
Setelah berdoa, Alya melipat mukena dan memasukannya ke dalam sajadah. Menyalakan televisi untuk menemani aktifitasnya setelah ini.
Tiiit
Panggilan video
" Assalamualaikum ka".
" Waalaikum salam, bidadari sudah shalat?"
" Sudah barusan"
" Sayang, pak Wijaya baru datang, kami baru pulang dari mesjid, katanya beliau mau istirahat dulu, jam setengah delapan memintaku membangunkannya. Aku akan bicara padanya setelah beliau berisitirahat"
Alya menggeleng.
" Ka, sebaiknya nanti dulu. Ada yang ingin Alya ceritakan".
" Ada apa sayang?".
" Alya ingin mempertemukan kaka dengan seorang lelaki dulu".
Afkar diam, terlihat wajahnya berubah.
" Sayang tidak ingin mempertemukan aku dengan Kevin kan? dia menelfonmu tadi malam? dia mau datang ke Indonesia?"
Alya kaget.
" Ka Afkar halu lagi, dengerin Alya dulu, sebel deh"
Afkar mulai mendinginkan lagi suasana hatinya.
" Maaf, aku terlalu takut sayang jika kita kembali bermasalah"
" Alya akan memperkenalkan seorang lelaki muda, dan sepertinya lebih tampan dari ka Afkar".
" Alya, jangan memuji lelaki lain di depanku"
Alya tertawa.
" Turunin ka emosinya, baru Alya cerita"
" Sayang jangan mengujiku sepagi ini, aku sudah mengatur kalimat-kalimat untuk bicara dengan pak Wijaya, aku tidak ingin salah didepan beliau"
" Baik, Alya akan bicara serius"
Alya menghela napas, dan sebentar hilang dari kamera ponselnya
" Alya,,,,"
Masih hilang dari kamera tapi ada suara.
" Sebentar, minum dulu"
Alya duduk lagi di depan kamera sambil memegang gelas dan menyodorkan di depan layar ponselnya.
" Mau minum ka?"
Afkar menggeleng, kamu kebanyakan bercanda Alya.
" Alya, mana ceritanya?".
" Iih, sabar pak bos. Begini, tadi malam Alya bertemu seseorang di tempat latihan melukis"
" Siapa?"
" Namanya Darel".
Afkar diam.
" Ka Afkar ingat?"
Afkar menggeleng
" Siapa sayang?"
" Kekasih Aprill"
Afkar mengernyitkan alisnya
" Bukannya mereka sudah putus satu tahun yang lalu?"
" Darimana kakak tau?".
" Dari Aprill, katanya sejak kami memergokinya di taman itu mereka backstreet sebentar, lalu akhirnya putus"
" Ka Afkar percaya?"
" Aku tidak pernah menanyakannya lagi, dan aku juga tidak pernah lagi mendengar dari bang Jali mereka bertemu, aku bahkan sering melakukan panggilan video, Aprill bersama temannya, bukan bersama kekasihnya"
" Aprill bohong ka".
Afkar diam, mungkin saja, kenapa aku mempercayai Aprill, dia kan sama saja dengan Alya yang ilmu bohongnya lumayan tinggi.
" Sayang tau darimana?"
" Darel yang cerita"
" kenapa dia cerita? memang dia tau sayang itu siapa dan apa hubungannya dengan Aprill?"
" Kami sama-sama tidak tau, pokoknya ceritanya panjang ka, nanti kalau kita bertemu saja Alya ceritakan"
" Lalu apa hubungannya dengan kita? kenapa kita tidak usah membicarakan tentang hubungan kita ini pada pak Wijaya?"
" Ka, kakak lebih baik bertemu dulu dengan Darel, setelahnya akan mudah bagi kita untuk pergi dari Aprill tanpa menyakitinya"
" Aku tidak mengerti sayang"
" Ka, intinya kenapa Aprill bisa mencintai ka Afkar? karena selama ini ka Afkar mengikatnya di dalam penguasaan penuh ka Afkar, dia tidak bisa menyentuh hati lainnya walaupun itu kekasihnya, dia itu adalah kupu-kupu di dalam sangkar. Lalu ka Afkar menciptakan sangkar yang terlalu indah sehingga dia lupa bahwa kupu-kupu itu tempatnya di luar sangkar bersama teman dan cintanya. Aprill lupa ka kalau cinta dengan kekasih itu lebih hebat daripada cinta kepada kakak angkat, hehehe"
" Aku tidak mengurungnya, aku hanya menjaganya".
" Terlalu berlebihan ka, Aprill bilang begitu, awalnya dia membenci perlakuan ka Afkar, tapi akhirnya dia malah menikmatinya, dia perlahan mulai menghiraukan kekasihnya yang seharusnya lebih dia sayangi"
" Aku mengurungnya di dalam sangkar?"
" Iya, ka Afkar menutup semua aksesnya untuk bisa pergi ke dunia luar, setiap siang dan malamnya hanya melihat kakak saja, ini sama lho kak dengan cerita Aprill kemarin, cuma Aprill memfokuskan cerita tentang kemesraan kalian saja, dan itu menyakiti hati Alya"
" Sayang,, tidak terlalu begitu juga"
Afkar tersenyum dan senyumnya sedikit menggoda, jangan ngambek lagi Alya, jangan,,, aku capek.
" Jangan tidak mengakuinya ka"
Tuh kan ,awas awas jangan ngambek lagi.
" Iya, maaf, terus bagaimana pertemuannya tadi malam"
" Tadi malam Darel lebih fokus menceritakan tentang kebebasan Aprill yang kakak ikat"
Afkar terdiam dan bersandar di tempat tidurnya.
" Sayang, kapan aku bisa bertemu dengannya?"
" Setelah jam sepuluh, Darel kuliah pagi"
Afkar mengangguk
" Aku sudah mulai bisa membaca jalan pikiranmu, agar Aprill bisa bersama Darel lagi, lalu Aprill bisa menerima kita untuk menikah, dan semua keadaan tetap seperti ini, aku masih bisa bekerja, masih bisa membalas jasa pak Wijaya, dan kita akan menikah dengan tidak menyakiti siapapun, begitu?".
Alya mengangguk
" Kekasihku memang pintar"
" Makanya jangan galak sama Alya, tadi malam Alya disuruh pulang cepat, Alya sedang bicara dengannya ka"
" Kenapa tidak bilang? aku kan bisa menemuinya tadi malam".
" Kakak juga perlu istirahat, Alya tidak ingin pengantin pria Alya nanti pingsan di pelaminan karena kecapean, hehehe"
Afkar tertawa.
" Kalau tidak lewat telefon sudah kucubit kamu sayang"
" Ya udah, Alya mau mandi dulu, nanti cari sarapan".
" Baik, aku juga mau siap-siap dulu, setelah membangunkan pak Wijaya aku berangkat ke kantor dulu, berhari-hari tidak masuk sepertinya pekerjaanku menumpuk"
" Iya ka"
" Nanti sayang ke kantor kan? hubungi Darel untuk ikut, kita bertemu di tempat lain saja untuk bicara"
" Baik ka, selamat bekerja"
" Assalamualaikum bidadari"
" Waalaikum salam ka"
" Emuuahh"
Alya tertawa dan melambaikan tangannya.
Klik.
Lelaki muda berperawakan tinggi, dengan hidung mancung dan sedikit sentuhan style Korea berjalan dari lantai kampus menuju parkiran. Sebentar membuka tas ransel yang berisi kertas-kertas skripsinya. Meraih ponsel dan membaca pesan WhatsApp
Mbak Alya?
" Assalamualaikum Darel? sudah pulang kuliah? bisa hubungi aku?"
Darel menutup WhatsApp dan membuka panggilan telefon.
Tiiit
" Assalamualaikum"
" Waalaikum salam mba"
" Sudah pulang kuliah?"
__ADS_1
" Baru mbak, ini masih di parkiran kampus"
" Setelah ini sibuk?"
" Tidak, mbak katanya mau mengajak saya bertemu ka Afkar, jadi?"
" Jadi, kamu kampusnya di mana"
" Fakultas tekhnik mbak, Banjarbaru"
" Ooh sebelum Martapura itu ya?"
" Iya"
" Aku masih di Banjarmasin, kupikir kamu di Banjarmasin. Kamu bisa tunggu aku ya? aku mau berangkat ke sana"
" Boleh mbak, saya tunggu di mana?"
" Eemm, sebentar ku hubungi ka Afkar dulu, nanti ku kasih kabar lagi"
" Iya, saya tunggu mbak"
Klik
Darel duduk di motor mesin dua tak nya, menunggu wanita yang baru dikenalnya tadi malam, dan berjanji akan membantunya untuk bisa kembali dekat dengan orang yang masih di cintanya.
Tidak lama, panggilan telefon
" Iya mbak Alya"
" Boleh tunggu di Q mall katanya, tapi mungkin satu jam lagi aku baru tiba, kamu silakan kalau mau ada yang diurus dulu"
" Saya kesana saja menunggu mbak, saya tidak ada kegiatan hari ini"
" Baiklah, di tunggu ya, Assalamualaikum"
" Waalaikum salam mbak".
Klik.
Darel memasukan ponsel ke dalam saku kemejanya, biar nanti kalau wanita ini menghubungiku lagi, aku bisa langsung mendengar panggilannya.
Perlahan Darel keluar dari halaman parkir dan menuju QMall sebagai tempat pertemuan dia dengan wanita baru yang baik dan kakak angkat kekasihnya.
Mitsubishi Pajero sport baru saja terparkir di halaman Q Mall, Afkar meraih ponsel dan menekan tombol hijau.
" Assalamualaikum ka"
" Waalaikum salam bidadari, sudah dimana?"
" Alya di parkiran menunggu ka Afkar, Alya bingung mau turun tapi kemana?"
" Oh sudah diparkiran, di atas atau di bawah? Biar aku jemput"
" Di atas ka"
" Tunggu ya, jangan buka pintu sebelum pangerannya datang"
" Siyaap pangeran, hahahha"
Afkar memasukan ponsel ke dalam tas kecilnya, memastikan di dalamnya sudah ada dompet.
Membuka pintu mobil dan menekan satu tombol pada remote mobil. Perlahan mengitari halaman parkir dan menemukan satu mobil sedan putih dengan plat DA dengan kode kantornya.
Tok tok, kaca mobil depan di buka
" Santai sekali bidadari, aku boleh masuk?"
Alya mengangguk dan Afkar masuk dari pintu sampingnya, duduk di samping Alya dan sedikit merubah letak kursi agar lututnya lebih lega.
" Eh ini pangeran lama apa pangeran baru? cakep banget?"
Tubuh tinggi Afkar sudah sangat rapi hari ini, memakai jas hitam dan celana bahan warna senada, sepatu kerja berbahan kulit dan tas kecil di tangannya.
" Hehehe, tadi malam aku ke salon dulu benerin wajahku yang dibilang kekasihku berantakan"
Alya mendekatkan wajahnya ke wajah Afkar, seperti sedang mengamati benda mikro yang kecil.
" Lebih mudaan lima tahun"
" Biar bisa mengimbangimu lima tahun"
" Katanya Alya tua juga, biasa aja, tidak cantik, jadul"
" Aku bohong kemarin"
" Sepertinya ilmu bohong kakak sudah naik level deh"
" Iya, aku belajar dari masa lalu, terlalu jujur ditinggalin dan banyak di siksa"
" Hahahhaa, ngaco lagi. Kita tidak langsung masuk ka?"
" Kita perlu bicara dulu sayang sebelum kita menemuinya"
Alya memindah posisi duduknya agar berhadapan dengan Afkar
" Kenapa ka?"
Alya menghela napas
" Ka Afkar tidak mengatakan belum siap dan tidak rela melepas Aprill pada lelaki lain kan?"
" Heeeyy sayangku, bukan itu maksudku. Siapa tau Aprill benar kalau mereka sudah putus".
" Dan Darel mengada-ada begitu?"
Afkar terdiam
" Ka, Alya tadi malam cukup bicara banyak sama Darel, Alya menemukan sesuatu ka, Darel itu tulus, dan kalau dia memang mengada-ada cerita, tidak akan sesempurna itu. Bahkan detail dari cerita Aprill kemarin tersampaikan dari mulut Darel ke telinga Alya"
" Oke, kita anggap Darel benar mereka belum putus, kenapa Darel tidak maju sendiri, dia kan tau aku di mana berada? aku tidak pernah memusuhinya selama ini, harusnya dia datang padaku, dia ceritakan padaku kalau mereka masih saling mencintai, mungkin aku tidak akan juga berlaku terlalu protective pada Aprill karena tanggung jawabku bisa terbagi. Ini dia seperti hilang juga, aku bahkan tidak menemukan chat nya di ponsel Aprill. Lelaki apa tidak usaha begitu"
Alya terkekeh
" Kenapa tertawa?"
" Jawab sendiri kenapa Darel terlihat jalan di tempat begitu?"
" Mana aku tau, bertemu saja waktu di taman itu dulu"
" Jawab sendiri, kenapa dulu kakak juga tidak maju ke keluarga Alya?"
" Karena sayang melarangku, meremehkan aku, seperti aku tidak mampu saja".
" Ya itu jawabannya"
" Apa hubungannya?"
" Aprill melakukan apa yang Alya lakukan dulu, dan Darel melakukan apa yang ka Afkar lakukan dulu".
Afkar menatap Aprill serius
" Sayang mengambil hasil ini dari mana?"
" Dari masa lalu dan tadi malam"
Afkar mengubah posisinya dan sedikit merebahkan tubuhnya pada sandaran kursi.
" Berulang?"
" Iya, bedanya ka Afkar adalah kakak angkatnya, sedang Alya dulu hasil perjodohan"
Afkar melirik Alya
" Menurut sayang Darel mampu menjaga Aprill?"
" Kakak mampu menjaga Alya"
" Sayang itu cerminan Aprill, tapi bukan Aprill"
" Alya melihat sebagian Darel adalah ka Afkar"
Alya menggenggam tangan Afkar.
" Alya menemukan diri ka Afkar pada Darel, dia sangat sabar, perhatian, baik"
" Sayang kenapa memujinya di depanku"
Alya melepaskan genggamannya dan cemberut.
" Alya sebel kalau taring singanya keluar lagi, kan Alya harus mempromosikan Darel sebanyak mungkin biar ka Afkar nyaman melepas Aprill di tangan yang benar"
Afkar tersenyum
" Aku bercanda, teruskan presentasinya sayang"
" Dia juga muda, tampan, cakap. Dan satu lagi, dia tidak mudah memberikan pesonanya pada wanita lain seperti kakak"
" Aku tidak menebar pesona, orang lain saja yang terpesona denganku, bukan salahku"
" Ka Afkar itu memikat banyak wanita, Darel tidak?"
" Heh? dari mana sayang tau?"
" Alya sudah menarik perhatiannya dan mencoba sedikit memberinya eemmm pesona, tapi dia tetap tidak perduli, dia sibuk dengan cerita tentang kekasihnya?"
Afkar duduk tegak dan menatap Alya
" Apaaa? sayang mencoba menarik perhatiannya?"
" Hahahah, Alya bohong, ayo kita masuk ka? brondong sudah di dalam menunggu kita"
" Sayang bilang aku tua?"
" Iya, kakak tua, tapi Alya kan juga ikut tua, hahahaa".
Afkar tertawa, memiliki kekasih ajaib ini membuatku selalu awet muda.
Memeluk pinggang kecil Alya sambil sesekali menggelitikinya membuat Alya beberapa kali menjauh dan cemberut. Berdua menaiki eskalator menuju lantai dua. Mereka memang berjanji di depan satu outlet yang mudah untuk ditemukan.
__ADS_1
Sudah ada seorang lelaki muda duduk pada satu kursi panjang berwarna cokelat terbuat dari kayu dengan desain mungil dan memainkan ponselnya. Alya memberi kode
" Ka, itu Darel"
Afkar mengangguk dan mendekati
" Assalamualaikum Darel"
Darel menoleh dan segera berdiri
" Waalaikum salam ka Afkar, mbak Alya"
Afkar mengulurkan tangan dan disambut Darel
" Apa kabar?"
" Baik ka"
Afkar kembali memindahkan tangannya ke pinggul Alya.
" Ini sudah siang, kita sekalian makan bagaimana?"
Alya mengangguk
" Boleh"
" Sayang mau makan apa?"
Alya menoleh ke arah Afkar
" Alya tidak tau di sini ada menu apa? Alya bisa terus kak"
Afkar mengangguk dan sedikit berbisik
" Iya, kekasihku memang pemakan segala"
Alya sedikit tersenyum.
Akhirnya Afkar, Alya dan Darel kembali ke lantai satu untuk mencari menu untuk makan siang. Dan diputuskan untuk makan siang di Q Food Court.
" Darel, sebelumnya aku mau tanya, apa kamu masih berhubungan dengan Aprill atau sudah putus?"
Alya mencubit paha Afkar dari bawah meja, tidak ada basa basi sama sekali lelaki ini. Tapi Afkar malah melirik Alya dan memberinya kode untuk diam saja melalui kontak mata. Alya memahami dan tidak ingin ikut bicara.
" Kami tidak pernah putus ka, tapi hubungan kami juga tidak bisa dibilang baik-baik saja, kami menjalaninya tidak seperti yang lainnya"
" Kenapa?"
" Kata Aprill dia tidak bisa bebas seperti teman-temannya, bahkan ponsel dan uang saku saja sudah di atur, apalagi kalau harus jalan keluar bersama saya"
" Kenapa kamu tidak meminta izin padaku?"
" Aprill melarang saya, katanya dia saja nanti yang akan membicarakan ini pada ka Afkar"
" Kenapa kamu menurutinya?"
" Saya mencintainya, saya tidak ingin memaksakan kehendak saya yang nanti bisa membuatnya membenci dan menjauhi saya"
" Ini namanya di gantung, kamu menerima?"
" Selama saya melihatnya tetap tersenyum dan chat saya masih di balasnya walaupun sangat lama, saya masih bisa menunggu untuk hubungan ini menjadi lebih baik kembali"
" Kamu percaya sama Aprill? bagaimana kalau dia sekarang sudah punya kekasih lain?".
" Dia pernah mengatakan kalau dia mencintai saya, dan itu sudah cukup untuk saya tidak memikirkan hal buruk tentang hubungan kami"
Afkar menghela napas, anak ini cinta atau buta?.
" Kamu pernah berpikir untuk menemui saya dan membicarakan ini?"
" Selalu"
" Kenapa masih saja tidak melakukannya?".
" Saya harus tau diri ka, saya hanya lelaki biasa, orang tua saya juga wiraswasta kecil-kecilan. Masa saya berani senekat itu menemui ka Afkar dan orang tuanya"
Afkar menatapnya tajam dengan alis dikernyitkan pertanda emosinya mulai naik lagi.
" Kamu cinta tidak sih sama Aprill? kenapa tanpa usaha begitu?"
Darel tertunduk, dan ini membuat Alya tidak tahan lagi dengan pertanyaan Afkar
" Ka, jangan memojokan Darel"
" Sayang, kamu menawarkan lelaki selemah ini padaku untuk Aprill? bagaimana mungkin aku melepas Aprill untuk Darel yang keinginannya saja tidak berani ia ungkapkan, bagaimana dia melindungi Aprill?"
Kali ini Alya memegang tangan Afkar dengan keras
" Dia cerminan ka Afkar, ingat itu. Ini adalah sejarah kita ka, sudah lupa atau sengaja melupakan?".
Afkar membuang wajahnya agar bisa mengendalikan emosi.
" Ka, sekarang Alya tanya. Kenapa saat itu ka Afkar juga tidak berani maju?"
" Itu berbeda sayang, aku punya saingan berat. Aku tau diri karena perbandingan, sedang Darel tidak"
" Tidak apanya? bahkan saat ini Darel sedang sangat berani bicara dengan saingannya"
Afkar memandang wajah Alya dengan ketidak mengertian
" Saingan Darel adalah ka Afkar"
Afkar menggeleng
" Dia tidak sedang bersaing dengan siapapun sayang, aku adalah kakak Aprill, bukan kekasihnya seperti Kevin dulu yang jelas kekasihmu"
" Ka Afkar adalah saingan yang diciptakan Aprill ka. Aprill mencintai ka Afkar karena rasa nyaman dan ketergantungan, kebersamaan dan rasa perlindungan luar biasa dari ka Afkar. Aprill juga tidak bisa melepaskan Darel karena dia masih mempunyai rasa cinta dengan jiwa mudanya, dia perlu kata cinta dan puisi dari Darel, dia juga menyukai dan menunggu lukisan-lukisan bercerita cinta dari tangan Darel, dia akan menjawab chat dari Darel karena dia juga perlu hiasan untuk hari-harinya.
Sementara ka Afkar memasung kebebasanya tanpa memilikinya, dan seseorang yang harusnya memilikinya sedang terlempar jauh. Kenapa cinta mereka terkekang ?
Kenapa hasrat mereka tidak kakak pandang ?
Kenapa rasa cinta mereka dipaksa menghilang? Aprill seharusnya mampu menghirup udara bebasnya, Aprill harus mampu melihat sejauh mata memandang, berjalan sejauhnya kaki melangkah, Sepuasnya bisa menari dalam lukisan dan cinta Darel, bukan terpasung begini"
" Sudah kukatakan aku tidak memberinya hal seperti ini jika aku tau mereka saling mencintai, Aprill bahkan mengatakan dia sudah putus, sayang dengar kan kemarin dia bilang begitu?"
Darel menatap Afkar dan Alya bergantian
" Aprill bilang begitu ka?"
Afkar mengangguk. Alya sebagai wanita yang pernah dalam posisi Aprill langsung menenangkannya.
" Darel, dengarkan aku. Percayalah, jika Aprill tidak pernah mengatakan kata putus, artinya dia memang masih mencintaimu, dia begini karena punya saingan saja, lakukan sebanyak-banyaknya hal yang membuat kamu terlihat lebih istimewa, buat banyak hal yang membuatnya menjadi wanita paling berbahagia, wanita yang paling beruntung mendapatkan cintamu, jangan lemah, soal saingan itu, aku yang akan membereskannya"
Alya melirik Afkar dengan sedikit tatapan sinis.
Darel tertunduk.
" Dia tidak mengakui saya lagi mbak"
" Darel, kalau kamu lemah begini kamu akan hancur, percaya padaku. Dia masih mencintaimu, dan jika saingannya pergi, dia akan maksimal mencintaimu, mencintaimu saja. Kita akan berjuang bersama, singkirkan saingan itu"
Afkar diam, tapi tatapannya tidak lepas dari Alya yang sangat bersemangat. Alya ini sedang memberi semangat Darel atau sedang mengusirku?.
Afkar memindah arah wajah Alya yang sangat fokus menatap Darel dengan tangannya dan sekarang Alya berada pada posisi dengan mata lurus menatap Afkar.
" Sayang, liat aku saja"
Alya cemberut, lelaki ini cemburu tidak kenal waktu dan tempat, Alya kembali menatap Darel.
" Darel, ayo berjanji, kita akan berjuang untuk cinta kita, ayo Darel, please"
" Alya,,,"
Kali ini suara Afkar meninggi.
" Ka, jangan membuat Alya marah juga, Alya sedang membayar ongkos kemarin pada Darel"
" Ongkos apa?"
" Dialah supir angkot yang kemarin membawa Alya ke kantor kakak tanpa bayaran"
Afkar tercekat
" Dia? Darel yang membawamu?"
Alya mengangguk, Afkar langsung berdiri dan mendekati Darel yang duduk di seberang mejanya. Melihat itu Alya berlari, gila ka Afkar, mau dia apakan lelaki muda di depannya ini, aku akan maju untuk menghalangi kekerasan ka Afkar.
" Sayang kamu kenapa?"
Alya sudah berdiri di samping Darel dan melebarkan tangannya untuk menghalangi Afkar yang sewaktu-waktu bisa menghajar wajah Darel.
" Ka Afkar mau apa?"
Darel berdiri karena bingung
" Aku ingin mengucapkan terima kasih padanya"
Alya terdiam dan menurunkan tangannya bingung
Afkar mendekati Darel yang juga berdiri karena bingung apa yang akan dilakukan dua orang aneh ini padanya. Alya menggeser tubuhnya dan membiarkan Afkar mendekati Darel.
Tubuh tinggi keduanya sudah berhadapan, Afkar langsung memeluk tubuh Darel yang masih kebingungan.
" Terima kasih Darel, kamu sudah membawakan Alya padaku kemarin. Kamu tidak hanya membawa wanita istimewa di hidupku, kamu juga mengantarkan masa depanku, terima kasih"
Afkar melepaskan pelukannya dan menepuk bahu Darel.
" Kita akan berjuang bersama, turuti semua kata Alya, atau kamu akan terbakar sendiri seperti yang sudah pernah kami lalui"
Darel masih dengan kebingungannya.
Afkar berbalik ke arah Alya yang tersenyum padanya.
" Terima kasih sayang ku untuk semua ini, kamu sudah menemukan Darel dan membawakan padaku, membuka jalan agar kita bisa keluar bersama dan tidak saling menyakiti siapapun, kamu benar-benar bidadari tidak bersayap, kehebatanmu untuk hal berbohong, penghinaan, kecakapan sekaligus kebaikan tidak akan aku ragukan lagi"
Alya mengangguk dan berbisik
" Terima kasih juga untuk cinta ka Afkar pada Alya selama ini, Alya cinta ka Afkar"
__ADS_1
Afkar mencubit pipi merah Alya dan Alya langsung mencubit pinggang Afkar karena malu. Lalu Darel??
Masih dengan bingung dan bengong.