
Jubah hitam bertopi dengan satu helai ikatan yang tergantung
Selalu merindukan untuk secepatnya bisa kupasangkan pada tubuh dan kepalaku.
Dan akhir-akhir ini aku sering membayangkannya, dengan didampingimu, kekasihku.
Alya menutup aplikasi buju diary pada ponselnya. Huuh, cukup melelahkan juga acara wisuda hari ini, mendampingi ka Kevin yang dengan bangganya bisa memakai gelar magister dibelakang namanya, hatinya ikut tersentuh saat orang tua nya memeluk Kevin dengan perasaan haru. Ini adalah hasil dari kerja keras Kevin setelah melewati sarjana selama 4 tahun dan pasca sarjana selama2,5 tahun. Dan setelah ini beban perusahaan akan benar-benar berada di pundaknya. Di usia 24 tahun memang masih terlalu muda, tapi om Hadi sangat mempercayakan tugas ini padanya karena dia tau Kevin selalu bijaksana dalam mengambil sikap. Seandainya saja mereka tau betapa cengengnya anaknya ketika memohon hati pada sorang Alya, mungkin nama Kevin akan langsung tercoret dari daftar pewaris perusahaan. Tapi tentu saja kedewasaan itu milik harta dan tahta, untuk cinta biarkan saja Kevib bertahan memoles kekanakannya.
Setelah makan sinag bersama, Alya pamit minta diantar pulang saja secepatnya, bukan karena lelah, biasa juga dia tahan seharian berada di kerumunan, tapi karena pusing mendengar pertanyaan-pertanyaan tante Risma tentang hubungan mereka
" Jadi bagaimana kelanjutannya sayang?".
" Sebulan lagi kita akan mengadakan syukuran sekaligus penetapan Kevin sebagai pemimpin perusahaan, sayang bisa hadir kan?"
" Setelah lulus nanti langsung ikut ke Bandung saja ya?"
" Kami sudah menyiapkan rumah untuk kalian tinggal, atau Alya boleh pilih sendiri nanti"
Dan ratusan pertanyaan lagi yang terlontar dari mulut tante Risma, tapi bagi Alya itu bukan sebuah pertanyaan, tapi pernyataan, karena walau tidak satupun Alya jawab, beliau punya jawabannya sendiri
" Tante liat kalian semakin akur dan akrab saja, tante senang sekali melihatnya"
" Nanti kalau Kevin tidak bisa jemput Alya di acara syukuran, biar tante yang jemput, bukan cuma Alya, tapi seluruh keluarga"
" Setelah lulus tidak usah berpikir cari kerja, bisa jadi asisten Kevin, atau kalau mau Kevin usahakan buka kantor baru khusus buat Alya yang pegang"
" Oh iya, tante pernah berkunjung ke rumah satu teman ada View eksotis pemandangan kota Bandung dari kejauhan dan kerlip lampu yang menyala di malam hari di area Dago Pakar, cukup mewah untuk membangun rumah disana. Di kawasan itu tante liat kebanyakan rumah mengadopsi gaya resor atau villa sehingga penghuni akan merasa seperti liburan setiap hari. Betapa menyenangkannya ya Alya kalau bisa tinggal disana"
Alya hanya tersenyum, semakin lama aku bukan semakin merasa kaya bersama mereka, tapi berasa menjadi aneh saja.
Alya berbisik pada Kevin saat kedua orang tua itu berjalan di depan mereka
" Ka, Alya pusing, mau pulang"
Kevin mengangguk
" Pusing denger omongan mama kan"
sambil tertawa dan melingkarkan tangannya di pinggang Alya.
Om Hadi dan tante Risma menoleh kebelakang karena mendengar Kevin tertawa, mereka tersenyum melihat keakraban dua sejoli itu.
Tante Risma mencolek om Hadi.
" Pah, mama tidak sabar mau mengunduh mantu"
" Iya ma, sebentar lagi, lagi loading, whaaaha"
Kali ini Alya dan Kevin yang berpandangan, ngetawain kita ya pikir mereka, memang iya.
Berangkat dengan mobil yang berbeda, pulangnya pun dengan mobil yang berbeda.
Om Hadi dan tante Risma pulang dengan mobil sport hitam Kevin, sedangkan Kevin mengantar Alya dengan mobil silver nya
" Alya, istirahat saja ya, nanti sore aku jemput"
" Iya ka, habis ashar juga kan ya?"
" Terserah, kalau masih cape malam juga tidak apa, besok pagi juga boleh"
" Jangan lah ka, besok pagi Alya sudah masuk kantor lagi, kelamaan izinnya"
" Oh iya, mama papa ikut mengantar".
" Apaaa?"
Alya yang sudah ingin membuka pintu mobil karena akan keluar langsung membatalkan niatnya, pintu mobil di tutup kembali
" Kok kaget?"
" Kok ikut ngantar Alya pulang?"
" Tidak boleh?"
" Bukan begitu, tidak usah dibikin repot lah, sebenrnya tanpa kaka antar juga Alya berani sendiri, ini malah diantar sama om dan tante"
" Mereka ingin sekalian silaturahmi katanya"
" Ka, mereka tidak sedang merencanakan sesuatu lagi kan?"
" Kenapa berpikir begitu?"
" Alya cuma jaga-jaga saja supaya tidak terjebak"
" Alya, kenapa merasa dijebak, tidak boleh begitu"
" Yang sudah-sudah memang begitu"
" Maaf Alya kalau kamu merasa begitu"
Alya terdiam, semoga tidak ada cerita baru lagi, aku kan akan mengakhiri ini.
" Baiklah, kalau sudah siap nanti kabari aku ya, nanti kujemput"
" Iya ka Alya masuk dulu, Assalamualaikum"
" Waalaikum salam".
Kevin memandangi Alya yang berjalan memasuki rumahnya Alya bahkan mendengar orang tuaku saja ingin kerumahmu sudah sebegitu cemasnya, kamu sama sekali tidak menginginkan ini berlanjut? kamu memang sangat tidak ingin denganku, tidak akan baik jika semua dilakukan dengna keterpaksaan. Kevin berlalu dari kost Alya menuju pulang. Alya membalikan tubuhnya mendengar suara mobil meninggalkan kost nya. Ka,, tolong jangan melakukan apapun lagi, katakan pada orang tuamu ini tidak bisa lagi kita lanjutkan. Alya akan mengakhirinya dan nanti kita harus bicara berdua, jangan ikutkan lagi orang tua kita.
Pesan terkirim
" Ka, lagi dimana?"
10 menit, 20 menit.
Panggilan telfon
" Assalamualaikum"
" Waalaikum salam, maaf tadi aku sedang di luar, tidak mendengar, dimana sayang?"
" Di kost ka, Alya mau pulang sebentar lagi"
" Sama ka Pandu?"
" Eehhh, iya"
" Hati-hati ya sayang, sudah makan siang?"
" Sudah ka"
" Nanti kalau sudah sampai kasih kabar ya"
" Ka Afkar ini lagi dimana?"
" Masih di luar, mungkin satu jam lagi balik kantor"
" Ooh"
" Kenapa sayang?"
" Enggak apa-apa, kangen aja"
" Ku video call sebentar ya"
" Iya ka"
Klik
Panggilan video
Sebuah tempat luas tepatnya alam bebas, dimana banyak berjejer mobil besar dan alat berat yang sedang beroperasi
" Maaf ya kalau suaranya tidak jelas terdengar"
" Kaka ngapain disana?"
" Mengawasi"
Terlihat Afkar sedang memakai topi berbentuk helm proyek v - guard safety dengan warna kuning, memakai jaket atau lebih mirip rompi safety vest proyek scot combine dengan warna sama, ada nametag tergantung di kantong rompinya. Dibawah matahari terlihat mata Afkar sesekali meredup karena terkena sinarnya, bahkan tetes keringatpun terlihat dari balik kamera dan di seka dengan tisu
Alya tersenyum, beratnya kerjamu ka
" Hati-hati ya ka, jaga kesehatan, jangan lupa istirahat"
" Iya sayangku"
" Selamat kerja ka, Assalamualaikum"
" Waalaikum salam, emuuah"
" Sayang ka Afkar"
Alya melambaikan tangan.
__ADS_1
Klik.
Sesaat merebahkan diri dan menatap langit kamar. Aku mencintaimu ka Afkar dan aku mempercayakan masa depan bersamamu, beri aku kekuatan untuk ini.
Membuka lagi aplikasi galeri pada kameranya, tersenyum melihat sudah banyak koleksi foto mereka berdua, dari selfie yang sengaja, pura-pura tidak disengaja dan wajah Afkar yang memang di fotonya dengan sembunyi-sembunyi, wajah teduh yang selalu menenangkannya. Mencium layar ponsel seolah wajah itu nyata. Memperbesar satu foto yang menampilkan Afkar dengan sangat dekat, meraba alisnya, hidungnya, pipinya, mulutnya. Ka, semua dari dirimu kucintai sejak dulu, dan aku tidak pernah ingin wajah tersenyum ini akan sedih seperti yang dibilang teman-teman, aku harus menyudahi ceritaku yang lain, aku ingin senyum ini akan selalu bisa menemaniku sampai akhir hidup kita.
Meletakan ponsel di dadanya dan terpejam, bayangan Afkar penuh di dalam pikirannya, sampai terlelap terlelap dan semakin dalam, akhirnya tertidur dalam mimpi.
Judika,,
Alya tersentak dan kaget
Ka Kevin
" Assalamualaikum ka"
" Waalaikum salam, bagaimana Alya, jam berapa aku bisa menjemput?"
Alya melirik jam di dinding, setengah 4
" Boleh ka, Alya shalat dulu ya"
" Iya, aku juga, nanti aku langsung kesana ya"
" Iya ka"
" Assalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Klik
Satu jam ternyata aku tertidur. Turun untuk mandi dan segera shalat, sebentar lagi Kevin akan menjemputnya dan mengantarnya pulang.
Bel berbunyi, terdengar suara Yanti memanggilnya
" Alya,,,"
" Iya".
Alya berdiri di depan kaca sebentar, menyisir rambut dan mengambil tas ransel kecilnya yang sudah berisi dompet, ponsel, bedak dan lipstik. Menuruni tangga dan melangkah ke depan menuju pintu
" Ka Kevin"
Sudah ada Kevin duduk di teras dan menghadap ke jalan
" Sudah siap?"
" Sudah, mana om dan tante katanya ikut mengantar Alya"
" Mereka sudah berangkat sama pa Budi sejam yang lalu"
" Lho? kenapa tidak bareng?"
" Mereka pakai mobil ku, kalau kita berangkat pake itu aja ya"
Kevin menunjuk mobil putih Alya
" Ka, mereka tidak sedang merencanakan sesuatu kan?"
Kevin menatap lekat Alya, kamu terlalu takut, untuk apa? jikapun mereka merencanakan sesuatu pasti itu untuk kebaikan.
" Aku tidak tau, kunci mobil mana Alya?
Kali ini Kevin tidak ingin berdebat lagi.
Alya menyerahkan kunci mobil yang diambil dari tas ranselnya, Kevin menggandeng tangan Alya dan membukakan pintu mobil. Perlahan menjalankan mobilnya
" Ka, benar tidak tau?"
" Tentang apa?"
" Rencana orang tua kita"
Kevin menggeleng
" Ya sudah"
Alya memalingkan wajahnya ke samping kiri memandang jalan dari kaca jendela, pikiran nya seperti menerawang dan sedang menyiapkan diri seandainya akan ada yang terjadi setelah ini.
Setelah menempuh perjalanan selama 4 jam mereka memasuki sebuah halaman besar dan sudah terparkir mobil hitam Kevin.
" Masuk ka"
" Alya sebentar."
" Ada apa ka?"
Kevin membalas tatapan Alya yang terlihat cemas, iya sejak mereka memulai perjalanan tadi sampai sudah berada di rumah orang tuanya, Kevin melihat Alya benar-benar dalam kecemasan, tidak ada leluconnya, tidak ada komentar nya tentang mobil di depan yqng jalannya terlalu lamban, tidak ada omelannya yang selalu ribut dengan kemacetan.
" Kita tidak tau mereka sudah memperbincangkan apa di dalam sana, tapi apapun itu kuharap kamu tidak berbuat hal yang membuat hubungan kita menjadi tidak baik. Dan satu hal, aku tidak pernah mengatakan permasalahan kita pada orang tuaku, biarlah itu menjadi rahasia kita, karena aku masih ingin berjuang dengan baik, tidak akan menghancurkan seseorang yang lain dan yang masih kamu cintai"
Alya hanya memandang Kevin dengan ketidakmengertian.
" Kita masuk saja ka, Alya sudah sangat ingin tau apa yang akan terjadi setelah ini"
Nada bicaranya yang mulai meninggi membuat Kevin sedikit gerah. Mereka berjalan menuju pintu dengan perasaan yang tidak tenang
" Assalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Sudah berkumpul duduk para orang tua di ruang tamu, terdapat juga beberapa kue dan hidangan ringan di atas meja dengan gelas-gelas minuman yang sebagian sudah tidak terisi penuh lagi. Alya dan Kevin mencium tangan ke empat orang yang memang sedang menunggu kedatangan mereka
" Sudah makan Alya?"
Tante Risma menanyakan Alya yang sudah duduk di samping mamanya
" Sudah tante tadi sama ka Kevin"
" Oh iya"
Obrolan ringan mulai terdengar di ruang tamu sederhana itu. Sesekali Alya mengeluarkan ponselnya dari balik tas ransel, kemudian memasukannya lagi, sebentar mengeluarkan lagi, terlihat memencet sesuatu dan memasukannya lagi. Semua dapat tertangkap oleh Kevin, kamu sedang mengabari kalau sudah sampai kan Alya? bagaimana kalau kamu kabari saja sekalian kalau sekarang kita sedang berada di tengah orang tua kita.
Huuh ngomong apaan sih ini, bisa tidak gue tinggalin sebentar, gue mau ngabarin ka Afkar, tidak sabar segera dikeluarkannya ponsel dan mengetik pesan
" Assalamualaikum ka, Alya baru sampai"
Memasukan ponsel ke dalam tas dan merasakan ponselnya bergetar
" Waalaikum salam sayang, bisa aku telfon?".
" Nanti dulu ya ka, ini masih diajakin ngobrol sama mama dan papah"
Ponsel kembali dimasukan
Ponsel bergetar
" Iya, nanti kalau sudah selesai telfon ya sayang, Emuuah"
" Okee, sayang ka Afkar".
Ponsel disimpan.
Melirik Kevin, ngapain liat-liat? iya maaf, sebentar tadi chat sama sayang gue dihadapan ka Kevin, Tapi yang janji tidak chat di depan ka Kevin kan dia sendiri, bukan gue, dan rasanya gue tidak pernah menyetuju dan mengiyakannya.
Obrolan terhenti
" Alya, lulusnya berapa bulan lagi?"
Tante Risma beralih pada Alya yang sejak tadi repot sendiri dengan penyembunyian ponselnya
" Ini baru magang tante, setelah magang nanti baru skripsi, mudah-mudahan tidak sampai satu setengah tahun lagi bisa lulus"
" Wah bagus itu, biar kita cepat melaksanakan nya ya de Siska?"
Tante Risma memandang mama dengan tersenyum, mama pun membalas senyuman itu
Heeeyy sebentar,,
" Melaksanakan apa tante?"
Biar aja pertanyaan gue konyol, tapi gue harus mastiin kalau ini bukan soal perjodohan itu lagi. Tante Risma tertawa
" Ya melaksanakan pernikahan kalian, tante malah pengennya lebih cepat dari itu, kalau bisa bulan depan ya bulan depan, hehehe"
Alya memandang Kevin dengan tatapan membunuh
Kaka sudah tau ini kan? kaka yang meminta ini kan? kaka memang yang sangat memuluskan rencana ini kan? Sementara Kevin memandang mama nya dengan tatapan sendu, ma kenapa dibicarakan sekarang, jangan lagi ma, aku ini sedang berjuang dengan caraku, aku tidak ingin Alya yang sedang kuusahakan untuk bisa mencintaiku malah akan menjadi membenciku.
" Maaf tante, tapi hubungan kami ini tidak seperti yang tante bayangkan"
Keempat orang tua itu memandangnya dengan tatapan berbeda, sementara Kevin langsung berdiri dan mendekati Alya
" Mungkin kita bisa bicara berdua di depan"
__ADS_1
Alya menggeleng
" Alya mau bicara disini saja"
Kevin semakin gelisah
" Alya, kumohon kita keluar sebentar"
" Alya mau disini"
Mama merasa sangat tidak nyaman dan mulai bisa membaca apa yang akan Alya katakan setelah ini
" Alya, Kevin benar, kalian bisa bicara di luar dulu"
Alya terdiam, tapi masih belum bisa menerimanya
" Ma, Alya harus bicara dengan semua, bukan hanya dengan Ka Kevin".
" Alya,,"
Mama mulai menahan emosi dan tante Risma yang merasa dialah penyebab situasi menjadi tegang begini langsung menengahi.
" Kevin, biar Alya disini, mungkin ada yang mau diceritakannya, silakan sayang"
Alya menghembuskan napasnya seakan menghimpun kekuatan, sementara Kevin tidak kembali ke tempat duduknya semula justru duduk disamping Alya dan membuat Alya merapatkan duduknya lagi di dekat mama, Kevin semakin merasa keadaan sedang sangat tidak baik, Alya tolong jaga sikap dan bicaramu, jaga perasaan orang tuaku dan orang tuamu, aku tidak peduli dengan perasaan ku yang sudah lama tidak kamu pedulikan ini, tapi tolong perduli kan orang tua ku saat ini
" Maaf tante, om. Kami tidak bisa melanjutkan hubungan ini"
Hening, semua masih menunggu kelanjutannya
" Kami tidak saling mencintai"
Tante Risma memandang Kevin, hanya Kevin saja seolah meminta penjelasan, apa maksud Alya dengan kami?
" Bagaimana bisa, kalian kan sudah sangat akrab dan bahagia begini?" tante Risma bertanya dengan kebingungannya
Kevin masih saja mengkhawatirkan mulut Alya yang selalu asal dan terkadang sangat tidak terkontrol
" Alya hanya menganggap ka Kevin sebagai kakak dan saudara, Alya tidak bisa mengubahnya tante"
Hening lagi
" Bukankah itu sudah sangat baik, akan berubah seiring waktu"
" Sudah lama tante, dan masih saja seperti ini"
Kali ini Kevin sangat tidak sabar dan langsung menggenggam tangan Alya
" Kita keluar sebentar Alya"
Kevin berdiri dan masih menggenggam tangan Alya membuatnya mau tidak mau ikut berdiri dan melangkah di belakang Kevin
" Alya, tolong jaga bicaramu"
Alya memandang Kevin
" Jaga bicara Alya? kalian bisa jaga perasaan Alya?"
" Tentu saja tidak ada yang harus mereka jaga dengan perasaan mu, karena mereka tidak tau perasaan apa dibalik cerita kita?"
" Kalau begitu Alya ceritakan saja semua"
Kevin melepas kan genggam tangannya
" Kalau kamu menceritakan sekarang, kita benar-benar terancam berpisah"
" Ya sudah, Alya sudah capek begini ka"
Kevin bersandar di dinding.
" Alya, lakukan saja sesukamu sekarang, bicarakan saja seinginnya lidah mu mengatakan, aku sudah tidak mampu lagi, aku menyerah"
Alya memandang Kevin dan ikut bersandar pada dinding di sebelah Kevin
" Kenapa tidak masuk? lakukan Alya. Aku menunggu orang tuaku disini saja."
Alya hanya terdiam
" Silakan Alya, aku sudah lama begini, tidak akan terlalu buruk untukku walaupun juga tidak akan pernah baik. Lakukan sekarang, lalu orang tuaku akan keluar dan kami langsung pulang. Terima kasih untuk semuanya"
Kevin berjalan perlahan menuju mobilnya, diikuti Alya
" Kenapa mengikutiku?"
" Ka Kevin mau kemana?"
" Aku menunggu di mobil saja, di dalam pun kehadiranku sama sekali tidak mempengaruhi keputusanmu"
Alya menarik tangan Kevin tapi segera ditepiskannya dengan lembut
" Jangan kuatir, soal perusahaanku yang masih bekerja sama dengan perusahaan papahmu dan perusahaan Pandu akan tetap berjalan baik, aku tidak akan mencampur adukannya dengan persoalan pribadi kita, dan mobil itu, itu tetap akan menjadi milikmu, sebagai hadiah dan bukti aku pernah mempunyai cinta sejati"
" Ka,,,"
" Walaupun aku belum rela, tapi aku tetap mendoakan bahagiamu".
Kevin melambai pada Pa Budi yang dari tadi duduk di bangku kayu dekat pohon jambu dan memainkan ponsel nya, pa Budi mendekat
" Iya tuan?"
" Buka pintu, saya mau masuk"
Pa Budi menekan tombol pada remote nya, Kevin membuka pintu dan berniat masuk tapi Alya menghalanginya
" Kenapa menghindar begini?"
" Menghindar apa? aku sudah lama terusir tapi aku yang tidak tau diri"
" Ka,,"
" Masuk dan bicarakan Alya, aku tunggu orang tua ku disini, salam buat mama dan papahmu"
" Salam saja sendiri, bukankah kaka datang dengan salam, pulanglah dengan salam juga"
" Baiklah, tapi nanti, aku akan mendatangi mereka, setelah kamu selesaikan dengan orang tuaku"
" Kaa"
Alya masih berdiri di depan pintu mobil yang terbuka, Kevin sudah duduk tapi Alya masih saja berdiri didepannya
" Kamu takut? aku yang harus menceritakannya? baiklah, aku akan menceritakan tentang semua, tentang aku, kamu dan Afkar dengan versiku, tentang kesabaranku, tentang kebodohanku, tentang tidak berharganya aku, tentang ketidak pedulianmu dan untuk semua usahaku memperbaikimu tidak perlu, aku sangat ikhlas melakukan dan memberikannya"
" Baiklah Alya saja"
Alya berbalik dan berjalan pelan menuju ke dalam rumah. Melihat empat orang yang masih dalam posisinya.
" Kevin mana?"
Papah melihat Alya masuk sendiri bertanya padanya
" Ka Kevin menunggu di mobil"
Om Hadi dan tante Risma saling berpandangan, tidak ingin keadaan semakin tidak nyaman om Hadi mengambil sikap
" Mungkin ini akan kita bicarakan lagi nanti, kalau begitu kami mohon pamit dulu"
" Ee, pulangnya kemana?"
Mama ikut berdiri
" Malam ini menginap di tempat Lusi dulu, sudah capek juga kan tadi menghadiri acara wisuda"
" Iya"
Tante Risma memandang Alya
" Terima kasih Alya sudah bersedia mendampingi Kevin tadi"
" Iya Tante".
Alya mencium tangan Tante Risma dan om Hadi
" Assalamualaikum
"Waalaikum salam"
Suara mobil yang meninggalkan halaman menjadi tanda bahwa malam ini akan ada sidang dan pastinya akan penuh dengan emosi.
" Alya, kita perlu bicara"
Alya duduk di sofa dan meneguk teh hangat yang ada di depan nya
Membuka ponsel dan membuka aplikasi galeri
Ka, temani aku, kuatkan aku, bantu aku, doakan aku, aku sedang memperjuangkan kita, sendiri malam ini.
__ADS_1
" Silakan ma, Alya sudah siap"
Meletakan tas ransel disamping dan menggenggam ponsel nya, pegangi aku ka, ini untukmu.