Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Memulai Perubahan


__ADS_3

Empat sekawan yang sudah lama tidak kumpul bareng sudah duduk manis di salah satu rumah makan Warung Lesehan Yogyakarta. Menu andalannya  adalah olahan Ayam Gorengnya. Walaupun menu hidangan utamanya adalah Ayam Kampung Goreng/Bakar, namun menu lainnya tentunya patut untuk dicoba. Seperti contohnya saja olahan ikan mulai dari ikan gurame, bandeng, mujair, lele dan aneka lalapan lainnya yang digoreng maupun dibakar.


" Gurame bakar 2, bandeng bakar 1 lele bakar 1 sama ayam goreng 2. Minumnya 6 es jeruk"


Si mbak yang mencatat pesanan mengulang pesanan Arga, Arga mengangguk.


" Lalapannya juga tambah 2 ya mba"


Si mbak mengangguk dan berlalu dari tempat duduk lesehan mereka


" Banyak banget lo mesan Ga, muat perut lo?"


" Gue lapar Syl"


Arga mengeluarkan rokok dari tas nya dan mulai menyalakan


" Ga, jangan ngerokok di depan gue"


Arga melirik Sylvia


" Biasanya boleh"


" Hhmm, gue hamiill" Sylvia tersenyum malu-malu


" Whaaaatt???"


Ketiga sahabatnya terbelalak


" Heeh, gue punya suami, parno banget pandangan lo semua" Sylvia tiba-tiba berubah sangar lagi.


Alya memeluk Sylvia


" Selamat ya Syl, gue bakal punya 2 ponakan, anak ka Pandu sama anak lo, duuuhh gue mau dipanggil aunty aja"


" Selamat ya Syl, tokcer juga pa Agus"


Roni senyum-senyum menggoda


Arga mematikan rokok yang baru saja dinyalakannya


" Apa cuma gue yang berasa tua ya dengar lo hamil"


" Emang lo tua"


Alya menimpali omongan Arga.


" Tapi lo engga mual kan Syl, yang gue denger biasanya di trimester pertama ibu hamil muda biasanya mual gitu, terus mood nya suka enggak bagus"


Alya mengamati wajah Sylvia yang segar-segar saja


" dari seminggu yang lalu tiap pagi ada sih mual, pengen muntah gitu, tapi enggak papa, gue makan biskuit aja, habis itu baikan lagi"


Arga terkekeh.


" Baikan? gue jadi ingat Kevin Al, sebentar lo break, sebentar baikan, hahaha"


Alya melirik tapi enggan membalas


Pesanan datang dan masing-masing mulai menyantap hidangan yang sudah ada di depan mereka.


" Ga, lo kaya belum makan satu minggu, nambah terus"


Roni menyikut lengan Arga


" Iya nih, gue pusing dari kemarin-kemarin mengajukan judul skripsi belum ada kemajuan, di tolak terus"


" Sabar, gue juga di tolak, terus gue ajukan lagi, akhirnya tadi disetujui"


Roni memberi semangat pada Arga.


" Gue sudah disetujui,dan ini mau lanjutin bikin pra". Alya dengan gaya congkaknya seperti biasa


" Mulus banget lo Al, gue masih belum jalan nih, minggu depan deh"


Sylvia ikut menanggapi


" Menurut penerawangan gue ya, lo bakal lancar skripsi, wisuda tanpa hambatan, tapi percintaan lo yang kacau, hahaha"


Ejekan Roni mulai menyulut emosi Alya.


" Terawangan dari sedotan Ron?"


Sylvia ikut tertawa.


Alya diam saja tapi jelas dia terlihat marah


" Dari tadi Alya enggak balas, ilmu gampar lo sudah hilang Al? hahaha"


Nyebelin, Roni makin belagu aja


" Gue malas berantem"


Alya berusaha cuek, sedang tangannya pengen menghajar satu-satu cowo di depannya ini.


" Kemajuan, pertahanan kan Al, hahaha"


Alya cuma melempar tisu ke wajah Roni, sialan lo Ron.


Arga melonjorkan kakinya ke depan karena kekenyangan


" Kaya kebo aja lo Ga, kekenyangan begini"


Alya menendang kaki Arga yang mengenai ujung kakinya. Arga memindah posisi kakinya tapi masih dengan sikap yang sama


" Al, akhirnya gimana Afkar sama Kevin, lo belum ada cerita"


Sylvia mengubah posisi duduknya menghadap Alya karena juga penasaran dengan kelanjutan cinta segitiga ini.


Alya menarik napas dan membuangnya


" Gue sudah putus sama ka Afkar"


Ketiga sahabatnya melongo, di luar perkiraan


" Yang bener Al?"


Sylvia memegang pundak Alya


" Gue enggak sanggup Syl, semakin hari ka Afkar semakin terpojok saja, selalu diperbandingkan, gue enggak tega"


" Al, menurut gue lo yang salah, kenapa lo harus berjuang sendiri, kita kan sudah bilang kalau Afkar harus datang dan kalian akan berjuang bersama"

__ADS_1


Roni ikut serius mendengar pernyataan Alya yang mengejutkan


" Benar, gue yang sepenuhnya salah" Terlihat wajah lesu Alya, sudah sangat menyadari apapun adalah kesalahannya.


" Maaf Al, bukan maksud gue begitu"


Roni jadi merasa bersalah, kenapa Alya tiba-tiba perasa begini, biasanya kan dia kalau ngomong enggak pernah mau disalahin apalagi di kalahin


" Karena kalian tidak ada di posisi gue".


Alya menunduk.


" Ka Afkar menerima Al?".Sylvia semakin penasaran


" Iya"


" Iya aja? enggak ada usahanya?"


" Tidak ada yang perlu di usahain lagi Syl, ini sudah yang terbaik walaupun menyakitkan buat kami"


Ketiga sahabatnya hanya memandang Alya dengan turut larut pada kesedihannya.


" Jadi lo akan serius sama Kevin?"


Arga menarik kakinya dan duduk bersila


" Entahlah, gue kan pemain saja, apapun instruksi sutradara gue akan ikuti, walaupun gue bukan pemain yang baik, tapi gue masih ada di cerita mereka"


" Lo mau menerima ini, tapi lo tidak ingin serius begitu Al?"


" Gue akan menjalaninya Ga, semampunya hati gue, kalau nanti hati gue akan jauh lebih terluka, paling-paling kalian akan melihat gue mati perlahan"


Sylvia memukul pelan lengan Alya


" Jangan gila lo, takut gue dengernya"


Alya tersenyum


" Gue akan bertahan untuk waras Syl, masa depan gue panjang, gue enggak mau menghancurkan hidup gue sendiri"


" Mungkin mulai sekarang lo coba mencintai Kevin, lo jangan nyiksa diri sendiri, siapa tau Afkar sebentar lagi sudah dapat pengganti lo"


" Biar berjalan sendiri saja Ron, gue mau fokus ke skripsi gue, soal bisa tidaknya kita liat aja nanti"


" Lo bisa bahagia kalau begini Al?"


" Kata ka Afkar, gue akan berbahagia, bersama dia ataupun tidak"


Arga meneguk isi gelas terakhirnya


" Alya, walaupun kita akan semakin sibuk dengan skripsi kita masing-masing, tapi kita bisa kok masih saling membantu, lo jangan merasa kesepian ya"


Kali ini Alya tertawa


" Jangan sok perhatian begitu Ga, mau ngantar gue ke tempat Bowo aja si Nisha ngambek"


Arga mendesah


" Gue sudah putus sama Nisha"


" Apaaaa?"


Ketiga temannya membelalak, dan kali ini Arga yang jadi pusat perhatian ketiga temannya


Sylvia mengalihkan posisinya ke arah Arga


" Kalian enggak nanya"


" Kami enggak nanya karena kayanya lo tidak ada masalah, terus Ga?"


" Sebulan yang lalu, dia ke Jakarta ke kantor bokap gue, awalnya gue senang banget dia memberi kejutan begitu, di datangin, diperhatiin, tapi di mulai menanyakan perusahaan-perusahaan bokap gue, dari situ gue udah mulai tidak nyaman. Dan yang paling gue tidak suka saat dia meminta agar nanti gue memilih perusahaan yang di Jakarta itu saja, biar kami bisa tinggal disana"


" Apa yang salah Ga?"


Sylvia menatap heran Arga


" Dia enggak tulus sama gue Syl, dia menyukai harta gue".


" Oooh".


" Sempat gue mengujinya, gue bilang tidak akan menerima salah satu perusahan bokap, gue mau usaha sendiri, dia malah cemberut, katanya aneh, dikasih enak nyari yang susah, nah gue semakin meyakini kalau dia tidak baik buat gue"


" Terus lo putusin?"


Arga mengangguk.


" Sebenarnya kalau gue cinta banget sama dia gue bisa kok memakluminya, tapi gue juga separo-separo sayang sama dia, jadi yaaa, enggak begitu berat putusannya"


" Jadi sekarang lo jomblo Ga?"


Roni tertawa, Arga hanya melirik.


Sylvia menatap Roni


" Kalau lo ada cerita apa?"


Roni terdiam sebentar


" Gue sekarang sedang jatuh cinta lagi"


" Apaaaaa?".


Seru banget hari ini ya, masing-masing punya ceritanya, padahal baru 2 bulan loh


" Sama siapa? cewe lo gimana? ikut ajaran sesat Alya nih"


Alya berniat menjitak kepala Sylvia kesal, tapi begitu ingat sahabatnya lagi hamil diurungkannya


" Ajaran sesat gue yang mana?"


" Itu, yang mendua"


Jawab Sylvia asal, Alya cuma mencibir


" Gue bukan mendua, tapi terpaksa, gue juga pengen normal kaya orang lain, terusin Ron"


" Sebulan yang lalu, teman papah gue datang ke showroom, beliin mobil buat anaknya, gue disuruh papah menemani, gue ya sebisanya memuaskan pelanggan, diajakin muter-muter, gue jelasin kelebihan-kelebihan per jenis mobil, gue cerita juga mana yang enak buat anak cewe, bahan bakarnya, bensin yang irit sama yang boros, warna kesukaan dia, apakah dia mau yang enak dipakai sehari-hari, atau mau yang mewah dan pastinya tidak irit, atau mobil sport yang mesti lah perawatan dan service nya akan beda"


Alya langsung memotong


" Sebentar Ron, kaya enggak adil banget, waktu gue sama ka Kevin ke tempat lo buat nyari mobil sikap lo enggak begitu, malah maki-maki gue, berantem dan kita ribut, pelayanan macam apa itu?"

__ADS_1


" Itu kan beda Al, gue malah pengen lo batalin beli mobil di tempat gue, soalnya gue beneran enggak tega sama Afkar"


" Sudah jangan berantem lagi, terusin Ron".


Sylvia menengahi


" Kemudian kami kenalan, namanya Carissa, dia baru berumur 17 tahun, katanya itu adalah hadiah ulang tahun nya. Dan hari itu dia belum bisa mengambil keputusan, jadi lah kami tuker-tukeran no ponsel, besoknya dia nelf gue dan mau datang ke showroom, ya gue bantuin lagi, dan terjadilah kesepakatan, dia ambil mobil buat harian. Gue pikir setelah itu selesai, gue juga mulai ngelupain, tapi besoknya dia mulai chat gue, nanyain lagi ngapain, sudah makan atau belum, selamat pagi selamat malam, gue kan akhirnya jadi kepikiran juga"


" Lo balas?"


" Gu balas Al, kan dia nanya"


" Terus lo suka sama dia?"


" Hmm, gimana ya, gue kaya merasa jatuh cinta lagi, semangat lagi"


" Jangan diterusin deh Ron, kasian cewe lo di hianatin" Sylvia memberi tanggapan


" Gue kan cuma bilang jatuh cinta, bukan mendua, boleh aja kan?


Bener juga kata Roni, siapa aja berhak untuk jatuh cinta, tidak ada larangan, mereka terdiam.


Acara makan siang berakhir dengan cerita masing-masing. Setelahnya mereka akan kembali menghadapi perjuangan skripsi, ini adalah jembatan untuk mereka menghadapi masa depan yang lebih baik, mulai melepaskan kegiatan-kegiatan remeh lain, konsentrasi agar bisa cepat lulus dan wisuda.


Dua bulan kemudian


Setumpuk buku dan kertas-kertas hasil ketikan yang salah berantakan di depan Alya dengan laptop terbuka. Matanya begitu lelah karena sudah hampir 3 jam di depan laptop. Tidak terasa, benar-benar menguras waktu dan pikiran.


Judika,,


" Assalamualaikum ka"


" Waalaikum salam, sedang apa sayang?"


" Memperbaiki laporan ka"


" Ini kan malam sabtu, istirahat saja dulu"


" Tidak apa-apa, biar senin bisa lanjut konsultasi".


" Bagaimana kalau makan malam dulu?"


" Iya, sebentar lagi deh"


" Aku temani"


" Kaka di mana?"


" Di depan pintu"


" Hah? beneran?"


" Iya, bukain pintunya dong, hehehe"


" Sebentar Alya turun"


Klik.


Alya menuruni tangga dan membuka punya, sebuah senyum manis menyambutnya dengan bahagia, Alya membalas senyuman itu


" Kapan datang? kenapa enggak kasih kabar?"


" Barusan langsung dari bandara, sudah 2 minggu tidak ketemu, kangen banget, hehehe"


Alya mengajak Kevin duduk di teras


" Belum makan kan sayang? kita makan dulu yu"


Alya mengangguk


" Sebentar Alya ganti baju dulu ya"


" Iya, aku tunggu disini"


Alya kembali ke kamarnya, mematikan laptop dan mengganti pakaian rumahnya dengan pakaian yang lebih sopan. Mengambil satu dress selutut yang tidak terlalu formal, masih terkesan santai tapi terlihat anggun, memakai sedikit riasan pada mata dan pipinya. Tidak lupa lipstik tipis ke bibir agar tidak terlalu pucat. Menyisir sedikit rambutnya dan menyemprotkan parfum yang dibelikan Kevin 2 minggu yang lalu. Mengambil tas clutch dan memasukan ponsel ke dalamnya, meraih kunci mobil di atas meja kecil dan menatap sebentar diri di cermin, sudah merasa cukup segaran, Alya segera turun untuk menemui Kevin


" Cantik sekali"


Kevin memandang kekasihnya dengan tersenyum, Alya hanya mengibaskan tangannya


" Katanya mau makan, yu"


Alya menyerahkan kunci mobil pada Kevin dan mereka berdua menuju mobil putih Alya, hhmm tepatnya mobil yang dibelikan Kevin untuk Alya dan mobil ini akan mereka pergunakan setiap Kevin datang menemuinya. Mobil mulai melaju pelan menyusur jalanan


" Bagaimana laporan nya sayang?"


" Perbaikan terus ka, tapi sudah jauh lebih baik, sudah masuk ke bab tiga".


" Kalau ada masalah kabari aku ya sayang".


" Tidak ada ka, Alya menikmati sekali perjalanan skripsi ini".


" Bagus lah, biar ilmu dapat, pengalaman dapat, dan nanti akan bermanfaat".


" Iya ka. Oh iya ka, istri ka Pandu baru saja melahirkan kemarin, Alya belum sempat jenguk"


" Kalau begitu besok kita berdua kesana bagaimana?"


" Kaka tidak sibuk?"


" Sesibuk apapun kalau yang minta kamu pasti aku lakuin, lagian kalau aku ke Yogya, semua kesibukanku kutinggal di Bandung, di sini khusus untuk menemani dan membahagiakanmu"


" Hehehe, mulai lagi deh"


" Biar romantis kaya orang-orang juga"


Alya hanya tersenyum memandang Kevin yang juga sesekali meliriknya. Kevin meraih tangan kanan Alya dan menggenggamnya


" Terima kasih sayang"


" Untuk apa?"


" Sudah memilihku dan sudah mau belajar menerimaku menjadi kekasihmu"


" Sama-sama ka"


Sebuah perasaan sakit kembali menusuk di satu sudut hati Alya, uuhh, perihnya belum juga hilang.


Mobil berhenti di sebuah restoran mewah. Kesan pertama tempat ini menyajikan nuansa dinner romantis, menu yang ditawarkan kebanyak menu dari luar, tapi ada juga makanan khas lokal seperti serundeng dan sate ayam masuk dalam daftar menu. Bahkan ada menu khusus untuk vegetarian dan anak-anak, lokasinya juga friedly child.


Tempat makan ini lebih mengambil nuansa alam di jogja yang mewah, cocok untuk candle light dinner. Kevin memang selalu bagus untuk urusan selera dan tampilan.

__ADS_1


Dan hal ini semakin terlihat saja sejak Alya menceritakan padanya kalau hubungannya dengan Afkar sudah berakhir, Kevin merasa bahwa Alya adalah miliknya, bukan lagi Alya yang dulu masih sebagai ilusinya. Semua kebutuhan Alya total dipenuhi dengan maksimal, urusan penampilan menjadi sasaran utama, Alya seperti diwajibkan jika bersamanya melepaskan atribut gaya konyolnya, tidak ada celana jeans belel apalagi tambal-tambalan, tidak ada baju kaos ngepres di tubuh. Tidak ada gelang kaki berisik yang entah di dapat dari pasar kaki lima mana, tidak ada sandal jepit kumuh dan warnanya sudah tidak bisa di indentifikasi dengan mata normal biasa. Lusinan dress anggun yang tidak terlalu mewah sudah tersusun di lemari Alya, hanya ada beberapa jeans untuk kuliahnya, begitupun kemeja Alya yang terkadang dibelinya di pasar ataupun toko kecil yang menurutnya nyaman di mata sudah berganti dengan merk-merk ternama dan brand dunia. Alas kaki tidak luput dari pergantian, sepatu kets warna warni atau putih yang berjejer di tempat rak sepatu depan kostnya, sekarang sudah masuk ke bawah tangga karena harga fantastis yang dibeli Kevin untuknya meminta untuk ditempatkan yang lebih istimewa.


Dan untuk sikap, Kevin tidak perlu bersusah diri untuk mengubahnya, Alya dengan kesadaran penuh mulai bisa mengurangi kejahilannya, lelucon dan gaya konyolnya, Kevin sudah tidak pernah lagi mendapatkan pukulan, tendangan, atau cubitan dari Alya, sempat beberapa kali Kevin memicu kekesalan Alya agar bisa mendapatkan kembali cubitan kecil, tapi Alya tidak memperdulikannya, dia bersikap lebih dingin dan tidak gampang tersulut emosi lagi. Bibirnya tidak banyak mengeluarkan umpatan dan omelan, jika kesal Alya hanya menghembuskan napas panjang dan langsung memalingkan wajahnya.


__ADS_2