
Tiket sudah, koper sudah, tas pinggang sudah, pamitan sama teman-teman satu kost sudah. Afkar memandang sekeliling kamarnya, kamar yang sudah hampir 2 tahun dihuninya. Selamat tinggal kost ku, semoga penghunimu yang baru nanti akan memperlakukanmu dengan baik. Afkar memasang sepatu kets putihnya, menggulung kemeja sampai hampir ke siku seperti yang pernah Alya ajarkan, bercermin sebentar dan membiarkan rambutnya beberapa helai jatuh ke alisnya yang tebal.
Sebenarnya penerbangan masih lama, tapi karena ia menggunakan taksi online, dia tidak bisa memperkirakan menit keberapa ia sudah berada di bandara. Memasukan 2 roti kecil ke dalam tas pinggangnya untuk jadi sarapan di taksi nanti. Perjalanan ke bandara menempuh waktu 20 menit.
Membuka pintu kamar, dan sudah berdiri seorang gadis mungil dengan memakai kemeja hitam bergaris vertikal putih, celana jeans panjang dan tas selempang merah muda.
"Alyaaa"
Alya cuma tersenyum
" Masuk Al"
Alya perlahan memasuki kamar Afkar yang sudah kosong, lemari-lemari kecil Afkar sudah ia bagikan ke teman-teman kost nya.
" Pesawat jam berapa ka?"
" Masih 2 jam lagi Al"
" kaka pergi ke bandara sama siapa?"
" Sendiri"
" Boleh Alya mengantar ka?"
Afkar mengangguk" Aku senang kalau kamu bisa menemaniku Al, Aku pesan Taksi dulu ya"
Afkar mulai memesan taksi online di handphone nya
" 5 menit lagi Al taksi nya datang"
Alya cuma bisa diam tanpa bisa berkata apa-apa, Afkar juga.
Afkar tiba-tiba meraih jemari Alya
" Maafkan aku Al"
" Alya yang minta maaf ka"
Padahal keduanya tidak tahu harus meminta maaf untuk apa, dengan permintaan maaf sepertinya sakit dan sedih ini sudah jauh berkurang.
" Taksi nya sudah di depan, kita jalan Al".
Alya berjalan diikuti Afkar dibelakangnya sambil mendorong kopernya.
__ADS_1
.Di dalam taksi aksi diam pun masih terus berlanjut, sungguh Alya tidak marah, ia cuma bingung harus bicara apa, dan Afkar memilih diam karena tidak berani bicara kalau nanti membuat Alya ngambek lagi, ini aja sudah sangat bagus Alya mendatanginya dan mau menemaninya mengantar ke bandara.
" Ka, nanti kalau sudah sampai kabarin ya"
" Iya Al, pasti kukabari"
" Kaka boleh chat Alya, boleh nelf Alya kapan aja".
huuh pertanyaannya kemarin malam, baru dijawab sekarang, seandainya di jawab kemarin kan tidak ada sakit-sakit hatian begini. Afkar kembali meraih jemari Alya dan kali ini tidak ingin dia lepaskan, ingin sekali di bawanya jemari itu ke dalam pelukannya agar ia merasa nyaman meninggalkan Alya. Tapi apa hak nya untuk meminta lebih pada Alya, Alya bukan siapa-siapanya. Alya juga merasakan kehangatan dari jemari tangan Afkar, betapa ingin ia membalas genggam itu dan mengatakan aku akan menunggu ka, menunggu apa Al? Afkar bahkan tidak mengatakan apa-apa.
20 menit kemudian mereka sudah sampai dan duduk di ruang tunggu. Afkar tidak pernah sedetikpun melepaskan tangan Alya dari jemarinya.
" Al, kita duduk disini dulu ya, masih ada waktu"
" Ka, kalau kaka sudah kerja disana, kaka masih mau jenguk Alya disini?"
" Aku janji Al, aku akan datang kesini, tapi aku belum tau kapan waktunya, nanti pasti akan kukabari"
" Kaa,,"
" Iya Al,,??"
Alya menggeleng " enggak jadi"
Alya mengangguk
" Dan satu lagi, sampaikan terima kasihku pada Yanti. Terima kasih sudah mengenalkan aku dengan seorang wanita seperti kamu".
Alya tersipu.
"kuliah yang baik ya Al, om dan tante sayang banget sama kamu, beliau pasti mengharapkan kamu berhasil"
" Ka, boleh kita selfie berdua?"
Afkar mengangguk, Alya meraih handphone di dalam tas selempangnya dan membuka aplikasi kamera. Afkar mendekatkan wajahnya ke wajah Alya, Alya langsung salah tingkah, tapi berpura-pura cuek. Dengan mengambil kamera depan, disorotnya wajah mereka berdua. Cukup dengan 5 foto dengan fose yang berbeda. Alya dan Afkar melihat hasil foto dari kamera Alya
" Cocok ya Al"
" Iya"
Mereka berdua sama-sama kaget dan saling tersipu
" Kirim ke wa ku ya Al"
__ADS_1
Afkar langsung mengalihkan pembicaraan
" Foto pertama kita ya ka"
" Semoga foto selfie berdua lainnya segera hadir ya Al" Afkar terkekeh
" Iya, kalau kaka datang lagi" sahut Alya sambil memasukan handphone nya.
" Al, aku ada bawa roti, kita makan disini yu" Alya meraih roti yang disodorkan Afkar
" Makasih ka"
" Al, kamu belum jawab maaf ku tadi"
" Iya udah Alya maafin, kalau maaf Alya sudah kaka maafin qa?"
" Untuk kamu stok maaf aku enggak ada habisnya, kalau mau habis, dicetak lagi'
" Whahaaaha".
Terdengar bunyi panggilan untuk penumpang pesawat jurusan Surabaya. Afkar berdiri dan menarik tubuh Alya dari duduknya " Al, aku pamit, jaga diri baik-baik, aku pasti pulang Al menemui kamu lagi"
Tiba-tiba air mata Alya jatuh tanpa di undang, Alya tidak bisa lagi bicara. Afkar menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya dan berbisik di telinganya
" Aku akan selalu mengabarimu Al, dan aku janji akan pulang, jangan menangis lagi, aku juga sedih".
Afkar melepaskan pelukannya dan membawa jemari Alya ke bibirnya, mengecup jari itu dengan lembut dan mengembalikan lagi ke posisinya. Afkar mengambil koper dan tas pinggangnya, berjalan menjauhi Alya. Alya tidak melepaskan pandangannya sampai Afkar berada jauh, Afkar melambaikan tangan terlihat bibirnya bergerak mengatakan sesuatu, tapi Alya tidak bisa mengerti apa yang diucapkan Afkar, Alya hanya bisa melambaikan tangannya. Afkar sudah benar-benar hilang dari pandangannya, Alya kembali duduk di kursi nya semula, kaki dan tangannya teramat lemah. Sampai saat terakhir Afkar tidak menyatakan apapun, tidak ada kalimat cinta, tidak ada permohonan untuk menunggu, tidak ada pelarangan untuk jalan dengan siapapun. Alya memandang jarinya yang baru saja di kecup Afkar, apa artinya ini ka? Harusnya kamu tau betapa mahalnya harga kepastian, apalagi bagi makhluk yang bernama perempuan. Bukan sekedar selalu membombardirku dengan senyum dan tatapanmu yang membuatku menjadi lemah, aku perlu kata untuk bisa memastikan aku harus bertahan atau pergi.
Adakah jalan keluar selain menunggu?
Di dalam pesawat
Kamu menangis?
Aku melihat cintamu Alya, aku menemukan perasaan jujurmu. Percayalah, aku pergi untuk mengubah jalan hidupku.
Kamu terlalu sempurna sejak dilahirkan
Keluarga, penghidupan, teman-teman.
Jika ku beri rantai pada hatimu, kamu terkekang untuk keluar, bahkan mungkin kamu kehilangan dunia unikmu di usia yang terlalu muda. Aku tidak ingin menyakitimu dengan mengucapkan aku mencintaimu. Sebenarnyalah, aku jauh lebih ingin memilikimu, memberimu cinta yang pantas, tapi bukan sekarang. Aku harus sukses, aku harus membuatmu jauh lebih bahagia dan nyaman dari keadaanmu sekarang. Tunggu aku dengan aku yang baru. Jika kamu memang untukku, kamu pasti bisa menunggu. Dan jika kamu menemukan sesorang yang lebih membuatmu nyaman, kamu tidak perlu merasa bersalah meninggalkanku karena aku tidak memintamu menunggu. Aku hanya ingin, saat aku datang lagi padamu, aku sudah jauh lebih baik dan akan menyambungkan kehidupanmu yang sudah sangat baik menjadi lebih baik lagi. Kamu masih memandangku ketika kuucapkan Aku sayang kamu, kamu tidak akan bisa membacanya karena kita tadi sudah sangat jauh. Aku hanya akan perlahan-lahan memberitahumu tentang hatiku, melalui hubungan berjarak ini, perlahan, yang memberikanku tanda sayang setiap harinya dan itu kumulai sekarang. Jarak bukan alasan untuk memisahkan, ini sebentar saja
Kita hanya akan perlu waktu
__ADS_1
Menatap wajah di handphone yang baru dikirim Alya. Aku mencintaimu Al, aku akan pulang,,, melamarmu.