Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Sandiwara Lagi


__ADS_3

Celana Arga ditarik-tarik Sylvia.


" Heeh, lepasin Syl, gue kaya mau diperkosa".


" Lo qa boleh ninggalin gue, lo harus standbye di depan ruangan pa Agus sampai gue kasih kode"


Alya yang baru keluar ruangan bengong melihat kejadian yang tidak terlalu nyaman dilihat


" Ngapain lo pegangin celana Arga?"


"Al, Arga harus nolongin gue, kalau tiba-tiba Pa Agus menyebut nominal biaya karena sudah nganterin gue pulang pake mobil mahalnya, Arga harus ngeluarin duitnya"


" Kenapa kalau lagi acara begini ngajakin gue, giliran senang-senang ninggalin gue"


" Arga, lo itu mau bantuin orang malah ngomel-ngomel, ihklas aja kenapa sih"


Roni menyikut lengannya


" Dia yang maksa minta bantuan, bukan gue yang mau bantu"


" Udah-udah, tuh Pa Agus sudah masuk ruangan, buruan Syl"


kata Alya sambil menujuk Pak Agus yang sudah memasuki ruangannya pake bibirnya


" Kalian di sini ya, jangan ninggalin gue, Bismillah"


Sylvia berjalan mantap.


Mereka bertiga berdiri melongo di depan ruangan pa Agus sambil sesekali melirik, kalau saja ada insiden diluar perkiraan mereka, kan langsung bisa ambil tindakan.


Tok,, tok,


" Assalamualaikum, permisi pa"


Waalaikum salam, silakan masuk".


Sylvia duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan kursi Pa Agus, kursi ini memang disediakan khusus untuk mahasiswa yang akan berkonsultasi.


Pak Agus menatap gadis di depannya, walaupun tadi malam ia mengantarkan gadis itu sampai ke rumahnya, dia belum sempat memandang wajah Sylvia. Perawakannya yang tinggi dan langsing, rambut panjang dan agak pirang, kulitnya begitu mulus dan putih, hey, dia pakai softlens ya, kenapa warnanya biru, apalagi bulumatanya yang lentik itu, bergerak-gerak saat dia mengerjapkan matanya, oh iya aku kan tadi malam melihatnya sedang menangis jadi tidak memperhatikan bulumatanya, alis tebal dan hidung yang mancung, dia keturunan bule ya? kenapa aku tidak pernah tau ya ada mahasiswi seunik ini. Pakaiannya sangat sederhana dengan kemeja polos warna cream berlengan panjang dan celana jeans biru muda, rambut pirangnya terbiar bergerai jatuh begitu saja. Tapi kenapa dengan pakaian begini saja sudah terlihat sangat manis.


" Siapa nama kamu, Sylvia ya?"


" Iya pa"


Acting yang bagus Pak, padahal tadi malam dia sibuk menghapalkan nama itu.


" Yang didepan itu pacar kamu?"


Pa Agus melihat tadi mereka berbincang di depan ruangannya


" Bukan Pa, itu teman-teman saya'.


Hhmmm, bagus lah, setidaknya di kampus ini kamu belum punya pacar.


" Syl, tadi malam saya sudah bantuin kamu".


Deg, tuh kan minta bayaran, Arga, siap-siap lo ngeluarin kocek


" Berapa saya harus bayar Pa?"


" Bayar apa?"


" Bayar saya numpang mobil bapak"


Pa Agus menaikan satu alinya, polos sekali mahasiswi ini


" Saya tidak minta bayaran"


" Alhamdulillah"


Sylvia mengurut dadanya, akhirnya gue enggak jadi minta bantuan Arga, gue enggak perlu bayarin jasanya. Pa Agus tergelak melihat kelakuan gadis didepannya. Sylvia langsung mengetik pesan ke Arga


" Aman Ga, kalian boleh pergi".


" Saya perlu bantuan kamu"


" Bantuan apa pa"


Pa Agus terdiam, seperti latihannya tadi malam, sandiwaranya harus sempurna


" Begini Syl, nanti malam saya ada acara reuni SMA, mungkin kamu tau saya belum punya kekasih, kamu mau menemani saya?"


Sylvia bengong


" Saya pura-pura jadi pacar bapak?"


" Kurang lebih begitu".


Ealah paaa paa, kenapa harus pura-pura, beneran juga saya mau. Lagian ya pa, tuh di depan ruangan Bapak, teman saya juga pura-pura pacaran, udah 1 tahun. Kenapa sih saya selalu dikelilingi kepura-puraan, punya pacar Dimas juga, pacar beneran, tapi dia pura-pura cinta sama saya, ternyata saya diselingkuhi juga.


" Kalau ada yang nanya gimana pa?"


" Kamu diam saja, saya selalu disamping kamu, setiap ada yang bertanya biar saya yang jawab, kamu cuma harus tersenyum, tapi jangan bicara"


" Cuma itu pa?"

__ADS_1


Wuiih, ni anak nantang juga, sebentar kupikirkan


" Habis ini ikut saya, kita ke boutique dan sebelum berangkat nanti malam kita ke salon"


" Memang harus ya pa, saya punya kok beberapa baju yang mama saya bilang saya cantik pakai baju itu"


" oh ya? Tapi ini acara saya, jadi bolehkan saya yang menentukan?"


Huuuh, orang kaya kalau ngomong suka begini, Arga juga kalau ngomong suka ngancam, atm nya di gue, kalo lo mau kesana, ya udah jalan aja sendiri, ini nih nasib rakyat jelata, harus ikut apa kata yang berpangkat.


" Baik pa".


" Dan satu lagi"


" Apa pa?"


" Sambil kita jalan nanti ke boutique, kamu harus menceritakan siapa kamu?"


" Saya kan mahasiswi bapak"


" Saya cuma tau kamu mahasiswi saya, dan kamu pernah memanggil saya hantu, yang lainnya tentang kamu saya tidak tau"


Sylvia menutup mulutnya dengan telapak tangan


" Maafkan saya pa, saya benar-benar ketakutan"


" Saya maafkan, dan saya minta jalankan peran kamu sebagai pacar pura-pura saya dengan baik"


" Iya pa, saya permisi"


" Mau permisi kemana kamu?"


" Saya mau pulang"


" Bukannya kita mau ke boutique".


Sylvia menepuk dahinya


" Oh iya, jadi bagaimana?"


" Agar tidak jadi sorotan mahasiswa lain, kamu tunggu saya di depan jalan masuk kampus ini, tunggu saya, disana, minta antar teman kamu yang sekarang masih menunggu kamu di depan ruangan saya"


Gantengnya sih kelewatan, nyebelinnya juga kelewatan, masa gue harus nungguin di depan sana, huuuh


" Baik Pak".


Sylvia berjalan keluar ruangan dan langsung disambut teman-temannya


" Sstt, ntar gue ceritain, anterin gue kedepan gerbang kampus kita ya, sambil jalan gue ceritain". Mereka bergegas berlari ke parkiran mobil Arga biar Sylvia sempat nyeritain apa yang terjadi di dalam ruangan misterius.


" Andai aja bisa Al, ternyata pa Agus tu ganteng-ganteng nyebelin"


" Banyak gantengnya atau banyak nyebelinnya?" Goda Roni


" Tau aahh"


" Syl, apa perlu nanti malam lo kita ikutin, perasaan gue kok enggak enak ya"


Arga menyelutuk di belakang kemudi


" Apaan sih, engga apa-apa Ga, lo tu kelewat horor"


" Bukan begitu Syl, lo kan tau walau tampang gue ini preman, tapi hati gue ne lembut, apalagi kalau sudah berhubungan sama orang yang dekat dengan gue".


" Bener juga Syl, tiba-tiba gue jadi mikir begitu juga"


" Gue ngikut aja" sahut Roni yang duduk di depan sebelahan Arga.


Sylvia mengangguk


" Ntar deh gue kabarin, pokoknya nih, kalian gue chat terus apapun yang terjadi sama gue"


" Eh Syl, tu mobil Pa Agus datang, keluar deh lo"


" Iya, doain gue ya"


Sylvia keluar dari mobil Arga, sementara teman-temannya mengintip dari dalam mobil.


Pa Agus keluar dan membukakan pintu mobilnya buat Sylvia, dan Sylvia pun masuk, mobil melaju dari arah kanan mereka, terdengar klakson berbunyi sekali saat melewati mobil Arga yang sedang diam, pertanda Pa Agus pamit pada si pengantar Sylvia.


" Kita ikutin qa ya?"


Tanya Arga


" Enggak usah lah Ga, ini kan siang, lagian Pa Agus ngenalin ini mobil lo, kalau beliau tau kita ngikutin Sylvia, kan enggak enak juga"


Saran Roni, Alya mengangguk


" Lagian Ga, Pa Agus kan dosen, pasti beliau jaga juga lah sikap, masa iya sih bikin hal-hal memalukan, buktinya Sylvia diperlakukan baik kok"


Arga mengangguk


" Kita makan bakso dulu yu, cape gue tadi berdiri nungguin Sylvia di depan ruangan Pa Agus


" Siaap Ga"

__ADS_1


Jawab teman-temannya yang kalau diajak makan tidak perlu dipertanyakan lagi.


" Ron, gue masih khawatir, nanti malam kita ikutin Sylvia, pake mobil lo, jemput Alya dulu baru ke kost gue"


" Si Arga lama-lama kaya emak gue" Canda Roni sambil meirik ke bangku belakang. Alya cuma tertawa.


Mobil bercincin 4 itu berhenti di sebuah tempat mewah " Princess Boutique". Pa Agus turun dan membukakan pintu mobil agar Sylvia bisa keluar, mereka berjalan masuk kedalam boutique itu. Sylvia tercengang takjub, waaahh bagus banget, andai aja dia kesini bawa Alya, pasti dia juga takjub, dan pasti ya kalau kesini harus bawa Arga dan Roni, duo sahabat tajirnya.


" Ada yang bisa saya bantu pa'


Seorang wanita berusia 30 tahunan dengan wajah cantik yang penuh senyum mendekati mereka.


Pa Agus sedikit mengajak wanita itu menjauh dan berbisik


" Pilihkan baju untuknya, saya akan mengenalkan calon istri saya kepada orang tua saya malam ini"


Wanita itu masih tersenyum dan menggangguk


" Baik, saya mengerti pa, mari nona"


Wanita itu menggandeng Sylvia ke dalam


" Nona senang dengan warna apa?"


" Saya tidak terlalu fanatik dengan warna, kalau ukurannya pas di badan saya, dan mama saya bilang sudah sopan dan harganya tidak terlalu mahal ya saya beli" Pa Agus menoleh ke arah Sylvia, benar-benar ini anak.


Pa Agus sedikit menarik tangan Sylvia dan berbisik


" Syl, saya tidak mau kamu ikut memikirkan berapa harga gaun, kewajiban kamu saat ini memilih gaun mana yang dipilihkan oleh mba itu, semua saya yang bayar"


Sylvia mengangguk dan kembali mengikuti si wanita cantik.


Sylvia heran, dihadapannya sudah disodorkan 10 gaun yang luar biasa cantik, tidak glamor, tidak berpayet, dan tidak seksi. Dia hanya menatap Pa Agus meminta pendapat


" Saya bingung pa, Bapak saja yang pilih, saya


ikut saja"


" Bagaimana kalau kita coba di kamar ganti dulu nona, biar tuan bisa menilai mana yang pantas anda pakai" Pa Agus mengangguk


Di bantu mba Niken, iya nama karyawan cantik itu Niken, Sylvia yang memang ramah terhadap siapapun sempat menanyakan namanya tadi Sylvia mencoba memakai gaun yang sudah disodorkan oleh mba Niken.


Dan setiap kali Pa Agus disuruh menilai, beliau hanya bilang bagus. Iya memang bagus, tubuh Sylvia yang semampai, ditunjang dengan parasnya yang sudah cantik, memakai apapun selalu terlihat cantik. Akhirnya pilihan tersisa 3, yang satu berwarna keemasan dengan panjang selulut, berlengan sampai siku, di bagian dadanya ada sedikit Swarovski, sedikit sekali, mungkin desainer nya meletakan ini agar gaun ini tidak terlalu sepi, seperti dirinya yang masih jomblo,hehehe. Pilihan kedua gaun berwarna merah, modelnya sama dengan gaun keemasan tadi, bedanya ini tidak pakai hiasan Swarovski, dari bagian dada sampai pinggang berlapis brokat dengan warna yang lebih muda, lebih mirip gaya korea, dan ketiga gaun berwarna hitam, gaun ini panjang sampai mata kaki, dan menampilkan lekukan tubuh Sylvia, model ini dengan kerah depan bersilang dan dari bagian pinggang ke bawah berlapis kain brukat dengan warna perak. Sylvia tidak bisa menentukan mana yang pantas untuk dipakainya.


" Oke mba, saya ambil ketiganya"


Akhirnya Pa Agus berdiri dari tempat duduknya yang sejak datang tadi hanya duduk di sofa putih itu sambil melihat dan takjub dengan pemandangan di depan matanya, bak seorang putri yang dibungkus dengan apapun tetap terlihat cantik. Pa Agus mendekati kasir dan menyerahkan ATM nya


Si kasir menerima nota dari mba Niken


" 13 juta pak"


Sylvia melongo, haaahh gue mimpiii? Alya lo dimana, gue ini mimpi ya???


Buat beli baju doang, dapat duit segitu gue mau tukar tambah motor matic gue yang masih ada di kampus karena mogok.


" Saya tunggu di mobil ya, setelah ini kita ke toko tas"


Sylvia mengangguk


Dan bak puteri sesungguhnya Sylvia melenggang di toko tas setelah puas dibelikan 3 gaun mahalnya tadi. Dan kali ini dia tidak berani memilih, dia biarkan karyawan toko itu memihkan model tas terbaru. Berlanjut ke etalase sepatu, berbagai merk ternama dan model yang unik terpampang di depan matanya, coba aja dia kesini sama mama, pasti sudah di suruh tirun paksa ke pasar tradisional, sepasang sepatu bisa sebulan gaji papah. ketika Pa Agus menuju kasir Sylvia menutup telinganya agar tidak mendengar berapa harga tas dan sepatu yang sudah ia pilih, agar dia tidak syok mengetahui harga tas dan sepatu pemberian Pa Agus.


Kenapa gue dibelikan barang beginian ya, apakah Pa Agus mau memperkenalkan gue sama orang spesial? Mantan dia SMA? Habis ini gue diajakin ke salon, apa tampang gue belum cantik? gue dandan sendiri juga bisa, mama bilang takdir gue udah cantik dari lahir, tapi dosen satu ini malah mau permak gue, gimana kalau nanti kaya Alya yang katanya mirip topeng monyet mau kondangan. Gue pasrah aja deh


What's Group


" Gue aman, di beliin baju 13 juta, sandal sama tas, tapi gue qa mau tau lagi liat harganya syok gue"


Alya


" Asik dong, kl calon pacar gue datang dan gue diajakin kencan, gue pinjem ya Syl"


Arga


" Lo enggak diapa-apain pa Agus kan?"


Sylvia


" Enggak lah"


Roni


" Emak kita khawatir lo diapa-apain Syl"


Arga


" Pokoknya lo terus kabarin kita ya"


Sylvia


" Berees, reuni aja ribet begini, gimana mau ketemu calon mertua ya"


Alya


" Selamat reuni aja deh Syl, daah".

__ADS_1


__ADS_2