
Beberapa menu nasi Padang sudah ada di depan mereka. Iya, setelah melakukan jalan-jalan, walaupun sama sekali tidak ada kegiatan jalannya, karena mereka tidak turun-turun dari mobil agar tidak kepergok oleh seseorang. Mengakhiri acara muter-muter di dalam mobil itu dengan makan siang. Setelah terlihat Alya dan Sylvia mencuci tangan mereka, Afkar setengah berbisik pada Alya
" Sayang, boleh aku bicara berdua sama Arga"
Alya mengangguk dan mengajak Sylvia ke toilet
" Arga, aku mau berterima kasih"
" Terima kasih apa?"
" Selama ini sudah menjaga Alya, sebenarnya kami sudah sama-sama mengungkapkan perasaan kemarin, dan aku sangat menyesal selama ini sudah membuatnya menunggu tanpa kepastian, dan untuk itu aku mempunyai banyak alasan yang tidak bisa ku ceritakan padamu. Kamu adalah sahabatnya, yang jauh lebih dekat dengannya daripada aku, jauh lebih banyak tau apa isi hati dan apa yang dia inginkan daripada aku. Seorang yang sangat dia percaya. Bahkan tadi pagi, aku masih disampingnya, tapi dia lebih bebas menceritakannya padamu yang dia sebut rahasia, sampai detik ini aku tidak tau, dan kupikir memang sebaiknya aku tidak tau"
" Hahha, Alya itu memang aneh, santai saja Afkar, tidak terlalu rahasia sebenarnya, dia aja yang kadang bikin sebel"
" Aku tau, aku juga minta maaf dia selalu merepotkan kalian, sebenarnya aku sangat ingin menjadi orang yang direpotkannya, tempat dia menyampaikan rahasianya, orang yang dicarinya untuk menjemput dan mengantarnya saat dia ingin minum kopi di kedai sambil menyanyikan lagu-lagu dan puisinya, tapi keadaannya sekarang tidak bisa begitu, belum bisa maksudku"
" Tidak apa-apa, kadang itu jadi hiburan tersendiri buat kami"
" Arga, boleh aku menitip sesuatu?"
" Apa?"
" Aku tidak menitipkan Alya, karena setelah 3 hari disini aku semakin menyadari betapa beratnya kalian untuk bisa menuruti kemauan-kemauannya."
" Jadi?"
" Aku hanya minta, jika dia mulai berubah tolong hubungi aku"
" Maksudnya?"
" Selama ini dia tetap setia menungguku, bukan karena memang sedang menungguku saja, tapi karena ada kamu yang selalu menjadi bentengnya"
" Maaf Afkar, aku tidak pernah melarang nya untuk dekat dengan siapapun, sebelum kamu datang, sekarang ataupun nanti,itu sudah janji kami sejak dulu"
" Aku tau, dan hubungan ini terselamatkan karena kamu, sekelilingnya tau kalau kamu itu akan selalu menjaganya, diluar dari kalian sahabat, atau pacar jadi-jadian atau apapun, sehingga laki-laki lain tidak mendekatinya. Sekarang begini Arga, kamu sudah tau apa yang terjadi pada kami, aku hanya minta satu, tolong jangan merubah perasaan sayangmu pada Alya, jangan karena kamu tau Alya sudah aku miliki, kamu akan menjauhinya. Kamu mulai tidak peduli padanya. Tetaplah menjadi Arga sahabatnya yang lebih dia perlukan daripada aku kekasihnya. Setelah aku pergi ini, akan banyak yang tau kalau kalian memang tidak ada hubungan apa-apa, aku mulai mengkhawatirkan akan ada yang maju perlahan-lahan padanya, Alya pernah teruji dengan setia tanpa hambatan Arga. Aku tidak menginginkan kali ini dia di uji dengan adanya persaingan. Dia itu terlalu rapuh, sebentar tertawa, sebentar meneteskan air mata, dia harus punya pegangan, sedangkan aku akan jauh darinya."
" Lo mau nitipin Alya?"
" Kalau dititipin terlalu berat, aku saja baru 3 hari mendapat berbagai ujian berat bersamanya" Afkar tertawa mengingat kekonyolan Alya yang sudah mereka lalui.
"Aku hanya minta tolong, jika kamu melihat ada yang mungkin saja menguji kami, kamu mau mengabariku?"
Arga menghembuskan napas panjangnya
" Arga, cuma kamu yang bisa membuatku nyaman meninggalkan dia sekarang, aku masih belum sempat bertemu orang tua nya, cutiku ini terlalu singkat. Aku merasa sangat bodoh harus meninggalkannya seperti ini, bahkan dia tidak menuntut apapun padaku selain aku hanya wajib membalas chat nya secepatnya. Dia terlalu polos tanpa menyadari kepergian ku kali ini berbeda dengan kepergianku dulu. Dulu kutiggalkan dia tanpa memberikannya janji dan kepastian, agar ia nyaman dengan hidupnya, agar jika ia menemukan hati yang lebih membuatnya lapang dia tidak perlu merasa bersalah padaku. Tapi kali ini berbeda, aku ingin kami sama-sama menjaga dan bertanggung jawab untuk perasaan yang sudah kami simpan selama ini. Aku mengikatnya untuk menungguku, sedang aku berkewajiban untuk secepatnya kembali dan membawanya ke dalam kehidupan kami nanti, tapi sangat tidak adilnya aku, menahannya untuk tidak berkeliaran dengan hati yang lain, sementara aku tidak bisa memberikannya bahagia seperti wanita lain yang layak mendapat perhatian dan kasih sayang kekasihnya. Dan kamu Arga, seseorang yang sangat dekat dengannya, tempat dia tertawa dan mengucapkan apapun dengan bebasnya tanpa harus memiliki kata rahasia, kamu akan lebih tau apa yang terjadi padanya daripada aku, kamu akan melihat lebih dulu apapun tentangnya sebelum sampai ke telingaku, aku sangat memohon Arga, jika nanti akan ada sesuatu yang sangat tidak kami harapkan dan kamu berat mengatakannya, berikan aku tanda, tanda saja, itu sudah cukup membuatku sangat berterima kasih"
Arga meraih ponselnya
" Berapa no telf lo"
" xxx"
Walau Arga tidak menjawab, Afkar merasa sangat lega dan hatinya jauh lebih ringan, setidaknya satu waktu dia akan bisa menghubungi Arga untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan kekasihnya jika Alya ngambek atau marah padanya dan menutup akses komunikasi. Afkar sudah meraba betapa akan banyaknya hal-hal yang bisa hadir setelah kepergiannya kali ini, semoga semua baik-baik saja.
Memasuki tol menuju bandara tepat di pukul 1 siang
" Enggak apa-apa kan ka nunggu di ruang tunggu agak lama, soalnya ini kami mau masuk kuliah"
" tidak apa, aku juga mau shalat dulu di mushalla, cari oleh-oleh juga buat teman dan keluargaku". Mobil berhenti di halaman parkir keberangkatan
" Gue tunggu di mobil aja ya Al"
" Gue turun sebentar ya". Pinta Alya pada Arga. Afkar turun dan mengambil koper di bagasi mobil Arga, Arga ikut turun dan membukakan bagasi.
Afkar menyalami dan memeluk Arga
" Terima kasih untuk kemarin, hari ini dan nanti"
" Sama-sama Afkar, semoga sukses"
" Ka Afkar, nanti kalau Sylvia menikah datang ya" Sylvia yang berdiri di samping Arga ikut menyelutuk
" Mudah-mudahan bisa ambil cuti. Titip Alya ya Syl, kalau dia bandel kabarin aku"
Afkar menjabat tangan Sylvia
" Kayanya belum sempat Sylvia kabarin, sudah kami jitak duluan deh dia ka".
Alya bergelayut manja di lengan Afkar dan berjalan menuju ruang tunggu
" Ka, Alya enggak bisa lama nemanin ka Afkar, ini mau masuk kuliah"
" Iya, di sini aja sayang".
Alya melepaskan tangannya dan menggenggam jemari Afkar
" Ka, Alya enggak mau ngomong apa-apa, takut bandara kebanjiran".
Afkar tersenyum dan lembut menarik kepala Alya di dadanya
" Baik-baik sayang, jangan nakal, aku segera kembali untuk menghalalkanmu"
Alya menegadahkan kepalanya
" Alya disini menunggu kaka, cepat pulang ya"
Afkar mengecup kening dan matanya, menyentuh bibir Alya dengan jari telunjuknya
" Jaga bibir ini ya sayang, maaf soal di hotel tadi".
" Alya janji, bibir dan semuanya ini hanya akan menunggu kaka".
" Manisnya kekasihku. Ya sudah, kasian temannya menunggu". Alya menarik tangan Afkar dan menciumnya
" Alya doakan semoga kaka cepat sukses, berhasil, enggak usah nunggu kaya baru melamar Alya ya ka, kita bisa berjuang bersama"
Afkar mengangguk dan membalas mengecup tangan mungil Alya.
" Alya sayang ka Afkar"
" Aku sangat sayang Alya"
Alya berjalan menuju halaman parkir, seperti janjinya, Afkar tidak boleh meninggalkannya sebelum Alya hilang dari pandangannya, untuk apa? untuk melambaikan tangan. Afkar membalas dengan melambaikan tangan. Kepergian kali ini selamat tanpa tangisan.
" Ada acara sinetron nangis enggak tadi?"
" enggak lah, kali ini gue sudah harus dewasa"
Arga mulai menjalankan mobilnya dan keluar dari areal bandara.
" Al, kayanya lo banyak banget nyimpan rahasia sama kita selama 3 hari ini, ya kan Ga?
Arga yang sendiri duduk di depan diam saja
" Nanti gue ceritain semua"
' Al, gue masih penasaran, sepagian lo di hotel berdua ka Afkar ngapain aja?"
" Sarapan, makan cokelat, nelfonin lo, ganti baju di kamar mandi, ikut beresin pakaiannya ka Afkar"
" Itu doang?"
" Eehm ada lagi, gue sempat ngambek gara-gara ka Afkar enggak nerima kedatangan gue di hotel"
" Terus?"
" Enggak ada"
" Bohong lu Al"
" Oh ada, gue sempat meluk dia ,eh kebalik, gue dipeluk, gue nangis karena sedih banget kan ditinggal?'
" Apa lagi?"
" Lo kenapa sih Syl"
" Lo harus jujur ke kita, lo mau gue bukain baju lo dengan paksa buat cari tanda buktinya atau lo cerita"
__ADS_1
" Iih, enggak percaya banget, iya gue jujur. Tadi sempat dia nyium hidung gue"
" terus?"
" Terus sempat juga tiga detik bibirnya nyium bibir gue, tapi gue bingung, itu ciuman apa bukan, nempel 3 detik, enggak diapa-apain, trus dilepasin, trus minta maaf, diem-dieman"
Arga melirik dari kaca spion tanpa komentar
" kalau di film harusnya bukan begitu ya Al"
" mana gue tau"
" Terus ka Kevin gimana?"
Alya menjauhi Sylvia dan duduk menghadap jendela,matanya lurus memandang jalan
" jangan omongin itu dulu Syl, biarin gue masih berada di mimpi indah ini dulu, gue belum mau bangun, karena nanti malam gue sudah harus memulai kehidupan yang gue bahkan enggak tau apakah akan di mulai atau akan di akhiri" Sylvia pun tidak melanjutkan lagi pertanyaannya.
" Ga, musik dong, diem-diem gini berasa tinggal di dalam goa". Arga menyerahkan remote tape mobil nya pada Sylvia dan masih saja tanpa komentar.
" Ga, lo tadi ngomong apaan sama Ka Afkar sampe kami terusir begitu"
" Cuma terima kasih udah jagain Alya"
" Itu doang?".
" Sama kaya lo tadi juga minta dijagain Alya"
" Ooohh"
Disampingnya Alya sudah terlelap tidur karena tadi malam jam tidurnya kacau.
" Kita ke hotel dulu apa ke kampus dulu ya? motor Alya kan masih di hotel"
" Kampus dulu deh Ga, Alya nya masih tidur"
" Oke".
Judika, jikalau kau cinta
Alya kanget langsung terbangun dan membuka tas ranselnya
" Assalamualaikum ma"
" Waalaikum salam, lagi dimana sayang?"
Alya mencolek Sylvia disamping nya agar bisa menjawabkan pertanyaan mamanya, kayanya jiwa Alya belum menyatu
" Sudah dekat kampus" bisik Sylvia
" Ini mau ke kampus sama Sylvia dan Arga ma"
" Kamu ini sudah 3 hari enggak ngabarin mama"
" Eehh, Alya lagi sibuk ma"
" Alya, ini mama lagi di jalan, papah ada urusan, nanti kami mampir ke kost ya"
" Jam berapa ma? Alya pulang nya sekitar jam 4 sore"
" Palingan kami nyampe magrib Al, papah mau ke teman bisnisnya dulu"
" Iya ma"
" Mau di bawain apa sayang?"
" Enggak usah ma, kalau mau banyakin yang mentahnya aja"
" Kalau itu aja ingat, nelfonin mama lupa"
" Hehehe, ini udah nyampe kampus ma"
" Ya udah, hati-hati sayang, Assalamualaikum"
" Waalaikum salam".
" Bentaran ya Syl, gue dandan dulu, kacau balau banget penampilan gue"
Arga memarkirkan mobilnya dan mematikan musik.
" Al, pulangnya kita ke hotel, motor lo kan masih di sana"
" Oh iya ya, anterin gue ya Ga"
" Iya".
Tidak lama setelah mereka turun dari mobil, perkuliahan di mulai dan berakhir jam setengah 4 sore. Arga mengantarkan Alya ke hotel untuk mengambil motor, dan mereka pun berpisah di depan hotel.
Alya menyegarkan tubuhnya dengan mandi wajar karena pagi tadi dia mandi dengan sangat cepat dan pikiran yang kacau sekacaunya. Setelah shalat merebahkan diri sambil mencek pesan masuk.
Ka Afkar
" Aku berangkat sayang,,,"
Group WA
" Pada kemana gue enggak diajak, makan di padang ya kalian"
Mama
" Sayang, mungkin 1 jam lagi kami sudah sampai di sana, sudah pulang kan?'
Ka Kevin
" Sudah pulang kuliah Alya? malam ini jadi kan?"
Alya hanya menjawab pesan dari mama
" Alya sudah di kost ma, ini lagi tiduran".
Apa yang akan terjadi pada hidupku? heeyy, ka Kevin malam ini akan datang, mama papa juga, kok bisa kebetulan ya?
Alya membuka galeri pada ponselnya. Wajah ka Afkar cakep banget, gaya begini aja tampannya selangit, gimana ya kalau nanti dipakein jas hitam, pake sarung, berkopiah, gue pake kebaya putih, bersanggul, trus tanda tangan di buku kecil yang sudah ada pasfoto kita, kaya buku punya ka Pandu, buku nikah. Alya tersenyum membayangkannya, enggak sabar enggak sabar. Alya tertidur dengan berjuta impian nya, nyenyak dan dalam sekali, cepat pulang ka,,,
Sebuah tepukan di pundak membangunkannya
" Sayang bangun, ini sudah mau magrib"
Alya membuka matanya
" Mama"
Memeluk wanita paruh baya yang cantiknya masih bersinar.
" Papa mana ma?"
" Papa ke mesjid, nanti habis shalat ke sini"
Alya duduk dan merapikan bajunya
" urusan apa sih ma?"
" Mama kurang tau juga, tapi kayanya kami harus menginap karena belum selesai katanya"
" Nginap disini ya ma"
" Enggak, kami di hotel aja, mana bisa tidur disini sempit"
" Alah, bilang aja mau bulan madu lagi di hotel"
" Eh kok tau siih?"
" Alya ikut"
" Huss, ganggu aja"
" Pokoknya Alya ikut"
__ADS_1
Mama memandangi Alya, ini anak selalu bikin rusuh
" Iya, nanti mama bilang ke papah"
Alya memeluk mamanya
" Kevin apa kabar sayang?".
" Katanya malam ini mau kesini ngajak makan"
" Ooh, ya sekalian lah kita sama-sama"
" Iya mah, eh tu adzan, kita shalat mah"
Mereka berdua turun dan mengambil air wudhu selanjutnya shalat magrib.
Alya memainkan ponselnya setelah shalat, sedang mama ke bawah karena numpang mandi, seharian di jalan enggak enak kalau makan malan enggak mandi katanya.
Judika, jikalau kau cinta
" Assalamualaikum ka"
" Waalaikum salam sayangku"
" Gimana perjalanan nya?"
" Lancar sayang"
" Alhamdulillah"
" Ini lagi ngapain sayang?'
" Mau makan malam ka, mama papah ada urusan sama relasi, jadi mampir kesini sekalian"
" Waah sayang banget ya, andai aja kemarin aku bisa ketemu"
" Hehee, lain kali ya ka"
" Iya, salam ya buat mereka"
" Hehe"
Alya tidak menjawab, nanti dulu deh ka salamnya disampein, kondisinya belum tepat.
" Kaka istirahat aja deh dulu, besok kan sudah mau kerja"
" Iya sayang, aku juga mau nyari makan dulu, baru istirahat, baik-baik ya sayang, Assalamualaikum'
" Waalaikum salam"
" Emuuuaah".
" Hehehe".
Klik.
Mba Nana memunculkan kepala dari depan kamarnya
" Al, ada yang nyariin?"
" Siapa? papah Alya sudah datang dari mesjid?"
" Bukan, cakep banget Al"
" Hah, siapa?'
Alya menuruni tangga dan menemui tamunya
" Assalamualaikum"
" Waalaikum salam, ka Kevin, masuk ka"
" Di sini aja enak"
Turun Seorang laki-laki kekar dari sebuah mobil hitam
" Papaaah"
Alya langsung memeluk dan mencium tangan lelaki itu
" mama mana sayang?'
" Mandi"
" Om"
kevin mendekati dan mencium tangan pa Rangga
" Ada nak kevin, sudah lama?"
" Barusan om"
" Masuk dulu pah"
" Ayu kita masuk dulu nak Kevin"
Berhubung yang mengajak masuk ini calon mertua, Kevin tidak bisa menolak
" Bagaiman kuliahnya?'
" Ini lagi mengajukan usulan judul om"
" Alyaa, temani mama,,"
Terdengar teriakan mama dari tangga
" pah, ka Kevin Alya ke atas dulu ya"
" Iya".
Alya naik ke atas dan mendapati mama sudah mandi dan mengganti bajunya
" Kevin ya Al?".
" Iya ma, ngobrol sama papah"
" Ooh, ya udah ganti baju, mama sudah lapar"
Alya membuka perlahan lemari bajunya, gawat, gue belum merapikan isi lemari, bukannya belum, memang sudah kebiasaan, semoga mama tidak ngintip. Dan wuuuiih untung celana jeans dan baju santai ada di tumpukan paling atas, enggak perlu narik pakaian lain, bisa bahaya kalau sampe atraksi kecepatan tangan menutup lemari biar isinya tidak tumpah ruah keluar gue praktikin sekarang.
Alya semobil dengan Kevin, sedangkan mama sama papah, mereka akan makan malam di restoran favorit papah, beliau setiap datang ke kota ini selalu menyempatkan makan di restoran itu.
" Alya, apa kabar?'
" Baik ka, kaka gimana?"
" Baik, cuma mungkin agak kecapean aja"
" Ooh"
Kevin meraih bungkusan di jok belakang
" Alya, maaf ya aku tidak sempat bawain oleh-oleh, soalnya kemarin mendadak pulangnya"
" Enggak apa-apa ka" .
" Maaf ya, cuma sebatang cokelat ini aja yang bisa kukasih, tadi siang juga sibuk sama dosen pembimbingku, rencana mau mampir ke swalayan dulu, tapi kangennya sudah enggak bisa di tawar lagi, jadi ya langsung nemuin kamu'
" Hehehe"
Alya meraih sebatang cokelat pemberian Kevin
Heeemm, kok sama dengan cokelat tadi pagi di hotel?
" Ada cerita lucu di balik cokelat ini Al, di displayan cuma ada dua, dan ternyata ada seorang laki-laki juga yang ingin membelinya, katanya ingin memberikan juga pada kekasihnya, dia ingin beli dua, soalnya kekasihnya itu unik, bisa tega enggak mau berbagi sama dia, tapi kubilang aku juga mau memberikan kepada pacar ku, lalu kami sepakat untuk membeli satu biar kekasih kami bisa sama-sama merasakannya, hehe"
Alya gemetar, astaga, itu kekasih gue,,, kekasihnya itu gueee, cokelatnya sudah gue makan tadi pagi, dan memang awalnya enggak gue bagi ke dia, pas diminta baru gue kasih sedikit. Ka Afkaarr,, kok jadi sempit begini sih masalah cokelatnya. Alya pun cuma bisa diam dan kembali mengulang cerita Afkar tentang pembelian cokelat yang cukup dramatis, dan cerita itu terulang di telinga Alya dari lelaki yang berbeda malam ini.
__ADS_1