Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Aku, Afkar


__ADS_3

Afkar melirik jam tangannya, 5 menit lagi jam 5 sore, artinya shift nya hari itu sudah selesai, dibereskannya sapu dan kain pel yang sejak jam 8 pagi tadi bersamanya, berjalan pelan menuju ruang belakang khusus karyawan, melewati security karyawan yang akan mengecek tubuhnya apakah membawa alat dari dalam mall. Afkar mengangkat tangannya dan tubuhnya mulai di cek oleh security khusus. Afkar dipersilakan melewati pos pemeriksaan dan memasuki ruang khusus karyawan laki-laki. Membuka locker pribadinya dan mengganti pakaian kerja dengan pakaian bebasnya. Selembar baju kaos berlengan pendek berwarna biru muda dan celana jeans. Di sebelahnya sudah ada Fendi, teman seprofesinya yang juga sedang mengganti pakaiannya, Fendi adalah sahabat Afkar sejak mereka sama-sama melamar di Mall ini, dan diterima di waktu yang sama, terkadang mereka menyempatkan waktu ngobrol sebelum pulang di ruang ganti ini, karena saat bekerja mereka tidak akan mempunyai waktu luang, kebetulan hari ini mereka ada di shift yang sama.


" Langsung pulang Af?"


" Iya"


" Malam ini mau jalan kemana, malam tahun baruan"


" Aku mau ngajakin seseorang malam ini, mudah-mudahan sih dia mau"


" Pacar baru ya? Enak ya punya wajah tampan, bisa cepat dapetin penggantinya" sahut Fendi tertawa


" Bukan pacar sih Fend, ini baru mau pedekate, hehehe"


" Udah janjian mau ngajak dia?"


" Belum Fend, aku tidak punya no telfon nya?"


Fendi menaikan sebelah alisnya


" Gimana pedekate, no telf nya saja tidak punya"


" Hampir dua bulan yang lalu aku ketemu dia, eehhm aku yang ke kost nya dia bawain sarapan karena dia sakit, awalnya aku sekalian mau minta no telf nya, tapi qa' enak, gimana kalau dia keberatan"


" Kamu ini katanya mau pedekate, tapi mau maju aja tidak berani, gimana sih"


" Waktu itu aku tidak ada niat apa-apa Fend, aku kesana karena mau jenguk dia karena sakit, dan kupikir sebagai teman tidak ada salahnya aku minta no telf nya, tapi yaaaa tiba-tiba aku merasa tidak enak aja nanya, jadi aku langsung pulang"


Fendi mengangguk


" Terus rencana malam ini gimana? mau nyamperin dia gitu?"


" Iya, nanti habis isya aku kesana"


Fendi menepuk pundak Afkar


" Semoga sukses ya pedekatenya, hehehe"


Afkar ikutan tertawa


" Kamu gimana, malam ini jalan?"


" Iya lah, sudah janjian dari sebulan yang lalu"


" Hah,,, dipersiapkan banget ya Fend,hahaha"


Merekapun melangkah keluar ruang ganti menuju parkiran, sesekali saling menyapa dengan karyawan lain walaupun tidak sama divisi. Walaupun Afkar cuma sebagai OB, tapi wajah tampannya sama sekali tidak memperlihatkan itu saat dia memakai pakaian bebas. Afkar yang cool tetap akan tersenyum manis saat bertemu siapapun dan menyapa mereka yang dikenalnya.


Jalanan sudah mulai padat, macet, padahal ini baru jam 8 malam, ada yang naik motor bersama pasangan, keluarga, ada yang naik mobil bersama keluarga, suara terompet mulai terdengar walau belum terlalu ramai. Afkar berada diantara suasana yang mulai bising itu, sesekali ia harus memelankan laju motornya karena harus memberi lewat jalan beberapa petugas keamanan yang malam ini akan bertugas ekstra ketat untuk mengamankan jalan dan mencegah terjadinya keributan terutama di titik-titik rawan pusat kota. Afkar mengendarai motornya dengan rasa penuh percaya diri. Setelah pulang kerja, dia meyakinkan diri agar bisa maju untuk lebih dekat dengan Alya. Tubuh jangkungnya dilapisi baju kaos berwarna putih pucat dan celana jeans hitam. Afkar juga membawa helm cadangan agar nanti saat berjalan bersama Alya mereka tetap menjaga kewajibannya sebagai pengendara yang taat peraturan.

__ADS_1


Tiba di kost Alya, Afkar mematikan mesin motornya. Dengan langkah pasti ia mendekati pintu yang setengah terbuka. Perlahan diketuknya pintu karena Afkar melihat ada Mba Cici salah satu penghuni kost itu sedang duduk di ruang tamu bersama temannya.


" Assalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Sambil menoleh kepada Afkar


" Oh Afkar, silakan masuk"


" Iya, bisa ketemu sama,,,,"


Belum sempat Afkar menyebut nama Alya, Mba Cici sudah berteriak di ujung tangga


" Yanti, ada tamu,,,"


" Siapa?"


" Afkar".


Deg, jantung Afkar berdetak, lho Mba saya cari Alya. Tapi Afkar serasa tidak bisa lagi bicara, ia bingung harus meralat omongan Mba Cici, memang Mba Cici tau kalau Afkar teman Yanti, dan memang tidak akan ada yang tau Afkar kesana mencari Alya. Dan sungguh ini adalah sesuatu yang tidak diprediksi Afkar sejak awal, ia lupa bahwa penghuni kost disini tau kalau dia teman Yanti, bukan Alya,,


Sejenak Afkar hanyut dalam lamunannya, ekor matanya menangkap sosok Yanti sudah berdiri di hadapannya


" Hai Afkar, sudah lama qa main kesini, duduk yuk"


" Darimana Af?"


" Dari rumah teman, sekalian mampir kesini, bagaimana kabar kamu Yan?"


" Aku baik, kamu??"


" Aku baik juga".


Afkar mendengar langkah kaki berlari dari tangga, tubuh mungil perempuan yang dia cari sudah berdiri di dekatnya dan dengan cueknya membuka lemari es, heyy dia melihatku " Hai ada ka Afkar" dia menyapaku.


" Iya Al, apa kabar?"


" Baik ka"


Afkar tersenyum dengan penuh kebahagiaan, benar- benar bahagia melihat Alya malam ini. Sudah hampir 2 bulan dia tidak menemuinya, hanya dengan alasan yang tidak masuk akal, aku tidak punya alasan untuk menemuinya, ck ck ck Afkaaaarrr.


Waaahh, si mungil ini menutup pintu lemari es dan duduk di depanku, gayanya yang santai membuatku tegang begini, aku ingin menyapanya, tapi sapaan apa yang pantas ku ucapkan ya, apakah langsung saja ku tawarkan malam ini agar bersedia pergi denganku, ah tidak,,terlalu konyol,, atau apakah kamu sudah sembuh? semakin konyol, ini sudah 2 bulan, sakit kronis apa dia sampai belum sembuh-sembuh selama 2 bulan. Ber basa basi dulu mungkin agar dia tidak kaget untuk ku ajak jalan-jalan


" Malam tahun baru qa keluar Al?"


Semoga pancinganku ini berhasil


Kenapa Alya diam, apakah dia sudah ada janji? atau dia akan pergi bersama Arga? kalau dia pergi bersama Arga aku masih di titik aman, setidaknya Alya tidak bersama laki- laki lain.

__ADS_1


" Lagi nungguin jemputan dia Af, mau keliling kota katanya"


Yanti,,, aku kenapa merasa lemas begini, ingin rasanya aku tidak mendengar kabar ini, tapi kenapa si mungil ini masih tidak menjawab? semoga Yanti tadi bercanda.


" Assalamualaikum"


" Waalaikum Salam"


Siapa lelaki gondrong yang aku sebagai laki-laki saja memuji penampilannya. Terlihat sekali dia bukan lelaki biasa, pakaiannya, gayanya, tampangnya.


" Sudah siap Al? berangkat yuk"


Lho, Alya janjian sama dia? Afkar semakin melemah jiwanya.


Afkar memandang Alya, Alya pun memandangnya


Al, katakan ini lelucon, ini tidak nyata kan? aku kesini mau ajak kamu jalan- jalan, bukan untuk melihatmu di ajak jalan-jalan. Dan ini bukan Arga, apakah ini pacar sesungguhnya setelah 2 bulan aku tidak tau sama sekali kabarmu lagi? Alya,,, kamu membuka bibirmu, kamu ingin bicara,, bicara Al, aku menunggumu. Alyaaa,,,


Monolog ini pun hanya dilakukan di dalam batin Afkar, huuuh.


Alya, kenapa kamu semakin dalam dalam diammu, aku mengganggumu? maaf Al, maafkan aku yang sudah terlalu percaya diri dan berharap padamu


" Kalau mau pergi silakan Al"


Heh, kenapa mulutku ini, kenapa aku malah membiarkannya pergi? kenapa aku tidak menahannya? bukankah seharusnya kamu menjawab dulu pertanyaan hatiku tadi? oohh, maaf,,, aku hanya bicara dengan hatiku, kamu tidak akan mendengar Al.


Alya,,,, kamu mau kemana? Gadis itu bangun dari duduknya, dan melangkah pergi ke lantai atas, Afkar hanya bisa diam, sesekali pandangannya melihat ke pintu dan memandang lelaki yang menjemput Alya.


Bodoooh, kenapa bisa aku ingin mendekati Alya, liat dirinya, seorang lelaki tampan, berkelas, bahkan pakaiannya pun branded seperti yang di pajang di store tempatku bekerja yang hanya bisa aku pandangi, handphone yang dipegangnya, itu kan handphone terbaru yang dipajang di salah satu hall tempatku bekerja, harganya sama dengan gajiku 1 tahun. Ini kah sainganku,,, untuk berdiri di sampingnya saja aku tidak yakin, apalagi untuk bersaing.


" Eh ada ka Afkar, kami permisi dulu ya ka"


Sapaan Sylvia mengagetkan lamunan Afkar.


Alya berlalu di depanku tanpa menoleh, Alyaaa, aku ingin melihat wajahmu sebelum kamu pergi, Alyaaa. Kenapa kamu menoleh ke motorku, kamu ingin memperbandingkan motorku dengan mobil merah kekasihmu itu?? Tidak Al, jangan semakin membuatku rendah, aku sudah merasa sangat kalah, maafkan aku yang sempat mengharapkan dekat denganmu, sungguh aku tidak ingin mencoba bersaing Al, ini kesalahanku, aku tidak tau.


" Yan, aku permisi dulu ya, jalanan sebentar lagi macet, bisa-bisa aku pulang tahun depan". Yanti tertawa dan mengangguk


" Hati- hati di jalan ya Af, ada waktu sering-sering mampir kesini, biarpun kamu bukan kekasih sahabatku lagi, tapi kan kita masih bersahabat".


Afkar mengangguk


" Terima kasih Yan'.


Afkar melangkah ke parkiran depan teras kost. Tiba- tiba dia sadar, tadi Alya memandang motorku, mungkin dia tidak sedang menghinaku, apakah dia berpikir aku akan menghabiskan malam ini dengan orang lain dengan melihat 2 helm yang bersangkut di motorku? Aaahh,,, Afkar mendesah.


Mungkin lain waktu aku perlu juga tidak terlalu patuh dengan tata tertib, tidak apa tidak memakai helm di malam khusus begini, agar Alya tidak memikirkan yang tidak-tidak tentangku.


Tunggu, mana mungkin dia memikirkanku, dia saja dijemput kekasihnya, mana mungkin dia memikirkanku. Sambil melajukan motornya menuju pulang, Afkar terus saja melamun, aku benar-benar tidak tau diri, tidak mengukur siapa diriku, bukannya saat pertama bertemu Alya aku sudah disuruhnya ngaca. Benar Al, sepertinya aku harus mengganti kaca di kamarku dengan kaca yang lebih besar, sehingga aku bisa melihat lebih besar, lebih banyak, lebih dekat, lebih kurang, sebagai siapa aku!!!

__ADS_1


__ADS_2