Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Pamit


__ADS_3

Handphone Afkar bergetar dari saku celananya, Afkar berjalan ke sudut mall, saat ini ia sedang shift pagi dan masih jam kerja, menarik handphone dari saku celananya. Om Andi


" Assalamualaikum"


" Waalaikum salam, lagi dimana Afkar"


" Masih di tempat kerja om"


" Afkar, ada berita baik, kamu di terima sebagai honor di kantor om"


" Alhamdulillah, kapan Afkar bisa masuk kerja om?"


" 3 hari lagi kan akhir bulan, selesaikan dulu tugasmu, setelah gaji kamu terima segera urus surat pengunduran diri, dan awal bulan sudah bisa kerja di tempat om, oh iya, soal tiket penerbangan dan lainnya biar om yang urus, kamu bawa perlengkapan diri saja dan soal tempat tinggal, kamu boleh tinggal di rumah om, atau bisa menempati rumah khusus karyawan, dan om sudah liat SK nya tadi, gaji di 6 bulan pertama 3x gaji kamu sebagai OB perbulan, dan kalau kerjamu bagus, nanti diusulkan untuk jadi karyawan tetap dan gajinya sampai 6x gaji kamu sekarang, om juga sudah bicara sama teman om dosen di fakultas xxx, kamu bisa nerusin kuliah di hari sabtu minggu supaya kerjaan kamu tidak terganggu, om percaya Afkar, kamu orangnya rajin,ulet dan jujur"


" Terima kasih om, Afkar sangat bahagia"


" Baiklah, nanti hubungi om kapan kamu siap, biar om urus keberangkatannya, Assalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Afkar memandang layar handphone nya, akhirnya keinginanku terujud, bisa kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak.


Afkar kembali mengambil gagang pel nya dan meneruskan pekerjaannya dengan semangat.


Tidak lama Afkar kembali meraih handphone nya dan memencet panggilan


Tiiiiit, nada tunggu


" Assalamualaikum ka Afkar"


" Waalaikum salam, kamu sibuk?"


" Mau masuk kelas ka, kenapa?"


" Nanti malam aku mau mampir, boleh?"


" Boleh, Alya tunggu ya ka".


" Iya, assalamualaikum"


" Waalaikum salam".


Kali ini Afkar termenung, tangan yang tadi semangat berubah lunglai, Alyaaaa.


Sebungkus martabak manis sudah berpindah dari bungkusan ke piring.


" Makan Al"


" Iya, makasih ya ka"


Afkar mengangguk, memandang Alya yang melahap sepotong martabaknya dengan lahap dan sesekali menyapu sudut bibirnya yang kena ceres cokelat.


" Kaka enggak makan?"


Alya menjulurkan piring ke arah Afkar


" Aku kok kenyang liat kamu Al?"


" Kalau gitu saat kaka lagi qa punya duit bisa panggilin Alya, liatin Alya makan kan bisa kenyang"


" Harusnya bukan begitu Al, kita makan sama-sama"

__ADS_1


" Oh iya ya, kok Alya qa nyampe pikirannya kesana"


" Al, kita jalan yu"


" Mau kemana ka?"


" Ke depan komplek ini aja, kan ada taman tuh, kita jalan kaki ada yang mau aku omongin"


Alya mengangguk


" Alya ambil jaket dulu ya"


Alya naik ke atas, tidak sampai semenit Alya sudah berlari menuruni tangga


Mereka melangkahkan kaki ke taman depan komplek, hanya berjarak 300 m mereka sudah sampai. Tidak banyak pengunjung, terlihat beberapa pemuda sedang berlari mengitari taman buat berolah raga, ada 2 pasang muda-mudi yang sedang menikmati jagung bakar, dan ada beberapa anak kecil laki-laki yang sedang bercengkrama di ayunan dan masih memakai sarung dan peci, ini kan baru habis Isya, mereka pulang dari surau dan langsung belajar mengaji, sebelum pulang mereka bermain-main dulu di sini.


" Ada bangku Al, kita duduk disitu yu"


Berdua melangkah ke arah bangku yang ditunjuk Afkar


" Al, aku mau ngomong"


Alya deg-degan lagi apa mau nyatain cinta yaaaa


" Aku mau pamit Al"


Afkar menatap mata Alya yang kebingungan


" Aku di terima kerja di Surabaya, tempat om ku kerja"


" Kaka ko qa bilang melamar kerja di Surabaya?"


Alya mengangguk


" Satu minggu aku tidak ada ke kost kamu, aku pergi ke Surabaya buat tes Al, dan baru sekarang pengumumannya"


Alya terdiam, rasanya ingin teriak jangan pergi, tapi apa hak nya, aku bukan siapa-siapa, Ka Afkar bukan kekasihku, walaupun sungguh aku menunggu dan mengharapkannya.


" Kapan kaka berangkat?"


" Lusa Al"


Alya meremas jemarinya, kali ini Alya tidak bisa lagi menerjemahkan perasaannya seperti saat ia jatuh cinta kemarin. Lelaki di hadapannya ini kenapa terlalu mudah mempermainkan emosiku, sebentar aku gemetar, sebentar aku bahagia, dan kali ini aku bersedih, aku bersediiiihh.


" Ka Afkar enggak balik kesini lagi?"


" Aku belum tau Al".


Hening,,, entah di menit keberapa Afkar memecah kesunyian


"Alya,,,"


" Iya ka"


" Kita masih bisa terus saling komunikasi kan?"


Alya diam


" Alya,,," Afkar mendekatkan wajahnya untuk melihat apakah Alya baik-baik saja


Alya memalingkan wajahnya

__ADS_1


" Alya, kalau tidak boleh tidak apa-apa" Afkar menjauhkan wajahnya dan kembali ke posisi awal menatap ke depan


" Ka Afkar, itu tadi pertanyaan bodoh"


Afkar kaget


" Alya,,,"


Kali ini Alya yang memandang Afkar


" Sekali lagi Alya dengar itu dari kaka, kaka enggak usah nemuin atau menghubungi Alya lagi" Alya berdiri dan berjalan cepat menuju pulang, Afkar langsung berlari mengejarnya, di raihnya tangan kecil Alya, membuat Alya menghentikan langkah cepatnya.


" Alya, kamu tidak menjawab pertanyaanku malah menyebut itu bodoh, apa maksud kamu?"


" Apa maksud Alya? tanya kaka sendiri, apa maksud pertanyaan kaka?".


Afkar menatap lekat wajah sedih Alya di bawah purnama


" Kamu mau nya aku bagaimana Al?"


Alya tertunduk, tidak berani menatap mata Afkar


" Kaka memang lebih baik pergi, Alya baik-baik saja, kita pulang ka"


Afkar menatap langit kamarnya, Alya bahkan tidak memberikannya waktu untuk mengobrol sedikit saja, Alya langsung naik ke atas sesaat setelah mereka sampai di kost dengan alasan sudah mengantuk. Di raihnya handphone nya, sudah jam 11 malam, apakah Alya sudah tidur?


Memandang layar dan berkali- kali mengetik huruf demi huruf untuk dikirim kepada Alya, akhirnya di hapus, mengetik lagi, di hapus lagi.


" Alya,,, sudah tidur??"


Akhirnya dari panjangnya kalimat yang sudah di buat, hanya kata ini yang terkirim.


Ceklis 2 biru, Afkar terus menanti jawaban.


Satu jam, dua jam, sampai akhirnya Afkar tertidur dengan handphone dalam genggaman. Terjaga di jam 3, melihat layar handphone masih tidak ada jawaban. Akhirnya Afkar mengambil air wudhu dan shalat tahajud.


Di bagian yang lain, Alya meneteskan air matanya. Aku baru saja menghentikan pencarian, ketika kutemukan dirimu malah kau patahkan. Aku yang mengokohkan kaki untuk kita bisa berjalan dengan waktu bersamaan kenapa kau lumpuhkan, aku yang bernaung di teduh matamu tapi kau butakan. Dan bunga ini, kamu semai setelah berbunga kamu petik dan lemparkan.


Aku tau yang jatuh hati itu aku, bukan kamu


Aku sadar yang mencuri perhatian itu aku, bukan kamu, yang terkadang memahaminya tapi berpura-pura tidak tau


Aku sudah cukup bahagia mengetahui aku jatuh cinta padamu, walau kamu tetap saja berlaku tidak tau


Aku yang mendoakan agar ini akan terus baik dipertemukan atau tidak nantinya.


Enak saja kamu pamit


Tidak bisa kah sebentar membereskan perasaanku yang sudah kacau balau?


Dengarkan hai seseorang


Aku dan cintaku yang diam-diam


Tanpa berani melangkah pergi tidak jua bersiap untuk mendekati


Bertahan untuk menunggu kamu ungkapkan


kamu malah menyapa dengan kata pamit.


Alya tertidur tanpa berani membalas chat Afkar, aku tidak sekokoh itu untuk bisa bicara sekarang, biarkan semesta memberiku kekuatan, entah besok, atau tidak sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2