
Ditemani seorang driver yang sudah ditunjuk perusahaan, sejak kedatangannya ke Banjarmasin tadi pagi, Alya langsung minta pak Amang yang bertugas menemaninya hari itu untuk menghapal jalan dari guest house menuju perusahaan yang akan sering ia datangi mulai besok. Turun dari bandara International Syamsuddin Noor yang ada di Jalan Angkasa Landasan Ulin Utara Banjarbaru, Alya tidak langsung diatar ke guest house karena kata pak Amang akan membuang waktu karena berputar. Jadi beliau membawa Alya ke perusahaan yang besok akan dikunjunginya.
" Ini namanya Martapura bu, disini banyak dijual cinderamata buat oleh-oleh"
" Iya, kemarin saya sempat searching pak, katanya batu-batuan dan permata ya pak?"
" Iya bu, nanti kalau ibu ada waktu datang mampir saja bu, para turis dan pelancong dalam negeri pasti mampir kesini buat oleh-oleh, namanya Pertokoan Bumi Cahaya Selamat"
" Waah, kedengarannya seru, boleh deh nanti saya akan kesana".
Mobil menepi kesisi jalan tapi tidak berhenti karena memang tidak boleh
" Ini bu kantornya, pagarnya berkunci, kita tidak bisa masuk, dan saya juga tidak bisa berhenti, ada larangannya"
Alya menajamkan penglihatannya
Gedung lantai tiga dengan halaman luas bercat putih.
" Tidak apa pak, saya sudah merekamnya, heheh".
" Nah, biar ibu gampang mengingatnya saya putar balik tapi starnya dari depan pasar Martapura ya bu"
" Boleh"
Alya melirik
" Pak, ada bakso. Kita mampir"
Pak Amang menepi dan memasukan mobil ke halaman parkir yang luas.
" Ini namanya Bakso Batuah bu, memang ini adalah tempat makan favorit, ternyata ibu jeli juga ya, hehee"
" Kalau sama bakso, mata saya tidak kuasa untuk melewatkan nya pak, hhehehe".
Alya turun dari mobil, sebelum melangkah dia malah bengong dengan satu toko di samping warung bakso
" Pak, sasirangan itu beda ya sama batik?"
" Iya bu, sasirangan adalah kain tradisional yang dibuat di Kalimantan Selatan, berasal dari kata Bahasa Banjar, yaitu sirang yang berarti menjelujur, motifnya banyak bu, dan biasanya akan dipakai seragam baik kantor, atau keluarga, bisa juga teman dan pasangan"
Alya mengangguk
" Nanti saya mau beli buat sahabat-sahabat saya, biar kami seragam gitu pak"
" Ini cuma kain bu, belum di jahit, jadi ibu nanti jahit sendiri dan bisa membuat desain sendiri yang ibu mau"
" Ooh yang dipakai patung itu belum jadi pakaian pak?"
" Belum bu, itu cuma dililitkan"
" Waah hebat ya orang Banjarmasin, saya pikir sudah jadi, mata saya tertipu di hari pertama, hahaha".
Puas menikmati bakso batuah, yang sebelumnya sudah di potret dan dikirim pada sahabatnya, Alya meminta pak Amang untuk memulai penghapalan rute.
Menempuh waktu selama 1 jam Alya benar-benar konsentrasi.
" Bu, karena rute kita ini rute balik, mungkin besok pagi ibu saya jemput dulu dari penginapan ke Martpaura, pulangnya baru ibu bawa mobil ini sendiri"
Alya mengangguk
" Boleh pak"
" Saya akan jemput jam berapa bu?"
Alya terdiam, uuh kenapa aku tidak meminta nomor yang bisa dihubungi sih.
" Jam delapan boleh pak"
" Baik, saya akan jemput jam delapan pagi. Ibu silakan berisitirahat dulu, kalau mau pesan makanan disini sudah banyak grab food nya bu, ibu bisa memesan langsung. Ini kunci mobilnya bu, mungkin nanti sore ibu mau menghapal jalan dengan menggunakan google map"
Alya menerima kunci mobil yang diserahkan pak Amang
" Terima kasih pak, sepertinya saya mau istirahat saja, supaya besok tidak kelelahan"
" Baik bu, saya permisi. Selamat beristirahat"
Alya mengangguk
" Ramahnya masyarakat Banjamasin, sepertinya aku akan betah disini"
Ruangan berukuran 4 x 5 meter, dilengkapi dengan TV Led 22 inch, satu bed berukuran 160 x 200. Mempunyai kamar Mandi 2 x 2 meter. Closet duduk dan Blower, shower air panas dan dingin. Membuka jendela dari kamarnya yang berada dilantai dua. Menghadap jalan besar tapi bukan jalan utama Ahmad Yani, melainkan seperti jalan tembus tapi lumayan ramai. Beberapa toko berjejer di sana, heey, ada warung makan juga, aku akan kesana nanti siang. Sebenarnya ini sudah siang, tapi karena tadi perutnya sudah diisi bakso dan masih kenyang, jadi diputus kannya untuk shalat Zuhur dulu dan beristirahat sambil menyalakan televisi.
Karena kelelahan tidak menyadari sejak jam setengah dua siang sampai mendengar suara adzan ashar Alya kaget dan terbangun
Astaga, sudah berapa lama aku tertidur? Shalat dulu, aku sudah lapar, sebentar mengintip dari jendela, sepertinya banyak warung makanan di sana.
Senin pagi.
Alya merapikan penampilannya di depan meja rias. Hari ini Alya merasa sangat percaya diri menggunakan pakaian yang BP-Guide Derek Zip-Waist Blazer. Pakaian ini adalah jenis blazer yang keren, dan didesain unik dengan resleting di bagian lengan. Dibuat dari bahan campuran rayon, poliester dan spandex berkualitas tinggi. Sedangkan bagian liningnya strecth twill dan poliester. Di balut dalam warna putih untuk menampilan tampilan yang lebih elegan.
Untuk celana Alya menggunakan sepotong celana bahan berwarna khaki, berbahan katun, yang didesain skinny fit dan slim, ditambah aksen belt loops dan zipper closure. Dan sebagai pelengkap Alya memasangkan sepatu berhak 7 cm dengan warna soft.
Rambut lurusnya dibiarkan tergerai namun diberi sedikit gelombang pada bagian ujung bawah agar lebih terkesan dewasa. Sedangkan wajah imutnya masih saja tanpa polesan, hanya bedak dan lipstik tipis.
Mendengar ponsel berdering dari sisi tempat tidur membuat tangan kanannya menjangkau benda kecil berwarna putih itu.
__ADS_1
" Assalamualaikum pak Amang"
" Saya sudah di parkiran bu Alya"
" Iya, saya segera turun"
Klik.
Alya mengunci pintu kamar dan perlahan menuruni tangga, sudah mulai sepi, pasti karyawan yang menginap di sini sudah berangkat kerja tadi pagi. Ini kan sudah pukul delapan. Alya sengaja tidak sepagian berangkat karena dia mendengar bocoran kalau manager yang akan ditemui ini biasanya tidak menerima tamu di jam terlalu pagi. Katanya beliau senang berkeliling dulu untuk mengecek kehadiran karyawan langsung, kenapa tidak melakukan briefing pagi saja, kan semua karyawan akan kumpul, ngapain harus keliling-keliling pikir Alya.
Nama pemilik perusahaan tambang ini adalah Pak Wijaya, beliau memiliki nama besar untuk bidang pertambangan di kota ini.
Menikmati perjalanan sambil menghapal nama-nama jalan Alya sesekali memotret gedung-gedung yang di laluinya.
" Pak, katanya ini kota seribu sungai, mana sungainya?"
" Ooh, kita ini menuju kota Martapura bu, kalau ibu mau melihat sungai kita putar arah ke Banjarmasin"
" Begitu? nanti deh saya mau liat-liat"
Selama 45 menit perjalanan akhirnya mereka sampai.
" Bu, di dalam ada ibu Vera, beliau adalah staff dari kantor cabang yang akan menemani ibu nanti di dalam"
" Oh baiklah"
" Ini kunci mobil, saya harus kembali ke kantor cabang karena saya bertugas sebagai supir perusahaan bu, pagi ini Pak Raka meminta saya mengantar beliau ke luar kota"
" Bapak kesana naik apa?"
" Saya naik taksi saja bu, tidak terlalu jauh dari sini"
" Terima kasih ya pak, kalau saya minta tolong nanti boleh saya hubungi bapak?"
" Tentu saja bu, memang itu tugas saya, baik saya permisi bu, semoga lancar pekerjaannya"
" Sama-sama pak, sampaikan salam saya pada pak Raka, nanti saya akan kesana"
" Iya bu"
Pak amang membungkukan tubuh dan berlalu dari pandangan Alya.
Tugas pertamaku di kota ini, semoga semua berjalan dengan lancar, Bismillah.
Alya berjalan menuju tangga yang berjumlah lima anak agar ia bisa mencapai pintu utama. Seorang satpam pria dengan santun dan membungkuk pada Alya
" Selamat pagi ibu, ada yang bisa saya bantu"
Alya tersenyum
" Sudah ada janji bu?"
" Belum, tapi saya kesini ditemani teman saya bu Vera, apakah beliau sudah datang? sepertinya beliau sudah membuat janji dengan beliau"
" Ooh ibu Vera, beliau sudah datang dan sedang berada di ruang tamu, silakan saya antar bu"
Satpam muda ramah mempersilakan Alya berjalan. Alya mengikuti langkah satpam dari belakang.
Sebuah ruangan besar dengan desain elegan dan hiasan-hiasan cantik serta sofa besar dengan nuansa putih langsung menyambutnya. Sudah ada seorang wanita berusia 35 tahunan duduk sambil memainkan ponselnya. Begitu melihat Alya wanita itu berdiri.
" Nona Alya?"
" Iya bu"
Bu Vera mengulurkan tangannya dan Alya segera menyambutnya
" Mohon maaf nona kami tidak langsung menyambut nona"
" Tidak apa bu, memang kemarin hari libur kan? saya juga tidak kemana-mana, kemarin istirahat saja"
Satpam yang tadi mengantarnya mengundurkan diri
" Permisi bu, saya ke depan dulu"
" Silakan pak terima kasih".
Selayaknya teman lama tidak bertemu, bu Vera dan Alya semakin akrab terlibat dalam obrolan. Maklum saja pekerjaan mereka membuat mereka terbiasa bersikap ramah, cepat akrab dan banyak bicara.
" Nona Alya, kali ini kita akan bekerja sama, semoga kita bisa memberikan yang terbaik buat perusahaan"
" Iya bu, apalagi saya sudah terbang sejauh ini, pastinya akan melakukan sebisa yang saya mampu"
" Saya dengar, pak Wjaya akan menyerahkannya perusahaan ini kepada anak angkat beliau yang sekarang menjabat sebagai manager yang akan kita temui hari ini"
" Anak angkat?"
" Iya, anak beliau sudah mengurus perusahaan beliau di kabupaten Tabalong, sedang puteri beliau masih berstatus sebagai mahasiswi kedokteran"
" Ooh"
" Dan sedikit bocoran, katanya manajer ini sangat disiplin, kata karyawannya yang memang adalah teman lama saya, beliau sangat teliti di dalam bekerja, jika menurutnya salah, beliau tidak segan untuk meminta semua mengulang seperti yang beliau inginkan. Masih muda, tampan tapi keras, mungkin itu yang membuat beliau belum mempunyai pasangan, hehe"
" Usia beliau berapa bu?"
Katanya sudah 27 tahun, tapi belum ada yang pernah dekat dengan beliau, siapa yang berani dengan beliau yang keras kecuali putri pak Wijaya, dengar gosipnya sih mereka dijodohin pak Wijaya"
__ADS_1
Alya tertawa, jadi banget sih ngegosipin bos para karyawan ini.
" Saya jadi penasaran, semoga dengan kita nanti tidak bermasalah ya bu"
" Aamiin"
" Oh iya siapa nama beliau bu, saya hanya diceritakan tentang pak Wijaya".
Seorang wanita muda dengan memakai dress selutut dan bagian dadanya dihiasi pita berwarna biru muda mendekati mereka.
" Maaf, ibu bisa naik ke lantai dua, sebentar lagi bapak akan selesai meeting dan bisa menemui ibu-ibu"
Sementara disisi pojok sofa sudah ada lagi dua orang lelaki muda dengan pakaian rapi memakai jas hitam sedang berbincang, mereka juga sedang menunggu antrian untuk bisa bertemu dengan manager.
Ibu Vera dan Alya menaiki tangga yang memiliki bentuk tangga putar yang lembut dengan rangka baja zigzag yang kuat menampilkan veneer kaca internal yang merupakan kombinasi menarik dari ruang. Model ini terkesan mempunyai desain interior modern.
Begitu memasuki lantai dua mata kembali dimanjakan dengan ruangan besar, tetap dengan interior lux dan mewah, mungkin sedikit berlebihan untuk sebuah kantor pertambangan, dibagian sisi pojok kanan terdapat beberapa jejeran meja dan kursi karyawan yang berkerja tanpa sekat kecuali monitor besar yang bisa melindungi sedikit dari wajah mereka. Alya sedikit bingung, ketika mereka kembali dipersilakan duduk menunggu pak manajer keluar dari ruang meetingnya Alya berbisik.
" Bu Vera, kenapa mereka tidak menggunakan ruangan, justru ditempatkan terbuka begini?"
" Ini desain yang diinginkan pak manajer, beliau selalu ingin memantau langsung kegiatan karyawannya, dan alasan utamanya agar tidak ada yang berlaku tidak menyenangkan jika mereka diberikan ruangan-ruangan"
" Bukannya bisa dipasangi CCTV?"
" Itulah satu lagi perbedaan beliau dari yang lain, dan tentunya tantangan ini diberikan kepada kita pasti bukan tanpa alasan kan?"
Alya mengangguk mulai memahami satu persatu. Pantas saja, tidak ada yang menceritakan tentang sifat orang yang akan mereka hadapi ini, Alya hanya diceritakan tentang Pak Wijaya yang berusia 60 tahun, orangnya tegas namun baik hati dan penderma. Mungkin kalau dari kemarin diceritakan watak manager ini Alya akan berpikir ulang untuk menerima proyek ini.
Seorang lelaki muda keluar dari satu ruangan, duduk di bagian pojok sofa yang mereka duduki, seorang lelaki lain mendekatinya
" Kenapa lagi bos kita?"
" Sungsung bemamai sudah, pusing aku, salah tarus, mun kada dikawin akan jua sidin tu kalo mau ampih penyarikan"
Alya berbisik pada bu Vera
" Bu, dia ngomong apa?"
Bu Vera mendekatkan bibirnya ke telinga Alya
" Katanya pagi-pagi sudah mengomel, harusnya dikawinkan saja beliau biar tidak pemarah lagi"
Alya memandang bu Vera. Singa apa yang akan kita hadapi kali ini, sampai karyawannya saja sepagi ini sudah sangat terlihat suntuk.
" Memangnya ada yang tahan pacaran sama beliau, tampan tapi sangar, hehehehe"
Terdengar lagi obrolan mereka walau tidak terlalu jelas.
Ruang besar terbuka, beberapa karyawan terlihat keluar, mungkin meeting sudah berakhir. Alya merasa sedikit gugup setelah mendengar cerita bu Vera dan obrolan dua karyawan yang duduk sedikit jauh dari mereka. Dia hanya menundukan kepalanya, tidak berani menatap beberapa karyawan yang mulai melewati mereka, kalau nanti manajer itu memanggil mereka pasti akan ada perintah untuk menemuinya, kalau sekarang sok liat-liat, bagaimana jika juga dianggap salah, hiii.
" Bang Jali, jemput Aprill jam 11 nanti siang, dia mau ke perpustakaan untuk tugas kuliahnya. Bapak ikut masuk ke ruangan, jangan meninggalkannya. Setelah itu pulang, kalau dia menolak segera hubungi saya"
Klik.
Alya mendengar satu suara di dekatnya, sedikit mengangkat kepalanya, seorang pria yang berdiri membelakanginya sedang melakukan panggilan telefon. Kenapa Alya berani mengangkat kepalanya? karena ia seperti mengenal suara itu. Pria dengan tubuh tinggi dan tidak terlalu kurus. Memakai jas berwarna hitam dengan celana berwarna serupa.
Pria itu berjalan mendekati satu meja, terlihat berbicara dengan sekretarisnya, kemudian menoleh kearah Alya dan bu Vera. Dalam hitungan satu detik, Alya langsung gemetar, tangannya meremas sofa yang entah bisa atau tidak memberikannya kekuatan. Matanya terbelalak dan mulut sedikit terbuka.
Sedang reaksi fisik langsung terjadi pada Alya, detak jantung yang meningkat tidak terkontrol, berkeringat, merasakan kram perut dan sesak di dada.
Pria itupun tak kalah menunjukan reaksi keterkejutan yang sangat. Tangannya mendadak dingin, ponsel yang masih dalam genggamnya seperti akan terlepas karena hilangnya kekuatan pada otot bahkan kali ini otaknya. Pria itu berpaling dan kembali berbicara dengan wanita di balik meja itu
" Siapa mereka"
" Mereka ini tamu dari perusaahan Jaya Dirgantara, yang satu dari kantor cabang dan satunya dari kantor pusat di Yogyakarta"
" Kenapa saya tidak diberitahukan sebelumnya?"
" Maaf pak, bapak sudah menyetujui tiga hari yang lalu, dan tadi pagi bapak bahkan mengatakan pada saya setelah meeting mereka bisa menghadap bapak"
" Kamu mau bilang saya yang lupa heh?"
" Tidak pak, maaf"
" Baik, suruh mereka tunggu, masih ada yang harus saya kerjakan di ruangan, mungkin sepuluh menit lagi"
" Baik pak"
Manager muda yang sudah sangat terlihat dari gaya bicara dan sikapnya memang keras dan pemarah itu berjalan cepat menuju satu ruangan.
Sekretarisnya yang tadi sempat kena marah bosnya mendekati Alya dan bu Vera.
" Mohon maaf ibu Vera, ibu Alya, ditunggu sepuluh menit lagi, bapak Afkar Rahadian sedang menyelesaikan tugasnya di ruangan, mohon ditunggu ya bu"
Bu Vera mengangguk
" Terima kasih mbak"
Sedang Alya kembali tertunduk, memainkan jarinya.
" Kita tunggu ya nona Alya, katanya beliau minta waktu sepuluh menit lagi"
" Iya bu"
Alya menjawab lirih
__ADS_1
" Akhirnya kita bertemu dan akan berhadapan juga dengan bos seperti itu ya nona Alya, pa Afkar namanya, Afkar Rahadian".