
Jalan Ahmad Yani adalah jalan utama yang ada di Banjarmasin. Di mulai dari Kilometer 0 yang berada di Siring Sungai Martapura tepatnya di depan Kantor Gubenur dan terdapat tugu titik 0 Km kota Banjarmasin. Mobil sedan Afkar perlahan berjalan menyusuri jalan Ahmad Yani, dan sekarang sudah berada di kilometer 14 tepatnya di Kecamatan Gambut Kabupaten Martapura. Satu penumpang memesan jasanya untuk di antar ke Banjarbaru Kilometer 35. Seorang pria muda, tidak jauh dari usianya. Pemuda itu duduk di samping Afkar dan menyapanya. Mobil berjalan perlahan berbaur dengan kepadatan lalu lintas pada jam sibuk tepat di pukul empat siang.
" Sudah lawas kah menggrab"
( Sudah lama ya kerja sebagai supir grab?"
Afkar yang sudah enam bulan tinggal di Banjarmasin sudah mulai menguasai banyak kosakata, mengerti walaupun masih susah mengucapkannya apalagi dengan dialeg khas Banjar.
" Sudah enam bulan mas"
" Rami aja lah menggrab ne? motor sorang kah ne?"
( Pendapatan menggrab ini cukup saja ya? ini mobil sendiri ya?).
" Alhamdulillah, setiap hari ada saja rezekinya, ini mobil sewaan mas"
Penumpang merasa Afkar memang belum bisa mengucapkan bahasa Banjar kembali bertanya
" Maaf, bukan orang Banjar kah?"
" Iya, saya orang Jakarta, pindah ke Banjarmasin"
" Ooh, maaf lah tadi pakai bahasa Banjar"
" Tidak apa, saya mengerti, tapi belum bisa bicara bahasa Banjar"
" Gimana Banjarmasin?"
" Bagus, saya suka tempatnya, suka suasananya, suka masyarakatnya yang ramah"
" Iya, apalagi ceweknya kan? hahaha"
" Iya bujur banar, biniannya bungas-bungas, hehehe"
( Iya benar sekali, ceweknya cantik-cantik)
Mendengar Afkar menjawabnya dengan bahasa Banjar pemuda itu tertawa
" Giliran beucap bungas ikam mangarti, hahaha"
( Giliran bicara cantik, kamu bisa)
" Hehehe"
" Oh ya, kenalkan aku Randi, ngaran ikam siapa?"
( kenalkan aku Randi, nama kamu siapa?)
" Aku Afkar"
" Ooh Afkar"
Karena penumpangnya sangat ramah, pembicaraan pun kemana-mana dan sangat menyenangkan untuk Afkar
" Ngomong-ngomong kamu dari mana mau kemana?"
" Aku tadi dari rumah keluargaku, ini mau pulang ke kostku di Banjarbaru"
" Ooh, kuliah?"
" Iya, aku kuliah di Universitas Lambung Mangkurat Fakultas Tehnik"
Afkar kembali teringat kampusnya, sudah satu semester terlewat, bagaimana aku bisa kembali kuliah?
" Ikam sambil kuliah jua kah?"
(Kamu sambil kuliah juga ya?)
" Sebelum ke Banjarmasin aku bekerja, tapi bisa sambil kuliah dan di atur jadwalnya, tapi sejak pindah ke sini aku kemarin terminal, dan belum menyambung"
" Ooh, kalau mau bisa saja nanti di sambung di sini"
Afkar melirik penumpang di sebelahnya
" Bisa?"
" Iya, ada juga temanku di kost, tapi beda fakultas sih, pindahan dari Kalimantan Tengah"
Afkar mengangguk
" Eehm, Randi boleh aku simpan nomor handphonemu? aku ingin bertanya lebih banyak tentang perpindahan itu"
" Oh boleh, simpan saja nomorku yang tadi, atau kamu boleh nanti mampir ke kost ku untuk tanya langsung dengan temanku yang pindahan itu"
Afkat tiba-tiba menjadi bersemangat lagi mendengar penawaran teman barunya.
" Iya, kalau nanti aku ingin bertanya banyak aku akan mampir"
Selama 20 menit perjalanan mereka sampai di sebuah tempat kost khusus anak laki-laki, tidak jauh dari Bundaran Simpang Empat Banjarbaru dan dekat dengan Universitas Lambung Mangkurat Fakultas Kedokteran, Fakultas Perikanan, Fakultas Pertanian, Fakultas Kehutanan, Fakultas Kedokteran dan Fakultas Tekhnik.
" Ini kost ku Afkar, nanti hubungi aku kalau mau main kesini, siapa tau aku lagi kuliah kan kasian kamu nunggu"
" Iya Randi, terima kasih informasinya ya"
" Oh iya, masih ada dua kamar kosong, kemarin baru saja penghuninya keluar karena sudah wisuda, barangkali saja nanti kamu berniat melanjutkan kuliah, bisa kok tinggal disini"
" Ooh, iya nanti ku kabari kalau aku sudah mantap untuk kembali kuliah, terima kasih ya Randi"
" Sama-sama Afkar, semoga banyak penumpang ya"
" Aamiin"
Randi menutup pintu mobil, Afkar kembali menjalankan mobilnya, sudah hampir jam 5 sore, aku sudah lelah, aku pulang saja dulu, nanti sehabis magrib baru jalan lagi.
Sesampai di tempat kost, Afkar segera mandi dan berbaring sebentar menunggu adzan magrib. Tangannya meraih satu foto di atas meja. Memandangi dan sesekali menciumnya. Bagaimana lagi caraku untuk melupakanmu Alya? kalau kamu tau caranya, katakan padaku. Bagaimana skripsimu? lancar? apakah dia membahagiakanmu? apakah kamu sudah bisa mencintainya? harus dengan apalagi aku untuk tidak menggilaimu lagi?
Sebentar dengan percakapan nya sendiri, terdengar suara adzan magrib, Afkar bangun dan ke dapur untuk mengambil air wudhu. Tepat jam 7 malam Afkar sudah siap dengan persiapannya kembali bekerja.
Tok tok tok
" Assalamualaikum"
__ADS_1
" Waalaikum salam"
Afkar membuka pintu dan senyum Cindi menyambutnya dengan manis
" Mau lanjut bekerja Afkar?"
" Iya"
" Tidak lelah sudah seharian bekerja? lebih baik istirahat"
Afkar menghela napas, selalu begitu, Cindi suka sekali mengatur jam ku.
" Aku perlu bekerja untuk masa depanku"
" Aku tau, tapi bisa tidak kamu menyisihkan waktu untuk kita? kita sudah jarang bersama"
Afkar kembali menahan emosinya.
" Kamu sedang skripsi, jangan membuang waktu untuk selalu jalan-jalan, kasian orang tuamu menunggu sampai kamu wisuda, sementara kamu banyak main"
" Aku tidak main, aku hanya ingin sesekali bersama pacarku untuk bisa menghabiskan malam minggu berdua, atau sekedar makan malam berdua, itu wajar kan Afkar?"
Suara Cindi mulai meninggi.
" Jangan berbicara keras dan tinggi di depanku, aku tidak suka wanita seperti itu"
Cindi menunduk merasa bersalah
"Maafkan aku Afkar"
" Sudahlah, aku ingin bekerja, aku tidak ingin memulai pekerjaan dengan pikiran tidak enak seperti ini"
Cindi memegang lengan Afkar
" Baiklah, aku minta maaf, ini aku beli martabak manis, kamu makan dulu"
Afkar menurunkan emosinya sesaat dan melihat bungkusan yang di bawa Cindi, dia ingat pesan ibunya, jika ingin berangkat kemanapun, lalu ada yang menawarkan makanan, jangan di tinggal, makanlah dulu walau segigit saja. Afkar mengangguk
" Kita makan di depan saja, kita juga tidak sanggup menghabiskan ini berdua, kita makan sama anak-anak lain, sebentar lagi mereka akan bermain badminton"
" Iya, aku ambilkan piring dulu ya"
" Aku tunggu di depan"
Afkar berjalan ke teras, sedangkan Cindi menuju kamar belakang Afkar untuk mengambilkan piring dan tempat cuci tangan. Tak sengaja matanya melihat kamar Afkar yang terbuka, merasa penasaran, kakinya masuk ke dalam dan.
Masih saja dengan pemandangan dulu, jejeran foto gadis manis itu di dinding dan di atas meja dekat tempat tidurnya. Afkar belum menurunkannya, bukankah dulu dia janji akan menurunkan foto-foto itu.
Tangannya gemetar menahan marah, apa artinya aku Afkar.
Cindi mampu mengontrol emosinya, berjalan ke depan dan mendapati Afkar sedang berbincang dengan Joy. Melihat Cindi keluar dengan membawa piring yang berisi martabak manis Joy langsung menegur
" Naah, ada terang bulan, pas banar ne"
(Ada martabak manis, cocok banget ini)
Afkar menepuk pundak Joy
(Kita makan sama-sama, Fani Sandi ayo sini ada martabak manis)
Cindi meletakan piring dan tempat cuci tangan di atas meja kecil, mereka yang dipanggil Afkar langsung mendekat dan menikmati martabak manis, Cindi mencomot satu, Afkar tertawa melihat kelakuan teman-temannya, diapun mencomot satu bagian. Selesai dengan sekejap, ini adalah keahlian khusus anak-anak kost yang tidak dimiiki anak rumahan.
Afkar menatap Cindi begitu teman-temannya kembali bermain badminton
" Cindi, aku berangkat dulu"
" Sebentar Afkar, aku ingin bicara"
" Ada apa?"
Afkar, kenapa kamu sekarang berubah? bukan Afkar yang lembut dan kalem seperti yang aku temukan dulu, senyuman mematikanmu itu kadang berubah menjadi senyuman yang benar-benar mematikan dan membuatku takut.
" Kita bicara di dalam"
Cindi masuk ke dalam diikuti Afkar yang bingung
" Afkar, apa itu?"
Cindi menunjuk foto yang tergantung di dinding
" Katamu akan segera menurunkannya, tapi apa? satupun tidak ada yang bergerak dari tempatnya"
Afkar ikut menatap dinding kamarnya
" Jangan selalu mencampuri hidupku Cindi"
" Aku ini kekasihmu Afkar, sudah menjadi hakku untuk menuntut hanya aku yang kamu pikirkan, dan menjadi tanggung jawabmu untuk membuatku merasa aku adalah satu-satunya perempuan yang kamu cintai"
Afkar terdiam, kali ini dia benar-benar tidak bisa menahan emosi
" Sudah kubilang aku tidak suka wanita yang bicara keras dan nada tinggi di depanku"
" Aku tidak peduli, kenapa aku harus menuruti permintaanmu, sedang permintaan ku selama tiga bulan yang lalu belum juga kamu turuti. Kamu masih mencintainya? lalu kenapa kamu bilang juga menyukaiku? membuat aku berharap dan membangun impian-impian lebih dalam bersamamu. Sementara kamu masih saja dengan leluasanya memandangi mantan kekasihmu itu setiap malam dan sebelum tidur, kamu tempatkan fotonya di samping tempat tidurmu agar kamu bisa memeluknya sebelum tidurmu?. Di setiap kamu membuka mata pagi hari, dia yang pertama kamu liat, dan setiap akan tidur malam, dia yang terakhir kamu liat. Seluruh pikiranmu miliknya, aku ini bagaimana? apakah aku tidak berarti apapun bagimu?"
Cindi bicara keras dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Aku melihatmu ingin menangis Cindi, ahh,,, aku ingat sepasang mata yang sering menangis di depanku, dengan kata-kata yang membuatku bertekuk lutut pada hatinya, kemudian aku akan memeluk dan mengusap setiap air mata yang jatuh pada mata itu dengan jariku sendiri, aku akan menenangkannya dan memberikan percaya bahwa semua akan baik-baik saja. Kemudian mata itu akan berhenti menangis dan tersenyum kembali. Tapi sekarang melihat air mata itu akan jatuh bukan pada sepasang mata yang aku rindukan, aku menjadi marah, katamu ini kesalahanku?
" Kamu mau apa Cindi?"
" Perbaiki hubungan kita, di mulai dengan kamu menurunkan foto-foto itu, entah kamu simpan dimana saja sampai aku tidak pernah melihat lagi"
Afkar menatap Cindi dengan tajam.
" Baik, aku akan menurunkannya dan membuat matamu tidak pernah akan bisa melihatnya lagi"
" Sekarang!"
" Aku akan bekerja dulu, percayalah, sepulang bekerja aku segera akan menurunkannya, kamu bisa melihat dinding ini akan kosong besok pagi"
Cindi menghapus air matanya yang sudah jatuh
" Ini janji keduamu, kita liat besok pagi"
__ADS_1
Cindi berjalan menuju pintu dan langsung pulang tanpa mengucapkan salam, pergi dengan rasa kecewa.
Afkar menutup pintu kamar tidur, mengambil topi yang tergantung di dekat pintu dan mengambil kunci mobil. Menyapa teman-teman yang sedang bermain badminton di halaman dan kembali bekerja
Tiit,,
" Hallo"
" Maaf ini Randi?"
" Iya"
" Aku Afkar, boleh tanya, kamar yang kosong tadi masih belum ada yang mengisi kan?"
" Belum, masih kosong"
" Aku ingin menyewa nya, bayarnya bagaimana?"
" Tidak ingin melihat isinya dulu?'
" Tidak usah, sepertinya aku sudah menyukainya"
" Ooh bayarnya setiap 3 bulan sekali dengan sewa 500 ribu perbulan"
" Baik, besok pagi aku kesana, pemilik kost nya ada?"
" Ada, rumah ibu kost nya bersebelahan dengan kost, kalau kamu serius besok aku tunggu, kebetulan besok aku masuk siang, pagi bisa menemanimu menemui beliau"
" Baik, terima kasih Randi"
" Sama-sama Afkar"
Klik.
Afkar kembali konsentrasi bekerja, ada dua penumpang untuk malam ini, cukup sudah di jam 10 malam, aku harus membereskan peralatan ku untuk segera pindah besok pagi
Afkar menurunkan semua foto di dinding dan memasukannya ke dalam koper. Pakaian-pakaian yang tersusun rapi di lemari juga mulai dimasukan ke dalam koper, satu baju kaos milik Alya, dicium nya baju itu dengan tersenyum, terbayang lagi kejadian di hotel, Alya,,,kamu mendatangiku ke hotel untuk kejutan dan aku benar-benar terkejut untuk ulahmu saat itu.
Beres dengan pakaian Afkar beralih ke kamar sebelahnya, peralatan dapur yang seadanya dimasukan ke dalam kotak besar dan disusun rapi agar tidak berantakan, selesai. Yang tidak bisa di susun hanya kompor gas, gas elpiji, dispenser dan magic jar. Bisa lah untuk satu kali diangkut, tidak banyak punya benda, mudah saja untuk berpindah.
Setelah shalat subuh Afkar duduk di teras, sengaja menunggu Cindy sebelum pamit pada teman-teman dan ibu kostnya
Benar saja, tak lama Cindi datang untuk membuktikan apakah janji Afkar benar.
" Kenapa duduk di sini?"
Afkar tersenyum
" Sedang menunggumu"
Cindi berusaha menutupi salah tingkahnya, kali ini senyummu membuatku tenang Afkar.
" Bagaimana? sudah kamu turunkan?"
" Semua sudah beres, sangat kosong, silakan masuk"
Afkar membuka pintu dengan lebar, Cindi sangat terkejut melihat di ruangan utama ada dua koper, ada 3 kotak besar, magic jar, kompor gas dan dispenser. Cindi memasuki kamar Afkar, kosong, bahkan tempat tidurpun tanpa kasur tanpa bantal tanpa guling.
" Sesuai permintaanmu untuk mengosongkan dinding, aku merasa tanggung saja jika hanya dinding yang kosong, sekalian saja semuanya ku kosongkan"
Cindi menatap tajam dan emosi yang meluap-luap
" Afkar apa artinya ini?"
" Kamu kan yang menginginkan ini?"
" Aku hanya memintamu menurunkan foto mantan kekasihmu itu saja"
" Kamu meminta hal paling berat dalam hidupku, permintaanmu itu sama dengan memintaku untuk pergi dari hidupmu"
Cindi menangis dengan kemarahannya
" Kamu jahat Afkar"
" Aku hanya menuruti permintanmu, dan sekarang aku ingin pamit"
" Lalu hubungan kita bagaimana?"
" Carilah seseorang yang lebih baik dariku, yang bisa banyak menemanimu, yang jauh lebih terhormat dariku, dan yang tidak mempunyai masa lalu sepertiku"
" Afkaaar, kamu tidak bisa meninggalkanku seperti ini, apa salahku?"
" Bukan salahmu, tapi salahku, maafkan aku"
Cindi memegang erat tangan Afkar dengan keras.
" Siapa wanita itu? kenapa dia bisa membuatmu menyakitiku begini? aku ingin bertemu dengannya"
" Tidak usah mencarinya, karena jika kamu menemukannya, akan lebih menyakitkan"
Cindi melepas tangan Afkar dengan kasar
" Dia harus bertanggung jawab untuk sakit hatiku ini"
" Kenapa dia? aku yang salah"
" Dia yang membuatmu begini, dia yang membuat kekasihku tidak bisa mencintaiku, dia yang membuat kekasihku memperlakukan dan menyakiti aku begini. Apa yang sudah dia berikan padamu? dia menyerahkan tubuhnya untukmu sehingga kamu tidak bisa melupakannya?"
Afkar menarik tangan Cindi yang tadi sudah melepaskannya. Benar-benar tidak bisa di maafkan ucapanmu Cindi.
" Dia wanita terhormat, jangan pernah menghinanya di depan bahkan di belakangku. Aku tidak pernah mengancam siapapun, apalagi wanita, tapi kali ini kupastikan jika aku mendengar lagi itu dari mulutmu, kamu kan merasakan hal yang lebih sakit"
Plaaak.
Satu tamparan keras mendarat di wajah Afkar
" Brengsek kamu Afkar, demi dia yang entah sudah menyakitimu bagaimana, kamu malah menyakitiku yang sedang berusaha membahagiakanmu, cepat pergi dan jangan pernah menunjukan wajahmu itu lagi di depanku"
Cindi berlari masuk ke dalam rumahnya, sementara Afkar mengusap wajahnya yang baru saja terkena tamparan Cindi.
" Maafkan aku Cindi, bukan salahmu, tapi salahku"
__ADS_1
Afkar berpamitan dengan teman-teman satu kostnya dan orang tua Cindi sebagai pemilik kost yang ia tempati selama 6 bulan terakhir. Pertanyaannya teman-teman dan orang tua Cindi hanya di jawab Afkar kalau ia akan meneruskan kuliah di Banjarbaru dan berpindah kost agar tidak jauh dengan kampus nya.