
Terik siang tak membuat Pak Wijaya mencari tempat berteduh, dengan topi proyek dia ikut mengawasi tambang yang sudah di kelola oleh perusahaan. Kali ini beliau berada di kabupaten Tapin ibukota Rantau, berjarak 80 km dari Martapura. Tentu saja dengan supir pribadinya Afkar yang sudah 3 bulan bekerja untuknya. Supir pribadi yang sekarang bahkan lebih mendekati kepada asisten pribadinya. Segala yang terjadi baik di dalam rumah ataupun pekerjaan lebih sering dikonsultasikan pada Afkar. Dengan sikap santun dan serius Afkar dengan luwes ikut mengemukakan pendapatnya yang dinilai Pak Wijaya bijaksana.
Kali ini Afkar hanya memandang dari jauh, melihat alat berat bekerja membuatnya teringat lagi pekerjaan dulu, dan saat berisitirahat akan disempatkannya untuk melakukan panggilan telepon ataupun panggilan video dengan kekasihnya. Afkar melirik jam tangan, sudah masuk jam shalat zuhur, Afkar menoleh ke sekeliling, tidak ada mushalla. Tapi dia melihat ada kran air tempat para pekerja tambang mencuci muka dan membersihkan tubuh. Afkar berjalan mendekati sumber air ledeng dan mulai berudhu. Kembali ke mobil dan mengeluarkan sajadah serta peci. Afkar meghamparkan sejadah disamping mobil dan mulai menjalankan shalat zuhur.
Pak Wijaya sudah merasa cukup memantau pekerjaan karyawannya di tambang, perutnya juga sudah mulai terasa lapar, beliau mendekati mobil, mana Afkar? Mengeluarkan ponsel dan saat akan memencet tombol panggilan, dilihatnya bayangan Afkar disamping mobil, pak Wijaya berjalan mendekati, Afkar sedang shalat. Pa Wijaya tersenyum dan menunggu Afkar selesai. Setelah salam dan berdoa pendek Afkar segera berdiri dan kaget Pak Wijaya sudah ada di belakangnya.
" Maaf pak"
" Saya yang minta maaf, kamu sampai shalat di tanah lapang begini, seharusnya kamu bilang dan pergi ke depan jalan, disana ada mushalla"
" Tidak apa Pak, tempatnya bersih juga, saya tidak enak minta izin bapak, siapa tau bapak memerlukan saya secepatnya"
" Saya akan izinkan, apalagi untuk shalat. Sekarang kita akan makan siang dan kembali ke kantor, tapi kita mampir sebentar ke mushalla di depan sana ya"
Afkar mengangguk.
Selama Afkar menjadi supir pribadinya, pak Wijaya banyak belajar darinya. Yang paling jelas terlihat sekarang adalah Pak Wijaya tidak pernah lagi meninggalkan shalat lima waktunya. Afkar tidak pernah menyuruh majikannya shalat, tapi sebelum makan siang Afkar selalu meminta izin ke mushalla kantor untuk shalat zuhur, begitupun shalat ashar. Begitu juga kalau mereka pulang telat, jika sampai waktu magrib Afkar akan ke mushalla dulu. Pa Wijaya kemudian memberi perintah saat jam setengah satu tidak ada meeting, tidak ada penerimaan tamu, tidak ada kegiatan lain, mewajibkan shalat zuhur berjamaah dengan dua kelompok yang bergantian. Suasana kantor siang sangat berubah karena seorang supir pribadi. Mushalla yang dulunya hanya berukuran 5x6 M sekarang sudah diperluas menjadi 10 x 6 m agar bisa mencukupi untuk dilaksanakannya shalat berjamaah.
Menjalankan mobil dengan santai karena permintaan Pak Wijaya dari Tapin ke Martapura, akan membutuhkan waktu sekitar 2 jam sampai 2 jam setengah.
" Afkar, saya bersalah lah menurutmu?"
" Kenapa pak?
" Soal Aprill".
Afkar tidak berani menjawab. Gadis manis dengan gaya khas remaja muda dan sikap manja dan lucunya itu sekarang sedang sakit. Dua minggu yang lalu terjadi peristiwa yang membuat Aprill mendapat kemarahan Pak Wijaya luar biasa, bahkan Afkar sempat menenangkan dan membuat suasana tidak bertambah buruk.
Hari itu Pak Wijaya dan Afkar sudah selesai makan siang di sebuah restoran favorit pak Wijaya dengan menu laut. Di tengah jalan pak Wijaya melihat satu rombong kecil bertulisan rujak dan beliau menyuruh Afkar berhenti.
" Afkar, tepikan mobil, saya kangen juga makan rujak, itu makanan kesukaan saya di kampung"
Afkar menepikan mobilnya
" Biar saya yang turun pak, bapak tunggu saja di mobil"
" Tidak, saya justru kangen melihat tangan penjual yang mengulek petis dan gula merahnya. Biar saya yang turun"
" sebentar pak, bapak akan menyeberang, saya akan ikut"
Afkar dan Pak Wijaya turun dari mobil dan menyebarang jalan mendekati rombong kecil.
Seorang wanita separoh baya dengan pakaian khas penjual rujak dan bicara dengan dialeg Jawa yang kental.
" Rujak nya pak?"
Pak Wijaya mendekati dan mengamati buah apa saja yang ada di dalam rombong itu.
" Ulahkan 5 bungkus bi lah, campur berataan buahnya, tapi petisnya pisah, saya makannya kena aja"
( Buatkan 5 bungkus bi, campur semua buah, tapi sambal petisnya pisah, saya makannya nanti)
" Inggih pak"
Wanita itu dengan cekatan mencampur gula merah, bawang putih, petis, kacang tanah yang sudah di goreng dan garam, mengulek di cobeknya dengan cepat. Pa Wijaya tertawa
" Ini nih Afkar yang membuat saya kangen, ulekan bibi, hahaha"
Afkar dan bibi ikut tertawa mendengar candaan pa Wijaya.
Pak Wijaya tiba-tiba berubah pikiran ketika menyadari ini adalah sebuah taman kecil yang mempunyai beberapa tempat duduk, taman yang bersih dengan beberapa permainan berupa ayunan, perosotan dan beberapa permainan kecil yang aman dimainkan oleh anak kecil.
" Afkar, tempatnya bersih, sepertinya saya tertarik makan disini, kamu makan juga ya".
Sebenarnya Afkar masih kenyang karena mereka baru saja makan siang, tapi demi majikannya dia mengangguk.
" Bi, tambah 2 porsi tapi makan di sini, kasih piring dan tetap pakai daun bi ya"
" Inggih pak"
Perempuan itu kembali mengulang prosedur kerjanya karena ada tambahan lagi dari pembelinya, dan kali ini tidak dibungkus tapi di piring yang tetap dialasi dengan daun pisang yang membuatnya harum.
Campuran buah mangga muda, pepaya, nenas, bengkuang, timun.
Berdua duduk di satu bangku sambil menikmati rujak segar dan air mineral. Sesekali pa Wijaya memberi candaan dan membuat mereka tertawa. Hampir selesai dengan makananya, dari sudut bagian kanan matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya
" Afkar, itu Aprill?"
Afkar ikut pada arah telunjuk Pak Wijaya yang menunjuk satu arah
__ADS_1
" Iya Pak ,non Aprill".
" Bersama siapa dia? Laki-laki mana itu"
Pak Wijaya langsung berdiri dan berjalan cepat menuju Aprill yang sedang duduk berdua dengan seorang laki-laki muda. Afkar segera mengikuti dari belakang
" Aprill"
Aprill menoleh dan sangat kaget, begitu juga dengan lelaki muda yang bersamanya.
Lelaki itu melepaskan tangannya dari pundak Aprill.
" Kenapa kamu disini? mana bang Jali? kamu siapa heh?"
Aprill langsung berdiri dengan ketakutan.
" Papah, maafin Aprill, kami cuma duduk di sini sambil menunggu jam kuliah selanjutnya"
" Papah cuma menginzinkan kamu ke kampus atau makan-makan bersama teman-temanmu dan segera pulang, tidak pernah mengizinkanmu duduk berduaan dengan lelaki seperti ini"
" Pah, maaf. Aprill baru sekali ini kesini berdua"
" Maaf om, saya yang salah mengajak Aprill kesini".
" Beraninya kamu mengajak Aprill kesini, siapa kamu?"
" Saya Darel om, kekasih Aprill"
" Apa? beraninya kamu"
Aprill langsung memeluk pak Wijaya.
" Pah, maafkan kami"
" Aprill, cepat masuk mobil, dan kamu, jangan pernah lagi dekati Aprill, dia tidak pernah saya ajarkan untuk berkeliaran begini"
" Saya minta maaf om, tapi tolong jangan memisahkan kami, kami saling mencintai"
Pak Wijaya mengayunkan tangannya akan mendaratkan pukulan ke wajah Darel, tapi Afkar dengan sigap langsung menahannya
" Pak sabar, jangan memukulnya, kita bisa kena pasal, lebih baik kita bawa non Aprill pulang, mungkin dia bisa menjelaskan"
" Ingat ya, jangan pernah menggganggu anak saya, dia sedang belajar"
Afkar menatap wajah lelaki muda di depannya, lelaki itu tertunduk dan mengangguk
" Jangan memarahi Aprill om, pukul saja saya, ini salah saya"
" Bukan urusanmu, jangan mengatur"
" Tapi om, luapkan saja semua pada saya, jangan pada Aprill, saya tidak tahan melihatnya bersedih"
" Diam kamu, dia anak saya, kamu tidak berhak apapun"
Afkar kembali memegang tangan pak Wijaya yang mengepal
" Pak, mari kita pulang, ini tempat terbuka, jangan sampai ada yang melihat bapak begini"
Afkar memandang Aprill yang sudah sesenggukan menangis, aaahh tangisan ituu, aku selalu menghapusnya dengan tanganku, aku akan memeluknya agar ia merasa sedihnya terbagi, agar ia tau aku akan melindunginya. Huuh, dia bukan Alyaku.
Pak Wijaya langsung memegangi tangan Apriil dan berjalan cepat menuju mobil yang terparkir di seberang. Sebelum mengikuti majikannya Afkar sempat berbisik pada Darel
" Maafkan majikan saya, dia orang baik, dan jika kamu benar menyayangi non Aprill, kamu akan menjaganya dengan caramu. Bersikap baiklah"
Afkar setengah berlari menyusul pak Wijaya dan langsung membukakan pintu mobil.
" Afkar, kita pulang saja, tidak usah ke kantor lagi "
" Baik pak"
Hening.
Dari kaca depan Afkar melihat Aprill masih dengan tangisannya di bangku belakang sementara pak Wijaya duduk di samping Afkar. Sambil mengemudi Afkar meraih tisu yang ada di dashboard dan menyerahkan pada Aprill tanpa suara, Aprill langsung mengambilnya juga tanpa suara, kecuali isakan yang masih saja belum selesai. Pak Wijaya membuka ponselnya dan menghubungi seseorang
" Jali, ikam dimana?"
( Jali, kamu dimana?)
" Kada usah, langsung bulik ja, Aprill sudah lawan kami"
__ADS_1
( tidak usah, langsung pulang saja, Aprill sudah dengan kami).
klik
" Hebat Aprill lah, bang Jali disuruh menunggui di parkiran kampus, yang ditunggui kelayapan di taman"
Afkar melirik pak Wijaya
Kamu bohong Aprill? kamu mencari kesempatan? semoga pak Wijaya bisa menahan emosinya di rumah nanti. Isakan tangis itu. Berhenti Aprill, aku seperti mengulang peristiwa terakhirku bersama cintaku, kenapa hatiku sakit begini?.
" Afkar,, kenapa diam?"
Afkar tersadar, sudah berapa lama dia melamun.
" Saya tidak menyalahkan bapak, bapak sebagai orang tua wajar menjaga non Aprill, apalagi non Aprill sekarang masih di dalam pengawasan dan penjagaan bapak satu-satunya, dan maaf, bapak adalah orang tua tunggal tentunya akan lebih memberikan perhatian untuk non Aprill"
" Tapi dia sekarang sering melamun Afkar. Kemarin dia juga sakit, sampai tiga hari tidak bisa bangun. Saya merasa bersalah, apakah saya terlalu keras padanya. Oh iya tadi malam kalian sempat ngobrol, apa yang dia ceritakan Afkar?"
" Iya, tadi malam non Aprill minta saya menemaninya menghapal buku Sobotta di depan kolam, katanya sumpek di dalam kamar"
" Ada dia menceritakan hatinya, seperti curhat begitu?"
" Dia cuma bilang, akan menuruti apapun yang bapak minta"
" Kamu yang menyarankan begitu Afkar?"
Afkar hanya tersenyum. Saya sangat banyak memberikannya nasihat pak, puteri bapak itu keras kepala, dia selalu melawan apa yang saya katakan, dia bahkan menyebut saya pendukung bapak, seorang pemuda yang tidak pernah muda, saya bingung juga maksudnya apa.
Dia memaki saya dan mengatakan harusnya saya ada di pihaknya karena sebaiknya saya pernah jatuh cinta dan tau bagaimana sakitnya harus berpisah, dia tidak tau pak bagaimana sejarah percintaan saya yang sangat berliku ini, dia meremehkan saya dengan mengatakan sesekali seharusnya saya pernah merasakan jatuh cinta agar tau rasanya jatuh dipisahkan.
Tapi saya tidak marah, saya justru bisa tau bagaimana ada di dua sisi, saya ada di sisi dia sebagai yang katanya korban, dan sisi bapak sebagai orang tua yang harus menjaga puteri bapak. Saya tidak menyalahkan keduanya, karena saya juga pernah mengalami ini bersama kekasih saya, walau akhirnya saya yang hancur. Puteri bapak juga mengatakan kalau dia memang harus dipisahkan dengan cara begini, mereka nanti akan disatukan lagi dengan cara lain.
Tapi untuk sementara mereka akan mengalah pak, sampai bapak kembali lemah atau bahkan lengah. Saya bilang jangan, kasian bapak, dia bilang, percayalah semua yang didasari cinta akan baik-baik saja.
Saya bilang yang baik-baik saja itu untuk sebagian orang, sebagian lagi memang harus ada yang terluka, dia meninju bahu saya sampai saya meringis, dia bilang jangan mendoakannya menjadi orang yang terluka. Saya bilang walaupun kita bukan siapa-siapa, dia anak majikan dan saya supirnya, tapi saya selalu akan mendoakan kalian dalam hal-hal baik. Baru setelah itu dia mulai mendengarkan nasihat saya kemudian membuka bukunya. Pembicaraan kami selama satu jam hanya membicarakan perasaan, puteri bapak hanya menghapal selama 5 menit dan berkata sudah mengantuk, entahlah apakah yang lima menit itu sudah masuk ke dalam otaknya.
" Sedikit pak, non Aprill anak baik, penurut, mungkin cara penyampaian bapak nanti bisa sedikit diperhalus. Tapi dia memang menurut pak, dia bilang sangat menyesal karena perbuatannya kemarin"
" Kalau dia nanti mengajak ngobrol, dengarkan dia Afkar, dan beri dia nasihat, sepertinya dia mau mendengarkanmu, mungkin karena kamu dianggapnya teman yang bisa diajak bicara, sedangkan dengan saya, akhir-akhir ini dia seperti ketakutan"
" Baik pak, saya akan menemani ngobrol non Aprill jika dia memerlukan teman"
" Terima kasih Afkar"
Tiiit
Ponsel Pak Wijaya berdering
" Assalamualaikum"
" Iya, kapan?"
" Berapa hari?"
" Hhmm, saya akan mengajak asisten saya dan supir saya, siapkan 3 kamar ya"
" Jangan lupa satu mobil, saya sudah lama tidak jalan-jalan disana"
" Baik, waalaikum salam"
Klik
Pak Wijaya menoleh pada Afkar
" sepertinya waktumu untuk mengobrol dengan Aprill di tunda dulu"
" Kenapa pak?"
" Saya ada meeting keluar kota, saya akan mengajakmu dan Farhan menemani, Farhan akan menemani saya meeting, dan kamu akan menemani saya jalan-jalan, meeting nya dilakukan selama 2 hari, tapi saya minta sehari untuk bisa keliling kota, kamu pasti masih hapal jalan-jalannya"
Afkar menaikan alisnya belum mengerti
" Saya siap pak, tapi maksud bapak jalan-jalan kemana?"
" Lusa kita akan berangkat selama 3 hari ke kota kenanganmu"
" Maksudnya pak?"
Sambil menyetir Afkar berpikir keras, apa maksud pak Wijaya
__ADS_1
" Kita akan ke Yogyakarta"