
Malam ini kubawa masuk pilihan terkunci dalam pintu bergembok
Meyakinkan diri ini semua adalah kebaikan
Telah terkunci pilihan-pilihan yang bijak
Aku yang memilih pergi, tanpa turut langkahmu mengikuti
Hingga pucuk harapan usang
***** di giling waktu menunggu
Sembari kulipat ingin dengan rapat
Bukan puisimu yang membuatku gila kata
Akupun seorang penyair miskin yang kehilangan pena, senyum itu tak luruh di genggam waktu dalam sajak rindu
Pada sehampar tanah yang sudah ditakdirkan
Aku tak menginginkan air mata yang tak juga kau sudahi, aku ini dimana kau tempatkan?
di pihakmu? atau aku sebenarnya musuhmu?
Aku hanya seorang manusia
Yang tertatih pada yang bernama kehidupan
Berlindung di bawah doa-doaku
Cobaan yang sepertinya belum juga selesai selesai
Aku kah sang perindu
Yang berlagu resah dan pilu
Yang merindu tanpa henti
Ku disini mengalunkan rindu yang resah
Aku disini memuja bayangmu
Setiap detik nadiku dan bibirku hanya memanggil namamu
Akukah sang pungguk yang kerinduan
Hanya bayang mu yang bisa menyelesaikan
Afkar menyandarkan tubuhnya pada tepi tempat tidur. Mengulang salam perpisahan dengan cinta ku.
Sudah jam 10 malam Alya, kita pulang kataku. Kamu hanya menggeleng, katamu nanti saja.
Tapi kamu harus pulang, tidak baik angin malam ini untukmu, kamu hanya bilang setelah ini kamu akan mencintai angin malam dan akan selalu membisikan namaku agar sampai padaku. Kamu masih saja memelukku, tanpa tangisan lagi.
Sudah setengah 11 malam bisikku ditelingamu, kamu masih menggeleng, biarkan saja begini, kamu tidak mau berpisah. Kuajak kamu bercanda, aku pegal begini, kamu hanya bilang, mana lebih menyakitkan pegal begini atau berpisah secepat ini. Aku berbisik lagi, sudah jam sebelas, tidak baik kita masih berada di luar berdua begini. Kamu mengangkat kepala dan melepaskan pelukanmu. Katamu jika ini adalah pertemuan terakhir kita, kamu ingin sekali lagi berada di teduh mataku, apakah mataku senyaman itu menurutmu? tapi kubiarkan saja matamu bebas melihatku dari arah manapun yang kamu mau, selama ini juga begitu kan?
Tiba-tiba wajah mu mendekat, aku bisa merasakan dan mendengar deru napasmu memburu, kamu mengejar apa? bibir tipis lembutmu yang selalu banyak kata untuk bercerita,untuk mengomel, untuk mengumpat, tapi juga kamu gunakan ke banyak hal manis, menyanyikan lagu rindu, cinta, membacakan puisi, dan kini bibir itu sudah menyentuh bibirku, begitu lembut, tapi dingin sekali, kamu sedang apa? aku mencoba untuk sadar, kamu membuat kita menjadi seperti tidak bernapas, tapi kenapa kita tidak menghentikannya, aku membalasnya dengan lembut juga, sungguh cintaku, ini bukan napsu, kita tidak pernah melakukan ini bahkan di saat yang sangat mendukung sekalipun, karena kita adalah sepasang pencinta yang memurnikan cintanya.
Kamu melepas perlahan dan menatapku, kamu bernapas panjang, kamu berkata dengan memegang kedua pipiku, katamu aku adalah cinta pertamamu, dan ini adalah ciuman pertamamu, semua yang pertama sudah kamu berikan padaku, jika setelah ini kamu memang untuk orang lain, kamu sudah mengikhlaskannya karena aku sudah mendapatkan hal pertama darimu. Aku tidak bisa mengucapkan apapun, aku memelukmu dan mengucapkan bahwa kamu adalah sesuatu terbaik yang pernah hadir di hidupku, sebuah keindahan yang tidak pernah ada sebelumnya maupun sesudahnya.
Aku mengantarkanmu pulang, di depan pintu kost mu, kita berjabat tangan dan saling berpandangan, aku ingin mengulang perkenalan pertama kita, aku tidak menduga kamu bahkan menghapal semua kata-kata yang pernah kita ucapkan. Kuulurkan tangan ku dan berkata
" Kenalin aku Afkar"
Kamu pun menjabat tanganku dengan gaya pertamamu yang kulihat sangat konyol dan lucu, kamu pun menjawab dengan banyak
" Gue Alya, teman sekamar Yanti, gue mahasiswi semester 1, tadi sebenarnya ogah di ajakin kesini karena baru aja pulang kuliah, masih cape, tapi ne anak maksa terus kaya balita pengen jajan permen tapi tidak dikasih mamanya, jadinya kan gue pusing, kalau tidak di iyain, ada kali ntar malem qa bisa tidur denger omelannya, gue qa minta bayaran sih, tapi kalo boleh,,,"
Kamu terputus, aku lupa menanyakan saat itu kamu mau apa, aku juga tidak pernah menanyakannya lagi sampai sekarang.
Aku tersenyum, kamupun tersenyum
Memangnya kemarin mau minta apa tanyaku
Kamu tersipu, bunga jawabmu. Aku menatap sedih wajahmu, kenapa hanya minta bunga, aku sudah memberikan semua milikku sekarang, kalau masih mau bunga, nanti aku kirimkan tawarku, tidak,,, semua yang aku berikan sudah membuatmu bahagia jawabmu.
Setelah shalat subuh Afkar meraih ponselnya dan menekan tombol hijau
" Assalamualaikum ka"
" Waalaikum salam bidadariku"
" Sudah shalat ka?"
" Sudah, aku sudah mau berangkat, boleh aku video call?"
" Boleh"
__ADS_1
Klik
" Selamat pagi bidadariku"
" Pagi ka"
" Terima kasih sudah mau menerima panggilan video ku, mungkin ini yang terakhir"
" Kaka masih bisa video call kapan pun kaka mau"
" Tidak, aku akan menghargai hubungan kalian"
Alya tersenyum pahit
" Semoga skripsinya lancar, bisa lulus dengan memuaskan dan mendapat pekerjaan yang baik dan terhormat, sukses dan bahagia dunia akhirat"
" Aamiin, kaka juga ya"
Afkar mengangguk.
" Boleh sekali lagi aku memanggilmu sayang?"
" Katakan lah sebanyak yang kaka mau".
Air mata itu sudah mengalir lagi, aaakkh, aku ingin menghapusnya, sudahlah Alya, jangan melemah lagi, aku hanya ingin pamit.
" Aku pamit sayang, jika nanti kita bertemu lagi, semoga kita sudah menjadi seseorang yang jauh lebih baik, jauh lebih terhormat, jauh lebih berbahagia"
Alya tidak mengucapkan apapun lagi, tangannya sibuk menyeka air mata
" Sudahlah, kita akan baik-baik saja dan akan berbahagia, tidak ingin mengucapkan apapun untukku?"
Alya menatap layar dan terisak
" Hati-hati ka, terima kasih sudah bersedia untuk menjadi cinta pertama Alya dan bahagia-bahagia yang sudah kaka berikan selama ini"
" Maafkan aku yang tidak bisa lagi menepati janji untuk membahagiakan dan menjagamu seumur hidupku"
" Maafkan Alya juga sudah membuat hidup ka Afkar menjadi rumit begini"
" Terima kasih sayang untuk pelajaran hidup yang mahal ini, aku akan belajar lebih banyak lagi"
" Iya ka"
" Assalamualaikum"
" Emuuah"
" Alya akan selalu menyayangi ka Afkar sejauh apapun kita berpisah sampai akhir hidup Alya".
" Aku juga begitu cinta sejatiku"
Afkar mengangguk. Alya melambaikan tangannya yang gemetar.
Klik.
Sebulan kemudian
Afkar pergi ke Jakarta menemui ibu, kakak dan adiknya, sudah 6 bulan tidak ke Jakarta dan menemui mereka. Berdua duduk di kursi tamu di rumah kaka Afkar yang bekerja sebagai perawat. Ibu memandang putra nya dengan perasaan sedih, kenapa wajahmu terlihat menderita nak.
" Bu, saya mau minta izin".
" Mau pergi kemana"
Wanita setengah baya bertubuh kecil tapi memiliki kesabaran dan kekuatan besar itu menatap penuh kasih sayang pada anaknya. Afkar menatap wajah lembut ibunya, wanita ini begitu kuat, tidak pernah lemah, aku bahkan tidak pernah mendengar dia mengeluh, saat ayah masih ada, dan setelah ditinggal beliau masih sangat tegar.
" Entahlah bu, saya hanya ingin beristirahat"
Ibu menatap Afkar dan memintanya mendekat, Afkar tidak tahan melihat wajah lembut ibu yang sudah dapat membaca Afkar sedang dalam kesedihan yang luar biasa
" Ada apa nak?".
Afkar memeluk ibunya erat
" Maafkan saya bu".
Ibu hanya membelai rambut Afkar dengn kasih sayang nya, kasih sayang yang suci, tulus, tidak pernah meminta balasan apapun. Yang ada saat anak-anaknya rapuh, yang berdiri di depan saat anak-anaknya takut dan selalu menguatkan.
" Ibu sudah dengar dari Andi, tapi ibu ingin dengar dari kamu sendiri"
Afkar melepaskan pelukannya dan menatap ibu
" Bu, saya sudah berusaha untuk memberikan ibu calon menantu yang baik, yang cantik, yang terpelajar, dan yang bisa membahagiakan siapapun yang bersama, kamipun saling mencintai, tapi keadaan yang membuat ini berakhir"
" Keadaan kita?".
Ibu menggenggam tangan Afkar dan memberinya semangat
__ADS_1
" Kita tidak usah berpura-pura terlihat lebih dari keadaan sebenarnya"
" Kekasih saya tidak pernah mempermasalahkan itu bu, bahkan sampai saat terakhir kami berpisah dia sama sekali tidak menanyakan itu, hubungan ini berakhir karena adanya seseorang yang jauh lebih mapan materi, sehingga orang tuanya meminta untuk mengakhiri hubungan kami"
" Sebagai orang tua wajar menginginkan anaknya mendapat kehidupan yang dirasanya akan lebih baik, kamu tidak dendam kan nak?"
" Tidak bu, saya hanya sedih harus berpisah dengan orang yang saya sayangi dengan cara begini".
" Semoga kamu mendapatkan yang lebih baik nak, doa ibu selalu untukmu"
" Terima kasih bu".
" Kamu mau minta izin apa tadi?"
" Saya mau pergi bu, mungkin dengan ini saya akan bisa keluar dari kesedihan saya"
" Kenapa harus pergi? perbaiki saja keadaan hatimu".
" Saya tidak mampu tetap di Surabaya bu, kami sering berkomunikasi di tempat kerja saya, saya duduk di kursi kerja, atau saya berada di tempat proyek, atau saya sedang makan di kantin maupun di warung atau tempat makan, di kamar menjelang tidur dan setiap pagi kami saling mengingatkan untuk shalat subuh, kami selalu melakukan panggilan telefon atau panggilan video, dan satu bulan ini ketika mata saya atau badan saya ada di tempat-tempat biasa kami berkomunikasi itu saya merasa sangat hancur, wajahnya, senyumnya, candanya, tawanya, semua seakan membuat saya hampir gila bu"
" Akan hilang dengan sendirinya nanti"
" Tapi nanti itu yang membuat saya tidak bisa bertahan lagi"
" Naak, setiap orang pernah mengalami kejatuhan, kesedihan, kehilangan, dan semua akan bisa dilewati kan?"
" Saya tau bu, tapi itu bagi yang tidak bisa mengelak, saya masih mempunyai jalan untuk keluar dari kesedihan ini, saya ingin melupakan ini dengan segera, saya tidak bisa menanggung kesedihan yang luar biasa ini, seandainya saja kami berpisah karena saling membenci saya akan bisa dengan mudah melupakan ini, tapi saya melihat matanya yang menangis, bibirnya yang mengucapkan dia masih saja mencintai saya, dan tangannya yang erat memeluk saya karena tidak ingin berpisah, itu yang membuat saya semakin sakit dan menderita. Saya hanya bisa menyebut namanya sebagai penawar luka dan derita, saya seperti kehilangan jiwa, saya berada bebas di dunia ini, tapi hati dan akal saya kembali ke dia dan kembali ke dia lagi"
" Secantik apa dia Afkar?".
" Dia seperi satu bintang yang paling terang di langit, saya memandangnya dengan penuh pengharapan, tidak akan habis bibir ini memujinya, wanginya seperti melati bila dia tersenyum yang bisa bersaing dengan kecantikannya hanyalah purnama, saat dia berkedip, hanya venus yang akan bersedia menandingi kerlipannya, jika dia tertawa hanya senja dan matahari terbit yang pantas menandinginya"
Ibu menatap sedih Afkar
" Jangan begitu nak, semua wanita juga cantik"
" Wanita tercantik yang pernah saya temui adalah ibu, dan kedua adalah kekasih saya, Alya"
" Dia sudah menjadi milik orang lain, sudah lah nak, relakan itu"
" Saya sudah belajar merelakannya bu, dan sayapun mendoakan nya agar berbahagia seperti ibu dan ayah ajarkan pada saya"
" Iya"
" Saya hanya ingin bisa bebas dari kesedihan dan derita ini bu"
" Jadi kamu mau kemana?"
" Saya belum tau bu, saya hanya akan berani melakukannya setelah ibu merestui saya"
Ibu mengelus pipi Afkar
" Selama tujuanmu baik, ibu selalu merestuimu nak, raihlah bahagiamu, ibu sealu mendoakan yang terbaik"
Afkar mencium tangan tua ibu yang semakin renta dengan penuh rasa sayang
" Terima kasih ibu, doakan saya".
Kamu pernah menjadi penyembuh atas luka yang pernah ada padaku, kau sebut itu lemah. namun kini pun kamu menjadi penyakitku, bahkan terlampau parah.
Perlahan ku ciptakan mahkota dengan harapan kita akan bersanding selamanya, namun kini kau malah memakainya untuk bersanding dengan orang lain.
Kamu adalah hartaku, namun terampas dan ditawan oleh tangan lain.
Kau membayangkan bahawa kau melihatku,
tapi dalam kenyataannya aku tidak ada lagi.
Aku telah tiada dan hanya yang dicintai yang kini tersisa.
Kusebut kita adalah masa depan, karena rasa dan hubungan ini beralasan.
Namun sekarang sudah menjadi masa lalu, walaupun aku dan kamu masih ada, tapi sudah berakhir rencana menjadi kita.
Di setiap pagi aku ingin membuka hari dengan menyapamu, apa kabar bidadari? menatap gigil pagi dengan embun yang berjatuhan di ujung daun. Kita mesra dan duduk sebentar bertemu di balik layar. Menikmati terbit mentari sambil mencumbu wangi rumput liar, dan mencium kulitmu dengan keharuman.
Akulah puisi yang sering kau tulis pada lembaran kertas, akulah rindu yang sudah menjadi masa lalu, tapi masih kau dekap erat.
Mendoakan hal baik akan terjadi padamu hari ini. Tapi tidak bisa lagi, air matamu akan menumpah lagi jika itu kulakukan dan membuatku sakit dan sakit lagi.
Setelah mengurus resign dan meminta surat cuti belajar selama 6 bulan pada kampusnya Afkar sudah membulatkan tekat untuk pergi, dia tidak pernah lagi menghubungi Alya karena tidak ingin lebih menyakiti Alya jika kembali mendengar suaranya apalagi jika memandang wajahnya lewat panggilan video, aku tidak ingin melihat air matamu jatuh lagi, lalu akan di hapus oleh tangan lain. Kita hanya perlu waktu untuk bisa saling melupakan.
Afkar memasukan beberapa potong pakaian dan surat-surat penting ke dalam 2 koper. Iya, hari ini dia akan berangkat menuju satu kota yang pernah ia datangi sekali saat dia masih kecil bersama ayah ibunya. Seminggu yang lalu dia menghubungi satu teman lama saat mereka satu kost di Yogya, Tama namanya, sekarang dia sedang pulang ke kotanya dan tinggal bersama keluarganya setelah kuliahnya selesai dan bekerja sebagai guru honorer di sebuah sekolah menengah atas.
Afkar menaiki taksi online dan menuju bandara Juanda. Duduk sendiri di ruang ke kerangkatan dan menunggu pesawat. Masih saja wajah kekasih selalu hadir di ingatannya, wajah yang selalu ceria, tertawa, penuh canda, selalu bergembira dengan segala kelucuan dan kekonyolannya, gadis dengan gitar dan lagi-lagunya, gadis dengan penampilan sesuka hatinya tapi tetap saja terlihat manis. Tapi akhir-akhir ini wajah itu berubah, menjadi wajah sendu dan sering dialiri air mata, wajah sedih kehilangan walau sudah mendapatkan pengganti sebelum kehilangan itu sendiri.
Satu panggilan membuatnya berdiri dan bergegas mengikuti penumpang lain dengan jurusan yang sama.
__ADS_1
Pesawat jurusan Surabaya sudah melakukan take off, menuju satu kota di Kalimantan. Banjarmasin kota seribu sungai.