
Dua gelas kopi tubruk hitam dengan kepulan asap terseduh di dalam gelas kaca kecil, beralas piring kecil dengan motif dan warna yang sama. Satu sendok kecil berbahan stainless sebagai alat pengaduk diletakan di samping gelas.
" Mbak suka kopi juga?"
" Iya, tapi sekarang sudah jarang, tidak punya teman lagi, biasanya sama teman-teman kuliah, setelah kerja kami berpisah"
" Memangnya pacar mbak tidak menemani?"
" Pacarku jauh, hehehe"
Darel tersenyum dan mengaduk kopi di gelasnya
" Minum mbak"
" Iya, terima kasih. Darel boleh tanya? apa arti lukisanmu tadi? biasanya kan yang berada dalam sangkar itu burung? atau,,, ada ayam deh di dalam kandang, kok kupu-kupu sih? bukannya kupu-kupu itu tebang bebas?"
Darel meminum kopi dengan menggunakan sendok karena masih panas, kepulan uap panasnya saja masih mengenai wajah Alya.
" Kiasan saja mbak"
" Kamu ingin bercerita di dalam lukisanmu"
Darel mengangguk
" Aku boleh dengar ceritanya?"
Darel memandang Alya
" Mbak tidak keberatan mendengarkan cerita saya?"
" Tidak sama sekali, aku penasaran"
Darel menghembuskan napasnya dan mulai bercerita
" Dua tahun yang lalu saya bertemu seorang gadis cantik, berkulit putih, bermata bulat dengan hidung mancung, tubuhnya tidak terlalu tinggi, mungkin sama dengan mbak, emmm"
" Kenapa Darel?" Alya mengernyitkan alisnya
" Maaf mbak, sejak melihat mbak kemarin di pinggir jalan saya kaget, mbak mirip sekali dengan dia, mungkin seusia nya sekarang adalah kembaran mbak waktu muda dulu, saya tidak bilang mbak sudah tua, maaf mbak, tapi kekasih saya itu memang masih muda sekarang"
Alya tertawa
" Aku memang sudah lumayan tua, sudah hampir 25 tahun?"
" Kemarin saat mbak memakai baju kerja memang terlihat usia mbak segitu, tapi malam ini mbak terlihat masih 20 an, hehehe"
" Bisa saja kamu Darel, teruskan ceritanya"
" Kami kemudian menjalin hubungan lebih dekat, lebih dari sekedar pertemanan, dia sangat lucu, konyol, dan selalu membuat sekitarnya tertawa. Dia anak yang asik mbak, diajak ngomong apa saja langsung menyambung. Selain cantik, keunikannya itu membuat saya jatuh cinta. Saya memberanikan diri mengungkapkannya, dan akhirnya diterima. Selama enam bulan hubungan kami berjalan baik, sangat manis, walaupun kami sangat jarang bisa jalan berdua karena dia selalu bersama supir pribadinya"
Alya mengangguk, mulai merasakan kopi di gelasnya sudah tidak lagi mengeluarkan uap panas, Alya mulai mengaduk dan meminumnya.
" Satu hari, sambil menunggu mata kuliah selanjutnya saya mengajaknya duduk di taman Van der pijl di Banjarbaru, katanya kalau pulang ke rumah tanggung, menunggu di kampus malas, jadi selama satu jam kami putuskan untuk duduk santai di taman. Tidak lama kami dikagetkan dengan kedatangan papahnya dan kakak angkatnya"
Alya semakin penasaran dengan cerita Darel.
" Lalu? kepergok begitu?"
" Iya mbak, papahnya marah sekali, saya hampir kena tampar, tapi kakaknya menahannya. Kekasih saya menangis meminta maaf pada papahnya, tapi seperti tidak diperdulikan, dan kakaknya itu kembali menolong saya dengan mengajak kekasih saya dan papahnya pulang untuk membicarakan di rumah saja"
Darel menunduk, mengingat lagi kejadian buruk hari itu.
" Saya tidak marah mbak, saya sedih, saya tidak bisa melihat kekasih saya dalam keadaan bersedih apalagi menangis, saya ingin mengusap air matanya dan berkata jangan bersedih, biar aku saja yang menanggung semuanya. Tapi tidak bisa, dia sudah dibawa pulang. Kakak angkatnya membisikan sesuatu pada saya, katanya jika saya memang mencintainya, saya harus menjaganya dengan cara saya. Sampai sekarang pesan itu masih saya jaga walaupun sepertinya tidak berguna"
" Kenapa tidak berguna?"
" Setelah itu kami backstreet mbak, kami saling mencintai. Dan saya baru tau mbak kalau dia adalah anak orang kaya, papahnya orang terpandang di kota ini, dari awal saya memang tidak mencari tahu siapa dia, saya hanya melihat dia dan menyukainya. Sedangkan saya hanya anak seorang wiraswasta"
" Heeyy, kenapa kamu begitu? kekasihmu tidak pernah mempermasalahkan itu kan? sekarang kamu sudah putus atau belum?
"Awalnya tidak mbak".
" Maksudnya?"
" Saya tidak tau apakah keadaan saya yang hanya seperti ini mempengaruhi hatinya atau tidak. Awalnya dia sangat baik, dan membalas cinta saya dengan manis. Tapi kemudian dia menjadi jarang membalas chat saya, dia bahkan membaca tapi tidak membalasnya. Dia hanya menjawab kalau kakaknya sangat over protektif menjaganya, mengawasinya, dia susah untuk bisa keluar bersama saya lagi, terkadang walaupun dia bersama supir pribadinya, dia masih bisa menyempatkan waktu menemui saya walaupun hanya beberapa menit untuk membayar rasa rindu kami. Kakaknya akan menghubunginya lewat panggilan video, sehingga dia tidak bisa lagi berbohong.
Saya sudah bilang kita jangan berbohong, mungkin dengan jujur kakaknya akan bisa menerima kita dan bisa membicarakan ini pada papahnya, tapi dia tidak mau, dia bilang biar dia saja yang menyelesaikan ini sendiri. Katanya dia mampu menghadapi papah dan kakaknya, dia terlalu sombong menganggap dia kuat mbak, ternyata tidak. Dia malah terlihat menyukai kakaknya dan tidak pernah melibatkan saya untuk maju dan memperbaiki hubungan kami, saya juga tidak tau apakah kami ini sudah putus atau masih saja, saya tidak akan pernah mengucapkan putus karena saya sangat mencintainya, dia juga tidak pernah mengucapkannya karena kadang jika saya mengirimkan lukisan padanya, tidak lama dia kemudian mengirimkan puisi untuk saya, mbak bisa tau apa artinya itu sebagai wanita?"
Alya menggeleng
" Mungkin juga dia belum menganggap hubungan kalian berakhir"
" Mungkin, saya tau dia masih mencintai saya, tapi saya terbatas dalam menjaganya mbak, bagaimana bisa saya bisa menjaga dan menemaninya kalau supir pribadi dan kakaknya selalu memantau dan mengawasinya sepanjang hari bahkan sepanjang malam"
" Malam?"
" Iya, kakaknya akan mengecek isi ponsel kekasih saya, bahkan isi dompetnya pun diatur oleh kakaknya, katanya itu permintaan papahnya yang tidak sempat untuk mengurusi hal kecil seperti itu Saya sempat berpikir, dia tidak melepaskan saya karena dia masih memerlukan saya sewaktu-waktu untuk mengisi sepinya, sementara dia juga mulai menyukai kakaknya yang bisa memberikan waktu perhatian dan materi padanya"
" Kamu kenapa tidak maju?"
" Saya sangat ingin mbak, tapi selalu di tahannya, katanya dia tidak tega jika saya harus berhadapan dengan papah dan kakaknya yang segalak singa itu"
Alya tersedak dan batuk
" Mbak, kenapa mbak?"
Alya diam dan kepalanya langsung pusing tiba-tiba.
Aku seperti sedang diceritakan tentang ceritaku sendiri, mirip bukan sama.
Tiit, panggilan telefon
" Assalamualaikum ka"
" Sayang sudah pulang?"
" Belum, masih jalan ka"
" Sudah malam sayang, jangan keluyuran lagi"
" Alya tidak keluyuran ka, Alya sedang minum kopi"
" Tutup dulu panggilan video"
__ADS_1
Klik
Tiiit
" Darel, bisa kamu menjauh sebentar, ini singa lagi panggilan video".
Darel mengangguk dan berjalan menuju teman-temannya
" Iya ka"
" Minum di mana sih sayang?"
Alya memutar arah kameranya
" Alya sambil melihat remaja melukis ka, gambar mereka bagus-bagus"
" Baiklah, berapa lama lagi akan pulang?"
" Eemm, setengah jam"
" Terlalu lama, ini sudah jam setengah sepuluh sayang"
" Ya udah, Alya habisin kopi dulu ya"
" Iya, nanti kalau sudah pulang telefon aku ya"
" Siyaaap bos, hehehe"
" Assalamualaikum".
" Waalaikum salam ka"
" Emuuah"
Alya melambaikan tangan.
Klik.
Alya menoleh ke arah Darel yang sedang berbincang dengan temannya
" Dareel"
Darel menoleh dan kembali mendekati Alya
" Pacarnya mbak?"
Alya mengangguk.
" Pacar mbak mirip kakaknya kekasih saya"
" Maksudnya?"
" Kakaknya itu kalau tidak puas dengan panggilan telefon akan melakukan panggilan video, katanya tidak percaya dengan jawaban kekasih saya"
Alya sudah tidak sabar, sebenarnya ini mirip atau memang sama sih dengan cerita nya bertahun dahulu dan terulang lagi sekarang yang sedang mereka hadapi.
" Darel, siapa nama kekasihmu?"
" Aprill ka"
" Mbak kenapa?"
" Aku pusing Darel"
" Oh, bagaimana mbak? mbak perlu obat atau apa, eeh, saya antar pulang? atau bagaimana? mbak lapar? kita makan dulu"
Darel kelihatan sangat panik, ada seorang gadis di depannya, mengajaknya ngobrol, dan kemudian pusing mendadak, apa yang harus kulakukan, dia ini wanita asing.
" Mbak,,"
Alya memijat kepalanya.
" Aku perlu bersandar, bisa temani aku ke dalam mobil?"
Darel mengangguk.
" Maaf mbak, bisa jalan sendiri atau saya pegangi?"
" Aku bisa jalan sendiri"
Tapi di setengah perjalanan Alya malah memegang tangan Darel karena kepalanya bertambah pusing. Darel mencoba menahan tubuh Alya agar tidak jatuh
" Mobilnya yang mana mbak?"
Alya menunjuk satu mobil diantara lima mobil yang ada di parkiran itu. Alya meraba tasnya dan menekan tombol pada remote, pintu terbuka. Alya duduk di bangku pengemudi, sementara Darel berjalan mengelilingi mobil dan membuka pintu disampingnya.
" Mbak? mau makan? saya pesankan ya?"
" Tidak, aku masih kenyang"
Darel duduk dengan pintu mobil yang dibiarkan saja terbuka.
" Darel,,"
Darel menoleh
" Iya mbak?"
" Temani saya sebentar, sepertinya urusan kita akan sangat banyak setelah ini, saya perlu beristirahat lima menit, jangan pergi, duduk saja di sini"
Darel mengangguk dengan bingung. Kamu siapa mbak? urusan kita? kita baru kenal setengah jam yang lalu, kamu menggangguku melukis, lalu memintaku bercerita, tiba-tiba pusing dan sekarang aku harus menemanimu di sini selama lima menit karena kamu ingin beristirahat. Alya menekan tombol on pada remote tape nya dan menyalakan musik instrumen, nada lembut akan menenangkannya.
Darel menunggu lima menit dengan perasaan yang sangat lama, memainkan ponsel tanpa tujuan apa yang akan dia cari, sebentar meliirik Alya yang memejamkan matanya, dia tidur ya? sebentar membuka matanya, oh tidak dia tidak tidur, syukurlah.
Benar lima menit, Alya tidak suka mengulur waktu.
" Darel, kamu masih mencintai Aprill?"
" Sangat mbak, saya sangat mencintainya, tidak perduli perlakuannya pada saya yang terlihat sangat konyol dan menjengkelkan itu, hehehe"
" Kalian belum putus?"
" Tidak pernah ada kata itu dari mulut kami berdua"
__ADS_1
Alya tersenyum dan mengangguk
" Darel, saya ingin membayar ongkos kemarin"
Darel tertawa keras dengan tidak sadar.
" Hahahaha, mbak ini lucu sekali, persis Aprill. Membuat saya panik hanya karena masalah sepele, sedangkan masalah besar baginya hanya masalah sepele, karena ongkos angkot? hahahah, saya sudah melupakan itu mbak, sudah lah, saya pikir mbak akan meminta saya melakukan hal berat, jujur tadi saya sangat panik mbak"
Alya ikut tertawa
" Berapa ongkosnya?"
" Lima ribu perak mbak, hehehe. Sudah lah mbak, saya benar-benar merasa lucu dengan ini"
" Saya tidak akan membayar dengan lima ribu perak, saya menawarkan kebahagianmu dan kebahagian saya"
Darel berhenti tertawa dan menatap Alya
" Maksudnya apa mbak?"
" Sepertinya kita sedang membicarakan singa yang sama"
" Singa?"
" Iya, saya kenal Aprill tadi siang"
Darel tersenyum
" Tadi siang? dimana? apa kabar dia mbak?"
Kali ini Alya melongo
" Dia masih kekasihmu kan Darel?"
Darel mengangguk
" Kenapa pertanyaan mbak terulang dan terulang lagi?"
" Kamu tidak tau dia dimana sekarang?"
" Jam segini dia masih menonton televisi bersama kakaknya, dan sebentar lagi kakanya akan menyuruhnya tidur, sesekali chat saya akan dibalasnya, tapi mungkin juga tidak"
" Darel, Aprill sekarang berada di rumah sakit, asam lambungnya naik"
Darel kaget
" Darimana mbak tau?"
" Aku kan sudah bilang aku bertemu Aprill tadi siang"
" Rumah sakit mana mbak? bagaimana keadaanya?"
" Dia di inpus, tapi dia baik-baik saja"
Darel menutup wajahnya dengan telapak tangan membuat Alya mengingat Afkar sesaat setelah tragedi di ruang kantornya.
"Kamu kenapa tidak memberiku kabar Aprill, apa aku sudah tidak penting lagi untuk tau hal besar begini? atau kakakmu itu sudah memenuhi isi kepalamu sehingga aku tidak perlu lagi ada?"
Alya memandang lelaki di sampingnya, seorang lelaki bertubuh tinggi, beralis tebal dan berhidung mancung, tapi tidak semancung pinokio ku. Dagunya panjang dan memiliki mata yang teduh, astaga, kenapa aku baru menyadari kalau wajah ini mengingatkanku pada wajah kekasihku yang ceking dulu, hanya wajahnya, tubuhnya tidak, lelaki di sampingku ini lebih berisi dan berkulit lebih putih. Gaya rambutnya juga sangat berbeda, yang ini seperti model korea yang saat ini memang sedang ngetrend di kalangan remaja. Uuh, untuk apa aku membandingkannya? tapi memang banyak persamaannya.
" Darel, siapa nama kakaknya Aprill?"
" Ka Afkar mbak"
Alya tersenyum
" Mbak juga sempat bertemu dengan ka Afkar?"
Alya mengangguk dan menyentuh jari manis kirinya. Tidak hanya bertemu, dia bahkan memberikanku ini tadi sore setelah berbagai pertengkaran kami lalui.
" Mbak, apa yang harus saya lakukan? saya akan menemuinya besok pagi di rumah sakit?"
Alya menggeleng
" Tidak besok pagi, aku akan mengabarimu kapan waktu yang tepat, kecuali Aprill mengabarimu setelah ini"
" Mbak juga akan menjenguknya?"
" Tidak, aku akan mengantarmu terlebih dahulu pada kakaknya"
" Tapi Aprill akan marah mbak kalau saya menemui kakaknya, bagaimana kalau saya benar-benar akan diputusnya dan kakaknya akan memarahi saya?"
" Aku sudah pernah punya pengalaman seperti ini Darel, percayalah padaku, kamu tidak boleh menuruti apa kata Aprill untuk hal yang satu ini, kamu lelaki dan harus memperjuangkan cintamu"
" Maaf mbak, sebenarnya mbak siapa? kenapa harus menolong saya?"
" Aku adalah orang yang akan menolongmu, dan kamu adalah orang yang akan menolongku. Tidak pernah ada yang kebetulan Darel, semua sesuai dengan takdirnya, kita tinggal berusaha dan menjalaninya. Berapa nomor ponselmu Darel?"
Alya membuka ponsel dan mengetik angka yang disebutkan Darel, setelahnya menekan tombol hijau dan Darel pun menyimpan nomor Alya.
" Darel, kita berjuang bersama ya"
Darel sangat bingung, tapi tetap mengangguk.
" Besok kamu kuliah?"
" Iya, saya masuk pagi"
" Baiklah, aku akan segera menghubungimu setelah mendapat kan kabar dari ka Afkar.
" Mbak sudah pernah bertemu ka Afkar, dia benar galak ya mbak?"
Alya tertawa
" Yang menelfonku tadi ka Afkar, hehehe"
Darel melongo
" Sudahlah, aku harus segera pulang, aku tidak ingin saat dia menelfonku lagi, aku masih di sini, taring singanya akan keluar, hahaha"
Darel mengangguk
" Hati-hati mbak, kalau masih pusing biar saya yang antar"
__ADS_1
" Tidak usah, kita siapkan saja tenaga buat perjuangan kita, mulai besok, oke Darel?"
Alya tertawa diikuti tawa Darel yang belum sempurna mencerna kalimat Alya yang sangat membingungkannya.