
Sore di kota Martapura.
Puncak kemacetan memang berada di jam lima sore, saat pegawai kantor pemerintahan kota baru saja absen pulang karyawan perusahaan juga selesai dengan kegiatan dalam maupun lapangan. Para orang tua yang memadati tempat penitipan anak karena putera puteri mereka dititipkan pada tempat penitipan resmi yang sudah mendapat izin tentunya.
" Rumah ka Afkar dimana?"
" Di Sekumpul"
" Dimana itu?"
" Sudah lewat? kenapa? mau mampir?"
" Boleh, biar nanti kalau hilang lagi Alya tau tempat mencarinya".
Afkar tersenyum getir.
" Aku tidak hilang, aku hanya berisitirahat sebentar"
" Sebentar apa? dua tahun. Alya malah mikir kaka sudah meninggal"
" Hah? senang banget kalau aku meninggal"
" Biar Alya bacakan tahlilan, kalau tidak tau kabar kan nanggung mau doain apa"
Afkar sesekali menggelitik pinggang Alya tanpa melepaskan tangannya dari setiran.
" Aku juga butuh menangis, pundakku juga perlu rehat dari semua sandaran. Aku juga ingin mengeluh, aku berada di titik terlemah. Kemarin itu semesta sedang tidak ramah padaku. Ingin tersenyum tapi di patah, ingin berjuang disuruh pulang, saat pulangpun kehilangan rumah".
Alya memandang wajah di sampingnya.
" Kemarin Alya sama Arga cari ka Afkar ke Surabaya, tapi kaka sudah tidak ada. Arga juga titip nomor ponsel Alya sama om kaka, kenapa kaka tidak menghubungi Alya?"
Afkar menghembuskan napas panjang
" Tidak sampai padaku"
Alya menatap lurus ke depan
" Sudah Alya duga, kelihatan kok om Ka Afkar tidak suka sama Alya"
" Aku tidak cerita apapun Alya, aku tidak pernah membuatmu terlihat buruk di mata mereka"
" Tidak apa-apa ka, Alya tidak marah, Alya menerimanya, Arga saja yang kadang masih mempermasalahkan nya".
" Om ku bilang apa sama sayang?"
" Sudah lah, beliau benar menurut beliau, tapi Alya tidak melawan dan membela diri kok, Alya masih bisa jaga sikap"
" Maaf atas perlakuan om ku ya"
Alya mengangguk.
Taman siring sungai Martapura di rabu malam. Menyantap makan malam sederhana dan lesehan menjadi pilihan dua manusia yang sedang memiliki perasaan berbunga-bunga ini.
" Sayang tau tidak, masyarakat di sini menyebut ini dengan nama pantai jodoh"
" Mana pantainya?"
" Tidak tau, mungkin ini"
" Kalau kesini bisa sejodoh ya ka?"
" Tidak tau juga, tapi kita Aminkan saja"
" Hehehe"
" Sayang tidak mau?"
" Mau lah"
Berdua menatap aliran sungai dengan pantulan sinar-sinar lampu dari badan jalan.
Duduk di lantai tanpa ber alas, santai sekali.
" Duduk sebentar sayang, aku ingin bercerita"
" Iya, Alya dengar"
" Seperti juga sungai ini, mengalir ke mana-mana, berhulu pada langit kemudian bermuara di bumi. Terlihatnya tenang, hening dan dingin, permukaan sedatar cermin tiada ricik riak ataupun ombak.
Sesekali akan datang hujan memberinya kelimpahan, terkadang melalui cara berbeda, dikirim seperti angin semilir yang memabukannya, terkadang begitu deras selayak badai hingga tumpah ruah segala dayanya. Banjir tidak salah waktu, dia saja yang tidak terlalu bersiap menyambut kedatangannya.
Walaupun sungai sudah memahami, akan selalu datang padanya kemarau, dimana pucuk pinus mengubah udara menjadi debu, atau tanah ladang berpecah.
Musim tidak pernah keliru
Kebun-kebun tidak akan kehilangan warna jika sebelum dan kesudahannya sudah kita siapkan kedatangannya"
Alya menatap wajah tenang Afkar. Afkarpun menatapnya dengan keseluruhan kepasrahan.
" Begitupun aku, yang menghimpun semua kepercayaan pada kekuatan cinta. Keseluruhan yang ada padaku tumpah untuk mencintaimu sedalam yang aku mampu. Dan kesalahanku, tidak menyiapakan diri untuk pergi sebelum terusir"
" Sudahlah ka, Alya selalu tidak tahan jika ini kembali dan kembali di ungkit, kaka tidak rela dengan semua yang sudah terjadi?"
" Itu namanya takdir, tidak bisa tidak direlakan"
" Sekarang Alya tanya, kenapa waktu kaka ke Yogya kemarin tidak meninggalkan nomor ponsel pada Bowo?"
" Ada tiga alasanku
Yang pertama aku tidak ingin mengganggu hubunganmu dengan Kevin.
Kedua aku harus tau diri, bukannya sayang tidak ingin mendengarkan suaraku lagi karena mengganti nomor ponsel
dan ketiga, saat itu aku hanya sebagai supir pribadi pak Wijaya, aku malu, sayang pasti akan semakin menghinaku"
" Pernah Alya malu dengan pekerjaan kaka, dulu saja waktu masih kerja di Yogya Alya sudah memantapkan hati untuk mencintai ka Afkar saja"
" Buktinya gagal juga kan?, Kevin yang kaya lebih menarik perhatianmu, hehehe"
Alya cemberut
" Terserah saja, selalu tidak percaya. Oh iya bagaimana sampai kaka menjadi manager begini?"
Afkar sedikit memposisikan tubuhnya dengan lebih nyaman walau masih dengan keadaan duduk bersila di samping Alya.
" Selamat enam bulan aku menjadi supir pribadi pak Wijaya, setiap hari bersama beliau, terkadang beliau cerita masalah keluarga, pribadi ataupun kantor. Aku kan pernah juga bekerja di perusahaan walaupun sangat berbeda dengan perusahaan beliau ini, tetapi terkadang pemikiran dan langkah penyelesaiannya tidak jauh berbeda. Aku menjawab saja semua yang beliau tanyakan dengan kemampuanku. Ternyata beliau sangat menyukai cara berpikirku, kata beliau aku pantas meneruskan perusaahan ini karena beliau ingin beristirahat. Beliau juga mulai mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan, urusan kantor akhirnya menjadi tanggung jawabku"
" Memangnya beliau tidak punya anak?"
" Ada, yang pertama namanya Galih, sekarang mengurus perusahaan di Tabalong, dan satunya yang siang tadi berani membuka ruanganku saat kita sedang berantem"
" Ooh, itu namanya Aprill?"
" Iya, semester enam fakultas kedokteran"
__ADS_1
" Cantik, kan ka Afkar di jodohin sama dia"
Ada sedikit perubahan pada nada bicara Alya, Afkar bisa menangkap itu, dan ide jahilnya untuk membalas Alya muncul dengan segera.
" Iya, memang"
Alya tertunduk
" Terus?"
" Ada lelaki yang bisa menolaknya? cantik, calon dokter, anak orang kaya, ck ck ck"
Alya semakin tertunduk
" Terus?"
" Ya begitu"
Afkar semakin tidak bisa menahan tertawanya.
" Ka Afkar mencintainya?"
" Kalau sudah dijodohkan, walaupun belum punya perasaan kan bisa pelan-pelan"
Alya mengangkat kepalanya.
" Ka Afkar jahat, untuk apa tadi siang meminta hubungan ini kembali, ternyata kaka sudah memiliki wanita lain"
" Apa salahnya? dulu aku juga diperlakukan begitu, tapi aku tidak pernah menyebutmu jahat"
Alya terdiam dan memandang aliran sungai
" Kenapa tidak menangis?"
Alya menoleh
" Untuk apa?"
" Sejak tadi pagi aku sudah menyiapkan bahuku untuk tempatmu menangis"
" Sudah kering, ka Afkar sudah menghabiskannya Kemarin"
Afkar tertawa dan meraih jemari Alya kemudian mengecupnya.
" Tidak sayang, lelaki manapun memang tidak ada yang bisa menolaknya, tapi aku bisa"
Alya menatap Afkar untuk menunggu penjelasan
" Setiap hari aku bersama Aprill, sayang tau bagaimana dia?"
Alya menggeleng
" Dia adalah sayang, tapi bukan sayang"
" Apa maksudnya?"
" Iya, dia adalah sayang, tapi namanya Aprill. Semua yang ada pada sayang ada padanya. Dia lucu, konyol, keras kepala, suka menghina, suka meninju, suka menendang, suka menangis, suka bakso, suka pedas, suka lapar tapi makannya sedikit, suka ngomong banyak, suka bohong"
" Ka, Alya tidak begitu"
" Sayang begitu, hehehe"
Alya kembali cemberut
" Itu dulu, sekarang tidak lagi. Kenapa kaka tidak mencintainya?"
" Tapi pernah mencintainya?"
" Aku mencintainya, tapi tidak seperti cintaku pada kekasihku. Aku sangat menjaganya, mungkin sangat protektif sehingga dia kadang marah besar padaku. Aku hanya tidak ingin ada seseorang yang mendekat dan menyakitinya dengan cara apapun. Dia sudah seperti adikku".
" Alya dianggap adik juga?"
" Tidak, biarlah ka Pandu saja yang sudah terbebani menjadi kakakmu satu-satunya, hehehe"
Alya mencubit pinggang Afkar dan mulai merajuk lagi
" Sekarang ceritakan apa yang terjadi setelah aku diputuskan sepihak kemarin"
" Iih, enggak enak banget di dengarnya"
" Dengar saja tidak enak? sayang pernah membayangkan bagaimana rasa menjalaninya?"
" Tau ah, Arga pasti sudah cerita semua kan? ya udah sama, copi faste aja".
" Tapi aku mau dengar langsung dari mulut monyong ini"
Afkar menyentuhkan jari nya ke bibir Alya dan langsung di tepis.
" Aww, kasarnya belum berubah"
" Pasti niat jahat lagi sama Alya".
" Heheee. Sayang, sekarang kita tidak punya lagi sesuatu yang menjadi penghalang cinta ini. Eemmm"
" Kenapa ka?"
" Aku mau menghalalkanmu, aku akan melamarmu"
Alya menatap wajah Afkar yang terlihat sedikit gugup.
" Melamar?"
" Usia kita sudah tidak muda lagi sayangku, kita sudah memulai ini enam tahun yang lalu. Pikirku sudah lelah, badan payah, hati ku terlalu lama bekerja dalam penjagaan.
Kita sudah pernah berada di posisi paling menyakitkan.
Cerita cinta kita tidak mudah, dibumbui air mata dan tawa, tidak sederhana. Aku mencoba berharap ini adalah ujian sementara yang akan bisa kita ceritakan pada putera puteri kita nanti. Karena aku masih saja terus berharap kamu adalah jodohku yang masih tertitip di tangan orang lain"
" Bisa tidak menyalahkan Alya terus kan?"
Afkar tertawa
" Aku menyebut ini kesalahanmu? tidak ada kan?.Semua orang tidak akan bisa memahami hatiku saat itu, dan orang lain memang tidak harus bertanggung jawab untuk kesedihan dan penderitaanku, apalagi sebagai obat untuk penyembuhnya. Walau kedengarannya aku terlalu baik, menjadi bahan utama untuk membuat orang lain bahagia. Keadaan terlalu bercanda padaku, tapi ini membuatku dewasa dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Walaupun melewatinya dengan berdarah-darah. Apa yang lebih tulus dari suatu keadaan di mana kita saling kehilangan kabar, tanpa ada media sosial yang menghubungkan, tanpa ada panggilan telefon yang kita perdengarkan, tapi kita selalu saling mengucapkan namanya di dalam doa? Itu yang ku lakukan sayang, kalau sayang mendoakanku?"
" Tidak"
"Sudah kuduga, hehehe"
Alya memeluk Afkar
" Maafkan Alya ka, sudah sebanyak itu ka Afkar berkorban untuk Alya"
" Aku yang meminta maaf padamu, terlalu banyak bahaya dan kesedihan yang kamu lewati sendiri, kupikir sayang dalam keadaan baik dan nyaman, ternyata aku salah, aku pergi dan hilang begitu saja, sedangkan sayang kehilangan dia karena aku yang tidak tau diri ini"
Alya melepaskan pelukannya.
__ADS_1
" Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang tidak bisa dilalui kan ka?"
" Iya, dan kita adalah orang yang sudah melewati dengan sabar dan ikhlas"
" Iya"
" Besok kita ke pasar Martapura"
" Untuk apa?"
Afkar meraih jari Alya
" Aku ingin memasangkan cincin pernikahan kita di jarimu, aku masih hapal ukuran nya, walaupun jarimu sudah terlihat lebih besar dari dulu, hehehe"
Alya tersenyum
" Minggu depan aku akan pulang ke Jakarta, menemui ibu dan akan membawa beliau ke Yogyakarta untuk melamarmu menjadi istriku".
Alya tertunduk tersipu, betapa hebatnya pertemuan kita ini ka.
Afkar mengangkat dagu Alya
" Aku di terima atau masih di tolak?"
Alya kembali tertunduk, ini mimpi?
Cerita cintaku yang sangat berliku ini, dan pertemuan pertama setelah perpisahan menyakitkan, akhirnya kamu melamarku.
" Bidadari, aku melamarmu untuk menjadi istriku, ibu dari anak-anakku, makmum di dunia dan syurga kita. Apakah aku di terima?"
Alya mengangguk.
" Sayangku jawab, aku ingin dengar"
Alya mengangkat wajahnya dan memukul lengan Afkar.
" Tidak tau Alya malu menjawabnya? sudah mengangguk masih tanya-tanya"
Afkar mencubit pipi Alya gemas
" Sayang, ini malam romantis, kalau tidak berantem kan bisa?"
" Tauuu ah"
Afkar tertawa dan meraih kepala Alya agar merebahkan di dadanya.
Tiiit,,,
Afkar mengeluarkan ponsel dari saku bajunya
" Assalamualaikum bang Jali"
" waalaikum salam Afkar kamu dimana?"
" Di Banjarmasin"
" Afkar lakasi bulik, nona Aprill di rumah sakit Banjarbaru, ini aku lawan Rudi, bapak di Tanjung"
( Afkar cepat pulang, nona Aprill di rumah sakit Banjarbaru, aku sama Rudi, bapak di Tanjung)
" Apaa? inggih ulun langsung ke rumah sakit, jangan meninggalkan Aprill bang lah"
" Iya"
Klik.
Afkar menatap Alya
" Sayang, aku akan mengantarmu pulang, Aprill di rumah sakit"
" Kenapa?"
" Aku tidak tau, nanti kukabari, pak Wijaya di Tanjung, tidak bersamanya"
Alya mengangguk.
" Besok tidak usah ke kantorku, kalau perlu mobil nanti Juan mengantarkannya"
" Iya"
Afkar bergegas mengajaknya berdiri dan sedikit berlari menuju mobil. Alya melihat dengan sedikit perasaan yang tidak bisa diungkapkan. Kamu sangat khawatir ka, dia kan bukan siapa-siapamu, ahh,, ka Afkar kan memang orang baik, dia selalu perduli pada orang lain. Dan sesuatu yang ditepisnya tadi kembali datang saat mengantar Alya ke penginapan Afkar kembali menghubungi seseorang.
" Bang Jali, di mana Aprillnya? di UGD atau di ruangan? garing apa gerang? ada dokternya lah sudah? pian ada memingkuti atm lah? nyaman ulun transfer kalo ae diminta jaminan atau bayar apakah, hadangi ulun lah"
Alya kembali tertunduk. Ka Afkar ngomong apa ya? aku cemburu?? tidak. Aprill adalah anak majikan dan sudah menjadi adik angkatnya. Semoga Aprill baik-baik saja.
Afkar berhenti di depan penginapan Alya, menatap Alya sebentar dan mengeluarkan ponselnya.
" Juan, antarkan satu mobil ke penginapan Alya, dia tidak bisa kemana-mana"
" Tidak ada besok, sekarang juga!"
Afkar kembali menatap Alya
" Sebentar lagi Juan mengantarkan mobil, sayang belum mau tidur kan?"
Alya mengangguk.
" Ka, jangan terlalu keras pada karyawan, ini sudah malam, mereka juga perlu istirahat"
" Tidak apa, aku waktu kerja grab car juga tidak kenal istirahat"
Alya melongo
" Grab car?"
Afkar mengangguk
" Nanti kita cerita lagi, aku mau buru-buru, di rumah sakit cuma ada supir Aprill dan satpam kami"
" Jangan mengebut ka, Alya belum dibelikan cincin"
Alya mencoba bercanda, Afkar tersenyum
" Aku tau, aku juga belum kawin hehehe"
Alya mengulurkan tanganya dan disambut Afkar. Kali ini Alya yang mencium punggung tangan Afkar.
" Hati-hati ka, nanti kabari Alya, semoga Aprill tidak kenapa-kenapa ya"
" Iya, Aamiin, aku pulang sayang"
Afkar menarik sedikit wajah Alya dan mencium keningnya.
" Kita belum melanjutkan tragedi di taman waktu itu, aku masih ingin melanjutkannya, hehehe"
__ADS_1
Alya tertawa dan langsung turun sebelum Afkar kembali gila.