
Dengan menggunakan taksi online Afkar berhenti di depan pagar pak Wijaya dengan membawa 2 koper besar berisi pakaian dan surat-surat berharganya, termasuk foto berharga. Afkar turun dan mulai mendekati pagar. Satpam yang bernama Rudi membukakan pintu untuknya sambil tersenyum
" Selamat malam Afkar"
Afkar mengangguk
" Selamat malam pa Rudi , maaf saya datang malam, karena kata pa Wijaya saya sudah masuk bekerja besok pagi"
" Iya, bapak sudah mengenalkanmu pada kami yang bekerja di rumah ini. Oh iya, sudah tau kamarmu?"
Afkar menggeleng, kemarin dia hanya di cetitakan saja tanpa ditunjukan tempatnya, bagaimana aku bisa mengenali rumah ini, luasnya saja mungkin sama dengan sawah milik kakekku di kampung
" Kamu masuk dan terus saja berjalan pada sisi kanan rumah ini, sampai nanti akan ada parkiran mobil bapak, belok ke kiri ada tempat barbeque, dan kolam ikan hias bapak. Tidak jauh dari situ ada kamar yang bersusun, nah kamar paling pojok adalah kamarmu, tidak kami kunci karena kata pak Wijaya kamu akan datang hari ini"
Afkar mengangguk
" Terima kasih pak, saya permisi ke dalam dulu"
" Selamat datang Afkar, semoga kamu betah, majikan kita orang baik, begitu juga putera puteri beliau"
Afkar tersenyum dan perlahan meninggalkan pa Rudi. Semoga kehidupanku akan lebih baik di sini.
Sesuai petunjuk pa Rudi, Afkar berjalan menuju ke kamarnya, hanya untuk menuju ke kamarnya dia harus melewati berbagai tempat, parkiran yang berisi dengn 4 buah mobil, ada dua mobil mewah dan dua mobil harian. Terdapat juga dua motor sport balap berwarna merah dan hitam. Ada dua motor 2 tak yang masih baru dan dua motor matic, yang satu matic kecil dan satu matic besar. Afkar tersenyum, teringat dengan motor matic Alya, dia juga punya dua motor matic, janjinya akan dikembalikan pada Kevin, tapi sekarang sudah menjadi kepemilikan penuh karena Alya sudah menerima seutuhnya Kevin beserta apapun pemberiannya. Afkar menghela napas dan membuang lagi ingatannya tentang Alya.
Satu sapaan membuatnya kaget.
" Hai kaaa, mau kemana?"
Afkar menoleh walaupun terkejut di buatnya seolah-olah tidak ada apa-apa.
" Ooh maaf, saya supir baru pak Wijaya"
" Oh ini ka Afkar? Kenalin namaku Aprill. mahasiswi fakultas kedokteran semester tiga, puteri papah Wijaya. Kami berdua bersaudara, tapi ka Galih kerja di Tabalong, di sini Aprill jadi anak satu-satunya deh, hehehe. Oh iya Kaka harus sabar ya papah itu kalau ngobrol suka banyak, apalagi kalau memberi pesan, tau tidak Aprill kadang pura-pura menguap biar di pikir papah mengantuk, padahaaaall, boooong, hahahhaa"
Jantung Afkar berdetak cepat, bukan karena wajah manis gadis di depannya, bahkan ia belum melihat wajah gadis itu, dari tadi ia cuma menunduk dengan topinya dan tidak berani menatap gadis di depannya. Tapi suara dan gaya bicara seenaknya dari gadis ini membuatnya teringat dengan perkenalan pertamanya dengan Alya, perkenalan yang hanya dilakukan dengan cukup beberapa kata, tapi diucapkan dengan panjang lebar.
" Ka, kada mau kenalan kah lawan ulun?"
( Ka, enggak mau kenalan kah dengan saya?)
Afkar mengulurkan tangannya karena gadis di depannya sudah mengulurkan tangan
" Ooh, saya Afkar"
" Kaya itu aja kah? hahaha. Ka, ulun kada pinandu muha pian, buka pang topinya"
(begitu saja ya? ka, saya tidak mengenali wajahnya, buka topinya dong)
Afkar perlahan membuka topinya dan tersenyum. Gadis manis ini berkulit putih dengan rambut terikat di belakang, memakai celana jeans pendek dan baju kaos warna merah muda.
" Nah, kaya ini kan ulun kawa meliat muha pian, ka sekalinya cerita papah kada dusta, jar sidin ka Afkar itu anum, tinggi, bungas, hidungnya mancung, alisnya tebal. Dan papah senang karena jujur"
( kalau begini saya bisa meliat wajah kaka, cerita papah ternyata benar, kata beliau ka Afkar itu muda, tinggi, cakep, hidungnya mancung alisnya tebal. Dan papah senang karena jujur)
Afkar tersenyum
" Terima kasih"
Afkar memasang topinya lagi
" Ka, jangan dipasang lagi, kalau kada betopi ka Afkar ini adalah supir paling bungas se Banjar, hahahaa"
(Ka, jangan dipasang lagi, kalau tidak bertopi ka Afkar adalah supir paling cakep se Banjaran hahaha)
Astaga,, aku harus secepatnya berlalu dari sini, kenapa kamu bisa mengcopi faste ucapan kekasihku? bedanya kamu memakai bahasa daerahmu.
" Maaf, saya permisi, mau ke kamar saya"
" Oh silakan, kalau mau makan jagung bakar kesini ja, kami lagi bepanggangan, kawani ulun, ada ae acil Irus dan acil Niah jua"
( Oh silakan, kalau mau jagung bakar kesini ja, kami lagi bebakaran, temani saya, ada ae bi Irus dan Bi Niah juga)
Afkar mengangguk dan cepat berlalu, menenangkan jantungnya, Alya ku,,, sampai di sini kamu masih mengikutiku juga?
Sebuah ruangan berukuran 6x5 M berisi televisi berukuran 21 inci, lemari es satu pintu dan satu set kursi beserta mejanya. Memasuki satu ruang ,satu kamar tidur yang sudah berisi satu tempat tidur ukuran sedang, satu lemari pakaian dan kaca besar. Di bagian belakang ada kamar mandi dan toilet serta tempat menjemur pakaian. Desain yang cantik, jika keluar dari kamar ini akan langsung disuguhi pemandangan barbeque.
" Assalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Afkar membuka pintu, seorang lelaki berusia 45 tahunan tapi dengan tubuh tegap berdiri di depan pintu
" Kenalkan saya Bandi, satpam di sini, kamu supir pa Wijaya?"
" Iya pak"
Afkar mengangguk
" Kita makan jagung bakar dulu, non Aprill sudah besaruan, hahahha"
( kita makan jagung bakar dulu, non April sudah mengundang)
Walaupun tempatnya memang berhadapan, tapi jarak antara kamar mereka dengan tempat barbeque lumayan jauh
" Non Aprill tu kadada kawan di rumah, jadi bebuhan kita ne pang yang mengawaninya, tapi rami jua pang, ada hiburan kita"
( Non Aprill itu tidak punya teman di rumah, jadi kita-kita ini yang menemaninya, tapi seru jua ada hiburan kita)
" Ooh, tidak apa kita bergabung majikan pak?"
__ADS_1
" Non Aprill lawan bapak tu kada membedakan siapakah, asal urang baik dan sopan sidin himung"
( Non Aprill dan bapak tu tidak membedakan siapapun, asalkan baik dan sopan beliau senang)
" Sering ya pa, non Aprill masak-masak begini?"
" Wahini sudah jarang, soalnya kuliah pang di kedokteran, sibuk banar sudah"
( Sekarang sudah jarang, karena kuliah di kodekteran, sibuk sekali sudah)
Afkar mengikuti langkah pa Bandi mendekati Aprill dan acil-acilnya
" Hai ka Afkar, oles sorangan bumbu nya ka lah, kalau ulun yang meolesi akan kalo pian sakit parut, hahaha"
( Hai ka Afkar, oles sendiri bumbunya, kalau saya yang meolesi nanti kamu bisa sakit perut)
Afkar menatap jagung di tangan Aprill, luar biasa cocolan cabe nya.
" Aprill, sasadangnya lombok, tapi kuliah kedokteran, lawan lombok kada mengungurangi"
( Aprill, yang sedang saja cabenya, kuliah di kodekteran sama cabe tidak dikurangi)
Pa Wijaya datang dan langsung duduk di satu kursi yang memang sudah disediakan berjejer di tempat itu
" Inggih pah, kena Aprill kurangi jua ae"
( Iya pah, nanti akan Aprill kurangi)
" Kaya itu ae tarus bejanji, bebilakah di tepati"
( Begitu terus janji, kapankah di tepati)
Aprill tertawa dan duduk di samping pak Wijaya
" Di usahakan bos, hehehe"
" Ayo silakan semua, Afkar silakan"
Pa Wijaya mengambil tusukan sosis saja katanya sudah tidak kuat makan jagung karena giginya tidak sekuat dulu.
Dan Afkar???
Mendengar percakapan ini dari awal membuat jantungnya berdegup begitu cepat. Aku mimpi??
Aprill, seorang gadis manis berkulit putih dengan sikap manja yang banyak ngomong, gaya jenakanya, penyuka pedas dan berjanji akan mengurangi tapi belum juga ditepati? Aku berada di mana? ini Aprill anak majikanku? atau Alya yang sedang menyamar?
Uuh, aku harus waras, ini hidupku, dan dia Aprill bukan Alya cintaku.
Afkar perlahan ikut mengoleskan bumbu pada jagung bakar yang sudah dipegangnya. Sesekali terdengar obrolan pak Wijaya dengan pak Bandi, acil Irus yang mengabarkan kalau tetangga mereka sedang di rawat di rumah sakit karena penyakit ginjalnya dan pa Wijaya menanggapi
" Afkar, besok sore sepulang kerja ingatkan saya kita membesuk ke rumah sakit"
" Iya pak"
Setelah mandi dan shalat subuh Afkar sudah siap di depan kamarnya, bingung akan menunggu di mana, sementara kemarin pa Wijaya menjamin makannya, tapi di mana. Pa Rudi keluar dari kamar nya dan melihat Afkar yang masih bengong
" Afkar, kita sarapan dulu"
" Di mana pak?"
" Di dapur, ayo ikut saya"
Afkar mengikuti langkah pa Rudi, kali ini tidak melewati jalan yang tadi malam, tapi melewati pintu di depan tempat barbeque. Ada satu pintu yang langsung menghubungkan ke dapur. Sebuah ruang besar. Dapur bernuansa putih ini lebih memberikan kesan desain dapur mewah yang lebih karena penggunaan material batu marmer putih. Penempatan lampu gantung kristal di tengah dapur juga menambah nilai kemewahan dari dapur ini.Dikombinasikan dengan perabot dapur dari stainless steel, desain dapur ini bisa dibilang kekinian. Penggunaan kursi bar yang dibalut dengan warna putih juga. Terpampang juga kitchen set dengan desain modern elegan dengan rak-rak untuk penyimpanan perabot berwarna putih dengan kombinasi cokelat muda.
Acil Idah melihat kedatangan Pa Rudi dan Afkar langsung mempersilakan mengambil makanan sendiri yang sudah tersedia di atas meja dapur ini
" Afkar, silakan di ambil sendiri, prasmanan, hehehe. Mau kopi?"
" Saya teh saja, biar saya bikin sendiri pak"
" Baiklah"
Afkar mengambil gelas dari gantungan dan memasukan gula dengan teh seduh kemudian memasukan air dari dalam termos. Selesai dengan minuman dia melihat pak Rudi memasukan nasi ke dalam piring dan menyendok telur ceplok. Beberapa teman sayur juga sudah terhidang, ada tahu tempe yang di oseng dengan bawang merah dan cabe merah. Kemudian juga ada terong ungu yang di masak balado. Afkar kemudian mengikuti tahapan yang dilakukan pa Rudi dan duduk disampingnya
" Pa Rudi, kita makan di sini, pa Wijaya dan non Aprill di mana?"
" Mereka itu makannya agak siangan, kita harus lebih dulu karena kita kan harus lebih dulu siap dari mereka. Setelah ini kamu tunggu di teras, jam setengah delapan pa Wijaya akan turun dan sarapan dengan non Aprill di ruang makan, kamu tunggu di teras, nanti beliau akan memanggil mu"
Tak lama masuk seorang pria berbadan bongsor
" Waah badahulu kah ne, hahaha"
( wah duluan ya, hahaha)
" Sedikit, hehehe"
Pa Rudi menjawab dengan logat Jawanya yang masih lekat. Sama dengan Afkar yang sudah mulai mengerti arti percakapan bahasa Banjar, tapi belum bisa mengucapkannya.
" Ini Afkar kah? kenalkan aku bang Jali, supir non Aprill"
Afkar mengulurkan tangan
" Afkar pak"
" Kada usah pakai pak, sama haja kita, kiyau bang Jali aja, nama artisku, hahaha"
( tidak usah pakai pak, sama saja kita, panggil bang Jali aja, nama artisku)
" Iya bang Jali"
__ADS_1
Mereka bertiga makan dengan menu yang sudah disiapkan acil Irus dan acil Niah. Sementara menu sarapan untuk pa Wijaya dan Aprill sudah tersedia di meja makan pada ruang tamu. Afkar mencoba melirik ke dalam rumah, besar sekali rumah ini dan tertata, interiornya di desain dengan modern.
Afkar dan bang Jali duduk di teras sambil menunggu Pa Wijaya dan Aprill keluar. Tak lama terdengar pak Wijaya memanggil
" Afkaar"
" Iya pak"
" Afkar, dipanggil, cepat datangi beliau"
Pa Jali memberi tanggapan mendengar suara pak Wijaya dari dalam. Afkar segera masuk.
" Selamat pagi pak"
Pak Wijaya tersenyum
" Selamat pagi, kamu sudah sarapan?"
" Sudah pak"
" Baik. Saya akan memberitahukan dulu tugas mu hari ini. Kamu akan mengantar saya ke kantor. Kemudian temui sekretaris saya namanya ibu Tantri, minta jadwal saya hari ini, kamu cek di jam berapa saya ada keluar apakah itu kita mengecek ke lapangan atau janji bertemu klien, kamu harus siap di jam itu. Kamu mengerti Afkar?"
" Insyaallah pak, saya akan melaksanakannya"
Pa Wijaya kembali tersenyum
" Baik lah, kita ke garasi sebentar, saya ingin kamu melihat dulu mobil yang biasa saya gunakan, apakah kamu nyaman juga memakainya, mari"
Pa Wijaya meminta Afkar mengikutinya, dan saat Afkar berjalan mengikuti Pak Wijaya, Aprill juga mengikutinya, Afkar menoleh. Aprill hanya tertawa.
" Nah Afkar saya biasa menggunakan ini"
Afkar menatap mobil yang di pegang pak Wijaya sebuah Toyota Land Cruiser berwarna attitude black mica. Baru kali ini aku memegang mobil mewah begini, oke Afkar, kamu mampu, bisiknya di dalam hati.
" Insyaallah pak, saya akan siap mengantar bapak kemana saja"
" Baik. Aprill, apa yang kamu liat?"
" Hehehe, kada papa, berarti mobil ulun aman"
( Tidak apa, berarti mobil saya aman)
Afkar memandang gadis manis di depannya yang memakai jeans biru tua dengan kemeja warna cream sedikit di kombinasi garis putih pada bagian kancing tengah dan panjang lengan sampai siku. Bulu mata yang lentik itu berkerjap-kejap kegirangan karena papah tidak memilih mobil favoritnya hari ini. Memang mobil dia yang mana?
" Hari ini papah memakai ini dulu, besok mungkin pakai si putih mu itu, hehehe"
Mendengar si putih Afkar langsung bisa menebak kalau si putih itu adalah New BMW 520i Luxury Line dengan warna Alpine White
" Begini ni nasib minjam, sisanya aja"
" Aprill, sisanya juga syukur, hehhe"
Aprill melirik Afkar sambil menyenggol sikunya, Afkar kaget.
" Ka, papah ne tega banar lawan ulun, jar sayang, tapi belum membari akan, nasib ka ae"
(Ka, papah ne tega sama saya, katanya sayang tapi belum membariakan, nasib ka)
Bukan kata-katanya yang membuat Afkar kaget dan terpana, senggolan itu, aku merasakan seperti aliran listrik mulai menjalari tanganku akibat senggolanmu Aprill. Seperti perlakuan konyol Alya padaku. Betapa ingin dirabanya siku yang barusan si senggol Aprill, benar tadi Aprill yang melakukan? astaga aku mulai lagi, terlalu berat halusinasiku tentang kamu cintaku, bahkan gadis kecil di depanku ini seakan adalah kamu, kamu yang dulu.
" Baik Afkar, kita berangkat sekarang. Aprill, selesai kuliah jangan kemana-mana, pulang langsung ya"
" Pah, ulun handak makan bakso dulu di Batuah lawan kawanan boleh lah, setumat aja, habis tu langsung bulik ae"
( Pah, saya mau makan bakso dulu di Batuah bersama teman-teman boleh tidak, sebentar saja, setelah itu langsung pulang)
" Boleh, tapi sama bang Jali aja lah, jangan numpang ke teman lain"
" Oke papah sayang, minta duiiitt, hehehe"
" Berapa banyak kawannya? seini cukuplah"
Pak Wijaya mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dan menyerahkannya pada Aprill
" Papah ini, cuma 4 orang, paling seratus ribu lebih dikit"
" Sisanya buat jajan besok dan sampai bulan depan, hehehe"
" Hoaaa, selajur sampai tahun depan pah, ulun cukup taruuss, hahhaa"
(sekalian sampai tahun depan pah, saya cukup terus)
Afkar masih dengan terpana nya, makan bakso dengan teman-teman? itu makanan favorit Alya dengan sambal pedasnya yang membuatnya sampai menghabiskan dua botol air mineral. Cepat pak Wijaya kita berangkat, saya takut otak saya sedikit tergeser karena sikap dan kata-kata puteri bapak, saya harus mengamankan memori otak saya di tempatnya yang benar, tolong non Aprill, berhentilah bicara agar napas ini masih bisa terkontrol.
" Bicara sama kamu kadada habisnya, papah berangkat dulu"
Pak Wijaya mengulurkan tangannya pada Aprill dan disambut Aprill dengan menciumnya.
Pak Wijaya masuk ke dalam rumah untuk mengambil tasnya
" Afkar, ambili di teras lah"
( Afkar jemput di teras ya)
" Iya pak"
Aprill sedikit menepuk punggung Afkar dari belakang.
" Ka Afkar, topinya jangan di pakai lagi lah, kaya ini nah keren ka ae, hehee"
__ADS_1
( Ka Afkar, topinya jangan dipakai lagi ya, seperti ini keren)
Afkar cepat memasuki mobil demi jantungnya yang sudah tidak normal lagi, kamu reinkarnasi Alya? huuh. Jagakan aku dari bayangan ini.