Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Tulisanmu Kekasihku


__ADS_3

Turun dari mobil sedan berwarna hitam, Arga menaiki tangga kedai Pelangi. Ketiga sahabat sekaligus Bowo sudah bercengkerama pada satu meja.


" Sorry gue telat"


" Arga, kenapa enggak bilang, kan gue bisa jemput"


" Enggak papa Al, gue tadi mampir sebentar beliin titipan teman gue"


" Lo mau minum apa Ga?"


" Teh manis aja gue Wo"


" Okee"


" Ga, katanya kita akan rutin ketemuan empat bulan sekali, ini baru sebulan sudah ketemuan lagi"


" Bosan lo liat gue Syl?"


" Bukan gitu, bolak balik enggak capek lo, sudah ngurusin kerjaan, Fanya enggak ngambek lo tinggal terus ke sini pas weekend?"


" Berani ngambek gue putusin"


Roni tergelak


" Wuiih, Arga sekarang tegas banget, coba dari dulu lo kaya gini, enggak bakalan berani Alya sama kita Ga"


Alya tersenyum


" Emang gue sesadis apa sih sama kalian, hehehe"


" Enggak sadar lo ya Al"


Alya tidak melanjutkan lagi obrolan Roni, bikin malu gue ingat kelakuan gue dulu.


Bowo menatap Arga, seolah minta persetujuan, Arga mengangguk pelan memberikan kode.


" Al, emmm"


Alya melirik


" Apaan Wo? minta gue nyanyi? bentar deh, gue santai-santai dulu"


" Al, kemarin Afkar mampir kesini"


Alya dan kedua sahabatnya kaget sambil memandang Bowo


" Yang bener Wo? dia masih hidup? kapan? sama siapa?"


Sylvia menghujaninya dengan banyak pertanyaan, sementara Alya hanya diam bengong tidak percaya.


" Iya Syl, dua minggu yang lalu, sendiri, katanya menemani bos nya meeting di sini"


Alya masih saja diam menatap Bowo, seolah meminta lagi penjelasan, tapi mulutnya tidak bisa bicara, keringat dingin mengucur dan seluruh tubuhnya gemetar.


" Dia duduk di sana"


Bowo menunjuk satu tempat duduk pada bagian pojok. Alya mengikuti arah telunjuk Bowo. Itu kan tempat kami duduk berdua dulu setelah jadian.


" Dia menanyakan kabar kalian, terutama Alya"


" Lo jawab apa?"


" Gue jawab aja yang sebenarnya, kalau Arga kerja di perusahaan bokap nya di Jakarta, lo melanjutkan usaha showroom dan Sylvia sudah punya anak"


" Kalau Alya dia nanya apa?"


" Banyak Syl, tapi gue masih ingat semua pertanyaannya tentang Alya"


Aly masih saja diam, Arga menatap Alya dengan sedikit ketakutan. Baru mendengar Afkar datang kamu sudah begini Alya, bagaimana setelah membaca surat Afkar. Semoga Bowo masih ingat pesan gue, jangan mengeluarkan atau membicarakan surat dulu, kita liat apa reaksi Alya mendengar Afkar datang.


" Alya, dia menanyakan kabar lo, wisuda, kesehatan, kerjaan, dan,,"


" Dan apa Wo?"


Sylvia semakin penasaran


" Dan Kevin. Gue cuma menjawab Kevin di Hongkong sekarang"


Semua menatap Alya yang masih belum bisa membuka mulutnya, penuh ketegangan, penasaran, kerinduan dan ketakjuban.


" Al, dia juga bilang, mungkin sekarang lo tambah manis, terus gue kasih liat saja rekaman cctv pas lo manggung nyanyiin lagu Jikustik Puisi. Dia sangat serius Al menontonnya, gue enggak tau dia liatin apa, tapi sepertinya matanya fokus pada satu titik, entahlah, padahal bodi lo enggak berubah, kalau dia liatin body lo seharusnya tidak seserius itu"


" Yang mana sih Wo, buka dong di sini, lo pake baju apa kemarin Al?"


Alya masih saja belum bicara, otaknya sedang berputar, apa yang dia liat dari gue ya? apa karena penampilan gue sudah tidak berantakan kaya dulu lagi. Bowo masuk ke dalam ruangannya dan kembali duduk sambil membuka laptopnya. Satu video muncul, Alya duduk dengan dress selututnya sambil memegang gitar dan bernyanyi.


Semua memandang laptop dengan serius


" Dia kaget lo pakai dress kali Al"


" Bukan, rambut Alya yang panjang itu mungkin membuatnya terkesima, biasanya kan cepak"


" High heels lo Al, salfok dia ngebayangin gimana lo jalan tanpa sandal jepit lo"


Alya sudah menemukan jawabannya, dan kali ini bibirnya sudah bisa bicara


" Bukan, dia memandangi kalung gue"


Semua mata beralih pada Alya, mencari jawaban Alya. Alya perlahan mengeluarkan liontin kalung dari balik kemejanya, ALFAR.


Semua menghela napas, Alya masih memakainya, bahkan sahabat-sahabat yang dulu setiap hari bersama tidak pernah penasaran apa liontin dari kalung Alya yang selalu dipakainya tapi dimasukan ke dalam pakaiannya.

__ADS_1


" Lo masih pakai Al?"


Sylvia memegang tangan Alya, Alya mengangguk dan menunduk


Semua diam, Bowo masih menunggu instruksi Arga kapan akan mengeluarkan senjata pamungkasnya. Arga juga masih menanti apakah Alya masih kuat.


Alya tersenyum dan memandang Bowo.


" Bagaimana keadaan ka Afkar Wo? dia sehat?"


Kali ini Alya jauh sudah terlihat bisa menenangkan perasaannya


" Iya, dia sehat, masih ganteng Al, hehehe"


Alya semakin tersenyum, iya. Dia memang ganteng, ganteng sekali.


" Lo mau liat? gue ada fotonya"


Alya mengangguk, Bowo mengeluarkan ponselnya dan mencari galeri di dua minggu yang lalu. Seorang lelaki sedang duduk dan dihadapannya ada kertas dan pena


" Dia sedang apa Bo?"


Uupps, lupa gue pas motret ini Afkar kan sedang menulis surat, Bowo menoleh pada Arga, dengan situasi sudah begini bagaimana bisa ditahan lagi, lanjut saja, Arga mengangguk.


" Dia sedang menulis Al"


" Menulis apa?"


" Surat buat lo"


Alya dan kedua sahabatnya menatap Bowo dengan tatapan heran, surat??


" Buat gue? mana?"


" Sebentar"


Bowo kembali masuk ke dalam ruangannya dan kembali dengan kertas berbentuk segi empat yang sudah berlipat.


" Ini Al"


Ketiga sahabatnya menatap Alya yang sekarang sudah memegang surat itu.


" Al, kalau lo mau baca di rumah simpan saja dulu"


Sylvia memberikan saran, Arga cepat menolaknya


" Buka di sini saja Al, biar kami bisa tau ada apa, mungkin setelah ini lo akan memerlukan bantuan kami, buka saja Al, jangan takut, kami di sini"


Alya memandangi sahabatnya satu persatu, bimbang dan penasaran. Ka Afkar akan mengabariku apa?. Tangan kecilnya perlahan membuka kertas itu, tiga lembar kertas HVS.


" Bismillahirrahmanirrahim"


" Assalamualaikum


Teruntuk cintaku


Apa kabar bidadariku? sehat? semoga selalu dalam lindungan Allah SWT. Aku juga sehat, tapi sekarang agak gemukan, aku sudah tidak fitness lagi sih, belum ada waktu lagi, hehe"


Alya tersenyum dan memandang sahabatnya yang sedikit lega melihat Alya tersenyum.


" Aku barusan dari kampusmu, mencarimu di setiap sudut, walaupun hanya lewat kaca, aku tidak menemukan wangimu di sana, pantas saja, kamu sudah wisuda dan tidak berada di kampus itu lagi.


Aku kemudian ke kost mu, kupasang indera pendengarku, agar bisa mendengar celoteh dan cerita lucumu hari ini, tidak ada juga, ternyata kamu sudah pindah dan bekerja di tempat ka Pandu.


Kekuatan mengarahkan ku kesini, kedai kopi tempat kamu biasa menikmati minuman favoritmu dan menghibur hati-hati para pengunjung dengan lagu cinta pada gitarmu. Maaf bidadari, surat ini kutulis dengan seadanya, semoga saja sampai padamu dan tulisanku bisa terbaca"


Alya menatap Bowo sebentar, kamu memilih tempat yang tepat, Bowo menyampaikan amanahmu dengan baik. Bowo juga menatap Alya, apakah Afkar menyebutku Alya sehingga kamu tersenyum padaku?.


"Aku boleh cerita?


Aku punya dua kabar untukmu, yang satu kabar buruk dan satu kabar baik.


Kabar baiknya aku sudah mencoba mendapatkan penggantimu, maaf ya.


Dan kabar buruknya, aku malah menyakitinya dan kembali lagi menggilaimu".


Alya mengernyitkan alisnya, kali ini ada sedikit kekhawatiran di wajah sahabat-sahabatnya.


" Bidadari yang masih saja sangat kucintai.


Maaf untuk kelancanganku kali ini, mengandalkan kertas yang semoga kamu masih berkenan membacanya, dimana aku menampungkan sebagian perasaan sedihku, hanya sebagian, karena aku takut tidak kuat menceritakannya padamu. Masih saja aku menyayangimu sebagai kekasih, tapi aku kehabisan kata, bagaimana kutulis kamu cinta sedangkan tatapanmu lebih dari puisi dan fananya isi dunia.


Melihatmu lagi lewat rekaman sahabatmu yang kulihat dari layar kacanya, menghantarkanku pada kesedihan mencapai kenangan menuju kisah kita, pikirku mengembara diantara larik-larik tak berkait, lepas tak beraturan. Penderitaanku yang melakukan perjalanan jauh hampir tak bisa ditempuh. Memasrahkan menatapmu dengan penglihatan batinku. Kamu tau aku masih saja fasih menyebut namamu tanpa sesal. Sesekali aku ingin mengulang reka adegan hal-hal lucu kita, tentunya dengan perasaan yang sama, tapi sepertinya tidak akan bisa lagi ya? hehe"


Matamu Alya, mulai dengan kaca-kaca. Sahabatnya mulai berpandangan, Arga mulai gelisah, tolong Afkar jangan mengabarkan kalau kamu memberikan Alya ancaman ataupun kemarahan, jika itu tertulis kita akan segera berhadapan, bagaimanapun caranya.


" Lagumu yang baru kudengar, apa kamu masih ingin menuliskan puisi untukku?. Aku ingin sekali berlari melebihi secepatnya cahaya kilat padamu, sebagai musik yang pelan agar tak mengusik bahagiamu bersamanya, menghalau rasa ingin tahuku tentang kabarmu, begitupun aku sangat ingin mengabarkanku walau tak berlafal.


Aku masih selalu mendoakanmu setiap pagi, dari lengkung langit tempat bulan bintang yang menjagamu tadi malam dari kesepian dan mimpi buruk. Untuk kebaikan dan kelancaran harimu yang akan kamu lewati.


Aku juga tidak lupa mendoakanmu di malam hari, dari aliran sungai-sungai pada kotaku yang memelihara air dan buihnya dengan kerlipan lampu memantulkan senyumanmu. Menitipkan pesan pada angin untuk meniupkan lembut pada matamu, agar kamu bisa tidur nyenyak dan tenang"


Kali ini tangisan tidak bisa lagi ditahan, jatuh tanpa tertahan, membuat kertas kedua itu basah oleh air mata. Sylvia hanya merangkul pundak Alya tanpa tau apa yang bisa dilakukannya, haruskah menyuruh Alya berhenti membacanya?. Arga hanya memberi kode pada Sylvia untuk tidak bicara ataupun merebut surat itu, biarkan Alya melanjutkannya.


" Aku yang pernah menjadi orang terpilih, tapi tidak pernah menyiapkan menjadi orang tersisih. Kupikir dia yang menyerah, ternyata aku yang kalah. Sayangnya aku tidak tau ini adalah semacam perjuangan, aku yang diam dan dia yang memenangkan, seperti tidak adil ya? tapi tidak apa, aku sadar keadaan.


Ketidakmampuan kuasa dan materi memerlukan waktu yang harus dibayar dengan kekuatan, dan aku memang belum memilikinya. Aku yang menepi demi hidupmu yang tidak akan bisa hanya dengan kecukupan, hanya cukup, tidak berlebih. Kamu tidak akan memahaminya sekarang"


Alya mulai bergetar membaca tulisan-tulisan Afkar.


Aku minta maaf jika ini mengganggu harimu hari ini, aku tidak ingin menanyakan tentang dia karena itu membuatku semakin menderita, tapi aku berharap kamu akan berbahagia dengannya, semoga dia juga mencintaimu seperti aku.

__ADS_1


Aku juga minta maaf terakhir kamu berjanji untuk menghubungiku, tapi kamu malah mengganti nomor ponselmu, jika tidak ingin lagi mendengar suaraku, tidak usah memutus tali silaturahmi, katakan saja jangan lagi menghubungimu, aku akan mengerti, apa yang tidak pernah kulakukan di setiap inginmu? hehehe.


Saat di taman pinus pertama kuucapkan semua perasaanku yang tertahan selama dua tahun, dan kamu menerimanya. Aku teramat bahagia walau tak satupun hal romantis yang ada dibenakku sebelumnya terjadi karena ulah usilmu yang selalu membuatku tertawa. Kupikir hanya maut yang akan memisahkan kita, ternyata bukan hanya maut, belum bersatupun kita sudah berpisah. Aku menjadi eccedentesiast. Tidak apa, tidak merugikan siapapun, yang aku takutkan sekarang aku tidak ingin menjadi seorang yang bukan diriku karena kemarin aku baru saja menyakiti seseorang untuk hal yang bukan kesalahannya.


Kamu masih akan selalu menjadi udara untuk napasku, pada nyali yang berujung ingin jumpa, masih padamu aku ingin berpulang. Saat membaca ini aku tidak berharap kamu ditemani air mata, kamu pasti sudah menjadi kuat.


Bidadariku


Baik-baik ya, salam untuk sahabat-sahabatmu, aku pamit.


Assalamualaikum


Emuuah.


Dari yang masih mencintaimu


AFKAR RAHADIAN.


Alya menyodorkan surat itu ke tengah meja, segera memeluk Sylvia. Arga meraih surat dan membacanya perlahan. Ingin memastikan kalau ketakutannya tidak terjadi, kalau Afkar tidak dalam membuat Alya dalam tekanan.


" Dia masih mencintai Alya"


" Menuliskan nomor ponselnya Ga?"


" Tidak ada Syl"


" Dia tidak ingin mengganggu hubungan Alya dan Kevin Ga"


" Iya Ron, dia hanya menceritakan perasaannya"


" Sudahlah Al, yang penting kita sudah tau dia masih hidup dan baik-baik saja"


Sylvia mengelus rambut Alya yang masih dalam pelukannya.


" Dia menuliskan tentang sungai-sungai di kotanya, ada di mana dia ya?"


" Sulawesi? Kalimantan?. Aku tidak bisa memikirkannya Ga, Afkar memang sudah tidak lagi di Surabaya. Dia pergi"


" Benar, itu yang dikatakan om nya kemarin"


Alya sudah mulai menghentikan tangisnya dan memandangi sahabatnya.


" Kenapa ka Afkar tidak berusaha menghubungiku, bisa kan minta nomorku pada Bowo"


" Maaf Al, seandainya gue tau permasalahan kalian gue pasti akan meminta nomor ponselnya dan memberikan nomormu".


" Bukan salah lo Wo, kami yang tidak pernah menceritakan ini"


Roni menjelaskan pada Bowo agar ia tidak merasa bersalah saat ini.


" Tapi gue melihat wajahnya begitu sedih Ron, seperti seseorang yang kehilangan yang sangat berarti dalam hidupnya. Dia duduk dan sangat berkonsentrasi saat menulis, dia tidak makan, tidak minum, hanya menulis"


Alya menatap Bowo juga dengan wajah sedihnya.


" Tapi dia sehat kan Wo?"


" Iya, dia sehat Al, dia masih tampan, hehehe"


Alya tersenyum


" Semoga dia selalu dilindungi di manapun dia berada"


" Aamiin"


Semua mengaminkan.


Setelah drama berakhir, mereka menikmati makan siang di kedai Bowo


" Al, gue boleh minta izin"


" Izin apa?"


" Kalau gue nanti bertemu Afkar, gue mau menghajarnya"


" Jangan Ga"


" Dia seenaknya Al meninggalkan surat begini, lo jadi makin cinta lagi, sedang dia pergi lagi"


" Dia sudah sangat menderita juga Ga, jangan lo tambahin lagi"


" Setiap tentangnya, lo selalu dibikin menangis, sedangkan kami selalu berlomba membuatmu bahagia"


" Dia juga selalu membuat gue bahagia"


" Kapan?"


" Dalam mimpi gue, hehehe"


" Jadi boleh kan?"


" Apa? menghajarnya?".


" Iya"


" Asal jangan ketahuan gue terserah lo"


Alya tertawa melihat kekonyolan sahabat-sahabatnya.


Baiknya kalian sahabat-sahabat gue.


Semoga suatu saat gue masih bisa bertemu ka Afkar.

__ADS_1


__ADS_2