
Dua tiket sudah dipesan online untuk penerbangan senin siang jurusan Banjarmasin Yogyakarta dan Banjarmasin Jakarta. Awalnya Afkar bersikeras untuk mengantar Alya ke Yogyakarta dulu kemudian balik ke Jakarta menjemput ibunya. Kemudian kembali ke Yogyakarta, tapi Alya melarangnya dengan alasan pemborosan waktu dan tenaga. Akhirnya diambil kesepakatan secara sepihak bahwa mereka akan melakukan perjalanan di waktu yang sama dengan jurusan berbeda. Tentunya dengan izin Pak Wijaya dan Aprill yang masih belum terlalu ikhlas melepas Afkar untuk pulang ke Jakarta, terlebih dengan alasan untuk melamar nenek lampir. Ada memang nenek lampir sekece Alya? seandainya Alya tau panggilan kesayangan Aprill mungkin rambut Aprill sudah habis dijambaknya.
Penerbangan selama 1 jam 20 menit ini begitu berarti untuk Alya. Penerbangan ini bukan hanya mengantarnya pulang, tapi juga mengantarnya untuk merubah perjalanan hidup dan perjalanan cinta. Kata-kata Afkar di bandara tadi menguatkannya.
" Selama ini aku yang selalu meninggalkanmu dengan harapan jika aku datang lagi aku masih memiliki hati kekasih yang sama. Tapi hari ini aku sudah mengubah lagi pinta yang lebih indah. Tunggu aku di kotamu, akan kubawakan hati untuk melindungimu, memberikanmu ruang untuk menetap saja di hatiku. Jangan menanyakan berapa mahar yang akan kubawa, aku punya hati untuk merawatmu. Sepanjang usia membalut raga.
Untuk mu kekasihku yang kupinta sebentar lagi menunggu. Aku ingin melamarmu dengan segala rasa yang ada dalam diriku, berupa sebanyak keyakinan dan ketetapan dalam langkahku, bukan untuk menikmati keindahan dunia yang sudah menciptamu dengan sempurna, tapi mendapatkan ketenangan hati ketika malam aku memelukmu. Menciptakan cerita indah untuk kita jalani di dunia dan di Syurga.
Di mana kita bisa berdiri di ruang yang sama pada shaf berbeda, aku di depan menjadi imammu dan kamu berdiri di belakang ku menjadi makmumku. Memintakan do'a yang menenangkan hati dan pasti. Aku butuh kamu menemaniku untuk itu"
Alya mengangguk
" Untukmu laki-laki yang berjuang untuk menghalalkanku. Datang dan minta izinlah pada orang yang lebih berhak menjawab dan menerimamu sebagai pendamping dunia akhirat puteri mereka, sehingga terjawab aku memang titik akhir dalam takdirmu.
Engkau kekasih dan calon imam yang akan memimpinku dan anak-anakku kelak, Jika puncak letih penantianku ini ingin kau bayar
Datanglah dengan sejuta cinta yang tak pernah padam. Sungguh bukan mahar yang kutanyakan, aku sedang menanyakan apalagi yang nanti bisa kulakukan selain mengantarmu di depan pintu dengan penuh restu, mencium tanganmu sebelum kau pergi menganyam masa depan keluarga kita, yang akan selalu mencium keningmu di lagu kesetiaan, yang akan setia menantimu kembali mengais nafkah, yang akan berdiri dibelakangmu pada sepertiga malam.
Aku menunggumu di satu kota hingga kamu datang menyebut namaku lantang di depan penghulu dalam ijab kabul yang suci, bersama semua baktiku yang tertunda
Bersama cinta dan ibadah yang akan menjadi sempurna".
Pelukan lama dari mama yang membuat Alya ikut meneteskan air mata.
" Alya, akhirnya doa mama terkabul juga, kamu akan menikah dengan dia yang memang kamu tunggu sejak lama"
Alya mengusap air mata lagi, tidak ingin melihat mama bersedih.
" Iya ma, semua sudah di atur bagaimana pun caranya"
Mama melepaskan pelukannya
" Maafkan mama sayang, membuatmu menjadi begini, melalui hari-hari berat dalam menunggumu"
" Bukan salah mama, Alya justru bersyukur, semua peristiwa ini membuat kami yang terlibat menjadi dewasa, Alya,Ka Afkar, ka Kevin. Kami akhirnya bisa kuat ma"
Mama mengangguk
" Semoga semua dilancarkan sayang"
" Aamiin".
Alya berjalan mengambil satu bungkusan besar
" Ma, Alya bawa oleh-oleh buat semua. Juga buat teman-teman Alya"
Mama meraih bungkusan dari tangan Alya
" Kain apa ini Al?"
" Itu namanya sasirangan ma, kain khas Banjarmasin, nanti kasihkan ke penjahit biar dipotongin sesuai model dan ukuran kita. Alya beliin sepaket biar kita kembaran, hehehe"
" Ooh, iya nanti mama atur model masing-masing buat semua"
" Oh iya, tampan aunty mana?"
" Sst, lagi tidur, jangan di ganggu. Alya mau ikut mama pulang atau di sini saja?"
" Alya di sini saja ma, sambil menunggu kabar ka Afkar Alya kan masuk kerja juga"
" Oh iya, bagaimana kerjasamanya? sudah sepakat?"
Alya terdiam, satu minggu aku belum sepatah katapun membicarakan pekerjaan dengan si manager galak itu, uuhh kenapa aku lupa menanyakannya tadi ya
" Eeem, iya ma, ini juga sekalian mau di urus ke kantor"
" Ooh, Alya mama tanya sesuatu jangan tersinggung ya?"
Alya mendelik
" Tersinggung? ada apa ma?"
" Mama menanyakan ini bukan apa-apa, tapi mama sebagai orang tua wajib tau kan apa pekerjaan calon mantu mama? Afkar kerja dimana?"
Alya tertawa
" Lho, kemarin lamaran online nya sudah diterima, kok baru nanya kerjaannya sekarang?"
" Alya,,, mama serius"
" Eemm, kalau ka Afkar seorang staff bagaiamana ma?"
" Tidak apa-apa"
" Kalau ka Afkar driver grab car bagaimana ma?"
" Yaa, eee itu kan pilihanmu, mama sih mendukung saja"
" Benar ma tidak apa-apa?"
" Alyaaa"
" Hehehe"
" Jadi apa?"
Alya mendekati sofa dan berbaring menselonjorkan kakinya
" Alya, ini kebiasaan yang harus di rubah, nanti kamu seenaknya baring begini di rumah baru, kelihatan keluarga Afkar memalukan"
" Iya, nanti juga Alya rubah, ma mau dengar cerita Alya bekerja di Banjarmasin tidak?"
__ADS_1
Mama ikut duduk di sofa bagian lain menghadap Alya
" Mama kan tanya Afkar kerja dimana, bukan cerita si singa itu"
" Justru itu ceritanya"
Mama mengernyitkan alisnya dan mengangguk
" Iya cerita, mama dengarkan"
" Janji jangan kaget ya?"
" Iya"
" Janji jangan pingsan ya"
" Alyaaaaaa"
" Hehehe. Begini ceritanya ma,,,,"
" Pagi itu saya sedang meeting bu, setelah selesai saya akan mengontrol karyawan sebentar sebelum kembali ke ruangan saya, Sasha sekretaris saya mengabarkan sudah ada tamu dari Yogya yang menunggu, ketika saya menoleh saya sangat kaget, ternyata di wanita yang masih sangat saya cintai. Saya saya terkejut dan langsung masuk ruangan, saya belum siap menemuinya. Tidak akan mudah untuk saya bersapaan apalagi berbicara masalah pekerjaan pada wanita yang saya rindukan. Saya kemudian nekat ke Jakarta menemui sahabatnya, maaf bu saya tidak bisa menemui ibu saat saya di Jakarta, saya terburu-buru bu"
Wanita separuh baya dengan tatapan lembut itu mengangguk
" Tidak apa, ibu tidak marah, lanjutkan ceritamu Afkar".
Afkar menyandarkan punggungnya di sofa berwarna cokelat tua di rumah kakak tertuanya.
" Setelah bertemu sahabatnya, saya baru tau betapa Alya selama ini sangat mengharapkan saya kembali dan menemuinya. Hubungannya dengan Kevin sudah lama berakhir karena Kevin tau Alya masih mencinta dan menunggu saya. Bahkan dia menjalani hari-hari berat nya dengan sendiri, tanpa saya ataupun Kevin. Dia sakit dan selama tiga bulan tidak bisa melanjutkan kuliahnya. Bu, saya tidak bisa berhenti menyalahkan diri saya sendiri dan membuat wanita yang saya cintai menderita begitu"
Ibu menghela napas
" Bukan salahmu, berhentilah merasa salah nak"
Afkar menoleh, memandangi kerutan-kerutan di wajah tabah ibunya, sosok tercinta yang selalu bisa memahami hati dan perasaannya, yang tidak menyalahkan ataupun memaksakan sesuatu pada anak-anaknya.
" Bu, saya pulang untuk meminta restu ibu, saya akan menikahi Alya"
Buuukk.
" Afkar, hentikan mimpimu"
Seorang wanita memakai baju dinas rumah sakit berwarna putih membuka pintu dengan kasar dan segera duduk di depan Afkar dan ibu
" Dia tidak pantas untukmu"
Afkar tertunduk, tidak berani menatap wajah ka Mia yang sangat di hormati nya. Seorang anak tertua yang pernah menjadi tulang punggung keluarga sebelum Afkar bekerja di Surabaya
" Afkar, kamu lupa apa yang sudah dilakukannya padamu?"
" Ka, Alya tidak seperti yang ka Mia pikir, dia tidak mengkhianati saya, dia hanya menjalankan apa yang diinginkan keluarganya"
Afkar menoleh kembali pada satu tubuh tua di sampingnya, seakan ingin meminta bantuan, ibu hanya menatap Afkar dingin
" Afkar, kamu tau kenapa dia kembali menemuimu? karena dia tau kamu sudah berubah, kamu sudah menjadi orang kaya, kamu sudah memiliki pekerjaan yang baik, kamu jangan dibutakan cinta Afkar"
Afkar yang tadi hanya menjawab pelan kali ini tidak bisa lagi menahan sabarnya
" Ka, Alya tidak tau saya ada di Banjarmasin, dia kesana karena urusan kantor, sama sekali tidak ada kontak ka, saya kaget, dia juga kaget"
" Aku tidak percaya, dia mungkin saja sudah lama mencarimu, buktinya dia ke kantormu dan menemui om Andi kan? saat melihat kamu bekerja sebagai grab car dia santai saja, dan ketika tau kamu sudah berubah, kemudian dia datang lagi, dan kamu percaya saja"
Afkar tertunduk, aku ingin sekali menceritakan semua yang kami lalui satu minggu ini padamu ka Mia, dia yang sangat tulus, dia yang bahkan bersedia menerima ku kembali walaupun kami akan memulai dari awal lagi karena berpikir kalau saja Aprill masih tidak menerima kami berdua, kami akan ke Yogya dan saya akan mencari pekerjaan baru.
" Ka, percayalah. Alya tidak seburuk itu, dia wanita hebat dan setia, bisa saja seandainya setelah kami berpisah dan dia ditinggalkan Kevin, dia kembali memiliki kekasih, tapi tidak ka, dia menunggu saya yang hilang, dia bahkan tidak tau sama sekali saya ada di mana"
Ka Mia berdiri dari tempat duduknya
" Bu, saya mau mandi dulu, belum shalat ashar"
Ibu mengangguk dan kembali memandang Afkar
" Nak, sebelum kamu melangkah ke hal yang lebih serius, mungkin bisa kamu pikirkan kembali kata-kata kakakmu"
Afkar menggelang lemah
" Alya tidak seperti itu bu"
Ibu menepuk pundak Afkar
" Kamu lelah, baru sampai, istirahat saja dulu, kamar Nanda sudah ibu bersihkan, nanti malam dia tidur di kamar ibu"
Afkar menegadahkan kepalanya
" Nanda sekolah bu?"
" Iya, mungkin ponakanmu itu sebentar lagi pulang"
Afkar mengangguk dan perlahan berdiri menarik koper hitamnya menuju satu kamar sederhana milik keponakannya.
" Saya istirahat dulu bu"
Ibu mengangguk dan tersenyum
" Mau ibu buatkan teh hangat Afkar?"
Afkar mengangguk, minuman hasil dari tangan ibu akan bisa menenangkan perasaan ku.
Makan malam sederhana, si cantik Nanda sejak pulang sekolah tadi sudah dengan aktifnya di dapur untuk memasak menu makan malam, katanya special untuk om gantengnya, padahal Afkar sudah akan membawa mereka ke rumah makan, tapi ibu menolak, katanya nanti saja, masakan Nanda lebih enak. Yang dilakukan Nanda selain memang cukup akrab dengan Afkar, dia sudah dijanjikan sebelumnya akan dibawakan oleh-oleh berupa perhisan batu dari Martapura.
" Ma, cantik kan gelang Nanda"
__ADS_1
Nanda memamerkan gelang mutiara lilit dua berwarna silver gliter pada mama dan neneknya di meja makan
" Iya cantik, tapi nanti jangan mengharap oleh-oleh lagi sama om Afkar, dia akan mempunyai istri, mungkin saja istrinya akan melarangnya membelikanmu perhiasan lagi"
Afkar menatap sendu kak Mia, kenapa dia sangat tidak suka pada Alya, aku tidak pernah bercerita berlebihan dan yang sebenarnya tentang Alya kan ka?
" Om Afkar mau menikah? waah nanti Nanda tidak disayangi lagi dong"
" Tidak Nanda, sampai kapan pun om akan selalu menyayangi Nanda"
" Nah begitu dong, mama suka gitu deh om, hehehe"
Afkar ikut tersenyum, dengan hati yang sangat sakit. Memandang ka Mia yang sedang santainya menikmati rendang daging berteman melinjo yang digoreng dan sambal pedas.
Secangkir kopi terseduh di dapur ka Mia, aroma wanginya tidak hanya memenuhi ruangan berukuran 4 x 5 Meter dengan warna putih itu, tapi juga tercium hingga ke ruang tamu. Afkar kemudian membawa gelas kecil itu ke teras. Sesekali matanya memperhatikan jalan di depan rumah kak Mia, rumah ini tidak berada di jalan besar, harus melalui beberapa komplek untuk bisa sampai ke rumah ini.
Panggilan telefon
Bidadari
" Assalamualaikum sayang"
" Waalaikum salam ka, sedang sibuk?"
" Tidak, barusan makan malam dan shalat, ini baru bikin kopi dan duduk di teras"
" Ooh ka, besok Alya ke kantor"
" Iya"
" Ka, Alya lupa nanyain hasil kerjasama kita, hehehe"
Afkar menepuk jidatnya
" Astaga, aku juga lupa, hehehe"
" Apa jawaban Alya besok di kantor ka?"
" Bilang saja sayang sudah mempresentasikannya padaku, dan membuatku sangat terkesan"
" Kalau itu bukan sombong ya, memang keahlian Alya, tapi hasilnya bagaimana?"
" Bilang saja, manager tampannya sedang sibuk mempersiapkan pernikahan, jadi belum bisa tanda tangan kontrak sekarang, tapi sudah disetujui"
" Benar disetujui? kan katanya ka Afkar mau liat cara kerja Alya dulu"
" Eemm, kalau begitu saat aku ke Yogya melamarmu, sayang presentasi dulu deh, kalau aku puas, langsung ku tandatangani kontraknya"
" Iih, jadi ke Yogya mau ngomongin kerjaan atau mau melamar sih?"
" Dua-duanya, biar ngirit biaya"
" Bos perhitungan, hahaha"
Afkar mendengar tawa Alya yang lepas dan bahagia. Sayangku, kuatkan aku lagi sekarang.
" Ka, kapan ke tempat Alya? katanya satu hari dua hari ini, ka Afkar kan minta cutinya cuma tiga hari"
" Masih ada acara keluarga sayang besok, aku tidak enak meninggalkan"
" Ooh, kapan kakak bisa saja, Alya tidak kemana-mana juga, asal ka Afkar saja tidak hilang lagi"
" Kalau aku hilang, sebelumnya aku menculikmu dulu ke Yogya"
" Tolooong, Alya mau diculik Rahwana"
" Eeh, bukan Rahwana, kapan-kapan sayang di culik Arjuna, tapi kesiangan"
" Whahhaa, nanti subuh Alya bangunin biar Arjuna bangunnya tidak kesiangan"
" Kita tidak akan kesiangan, nanti sepertiga malam kan kita sama-sama bangun untuk memintakan agar rencana kita berjalan lancar sayang?"
" Oh iya, hehe"
" Sayang sedang apa?"
" Santai menemani Danish main, rencana mau chating sama teman-teman buat ngabarin Alya mau di lamar kekasih Alya, sekalian ngajakin ngumpul, tapi kalau Kaka besok belum bisa ya nanti saja Alya mengabarinya"
Afkar tercekat
" Ya sudah kalau mau chating sekarang silakan, aku juga mau ngobrolin ini sama keluargaku lagi biar jelas kapan bisanya"
" Iya deh ka, semoga lancar ya"
" Aamiin, salam sama teman-teman ya"
" Siyaapp"
" Anak printer, ya udah, assalamualaikum"
" Waalaikum salam ka"
" Emuuah"
" Dadah cintanya Alya"
Klik.
Afkar meletakan pelan ponselnya dan meminum kopi di depannya, sekali tegukan habis seluruh isi gelas. Memejamkan matanya
" Alya, tunggu sebentar lagi ya, aku sedang ada masalah di sini, doakan aku untuk segera bisa menikahimu"
__ADS_1