Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Aku Curiga


__ADS_3

Setengah berlari Kevin memasuki satu lorong di Rumah Sakit, membaca nama-nama ruang yang tertera di atas, anggrek tiga, ini dia. Kevin mengetuk pintu dan tak lama pintu terbuka, ka Pandu


" Assalamualaikum"


" Waalaikum salam Kevin, masuk"


Kevin masuk ke dalam ruangan berukuran 6 x 6 meter dengan desain hotel, bukan seperti rumah sakit. Alya terbaring dengan inpus di tangan dan mata terpejam.


Kevin mencium tangan tante Siska dan om Rangga


" Maaf saya terlambat datang"


" Kami yang minta maaf, kami memberi tau bukan bermaksud meminta mu datang nak, hanya untuk mengabarimu, sekarang malah merepotkan begini "


" Tidak tante, justru saya berterima kasih sudah di beri tau, saya akan sangat merasa bersalah kalau tidak datang menemuinya"


Kevin mendekati Alya yang terlihat pucat dan lemah


" Sakit apa tante?"


" Belum tau, hasil cek darah nya belum keluar, kata Arga tadi siang di kampus dia pusing, lalu minta antar pulang ke kost, mereka akan mengantarkan pulang, di halaman parkir malah pingsan dan segera dilarikan ke sini"


" Jadi Arga dan Roni yang membawa Alya kesini?"


" Iya"


Kevin menatap lebih dekat wajah Alya, kamu terlalu lelah Alya, akhir-akhir ini bukannya aku selalu memperingatkanmu untuk makan dan beristirahat, tapi jawabanmu selalu sebentar ka, masih tanggung ka, iya setelah ini ka.


" Ma, pah, Kevin, aku pulang dulu ya, sejak siang tadi aku di sini, dan sekarang sudah malam, besok lagi aku kesini"


Pandu mencium pundak tangan mama dan papah, kemudian menjabat tangan Kevin.


Mama mengangguk dan mengantar Pandu ke pintu


" Kalau sibuk tidak usah dulu ke sini, kami di sini juga kok, kamu masuk kerja saja, kalau kami perlu apa, nanti kami kabari"


" Iya ma"


Mama kembali masuk ke dalam, papah sedang menonton berita di televisi yang ada di ruangan itu


" Pah, mama lapar, kita makan dulu"


" Tante sama om belum makan? biar saya yang jagain Alya, kalian makan saja dulu"


" Kamu sudah makan Kevin?"


" Belum, nanti saja kita gantian om"


Papah berdiri dari tempat duduknya dan mengajak mama untuk keluar dan mencari makan, sudah jam delapan malam, pantas saja perut sudah merasa lapar.


" Titip Alya nak Kevin, kami makan sebentar di depan, kalau ada apa-apa telfon kami ya"


" Iya tante"


Sepeninggal mama dan papah, Kevin menarik satu kursi dan meletakannya di samping tempat tidur Alya, menggenggam tangan kecil yang lemah itu dan menciumnya. Baru kali ini Kevin bisa menatap puas wajah manis Alya tanpa penolakan, gadis tak berdaya di depannya sangat terlelap. Kevin menyibakan sedikit rambut Alya ke atas, memandang wajah kekasih yang sangat disayanginya tapi belum menyayanginya. Tangannya menyentuh leher Alya dan,,, kalung?. Kenapa kalung ini tidak lepas dari lehernya, terbuat dari emas negara mana sih sampai begitu berharganya. Pernah satu waktu di lepas saat Alya di Bandung saat mereka mengadakan acara selamatan sekaligus peresmian Kevin menjadi pimpinan di perusahaan nya. Merasa penasaran Kevin mengeluarkan kalung itu dari balik kemeja Alya dan betapa terkejutnya saat melihat tulisan di liontinnya

__ADS_1


" ALFAR"


Kevin kembali memasukan liontin dan kalung ke posisi semula. Tangannya mengepal dan bibirnya digigit menahan emosi. Alfar? Alya dan Afkar. Aku dipermainkan mereka lagi?


Alya, kamu kenapa masih saja menyimpan dan memakai ini, setiap waktu. Kamu bisa tau bagaimana sakitnya aku??


Kevin memandang sekeliling, dilihatnya tas ransel kuliah Alya di atas meja. Diraihnya tas itu, barangkali ada petunjuk untuk ini. Ada dua buah buku yang berisi catatan kuliah, satu ponsel, bedak padat kecil dan lipstik, satu dompet yang berisi kartu-kartu dan beberapa lembaran uang. Kamu hanya punya beberapa lembar uang sayangku? atau atm mu isinya banyak? tidak, Tante Siska pernah bilang kalau Alya diberi uang saku untuk satu bulan, dan itu pun angkanya wajar untuk anak kost. Alya tidak pernah diberikan uang dalam jumlah besar, tante bilang Alya itu diberikan berapapun cukup, jika sedikit tidak meminta lebih, jika banyak pun tidak kelebihan karena dia juga akan menghabiskannya sekalian, bagaimana nanti kamu memanajemen keuangan?. Kekasihku tidak pernah meminta apapun padaku, bahkan saat kubelikan barang agar bisa dipakainya aku harus mendengar ocehan dan omelan untuk tidak lagi membelikannya.


Kevin membuka ponsel Alya, tidak ada sandi ataupun sidik jari apapun, kamu tidak berubah Alya, ceroboh dalam hal pengamanan. Membuka phonebook, tidak banyak yang bertambah sejak di belikannya kemarin, hanya ada kontak tambahan dosenku 1, dosenku 2, dan beberapa nama yang tidak ku kenal, apa ada salah satunya nomor Afkar? Membuka chat hanya berisi dari group WhatsApp, darinya, dari mama, dari Pandu. Begitu akan membuka chatingan, Kevin melihat baterai yang tersisa hanya 10 %. Alya tidak membawa charger. Heey, bukankah ponsel kita merk nya sama? pasti bisa lah kugunakan untuk mengisi baterai ponsel Alya.


Tok tok,, Kevin menoleh ke pintu. Om Rangga dan tante Siska masuk


" Assalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Bagaimana Kevin? Alya sudah bangun?"


" Belum tante, biarkan saja, mungkin pengaruh obatnya"


" Iya"


" Kamu belum makan, makan dulu, ini sudah hampir jam sembilan"


" Sebentar lagi tante, sekalian saya pulang nanti, saya juga mau mandi dan istirahat. Besok pagi saya akan kesini lagi"


" Iya, maaf merepotkan ya nak Kevin".


" Tidak apa om. Alya kenapa ya om? memang sih akhir-akhir ini kalau saya hubungi dia selalu sibuk dengan laporan skripsinya, saya sudah ingatkan untuk makan dan istirahat"


Kevin terdiam sambil terus memandangi wajah Alya.


" Oh iya tante, saya liat ponsel Alya baterainya mau habis, dan charger ponsel ini tidak bisa sembarang bisa pinjam seri lain. Kebetulan ponsel kami sama, jadi kalau boleh ponsel Alya saya pinjam dulu buat mengisi baterainya, siapa tau ada kabar lewat chat teman-temannya, kasian Alya ketinggalan informasi"


" Iya, boleh silakan".


Alya masih saja tertidur pulas


" Alya sepertinya sangat pulas tidurnya, sebaiknya saya pulang dulu, nanti pagi saya akan kesini om tante"


" oh iya, kamu juga istirahat datang dari jauh. Jangan lupa makan malam dulu nak"


" Iya tante, saya mampir dulu untuk makan malam. Saya permisi om tante, Assalamualaikum"


" Waalaikum salam, hati-hati".


Kevin langsung mencolokan charger di ponsel Alya pada listrik di kamarnya. Menunggu sebentar dan memastikan aliran listrik sempurna mengaliri baterai pada ponsel. Sambil menunggu penuh Kevin menuju kamar mandi untuk mandi dan shalat isya. Setelah selesai diliriknya ponsel Alya, sudah terisi 100 %. Tak sabar langsung di bukanya aplikasi WhatsApp. Tidak ada yang aneh, hanya group mereka berempat dan sesekali chating dengan beberapa teman yang isinya ngajak bareng ke perpustakaan, ada yang memberitahukan kalau dosen pembimbingnya sudah ada di ruangan dan meminta Alya segera konsultasi. Tidak ada chating an yang mencurigakan. Tapi hatinya seakan meminta untuk membuka chatingan nya bersama tiga sahabat nya. Hari ini, obrolan mereka seputaran Alya yang sakit, Arga yang mengabarkan nama rumah sakit dan ruangan Alya diinapkan. Kemarin ajakan makan malam yang di tolak Alya karena sedang sibuk, kemarinnya curhatan Roni tentang 2 kekasihnya yang sempat bertemu dan berantem di shoowroom nya, Kevin tertawa sendiri membaca komentar sahabat-sahabat Alya, dengan gaya khas mereka, bukannya membela mereka malah bersyukur biar tidak selingkuh. Kemarinnya ada chating bertema Arga yang sedang di dekati adik kelas berwajah manis, tapi badannya bongsor, dan tentu saja Arga selalu kabur kalau adik kelasnya itu mendekatinya, sekali lagi Kevin terbahak, bahagianya kamu Alya mempunyai sahabat seperti mereka yang selalu membuat suasana serius pun menjadi candaan.


Terus memanjat ke atas, obrolan ringan saja seperti Alya memposting sarapan pagi, Sylvia yang memposting sedang di babyshoop untuk melihat-lihat perlengkapan calon bayi mereka. Terus dan terus. Apa ini, sebulan yang lalu.


" Arga, sudah 5 bulan kenapa ka Afkar belum menghubungi gue, lo enggak salah kan nyalin nomor ponsel gue?"


" Enggak, yakin gue, dua kali gue ulangi Al"


" Kenapa ya? apa kertasnya hilang sama om Andi?"

__ADS_1


" Gue enggak tau"


Kevin makin menajamkan matanya.


Sylvia


" Al, kalau memang ka Afkar masih sayang sama lo, dengar lo ke Surabaya buat nyari dia aja, pasti dia bakal datang ke sini lagi, biarpun kertas bertuliskan nomor ponsel lo yang baru itu hilang, kampus sama kost lo kan masih sama, dia masih hapal kan alamat lo, hehehe"


Roni


" Menurut gue udah lah Al, Afkar mungkin sudah punya pengganti, enggak usah lagi lo pikirin, apa kurangnya Kevin sih?"


Kevin membetulkan duduknya dan semakin serius


" Gue juga tau ka Kevin itu sangat luar biasa memperlakukan gue, tapi gue belum bisa berhenti mencintai ka Afkar"


Kevin menggulung lagi chating ke atas, tidak ada penyebutan nama Afkar.


Ada, 2 bulan yang lalu


" Gue kangen ka Afkar"


Emoji menangis


" Berisik ni Alya, pagi-pagi sudah nangis"


" Jangan nangis dong Al, gimana cara kami menghibur lo"


" Tolong cariin ka Afkar"


" Kemana kita nyariin dia? kemarin saja gue sudah nemenin lo ke Surabaya, nihil, malah lo di kata-katain om nya, gue sebenarnya sebel banget, walaupun yang dia omongin bener, hahahaa"


" Ga, lo di pihak mana sih, senang banget liat Alya makin tersudut"


" Tau ah, berhenti Al, nanti gue jemput kita sarapan bareng gimana?"


" Enggak usah Ga, sarapan berdua tambah ngingetin gue sama kenangan sarapan bareng ka Afkar"


Emo menangis lagi


" Afkar ini kalau ketemu gue hajar juga Al, dia ada dia enggak ada kerjaan lo nangis aja"


" Sabar Ga, tapi kalau lo sampe begitu gue bantuin"


" Apaan sih ni anak berdua, jangan ngomong kasar di hadapan gue, bayi gue kaget"


" Gue kangen, kalau pagi begini dia selalu menchat gue, pagi bidadari, sudah shalat belum, terus bikin puisi yang bikin gue meleleh, mendoakan agar hari ini kami menjalani hari yang baik dan dilancarkan"


" Ya udah kalau cuma gitu besok gue deh chat lo dan bikin puisi, cuma sepele begitu lo besar-besarin"


" Hahaha, puisi dari mana Ga? ngakak gue baca lo mau bikinin Alya puisi"


" Siapapun yang melakukan itu ke gue tidak akan sama karena bukan ka Afkar gue".


Kevin menghela napas sebentar, dadanya terasa sangat sakit. Kamu ke Surabaya bersama Arga? kenapa aku tidak tau. Lalu kamu di kata-katai om siapa, siapa dia? kamu juga memberikan nomor ponselmu yang baru tapi sudah 6 bulan dia tidak juga menghubungimu? bagus. Masih seberapa banyak cintamu untuknya Alya? aku sangat kecewa, kupikir sikapmu selama ini sudah mulai bisa lagi membuka hati agar menerimaku sepenuh hati, ternyata aku masih saja salah. Tapi aku sedikit lega karena Afkar tidak pernah menghubungimu lagi, artinya dia benar-benar mencoba melupakanmu, semoga kamu sudah mendapatkan pengganti Alya dan jangan pernah lagi menghubunginya. Sebentar, kenapa Alya harus meninggalkan nomor ponsel yang baru pada Om? berarti mereka tidak bertemu saat Alya ke Surabaya kemarin, di mana dia?. Awalnya Kevin berniat menghubungi lagi mata-matanya untuk mencari Afkar, tapi kemudian diurungkannya, untuk apa? Toh Afkar sudah menjauhi Alya dan bahkan kontak Alya pun Afkar tidak tau.

__ADS_1


Aku sungguh kecewa Alya, aku sangat sakit hati, aku kembali dan kembali kamu permainkan begini. Di mana seharusnya aku sekarang? pergi darimu? agar kamu bisa leluasa untuk kembali ke pelukan Afkar? kamu tidak bahagia bersamaku Alya? kamu tidak mau lagi mencoba mencintaiku? semua ini kebohongan? setelah terlalu jauh kita sampai di titik sekarang?. Kevin menyandarkan tubuhnya pada tepi tempat tidur, mencoba memejamkan matanya . Alya,,, aku sudah tidak kuat lagi.


__ADS_2