
Dalam perjalanan pulang ke hotel, Afkar ingat kalau besok dia tidak punya apa-apa untuk diberikan pada Alya, sudah jam 10 malam apa yang bisa dibeli? Matanya tertuju pada minimarket, mungkin sebatang cokelat akan bisa menghentikannya air matanya andai besok ada insiden tangisan lagi. Afkar membelokan motor Alya ke halaman minimarket yang malam ini adalah malam terakhir untuk disewanya, begitu sih kata Alya, saat mengembalikan nanti harus sesuai biaya sewanya. Afkar berjalan dan membuka pintu berkaca itu, kaki nya melangkah ke bagian display makanan, mengambil 2 snack kentang, sebungkus kacang kulit kemasan kecil, dan hey itu dia, brand cokelat yang satu ini memang dari dulu entah mungkin sejak orang tuanya saling jatuh cinta sudah menjadi tanda kalau memberi cokelat ini pada wanita akan mengartikan untuk pernyataan jatuh cinta, bungkus berwarna cokelat dengan hiasan kacang di sekelilingnya. Afkar meraih jemarinya ke rak yang mendisplay cokelat itu. Bruuk.
" Maaf"
" Maaf".
Tangan Afkar tertindih tangan lain yang juga sedang berusaha mengambil cokelat yang sama.
Mereka saling berpandangan, barang yang mereka ambil adalah barang yang sama, dan di displayan hanya ada 2 potong cokelat yang mereka pilih
" Maaf mas, mas juga mau beli ini?"
" Iya, saya akan membelikan kekasih saya"
" Saya juga akan memberikannya pada kekasih saya"
" Sebenarnya saya ingin mengambil keduanya"
" Saya juga, kekasih saya itu unik, kalau-kalau dia makan sendiri tanpa membagi saya" Afkar membayangkan sikap Alya yang mau kenyang sendiri.
" Kalau begitu biar kekasih kita bisa merasakan bahagia yang sama, Bagaimana kalau kita ambil satu-satu"
Afkar dan lelaki tampan itu tertawa bersama.
Kevin baru turun dari pesawat, malam ini dia harus kembali karena siang tadi dosen pembimbing tesisnya menghubungi. Beliau akan cuti selama 2 minggu, beliau meminta selama 1 minggu ini Kevin bisa mengajukan judul tesis nya dulu agar sepeninggal beliau cuti nanti Kevin bisa sambil memulai tesisnya jika usulan judul tesis sudah di setujui. Kevin dengan segera memesan tiket pesawat dan pulang secepatnya, walaupun urusan perusahaan baru belum selesai, tapi tesis nya sangat penting, kalau ini terlambat, bisa-bisa kelulusannya terundur dan perusahaan akan lebih lama tidak bisa ia urusi, dan penting yang lain, dia tidak bisa secepatnya menikahi gadis hasil perjodohan yang sekarang sudah menarik perhatian nya. Ingin menemui kekasihnya, tapi sudah jam 10 malam, mungkin dia sudah tidur, besok pagi saja aku menemuinya, tapi aku tidak membawakan oleh-oleh apapun, tadi saja setelah memesan tiket dia masih saja disibukan dengan urusan perusahaan, kenapa aku bisa lalai tidak membelikannya apapun. Melihat di sisi jalan ada minimarket buka, mungin di dalam sini ada yang cukup menarik untuk kuberikan pada Alya, perlahan memasuki halaman parkiran. Memasuki pintu berkaca dan berjalan menuju displayan makanan, mengambil sebotol air mineral dan hey itu ada cokelat, dulu aku pernah menyatakan perasaanku pada Santi cinta pertamaku dengan memberikannya cokelat ini, dan ternyata aku diterimanya, mendekati displayan itu dan Bruuk.
" Maaf"
" Maaf".
Tangan Kevin menindih tangan lain yang juga sedang berusaha mengambil cokelat yang sama.
Mereka saling berpandangan, barang yang mereka ambil adalah barang yang sama, dan di displayan hanya ada 2 potong cokelat yang mereka pilih
" Maaf mas, mas juga mau beli ini?"
" Iya, saya akan membelikan kekasih saya"
" Saya juga akan memberikannya pada kekasih saya"
" Sebenarnya saya ingin mengambil keduanya"
" Saya juga, kekasih saya itu unik, kalau-kalau dia makan sendiri tanpa membagi saya" Aneh, kekasih mana yang tidak mau berbagi cokelat begini pada kekasihnya?
" Kalau begitu biar kekasih kita bisa merasakan bahagia yang sama, Bagaimana kalau kita ambil satu-satu"
Kevin dan lelaki tampan itu tertawa bersama.
Kevin membuka mobil silvernya dan meletakan plastik belanjaan di sampingnya, menyalakan mesin dan mulai menjalankan mobil, belokin kemudi sedikit ke arah kanan, oppss ada motor matic hitam, karena malas turun Kevin diam sebentar, siapa tau pemiliknya akan menepikannya, hey itu kan laki-laki yang berbagi cokelat denganku tadi, laki-laki itu menstartes motornya dan mulai menyalakan mesin, Kevin membuka sedikit kaca mobilnya untuk berterima kasih
" Mas, terima kasih ya"
Lelaki itu menggangguk dan mengangkat tangannya
" Sama-sama mas". Kevin melajukan mobilnya menuju rumahnya. Andai saja ini masih jam 9 malam aku pasti akan mampir ke kost mu Alya. Sebuah rumah berpagar cukup tinggi dengan warna coklat muda, tidak terlalu besar karena rumah ini hanya dia yang menghuninya, setiap pagi sampai siang memang ada seorang ibu-ibu yang datang untuk membersihkan rumahnya, atau memasakan sesuatu yang ingin dimakan Kevin, terkadang Kevin rindu juga makan nasi putih dengan telur ceplok atau dadar, atau memakan nasi goreng buatan Mbo Yani sebagai sarapan. Kevin melepas sepatunya dan duduk di teras sebentar. Mengambil ponsel dari saku celana dan mulai membuka WhatsApp
" Assalamualaikum Alya".
Belum di buka, Kevin masuk ke dalam rumahnya dan segera mandi. Sudah jam 11 malam, aku harus istirahat katena besok pagi harus sudah mengurus tesis bersama dosen pembimbing. Menatap lagi ponsel, ada balasan
" Waalaikum salam ka"
" Sudah tidur sayang?"
" Belum, masih rebahan nonton televisi"
" Boleh ku telf sebentar"
" Iya".
" Assalamualaikum ka"
" Waalaikum salam sayangku"
" Lagi dimana ka?"
" Aku barusan pulang, ini baru nyampe rumah"
" Lho, katanya bisa sampe 4 minggu"
" Kenapa sayang, kedengarannya tidak senang aku pulang?"
" Maaf ka, bukan begitu, kaget aja kaka enggak bilang"
" Mendadak, tadi siang dosen pembimbingku kasih kabar beliau mau cuti ke luar kota, jadi aku harus menyelesaikan pengajuan judul tesisku dulu, biar saat beliau cuti nanti aku bisa mulai menggarap tesisnya"
..
" Kok diam sayang"
" Alya denger kok ka, hehe"
" Besok pagi aku jemput ke kost ya?"
" Hhmm, gimana ya, Alya sudah janjian besok pagi-pagi sama teman-teman ka, enggak enak kalau ngebatalin tiba-"
" Oh gitu, gimana kalau makan siang bersama"
" Alya masuk kuliah siang ka"
" Waah, padat juga ya acara sayang besok"
" Kalau sore bisa ka, Alya sudah pulang kuliah"
" Iya ya, kalau gitu habis magrib aja nanti aku kesana, kita makan malam "
" Boleh ka"
" Padahal enggak sabar mau ketemu, kangen"
" Hehehe"
" Ya udah, kamu istirahat aja dulu, aku juga mau istirahat, cape banget, besok pagi mau menemui dosenku"
" Iya ka, semoga lancar ya urusannya"
" Kamu juga ya, Assalamualaikum"
" Waalaikum salam ka"
Klik.
Huuuppp, Alya menyeka keringat. Ka Kevin sudah balik?
Kenapa gue sama sekali lupa ya kalau gue juga udah jadian sama dia.
Alya meminum air mineral yang ada di samping tempat tidurnya.
Meraih ponsel dan mulai membuka layar, kenapa tangan gue masih gemetaran, huuuh.
Bidadari
" Ka, sudah tidur?"
Ka Afkar
" Belum, kenapa sayang?"
Bidadari
" Nge cek, kali aja online sama cewe lain"
Ka Afkar
" Enggak boleh berprasangka sayang"
Bidadari
" Becanda ka"
Ka Afkar
" Kok belum tidur? ini sudah malam sayang"
Bidadari
" Kepikiran mau ditinggal kekasih"
Ka Afkar
" Istirahat sayang,, jangan mikirkan yang belum terjadi"
Bidadari
" Iya ka"
Ka Afkar
" Selamat malam sayang, selamat tidur, mimpi indah, Assalamualaikum"
Bidadari
" Waalaikum salam"
Ka Afkar
" Emuuaahh"
Bidadari
Emo melongo.
Kayanya besok gue harus melarikan ka Afkar sejauhnya deh, walaupun kampus Alya dan Kevin berjarak sekitar 20 km, tapi yang namanya sial kan bisa terjadi kapanpun. Bisa saja kan di jam 10 Kevin keluyuran dan melihat gue sama Ka Afkar jalan. Bagaimana kalau pagi-pagi Ka Kevin jemput gue beneran ke sini, pas Ka Afkar juga disini. Mumeet gue,,mendadak pengen bisa punya ilmu menghilangkan diri. Dan jadilah malam itu Alya tidur dengan sangat tidak nyenyak, bayangan-bayangan ketakutan muncul di benaknya, setiap satu jam Alya terbangun, memejamkan mata lagi, terbangun lagi. Dan tepat Adzan subuh berkumandang, Alya segera mandi dan shalat. Membuka lemari pakaiannya dan memakai baju santai dengan celana jeans, mengambil lagi baju kemeja yang biasa di pakai kuliah, memasang jaket pemberian Afkar. Kali ini mengambil tas ransel kecil, memasukan kemeja, bedak, lipstik, sisir, charger dan powerbank, dompet serta ponsel. Sekali lagi mencek apakah sudah lengkap, ya sudah lengkap, aman.
" Mau kemana lo pagi begini?"
Yanti yang baru saja mandi menegurnya
" Gue mau jalan-jalan sama Ka Afkar, nanti siang gue langsung kuliah, ka Afkar ke bandara, jadi gue enggak pulang sampai sore ya Yan"
" Iya, lo di jemput ka Afkar?"
" Eehhmm,, iya, di jemput, gue nunggu di teras deh, Yan gue turun dulu ya"
" Hati-hati Al, mau jalan kemana sih sepagi ini kalian"
" Jalan-jalan aja, pagi-pagi kan sehat Yan, daahh".
Alya menuruni tangga dan mencari sepatu ketsnya, kunci motor. Astaga,, iya motor gue sama Ka Afkar.
Alya secepatnya berlari menuju taman, dengan terengah, dia memencet mesan taksi online
" Hotel Flamboyan".
Nada panggil
" Assalamualaikum bidadari"
" Waalaikum salam, ka kamarnya no berapa?"
" Jangan ngasih kejutan dan bilang kamu sudah ada di bawah ya"
" Ka, jemput Alya sekarang, Alya ada di receptionis"
" Sayaang, aku baru mandi, becandanya ntar aja"
" Ka,,, kalau enggak jemput Alya sekarang di bawah, Alya naik sendiri".
" Sayaang, serius"
__ADS_1
" Kaaa, sekarang!!"
" Tunggu". Afkar menutup panggilan. Memasang celana panjang dan baju kaos, sambil membawa ponsel dan menutup pintu, berlari menuju lift ke lantai dasar. Mendapati Alya sedang santai duduk di sofa depan receptionis
" Sayang, ada apa"
Afkar terlihat panik
" Mau jenguk kaka aja"
Afkar bingung dan memandang receptionis laki-laki yang sedang berjaga.
" Maaf mas, saya mau check out sebentar lagi ini saya izin bawa dia ke atas dulu boleh?"
Si mas nya tersenyum
" Silakan tuan" dan kemudian memandang Alya dengan hormat.
Afkar menatap Alya
" Ayo ikut" tanpa menggandeng tangannya, tanpa merangkul pundaknya, tanpa ekspresi. Alya ikut saja kemana Afkar membawanya, memasuki lift dan memencet angka 3. Afkar masih diam dengan beribu kebingungan nya. Membukakan pintu bernomer 305.
" Masuk Al"
Alya masuk dan duduk di ujung kamar di tepi jendela yang sudah terbuka sedikit, dengan cueknya membuka tirai dan memperhatikan pemandangan di bawah
" Waah cantik ya ka kota diliat dari sini".
Afkar diam saja
" Kaka enggak senang dengan kejutan Alya?"
" Bukan tidak senang sayang, tapi enggak enak aja, masa sayang kesini, kayanya aku yang ngajakin, gimana kalau ada yang liat"
" Kaka tenang aja, Alya enggak bakalan ngapa-ngapain kaka kok".
Afkar menghembuskan napas panjang
" Sayang, aku memang mau menikahi kamu secepatnya, tapi tidak begini juga caranya, aku kaya menyeludupkan anak perawan orang"
" Palingan di kawinin satpol PP"
" Sayang, aku serius"
" Kalau gitu, ya udah Alya pergi aja"
Alya memasang ransel kecilnya yang tadi sudah dilepasnya dan diletakan di tepi tempat tidur
" Sayang mau pulang ke kost?"
" Enggak, mau pergi aja"
" Sayang, aku masih bingung ini ada apa sih, sebentar, duduk dulu"
" Alya cuma mau ngasih kejutan, mau bersama di hari terakhir kaka disini, kalau salah ya udah Alya pergi"
Ransel sudah di pundak nya dan kakinya siap melangkah. Afkar langsung menariknya dan mendudukannya di tepi tempat tidur.
" Maafkan aku sayang, bukan tidak boleh, tapi belum pantas"
Alya diam sambil memainkan ujung tali di tas ransel kecilnya.
" Ya udah, kita jalan-jalan aja"
Afkar mulai bisa berpikir sejenak setelah panik luar biasanya.
Gue kesini mau sembunyi, kalau mau ngajkain jalan-jalan ngapain sesubuh ini kabur kesini
" Alya mau disini aja ka"
Afkar menyisir rambutnya dengan jari tangan sambil ikut duduk di samping Alya
" Sayang, aku ini laki-laki normal dan sangat mencintai kamu, bukan tidak mungkin aku akan berbuat yang tidak-tidak padamu disini, sayang ngerti?".
Afkar menoleh ke samping memandangi kekasih ajaibnya yang masih menunduk.
" Sayang ada masalah"
" Enggak"
" Ya udah kita jalan aja ya, aku ganti baju dulu"
Afkar berdiri dari duduknya, Alya langsung menrik tangannya menyuruh duduk lagi
" Ka, please. Kita disini aja, Alya ini mau ditinggal, tega banget"
" Heeyy cantik, aku ini mau ajakin jalan, bukan mau ninggalin, sayang enggak lapar? kita sarapan"
" Sarapannya pesan aja, kita makan disini"
Afkar memandangi wajah Alya yang sepagi ini benar-benar aneh, tapi demi melihat wajah diam gadis itu bisa berubah ceria lagi, dia mengiyakan
" Sayang mau makan apa? biar ku pesan"
" Apa aja ka"
" Ya udah, aku cek dulu di aplikasi ya apa yang dekat sini". Mereka berdua mulai mencari menu di ponsel Afkar dengan jarinya
" Ini enak ka, sama minum ya"
" Iya boleh"
Agar suasana tidak canggung Afkar menyalakan televisi dan duduk di kursi depan meja rias kecil.
" Sayang, tadi malam aku mampir ke minimarket, mau belikan kamu cokelat, pas aku mau ngambil tiba-tiba ada seorang laki-laki yang juga mengambilnya, mana cuma ada 2 batang aja, jadi kami ambil satu-satu biar adil, katanya buat pacarnya"
" Kok bisa sama selera sih, coba ambil cokelat yang lain kan bisa"
" Dari pandangan pertama aku sudah naksir yang ini, cokelat lain sih banyak"
Afkar menyerahkan cokelat tanda cinta itu pada Alya
Alya dengan santainya membuka dan menggigit cokelat
" Sayang, engga ada niatan bagi ke aku"
" Lho kaka mau?"
" Sayaaang, mau nya aku itu waktu kamu gigit, trus gantian"
" Iih, engga mau, jorok, nih kalau mau"
Alya memotong cokelat panjang berkacang itu dan menyerahkannya sebagian pada Afkar.
" Kayanya di film-film enggak ada yang kaya gini lo Al, ini sih kaya emak-emak bagiin makannya ke anak-anaknya"
" katanya nanti kita punya anak-anak, ya latihan membagi makanan dulu lah"
Afkar berjalan mendekati Alya dan mengambil jatah cokelatnya sambil mengusap rambut Alya
" Berasa jadi anak tiri aja"
Alya tertawa dan menarik tangan Afkar
" Udah duduk disamping Alya aja, takut banget Alya terkam"
Sesudah sarapan di kamar, Alya memainkan ponselnya
" Ka, Alya mau nelfon Sylvia"
" Telfon aja, pulsa habis?"
" Enggak, tapi Alya mau ngomong rahasia, kaka jangan denger"
" Sayang bisa punya rahasia juga? mau ngomongin apa sih?"
" Ini kan rahasia cewe, kaka jangan tau"
" Berapa menit?"
" Hmmm, 10 menit"
" Aku pakai headset boleh?"
" Enggak, nanti curang, kaka nguping"
" Ya udah aku kebawah dulu 10 menit".
Afkar berdiri dan menuju pintu
" Sayang, aku ke bawah dulu, jangan menyeludupkan laki-laki ke kamarku ya!"
" Yaah, niat Alya udah ketahuan".
Afkar tertawa sambil menutup pintu kamarnya
" Assalamualaikum Al"
" Waalaikum salam , lo di mana Syl?"
" Di rumah"
" Syl, gawaat. Ka kevin datang"
" Terus?"
" Ini gue lagi di hotel sama ka Afkar"
" Haah,, gila lo"
" Terus gue kemana lagi? gue takut Ka Kevin ke kost gue dan ketemu Ka Afkar"
" Bilangin aja lo lagi pergi"
" Sudah, gue bilang kumpul-kumpul sama teman-teman, tapi gimana kalau dia tetap mau mampir, makanya gue kabur ke sini"
" Sebentar, gue mikir dulu"
" Cepetan Syl"
" Aduuh, lo yang bikin masalah gue yang ikutan mikir"
" Arga,,, gue mesti telf Arga, lo tetap mikir ya Syl, gue nelf Arga dulu"
Klik.
Tuuuut
" Iya Al,, gue lagi sarapan, kalau mau kesini"
" Gue udah kenyang, Ga lo harus tolongin guee, sekarang gue lagi di hotel sama ka Afkar"
" Haah, brengsek dia, mau diapain lo di sana?"
" Habis sarapan, bukan dia yang bawa gue kesini, tapi gue yang nyerahin diri kesini"
" Astaga Al, istigfar Al, gila lo ya"
" Bukan begitu, aduuh gimana ini. Arga. Ka Kevin tadi malam datang, gue takut dia mergokin gue sama ka Afkar, makanya gue sembunyi di sini".
Hening
" Argaaa, bantuin gue"
" ini gue lagi mikir"
" Cepetan Ga"
" Bisa diam enggak sih lo"
__ADS_1
Alya diam, nyebelin.
" Alya, Afkar pesawat jam berapa?"
" Tiga"
" Kita anterin dia ke bandara sekarang"
" Haaah???"
" Gue telfon Sylvia sekarang, kami jemput lo sebentar lagi". Alya pasrah,,, jelek banget ide nya, kenapa malah mempersingkat kebersamaan gueee.
Tok,,tok, terdengar pintu kamar diketuk
" Iya deh, ka Afkar datang"
" Alya, pokoknya lo jangan mau diapa-apain, tunggu kami"
Klik
Alya membuka pintu tanpa senyum
" Sudah selesai urusan rahasianya?"
" Belum"
" Aku harus turun lagi?"
Alya menggeleng,
" Enggak usah, biar mereka yang mengurusinya"
Afkar menaikan alis, kemudian masuk ke dalam kamar. Afkar membuka lemari pakaian dan mulai mengambil pakaiannya.
" Ngapain ka?'
" Memasukan ke dalam koper, aku mau nyiapin"
Alya membukakan koper Afkar
" Kaa, kaka mau pergi"
Afkar menghentikannya melipat bajunya
" Kan memang sudah saatnya, ini kan demi masa depan kita sayang"
" Ka,,,"
Alya memegang lengan Afkar
" Tuh kan, ini yang aku enggak mau lagi, disini aja sudah mewek, apalagi di bandara"
" Makanya nangisnya disini dulu, biar di bandara enggak nangis lagi"
" Sayang kuliah, jangan bolos, aku sendiri aja"
" Ka, kami yang anterin kaka ke bandara?"
' Bukannya kalian masuk siang?"
" Ngantarnya sekarang?"
Afkar mengangkat dagu Alya
" ini enggak becanda lagi kan?"
" Enggak".
" Masih jam 10 sayang, masih lama, katanya enggak mau pisah, kok ini malah mau secepat nya ngantar"
" Bukan begitu, kita jalan-jalan dulu sama teman-teman, terus baru nganterin kaka ke bandara"
" Ooh begitu, boleh"
Afkar kembali memasukan bajunya ke dalam koper, Alya hanya memperhatikan saja, tahan Al, tahan nangisnya.
" Ka, Alya mau ganti baju dulu"
" Kenapa ganti?"
" Iya, kan Alya mau kuliah, enggak boleh pake baju kaos, Alya bawa kemeja."
" Ya udah, mau aku yang bantu gantiin?"
Afkar menggoda sambil mengedipkan matanya
" Halalin dulu Alya'
Alya membawa tas ranselnya ke dalam kamar mandi dan mengganti pakaian nya.
" Tambah cantik lagi bidadari ku"
Alya mencibir dan memasukan baju kaosnya ke dalam ranselnya, Afkar menahannya
" Bajunya taro di koperku aja sayang"
" Maksudnya?"
" Aku mau bawa baju yang sayang pakai ini"
" Tapi ini bekas Alya pake ka"
" Iya makanya, biar berasa sayang ada sama aku terus".
" Kaa, jangan bikin Alya baper lagi"
" Ya udah, baperin aja, mumpung aku masih disini, sini sayang"
Afkar menarik lembut tubuh Alya ke dalam pelukannya, Alya langsung memeluknya dan menangis lagi
" Tunggu aku ya sayang, aku sesegeranya pulang melamarmu, setelah kamu lulus kita akan menikah dan mengakhiri cinta berjarak ini"
" Alya tunggu ka, semoga kita selalu dilindungi dan dikuatkan dalam menghadapi ini ya ka"
" Iya sayangku"
Afkar melepaskan pelukan nya dan memandang Alya dengan penuh cinta. Memandang setiap inci wajah polos itu, keningnya, matanya, hidungnya, bibirnya, dagunya. Alya merasakan tubuhnya seperti tersengat aliran listrik, hidung mancung Afkar sudah menyentuh hidungnya. Alya memejamkan matanya membiarkan apapun yang akan terjadi, terjadi saja sekarang. Merasakan sentuhan lembut di bibirnya, tanpa gerakan apapun, tanpa balasan apapun, hangat saja, sedetik,,,dua detik,,tiga detik.
Betapa cantiknya kekasihku, dia diam begini mana bisa aku untuk tidak menyentuh bagian apapun dari wajahnya, matanya yang berkerjap-kejap bagai kejora, hidungnya mancung, dan heey bibir itu kenapa pagi ini sangat menggodaku, biasanya apakah semerah ini? biasanya apakah semenggoda ini? Kenapa matamu tertutup? kamu ingin aku menyetuhnya? aku sungguh tidak mampu membiarkan ini, aku hanya ingin ,,, berbisik di bibirmu
Menunggu apakah kamu membalasku, kamu diam, astaga
Uuppss
" Maafkan aku sayang".
Mereka kembali terdiam, saling menunduk.
"Ka,,,"
"Al,,,".
Di detik yang sama baru keluar kata secara bersama
" Kaka duluan"
" Sayang duluan"
" Kaka mau lebih?"
" Tidak, seorang bidadari akan selalu menjadi bidadari, dia suci. Aku minta maaf sayang"
Afkar meraih jemari Alya dan mengecupnya.
Judika, jikalau kau cinta,,,
Alya meraih ponsel di atas meja kecil
" Iya Syl"
" Gue di bawah sama Arga, lo dimana?"
" Iya, tunggu, gue jemput"
" Oke".
Klik
" Ka, Sylvia di bawah"
" Biar aku jemput, sayang bedakan ya, wajahnya merah kaya baru terbakar gitu"
" Heeh"
" Aku becanda sayang"
" Huuh,Alya pikir beneran"
Sambil menarik baju Afkar dari belakang
" Sayang lepasin,,,sayang"
" Whahaha, ya udah turun sana, kelamaan bisa Alya yang nyosor nih". Afkar membuka pintu dan mengedipkan matanya.
Tak lama muncul Afkar, Sylvia dan Arga di depan kamar itu
" Jadi gimana nih?"
" Hmm, kaka check out aja sekarang, sambil nunggu siang, kita jalan dulu, iya kan Ga?"
Arga yang di colek Alya langsung mengangguk
" Kalau begitu aku mau siap-siap ya"
Afkar membuka lagi kopernya ingin mengambil satu baju karena akan berganti pakaian. Oopps kenapa baju Alya yang baru di ganti tadi ada di tumpukan paling atas, dan tentu saja mata pengintai Sylvia dan Arga langsung melotot. Afkar yang kaget langsung menutup kopernya dan berjalan memasuki kamar mandi
" Al, lo ngapain?"
" Ini bukan seperti yang kalian bayangin, gue tadi bawa baju dari kost biar bisa ganti untuk kuliah, barusan, soalnya gue bingung pagi-pagi apa yang bisa terjadi sama gue hari ini"
" Al, lo enggak lagi bohongin kita kan?'
Sylvia menyibakan rambut belakang Alya dan meneliti lehernya seperti sedang mencari bukti tanda kebohongan Alya
" Syl, berhenti, gila apa gue"
" Ini apa?"
Sylvia mengeluarkan kalung dari balik baju Alya,
"Alfar??"
Krek, pintu kamar mandi terbuka, Afkar sudah mengganti pakaiannya. Suasana hening persekian detik.
" Jadi ini mau kemana?"
Arga bertanya untuk mencairkan suasana
" Terserah aja" sahut Sylvia
Afkar memasukan bajunya ke dalam koper, sementara Alya melihat Afkar tidak sedang melihatnya langsung berbisik di telinga Arga
" Kemana aja, asal gue tidak keluar selangkahpun dari mobil lo".
Arga mengangguk.
" Ya udah, kita muter-muter dulu, mungkin Afkar masih kangen dengan kota ini"
" Boleh".
__ADS_1
Dan jadilah acara jalan-jalan dadakan rame-rame terjadi di siang itu demi untuk sesuatu yang mereka juga bingung sesuatu apa. Alya memang selalu bikin masalah.