
Seorang lelaki berusi 50 tahun dengan rambut yang sedikit beruban tengah mengecek laporan di atas mejanya, sesekali tangannya yang memegang pena memberi garis pada kalimat-kalimat yang di bacanya.
" Kalau ini bisa kamu perbaiki kita bisa lanjut ke bab empat Alya"
Alya tersenyum
" Bisa pa, segera saya perbaiki"
Pa Damar menyerahkan laporan Alya di pra skripsi ini.
" Kalau bisa segera lebih baik"
" Baik pa, terima kasih, saya permisi"
Pa Damar mengangguk dan melepas kaca mata bacanya. Alya perlahan meninggalkan ruang dosen pembimbing skripsinya.
Menyalakan ponsel dan menghubungi Arga
Tiiit,,,
" Iya Al"
" Lo di mana?"
" Baru nyampe, di parkiran"
" Ga, gue mau ngomong, gue di lantai 2".
" Iya, gue juga mau naik, bentar"
Klik.
Alya duduk di bangku sambil menunggu Arga.
" Al,,,"
Arga duduk di samping Alya dan meletakan tas punggungnya yang berisi dengan laporan
" Mau konsultasi lo?"
" Iya, tadi dosennya sudah gue hubungi, katanya setengah jam lagi, lo gimana?".
" Gue disuruh benerin dikit, terus bisa maju ke bab 4"
" Syukur lah".
" Ga, gue mau cerita sebentar".
" Tentang apa?"
" Hari sabtu kemarin gue sama ka Kevin ke rumah ka Pandu"
" Iya, yang acara aqiqahan itu kan?"
" Iya, tiba-tiba ka Afkar nelfon ga, udah 3 bulan kami tidak pernah berkomunikasi lewat manapun, eeh di saat acara kumpul semua kemarin dia malah nelfonin. Ka Kevin disamping gue, ada mama juga. Ya, enggak mungkin kan gue bisa ngobrol, terus janjianlah kami buat ngobrol lagi nanti, tepatnya gue yang janji mau nelfonin dia"
" Terus sudah lo telfonin?"
" Belum sempat Ga, sorenya gue kan balik sama ka Kevin, rencana gue malam gue akan menghubunginya. Lo tau, sebelum gue diatar ke kost, kami mampir ke gerai ponsel, gue dibeliin smartphone baru Ga, ini ponselnya"
Alya menunjukan ponsel barunya
" Keren Al, gue juga ada rencana ganti yang ini. Terus masalahnya lo enggak bisa make ini?"
" Bukan itu, masalahnya selain ponsel, kartu gue juga baru"
" Iya, yang lo ceritain pagi tadi di group kan?"
" Iya, dan ponsel lama berserta kartu dan datanya dibawa ka Kevin Ga"
" Terus?"
" Gue kehilangan nomor ka Afkar, sedang gue enggak hapal".
Arga mendengarkan cerita Alya dengan serius, ceritanya sama dengan Afkar, tapi kok kayanya gue mulai enggak enak perasaan
" Alya,, lo sebenarnya memang mau menghubungi Afkar?"
" Iya lah, tapi gimana caranya biar gue dapat nomor handphone ka Afkar ya? sedangkan semua sudah di bawa ka Kevin"
Duuuhh, gimana caranya gue bilang ya kalau nomor Afkar ada sama gue. Demi melihat wajah Alya yang kali ini membuatnya merasa kasian akhirnya Arga mengalah
" Alya, gue ada nomor Afkar"
Alya yang tadi lesu langsung berbinar mendengar Arga
" Beneran Ga? mana, sekarang juga gue mau nelfon dia, ayo Ga"
Arga mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan mulai membuka kontak, Afkar
Alya langsung menyimpan nomor Afkar ke dalam ponsel barunya, dengan senyum ceria dan hati berbunga segera di tekannya tombol hijau
Tiitt
" Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar service area"
" Ga, tidak aktif"
Arga terdiam, masih penasaran mencoba sekali lagi di ponsel Arga
" Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar service area"
" Iya Al, tidak aktif, memang Afkar pernah tidak aktif begini Al?"
Alya menggeleng
" Ka Afkar tidak pernah mematikan ponselnya, kalau dia sibuk memang sih tidak diangkatnya, tapi bukan menonaktifkan begini"
Arga mulai mencerna satu satu cerita Alya dan Afkar. Apakah Afkar marah pada Alya sehingga menonaktifkan ponselnya begini? mungkin saja Afkar menunggu Alya menghubunginya sejak sabtu dan ini sudah hari senin siang, tapi masa sih begitu saja marah? selama ini masalah yang lebih besar saja mereka baik-baik saja. Astaga, tadi pagi kan aku bilang ke Afkar kalau Alya ganti nomor, kenapa aku yang memberitahukannya lebih dulu sebelum Alya, ini kan bisa saja membuat Afkar salah paham dan menganggap Alya menghindarinya tidak menghubungi Afkar bahkan mengganti nomor telepon.
Arga mendesah panjang, semoga saja dugaanku tidak benar, semoga saja Afkar sedang berada di tempat yang tidak ada sinyal.
" Ga, kemarin sempat ka Afkar bilang dia sudah tidak di Surabaya lagi, apa mungkin dia sekarang memang ada lokasi yang tidak ada sinyal nya?".
" Iya Al, mungkin saja, sempat dia menyebutkan kotanya?"
" Tidak sempat Ga"
Alya kembali lunglai dan menatap kosong pada ponselnya
" Ka Afkar maafin Alya. Ga, kenapa dia yang tidak menghubungiku?"
Arga melirik dengan perasaan dongkol
" Lo sadar?"
" Maksud lo?"
" Mau menghubungi lo di mana? lo kan ganti nomor Alya".
Alya menepuk jidatnya
" Astaga Ga, gue malah nungguin ka Afkar yang menghubungi gue setelah gue kehilangan nomornya"
Alya memainkan jemarinya dengan perasaan sedih.
" Al, jangan nangis di sini, dikira teman-teman gue ngapain elo, Alya,,,"
Alya mulai meneteskan air matanya
" Alya,,, aduuh gimana ini"
Arga gelisah dan segera menarik Alya ke toilet
" Al, hapus air mata lo, masuk sana, gue tungguin disini, ngapain nangis lagi sih"
" Gaa, gue harus gimana? gue sedih banget Ga, gueee,,hik hiks hiks"
Arga semakin panik, beberapa mahasiswi memandangnya dengan tatapan aneh karena berdiri di depan toilet wanita, dan parahnya Alya masih saja sesenggukan tanpa masuk ke dalam. Arga sudah hampir kehilangan akal untuk menghentikan tangisan Alya. Seandainya Alya tau gue sudah mengabari Afkar lebih dulu habis sudah gue.
" Alya diam dong, aduuh Sylvia mana sih"
Merasa tidak ada yang berubah dari Alya, Arga langsung putar otak
" Okee, oke. Kalau sampai besok Afkar masih tidak aktif, kita ke ke Surabaya buat cari dimana Afkar"
Tangisan terhenti seketika, Alya langsung memeluk Arga
__ADS_1
" Benar Ga? terima kasih, iya kita datangin kantornya, siapa tau dia di sana"
Arga mendorong tubuh Alya
" Lepasin Al, malu gue apaan pelukan di depan toilet begini"
Alya melepas pelukannya dan menghapus air mata
" Akan gue coba terus menghubunginya, mungkin memang sinyalnya sedang hilang"
" Iya, mudah-mudahan. Gue mau menghadap dosen gue, lo mau pulang?"
" Enggak, gue mau ke perpustakaan dulu"
" Ya udah, nanti kabari gue"
" Iya, makasih Ga"
Arga mengangguk dan memandang kepergian Alya dengan wajah sendu. Kenapa gue terus saja terlibat begini. Afkar bantu gue, aktifin ponsel lo secepatnya, gue sedang skripsi, bagaimana harus menemaninya ke Surabaya. Uuhh, Arga memijat kepalanya sebentar, kemudian berjalan menuju ruangan dosen pembimbing skripsinya.
Selesai mengguyur tubuh dengan air dingin pagi ini membuat tubuh Arga terasa sangat segar.
Panggilan telepon, Alya
" Hallo Al"
" Arga, sudah seminggu tapi ka Afkar belum aktif juga"
" Lalu"
" Lo jangan pura-pura amnesia Ga"
" Alya, kita tunggu saja dulu, mungkin sinyalnya masih belum ketemu"
" Di pedalaman mana sih dia sampai seminggu begini tidak ada sinyal"
Arga menatap lembaran kertas laporannya
" Al, laporan gue bagaimana"
" Ga, kita cuma sebentar, enggak lama, lo pikir gue berani sampai nginap di Surabaya? mati di pacung nyokap gue kalau sampai ketahuan"
" Oke, kita ke Surabaya minggu depan, kita sehari saja, ambil penerbangan paling awal dan penerbangan pulang paling akhir"
" Gue enggak mau"
" Maksud lo kita batal ke Surabaya?"
" Gue enggak mau minggu depan, gue mau besok"
" Gila, mana mungkin"
" Mungkin saja, apa bedanya besok atau minggu depan?"
" Hhuuh, Alya. Gue mikir dulu"
" Lo mikir duitnya?".
" Bukan, gue mikir apa alasan kita kalau tiba-tiba nyokap lo nelfon, atau tiba-tiba beliau datang ke kost lo mendadak, gue tertuduh Al melarikan lo"
Hening
" Gue ada ide, pokoknya lo urus saja keberangkatan kita besok, urusan yang lain biar gue yang menyelesaikannya"
" Kalau mikir yang benar ya Al, gue enggak mau sudah terlibat begini, terus nanti gue yang disalahin"
" Gue jamin keselamatan lo Ga"
" Baiklah, gue urus tiket dan transportasi kita disana"
" Benar Ga? makasih ya, gue sayang lo Ga"
" Nyebelin lo, ya udah gue mau pake baju dulu, baru selesai mandi"
" Lo enggak pake baju? gimana kalau gue tadi video call, lo angkat juga?"
" Iya lah, udah deh, gue kedinginan"
Klik
Sebuah pesan masuk pada group WhatsApp
Alya
Sylvia
" Ka Afkar masih hilang Al?"
Alya
" Iya Syl, gue merasa sangat bersalah, gue belum sempat menghubunginya"
Sylvia
" Hati-hati ya Al, semoga lo dapat kejelasan di sana"
Roni
" Arga, jagain tu Alya, jangan malah tambah masalah"
Alya
" Arga akan jagain gue, terima kasih cinta-cinta gue, mohon doanya"
Bandar Udara International Juanda
Alya menggandeng tangan Arga agar tak tertinggal. Arga berjalan cepat karena baru mendapat pesan mobil yang menjemputnya sudah ada di parkiran
" Ga, tungguin gue, cepat banget jalannya"
" Lo yang jalan pelan banget, biasa nya kan lari"
" Selama sama ka Kevin gue sudah lebih anggun, lupa cara lari"
Arga tetap saja dengan jalan cepatnya, sesekali Alya harus berlari kecil agar bisa seimbang dengan Arga
" Ga, pelanin, gue terbiasa dulu kalau jemput ka Afkar di bandara jalannya santai, pakai di peluk dan di rangkulnya lagi".
" Jangan berisik Al, mau gue balikin sekarang ke Yogya"
" Nyebelin, mau bantu tapi enggak ikhlas"
Arga berhenti sejenak dan menatap Alya
" Alya, nanti kalau ketemu siapapun setelah ini, lo jaga sikap"
" Gue sudah lama di latih ka Kevin buat jaga sikap,sudah mahir, tapi memangnya kenapa?"
" Eemm, yang akan kita temui setelah ini karyawan di perusahaan bokap gue, gue juga harus punya harga diri di depan mereka, lo jangan bikin malu gue"
" Iya, gue tau, ka Kevin selalu bilang begitu juga"
Seorang pria berusia sekitar 40 tahun dengan tampilan rapi menghampiri mereka
" Selamat pagi pa Arga, nona,silakan ikut saya"
" Pagi, mobilnya di mana?"
" Di sana , mari pa"
Lelaki itu mempersilakan Arga dan Alya menuju parkiran
" Ini kunci nya pa"
" Terima kasih"
" Saya permisi pa Arga, nona"
Lelaki itu sedikit membungkuk dan segera berlalu dari Arga dan Alya
" Ga, lo nyewa mobil buat kita?"
" Tidak, ini mobil perusahaan, masuk Al"
" Kenapa lo bawa sendiri tidak pake supir, katanya anak orang kaya, hehehe"
" Lo pikir bokap gue terima kalau sampai dia dengar dari karyawannya kalau gue nemenin lo buat nyari mantan lo di sini saat gue lagi sibuk skripsi begini? mending gue pinjam mobil saja, gue bisa beralasan lain kan?"
__ADS_1
" Maafin gue ya Ga, jadi nyusahin lo"
" Santai aja Al, hitung-hitung kita sehari refreshing dari kesibukan kita"
Arga mulai membawa mobilnya ke luar dari area bandara. Mereka mampir sebentar untuk sarapan sebelum melaksanakan tugas inti.
Sebuah bangunan dengan 2 lantai berdiri gagah di antara gedung-gedung yang berjejer rapi, Alya menatap nya dari dalam mobil
" Ga, ini ya kantor ka Afkar?"
" Iya, kita masuk Al?"
" Sebentar Ga, gue gugup banget, gue nenangin jantung gue dulu"
Arga mengangguk, tangannya menyalakan musik pada tape mobilnya. Dia sangat memahami hati Alya sekarang, setelah 3 bulan lebih tidak bertemu, seseorang yang selalu dirindukannya, dan sekarang mereka di sini, entah bertemu atau tidak, tapi mereka akan mengetahui kabar dan apa yang terjadi pada Afkar selama ini. Setelah sekitar 10 menit hening Alya membuka suara
" Ga, setiap hari ka Afkar ke kantor ini ya?"
" Iya lah, ini kan kantornya"
" Motornya di parkir di mana ya Ga?"
Arga ikut meneliti halaman
" Sebelah sana Al, ada tulisan khusus karyawan"
" Kalau dia lapar kantinnya sebelah mana?"
" Di dalam kali, kan lo yang video call, lo bisa liat kan kantinnya"
" Ruangan ka Afkar yang mana ya?"
" Gue bukan dukun yang tau segalanya tentang Afkar, lo aja yang ngaku mencintainya hampir tidak tau apa-apa tentangnya, apalagi gue"
" Ga, kalau di dalam nanti gue enggak bisa bicara, lo aja yang bicara ya"
Arga hanya mengangguk
" Kita keluar sekarang?"
" Sebentar Ga, kalau dia ada di dalam, dia masih mau nemuin gue enggak ya?"
" Hhmm, kayanya mau, masa sih dia mutusin silaturahmi, walaupun lo yang sudah melakukan itu duluan, hehehe"
" Ga, liat kantornya aja gue berasa hidup lagi, gue udah gila ya Ga?"
" Iya, makanya kita langsung masuk, biar gue enggak ikutan gila"
Arga turun dari mobil diikuti Alya, mereka berjalan menuju pintu dan langsung di sambut receptionis
" Selamat pagi bapak, ibu, ada yang bisa kami bantu?"
Alya langsung mencubit pinggang Arga, sepertinya dia memang sudah kehilangan tenaga, padahal barusan sarapan banyak
" Pagi mbak, maaf bisa kami bertemu pa Afkar?"
" Pa Afkar Rahadian dari divisi marketing?"
Arga memandang Alya meminta jawaban Alya mengangguk
" Iya mbak".
" Ooh, kalau pa Afkar sudah tiga bulan yang lalu resign dari perusahaan pak"
" Apaaa?"
Arga mencolek lengan Alya untuk mengingatkan agar bisa mengontrol kata-katanya
" Boleh tau sekarang beliau dimana?"
" Kalau itu kami tidak tau pak"
Arga menoleh pada Alya
" Kata lo dia punya saudara di sini?"
" Iya, eemm, mbak, apa benar di kantor ini ada saudara beliau?"
" Benar, pak Andi Wijaya"
" Bisa kami bertemu beliau?"
" Sebentar ya pak, kami cek dulu apakah beliau ada di kantor atau sudah di lapangan, silakan duduk bapak ibu"
Reception mempersilakan Alya dan Afkar untuk duduk di ruang tunggu, sementara wanita cantik itu meraih gagang telpon yang ada disampingnya
Alya menunggu dengan perasaan cemas, beberapa kali matanya memandang Arga yang juga sedang memandang nya.
Wanita itu menutup telefon dan menyapa mereka lagi.
" Bapak ibu mohon di tunggu, pak Andi akan segera menemui bapak dan ibu"
" Terima kasih mbak"
Arga mengangguk. Kembali melirik Alya dan setengah berbisik
" Alya, tenang aja kenapa sih, gue jadi ikutan gelisah liat lo gini"
Alya tidak menjawab, hanya matanya yang sendu itu menjabarkan kalau sekarang dia sangat dalam keadaan resah. Seorang laki-laki berperawakan sedang memakai baju kemeja berwarna putih dengan logo perusahaan tertempel di dadanya mendekati mereka. Alya melirik ke logo itu, ini kan baju yang selalu dipakai ka Afkar ke kantor.
Lelaki itu tersenyum pada Arga, tetapi saat ia menatap Alya, raut wajahnya langsung berubah
" Selamat pagi, saya Andi,ada yang bisa saya bantu?"
Om Andi duduk di sebelah Arga, tetapi matanya tajam menatap Alya
" Selamat pagi pak, kenalkan nama saya Arga, dan ini teman saya Alya"
Om Andi mengangguk
" Iya, saya tau kamu Alya, ada apa?"
Alya memandang om Andi dengan kebingungan, kita belum pernah bertemu om, Alya pun tidak pernah lagi mendengar cerita tentang om dari ka Afkar, kenapa om kenal saya.
Untuk apa dia ke sini, setelah membuat kehidupan keponakanku hancur seperti ini?
" Om kenal saya?"
Akhirnya pertanyaan itu terucap juga dari bibir Alya
" Iya, Afkar selalu bercerita tentang kekasihnya, yang fotonya banyak tergantung di dinding kamar dan bahkan tegak di atas meja kerjanya, yang sangat di sayangi, tapi meninggalkan nya"
Ooohh, jawaban ini membuatku sakit om, jangan membuat pernyataan seolah aku yang bersalah sementara keponakan om itu paling benar
Arga bisa menangkap rona kesedihan Alya dari jawaban om Andi
" Maaf om, kami kesini dengan niat baik, kami ingin bertanya, di mana dia sekarang? Alya ingin bicara dengannya"
" Dia sudah berhenti bekerja sejak Alya memutuskannya, dia meninggalkan pekerjaannya, tempat tinggalnya"
" Boleh tau dimana om?"
" Untuk apa kalian tau? untuk menambah kesedihannya? dia hancur sekali, semua impian yang sedang dia bangun untuk orang yang dicintainya ditinggalkannya. Setiap bulan dia selalu menabung, katanya untuk biaya pernikahannya, siang malam dia bekerja, katanya ingin membelikan kekasihnya mobil agar tidak kepanasan dan kehujanan, katanya kekasihnya adalah wanita baik, terhormat, cantik, pintar dan lucu. Siapapun yang mengenalnya akan merasa senang. Dia sangat bersemangat untuk masa depannya, hingga saat dia mengundurkan diri, kami baru tau kalau dia sudah diputuskan oleh kekasihnya, dia tidak bicara ataupun bercerita lagi tentang kekasihnya, dia hanya bilang semua sudah berakhir karena kekasihnya memiliki seseorang yang jauh lebih baik darinya. Kami tidak bisa mencegah kepergiannya, tapi kami yakin dia akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik, dia anak yang jujur, disiplin, pekerja keras, dan ,,, tampan. Mungkin tidak sulit untuknya menemukan pendamping hidup yang baik"
Alya hanya memandang om Andi dengan sedih yang sudah menjadi luka, aku tidak marah dengan sindirannya, aku sangat sedih dengan cerita ka Afkar yang hancur, aku pernah menjadi sandarannya saat dia mengalami kesedihan, dan kesedihan kali ini pasti sakitnya lebih berlipat-lipat.
" Maaf om, bolehkah kami meminta nomor ponselnya?"
" Kata ibunya dia baru ganti nomor, tapi dia juga belum menghubungi om, jadi om juga tidak tau nomornya"
Arga menatap Alya yang tertunduk, apalagi usaha kita Alya? bahkan beliau tidak memberitahu kita dimana Afkar sekarang.
" Baiklah om, kami permisi, dan kami mau minta tolong, seandainya nanti Afkar ada menghubungi om, tolong sampaikan pesan kalau kami kesini"
Om Andi hanya terrsenyum tanpa menjawab, amanah mu begitu berat nak, aku tidak mau menjawabnya.
Arga berjalan menuju receptionis dan bicara pada wanita yang sejak tadi melayani mereka
Arga kembali ke tempat duduknya dan menyerahkan secarik kertas pada om Andi
" Om, ini nomor Alya yang baru, ada sedikit kesalahpahaman, semoga Alya nanti bisa meluruskannya saat Afkar menghubunginya"
Kembali om Andi hanya tersenyum
" Baik om, kami permisi, Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
__ADS_1
Arga mengulurkan tanganya untuk bersalaman, begitupun Alya.
Sepeninggal Alya dan Afkar, om Andi menatap kertas yang berisi nomor ponsel Alya, beliau berjalan dan mendekati tempat kecil di pojok ruangan itu, kemudian memasukan kertas penting itu ke dalam tempat sampah. Maafkan om Afkar, tapi dia akan menyakiti mu lagi jika kamu menghubunginya, semoga saja kamu cepat mendapatkan penggantinya.