Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Beri Aku Kepastian


__ADS_3

Cuaca terik dan panas menyengat membuat siapapun yang berada di bawah matahari akan mencoba menghindarinya, tapi tidak Alya dan Kevin. Mereka berdua terlihat nyaman saja karena sedang berada di dalam mobil Kevin


" Kita makan siang di mana Al?"


" Terserah kaka aja, Alya ini pemakan segala"" " Takut juga dengarnya Al, jangan-jangan nanti aku bisa kamu makan"


" Bisa aja sih ka, tergantung kondisi"


" Whaha"


" Di resto yang baru buka itu ya Al?"


" Boleh ka, kemaren malam Alya sama teman-teman makan di sana"


" Enak Al masakannya?"


" Enak ka,banyak pilihannya"


Di restoran baru sudah banyak para pengunjung yang datang untuk makan siang, Alya membaca menu satu persatu, ayam bakar dan goreng, bebek bakar dan goreng, nila bakar dan goreng, ikan laut bakar dan goreng. Dilengkapi juga dengan berbagai sayuran dan sambal pedasnya. Alya memilih ikan bakar dan lalapan, sedangkan Kevin memesan ayam bakar. Untuk minumnya mereka memesan es teh dan 2 botol air mineral


" Banyak juga pengunjungnya ya Al"


" Iya"


" Al, aku boleh tanya sesuatu?"


" Boleh, kenapa ka?"


" Kata tante kamu belum pernah pacaran, benar Al?"


Alya mengangguk


" Pasti bukan karena tidak ada yang naksir kan? gadis semanis kamu pasti banyak yang ngantri"


Kevin mulai menggoda


" Memang mau nonton konser ka"


Alya tertawa


" Jadi hubungan kita sekarang bagaimana,?"


" Bagaimana apanya ka?"


" Apakah kita bisa meneruskan keinginan orang tua kita?"


" Kaka ada niat menolaknya?"


" Enggak, aku malah mau serius"


" Jalanin aja la"


" Jalaninnya artinya aku sudah berhak mencintai kamu?"


" Memang untuk mencintai perlu izin, kaka lucu"


" Bukan begitu, aku tidak mau saja mencintai seseorang yang tidak berniat mencintaiku. Untuk apa kita menjalani kalau tujuan kita tidak sama, dan aku tidak ingin berjuang sendiri dalam hal perasaan. Akan ada kemungkinan baik untuk sesuatu yang kita awali dengan baik. Aku tidak ingin coba-coba dalam masalah masa depan. Aku tidak akan memaksa jika aku bukan yang kamu harapan, tapi jika kamu sudah memberiku kesempatan dan kamu mulai mencoba mau belajar, aku berusaha akan menjadikan kamu prioritas dalam hidupku"


Alya mendengarkan penjelasan Kevin, dewasanya kamu berpikir ka, aku sampai beberapa kali pengen buka kamus buat memahami artinya.


" Alya tidak bisa berpikir sejauh itu, Alya tau dalam hidup kita harus punya tujuan. Tapi kita tidak bisa merencanakan kemana hati ini harus kita jatuhkan di tempat yang pantas menerimanya, itu akan terjadi sendirinya ka"


" Aku setuju Al, apa yang kamu ucapkan itu benar, tapi setidaknya jika kamu memang berniat untuk serius, kamu akan bisa membatasi di jiwa mana yang boleh dan tidak boleh kamu masuki untuk jatuh cinta"


Alya menghela napas panjang, iya ka, membatasi jiwa mana yang boleh dan tidak boleh kumasuki untuk jatuh cinta, aku bahkan tidak lagi punya batasan, aku sudah menggenggam satu jiwa untuk aku cintai, dia yang sudah berhari-hari ini tidak lagi banyak menghubungiku. Sesuatu yang kamu pikir tidak penting dan biasa, tapi bagiku mendengar kabarmu adalah saat istimewa. Ceritaku yang mungkin membuatmu bosan dan tidak jelas. Juga pesan singkat yang hanya kamu balas dengan satu huruf Y. Itu seperti melemparku ke jurang rasanya. Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja, panggilan telf yang akan kamu angkat dan berkata " Aku sedang meeting, sebentar ya". Dan pesan yang bertanda ceklis dua dengan warna biru tapi akan kamu balas 5 jam kemudian. Mendengar kabarmu adalah sesuatu yang membuatku bahagia, dan setiap kamu memberikanku kabar sederhana cukup membuatku bertahan dengan rasa bahwa semua cukup kamu saja. Liat aku Afkar,,, seharusnya beberapa hari ini kamu lebih memperhatikan aku, lebih sering mengabariku, disampingku sudah ada seseorang yang sedang ingin berjuang bersamaku, ada seseorang yang sedang menungguku untuk melepaskankanmu sedangkan aku sama sekali tidak tau apakah kamu ingin juga mempertahankan aku.


Setiap ingin berdiri melepas penat, Afkar kembali disodorkan dengan berkas ataupun kunjungan direksi. Kali ini Afkar meraih handphone, Alya menchat 2 jam yang lalu


Bidadari


"Tes"


1 jam kemudian


Bidadari


" Ka"


1 Jam kemudian


" ."


Hanya tanda titik? Alya marah?


Afkar baru mau memencet tombol hijau untuk memanggil Alya, pintu rungannya sudah di ketuk


" Iya masuk"


" Permisi pa, ada tamu dari PT. Duta Persada, Asisten Manajer menugaskan Bapak yng menerimanya, beliau sedang ada meeting"


Afkar mengangguk dan meletakan handphone nya di atas meja kerjanya. Maaf Alya, aku sedang sibuk, aku akan menghubungimu nanti.


Diary merah jambu sudah dikunci, Alya mulai memejamkan mati, terdengar notifikasi


Ka Afkar


" Assalamualaikum".


Bidadari


" Waalaikum Salam"


Ka Afkar


" Maaf Al, aku sedang sibuk, seharian ini banyak sekali pekerjaan karena aku juga menangani divisi lain"


Bidadari


" Enggak apa-apa ka"


Ka Afkar


" Apa cerita hari ini Al?"


Bidadari


" Kaka sudah sibuk seharian, sekarang sudah jam 11 malam, mungkin kaka perlu istirahat"


ka Afkar


" Aku sudah 3 hari tidak mendengar ceritamu, aku juga belum mengantuk"

__ADS_1


Bidadari


" Tidak ada yang terlalu penting ka, Alya mengantuk, besok kuliah pagi"


Ka Afkar


" Oh iya sudah, istirahat ya Al, selamat malam, mimpi indah, Assalamualaikum"


Bidadari


" Waalaikum Salam"


Klik.


Ka, kamu mulai mengajariku perlahan untukku tidak lagi berbagi cerita denganmu


Tidak lagi sebagai orang yang kucari di pagi buta dan membuka handphone ku menunggu sapaanmu yang akan membuka hari indahku.


Tidak lagi sebagai penjaga selain doa tidurku yang akan mengusir mimpi buruk setelah memberi salam tidurku.


Kamu sudah sangat lama menjadi kebiasaanku.


Sebenarnya aku merasa sangat cemburu pada kesibukanmu sehingga kamu lupa menyapaku dan melewatkan begitu saja pertanyaan kabarku


Apakah aku tidak penting lagi? oh maaf memang aku tidak pernah kamu akui penting dalam hidupmu.


Dan jika aku sekarang sedang belajar untuk mengabaikankanmu bukan karena aku sudah kehilangan rasa, tapi kamu yang mengajarkan untuk ku terbiasa dan harus bersikap biasa-biasa saja.


Kamu begitu sibuk mengejar dengan apa yang ada di kepalamu, kamu perlu sukses entah untuk siapa.


Sesekali menatapku untuk memastikan apakah aku masih di sini.


Aku baik-baik saja dan masih dengan perasaan yang sama, tapi sekelilingku yang membuatku sekarang menjadi tidak biasa. Aku diperlakukan dengan sangat baik oleh sesorang


Aku tidak berniat hatiku untuk berubah


Tapi waktu bisa saja mengujiku .


Astaga, sudah jam 11 malam, aku bahkan baru saja pulang dan tidak menyadarinya. Apakah Alya marah? Membuka kotak perhiasan berisi kalung dengan liontin bertulisan ALFAR. Sebentar lagi aku akan pulang Alya, aku akan mengungkapkan semua perasaan ku. Sesuatu yang sudah kupendam hampir 2 tahun. Semoga kamu masih baik-baik saja. Afkar memeriksa status wa, bidadari melakukan apa hari ini, sebuah foto selfie sedang tersenyum di depan sebuah makanan, sepertinya sedang makan siang di restoran, wajahmu manis sekali sayangku. Tapi kenapa sendiri, kenapa tidak bersama teman-teman?. Perlahan menggeser ke bawah mencari status Sylvia, Sylvia justru memasang status sedang di shoowroom bersama seorang pemuda tampan, ini kan Pa Agus. Apakah Alya makan siang bersama Arga dan Roni? sayang aku tidak punya no handphone Arga, aku tidak bisa melihat statusnya. Afkar segera menghilangkan pikiran-pikirannya, Alya adalah gadis yang sangat ramah dan mudah bergaul, mungkin sedang bersama temannya yang lain. Setelah mandi, Afkar pun merebahkan diri dan mulai membayangkan rencana apa yang akan dia lakukan saat bertemu kekasihnya nanti, aku akan memberikanmu kejutan Al, tunggu aku.


Ka Kevin


" Assalamualaikum"


Alya


" Waalaikum salam ka"


Ka Kevin


" Boleh aku antarkan ke kampus?"


Alya


" Tidak merepotkan?"


Kevin


" Tidak, dan ada yang ingin aku omongin"


Alya


" Iya ka, Alya mau siap-siap dulu"


Sambil memasukan kecap dan sambal pedas kedalam bubur ayamnya, Alya teringat Afkar pernah datang ke kost nya dan membawakan sarapan bubur ayam ini, uuupps ka Afkar,,, hal begini saja sepertinya sudah membuat hatiku bergetar lagi.


" Di makan Al"


" Iya ka"


Mereka menikmati sarapan bubur ayam pagi itu dengan pikiran yang berbeda.


" Alya, apakah kamu sudah bisa memutuskan hubungan kita ini apakah bisa kita lanjutkan?"


" Harus Alya jawab sekarang ka?"


Kevin merubah posisi duduknya agar ia bisa menatap Alya lebih dekat


" Aku sangat nengharapkan kepastian Al"


" Tidak bisakah memberi Alya waktu lagi?"


Kevin menatap lekat Alya


" Besok papah membuka perusahaan cabang baru, dan aku diminta untuk membantu mengurusnya, setelah aku menyelesaikan magister, aku segera mengambil alih perusahaan itu. Dan sepertinya mulai besok sampai 4 minggu ke depan aku harus ke Bandung yang artinya aku tidak bisa menemuimu dulu selama itu. Aku ingin sebelum aku pergi kamu sudah mempunyai jawabannya"


Alya tertunduk


" Seandainya Alya jawab menerimanya, dan tiba-tiba nanti di tengah jalan kita bermasalah apakah kita boleh berpisah?"


" Alya, jika kita sudah meniatkan sesuatu yang baik, maka kita akan mendapatkan hasil yang baik juga, setiap manusia pasti mempunyai masalah, tinggal bagaimana kita menyikapinya, kenapa kita harus berpisah kalau kita masih bisa menyelesaikannya. Apapun hal yang membuatmu tidak nyaman secepatnya katakan, agar bisa kita perbaiki sama-sama, kita harus saling terbuka, kamu bisa mempercayaiku kan Al?"


Alya mengangguk, Alya percaya kaka, yang Alya tidak percaya adalah hati Alya sendiri


" Alya sudah mau belajar menciintaiku?"


Sekali lagi Alya mengangguk.


Kevin tersenyum bahagia


" Terima kasih Alya, aku sangat bahagia dan tenang, aku selalu menghubungimu dan memberimu kabar, aku pergi sebentar ya Al"


" Iya ka"


" Aku akan membangunkan istana untukmu ratuku, dan untuk peri-peri kita"


Alya tertunduk malu


" Aku akan selalu menjaga hatiku, dan seperti janjiku, apapun yang membuatmu tidak nyaman, katakan padaku, kita perbaiki sama-sama"


" Iya, hati-hati ya ka, semoga semua dilancarkan"


" Terima kasih sayangku"


Alya benar-benar malu dan tersipu. Memang begini kah seharusnya orang yang mencintai?


Apakah memang begini seharusnya memperlakukan seseorang yang disayangi?


Aku bahkan tidak tau apakah aku bisa mencintaimu, tapi kamu membuatku seolah aku adalah seseorang yang harus kamu bahagiakan.


" Kuantar ke kampus Al?"

__ADS_1


Kevin mengejutkan pikiran Alya yang sedang menerawang entah di mana. Alya mengangguk.


Alya bersandar duduk di samping Kevin


" Alya, kabari aku ya"


" Iya ka"


" Agar aku lebih bersemangat membangun istana agar Ratu bisa lebih cepat menempatinya"


Kevin mulai menggoda


" Hehehe"


Alya cuma terkekeh


" Hati-hati ya ka"


Sesaat setelah Kevin menepikan mobilnya di depan kampus Alya.


" Kamu baik-baik ya Al, aku sayang kamu"


Kevin tersenyum memandang gadis di sampingnya, seseorang yang mulai sekarang sudah bebas ia cintai, Alya semakin tersipu


" Kamu tidak memintaku untuk cepat pulang Al?"


" Pulanglah saat kaka sudah menyelesaikan pekerjaan kaka"


" Terima kasih Al". Alya turun dari mobil silver itu dan melangkah ke dalam kampus.


Satu tepukan di punggung membuatnya kaget


" Wooyy, ngapain pagi-pagi melamun"


" Gue sudah menerima Ka Kevin Syl"


" Kabar baik, udah waras lo"


Sylvia merangkul pundak Alya dan mereka beriringan menaiki tangga menuju lantai 3 kampusnya


WA Group


Sylvia


" Ada yang udah jadian sama ka Kevin"


Roni


" Selamat ya, semoga bahagia"


Arga


" semoga Kevin bisa menjaga lo dengan baik"


Alya cuma tersenyum membaca komentar sahabat-sahabatnya.


Tidur siang adalah kegiatan yang sudah jarang dilakukan Alya sekarang, dan siang ini tanpa ada gangguan, dia puas melakukannya.


Handphone bergetar


" Assalamualaikum


" Waalaikum salam sayangku"


" Ada apa ka?"


" Hei,, tidak bolehkah aku mengabarkan keadaanku pada kekasihku"


" Hehe, lagi dimana ka?"


" Aku sudah sampai, ini lagi sama papah mengurusi persiapan pembukaan cabang baru"


" Salam sama om ya ka"


" Iya, kamu sedang apa Al?"


" Bangun tidur"


" Maaf ya mengganggu"


" Sudah lama bangun kok ka"


" Ya udah, kamu istirahat aja, jangan capek, biar aku yang memikirkan membangun istananya, kamu duduk manis dan doa kan aku ya sayang"


" Hehehe"


" Kok ketawa?"


" kaka lucu aja, kalau bangun istana masa iya kaka pakai mahkota kerajaan tiap hari dan Alya pakai baju permaisurinya, ribet ah ka, nanti kita enggak bisa manjat pohon lagi"


" Ngapain kita panjat lagi, kalau mau kan tinggal suruh prajurit yang manjat"


" Trus Alya pake baju yang kalo jalan cuma bisa beberapa cm melangkah, Alya enggak bisa lari-lari dong"


" Jangan lari lagi, kalau mau kemana-mana tinggal bilang, aku yang gendong"


" Whahaha, tambah ngaco, ya udah ka, jangan kelamaan nelfonnya, nanti bisa dipecat bos"


" Iya, tuh papah sudah melirik-lirik aku, hehe, ya udah aku kerja dulu ya"


" Iya ka"


" Assalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Afkar bergegas keluar dari kantor dan menarik kopernya yang sejak pagi tadi sudah ia bawa, memesan taksi online ke bandara. Iya, dia akan pulang ke Yogya malam ini, dia memilih penerbangan pada malam hari agar ia masih sempat beristirahat di hotel sebelum besok pagi menemui calon kekasihnya.


Membuka handpone dan menelfon Alya


Tiiit,, tiiitt, tiit


Tidak diangkat, apa dia masih kuliah? atau sedang jalan-jalan dengan teman-temannya?


Duduk di ruang tunggu bandara, teringat saat Alya menemaninya ketika akan berpisah. Aku masih bisa merasakan tangan kecilmu dalam genggamanku,bibir tipismu yang mulai menanyakan kapan aku kembali, matamu yang tiba-tiba menangis. Semua masih kusimpan diingatanku. Hari ini aku menepatinya, aku pulang Alya, selain untuk menepati janji, aku juga ingin menepati hati, bahwa beban rindu dan sayangku tidak bisa lagi kupendam, aku ingin berbagi bahagia denganmu, rencana-rencana pertemuan kita yang manis, persiapan aku akan menyatakan cintaku padamu dan jalan-jalan yang akan membuatmu gembira, kita akan menghapus beban kita selama ini Alya.


Alya melirik handphone nya, Ka Afkar


Maaf ka, sepertinya mulai sekarang perlahan aku akan menjaga jarak. Dua musim sudah kutunggu, rindupun jatuh perlahan satu persatu, bahkan sekian hari tidak bersapa tidak hiraukan aku. Biarlah harapanku mati terkubur bersama puisi-puisi sedihku.


Untuk apa aku bertahan menetap jika kamu sudah tak ingin lagi manatap.

__ADS_1


Aku lelah untuk selalu menghadirkan aku ada padamu yang menganggapku tiada.


Memandang lagi foto berdua, apakah ini menjadi foto pertama dan terakhir kita?


__ADS_2