
Hari ini adalah hari minggu, selesai dengan sebaskom cucian pakaian dan menyusun pakaian ke dalam lemari agar nanti kalau tiba-tiba mama datang tidak kena omelan gara-gara isi lemarinya yang tidak tersusun rapi.
Judika,
" Hai ka"
" Assalamualaikum bidadari"
" Waalaikum salam cinta nya Alya"
" Waaahh, ada kejutan nih aku dipanggil cinta nya Alya"
" Ooh maaf salah panggil"
" Duuh, aku sudah terbang ke langit tinggi malah di tarik lagi"
" Ka, bis apa yang bikin mabok?"
" Bissss yang sopirnya mabok"
" Salaaah, bis sikan sayang dari kaka"
" Heemm,, cecak apa yang bikin mati?"
" Cicak yang di ketapel sama karet"
" Salaah, cecak napas di panggil cinta sama kamu'
" Ada lagi,, bau apa yang paling manis?"
" Bau badan Alya"
" Eeh salah,, bau amis,,, I miss you ka Afkar"
" Malam apa yang selalu aku impikan? "
" Eh jangan mesum ya"
" Bukan itu sayang, tapi iya juga sih, hehehe. Tapi jawabanya melam,,marmu"
" Oooh so sweet, ka nasi uduk apa yang pengen banget Alya rasakan?"
" Waah, aku belum tau nasi uduk di sana mana yang enak"
" Bukaaaan, uduk berdua sama kaka di pelaminan"
" Aduuh sayang, aku sudah enggak sabar mau kepelaminan sekarang"
" Whahaha, ayuk"
" Aku sudah kalah, ntar kuhapalin lagi deh gombalan di google"
" Oke ,Alya tunggu"
" Lagi ngapain sayangnya Afkar?"
" Barusan nyuci pakaian sebaskom, trus melipat pakaian masukin ke lemari, biar tragedi malam minggu di apelin ka Afkar tidak terulang"
" Besok-besok jangan di tumpuk pakaian bekas pakainya"
" Trus?"
" Kirim aja kesini, nanti aku yang nyuciin"
" Ooh, jangan berubah pikiran ya sampe kita menikah nanti, kaka aja yang nyuci semua pakaian kita, nanti Alya yang jemur'
" Dengan senang hati sayang"
" Kaka lagi ngapain?"
" Baru pulang nge gjm"
" Enggak usah terlalu seksi badannya ka, nanti banyak yang naksir"
" Heemm, cemburu ya?"
" Enggak juga"
" Cemburu dong"
" Enggak"
" Ya udah"
" Udah apa?"
__ADS_1
" Biar aku seksiin lagi biar cewe lain naksir,kan enggak ada yang cemburu juga"
" Eehh, cemburu deh"
" Nah gitu dong"
" Dasar aneh, minta cemburuin"
" Aku emang sudah aneh sejak kenal kamu, padahal dulu enggak begini, kaya bucin lo"
" siapa suruh ikutan aneh"
" Enggak ada yang nyuruh, ikutan sendiri"
" Whahhaha".
" Sayang kangen enggak? Sudah 3 bulan kita tidak ketemu"
" Biasa aja"
" Beneran??"
" Kalau rindu Alya ini dihitung pake kalkulator, pasti kalkulator nya error?"
" Baterainya habis?"
" Iiihh ,ini baru Alya mau romantis-romantis ka"
" Ooh maaf, lanjut deh"
" Enggak jadi, buyar sudah"
" Kalau gitu aku aja"
" Serah!"
" Ih ngambek, ya udah mau dengar silakan, enggak mau dengar harus dengar. Aku mau cerita ya kita harus berterima kasih pada jarak, tanpanya kita tidak akan bisa mengukur hati untuk berjejak. Aku juga akhirnya bisa melihat mata dan mulut yang terisak. Kedengarannya menyakitkan ya? Aku selalu menikmati rindu untuk matamu yang sayu, mengiringi senyummu di dalam rintih yang runtuh di dadaku. Aku memilihmu karena aku percaya, mataku tidak salah meraba dan mulutku tidak salah mengeja"
" Aku memilihmu tanpa perlu alasan karena aku cuma punya rasa. Seseorang yang membuat dinginnya hujan menjadikan selimut hangat untukku, yang membuat gelapnya malam menjadi cahaya di dalam mimpiku, yang meyakinkan rindu bukan saling menyakitkan, tapi akan menguatkan. Karena hati adalah perihal pasti, bukan untuk diangani, tapi untuk selalu di temani"
" Mencintai mu adalah pilihan yang sudah ku setujui, aku akan selalu memberikanmu percaya bahwa aku yang berjuang bukan hanya memperjuangkan, tapi meng utuhkan. Tetaplah bahagia walau sementara kita tetap harus menabung rindu di jiwa, kamu akan selalu ada"
" Aku adalah juara perindu, siapapun jangan mencoba melawan apalagi ingin bersaing denganku. Tapi aku bukan seseorang yang menuntut temu, apalagi dengan alasan rindu. Aku memahami segala sibuk dan masa depanmu, harapan masa depanmu juga masa depanku. Rinduku tidak akan mengganggu waktumu yang sedang berjuang untukku, katamu. jika aku mengabarimu dan meminta kabar darimu, itu hanya mengartikan bahwa cinta ini semakin tumbuh baik di hati kita. Semoga akhir kita, akan saling memeluk dalam pelukan yang sama"
" Hehe'
" Bagaimana kabar papa mama?"
" Baik"
" Kalau kevin?"
Deg,,,,deg,,deg,,,
" Kenapa ka?"
" Dulu kan katanya mau dijodohin?"
" Enggak tau ka"
" Semoga dia sudah ditemukan dan bahagia dengan jodohnya sekarang ya"
Jantung,,jantung bekerjalah dengan baik saat ini.
" Kerjaan kaka gimana?"
" Alhamdulillah, tapi aku belum bisa ikut atasanku kemarin memenangkan proyek itu, maaf ya aku belum bisa belikan mobil"
" Kaa, Alya bukan nanyain itu, tapi mungkin ada hikmahnya ka, bentaran nanti kaka dapat proyek gede, jadi sekalian beliin mobil yang mewah, hahaha"
" Atau bisa juga nungguin kita kawin dulu ya, sementara mungkin aku di suruh menyelesaikan rumah aja, enggak apa-apa kan kecil?'
" Enggak apa-apa, biar bersihinnya enggak cape"
" Tapi nanti anak kita banyak, cukup enggak ya?"
" Ya nanti kan kita kerja berdua, Alya juga punya penghasilan, ya kita beli lagi rumah yang gedean, tapi tunggu, anak banyak?? mau berapa memang?"
" 6 kali ya"
" Kalau segitu hamil sama melahirkan aja sendiri, Alya enggak mau"
" 5 deh"
" Kebanyakan"
__ADS_1
" Ya udah 4".
" Masih banyak ka"
" Terakhir nih 3"
" Alya pikir-pikir lagi deh"
" Sayang tidak usah mikirin kerja buat keluarga, kalau punya penghasilan ya buat sendiri aja, kebutuhan rumah tangga biar aku yang nanggung"
" Bagus lah"
" Serius?"
" Loh kan kaka yang bilang"
" Padahal tadi aku maunya sayang jawab, enggak ka, kita tanggung sama-sama"
" makanya ka, kalau ngomong sama Alya enggak usah basa basi"
" Jadi basi ya Al"
" Iya, hahaha"
" Semester depan skripsi ya Al?"
" Iya ka, sebentar lagi"
" Andai saja aku ada di sana"
" Santai aja ka, Alya mampu ko"
" Tapi kan "
" Kaka ngeremehin kemampuan Alya?"
" Sama sekali tidak, aku tau sayangku itu wanita power"
" Power woman?"
" Bukan, power steering"
" Kaaaa"
" Udah siang sayang, mau makan siang apa?"
" Belum tau ka, paling beli di depan"
" Ya udah, aku juga mau cari makan dulu, nanti kita sambung ya sayang"
" Iya ka'
" Assalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Emuuah"
" Dadaaahh".
Selalu menyenangkan dan membuat ku bahagia. Aku bahkan tidak punya alasan untuk tidak mempertahankanmu. Sudah 3 bulan ka, dan aku masih belum dan belum juga bisa untuk menyelesaikan hubunganku dengan Ka Kevin. Semakin hari dia semakin baik, semakin memperdulikan kesehatanku, kuliahku, makananku, bahkan pakaian dan barang-barang mewahku. Mewah? Iya.
Jalan bersama Kevin membuatku menjadi wanita terhormat, katanya seorang aku harus belajar untuk mendampinginya nanti sebagai Nyonya Kevin, aku harus memperbaiki sikap dan gaya bicaraku. Dari awal aku memang menjaga sikap dan gaya bicaraku, aku menjaga bukan karena ingin menarik perhatiannya, aku cuma tidak ingin berita tentangku akan sampai ke telinga keluargamu yang mungkin akan menjatuhkan harga diri keluargaku di mata teman-teman medsos mamanya, bahwa aku adalah gadis yang kalau ngobrol suka nyakitin fisik kata ka Afkar, kalau bicara suka bikin kesel orang kata Roni, kalau kasih saran suka tidak bermanfaat kata Arga. Aku benar-benar menjaga, termasuk menjaga jarak, agar ka Kevin tidak menyukaiku, ternyata terbalik, semakin kesini dia semakin membuatku percaya bahwa yang katanya akan mencoba mencintaiku benar-benar dilakukannya.
Apalagi Ka Kevin sedang konsentrasi dengan tesisnya, sesuatu yang sangat ingin diselesaikannya, katanya dia butuh aku sebagai penyemangat nya, bagaimana aku bisa untuk memutuskannya disaat seperti ini.
Terkadang muncul kekuatanku untuk membicarakan ini, tapi seperti sedang mengawasiku, mamanya, saudaranya, dan akhir-akhir ini bahkan papa nya ikut menanyakanku, keberadaanku seperti terpantau, hingga kalimat-kalimat yang sudah kususun rapi agar tidak terlalu menyakiti saat aku membicarakannya, akhirnya harus tersimpan lagi. Ka Kevin sangat baik, sangaat baik, tapi sungguh aku tidak memerlukan itu. Aku sudah sangat nyaman dengan keadaanku, walaupun sesekali rindu itu membuatku akan duduk sendiri di balkon atas dan bicara pada bulan tentang sedihnya aku tanpa kekasihku, tapi sungguh aku tidak sakit. Disaat yang lain berlomba untuk mendapat bahagia dunia, aku malah berhasil menciptakan duniaku sendiri, yang menikmati saat menanti tanpa harus lelah berlari mencari bahagia yang lain lagi. Cukup kamu.
Kamu tau Ka Afkar aku sepertinya kadang menjadi kurang waras, aku memang berjalan dengan Ka Kevin, tapi aku seolah menjadikannya itu kamu. Aku harus tetap bisa bertahan sampai dia menyelesaikan kuliahnya dengan berada disampingnya, dan salah satu yang membuatku mampu hanya membuat kamu ada di antara kami, ragamu memang tidak sama, seperti ketika kami juga berteduh di bawah ruko kecil itu, aku melihat tetes air hujan jatuh di hidungnya, tapi kenapa aku tidak cemburu, aku malah kasian melihanya basah, kuseka air itu di wajahnya dengan tangannku. Dia terlihat sangat keren, dengan wajah basahnya, melihatnya begitu wajah tampannya terlihat sangat nyaman di mata, tapi kurang nyaman di hati, kenapa? karena dia bukan tubuh cekingmu cintaku, hehehe.
Kemarin aku kangen makan di tepi sungai ka, saat dia mengajakku ya aku setuju, tapi tetap aku membayangkan dia adalah kamu, aku minta kami kesana naik motor yang baru dia belikan untukku. Kasian kulihat beberapa kali dia menggerak-gerakanan lengannya saat memboncengku. Aku pun makan dengan menu yang sama seperti yang kita makan dulu, sangat terlihat betapa gelisahnya dia dan terlihat sangat memaksakan untuk bisa menikmati menu sederhana itu, aku tau karena dia sangat pemilih untuk urusan selera, dia hanya mau makan di restoran yang bersih dan nyaman, katanya menjaga kesehatan itu sangat penting. Aku menunggu apakah dia menolak untuk makan di sana, ternyata tidak, dia mau walaupun makanan sedikit. Aku juga merindukan gerimis kemarin, seandainya saja perjalanan pulang ini disertai gerimis, eh dia malah mau nyewa heli saat itu, aku tertawa, apapapun yang menyerupai tetap tidak akan sama dengan aslinya, tapi usahanya untuk membahagiakanku sudah sangat baik. Dan pastinya aku tidak ingin dia ikut gila, cukup aku saja.
Terkadang kami juga mampir di kedai kopi, aku mulai mengenalkannya pada rasa-rasa kopi favoritku, dia tidak suka kopi, kadang saat meminumnya aku melihat dia meneguk dengan sangat cepat, mungkin agar rasa pahitnya tidak lama dirasa di lidahnya. Ku katakan kalau kopi di kedai temanku ini manis, iya memang sekarang sudah manis, karena rasa pahitnya sudah aku telan bertahun dan berbulan sebelumnya. Entahlah dia percaya atau tidak, kalau tidak percaya kan harusnya dia bisa untuk tidak meminumnya. Bisa kan duduk di kedai kopi tanpa memesan kopi, minum saja menu lain, temanku Bowo akan senang hati kok menyediakan air mineral, atau secangkir teh hangat. Tapi dia tidak memintanya dan akupun tidak menawarkannya.
Restoran di bagian barat kota kita, saat kita makan malam bersama kemarin, pemilik restoran itu selalu mengajakku untuk bisa manggung di restorannya, setiap aku mengakhiri satu lagu, dia akan membujukku lagi, sebenarnya aku mampu kok menyanyikan 3 atau 4 bahkan 5 lagu, tapi aku ingat kata-katamu, jangan memaksa sesuatu yang bukan saatnya karena akan ganjil, dan sulit untuk menemukan genapnya. Walaupun dalam konteks yang berbeda, aku suka saja kalimatmu itu sepertinya setiap aku mengulang kalimat itu, aku mendewasa, menurutku sih.
Kemarinnya lagi kami mampir juga di taman bunga, kami pun memasuki labirinnya, tapi jangan khawatir ka, aku sama sekali tidak disentuhnya, aku bahkan berlari cepat karena seperti ingin mengejar bayangmu yang selalu ada di depanku, padahal aku kan ingin di sisimu, bukan di belakangmu. Kulihat dia terengah mengejarku, mungkin mulai sekarang dia harus rajin berolah raga lari, agar tak tertinggal terlalu jauh begini.
Penah juga saat tante Risma jalan-jalan ke Eropa, urusan bisnis katanya, beliau sempat video call, sambil memamerkan ratusan bentuk dan model kalung berlian, beliau ingin aku memilihnya? untuk apa tanyaku, dipakai jawabnya? kalau aku memakai itu, apakah kalung bertulisan nama kita ini akan kulepas? yang benar saja, aku tidak peduli dan memang tidak ingin mengetahui harganya, tapi sepertinya itu barang mewah karena aku tidak pernah melihat siapapun pernah memakainya. Jangan pernah berpikir deh dengan kalung istimewaku ini, berapapun harga kemewahan berlian itu, tidak akan sanggup untuk bersaing dengan pemberian kekasihku ini, walaupun pernah terlintas untuk menjualnya, whahaha. Aku cuma jawab belum pantas seorang anak kuliah yang lagi ngekost memakai itu, seperti nya dia setuju dengan pendapat ku.
Dan maaf ka, aku sempat juga nonton di bioskop, sebenarnya aku menolak, tapi karena dia menjanjikan akan menonton film terbaru idolaku, aku bersedia. Dan lagi, aku tidak akan mau disentuhnya, bukankah aku pernah berjanji kalau semua yang ada di tubuhku ini akan kujaga sampai kaka nanti datang menghalalkan ku. Aku ini penepat janji ka.
Aku juga mulai merasakan perasaan ka Kevin semakin dalam dan semakin nyata untukku. Untuk soal penampilan, sepertinya aku harus belajar banyak darinya, kenapa dia lebih tahu daripada aku mana yang pantas dan tidak pantas untukku. Dia tidak segan membawaku ke boutique hanya untuk membelikanku sebuah gaun yang pantas aku pakai untuk makan malam, kenapa harus pakai gaun ini, untuk makan malam saja aku harus begini, gampang kan aku memakai jeans ku yang masih layak itu, aku juga banyak punya pakaian yang lebih sopan kalau dia malu, katanya biar aku terlihat elegan, biar nanti tidak kaget di saat-saat tertentu untuk memakai seperti ini.
Hal yang membuatku sangat marah adalah ketika aku menyewakan motor kesayanganku, aku ingin tau apa yang bisa dilakukannya, kupikir dia juga akan memeriksa ban depan belakang motorku, dia akan service, dia akan ganti aki, mencek keadaan rem nya. Ternyata tidak, dia malah membelikanku motor keluaran terbaru, aku merasa tersinggung, aku tidak pernah menjadi perempuan peminta, jika perlu mama papa dan ka Pandu bisa untuk menggantikan nya, tapi aku masih nyaman dengan motorku, dan lagi karena segala kisah kita ada di atas motor itu. Eh lupa, Ka Afkar belum bayar sewanya, nanti aku tagih ya
__ADS_1