Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Magang


__ADS_3

Ini adalah malam pertama Alya di rumahnya sendiri, sudah lama tidak pulang. Dan kepulangan kali ini akan lama, 2 bulan. Tadi siang Alya mengangkut buku-buku kuliahnya, beberapa potong pakaian, sepatu dan tas-tasnya. Tidak ketinggalan gitar pemberian Afkar. Diantar Kevin dengan mobil baru pemberian Kevin kemarin. Akhirnya Alya memang harus menerima mobil itu setelah mendapat bujukan dari orang tua Kevin, katanya agar Alya tidak usah menunggu papahnya pulang kantor untuk pulang sendiri setiap hari dari tempat magangnya. Memang sih pulang kantor itu jam 5 petang, tapi terkadang papah sampai rumah paling cepat menjelang magrib atau sebelum isya, apalagi kalau sedang menemani tamu atau hal mendadak seperti tugas lapangan yang membuatnya tidak bisa pulang cepat, Alya sudah menolak dan mengatakan bisa saja naik motor, tapi orang tua Kevin malah menyarankan kalau Alya ngotot naik motor saja, biar Kevin tidak usah ke Bandung dulu untuk mengurus perusahaannya, bertugas menemani Alya magang saja, padahal wisuda Kevin tinggal dua minggu lagi dan rencananya akan langsung pergi untuk memimpin perusahaan itu. Tentu saja Alya tidak mungkin menyetujui hal aneh ini. Bukannya kami tidak ada hubungan apa-apa, tapi kenapa gue seakan sudah jadi miliknya?.


Mama sudah menyiapkan menu makan malam di bantu bi Inah sejak sore tadi. Ada ayam asam manis dan sosis teriyaki. Meja sudah dikelilingi oleh papah, mama, Alya, Tasya dan Kevin.


" Silakan nak Kevin"


Papah memulai menawarkan Kevin untuk mengambil lauk yang ada di meja makan. Kevin menyendok ayam asam manis ke piring yang sudah berisi nasi.


Sesekali meliirik Alya yang masih sibuk dengan ponselnya tanpa memperhatikan nya. Papah sempat menangkap adegan itu dan merasa tidak enak


" Alya, makan dulu ya".


Alya mengangkat wajahnya dan meletakan ponsel ke sampingnya. Mulai memasukan nasi ke dalam piring dan mengambil lauk.


Sesekali terdengar papah dan mama menawarkan Kevin agar menambahkan nasi dan lauknya, Kevin selalu mengucapkan terima kasih dan menutupnya dengan sudah kenyang.


Selama 20 menit acara makan malam yang minim obrolan itu berlangsung, Alya dan Tasya membantu bi Inah membereskan meja makan, sedangkan mama membuka ruang praktiknya karena sejak tadi beberapa pasien sudah menunggu, tapi belum dibuka karena memang belum sampai jam untuk pelayanan. Papah dna Kevin duduk di teras sambil ngobrol. Melihat Alya sedang menselonjorkan kakinya di sofa sambil memainkan ponselnya, papah memanggilnya


" Alya, bisa temani Kevin di sini, papah mau membereskan berkas kantor sebentar".


Alya mendengar papah memanggilnya berdiri dan berjalan ke teras


" Iya pah"


Alya duduk di bangku samping Kevin setelah papah meninggalkan mereka berdua


" Aku jadi pengen mengulang masa kecil kita Al"


" Hehehe"


" Saat kita manjat pohon mangga dan jambu itu".


Alya ikut memandang dua pohon di halaman rumahnya yang luas.


" Kenapa dulu aku belum mempunyai perasaan apapun padamu ya, seandainya saja perasaan itu sudah ada sejak dulu, aku pasti sudah meminta perjodohan ini dilakukan sejak kita masih kecil"


" Kenapa?"


" Biar kita tidak menemukan siapa-siapa lagi setelah itu, dan bisa saja keadaan sekarang jauh lebih baik tanpa ada siapapun diantara kita"


Alya tertunduk, apalagi sih yang mau dia omongin, gue lagi sibuk chat sama ka Afkar nih.


Kevin melirik Alya yang masih saja sibuk dengan ponselnya


" Lagi chat sama Afkar?"


" Iya"


Alya dengan cueknya menjawab tanpa mengalihkan matanya dari ponselnya.


Aku sedang bersamamu Alya, hatiku yang sepenuhnya mencintaimu, sedang kamu sedang mesra dengan hati yang lainnya. Entah siapa yang harus disalahkan, aku terlanjut nyaman bersamamu. Walau kadang ada rasa bersalah ketika aku bersamamu, tapi kenapa aku harus memiliki rasa bersalah sedangkan dia tidak terlihat sedang memperjuangkanmu. Atas nama dia yang kamu cintai, aku juga mencintaimu. Kenapa kamu bahkan tidak menyamarkan itu di depanku? menjelaskan bahwa dialah yang kamu rindu untuk bersama dan mengalihkan posisiku, seolah sama sekali tidak menyakitiku. Katamu dialah yang lebih dulu hadir di dalam hatimu, iya itu benar, tapi aku yang menyatakannya terlebih dahulu, aku menjanjikan kita akan melalui ini bersama lebih dahulu. Aku yang memintamu untuk belajar memulai hubungan baik ini. Dimana dia sebelum aku datang, kenapa dia mengikutiku setelah aku memulai untuk memberikan hatiku. Cinta memang harus memilih, menyerah atau membuat hati lain menjadi patah. Dan aku sudah banyak melakukan banyak hal untuk mendapatkan perhatian dan cintamu, tapi seakan percuma, hambar dan sering aku juga ingin berhenti dan menyerah, tapi aku tidak begitu yakin bersamanya kamu akan lebih bahagia daripada bersamaku.


" Belum selesai Alya?"


Alya melepaskan ponselnya dan memandang Kevin


" Kaka sudah janji kan tidak akan menghalangi Alya untuk masih mencintai kekasih Alya".


" Iya betul, tapi bisa tidak saat bersamaku sebentar saja kamu tidak chat dengannya"


" Kaka masih lama disini?"


" Alya belum selesai chat dengannya? masih lama"


Alya menggeleng, dasar aneh, tau tidak kalau chat dengan pacar itu tidak bisa ditentukan, tergantung obrolannya menarik atau tidak, dan kekasih Alya ini selalu mempunyai obrolan yang manis dan seakan Alya tidak pernah ingin mempunyai batas waktu untuk mengakhirinya


" Baiklah kalau begitu aku pulang dulu ke tempat tanteku di komplek sebelah, besok aku antar ke kantor om ya?"


" Alya bisa sendiri ka"


" Aku cuma ingin memastikan dimana kamu akan ditempatkan"


" Ka, itu kantor papah, enggak mungkin lah Alya di letakan di bagian dapur"


" Hehe, bukan begitu, aku cuma ingin ruang kerjamu nyaman, tidak bising, atau mungkin besok aku bisa menemanimu satu hari disana , berkenalan dengan karyawan, kita akan mengenal kantin di sebelah mana, toilet dimana, musholla dimana, itukan tempat yang eajib kamu datangi setiap hari. Aku juga ingin mengetahui dimana nanti kamu akan memarkir mobilnya, kalau perlu kita beri tanda agar besoknya tidak ada yang menempatinya biar kamu tidak susah lagi besoknya untuk mencari tempat parkir"


Alya tertawa.


" Itu perusahaan orang ka, bukan perusahaan papah yang seenaknya kita bikin aturan sendiri"


" Kalau Alya mau aku bisa membuat peraturan itu mulai besok disana"


" Ka, itu juga bukan perusahaan kaka, itu punya bos nya papa, aneh aja".


" Aku punya saham di sana"


" Sejak kapan?"


" Sejak kamu cerita magangmu di sana"


Alya mengernyitkan alisnya


" Ngapain melakukan itu"


" Aku ingin jaminan orang yang aku cintai tidak dianggap anak magang biasa yang nanti akan disuruh-suruh seenaknya"


" Memang kalau magang itu bakalan di suruh-suruh?"


" Di beberap tempat mereka akan dipekerjakan, seharusnya mereka itu belajar, bukan di multifungsikan"


" Alya bisa kok jaga diri ka, tidak perlu juga sampai kaka melakukan ini"


" Alya,, selama aku mampu, kenapa aku tidak memberikan yang terbaik?"


Uuuppps baru juga Ka Afkar bilang begitu saat Alya keceplosan bilang bingung memilih mobil di show room Roni.


" Alya berterima kasih ka, kaka sudah sangat baik sama Alya"


" Tidak perlu berterima kasih, cukup tersenyum saja jika kita sedang bersama begini, itu sudah sangat membuatku bahagia".


Alya tersenyum


" Begitu kan manis"


" Biasanya tidak manis?"


" Biasanya manis, kali ini sangat manis"


" Hehehe".


" Jadi besok aku jemput jam 7 pagi ya"


" Terserah"


" Boleh malam ini mobilnya aku pinjam?"


Kevin mendekatkan wajahnya seperti sedang meminta sesuatu, Alya kaget ketika wajah tampan di depannya begitu sangat dekat dengan wajahnya, wangi rambutnya saja langsung masuk ke indera penciumanku


" Itu kan mobil kaka, jangankan pinjam, diambil lagi aja Alya ikhlas"


" Enggak, itu mobil Alya, aku tidak akan pernah mengambilnya, janji deh cuma pinjem, hehe"


" Mau pulang sekarang?"


" Aku diusir?"


" Bukan begitu, kaka sudah bantuin Alya sejak tadi siang di kost ngangkutin barang, nganterin Alya kesini, pasti sudah capek kan perlu istirahat, apalagi besok janjiin mengantar Alya"


Kevin melirik jam tangannya, jam 9 malam


" Ya udah, kamu mau nyambung chat sama dia kan"


Kevin tersenyum dengan sangat dipaksa


" Sudah selesai, Alya mau tidur aja, biar besok bisa segaran hari pertama masuk kantor".


Kevin membelai rambut depan Alya, Alya kembali kaget dan tersentak


" Iya, memang sebaiknya kamu istirahat dan tidur, tidak usah chat-chatan lagi, biar besok bisa fresh, hehehe"

__ADS_1


Alya mendadak gugup, kok pesannya begitu ya, walau pun ujungnya bagus biar gue besok bisa fresh, tapi tidak usah chat-chatan lagi itu maksudnya apa? ini lagi pake membelai rambut gue, kaya lagi membelai kucing Tasya yang lagi malas-malasan di depan televisi sama kaya tuannya.


" Aku pamit dulu, mana om?"


" Sebentar Alya panggilin"


Alya masuk ke dalam dan tak lama sudah kembali bersama papah


" Mau pulang nak Kevin?"


" Iya om, Alya kayanya sudah perlu istirahat"


Alya mendelik, tekanannya kok ke gue banget, yakin gue istirahat habis kaka pulang? terserah gue.


"Ya sudah, nginap di tempat tante Lusi ya?"


" Iya om, ini mobilnya saya pinjam dulu ya"


Papah melongo


" Pinjam, itu kan mobil Kamu?"


Alya menepuk jidatnya, sudah 3 hari mobil itu dibeli Kevin dan sudah terparkir anggun dihalaman kost nya, kepemilikannya pun sudah atas nama Alya, kok gue bisa lupa ya nyeritain ke papah mama.


Kevin menatap Alya, kamu tidak cerita ya Alya kalau ini hadiahku untukmu, betapa belum ada artinya benda ini ternyata, lawanku terlalu tangguh seperti nya. Ini sudah malam dan Kevin pun malas menceritakannya sendiri, biar Alya saja nanti yang bercerita.


" Saya pamit dulu om, Alya, Assalamualaikum"


" Waalaikum salam".


Papah mengajak Alya duduk di depan televisi


" Alya,, besok diantar Kevin?"


" Kok papah tau?"


" Dia kan nginap di kompleks sebelah, tidak pulang, artinya dia akan ada di sini"


" Pah, Alya mau tanya, benar k Kevin punya saham di perusahaan papah?".


" Iya, kenapa?"


" Ka Kevin baru cerita"


" Ooh"


" Dia besok malah mau menenami Alya di sana, katanya mau liat kondisi ruang kerja Alya, mau liat parkir mobil Alya biar besoknya Alya tidak kesulitan lagi mencari tempat parkir"


" Memang nya kamu mau dipinjami berapa lama mobil itu?"


Alya tertunduk


" Pah, sebenarnya itu mobil pemberian ka Kevin buat Alya?"


Papah langsung tersedak, Alya mengambilkan air untuk papah


" Kapan Alya?"


" Sudah lama, tapi selalu Alya tolak, dan akhirnya 3 hari yang lalu mobilnya sudah ada di halaman kost Alya"


" Orang tua nya tau?"


" Justru karena orang tuanya yang maksa pah"


Mama ikutan duduk di samping papah, praktiknya baru saja di tutup


" Jadi kamu sudah dibelikan mobil Alya?"


Alya mengangguk


" Kenapa diterima?"


" Alya dipaksa ma"


" Alya tidak minta kan?"


" Kenapa Alya tidak cerita waktu Kevin menawarkannya sebelum dibelikan itu?"


" Lupa"


" Hah lupa? Alyaaa, ini peristiwa besar, mama bingung ini nanti kalau ketemu tante Risma dan Om Hadi"


mama memandang papah yang juga terlihat bingung


" ngapain bingung, ini kan karena kemauan mereka juga, sudah deh ma, pah, Alya mau tidur dulu, capek".


" Tidur Alya, jangan main handphone lagi, Apalagi telfonan sama Afkar"


Alya sedikit merengut, huuh tebakannya kok betul sih.


Tepat jam 7 pagi sebuah mobil sedan yang memang berdesain cewek berwana White Orchid Pearl memasuki halaman rumah Alya. Alya yang baru selesai sarapan langsung ke teras dan menyambut Kevin.


" Sudah sarapan ka?"


" Sudah, Alya?"


" Sudah juga"


" Kita pamitan dulu". Alya mengangguk


Sebelum Alya memasuki rumah, kedua orang tuanya sudah berdiri di pintu dengan pakaian kerja mereka masing-masing


" Om, tante kami permisi dulu"


" Iya, hati-hati nak Pandu".


Alya mencium tangan orang tuanya diikuti Kevin, mereka berdua langsung memasuki mobil dan segera meninggalkan rumah Alya.


" Pah, liatnya kok adem ya"


" Iya"


" Semoga Alya benar-benar bisa menerimanya, sepertinya Kevin benar-benar memperhatikan Alya, tapi mama liat Alya masuh cuek saja tadi malam"


" Pelan-pelan lah ma"


" Pelan gimana, sudah 8 bulan masih saja jalan di tempat"


" Namanya juga di jodohin, perlu waktu ma"


" Bukan perlu waktu pah, Alya yang tidak mau mencoba memberi waktu, hatinya cuma ada Afkar"


" Kita tidak bisa memaksa ma kalau Alya memang belum bisa menerima Kevin"


" Perasaannya belum diterima, hadiahnya diterima terus, mau di trauh dimana muka kita pah"


" Ya disini"


Papah mencium pipi kanan mama, mama langsung kaget


" Apaan sih nyosor di depan pintu, malu-maluin aja"


Papah terkekeh


" Pagi-pagi ngomel, mana kunci motor mama, papah keluarin dulu"


Mama masuk ke dalam dan keluar lagi dengan membawa kunci motor. Jarak puskesmas tempat mama bekerja memang hanya berjarak 5 km dan itupun tidak melewati jalan besar, mama hanya menggunakan motornya untuk bisa berangkat dan pulang kerja, sementara Tasya akan diantar papah ke sekolah karena satu arah menggunakan mobil dan pulangnya akan dijemput mama jika tidak ada kegiatan eskul, tapi jika keduanya berbeda jam pulang, Tasya akan pulang dengan menggunakan gojek.


Sebuah bangunan besar dan mempunyai 3 lantai berwarna putih, memiliki halaman yang luas dengan tempat parkir dua jalur, ada yang khusus untuk mobil dan satunya jalur untuk motor. Kevin mengambil jalur mobil dan berhenti di pos penjagaan. Kaca jendela dibukanya untuk bisa berbicara dengan petugas di pos jaga


" Pagi pa"


" Pagi, bisa bantu saya dimana bisa memarkir mobil ini"


" Boleh pa"


Satu dari dua orang yang bertugas pagi itu berjalan dan memandu Kevin untuk mencarikan tempat parkir. Setelah mobil bisa terparkir Kevin langsung keluar tergesa. Alya melihat Kevin berbincang dengan petugas itu dan terlihat tangan petugas itu menunjuk-nunjuk tempat di depan mereka, apalagi sih ka Kevin ini idenya. Kevin mengangguk-anggukan kepala dan sesekali ikut menunjuk juga ke tempat kosong areal parkir ini. Tidak lama Kevin masuk lagi ke mobil


" Kenapa ka?"

__ADS_1


" Kita ke sebelah sana saja, di sini untuk umum"


" Bukannya kita juga umum"


Kevin menoleh


" Mana boleh, kamu itu spesial"


Alya tertawa


" Memang martabak"


" Kalau kamu martabak aku rela deh jadi topingnya, hehehe".


Alya spontan mencubit bahu Kevin. Lelaki berkemeja biru muda dengan lengan yang sedikit digulung itu tertawa. Kevin memposisikan mobilnya dengan rapi


" Naah, sementara disini dulu, nanti aku bicarakan lagi sama petugas apakah bisa ini kita sewa khusus 2 bulan untuk memarkir ini"


" Ngapain juga sih ka mesti begini, bisa aja Akya parkir dimana yang kosong"


Kevin memandang Alya


" Aku tidak mau kamu pusing muter-muter cari tempat kosong, otak kamu nanti dipenuhi buat mikir, tidak punya lagi dong tempat buat mikirin aku"


" Iih, emang otak Alya sempit begitu isinya cuma buat mikirin tempat parkir"


Kevin tertawa


" Apapun yang jadi pikiranmu, serahkan saja sama aku, aku mau kamu cuma mikirin aku, hahaha"


Alya tertawa


" Setelah ini kaka sudah tau apa yang Alya pikirin?"


" Tau"


" Apa?"


" Setelah turun ini, kamu bingung, masuk ke pintu mana dulu ya, terus tanya sama siapa ya kamu ditempatkan di ruang mana"


" Whahaha, kok bisa tepat sih"


" Aku kan sudah belajar memahamimu sejak 8 bulan yang lalu. Ya udah kita turun dulu, atau kita ngobrol di sini sampai sore juga enggak apa-apa, jarang-jarang kan bisa ngobrol berdua begini pagi, hehehe"


" Ya masuk lah, ngobrolnya kita sambung nanti"


Kevin mendekatkan wajahnya dan kembali membuat Alya kaget


" Janji ya nanti ngobrol lagi"


" apaan sih kaka, kalau kita bersama ya pasti ngobrol"


" Enggak main ponsel ya kalau ngobrol sama aku"


Alya tersenyum, huuh aneh ni orang.


" Ya sudah, ayo kita turun, belajar yang benar ya, persiapan nanti jadi nyonya Kevin mengurus perusahaan"


Alya tertawa


" Kok ketawa?"


" Lucu aja ka, masa iya Alya bisa bantuin ngurus perusahaan?"


" Kalau tidak mau juga tidak apa, cukup melahirkan dan menjaga anak-anak kita saja di rumah"


Alya langsung terdiam Kevin malah tertawa


" Sekarang kamu yang kucu, jadi bengong begitu, ayo deh kita masuk kesana sebelum hayalanku semakin tinggi, heheheh"


Alya menenangkan jantungnya yang tiba-tiba berdetak sangat keras, Ka Kevin bisa menghayal juga, iya lah, dia kan manusia juga.


Dan benar juga semua yang dijanjilan Kevin tadi malam, sepanjang hari dia hanya menemani Alya di kantor papah, mulai dari ikut menemani duduk di ruangan tempat Alya magang, menemani ke kantin saat makan siang, mencari toilet dan mushalla. Sempat beberapa kali Kevin pamit sebentar meninggalkannya, cuma pamit saja, tidak tau juga kemana, Alya pun tidak menanyakannya, papah juga sempat mendatanginya dan mengecek apakah Alya pintar dan tidak bikin ulah, tentu saja hari ini dan 2 bulan ke depan dia akan bersikap manis, tau diri lah ini kan kantor.


Satu hal yang membuat Kevin sangat bahagia, ketika makan siang, mereka kumpul dengan karyawan lain, beberapa wanita cantik dengan gaya full color begitu Alya menyebutnya, bagaimana tidak, mukanya sudah warna warni begitu dari mata, pipi, bibir ,mereka seakan tidak melepaskan pandangan ke arah Kevin yang memang terlihat begitu mempesona


" Ka, mereka memandang kaka"


" Biarin, sudah biasa"


" Biasa apa?"


" Sudah biasa aku di pandang begitu"


" Hah, kaka tebar pesona?"


" Kamu liat aku cengar cengir dihadapan mereka?"


" Tidak"


" Nah, santai aja, tenang cintaku hanya buat kamu hahaha"


Alya ikutan tertawa, selama ini dia memang tidak pernah memperhatikan kalau Kevin selalu bisa mencuri perhatian para gadis, biasanya kan mereka jalan ke mall, dan Kevin selalu menggandeng tangannya, waluapun beberap lirikan perempuan lain sempat mampir di wajah dan tubuh Kevin, tapi langsung ambyar melihat gandengan tangan mereka, dan kali ini mereka ada di kantin, kantin kantor papah, mana mungkin ada adegan begitu


" Kaka senang diliatin cewe begitu?"


" Enggak, aku cuma menunggu kamu yang lebih mau memperhatikan aku"


Alya tersenyum sambil menyendok makan siang ke mulutnya. Benar ka, mereka seperti tidak ingin lepas memandangimu, Alya ikutan memandang Kevin, memgamati wajah berkarisma di depannya, iya ka, kamu tampan.


" Ka, coba deh kaka balas memandang mereka Alya pengen tau gimana reaksi mereka".


Kevin menggeleng


" Ayo lah ka"


" Tidak usah"


" Permintaan, nanti Alya bayarin deh sama senyum Alya yang belum pernah Alya berikan"


Kevin tersenyum


" Benar? jangan bohong ya"


" Iya, janji"


Alya mengacungkan jari kelingkingnya ke arah Kevin, Kevin tertawa dan membalasnya. Kevin berdiri dan berjalan pelan menuju sebuah rak yang berjejer air mineral di bagian sudut kantin, melewati kumpulan gadis-gadis yang Alya sebut geng full color


" Permisi"


Kevin menganggukan kepala saat melewati mereka dan tersenyum manis


" Silakaaannn"


Mereka menjawab serempak dan seperti salah tingkah. Kevin mengambil dua air mineral dan kembali melewati mereka, kembali dengan senyum manisnya, dan kali ini malah ada yang menjatuhkan sendok dari meja makannya, dengan cueknya Kevin segera berlalu dan duduk di kursinya dekat Alya


" Bagaimana?"


Alya tertawa


" Sudah Alya rekam ka, nanti kita nonton berdua ya, hahahaha, lucu banget mereka"


" Tadi ada bunyi apaan?"


" Sendok jatuh ka, hahaha"


" Percaya kan yang naksir aku banyak?".


" Iya deh percaya, pacar siapa dulu dong"


Deeg, ngomong apaan gue, eh tadi becanda, duuh bener keceplosan becandanya. Kevin tersenyum


" Akhirnya aku dianggap juga, nanti pulangnya mau kemana aku siap antar kemana aja, tapi jangan lupa janjinya ya?"


" Janji apa?"


" Senyuman manisnya"


Alya melongo, tuuh gue kembali lempar batu tapi batunya balik ke gue. Sepertinya setiap ngomong sama dia lidah gue harus di tata dulu nih. Mereka menghabiskan makan siang dan kemudian menuju mushalla untuk shalat Zuhur. Hari pertama magang berjalan mulus, entah karena papah sudah mengenalkannya kepada karyawan lain kalau anak magang ini adalah anaknya, atau karena Kevin selalu berada disampingnya. Tapi Alya merasa semua yang ada diruangan itu memperlakukannya dengan sangat sopan dan baik, tidak seperti di dalam bayangannya kalau anak magang itu bakal di suruh memotocopy, di suruh ambilin kopi di dapur, disuruh keluar buat bantuin melengkapi berkas. Nanti malam gue harus cerita nih sama Sylvia, Arga dan Roni. Sementara Kevin sangat sibuk untuk memuluskan permagangan Alya, berbagai divisi sudah ia datangi dan meminta tolong jika Alya datang mohon dibantu kelancaran magangnya, dengan gaya khas pemimpinnya tentu saja tidak ada yang sulit untuk mereka memenuhi permintaan Kevin, hari ini para divisi lain merasa ada dua pemimpin di perusaah itu, dan pastinya manager kantor papah memang sudah lebih dulu memberikan instruksi kalau anak magang yang akan datang ini adalah seorang kekasih orang besar dan sudah bekerja sama di perusaah tersebut dan jangan sampai membuatnya repot. Bahkan papah sendiri bingung melihat Kevin sibuk dengan berbagai urusannya, beliau saja tidak memperdulikan Alya. Begitu ya kalau jatuh cinta pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2