Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
JALAN-JALAN


__ADS_3

Suasana siang itu tidak terlalu terik, dibawahnya ada sepasang manusia sedang berboncengan dengan sebuah motor, entah apakah bahagia mereka sama, yang pasti Alya merasakan hatinya sangat nyaman. Begitu ingin kulingkarkan tanganku di pinggangmu, agar memastikan ini bukan mimpi, tapi aku takut jatuhku tidak tepat di hatimu, betapa ingin kusandarkan kepala ini di pundakmu agar aku merasa terlindungi, tapi aku takut terlihat salah betapa ingin ku bisikan kalau ini memang sejatuhnya hati. Betapa ingin ini bukan hanya ini saja,,,!!!


Menatap punggung Afkar, tubuhnya yang jangkung dan kurus, mungkin kurang olahraga atau kurang vitamin, hehe.


Tiba di parkiran sebuah tempat hiburan dan kuliner, di bagian kirinya terpampang tepian sepanjang mata memandang, sedangkan sebelah kanan berjejer puluhan tempat makan yang menyajikan berbagai masakan.


" Sudah siang, kita makan dulu ya Al"


" Iya ka"


Afkar dan Alya perlahan berjalan meninggalkan tempat parkir mencari tempat makan yang sesuai dengan seleranya. Alya tak henti melirik bagian kirinya, tepian sungai yang memanjakan matanya. Di bagian bawah berjejer puluhan bahkan mungkin ratusan transportasi jukung (perahu) tanpa mesin yang menggunakan sampan untuk mengayuhnya dan di dalam perahu itu terdapat jajanan berupa buah, sayur ataupun kue. Perahunya pun berwarna-warni sepertinya sepanjang sungai itu menjadi sebuah karnaval yang pernah diikuti Alya waktu dia masih sekolah Taman Kanak-Kanak, begitu meriah. Dan uniknya si pengayuh sampan adalah ibu-ibu yang begitu lihai menjalankan perahunya tanpa bersenggolan dengan perahu lainnya yang jumlahnya ratusan itu.


" Bagus banget ka"


" Kamu belum pernah kesini ya Al?"


" Belum ka, baru ini pertama kali, orang tua Alya kan di luar kota, tidak pernah mengajak Alya kesini"


" Arga atau teman lain juga tidak pernah mengajak kesini?"


" Belum ka, mungkin juga mereka tidak tau ada tempat sekeren ini, nanti kita ajak mereka kesini ya ka"


Afkar mengangguk


" Kamu mainnya ke mall terus sih"


Afkar mulai menggoda


" kan tau nya itu doang ka yang dekat kost, kalau kesini belum tau"


Alya menjawab dengan pembelaan


" Kamu selain jalan-jalan sama Arga dan Sylvia, sama siapa lagi Al?"


" Alya qa pernah jalan-jalan sama yang lain, dulu dari kecil sampai SMA Alya cuma boleh jalan-jalan sama keluarga, walaupun Alya juga kepengen jalan sama teman-teman, tapi mama bilang, seumuran Alya bahaya kalau keluar tanpa orang tua, Alya qa tau juga alasan lainnya, tapi setiap Alya minta sesuatu misalnya mau jalan ke pantai, mereka siap membawa Alya, jadi ya Alya juga qa perlu nuntut Alya jalan sama teman-teman kan kalo setiap permintaan Alya dipenuhi mama papa"


" Alya disayangi orang tua ya?"


Afkar melirik Alya yang bercerita sambil matanya tidak lepas dari pemandangan sungai yang menarik perhatiannya


" Kan semua anak memang harus disayangi orang tuanya ka?"


Pertanyaan Afkar dijawab dengan pertanyaan lagi.


" Kalau sekarang sudah kost begini, memang Alya diizinkan orang tua keluar sama teman-teman?"


" Sylvia itu teman Alya sejak SMA ka, mama papa sudah kenal sama dia, Sylvia itu juga anak baik, tidak bisa keluyuran, makanya mama papa percaya kalau temenan sama dia Alya aman. Nah kalau Arga sudah Alya kenalin ke mama papa, biar Alya kalau jalan-jalan atau ada keperluan keluar tidak dimarahi mama papa, ini lo yang jagain Alya"


Afkar kaget


" Dikenalin ke mama papa? sebagai apa Al?"


" Sebagai sahabat lah ka, Alya gitu, sejak SMA juga Alya banyak punya sahabat laki-laki yang semua bertugas jagain Alya, dan setiap sahabat laki-laki itu pasti Alya kenalin sama mama papa. Alya berasa nyaman ka, kalau mereka sudah Alya kenalin ke orang tua"


Afkar mengangguk


" Kalau aku nanti juga dikenalin qa sama mama papa?"


Afkar tiba-tiba gugup memberi pertanyaan itu, dengan cueknya Alya menjawab.


" Boleh, nanti kalau Alya pulang, Ka Afkar ikut ya, mungkin bulan depan".

__ADS_1


" Ka, Alya lapar"


Tidak terasa ngobrol mereka sudah jauh berjalan


" Iya, sekarang mata kamu pindah deh ke sebelah kanan, kita nyari makan aja, dari tadi sibuk ngeliatin sungai"


Afkar memberi saran sambil tersenyum


Mereka berdua mulai mencari-cari menu makan di setiap warung makan yang setiap warungnya menyediakan menu yang berbeda. Dan akhirnya pilihan mereka jatuh pada nasi campur dengan lauk ayam goreng.


Setelah kenyang karena sudah menghabiskan nasi campur Alya memandang penampilan Afkar, Afkar yang merasa diliatin Alya rada kikuk


" Kenapa Al, ada yang aneh?"


Alya tersenyum.


" Boleh Alya kasih saran qa?"


Afkar mengangguk


" Kemeja kaka ini mending di gulung deh, jangan dibiarin panjang sampe lengan begini ka"


" Bagaimana Al?"


Tanya Afkar dengan bingung


Alya menggulung tangan kemeja Afkar sebelah kanan perlahan sampai bawah siku seperti penampilan Arga kalau lagi pakai kemeja


" Permisi ya, begini ka"


" Ooh, satu lagi deh Al"


sambil menjulurkan tangan satunya


" Naaah, sekarang kaka udah 5 tahun lebih muda"


" Memang aku terlihat tua ya Al?"


" Iya" Alya menjawab sambil tertawa dan menyembunyikan kegugupannya disaat memegang tangan Afkar waktu menggulung tangan kemejanya tadi.


" Kamu jujur banget Al"


Afkar ikutan tertawa melihat kelucuan gadis mungil disampingnya


" Habis ini kita kemana lagi Al?"


" Memang boleh kalau kita jalan lagi ka?"


" Boleh, hari ini aku jadi ojek online kamu, seharian kamu carter juga aku siap"


" Waah, kalau seharian bayarnya mahal dong"


" Iya lah"


" Tapi tenang aja ka, kalau Alya tidak sanggup bayar, nanti Arga yang bayarin ke kaka"


" Lho yang jalan kamu kok yang bayar Arga?"


" Dia kan sudah janji apapun kesulitan Alya biar dia yang menyelesaikan"


Alya terkekeh membayangkan tiba-tiba datang tagihan ojek online ke Arga, yang jalan-jalan siapa yang bayar siapa.

__ADS_1


Motor berwarna hitam kembali melaju, di dalam batin Alya pemandangannya lebih mirip diantara beribu bunga di taman, bernaung teduh di bawah langit berpelangi, menyusur kota fantasi dengan warna cerah bak lukisan negeri dongeng, sedangkan dibawahnya ada aliran air sungai dengan riak hasil dari manja ikan-ikan hias yang saling bermain. Sebegitu nyamannya Alya menikmati hari ini.


Hei kamu, aku ingin tidak hanya melalui perjalanan hari ini bersamamu, aku juga ingin melalui kehidupanku nanti bersamamu, aku tidak hanya ingin bercerita siapa aku, aku ingin menciptakan cerita bersamamu, jangan membawaku pulang, aku bahkan baru ingin memulai pergi bersamamu.


Kamu yang membuatku sudah jatuh hati dan berhenti membuatku mencari, aku bersyukur telat menemukanmu, aku juga tidak menyesali kamu yang membuat cinta tidak selayak yang kubayangkan seoang pangeran yang begitu menawan. Ternyata kamu sangat sederhana tapi mampu membuatku mengabaikan hal indah dari yang lainnya. Gayamu yang sederhana tapi membuatku terpana. Tawamu yang renyah membuatku terengah. Aku bahkan mulai menyukai wangi tubuhmu, menyukai gaya dan harum rambutmu, menyukai nada dan gaya bicaramu, menyukai matamu yang ketika berkerjap-kerjap seperti kerlipan bintang, bahkan gerakan tangan dan langkah kakimu . Jangan membuatku gila dengan hanya memandangmu seakan aku sudah memiliki dunia. Bolehkah aku menitipkan hati di dadamu dengan harapan balasan?


Aku benar-benar menjatuhkan hatiku pada seujud bentuk di kamu!!!


Afkar menoleh ke belakang


" Al, kita berhenti ya, gerimis"


" Iya ka"


Motor berhenti di sebuah ruko yang pintu nya tertutup karena ini adalah hari minggu, mungkin pemiliknya tidak ingin bekerja dan memperkerjakan karyawannya. Sudah ada beberapa pengendara yang juga berteduh di tempat yang sama. Alya berlari meninggalkan Afkar yang sedang memarkir motornya dan cepat berlindung di bawah ruko yang memiliki atap dan dapat melindunginya dari gerimis yang mulai membasahi tubuhnya, memandang sekelilingnya, ada sepasang suami istri beserta anak balitanya, ada 2 orang pemuda seumuran Arga dan temannya. Dan satu lagi sepasang muda-mudi seperti mereka, apa mereka sepasang kekasih ya? atau seperti aku yang tidak punya status tapi berharap punya status? Alya tersenyum, ngapain mikirin orang, gue aja belum tau gimana nasibnya. Afkar berlari dari parkiran menuju Alya yang sudah lebih dulu berteduh.


" Maaf ya Al, kamu jadi kehujanan"


" Engaak papa ka, seru loh, jadi ingat dulu masih kecil main hujan-hujanan pulang sekolah, pulangnya di marahin mama, katanya nanti bisa sakit, padahal Alya sehat-sehat aja besoknya, hehe"


Alya memandang wajah Afkar yang terkena tetesan air hujan, aura nya langsung naik, air dari dahinya turun melewati hidungnya yang mancung dan turun ke dagu, aku cemburuuuu,,, tetesan air hujan di wajah Afkar mendahului ku menyentuh wajah itu dan seakan menyombongkan dirinya padaku.


" Kenapa Al?"


Afkar merasa Alya memandanginya


" Wajah kaka basah, aku enggak bawa tissue"


" Afkar menyapu telapak tangannya ke wajahnya untuk menyapu sisa tetesan air yang masih ada di wajahnya


" Maaf ya Al"


" Kaka kok minta maaf terus, stok maaf Alya tinggal dikit nih"


Goda Alya dan membuat Afkar tertawa


" Habisnya aku takut Al bikin kamu enggak nyaman, selama ini kan kamu selalu terlindungi saat bersama teman-teman kamu, pas sama aku malah kamu diperlakukan begini


" Apaan sih kaka ini, sama aja lah ka, justru aku senang hari ini bisa mengalami kejadian kehujanan ini, kalau kita main-main hujan sengaja kan nggak mungin, Alya bakal di marahin mama lagi"


" Kalau mama enggak tau kan enggak dimarahin Al"


Afkar mencoba memancing Alya


" Kaka engga tau mama Alya sih, mama itu kaya dukun ka, apa aja yang Alya umpetin pasti ketahuan, hahaha'.


" Wah hebat ya mama, jadi kepengen kenalan, tau qa ya beliau sama isi hatiku"


Alya terdiam, eeh eh, jangan bikin aku grogi gini dong ka, bikin aku tambah pengharapan aja


" Ka, sini Alya bisikin"


Afkar mendekatkan telinganya ke arah mulut Alya dan sedikit menunduk agar telinganya pas di posisi mulut Alya, karena memang hujan sudah cukup deras dan suara air hujan yang turun ke genteng itu akan membuat orang yang bicara harus berteriak atau sekalian berbisik agar terdengar lawan bicaranya


" Liat deh cowo sama cewe di samping kita, ngeliatin kita, kita kerjain yu"


Afkar kembali ke posisinya sambil menggeleng


" Gau usah"


" Kaka enggak seru nih"

__ADS_1


" Jangan Al, kamu mau juga nanti dikerjain orang, udah ah, enggak usah ngerjain orang, lebih baik kita berdoa biar hujannya reda, kamu sudah mulai kedinginan tuh"


Alya memandangi Afkar, serius banget sih, coba aja Arga yang disampingnya, pasti sudah banyak keusilan yang mereka ciptakan di suasana seperti ini.


__ADS_2