Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Kebohongan dari Kejujuran


__ADS_3

Sebuah taksi online berhenti di depan gerbang kedatangan bandara. Alya bergegas turun dari taksi dan mencari seorang laki-laki yang selalu dirindukannya. Seharusnya pesawat dari Surabaya sudah mendarat 10 menit yang lalu. Alya mengeluarkan ponsel dari tas kuliahnya


Tiit


" Assalamualaikum sayang"


" Waalaikum salam, kaka dimana?"


" Lagi di mushalla, sayang dimana?"


" Di depan ka"


" Sebentar ya"


Klik.


Seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan badan yang atletis, memakai baju hem putih bergaris vertikal biru tua dengan celana panjang hitam, sedang menarik koper dan sebuah tas punggung abu-abu keluar dari sebuah sudut ruang. Alya langsung berlari dan memeluknya


" Ka Afkaaaarr".


Afkar melepaskan koper dan membalas pelukan Alya. Kepala Alya yang hanya sebatas dagunya itu dicium dengan rasa sayang. Mereka tidak perduli beberapa mata memandang sekilas. Dibelainya berkali-kali rambut dengan wangi yang masih sama sejak ditinggalkannya enam bulan yang lalu.


" Sudah lama sampai ka?"


Alya melepas pelukan nya menengadah memandang wajah Afkar dari dekat, senyummu nyaman sekali ka


" Barusan, aku shalat ashar dulu, tadi aku langsung dari kantor ke bandara"


Afkar memegang lengan Alya dan mencium jemarinya


" Sayang tambah berisi, selama aku tinggalin makan apa sih"


Afkar mulai menggoda dengan tatapan teduh plus senyum mematikannya


" Makan nasi lah"


" Lauknya apa?"


Afkar kembali mengambil koper dengan tangan kiri, sedang tangan kanannya digandeng Alya dan mulai berjalan ke pintu depan


" Alya kan pemakan segala ka"


" Ooh pemakan segala itu mamalia ya?"


" Bukan, namanya mutualisme"


" Bukannya mutualisme itu semacam reboisasi"


" Ooh sudah berubah ya sekarang?"


" Sayang nanti kalau kita punya anak jangan memberikan jawaban begini ya pada mereka, kasian peer mereka salah semua, hahaha"


" Anak Alya pinter ka, soal beginian sih remeh. Kan gen otak anak diturunkan dari ibunya"


" Justru itu yang aku khawatirin"


Alya meninju bahu Afkar.


" Aww".


Afkar berhenti setelah berada di luar dan mengajak Alya duduk di bangku yang tersedia disana


" Kita habis ini kemana ka"


" Itu yang kupikirkan sejak tadi"


" Ya udah Alya temani ke hotel aja dulu, kaka bisa mandi nanti kita lanjutin jalan-jalan dan makan malam, "


" Aku masih trauma sayang datangin ke hotel kemarin, dulu imanku kuat, enggak tau sekarang" Canda Afkar sambil mencolek dagu Alya


" Huuh, bukan itu maksud Alya, ya udah kita jalan-jalan aja dulu, nanti anterin Alya ke kost"


" Aku bawa koper?"


" Enggak apa-apa, palingan yang liat mikir kita lagi kawin lari"


" Sayang, enggak boleh ngomong gitu"


Alya menyenggol lengan Afkar


" Becandaa"


Afkar melirik Alya


" Sayang bener tambah berisi, aku pengen nyubit pipinya"


" Jangankan di cubit, di cium juga Alya mau, hehehe"


Afkar tertawa


" Kuatkan imanku"


" Whahaha".


Apa benar gue tambah gemukan ya? Ka Afkar kan lama enggak liat gue, artinya benar dong. Ooh iya, selama 6 bulan ini kan makan gue teratur, makan nya juga enak-enak, perawatan, vitamin cukup, bersama Ka Kevin.


Uuppss, kenapa wajah ka Kevin muncul begini, Alya mencoba menghilangkannya dan menatap Afkar yang juga sedang menatapnya


" Jelek ya Alya tambah gemukan?"


" Bagus banget, biar enggak ceking lagi"


" Iih balas ya, hahaha"


Afkar mengeluarkan ponsel nya


" Kita pesan taksi ke kost sayang aja dulu ya, nanti malam saja aku ke hotel, cari aman"


" Kaka pikir Alya apaan, engak aman"


" Hahaha"


5 menit kemudian taksi pesanan Afkar datang menjemput. Merekapun menuju kost Alya.


Setelah mandi dan shalat magrib di kost Alya mereka mencari makan


" Aku kangen makan cotto makasar"


" Boleh, ni kunci motornya"


Afkar mengambil kunci motor dan mereka menuju warung makan cotto makasar.


Setelah makan malam Alya dan Afkar memilih duduk santai di taman dekat kost Alya


" Sayang, besok bisa tidak kita ke rumah mu, aku mau ketemu mama papa"


Deegg, oh Nooooo.


" Aku kan belum izin sama mereka, sayang juga belum mengenalkan aku sebagai kekasih kan?"


Alya diam saja, di luar prediksi gue ini, mana mungkin ka aku akan mempertemukan kalian, kemarin dan tadi malam saja aku sudah menjadi terdakwa


" Kapan-kapan deh ka, mereka lagi sibuk".


Afkar mengubah posisi duduknya dan sekarang mereka sudah berhadapan


" Kapannya aku belum tau, di undur terus enggak jadi-jadi sayang".


Alya tertunduk, aku harus bagaimana? tapi bukankah aku harus menceritakan ini padanya, bukankah dia alasan utama dari semua ini. Afkar memandang Alya yang masih saja tertunduk. Kenapa napasmu memburu? aku bisa menghitung helaan napasmu per sekian detik di saat gugupmu, kenapa tanganmu bergetar? aku paham jika kamu ingin menyampaikan rindu tapi tidak terungkapkan. Tapi ini bukan tanda-tanda itu, kamu seperti ketakutan, apa yang terjadi Alya?


" Kamu boleh bercerita apa saja sayang, aku siap mendengarnya"

__ADS_1


Kalimat Afkar seperti menguatkan Alya. Alya menegadahkan kepalanya. Afkar tetap saja tenang dengan tatapan teduh dan senyum mematikan.


" Ka, Alya mau minta maaf"


Terputus.


" Lanjutkan sayang"


Apa yang mau diceritakan Alya, kenapa aku segugup ini


" Ka,,, masih ingat ka Kevin?"


Afkar mengangguk


" Tetangga yang kemarin di jodohkan sama sayang itu?"


" Dia memang ada ka, dan kami sering bersama".


Alya tidak berani menatap Afkar


" Lalu?"


Uuh sombong sekali pertanyaan ku, memang sekuat apa hatiku mendengar cerita selanjutnya jika tidak sesuai yang kuinginkan?


" Dia datang sebelum ka Afkar datang dulu"


Hening


Bagaimana aku melanjutkan nya? apa kau harus bercerita jujur? atau aku harus sedikit berbohong demi kebaikan? kebaikan apa yang aku dapat berbohong pada dia di situasi ini


" Sayang menerimanya?"


" Tidak"


" Teruskan ceritanya"


" Dia meminta Alya untuk menyetujui perjodohan ini, tapi Alya menolak. Dia lalu meminta agar kami berjalan saja dulu, mungkin kami akan bisa belajar saling mencintai".


Afkar menghela, tanpa senyum tanpa emosi, si datar


" Sayang tidak cerita sudah punya kekasih".


Alya diam, memang tidak pernah ka, selain percakapan mereka di depot minuman depan kost Alya untuk pertama kalinya itu, Kevin tidak pernah menanyakannya. Oh maaf aku lupa, dia pernah menanyakan dan aku menjawab belum ada, karena ka Afkar memang belum datang saat itu.


" Lalu?"


" Sejak ka Afkar pergi kemarin, ka Kevin sering mengunjungi Alya, dia bantuin tugas-tugas kuliah Alya. Dia juga menemani Alya disaat keadaan penting perlu seseorang yang membantui Alya. Kaka ingat Alya pernah cerita, sahabat-sahabat Alya sudah punya kesibukan masing-masing, tidak mungkin kan Alya masih minta tolong sama mereka"


" Jadi yang sering sayang jalan dan bilang sedang bersama teman-teman itu bukan bersama Arga? tapi bersama Kevin?"


" Tidak juga, hanya kadang-kadang"


Bohong pertama, maafkan aku ka.


" Misalnya jalan kemana yang sayang bilang perlu bantuan dia?"


Heeyy,,, aku tidak mungkin kan mengatakan aku ditemani ke mall, ke salon, makan siang, makan malam, jalan-jalan, berbelanja, bioskop, kepentingan mendesak macam apa itu.


" Mencari tugas ka"


Bohong kedua, aku harus ingat susunannya, konsentrasi, konsentrasi jangan sampai salah jawab.


" Apalagi?"


" Kehujanan, Ka Kevin akan menjemput Alya"


Bohong ketiga, huuh perasaan pertanyaan nya mudah sekali, tapi kenapa aku harus berpikir keras untuk menjawabnya


" Sejak kapan?"


" Sejak kaka pergi"


" Bukan tepat enam bulan, Alya lupa"


Kebohongan ke empat. Tepat sesaat setelah kaka pamit pergi ka.


" Mama papa bagaimana?".


Naah, ini yang akan kujawab jujur, hentikan saja pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, aku pusing memikirkan jawabannya


" Dari awal kan mereka setuju, begitu juga orang tua dia, bukankah ini ide orang tuanya dia"


Hebat kamu Alya, kamu menghianatiku. Tapi aku harus tenang, Alya belum selesai bercerita


" Kevin?"


" Dia selalu memperhatikan Alya, kesehatan Alya, makanan, vitamin sampai membelikan motor baru"


Afkar menaikan sebelah alisnya


Oooh, astaga, keceplosan, aduuuhh harusnya ini tidak diucapkan, bisa ditarik lagi? ampun.


" Tapi tidak Alya terima ka"


Kebohongan ke lima, itu sekarang motornya ada di kost Alya, terparkir manis, paling cakep diantara semua motor yang terpakir disana, dibanding motor punya anak-anak kost lain.


" Alya menyukainya?"


Kali ini nada pertanyaan nya berbeda, tidak sesantai tadi


" Tidak, Alya dari awal sudah menolak ka, sampai kami putus sekarang Alya tidak pernah punya perasaan apa-apa?"


" Putus? kalian pacaran?"


Waaaahh, kenapa lidahku lancar sekali bicaranya, tik tok tik tok,,hening


" Tidak"


kebohongan ke enam Tidak bagaimana? perilaku kita bahkan akhir-akhir ini sudah menyatakan bahwa kita memang pacaran, bahkan aku sempat untuk tidak ingin berpisah dengannya, andai saja kamu tidak datang aku bahkan tidak tau akan seperti apa nantinya


" Kenapa putus kalau tidak pacaran?"


" Ka, di awal dulu, dia meminta Alya untuk memberi kepastian apakah Alya bersedia mencoba belajar? saat itu kaka sama sekali tidak memberi Alya kejelasan kan? Alya bingung, dan Alya jawab bersedia mencoba, bukan bersedia menyetujui perjodohan ini. Nah daripada ribet status kami ini apa, Alya bilang saja putus, kan bisa selesai tuntas ka"


" Sejak kapan sayang bilang putus itu"


" Sudah lama"


" Kapan?"


" Ada sebulan kali"


Kebohongan ke tujuh, inilah kebohongan terbesar, baru kemarin ka, sejak kaka ngabarin Alya kalau kaka mau pulang.


" Jadi selama ini aku diselingkuhi?"


" Tidak, Alya tidak berselingkuh, tidak ada cinta di dalamnya, juga tidak ada penghianatan, ini hanya sekedar bersama dalam keperluan saja"


" Kenapa selama ini sayang bohong padaku"


" Alya tidak bohong"


" enam bulan aku di duakan itu tidak berbohong?"


" Kaka tidak pernah bertanya, Alya cuma menutupi bukan berbohong"


" Sekarang?"


Pertanyaan ini kenapa pendek-pendek tapi jawabanya harus panjang-panjang?


" Sekarang sudah tidak ada apa-apa lagi ka"

__ADS_1


" Dia menerimanya?"


" Ini kan perjodohan orang tua ka,kami juga tidak saling mencintai, jadi ya tidak masalah, Alya pikir bahkan mungkin dia juga sudah punya kekasih"


Semoga ini kebohongan terakhir malam ini, Ka Kevin tentu saja tidak menyetujui nya, dia bahkan meminta break saja selama sebulan.


" Orang tua kalian bagaimana?".


" Ka, ini yang membuat Alya masih belum tenang, orang tua kami seakan masih ingin kami melanjutkan ini'


" Kalau begitu besok pagi kita ke rumahmu sayang, aku harus bicara pada mereka kalau sekarang kita ini adalah sepasang kekasih".


" Jangan ka, Alya tidak mau, kaka akan dibanding-bandingkan, biarkan sementara keadaan membaik dulu"


" Sekarang belum baik?"


" Maksud Alya, mereka terkadang masih menyebut nama Ka Kevin dihadapan Alya"


Terkadang apa? bahkan kemarin sampai tadi pagi masih saja temanya Kevin.


" Justru itu sayang, aku harus lebih cepat bicara"


" Alya tau ka, tapi tidak sekarang, Alya sudah bicara ka kalau Alya cuma mencintai ka Afkar, sejak lama, sejak kaka belum memberikan Alya kepastian dulu. Mereka tau ka. Alya sudah cerita semuanya"


" Mereka tau dari sayang saja, belum dari aku kan?"


" Ka, please Alya mohon tidak sekarang"


" Sayang kenapa jadi ketakutan begitu, aku ini justru ingin memperkuat hubungan kita"


" Alya memastikan kalau keadaan saat ini benar-benar tidak baik ka".


" Suatu masalah jangan dihindari, tapi harus kita hadapi"


" Tapi bukan sekarang"


" Sayang, percayalah. Jika aku yang menceritakan ini pada mereka, mereka akan lebih percaya dan bisa menerima aku, sayang tadi bilang membanding-bandingkan? dari apa?"


" Membandingkan kaka dengan ka Kevin"


" Aku tau aku ini orang biasa, baru saja memulai untuk kehidupan, mungkin Kevin lebih segalanya dari aku sehingga aku dibanding-bandingkan, begitu?"


" sebagian itu"


" Karena aku hanya karyawan biasa?"


" Bukan juga, karena kaka jauh, kaka tidak bisa menemani dan membantu Alya disini"


" Hanya itu? apa aku bisa membawamu ke Surabaya saja agar semua keperluan dan kegiatanmu bisa aku bantu"


" tidak ka, mana mungkin mereka menyetujuinya"


" Atau aku balik lagi kesini dan mencari pekerjaan baru"


" Pekerjaan apa?"


" Mungkin aku bisa berdagang kecil-kecilan, atau kita membuka warung makan"


Alya menggeleng


Apalagi itu ka, kamu akan semakin tidak dianggap, masalahnya kamu itu sedang diperbandingkan, bagaimana aku bisa menjelaskan lebih banyak, itu akan menyakitimu. Kamu juga jangan membela diri di hadapan mereka, aku tidak mau kamu akan semakin kalah dan direndahkan ka, cukup aku yang mendengar.


" Apalagi yang harus kita perbaiki sayang?"


" Hubungan ini sudah sangat baik ka, kita hanya akan mempertahankan nya saja"


" Aku percaya perasaanmu, bahkan sayang bercerita ini pun sudah luar biasa, walau aku sakit mendengarnya"


" Ka, Alya minta maaf, dan Alya memang harus bercerita agar kaka bisa memahami keadaan Alya"


" Ini salahku"


" Tidak ka, bukan salah kita"


" Keadaanku memang begini, ditambah hubungan berjarak kita, semakin tidak berguna nya aku"


" Apapun itu Alya hanya akan mencintai dan memilih ka Afkar"


Afkar yang tadi sempat emosi walaupun tidak mengekspresikannya sama sekali menatap Alya dengan perasaan bersalah.


" Aku percaya, terima kasih sudah jujur dan masih mau bersamaku"


" Alya tidak akan pernah meninggalkan kaka, dan inipun berakhir untuk kami, kami hanya akan meyakinkan orang tua kami kalau ini tidak bisa dilanjutkan lagi, kaka mau bersabar dan percaya kan?"


Afkar mengusap rambut Alya


" Aku sangat mempercayaimu sayang, terima kasih".


Mengecup kening Alya


" Semoga cinta kita dijagakan dan dimudahkan ya"


" Iya ka"


" Sudah malam, ayo pulang".


Afkar merebahkan diri di tempat tidur dan menyalakan televisi untuk menemaninya berfikir, walau sepertinya sama sekali tidak menemaninya. Bangun dan membuka tirai jendela memandang ke bawah, lalu lintas yang tidak pernah sepi walau sudah hampir tengah malam. Kota yang tidak pernah mati. Membayangkan selama dia tidak ada, di jalan itu ada kekasihnya sedang bersama dengan Kevin, mungkin mereka tertawa bahagia, senangkah kamu Kevin mendengar celoteh Alya yang selalu lucu, hangatkah bahumu setiap Alya menonjoknya saat bercanda?


Dipeluknya kah pinggangmu saat memboncengnya? Pernahkan punggungmu menjadi sandarannya? Berdesir kah tanganmu saat Alya spontan menggandeng tanganmu.


Merasa bangga kah kamu saat Alya duduk di atas panggung dan memetik gitarnya seakan lagu itu dinyanyikannya untukmu? Tertawakah kamu saat Alya mengambil sesuatu dari piring makanmu dan baru meminta izin setelah dia menelannya?.


Ooh, aku sepertinya harus berpandai pandai dan berdamai dengan rasa cemburu sekarang agar cinta ini tetap terus tumbuh berkembang dan semakin kuat. Malam ini kulukis wajahmu di punggung langit


tentang cemburu yang kian membukit


Dalam sendiri ini pikirku melayang


mengulang lagi kisah kita setiap halaman,


membaca nyanyianmu dalam puisi


kamu perempuanku dalam baris puisi,


semoga puisimu tidak terbang


melayang pada kesia-siaan


Karena semua sudah kupahat disini


Di hatiku yang semoga masih menjadi lelaki yang kamu pertahankan


Malam ini akulah pemilik hati yang melawan sakit menahan cemburu setengah mati.


Sakitnya jika benar kamu bisa bahagia tanpaku


Kamu yang dekat dengan hatiku tapi jauh dari tatapan dan pelukanku.


Pantaskah aku mengeluh untuk kebodohan dan ketiadaanku sehingga mengakibatkan ini.


Aku tau kamu bukan pencari harta, kamu tidak akan berpaling pada dia yang punya segala. Tapi sebatas apa kamu bisa menjaga semua?


Dan maafkan ceritamu tadi, terlalu banyak yang aku tidak percaya. Jujur saja selagi kamu bisa, kebohonganmu justru membuatku yakin keadaan kita tidak dalam keadaan baik-baik saja.


Aku tidak ingin tersingkir, dan belum boleh berakhir


sedang pintu sudah lama kita buka


Tapi katamu urusan dengan Kevin sudah selesai, kita hanya akan mempertahankannya saja.


Melegakanku, setidaknya aku tidak merangkak sendiri. Bangunkan agar lariku lebih cepat, aku sudah tidak sabar mencapai pintu untuk kita masuk berdua.

__ADS_1


__ADS_2