Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Penundaan Lagi


__ADS_3

Sejenak napas yang kuhirup serasa berat, membawa beban berton-ton untuk bisa melewati paru-paru penantian.


Dibawah salah satu sisi langit,


Aku terduduk diantara cahaya bulan dan kerlipan bintang.


Berharap suatu keajaiban kan datang padaku,


Menujumu bidadariku.


Diantara daun yang menari bersama mesra tiupan angin


Dan jangkrik penyanyi walau tanpa alunan gitarmu


Aku masih menatap langit dengan penuh harap,


Aku ingin menyatu dengan malam,


Mengizinkan dingin menusuk hingga ke tulang, karena tanpamu semua derita sangat mudahnya mengacak dan menghimpun kesedihanku, bisakah kuredam jerit hati hingga tak membuat bulir air mata ini luruh bersamanya,


Hingga ragaku melemah, kembali lelah,


Terjatuh, tersungkur, dan tertidur di tengah kekuatan yang sudah habis daya?.


Sebuah sentuhan lembut di pundak mengagetkannya, Afkar menoleh


" Ibu,,,"


Ibu duduk di samping Afkar


" Mau tambah minumannya Afkar?"


" Sudah kenyang bu"


" Bagaimana rencanamu selanjutnya?"


Afkar terdiam


" Ibu mengerti perasaanmu nak, kamu masih mencintainya, dan akan sulit untukmu jika ini tidak diteruskan"


" Iya bu, saya sudah mencintainya enam tahun yang lalu, sudah banyak yang kami lalui walaupun tidak bersama raga. Tapi kami saling mencintai"


" Iya, tapi kata Mia itu ada benarnya nak, dia datang lagi setelah tau keadaanmu sekarang"


Afkar menggeleng


" Alya tidak tau bu, dan Alya bukan wanita seperti itu, kemarin saya tanya jika keadaan saya akan kembali dari nol apa dia masih mau mendampingi saya, dia menjawab bersedia"


" Tentu saja dia menjawab bersedia karena keadaannya kamu sekarang tidak di titik nol"


Afkar menghela napas panjang


" Ibu mau saya bagaimana?"


" Ibu tidak memintamu untuk meninggalkannya dan mencari penggantinya, hati tidak bisa dipaksa Afkar, tidak akan baik"


Afkar mengangguk.


" Ibu hanya minta kamu pikirkan lagi"


Afkar menatap daun jambu yang jatuh dari pohon di halaman rumah, melayang-layang sebentar dipermainkan angin, kenapa angin berbuat sesukanya? jatuhkan saja daunnya ke tanah, biarkan dia lebih nyaman walau tempatnya lebih rendah dan terinjak, tapi tidak dengan keadaan permainan.


Andai aku mampu memanggil angin


Merayu datang untuk berhembus di tubuhku dan menerbangkan menemui kekasihku.


Agar mimpi yang jatuh bisa kembali hidup seperti semula, walaupun menjadi kering namun akan damai di sisi dahan pujaan.


" Bu, saya sangat mencintai Alya, ibu tau itu Tapi jika tidak ada restu saya ikhlas melepaskannya. Mungkin memang saya belum baik untuk dia"


" Kenapa kamu selalu membuat dirimu rendah Afkar?"


" Dulu saya datang padanya dengan segala kekurangan saya, dia menerimanya bu, tapi dia tidak bisa menolak kehendak orang tua nya. Lalu saya yang mundur karena memahami tidak akan kuat untuk saya bertahan dengan keadaan yang terlalu jauh itu. Kemudian mereka juga berpisah dan itu karena saya, saat kami saling menemukan lagi, dan saya berjanji akan menjadi pendampingnya, saya kembali harus meminta kami berpisah. Entah apalagi setelahnya yang akan menjadi alasan kami untuk belum juga menjadi takdir"


Hening,,,


" Bu, jika saya tetap akan maju melamar Alya apakah ibu merestui saya?"


Ibu tersenyum


" Ibu percaya padamu Afkar, kamu akan bisa memikirkan mana yang baik dan mana yang menyakitimu".


Afkar tertunduk, ibu belum merestuiku.


" Ibu masuk dulu Afkar, di sini dingin, sudah hampir jam sepuluh malam, kamu sudah lama duduk di sini, tidak baik"


" Iya, sebentar lagi saya masuk, ibu duluan saja"


Ibu perlahan berdiri dan kaki kecilnya melangkah masuk ke dalam rumah. Sesekali terdengar tawa Nanda yang sedang menonton acara televisi, Afkar menoleh ke dalam rumah. Kenapa rumah ini tidak bersahabat di kepulanganku hari ini? aku ingin cepat pulang saja, aku sangat terluka sekarang di sini, tapi kemana? ke Banjarmasin? ke Yogyakarta?.


Wajah cantik dengan tawa ringan menghiasi layar ponsel Afkar


" Alya sudah cantik belum ka?"


" Hhmm, mau jawaban jujur atau bohong?"


" Pasti mau bilang Alya jelek, tapi takut kan?"


" Ya udah bohong aja deh ya, sayang cantik"


Alya cemberut


" Jujur saja deh, walaupun menyakitkan"


" Oke aku jujur, bidadariku itu tidak cantik, tapi cantiiiiiikk sekali"


" Hahahhaa, senangnya punya kekasih suka gombal"


" Memang Sayang itu orang paling beruntung mendapatkanku"


" Ciyeee, ya udah Alya sepakat saja deh"


Afkar memandangi Alya dengan lembut

__ADS_1


" Ka, bagaimana tanggapan keluarga kakak soal rencana kakak mau datang ke Yogya?"


Afkar tersenyum, Alya dapat melihat wajah Afkar yang berubah


"Kaa, jangan katakan kalau ketakutan Alya tadi malam benar"


" Sayang takut apa memangnya?"


" Keluarga kakak masih marah sama Alya dan belum merestui ini"


Afkar menggeleng


" Buang jauh pikiran itu sayang"


" Tapi wajah ka Afkar tidak menunjukan baik-baik saja"


" Tidak ada apa-apa"


" Kaa, apa mereka tidak merestui ini? apakah sama dengan yang alami rasakan dulu? saat kita tidak direstui orang tua Alya?"


Afkar terdiam.


" Kaa, jawab Alya"


" Sayaang, aku sedang berusaha, aku minta doakan ya"


Alya mengangguk sedih


" Iya ka"


" Sayang sudah mau berangkat kerja?"


" Iya ka"


" Hati-hati ya, semoga semua pekerjaannya lancar, selalu dilindungi, dan dimudahkan urusannnya"


Alya tersenyum


" Ka, sudah dua tahun Alya tidak pernah lagi di do'akan begini, Alya kangen"


" Siapa bilang tidak di doakan, setiap pagi sebelum aku kerja dan sebelum tidur sayang selalu kudoakan, cuma tidak sampai saja ke telingamu"


" Betul Ka?"


" Iya, tidak percaya?"


Alya tersenyum


" Kenapa ka Afkar selalu baik sama Alya sih?"


" Kenapa aku harus tidak baik padamu? aku tidak bisa menjagamu,,,"


" Ssst, Alya yang terusin. Aku tidak bisa menjagamu saat dekat maupun jauh, biar doa yang akan menjagamu"


Afkar tertawa


" Masih ingat juga?"


" Jadi aku tidak boleh lagi ganti shampo nih? kalau perusahaan nya tutup gimana?"


" Bikin perusahaan sampo sendiri, yang wanginya sama"


" Nanti kita atur setelah menikah, kerja dulu sayang, nanti telat"


" Kalau telat Alya tidak kena marah kok, bos Alya bukan singa"


" Alyaaa"


" Hahahha, ya udah Alya berangkat ya ka"


" Iya sayangku"


" Assalamualaikum ka"


" Waalaikum salam bidadari"


" Dah ka Afkar"


" Emuuah".


Klik.


Tayangan televisi full HD berlayar 40 inch yang sekarang sedang menayangkan berita ringan sama sekali tidak dapat dinikmati Afkar. Pikiran tentang rencana pernikahan yang belum juga bisa dipastikan apakah masih bisa berlanjut. Terbayang lagi peristiwa tadi pagi saat sarapan.


" Afkar, kak Mia bukannya tidak menyetujuimu dengan Alya, tapi kamu kan sekarang sudah jauh memperbaiki dirimu, kamu pasti banyak punya pilihan lain, buktikan pada Alya dan keluarganya kalau kamu justru sangat lebih baik tanpa mereka. Kamu masih muda, tampan, mempunyai pekerjaan bagus, anak angkat orang ternama, akan banyak yang menyukaimu, ka Mia juga tidak percaya kalau di Banjarmasin kamu tidak pernah tertarik dengan seorang wanita, karyawanmu, kerabat teman-temanmu, atau bahkan Puteri pak Wijaya yang cantik itu"


" Saya sudah menutup hati saya kak"


" Jangan membuatmu tidak berharga begitu di depan Alya dan keluarganya Afkar. Seenaknya saja mereka meremehkanmu dulu, dan sekarang setelah kamu sukses mereka mau mengambilmu lagi"


" Ka Mia jujur, kemarin saya sudah bicara dengan orang tuanya dan meminta izin untuk melamar Alya, sepatah kata pun mereka tidak menanyakan apa pekerjaan saya sekarang, mereka langsung menyetujuinya ka".


" Jelas saja mereka tidak bertanya, mereka memang sudah mengawasimu selama ini, mereka sudah tau siapa kamu Afkar"


" Tidak ka, bahkan saat mamanya melihat saya di panggilan video beliau mengatakan saya mirip seseorang yang sedang ditunggu puterinya, tidak ada yang sandiwara ka, mereka sudah menerima saya tanpa menanyakan lagi siapa saya"


" Afkar, bagaimana cara menjelaskan padamu lagi, ini bukan hal kebetulan, ini semua sudah di atur"


Afkar menggeleng


" Ka Mia mau saya kirimkan rekaman cctv saat kami pertama bertemu di kantor saya? saya akan minta sekretaris saya untuk mengirimkannya sekarang juga kalau ini memang bukan drama, kami sama-sama kaget ka"


" Kakak tidak perlu melihatnya, yang perlu itu kamu bisa membuka matamu untuk melihat bahwa kamu ini sedang dipermainkan lagi"


" Kak Mia boleh menyebut saya apa saja, tapi jangan menghinanya dan keluarganya"


" Kamu benar-benar dibutakan Afkar"


" Baik, mungkin memang saya dibutakan karena cinta sejati ini, tapi kami masih bisa melihat kalau diantara kami masih bertahan dengan perasaan yang sama"


" Terserah, mungkin ibu yang nanti akan membukakan matamu, kakak berangkat dulu, kunci mobil di meja samping televisi, kakak naik motor saja"


Sepiring pisang goreng hangat dan segelas teh tiba-tiba sudah ada di depannya, Afkar kaget dan duduk dengan posisi yang tegak

__ADS_1


" Ibu,,"


" Kamu melamun lagi Afkar?"


" Tidak, saya sedang menonton televisi"


Ibu menoleh ke layar televisi, sejak kapan kamu suka menonton iklan?


" Afkar, sampai kapan kamu di Jakarta? bagaimana kantormu kalau kamu tinggal tanpa kejelasan kepulanganmu begini?"


Afkar meraih gelas berisi teh dan meneguknya sampai setengah gelas


" Afkar, minumaannya masih panas"


Ibu kaget melihat Afkar yang langsung meneguk tanpa meraba terlebih dahulu.


Afkar juga kaget, pantas saja panasnya menyakiti dadaku, kenapa aku bisa meneguk minuman sepanas ini tadi? akal dan perasaanku sedang diuji, rasa panas saja tidak lagi bisa kurasakan saat ini.


" Saya belum tau bu, rencana saya kemarin akan balik ke Banjarmasin setelah ibu dan kak Mia melamar Alya ke Jogya, perhitungan saya semua akan beres dalam waktu tiga hari, karena saya hanya cuti selama tiga hari. Memang tidak akan ada yang berani meminta saya ke kantor selama berapa haripun, tapi sejak seminggu tadi saya sudah jarang masuk kantor dengan full time, saya banyak urusan di luar pekerjaan"


Tiiit,


Panggilan telefon, Arga.


" Ibu ke dalam dulu"


" Iya bu"


Afkar menekan tombol hijau


" Assalamualaikum Arga"


" Waalaikum salam, lo di Jakarta?"


" Iya, kemarin sore sampai".


" Oh, Alya kemarin cerita katanya mau lamaran?"


" Eemm, iya"


" Kapan? biar gue pesan tiket ke Yogya, kami juga sudah lama tidak ngumpul, apalagi setelah ini Alya akan lo bawa pergi kan? hehehe"


Hening


" Afkar, lo masih di situ?"


" Iya, maaf"


" Kapan?"


Afkar menghela napas


" Aku belum tau, sepertinya tidak dalam waktu dekat".


" Apa maksudnya? Alya bilang satu atau dua hari ini, makanya dia balik ke Yogya dan lo jemput orang tua untuk melamar dia"


" Masalahnya di situ Ga, aku belum mendapat restu"


" Hah? lo tidak disetujui balikan sama Alya?".


" Seperti itu Ga"


Hening


" Lo gimana? tidak menjelaskan kalau lo serius?"


" Sudah, dan aku masih akan terus berusaha"


" Afkar, gue tidak terlalu yakin, dari dulu lo bilang usaha usaha, tapi lo tidak nekat"


" Ga, ini masalah orang tua, aku tidak bisa nekat, tanpa restu bagaimana aku bisa maju?"


" Itu lah yang terjadi pada Alya dulu"


" Iya, akhirnya terjadi juga padaku"


Hening,


" Afkar, sepertinya lo harus segera bertindak"


" Apa maksud mu?"


" Tadi malam kami chating di group WhatsApp, Alya cerita Kevin akan pulang ke Indonesia, Alya sudah nmengabarinya kalau Alya sudah di yogya"


" Kevin?"


" Iya, lo paham maksud gue? lo telat, Kevin sudah siap"


" Arga jangan membuatku hilang kendali"


" Terserah, tapi kalau lo tetap lamban, entahlah, mungkin saja beberapa hari lagi Alya akan ke Hongkong membawa perasaannya yang masih juga lo permainkan"


" Arga, tolong aku"


" Apa yang bisa gue tolong katakan saja, selagi gue masih di pihak lo"


" Apa yang bisa kamu bantu?"


" Lho, lo kan yang harusnya menjawab itu"


" Arga, aku pusing, aku akan menghubungimu lagi, aku perlu berpikir"


" Iya, ponsel tetap ku aktifkan, tidak seperti kemarin Alya hilang dan setelah menemukan lo menonaktifkan ponsel lo seharian"


Afkar memijat kepalanya, jangan bercanda di saat aku hampir tidak bisa bernapas begini.


" Iya, terima kasih, Assalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Klik.


Arga meletakan ponselnya di samping sambil menunggu sikap apa yang akan di ambil Afkar. Maaf Afkar aku tidak menjelaskan untuk apa kedatangan Kevin, dia datang untuk memperkenalkan kekasihnya pada orang tuanya, bukan untuk mengambil Alya lagi. Biarlah, kalau kujelaskan kamu akan diam lagi dan diam lagi, aku tidak suka sahabatku yang mencintaimu kamu perlakukan begitu, Alya harus bahagia bagaimanpun caranya.

__ADS_1


__ADS_2