
Tepat pukul 8 malam Sylvia dan pa Agus keluar dari salon " Nona Jelita". Tubuh Sylvia sudah berbalut gaun keemasan sambil menenteng tas clutch dengan gliter berwarna senada, memakai selop silver dengan tinggi hak 5 cm, Sylvia memang tidak suka memakai hak tinggi karena tinggi badannya sudah semampai. Sedangkan Pa Agus memakai kemeja berwarna biru tua, lengannya sampai siku dan bagian bawah lengan ada semacam bahan tambahan berwarna merah agar mengontraskan warna kemejanya, memakai celana hitam panjang dan sepatu hitam, tubuhnya yang atletis dan wajah rupawan membuat mereka berdua malam itu benar-benar pasangan yang serasi "Syl, nanti jangan panggil saya bapak ya"
" Terus saya panggilnya apa dong pa?'
" Terserah kamu"
Sambil membukakan pintu Sylvia. Dia yang perlu gue kenapa gue yang mikir, tugas kuliah gue aja kadang perlu nunggu Alya dulu, seenaknya.
Di dalam mobil Pa Agus menghapalkan biodata Sylvia
" Di cek ya kalau saya lupa, nama Sylvia Novianti Dirgantari, usia 19 tahun, pekerjaan orang tua pegawai negeri, tinggal di kabupaten xxx sekarang ikut tante di perumahan Tunjung Maya, nenek kakek keturunan Belanda dan sebagian keluarga masih tinggal disana, anak ke dua dari 3 bersaudara"
" Whahaha, lucu pa, lagian untuk apa bapak menghapalnya,emang ada teman bapak yang akan mempertanyakan sejauh itu, lagipula dandanan saya ini terlalu berlebihan untuk acara reuni SMA pak". Pa Agus hanya terdiam dan masih mengulang hapalannya
" Jangan panggil bapak lagi"
" Saya tidak tau harus panggil apa?"
" Kamu manggil pacar kamu dengan sebutan apa?"
" Dimas, dia bukan pacar saya lagi, dia mantan saya pa, dia selingkuh"
Jawab Sylvia polos
" Maksud saya bukan namanya, kamu memanggil ya dengan sebutan apa?"
" Ya Dimas aja"
Pa Agus menggaruk kepalanya " Kalau teman kamu cewe itu memanggil pacarnya apa?"
" Alya cuma pacar pura-pura, manggilnya Arga"
" Syl, saya jadi pusing sendiri, maksud saya biasanya seorang cewe manggil pacarnya dengan sebutan apa?". Mobil tiba-tiba berhenti di pinggir jalan
" Kok berhenti pa? sudah sampai?"
Sylvia melirik kesampingnya, tidak ada restoran seperti janji Pa Agus, Sylvia jadi takut, beneran mau di culik gue, handphone udah siap, trio jagoan gue pasti ada di belakang nih ngikutin, tinggal pencet tombol hijau
" Kita belum sampai, saya tidak akan meneruskan perjalanan ini sebelum kita sepakat panggilan apa yang akan kamu katakan pada saya"
" Hhhmm, kalau kaka boleh?"
Pa Agus kembali menancapkan gas
" Iya, boleh. Itu maksud saya tadi"
Hup, nanya begitu saja sampai deg-degan begini gue, emangnya apa peduli teman-teman bapak, mau manggil pak kek, panggil kaka kek, sama aja umur bapak sudah 30 tahun, emang kalau gue manggil kak, bisa berubah jadi umur 20 gitu?
Pa Agus menepikan mobilnya ke parkiran depan sebuah restoran mewah, di samping kiri kanan pintu utama ada beberapa karangan bunga "Selamat Ulang Tahun Nyonya Dania Purbawati". Sylvia mengamit lengan pa Agus
" Pa, kita enggak salah tempat, ini kayanya acara ultah, bukan reuni"
" Mungkin yang reuni ada yang ulang tahun, dan jangan panggil pa"
Pa Agus menarik tangan kanan Sylvia ke lengannya, Sylvia kaget
" Jangan dilepaskan, apapun yang terjadi"
Sylvia semakin bingung, aku mau di temukan dengan siapa sih sampai harus seromantis ini. Seperti di film-film yang menggambarkan saat tuan muda dan nona muda berjalan, tangan nona muda harus terus di pergelangan tuan muda, dan pastinya harus menampilkan wajah yang cantik. Seperti sedang syuting film gue. Pintu restoran dibuka oleh2 orang pelayanan berdasi dan dengan senyum ramah
" Selamat malam tuan, nyonya"
Sambil membungkuk
__ADS_1
" Selamat malam juga" Sylvia membalas dengan sifat ramahnya
" Kamu tidak perlu bicara apapun, cukup tersenyum" Pa Agus berbisik di telinganya.
Sylvia memandang sekeliling, kok tampang yang hadir di sini tua-tua, reuni SMA angkatan tahun kapan sih, mana teman-teman Pa Agus ya, Alya sangat heran, semua tamu undangan menatap mereka seolah mereka menjadi pusat perhatian
" Ka, ini beneran kita salah tempat, mana teman SMA kaka, kok disini semua tua-tua ka"
Pa Agus menoleh
" Ssttt, tersenyum saja"
Dasar aneh, gue kan bukan tuna rungu, coba aja sesekali Pa Agus gabung sahabat-sahabat gue, masih bisa enggak nyuruh mereka tutup mulut.
Seorang lelaki tua, berumur sekitar 70 tahun atau lebih tapi tetap terlihat sehat dan segar mendekati mereka
" Selamat datang cucu kakek"
Pa Agus melepaskan lengan tangannya dari pegangan Sylvia dan mencium tangan kakek itu kemudian memeluknya. Si kakek tidak terlalu perduli, pandangannya sejak tadi serius melihat Sylvia
" Selamat datang cucuku Sylvia"
Sylvia pun mencium tangan kakek.
" Mari ikut kakek" Kakek menggandeng tangan Sylvia, Sylvia bingung dan meminta penjelasan Pa Agus. Pa Agus kembali menarik tangan Sylvia dari pegangan kakek
" Kek, biar aku yang ngenalin Sylvia, kakek temuin aja tamu kakek"
Kakek mengangguk dan berlalu
" Saya bingung, ini acara apa sih"
Pa Agus tidak menjawab, dia hanya kembali menarik tangan Sylvia dan meletakan tangan itu dilengannya. Mereka menuju ke tempat super viv karena Sylvia melihat di bagian itu berbeda dengan bagian lainnya, ada semacam taman bunga buatan, disana berkumpul beberapa orang yang lebih muda dari kakek.
Sapa seorang lelaki setengah baya dan langsung memeluk Pa Agus
" Baik om"
Seorang perempuan cantik, sangat cantik langsung mendekati mereka
" Ini Sylvia?"
Sylvia mengangguk, dia heran kenapa yang ada disini mengenalnya, dia saja tidak tau ini tempat apa
" Selamat datang anakku" sapanya sambil memeluk Sylvia.
Apalagi sih ini, salah orang ya, tadi salah tempat, sekarang salah orang.
Masih dengan kebingungan terdengar suara dari panggung
" Selamat malam tamu undangan yang terhormat, selamat datang di restoran xxx. Malam ini adalah malam spesial karena kita merayakan ulangtahun Nyonya Dania Purbawati ke 53 tahun, semoga beliau selalu sehat, panjang umur selalu mendapatkan cinta dari keluarga, sahabat dan rekan-rekannya. Baiklah tamu undangan yang terhormat, untuk mempersingkat waktu marilah kita panggilkan dengan hormat kepada Tuan Rian Wicaksana, selaku pimpinan utama dilima anak cabang perusahaan Antero Raya untuk memberikan sambutannya, dipersilakan. Lho itu kan kakek yang tadi menyapa kami, beliau ya bos nya disini pikir Sylvia yang masih menerka-nerka sebenarnya dia ini sedang berada dimana.
" Selamat malam para hadirin dan tamu undangan, terima kasih sudah bersedia datang di acara sederhana kami di ulang tahun anak kami Dania. Di hari berbahagia ini selain merayakan ulang tahun ibu Dania, kami juga ingin memperkenalkan calon penerus kami. Hadirin bertepuk tangan, melihat itu Sylvia ikut bertepuk tangan
" Kamu cuma perlu tersenyum"
Bisik Pa Agus ke telinga Sylvia.
Huuuh, benar-benar menyebalkan, tadi perintahnya jangan bicara, ini sudah diam dari tadi, sekarang ikut tepuk tangan dilarang juga, kan tepuk tangan tidak bicara.
" Kami perkenalkan cucu kami Agus Himawan dan calon istrinya Sylvia".
Sylvia tersenyum, mirip banget sama nama pa Agus dan kok bisa sama juga dengan nama gue.
__ADS_1
" Silakan sayang naik kepanggung memperkenalkan diri kalian, oh iya, cucu saya Agus ini jarang sekali mau berkumpul acara keluarga, baru kali ini dia mau tampil di sini, silakan"
Pa Agus menarik tangan Sylvia yang masih bergayut di lengannya dan berjalan menuju panggung, tiba-tiba Sylvia merasakan panas dingin diseluruh tubuhnya, ngapain nih, eh kok kita malah naik panggung, eh ngapain Pa.
" Selamat malam hadirin tamu undangan yang terhormat, perkenalkan saya Agus Himawan, cucu ke 5 dari 8 kakek Rian Wicaksana, sekarang saya bekerja sebagai dosen di xxx, terima kasih sudah berhadir dan mendoakan mama di hari spesialnya ini, semoga mama selalu sehat, panjang umur dan bahagia dunia akhirat, I Love You mama, terima kasih. Pa Agus berjalan mundur dan terus diikuti Sylvia yang benar-benar dalam keadaan bermimpi.
" Pa Agus, calon istrinya kenalin juga dong"
Kata seorang laki-laki di pojok sebelah kiri panggung betcanda, Pa Agus hanya menundukan badannya tanda memberi hormat dan tersenyum.
Turun dari panggung, tangan Sylvia yang tidak pernah lepas dari lengan Pa Agus langsung ditarik Nyonya Dania
" Dari tadi enggak pisah, mama pinjem dulu ya Gus calon mantu mama"
Sylvia merasa mau pingsan
" Mimpinya kok panjang?? kok bisa nyambung terus.... Bangunin aku tolooong!!!
" Nyonya,,, saya,,,"
" Sssttt,jangan panggil nyonya,panggil mama, itu papa, itu kakanya Agus dan ini adeknya Agus. Kalau yang diatas tadi sudah kenal kan itu kakek"
" Iya ma,"
Kegilaan macam apalagi ini???
Kakek mendekati mereka yang sedang berkumpul dan bercanda
" Kalau sudah begini, tidak usah lama-lama lagi, kita percepat saja ya Gus, kakek sudah tua, kita tidak tau lagi sampai kapan kakek masih hidup"
Nyonya Dania memeluk kakek
" Papa jangan ngomong begitu terus"
" Ini pasti nak, cepat atau lambat kita pasti mengalami kematian"
Sambil mengusap kepala Nyonya Dania yang memakai jilbab
" Jadi bagaimana Gus? Kapan kita melamar Sylvia?"
Pa Agus tersenyum dan merangkul pundak Sylvia
" Terserah kapan Sylvia siap kek"
Huuuuhhh, kalian lagi ngomongin Sylvia yang mana siiih???
" Sayang, kapan kami boleh bertemu kedua orangtuamu untuk melamarmu?"
Nyonya Dania membelai wajah Sylvia. Maksudnya Sylvia ini aku ya????
Sylvia memandang lemah Pa Agus, Pa Agus memandangnya dengan tersenyum lembut dan sangat romantis
" Nanti akan kami bicarakan berdua ma"
Jawab pa Agus tanpa beban.
" Kalau begitu mari kita makan, kasian mantu mama datang kesini belum dikasih makan, mau makan apa sayang?"
Nyonya Dania memanggil pelayan yang khusus menangani pemesanan makanan." Iya nyonya'
" Sediakan senua menu dan letakan di meja ini, mantu saya mau makan"
Sylvia mendadak pusing dan tiba-tiba ambruk di pangkuan Pa Agus.
__ADS_1