak perlu waktu lama buat ganti baju dan dandan, Alya segera turun menemui Arga di bawah
Di lantai bawah 3 orang yang tadi ia tinggalin masih aja di posisinya, Yanti duduk berseberangan dengan Afkar dan Arga disebelah Afkar.
"Duh cewe gue manis banget udah dandan"
puji Arga sambil menoleh ke arah Alya
" Enggak usah lebay deh Ga, geli gue"
sahut Alya sambil melirik Afkar yang masih dengan wajah kusutnya tapi dipaksa tersenyum.
"Mau kemana lo Al?"
Tanya Yanti memastikan sahabatnya tidak kelayapan.
"Menemani Arga main futsal Yan, habis itu langsing balik, jangan kuatir, anak perawan lo ini tidak akan kemana-mana dan tidak akan lama, jadi tidak usah pakai rindu ya, gue bakal balik lagi dengan keadaan yang sama, percaya deh"
sambil mencium punggung tangan Yanti.
" Lo pikir gue emak lo"
Yanti melotot sambil menarik tangannya dari pegangan Alya. Alya terbahak sambil deketin wajah ke Afkar, dengan posisi telapak tangan menopang pada siku dan tubuh setengah membungkuk.
" Ka, jangan terlalu lama ngobrol sama Yanti, ntar ketularan tua nya"
"Gue denger lo Al"
sahut Yanti yang udah kesal sama Alya
" Tuh bener kan ka, taringnya udah muncul, Alya tinggal dulu ya ka Afkar, daaaahh"
Alya melenggang menuju motor Arga dan pemiliknya yang sudah senyum-senyum melihat kelakuan Alya yang rada aneh, agak mirip juga sih sama gue batin Arga terkekeh.
Berdua menyusuri jalan kota pakai motor serasa dunia milik berdua aja, pikir Arga, tapi tidak sama dengan keinginan Alya, gadis manis itu malah lagi ngebayangin dia boncengan berdua Pak Agus, Dosen kece nya yang kebablasan itu. Pasti seisi kota ini bakal iri ngeliat pemandangan seindah itu, merangkul pinggang beliau yang kekar, menyandarkan kepala di punggung bidangnya, uuuuhhh Pa Dosenkuuu, bawa eneng kemana aja deeh, eneng rela !!! Tanpa sadar tangannya ikut memeluk pinggang Arga yang sebenarnya juga berpostur tinggi dan bidang.
Arga senyum kegirangan merasakan Alya memeluk pinggangnya
" Yang erat ya meluknya yang"
Alya langsung tersentak begitu menyadari itu adalah pinggang Arga, dan langsung melepaskan tangannya
"Astaga, gue lagi ngebayangin meluk Pa Agus, ternyata elo"
" Pacar durhaka lo Al, sadis banget jalan sama pacar sendiri malah ngebayangin cowo lain, nyapu ke baju gue lagi, emang kain pel".
Alya cuma terkekeh
"Maaf ya Ga".
Setelah 1 jam mereka di tempat futsal, Arga mengajak Alya makan bakso dulu sebelum pulang
"Gue laper yang, makan bakso dulu yuk"
"Ayu lah sayang"
jawab Alya langsung menyetujui
"Giliran makan aja lo nyayangin gue"
Alya tertawa sambil menggandeng tangan Arga ke tempat parkiran.
Di warung bakso sudah banyak anak muda ngumpul, maklum lah selain bakso nya yang enak, warung ini memang instagramable buat tempat nongkrong
" Yang, Afkar itu siapa?"
Sambil terus memakan bakso di depannya Alya menjawab " Oh Ka Afkar itu temannya Yanti"
" Kok mukanya datar begitu, enggak ada ekspresi sama sekali, padahal tadi gue becandain, diem aja, berasa ngomong sama tembok gue"
"Bukan Ka Afkar yang datar, elo aja kali yang kebanyakan tikungan tajam, turun naik"
Jawab Alya seenaknya
"Sembarangan lo"
sambil menjewer telinga Alya.
" Tapi serius nih Al, kaya nya dia lagi ada masalah ya"
Alya sudah selesai menghabiskan semangkok bakso yang warna kuahnya sudah merah menyala semua, Alya memang penyuka pedas dan belum komplit rasanya makan bakso tanpa ada drama air mata karena kepedasan. Alya meminum air mineral dari botol dan langsung menghabiskan sebotol penuh dan masih saja dengan mata yang kerjap-kerjap
" Air Ga, masih pedes gue"
Arga berdiri ke pintu kulkas yang tidak jauh dari tempatnya duduk
"Ga ada manis-manisnya lo begini dihadapan gue, jaim sedikit tidak bisa ya Al"
Sambil menyerahin sebotol air mineral lagi ke Alya
Sebotol air mineral kedua sudah di habiskan Alya dan berakhirlah acara sedu sedan bak sinetron. Alya mengambil tissue lagi dan mengelap hidungnya
" Beneran jorok banget pacar gueee"
Arga sampai geleng-geleng kepala
__ADS_1
" Lo tanya Ka Afkar ya tadi?. Iya dia baru putus sama pacarnya"
" Broxen heart gitu ya Al?"
Alya mengangguk
" Gue heran Ga, diputus kok sampe nyakitin diri begitu,lo percaya enggak pas dia baru diputusin pacarnya kemarin dia nangis loh Ga, kesel gue pengen jitakin kepalanya terus gue puter puter biar otaknya yang miring bisa rata hello mas bro dunia ini udah 4 banding 1, diputus 1 masih ada 4 yang nunggu, itu juga kalo laku sih".
" Emang nya bikin gambar kalau miring bisa di hapusin terus di ratain, sadar enggak, geger otak iya. Bukan begitu juga Al, yang namanya patah hati itu bukan cuma dirasain cewe, tapi juga cowok, dan tingkat sakitnya juga beda,semakin dia sayang semakin sakit"
Alya memandang Arga serius
" Tau darimana lo?"
" Gue pernah ngerasainnya Al"
Arga memandang tajam Alya.
"Serius? lo pernah patah hati, kapan? sama siapa?"
Alya membalas tatapan Arga dengan serius.
"Waktu SMA kelas 2, teman satu sekolah, anak IPA, gue anak IPS. Namanya Rani, anaknya pendiam dan cantik. Tidak banyak ngomong kaya elo, ternyata orang diam itu belum tentu tidak berbahaya ya Al. Dibelakang gue dia berselingkuh sama teman sekelasnya, awalnya gue enggak tau, pas gue lagi jalan sama teman-teman gue di cafe, gue ketemu dia sama cowoknya, gue tanya langsung dia di sana, pilih gue atau cowok itu, dan sakitnya dia jawab pilih cowok itu, padahal apa kurangnya gue Al?"
" Banyak Ga".
Jawab Alya polos
Arga mencibir
" Gue serius Al".
Alya terkekeh
"Lo cerita sedih tapi kok tidak ada suasana dramanya, malah lucu tau tidak?"
" Emang lo tidak pernah patah hati Al?
Alya mengetuk meja beberapa kali dengan jari tengahnya
"Amit-amit jabang bayi gue patah hati, qa ada rencana dan qa mau ngerasainnya gue" dengan wajah sedikit di bikin takut.
" Percaya gue, lo qa pernah patah hati, tapi bikin orang patah hati iya"
Alya menggeleng
" gue belum pernah jatuh cinta Ga, gimana gue tau rasanya patah hati"
" Yang bener Al?"
Arga membelalakan matanya
Alya mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke depan hidung Arga
" Suer Ga"
Arga menepis 2 jari alya yang seakan mau mencolok matanya.
Arga tertawa sambil memegang pundak Alya
" Lo tenang aja, gue qa bakal bikin lo patah hati, gue akan berusaha mencintai lo"
Alya menepiskan tangan Arga
"Eh apaan maksud lo, berusaha mencintai gue? emang gue pernah minta? Yang ada elo maksa gue jadi pacar lo, gue malah mintanya kita cepat putusan"
Alya cemberut.
" Ha ha haaa,,iya gue tahu gue enggak pantas buat lo, gue lebih pantas dapetin yang lebih dari lo"
Alya menjitak kepala Arga, tapi masih sempat ditepis Arga
"Sama pacar tidak boleh galak, gue enngak mau dijitak, gue mau di cium"
"Nih ciumannya"
Kali ini jitakan tangan kiri Alya sampai kepala Arga
" Duh serem bener pacaran sama lo Al, untung gue belum jatuh cinta".
Alya tersenyum
" Ga, sebenarnya perasaan lo gimana sama gue"
" Gue cinta lah"
Alya tersenyum tipis
" Ciyeee, ngarep ya gue cintai"
sambil mencolek dagu Alya sambil cekikan
" Ngaco, ini gue mau nanyain kapan waktu nya kita putus"
Arga melongo
" Kok ada ya pasangan yang bisa diskusi kapan bisa putusnya, oneng lo Al"
" Ya bisa aja, lah jadiannya aja kita udah tidak wajar, jadi putusnya juga bisa lah di nego waktunya"
" Ntar lah kita tunggu perhitungan tanggal baiknya, pulang yuk"
Sambil berdiri menuju kasir membayar 2 bakso yang sudah lama mereka habiskan.
Alya ngoceh sendiri di belakang punggung Arga, emang mau kawinan liatin dulu hitung dulu tanggal baik, mulai syarap juga neh otak gue pacaran sama Arga.
__ADS_1