
Mobil Silver Metallic milik Afkar kembali melaju setelah setengah jam berada di rumah makan karena pemilik dan pemilik hatinya menikmati makan siang.
" Kaka tidak apa tidak ke kantor lagi?"
" Sasha dan Juan bisa kuandalkan di situasi darurat begini"
" Alya ingat Sasha ka"
" Kenapa?"
" Kasian dia ka Afkar marahi karena hal yang bukan kesalahannya, kan salah ka Afkar"
" Dia mengadu?"
Uuh, aku salah ngomong ya? keluar deh sikap bos galaknya
" Enggak"
" Darimana sayang tau?"
" Tuh kan marah lagi, Alya sebel sama kaka kalau urusan kerjaan suka emosi"
Afkar diam sambil terus menjalankan mobilnya.
Tiiit
Afkar meraih ponsel yang terletak di dashboard nya, menekan tombol hijau dan mengaktifkan speaker agar tidak perlu memegang ponsel karena tangannya memegang kemudi
" Assalamualaikum bang Jali"
" Waalaikum salam, Afkar non Aprill kada mau makan nah, acil Niah sudah meulahkan bubur tapi tetap kada mau"
( non Aprill tidak mau makan, bi Niah sudah membuatkan bubur tetap tidak mau)
" Kenapa?"
" Mahadang ikam aja jar"
( Menunggu kamu)
Afkar menghela napas dan meliirik Alya yang pura-pura sibuk dengan ponselnya.
" Mana Aprillnya bang? ulun handak bepender"
(ulun mau bicara)
" Hadang"
( Tunggu).
" Ka Afkar"
" Aprill, makan lah, kasian bang Jali dan acil melayani"
" Aprill mahadang ka Afkar ja, pian dimana gerang lawasnya kada datang"
( Menunggu ka Afkar aja, lagi dimana? lamanya belum datang)
" Kaka di,,, lapangan"
" Bujuran? Aprill handak makan dikawani ka Afkar ja"
( Betul? Aprill mau makan asal ditemani ka Afkar).
" Aprill jangan manja kaka lagi sibuk"
Klik.
Di matikan
" Kenapa di matikan?"
Afkar bergumam sendiri dan melirik Alya lagi.
"Jangan ngambek sayang"
" Enggak, Alya lagi sibuk"
Tiiit, panggilan video. Afkar memposisikan ponselnya agar bisa berdiri
" Iya Aprill?"
" Ka Afkar di lapangan mana?"
" Apriilll, jangan meurusi kaka, tuh nah acil dan bang Jali ada, sudah dikawani"
" Ka Afkar lawan siapa?"
( Dengan siapa?)
Afkar mengubah posisi ponselnya agar wajah Alya terlihat
" Kaka dengan ka Alya"
Alya kaget saat melihat wajah Aprill di depannya, tapi langsung berusaha tersenyum
" Hai Aprill"
Alya melambai tangan, tapi Aprill malah cemberut
" Ka Afkar, kena Aprill padahi lawan papah kejadian di kantor semalam"
( Nanti dibilang sama papah kejadian di kantor kemarin)
Afkar diam tidak menjawab, Alya hanya bengong tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
" Ka Afkar ulun hadangi di rumah sakit"
Klik.
Afkar memindah lagi ponselnya ke tempat semula.
" Menyebalkan kan?"
" Alya tidak mengerti kalian bicara apa"
" Anak kecil itu sudah berani mengancamku. Tidak bisa dibiarkan"
__ADS_1
" Siapa? Aprill?"
" Iya, kita sebentar ke rumah sakit sayang, setelah itu baru kita ke Martapura"
Alya menoleh wajah Afkar yang berubah, matanya yang tajam memandang ke depan dan alisnya yang sedikit mengkerut menandakan dia sedang tidak nyaman.
" Ka, Alya tidak ikut ya, Alya tidak enak, apakah ini berhubungan dengan Alya?"
" Sayang harus ikut, dia harus tau siapa dan bagaimana Alya itu"
Alya diam tidak berani lagi membahas kata-kata Afkar. Apa yang mereka bicarakan tadi ya? aku mendengar semuanya, tapi aku tidak mengerti.
Setengah jam lebih di perjalanan akhirnya mereka sampai di depan RSD Idaman Banjarbaru.
" Ka, Alya tunggu di sini saja, perasaan Alya tidak enak"
Afkar menatap dan menggenggam tangan Alya.
" Sayang, ini harus dibereskan, aku tidak mau perjuanganku selama enam tahun untuk mendapatkanmu menjadi percuma hanya karena tingkah konyol Aprill"
" Kaka bereskan saja dulu sendiri, Alya tidak ingin dilibatkan"
" Sayaang"
Nada suara Afkar meninggi lagi. Aku benci ka Afkar sekarang yang seenaknya memberi perintah dan kenapa juga aku harus mengikuti?.
Akhirnya Alya mengikuti langkah Afkar menuju satu ruangan.
Tok tok,,
Afkar dan Alya masuk ke dalam ruangan tempat Aprill di rawat. Sejak turun dari mobil Afkar tidak pernah melepaskan tangannya dari tangan Alya.
" Assalamualaikum"
" Waalaikum salam".
Seorang lelaki dengan tubuh bongsor sedang berbaring di sofa dan menonton televisi, seorang lagi perempuan berusia 45 tahunan duduk di samping tempat tidur pasien sambil memijat kaki pasien. Dan satu lagi, si pasien yang berbaring dengan tangan memainkan ponsel.
Afkar mengubah posisi tangannya ke pinggang Alya dan mengajaknya untuk berdiri di samping Aprill. Aprill bangun begitu mendengar suara Afkar, tapi sedetik kemudian cemberut melihat Afkar datang bersama wanita muda.
" Hai gadis manja, sudah makan belum"
Aprill menggeleng.
" Acil Niah mana buburnya?"
Wanita separo baya itu cepat mengambil satu rantang yang berisi bubur dan menyerahkannya pada Afkar.
" Kami sudah menyuruhnya
makan Afkar ae, tapi inya kada mau, mahadangi ikam ja jar"
( Kami sudah menyuruhnya makan, tapi dia tidak mau, menunggu kamu katanya).
Afkar melepas tangannya dari pinggang Alya dan mengambil rantang itu.
" Bangun Aprill"
Aprill sedikit melirik pada Alya dan bangun
Aprill diam, sebenarnya Afkar mengerti kalau sudah begini Aprill akan minta di suapi
" Makan Aprill"
Kali ini suara Afkar sedikit berubah
" Mana tangannya"
Tangan kanan Aprill memang di pasangi inpus, tapi tangan kirinya masih lincah, masih bisa memainkan ponselnya.
Aprill menatap Afkar seolah memberitahukan keinginnanya
" Makan sendiri".
" Ka, tangan ulun sakit"
" Ini tidak dipasang infus, ayo makan"
Aprill malah menjauhkan rantang itu
" Ulun kenyang".
Afkar berbalik dan bicara pada bang Jali
" Bang, bisa keluar dulu kah lawan acil, ulun handak bepender bertiga di sini"
( Bisa keluar sama bibi? saya mau bicara bertiga disini).
Bang Jali dan acil Niah keluar dari ruangan dan tersisa Afkar, Alya dan Aprill.
Afkar menggenggam tangan Alya dan duduk berdua di depan tempat tidur Aprill. Aprill terlihat sangat risih melihatnya, sementara Alya mencoba meloloskan tangannya dari Afkar tapi gagal.
" Aprill, kenalkan ini ka Alya, kekasih kaka"
Aprill menatap Alya dengan tajam, Alya mengulurkan tangannya
" Alya"
Aprill masih diam
" Aprill, yang sopan kalau kenalan"
Kali ini Aprill mengulurkan tangannya yang sedang dipasang inpus
" Tidak usah, kasian tangannya"
Alya mencoba meredam suasana karena melihat Afkar mulai kesal lagi
" Aprill, ka Alya ini adalah kekasih kakak sejak empat tahun yang lalu, baru bisa bertemu sekarang. Dan satu lagi, kamu tidak usah mengancam kaka untuk cerita sama papah, kakak yang akan cerita sendiri. Kami akan segera menikah"
Aprill diam kemudian menatap Alya dingin.
" Ka Afkar pernah cerita tentang Aprill?"
Alya mengangguk, barusan saja.
" Ka Afkar cerita tentang kedekatan kami?'
__ADS_1
Alya kembali mengangguk, ada apa ini? melirik Afkar, Afkar terlihat santai saja dan masih menggenggam tangan Alya
" Mungkin tidak banyak, Aprill saja yang cerita ya?".
Aprill menatap sinis pada Afkar.
" Ka Alya, kami berdua ini sudah sangat lama bersama, satu setengah tahun. Rumah Aprill adalah rumah ka Afkar juga, setiap sudut rumah itu di bawah pengawasan ka Afkar. Setiap sudutnya ka, sampai di sini ka Alya paham?"
Alya sedikit kaget, kenapa bicaranya begitu?
Alya menoleh lagi pada Afkar, Afkar hanya tersenyum dan sedikit berbisik.
" Santai saja sayang, dia itu cerminmu, hehehe".
" Iya, aku sudah mendengar ceritamu dan rumahmu"
" Ka Alya tau bagaimana ka Afkar memperhatikan dan menjaga kami?"
Alya kembali mengangguk
" Ka Alya tau apa yang dilakukan ka Afkar sebelum Aprill tidur malam?"
Alya diam.
" Ka
" Setiap jam sembilan atau sepuluh malam ka Afkar akan berkeliling rumah, melihat dan mengecek apakah semua pintu dan jendela sudah terkunci. Kemudian ke kamar papah untuk melihat kondisinya, berbincang beberapa menit entah itu pekerjanya, kesehatan papah, ataupun makanan yang ingin dimakan papah besok, oh iya akhir-akhir ini mereka lebih sering membicarakan tentang shalat, puasa dan lain-lainnya. Kemudian ka Afkar akan berdiri di muka pintu kamar Aprill, menanyakan apakah semua tugas kuliah sudah selesai, besok mau kemana dan bersama siapa, apakah uang Aprill di dompet masih ada, kalau tinggal tiga ratus ribu ka Afkar akan mengeluarkan lima lembar lagi dan langsung memasukan ke dompet Aprill. Menanyakan apakah Aprill sudah sholat Isya. Dan satu lagi, ka Afkar tidak pernah melupakan mengusap kepala Aprill dan mengatakan tidur yang nyenyak, mimpi indah, besok jangan bangun telat"
Alya menghembuskan napas pelan.
Aprill kembali dengan ceritanya.
" Dan besok pagi saat adzan subuh baru terdengar, ka Afkar sudah berkeliling lagi dan menemui papah, apakah papah sudah bangun dan segera mengajak papah ke mesjid yang berada tidak jauh dari rumah kami dengan berjalan kaki. Sebelum mereka berangkat ka Afkar akan memastikan dulu apakah Aprill sudah bangun, Aprill memang bangun, tapi setelah ka Afkar dan papah pergi, Alya tertidur lagi"
Aprill melirik Afkar dan tertawa
" Jadi kamu tidur lagi? shalatnya kapan?"
" Shalat lah"
" Setelah sarapan ka Afkar kembali berkeliling ,tepatnya jam tujuh, memastikan papah sudah bersiap sarapan karena ka Afkar akan menyediakan obat dan vitamin untuk papah. Ka Afkar juga mengecek apakah baterai ponsel Aprill sudah penuh untuk menghilangkan satu kesempatan Aprill untuk bisa mengelabuinya dengan mengatakan baterai Aprill habis. Dan sebelum ka Afkar berangkat ke kantor, dia selalu mencium tangan papah dan mengusap lagi rambut Aprill sambil berkata semoga hari ini semua kegiatan Aprill lancar dan dimudahkan, jangan nakal dan jangan membuatnya marah"
Aprill mencoba mencari tahu apakah wajah Alya berubah, tidak. Alya masih saja mendengarkan dengan tenang.
" Kemudian siang nya, ka Afkar akan menghubungi Aprill dengan panggilan video, agar dia tau Aprill tidak sedang berbohong. Menanyakan setelah ini Aprill kemana, kalau tidak ada penting pulang saja, sesekali Aprill akan ke kantor ka Afkar karena ingin makan siang bersama, Aprill bosan makan di rumah seenak apapun masakan acil Niah. Ka Afkar akan menggandeng tangan Aprill katanya biar tidak kabur, karena kalau sudah hilang sulit sekali menemukannya, padahal Aprill tidak pernah kabur apalagi hilang".
Alya masih tersenyum, sedangkan Afkar mulai meliriknya gelisah, ganti menatap Aprill, apa yang mau kamu ceritakan?
Biasanya sebelum tidur, kalau Ka Afkar tidak sibuk dia akan duduk di depan televisi sambil meminum kopi, Aprill sering minta buatkan kopi pada acil Niah tapi ka Afkar melarangnya, katanya jangan dimulai karena sulit menghilangkannya, padahal diapun menikmati sekali kopinya. Aprill hanya diperbolehkan minum beberapa teguk dari gelas ka Afkar"
Afkar semakin merasa gelisah. Aprill kamu sedang bicara apa?.
Tapi kekasihku ini begitu tenangnya, sepertinya ini adalah hal biasa, semoga Aprill tidak lebih panjang lagi bercerita.
" Aprill dulu punya kekasih ka Alya, tapi sudah putus, Aprill sangat sedih, Ka Afkar selalu menghibur Aprill, katanya tidak usah lagi mengingatnya, saat Aprill menangis ka Afkar akan memeluk Aprill dan mengatakan semua akan baik-baik saja. Ka Afkar juga menghapus air mata Aprill dengan tangannya. Dan setelahnya Aprill akan lebih tenang, bahkan Aprill akan terlelap di pelukannya di depan televisi, tau-tau besok pagi bangun Aprill sudah berada di kamar Aprill, ka Afkar akan menggendong Aprill ke kamar"
" Aprill"
" Kenapa ka? Ka Afkar tidak cerita ini pada ka Alya? Oh iya ka Alya, dua bulan ini Aprill sangat sibuk, terkadang lupa makan, ka Afkar akan membawakan makan malam ke lantai dua di kamar Aprill, karena Aprill makannya lama terkadang ka Afkar menyuapi Aprill, katanya biar cepat habis, makanya tadi Aprill nungguin ka Afkar menyuapi Aprill, biar buburnya cepat habis, tapi dia tidak mau, mungkin malu kelihatan ka Alya ya, hehehe"
Alya tersenyum dan menatap Aprill dan Afkar bergantian
" Waah, hubungan kakak dan adik yang dekat ya, aku juga punya kakak laki-laki yang sangat menyayangiku dan memperhatikanku, tapi tidak sebanyak perlakuan ka Afkar padamu Aprill, oh iya ka Afkar memang baik dan selalu memberikan kebaikannya itu untuk orang lain, iya kan ka?"
Afkar semakin kuat menggenggam tangan Alya, ini ucapan marahmu Alya.
" Masih ada lagi yang ingin diceritakan Aprill? aku masih mau mendengar"
Aprill menatap Alya, kenapa wajahnya datar saja? kalau kamu kekasihnya kamu harusnya cemburu, kamu harusnya marah.
Aprill menggeleng.
" Mungkin ka Afkar saja yang nanti menambahkannya, iya kan ka?".
Afkar diam dan tangannya berubah menjadi dingin, kedinginan itu langsung terasa pada Alya karena tangan mereka belum terlepas.
" Aprill, aku dan Alya mau keluar, kamu makan. Nanti setelah aku mengantar Alya pulang aku akan kesini"
Aprill mengalihkan wajahnya
" Tidak usah ke sini lagi juga tidak apa, Aprill akan telepon papah dan meminta pulang saja".
" Aprill"
Alya menarik tangan Afkar.
" Alya bisa pulang sendiri, jagain Aprill saja ka".
Afkar mendekatkan wajahnya ke wajah Alya
" Tidak sayang, kita akan ke Martapura setelah ini"
Alya mengangguk.
" Baiklah, maaf Aprill kami permisi, ada yang akan kami lakukan berdua"
Alya berdiri dari tempat duduknya diikuti Afkar
" Aprill, dengan bang Jali dulu ya, nanti aku kesini, Assalamualaikum"
" Aprill yang sejak tadi memunggungi mereka menjawab pelan
" Waalaikum salam"
Di dalam mobil Alya tidak memasang sabuk pengamannya
" Kenapa tidak dipasang sayang? aku sudah mau jalan"
" Kita tidak akan kemana-mana ka"
" Kita akan membeli cincin pernikahan kita sayang"
" Mungkin tidak sekarang"
" Kapan lagi? bukankah minggu depan aku akan ke Jakarta untuk menjemput ibu dan ke Yogya untuk melamarmu
" Antarkan Alya pulang sekarang ka, Alya mau beristirahat".
__ADS_1