
Seusai shalat subuh dan mandi, Afkar meraih ponsel dan mulai memencet tombol hijau.
" Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar service area"
Afkar menatap layar ponselnya, kenapa tidak aktif?
Menekan sekali lagi
" Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar service area"
Deg deg. Alya ini bukan kebiasaanmu, ponselmu rusak?
Sylvia,,, oh tidak, apa kata suaminya aku menghubungi pagi begini, Arga.
Afkar mencari kontak dan menemukan nama Arga
Tiiit,,, Tiiit
" Assalamualaikum Afkar"
" Waalaikum salam Arga maaf mengganggu"
" Tidak apa, sudah bangun juga, kenapa?"
" Kenapa nomor Alya tidak bisa dihubungi? dia baik-baik saja kan?"
" Dia baik saja, mungkin masih di rumah ka Pandu, kemarin kan ada acara disana, atau sedang di perjalanan mau balik ke kost, bisa saja sinyal di jalan sedang buruk"
" Ooh begitu, mungkin juga. Arga, aku mau tanya boleh?"
" Iya kenapa?"
" Apakah Alya baik-baik saja selama menjalankan skripsinya?"
" Baik, dia bahkan lebih cepat dari kami, semangatnya tinggi sekali, hehehe"
" Syukurlah, apakah kalian kuliah pagi hari ini?"
" Aku nanti siang, kalau Alya senin biasanya jadwal pagi sih".
" Baiklah, bisa tolong katakan padanya kalau nanti telfon aku, sabtu kemarin dia janji mau menghubungiku, tapi sampai sekarang belum ada, aku sangat mengkhawatirkannya"
" Ooh baiklah, nanti kalau ketemu ku kabarin, atau ku chat di group wa saja, barangkali dia akan aktif dan membacanya"
" Terima kasih Arga, baiklah semoga semua lancar ya, salam sama teman-teman"
" Iya Afkar, sama-sama"
" Assalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Klik
Afkar menutup telepon nya dengan rasa sedikit lega, Alya baik-baik saja dan skripsinya lancar.
Pesan WhatsApp masuk
Arga
" Afkar, Alya ganti nomor ponsel"
Afkar membaca pesan Arga dengan pelan dan sangat teliti, pesan ini terlalu singkat tapi kenapa terlalu menyakitkan. Ganti nomor setelah aku menghubunginya, dan kenapa tidak mengabariku. Apa dia memang mau menghindari aku?
Afkar langsung memencet panggilan telfon
" Assalamualaikum Afkar"
" Waalaikum salam Arga, maaf kenapa dia ganti nomor?"
" Aku tidak menanyakannya, tapi katanya sejak hari sabtu tadi, kamu mau nomornya Afkar?"
Hening
" Tidak usah Arga, nanti dia juga menghubungiku kalau sudah aktif, terima kasih Arga, Assalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Klik.
Afkar duduk di teras, kamu mengganti nomor tepat setelah aku menghubungimu, dan sampai sekarang kamu tidak menghubungiku untuk memberitahukanku, kamu menghindariku? kamu menjauhiku? apa kamu membenciku sampai harus melakukan ini? Alya, kenapa dadaku sakit sekali. Afkar memegang dadanya dan mengucapkan zikir.
Kamu tau Alya saat kita berpisah malam itu aku bersedih, tapi melihat air matamu membuatku lebih mencintaimu, tapi saat ini kamu mengganti nomor ponselmu dan tidak mengabariku, ini jauh lebih menyakitiku.
" Afkar kamu kenapa?"
Cindi langsung memegang tubuh Afkar yang hampir jatuh ke lantai
" Joy, Fani, tolong, Afkar sakit"
Mendengar teriakan Cindi beberapa anak kost langsung keluar dan berlari menuju kamar Afkar. Mereka membopong tubuh Afkar ke dalam kamar dan membaringkan tubuh Afkar di tempat tidur. Beberapa mata terkejut melihat kamar Afkar penuh dengan foto dirinya dan seorang wanita cantik. Begitupun Cindi, Afkar ternyata sudah punya kekasih, mungkin aku sudah harus tahu diri untuk ini. Cindi memandang satu foto sendiri berfigura di atas meja, foto Afkar dan Alya Selfi di bandara. Manisnya dia Afkar, pantas saja berkali-kali aku ingin mendekati dan mencuri perhatian mu sama sekali tidak kamu hiraukan.
Afkar tidak pingsan, dia hanya pusing mendadak, Afkar melihat teman-temannya membantunya
" Kamu tidak apa-apa Afkar?"
Joy meraba dahi Afkar
" Tidak, aku cuma pusing"
" Aku bikinkan minuman dulu"
Cindi keluar dari kamar Afkar dan memasuki kamar sebelahnya yang berfungsi sebagai dapur, mulai menyeduh teh dan gula ke dalam gelas dan memasukan air dari dispenser. Kemudian menyerahkannya pada Afkar
" Minum dulu Afkar"
Beberapa teman lain mulai saling memberi kode agar mereka keluar dari kamar Afkar. Cindi duduk di kursi samping tempat tidur, Afkar duduk dan meminum teh buatan Cindi
" Dia kekasihmu Afkar?"
Afkar melirik Cindi yang sedang menatap foto-foto mereka, entah kenapa tiba-tiba hati Afkar menjadi marah, sedih, kecewa, terluka, terhina mengingat perlakuan Alya barusan
" Dia mantanku"
" Kenapa fotonya masih kamu pajang"
" Belum sempat saja menurunkannya"
" Oohh"
" Kenapa?"
" Tidak, maafkan aku yang ternyata sudah jatuh cinta padamu"
Cindi tertunduk, dan entah bisikan dari mana, Afkar malah tersenyum seperti sedang mendapatkan ide untuk satu hal.
__ADS_1
" Maaf untuk apa? aku juga begitu"
Cindi menatap wajah Afkar
" Aku tidak salah dengar?"
" Tidak, aku juga menyukaimu"
" Afkar, ini artinya, kita sama-sama saling menyukai, kenapa kamu tidak bilang? aku sampai hampir putus asa, apalagi melihat dinding kamarmu begini"
" Maaf, aku tidak berani mengatakannya, dan soal dinding ini, nanti aku lepaskan"
Cindi mendekati Afkar dan memegang tangannya, pikiran Cindi membuatnya sedikit tidak waras sepagi ini
" Afkar, terima kasih, aku sangat bahagia"
Afkar mengangguk dan tersenyum
" aku juga"
Cindi semakin lekat menatap wajah teduh Afkar yang sekarang sedang lemah di depannya. Senyummu itu Afkar, bisakah aku untuk tidak jatuh cinta pada kemegahan pesonamu, kamu tidak terlalu tampan, tapi benar-benar menghanyutkan. Afkarpun memandanginya dan masih saja dengan senyuman
" Aku seperti tidak percaya ini Afkar"
" Mulai hari ini belajarlah untuk percaya"
Cindi semakin erat menggenggamnya tangan Afkar, betapa ingin dipeluknya lelaki bertubuh tinggi sederhana yang sudah memenjarakan perasaannya sejak 2 bulan yang lalu.
" Cindi, boleh kita sambung lagi nanti, aku mau istirahat"
Cindi mengangguk dan melepaskan tangannya dari tangan Afkar
" Baiklah, istirahat ya, nanti aku bawakan sarapan".
Afkar mengangguk
" Terima kasih,
Cindi ku"
Cindi seperti melayang, apa ini Afkar, kamu membuatku seakan tidak menginjakan kaki di lantai, aku ini sedang terbang? tidak. Aku masih berjalan di lantai, pada kamar kecilmu ini. Cindi melangkah keluar dan terdengar suara pintu tertutup.
Afkar meraih foto mereka di samping meja
" Alya, apa yang nanti akan kamu rasakan saat mendengar aku juga bisa mencari penggantimu? aku juga bisa bersama orang lain tanpamu? aku juga bisa memiliki cinta lain seperti yang kamu lakukan dulu dan bahkan sekarang sudah benar-benar menghindariku. Cintaku,,, ooohh kepalaku pusing, Afkar terpejam dan tangannya tetap memeluk foto mereka.
Terlelap dengan kepala yang pusing, tiba-tiba mendengar suara pintu terbuka, Afkar sadar dan langsung memasukan foto berpigura ke bawah bantalnya. Cindi masuk dan membawa bungkusan
" Afkar, ini sarapan, mau aku suapi?"
" Tidak usah aku bisa sendiri"
" Aku ambilkan piring dan sendok ya"
Cindi berjalan ke dapur dan mengambil peralatan makan Afkar. Sebungkus nasi kuning berbungkus daun pisang dengan masak habang ikan haruan (gabus) ditambah sedikit serundeng, masakan khas Banjar ini sudah menjadi makanan favorit Afkar sejak pindah ke Banjarmasin. Cindi menyerahkan piring yang sudah berisi nasi kuning pada Afkar. Afkarpun mulai menyendok nasi ke mulutnya
" Hari ini tidak usah kerja Afkar, istirahat saja, biar aku temani".
"Tidak usah ditemani, aku tidak apa-apa, kamu kuliah saja"
" Aku mengkhawatirkan mu"
" Aku hanya pusing, sebentar lagi juga sembuh, aku tidak berangkat kerja, hari ini di rumah saja"
" Benar tidak apa-apa Afkar"
" Iya, tapi kalau tidak merepotkan aku titip sesuatu"
" Apa?"
" Belikan aku kartu perdana ya"
" Kenapa? kamu mau ganti nomor?"
" Iya"
" Baiklah, nanti aku carikan. Cepat sembuh ya Afkar, hhhmm aku berangkat dulu. Aku harap setelah aku datang nanti kamu sudah sehat lagi"
" Iya, terima kasih"
Cindi berdiri dari kursi depan tidur Afkar, Afkar hanya tersenyum, sedang Cindi masih saja berdiri, seperti sedang menunggu sesuatu. Afkar tidak ada salam untukku? tidak ada kata-kata seperti yang dilakukan pasangan lain?. Akhirnya Cindi melangkah keluar dan menutup pintu.
Afkar kembali melanjutkan makannya, aku harus sehat, aku tidak boleh lemah, Alya tidak boleh melihatku begini, dia akan sangat menghinaku jika dia tau aku kembali hancur, aku baik saja dia sering menghinaku, apalagi dengan keadaanku begini. Alya, aku tidak tau apa yang terjadi padamu disana, tapi kamu benar-benar menyakitiku saat ini, aku kecewa. Kamu tidak sudi lagi menerima ataupun menghubungiku? kenapa kamu putus silaturahmi kita? memang aku masih sangat terlalu mencintaimu, tapi sungguh aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya ingin tau kabarmu, aku mengkhawatirkanmu, tapi kamu malah membuatku seperti orang asing. Mungkin ini adalah teguran keras darimu agar aku harus meninggalkanmu, walau ini bukan inginku. Baiklah cintaku, aku akan belajar untuk meninggalkanmu dengan rasa sakitku, aku pergi hingga bayangku pun tidak akan kamu temukan agar aku sempurna hilang dalam ingatan.
Setelah beberapa lama beristirahat Afkar mendengar tawa teman-temannya di halaman Afkar berusaha bangun, pusingku sudah berkurang, aku harus sehat. Afkar berjalan menuju pintu dan duduk di teras melihat teman-temannya main badminton. Ada yang hanya memakai celana pendek tanpa baju atasan, ada juga yang memakai training dengan pakaian olah raga lengkap.
Fani mendekatinya
" Bagaimana Afkar? masih pusing?"
" Sudah lumayan, tapi aku belum berani kerja"
" Iya istirahat saja, apalagi ada dokter yang menjaga, pasti lebih cepat sembuhnya, hahaha"
Afkar tidak meladeni guyonan Fani.
" Sepertinya dia naksir kamu Afkar"
" Dia bilang begitu tadi"
" Lalu?"
" Aku terima"
Fani langsung bertepuk tangan sehingga membuat teman lain yang sedang berada di lapangan menoleh ke arah mereka
" Buhannya, ada yang hanyar bejadian nah"
Afkar melongo, apa maksudnya? Sedang yang lain langsung mendekati mereka
" Selamat lah, bisa nanti minta diskon sewa kamar, hahahha"
Afkar cuma tersenyum
" Maksudnya apa Fani?"
Fani menepuk pundak Afkar
" Aku bilang, kamu baru jadian, hahahaa"
" Ssstt, nanti kedengeran ibu kost, hehehehe"
Suara motor matic terdengar makin dekat dan memang berhenti di halaman kost
" Tuu, ceweknya sudah datang, kita kabuuur"
__ADS_1
Masing-masing kembali ke tempat semula.
Cindi berjalan perlahan mendekati Afkar yang sudah ditinggal teman-temannya.
" Bagaimana Afkar, masih pusing?"
" Tidak, aku sudah sembuh"
" Syukurlah, ini kubawakan kue. Oh iya ini kartu nya"
" Terima kasih Cindi"
" Boleh aku tau kenapa harus ganti kartu?"
" Tidak apa-apa"
" Aku tidak boleh tau?"
Afkar melirik, kenapa kamu serba ingin tau? memang kamu siapa? astaga. Aku lupa tadi pagi bukankah aku menerimamu sebagai pacarku, apa yang kulakukan? benar-benar sudah tidak waras aku hari ini. Baiklah, seperti kamu Alya, aku juga bisa bersikap yang sama. Tanpa cinta aku bisa juga jalan bersama. Kembali pikiran nya menuju Alya, sedang apa kamu sekarang? kamu sibuk dengan skripsimu atau sibuk dengan ide perlakuan apa lagi untuk lebih menyakitiku?
" Afkar, kamu melamun?"
" Eeh, maaf. Aku mau ganti kartu dulu ke dalam, permisi Cindi"
Afkar perlahan memasuki kamarnya, sedang Cindi hanya bengong di depan pintu kamar Afkar.
Afkr perlahan membuka belakang ponsel dan menarik tempat penyimpanan kartu. mengganti dengan yang baru dan memasukan kartu lama ke dalam dompet.
Menekan tombol panggilan
" Assalamualaikum "
" Waalaikum salam, bu ini saya Afkar, nomor baru, ibu bisa menyimpan nomor saya?"
" Ooh Afkar, nanti tunggu adikmu datang saja, ibu belum paham"
" Iya bu, nanti biar ade yang memasukan nya"
" Bagaimana kabarmu nak?"
" Baik bu, ibu bagaimana?"
" Ibu sehat, jangan lupa jaga waktu shalat ya nak"
" Insyaallah bu, mohon doa nya"
" Tentu saja ibu selalu mendoakan kalian semua"
" Baiklah bu, mungkin ibu sibuk, saya juga ada yang mau dikerjakan"
" Hati-hati nak"
" Iya bu, Assalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Klik.
Afkar mencari lagi satu kontak dan memencet tombol hijau
" Assalamualaikum"
" Waalaikum salam, Tama ini aku Afkar. Maaf ya aku ganti nomor, di save ya"
" Oh Afkar, siiipp"
" Terima kasih, Assalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Klik.
Menatap kontak di ponselnya, sepertinya tidak ada lagi nomor penting lain yang harus kuhubungi.
Alya cintaku, aku bukan ingin membalas perlakuanmu, aku tidak pernah dendam. Tapi aku hanya harus lebih menyadarkan diriku bahwa aku ini memang tidak akan berarti apapun untukmu, aku hanya seorang yang tertatih-tatih menujumu sedangkan kamu sudah duduk manis di singgasanamu. Dan ini bukan karena aku membencimu, sampai kapanpun tidak akan pernah ada perasaan membenci, sekali lagi, ini hanya untuk penyadaran ku, bahwa aku dan kamu ada di dunia berbeda. Kita tidak usah saling mencari, biar takdir yang mempertemukan. Kita pernah berjanji begitu kan? dan sepertinya itu akan kita jalani mulai sekarang.
Aku yang harus mundur, bukan menjauh, tapi tau diri. Bagaimanapun aku yang katamu wangi, akan tetap menjadi rumput liar yang dengan mudahnya kamu injak-injak walau sebelumnya kamu cium hingga aku tertunduk dan jatuh bersama rintik embun pagi.
Aku yang memilih pergi dengan derita hati
Kamu yang tinggal tapi mungkin tidak merasa sepi
Dan memilih adalah pilihan pasti
Jatuh lalu runtuh?
Atau bertahan namun rapuh?
Kamu memilih dia, bukan kita.
Tok tok,
Afkar kaget dan melihat ke pintu depan, Cindi?
" Afkar, mau makan apa buat makan siang? biar aku masakin"
" Eh, tidak usah, gampang aku biasa masak sendiri"
" Tidak apa, aku kan sekalian masak juga di rumah"
" Jangan merepotkan Cin, aku juga bisa masak sendiri"
" Kamu kan sekarang pacar aku, jadi jangan sungkan begitu deh"
Afkar yang kali ini melongo, apa lagi ini, satu masalah saja tidak selesai-selesai, aku tambah bikin masalah lagi
" Terserah deh, terima kasih ya"
Afkar memandang Cindi sambil tersenyum
" Hhmm, tapi boleh aku minta sesuatu?"
" Ada apa?"
" Nanti tolong turunkan semua foto ini ya, aku cemburu"
Cindi menunjuk dinding kamar Afkar. Dan kali ini Afkar hanya diam, kenapa aku jadi kesal sih sama Cindi, apa maunya mengatur-ngaturku, kamu tau Cin? dia ini wanita yang paling aku cintai, wanita yang menjadi alasanku berada di kota ini, kamu mau aku menurunkan foto dia? seberani apa kamu? Jika tidak kulakukan kamu bisa memaksaku? Entah kenapa Afkar kembali emosi tapi sangat ditahannya.
" Cindi, boleh aku istirahat dulu"
Cindi mengangguk
" Iya, kamu istirahat saja, aku mau memasak dulu, nanti kalau sudah matang kuantarkan ya"
Afkar hanya mengangguk.
__ADS_1
Terbayang lagi saat mereka pertama kali ke taman pinus, disaat Afkar menyatakan perasaannya pada Alya, walaupun beberapa kejadian memalukan yang Alya lakukan, tetap saja menjadi hal manis baginya. Alya cintaku,,, hari ini apa yang kulakukan? aku menerima seorang wanita yang tidak bersalah sekaligus tidak kucintai, aku bahkan bingung ini untuk apa? untukmu? atau untuk Cindi? dan kenapa kejiwaanku sangat tidak stabil, aku penuh amarah, penuh kecewa, apa ini sudah ambang kesedihanku selama ini dan sudah mencapai puncaknya sekarang akibat kecewaku dengan sikapmu saat ini?
Afkar memejamkan matanya, lindungi aku selalu Tuhan, aku dalam kesedihan yang tidak bisa kujaga lagi.