
Selesai mandi dan shalat magrib Alya merebahkan dirinya, menatap ponsel baru yang ada di sampingnya.
Kontakku yang sudah hilang, siaaaal!!! Alya membanting bantalnya. Aku tidak hapal no handphone ka Afkar, bukankah aku janji mau menghubunginya? Katanya dia menungguku, Semoga ka Afkar yang akan menghubungiku. Tadi dia bilang apa, sudah tidak di Surabaya? dimana dia sekarang? Ka Kevin kamu memperlakukanku dengan begitu lembut tapi mencengkramku begini, kamu marah karena ka Afkar menghubungiku, kamu tidak melarang dan tidak kasar sama sekali padaku, tapi no kontaknya kamu hapus begini, ini artinya kamu sudah sangat kesal dan mengingatkanku untuk tidak lagi berhubungan dengannya dengan cara apapaun, begitu kan? bisa saja kamu memintanya tidak perlu membelikanku smartphone baru untuk membeli hatiku. Sebenarnya ini tidak akan bermanfaat jika aku hapal no Ka Afkar, dan parahnya aku tidak menghapalnya. Pasti ka Kevin sudah mempertimbangkan dan sudah menyakini begitu cerobohnya aku dengan hal hapalan seperti ini.
Ka Afkar,,, kamu kenapa tidak pernah menghubungiku selama ini? katamu dulu akan menghargai hubunganku dengan ka Kevin, aku juga tidak menghubungimu karena tidak ingin menambahkan luka lagi pada hatimu. Tapi sejujurnya aku sangat merindukannya ka, aku selalu menatap layar ponselku setiap pagi berharap ada sapaanmu, tidak perlu puisi lagi, tidak perlu memujiku lagi, cukup katakan hai, dan seisi dunia akan menjadi indah untukku. Rasa ini tidak pernah mati, kesedihan yang terus bersandar pada hati. Tapi tidak pernah ku sesali. Aku yang masih saja tersesat dalam ilusi. Aku bahkan bisa menangis dengan gagahnya.
Sebuah panggilan telfon
" Assalamualaikum ka"
" Waalaikum salam, sayang aku sudah di depan"
" Iya tunggu, Alya turun"
Alya baru sadar kalau sejak tadi hanya berbaring dan lupa Kevin akan datang. Berdiri dan memandang diri di depan cermin. Heey, pipiku basah, aku menangis?. Alya menyeka air mata yang tidak disadari kapan jatuhnya. Menuruni tangga dan melihat Kevin sudah duduk di terasnya
" Ketiduran ya sayang? matanya sembab?"
" Iya ka"
Alya tersenyum
" Kita makan yu, aku sudah lapar"
" Alya naik dulu ya"
Kevin mengangguk.
Dan seperti biasa ritual baru ketika berjalan dengan Kevin Alya akan mengganti kostum dan penampilannya.
Kevin mulai menjalankan mobil Alya.
" Kita makan di mana sayang?".
" Terserah"
" Ada tidak jawabannya selain terserah"
" Kaka lebih tau selera yang bagus"
" Sayang, sesekali aku mau juga berantem pendapat, sudah kangen dengar omelanmu"
" Kaka mau berantem pendapat?"
" Iya"
Kevin tersenyum dan ingin menggoda
" Baik, sekarang jawab pertanyaan Alya, kenapa no kontak Alya semua di hapus? Alya tau sebenarnya ka Kevin cuma mau agar Alya tidak lagi berhubungan dengan Ka Afkar kan? Seharusnya bisa kan ka Kevin meminta Alya untuk menghapus satu nama kontak itu saja tanpa kontak yang lain? dan tidak perlu basa basi membelikan Alya smartphone baru"
Kevin dengan kebiasaannya menepikan mobil dan membuka kaca jendela kiri kanannya
" Maaf kan aku, aku ingin marah, tapi tidak bisa denganmu"
" Marah saja, Alya tunggu sekarang"
Tantanganmu begitu sepele Alya jika orang lain yang menantangku, tapi selalu tidak akan jika kamu. Kevin menatap wajah Alya yang sudah lama datar dan hilang kesangarannya, saat ini dia kembali melihat itu.
" Aku tidak akan pernah marah padamu, kesalahan apapun itu, jadi aku akan melampiaskannya ke hal lain, kenapa aku tidak meminta mu langsung untuk menghapus nomor ponsel dia? karena itu tidak mungkin, apakah kamu ingin aku akan melihat air matamu kembali berderai di depanku demi dia, lalu kamu akan menghujaniku dengan makian seolah aku yang bersalah dan terlalu mengekangmu, kemudian kamu akan dengan bebasnya mengatakan kalau aku ini posesif, iya kan?"
Alya tertunduk
" Sayang, aku ini kekasihmu, dan dia sudah menjadi mantanmu, pasti aku akan menjagakan jarak untuk kalian, aku tidak ingin sesuatu yang sudah kamu coba ini akan berakhir dan memulai dari nol lagi"
Alya hanya menatap ke samping kirinya dan membuang wajahnya
" Dengarkan aku Alya, lelaki manapun akan berlaku seperti aku, aku yang sudah lama menunggumu begini, kemudian kamu memutuskannya, aku sangat bahagia dan pastinya akan sangat menjagamu, dan maaf kalau aku salah, apa ada lelaki sepertiku yang bahkan kemarahanku harusnya bisa kulampiaskan? aku malah semakin memanjakanmu agar kamu sedikit mau lebih memberi rasa padaku. Aku ingin tanya, sekarang ini aku sedang menang atau sedang semakin dikalahkan?
Alya tidak ingin komentar, masih saja dengan diamnya
" Sayang, kamu sudah melepasnya, entah dia melepasmu atau tidak itu urusannya, tapi sekarang kamu milikku. Aku akan menjaga apa yang sudah kumiliki dengan baik, aku tidak ingin kamu tersentuh lagi olehnya dengan cara apapun. Aku ini sudah kamu pilih, tapi seperti orang yang kalah, aku sama sekali tidak mendapatkan cintamu sampai sekarang, tidak ada perhatian, bahkan untuk menanyakan kabarku saja tidak, sedang saat bersamanya dulu, tangan dan matamu tidak lepas dari ponsel dan chatting dengannya"
" Jangan memperbandingkan ka"
" Aku hanya ingin mendapat sedikit perlakuan cintamu Alya"
" Ka, apakah selama ini setelah kaka memiliki Alya, Alya pernah menolak? Alya selalu menurut kan ka?"
" Benar, dan semua kata terserahmu itu seperti membuatku tidak berarti apa-apa, kamu bahkan hampir menjadi boneka yang selalu menuruti mauku"
" Alya menurut salah, Alya melawan salah, harus bagaimana?"
Terdengar seperti sebuah rintihan pasrah
" Karena ini sudah keterlaluan Alya, kamu bisa kan menolak? kamu bisa kan memberi ide, jangan diam saja".
" Alya takut salah lagi, kehidupan Alya sudah sampai begini akibat kesalahan Alya ka"
" Alya, aku mendapatkanmu tapi seperti kehilanganmu"
Alya menoleh pada Kevin yang tidak lepas memandangnya sejak tadi
" Sayang, kembalilah seperti Alya yang dulu. Aku merindukanmu"
" Ka Kevin yang merubah Alya seperti ini, kenapa meminta mengembalikannya lagi?"
" Aku mengubahmu agar menjadi wanita terhormat, mempersiapkanmu menjadi seorang yang akan menjadi trend center, setelah kita menikah percayalah mata-mata akan tertuju padamu dan gerak-gerikmu akan diawasi, maka berbaik-baik lah sikap, tapi bukan sikap begini yang aku inginkan Alya. Sekarang kamu seolah menjadikan aku adalah penyebab dari perubahan yang akupun tidak menginginkan separah ini "
" Parah?".
" Iya, parah untuk kejiwaan kita Alya"
" kita baik-baik saja"
" Tidak bisa lama begini, kamu memendam sesuatu lalu kamu alihkan ke sikap kepasrahan, lalu perlahan kamu jadikan aku penyebabnya, sementara aku berjuang mati-matian untuk memberikan segalanya demi mendapatkan perhatian dan cintamu, tapi menjadi lelaki yang tersia-sia"
" Baiknya bagaimana lagi? Alya siap apapun yang ka Kevin perintahkan".
" Aku tidak akan memerintahkan apapun, aku hanya menginginkan kamu bisa memberikanku sedikit saja seperti yang pernah kamu berikan padanya"
" Jangan ingin menjadi dia, menyakitkan ka"
Alya menarik ujung bibirnya tersenyum getir
" Tentu saja aku tidak ingin menjadi dia, aku tetap bersyukur menjadi diriku sendiri, aku hanya menginginkan sedikit perhatian dan cintamu"
Alya menatap lekat Kevin yang seakan menghiba padanya, ini entah sudah menjadi permintaan nya yang keberapa, akupun lupa, tapi masih sama saja.
__ADS_1
" Alya sudah lama mencoba ka, dan ini masih terus dicoba, Alya mulai dengan menurutkan apa permintaan ka Kevin kan, mungkin ini sudah menjadi awal yang baik"
Alya mencoba tersenyum dengan sempurna. Kevin memeluk Alya dengan perasaan sedihnya
" Aku percaya dan sangat mempercayaimu, tolong jangan libatkan lagi dia dalam hubungan kita ya sayang, aku sedang membangun istana untuk kita, untuk anak-anak kita, untuk penerus kita, bantu aku dengan cintamu"
Kevin melepaskan pelukannya dan memandang Alya. Alya mengangguk
" Ka,,,"
" Iya sayang"
" Alya lapar"
Kevin malah mencubit pipi Alya bahagia
" Aku kangen permintaan sederhanamu yang ini sayang"
Alya tersenyum
" Bahkan kalau kamu minta beli satu restoran malam ini akan kubeli semuanya"
" Jangan sombong begitu ka"
Kevin tertawa dan mulai menyalakan mesinnya
" Kalau Alya mau belikan satu bintang di langit bisa tidak?"
" Tidak bisa, tolong minta yang lain saja ya"
Kevin tertawa dan melajukan kembali mobilnya dengan hati yang baru, semoga Alya kali ini tidak lagi ingkar janji. Beberapa kali melirik Alya yang menatap lurus ke depan
" Bagaimana ponsel barunya sayang?"
" Alya belum coba ka"
" Sayangkuuu, apa lagi yang harus kubeli sehingga bisa menarik perhatianmu" Kevin menggaruk kepalanya seakan sudah sangat bingung.
" Mungkin satu bintang bisa kaka bawakan untuk Alya ka"
Alya dan Kevin tertawa, semoga saja malam minggu ini menjadi malam yang indah, doa Kevin melihat sudah ada senyum tulus dari wajah Alya.
Minggu pagi, Alya masih saja berbaring di tempat tidurnya, rasanya pegal sekali. Tadi malam dia pulang jam 11, Kevin yang sedang berbahagia mengajaknya berkeliling, sempat Alya bercanda ingin pulang karena nanti bensinnya habis, spbu malam minggu tidak terima pengisian mobil yang isinya orang pacaran, Kevin menjawab enteng, kalau tidak mau mengisi, kita beli saja spbu nya, wuuiihh selalu gampang untuk dia, tapi soal mendapatkan cinta Alya, tidak akan pernah semulus itu untuknya.
Alya meraih gitar pemberian Afkar, duduk di teras atas sambil menatap ke bawah, banyak orang yang joging, gue menyanyi aja, malas dandan. Membuka ponsel baru untuk mencari kunci lagunya, memetik perlahan gitarnya dan mulai bersenandung
C Am Em
Dalam benakku lama tertanam
G
sejuta bayangan dirimu
C Am Em
Redup terasa cahaya hati
G
Mengingat apa yang telah engkau berikan
C Am Em
Waktu berjalan lambat mengiring
G
dalam titian takdir hidupku
C Am Em
Cukup sudah aku tertahan
G
dalam persimpangan masa silamku
F C Em
Coba tuk melawan getir yang terus kukecap
F G
Meresap ke dalam relung sukmaku
F C Em
Coba tuk singkirkan aroma nafas tubuhmu
F G
Mengalir mengisi laju darahku
[Chorus]
C CMaj7 Am
Semua tak sama .. tak pernah sama
F G C
Apa yang kusentuh apa yang kukecup
C Am Gm
Sehangat pelukmu .. selembut belaimu
Dm F G C
Tak ada satupun yang mampu menjadi sepertimu
C Am Em
Apalah arti hidupku ini
G
__ADS_1
memapahku dalam ketiadaan
C Am Em
Segalanya luruh lemah tak bertumpu
G
Hanya bersandar pada dirimu
C Am Em
Ku tak bisa, sungguh tak bisa
G
mengganti dirimu dengan dirinya
F C Em
Coba tuk melawan getir yang terus kukecap
F G
Meresap ke dalam relung sukmaku
F C Em
Coba tuk singkirkan aroma nafas tubuhmu
F G
Mengalir mengisi laju darahku
[Chorus]
C CMaj7 Am
Semua tak sama .. tak pernah sama
F G C
Apa yang kusentuh apa yang kukecup
C Am Gm
Sehangat pelukmu .. selembut belaimu
Dm F G C
Tak ada satupun yang mampu menjadi sepertimu
[interlude] F C 2x G
G Am F
[Chorus]
C CMaj7 Am
Semua tak sama .. tak pernah sama
F G C
Apa yang kusentuh apa yang kukecup
C Am Gm
Sehangat pelukmu .. selembut belaimu
Dm F G C
Tak ada satupun yang mampu menjadi sepertimu
C Am
Sampai kapan kau terus bertahan
Gm Dm G
Sampai kapan kau tetap tenggelam
C Am
Sampai kapan kau mesti terlepas
Gm Dm F G C
Buka mata dan hatimu relakan semua
Sebuah panggilan telfon mengejutkannya
" Assalamualaikum ka"
" Waalaikum salam sayang, sudah mandi?"
" Hehehe, belum. Ini lagi main gitar ka"
" Ooh, sebentar lagi aku kesana, bisa antar aku ke bandara, aku pesawat siang"
" Iya ka, Alya mandi dulu"
" Dandan yang cantik ya sayang"
" Kalau tidak dandan tidak cantik ya?'
" Cantik banget, ya udah tidak usah dandan"
" Hehehe, ya udah deh"
" assalamualaikum"
" waalaikum salam ka"
Setiap Kevin akan kembali ke Bandung, memang sudah menjadi tugas Alya mengantarnya ke bandara. Setiap 2 minggu sekali Kevin selalu datang untuknya, benar-benar untuk nya. Dan ini sudah berjalan selama 3 bulan sejak hubungannya dengan Afkar berakhir. Alya menatap lagi ponsel barunya, tidak ada lagi kontak nama Afkar, suatu kelalaian besar tidak mengingat dan menghapal nomer ponsel seseorang yang tercinta begini. Hubungi aku ka, aku sangat menunggu kabarmu, apa yang sudah terjadi padamu selama 3 bulan ini? apa kamu baik-baik saja ka? apa kamu mengabariku kalau kamu sudah mendapatkan penggantiku? oh tidak, aku tidak kuat mendengarnya. Ponsel lama pembelian papah masih ada, membuka galeri, wajah teduh Afkar dengan senyuman yang sampai sekarang masih membuatku bergetar karena gugup. Alya mencium wajah Afkar pada layar ponsel lamanya.
" Aku merindukanmu ka, aku masih sangat menyayangimu, dimanapun kamu berada, semoga selalu sehat dan mendapatkan perlindungan. Semoga kita masih bisa bertemu, dan semoga kita masih menjadi takdir, dengan cara yang baik. Alya sedang skripsi ka, semua lancar dosen pembimbing Alya baik, teman yang membantu Alya juga banyak, kaka angkatan yang bersedia memberikan ilmunya, teman-teman yang membantu Alya ke lapangan, teman kost Alya yang selalu mengingatkan Alya untuk makan, dan terlebih Arga, Sylvia dan Roni, jam berapapun 2 lelaki itu akan datang saat Alya perlu bantuan. Alya juga tau ka Afkar selalu mendoakan Alya, seperti biasanya, kenapa Alya tau? Alya kan sering bicara sama bulan, setiap malam bulan setia mendengarkan cerita Alya ka, dan angin malam selalu membisikan kalau ka Afkar sedang mendoakan hal baik untuk Alya, terima kasih ya ka. Alya sayang ka Afkaarr"
__ADS_1
Alya sekali mencium wajah Afkar, setelah puas memandanginya Alya mengambi handuk dan turun ke bawah untuk mandi. Sebentar lagi paduka rajaku datang, aku sudah harus siap menyambutnya. Dan ritual perdandanan harus kulakukan lagi.