
Suasana meeting tidak selalu harus menegangkan, beberapa lelucon terdengar dari mulut Arga. Maklum saja, dia kan anak bos dan sebentar lagi juga menjadi bos. Apapun yang di katakan anggap saja sangat menyenangkan walaupun biasa-biasa saja. Dara yang berada disampingnya kali ini memerah pipi dan berkali-kali menendang kaki Arga. Kali ini meeting santai memang hanya untuk memenuhi kewajiban setiap akhir bulan, sekedar sharing saja. Karena keadaan kantor memang sedang aman-aman saja, mendapatkan topik datar di meeting ini, Arga mempunyai ide konyol, Arga mengumumkan kalau dia dan Dara sudah mempunyai hubungan, tentu saja karyawan yang berhadir menyetujui dan langsung memberi selamat, sementara Dara sibuk mengklarifikasi, sayangnya usaha Dara sangat sia-sia.
Pesan group WhatsApp masuk, Arga melirik ponselnya
Alya
" Nyebelin banget, gue sudah nunggu dari pagi belum nongol juga, kemana sih dia"
" Sabar Al, namanya juga menunggu"
" Bos apaan begini, Arga lo kalau jadi bos jangan memperlakukan orang lain semena-mena ya"
Arga tersenyum
" Gue lagi meeting, belum bisa komen".
" Lanjut deh Ga, gue mau main youtube aja nungguin bos nyebelin ini".
Meeting ditutup tepat jam sembilan pagi. Arga kembali ke ruangannya dan kali ini penuh dengan omelan Dara, Arga hanya tertawa menanggapinya
" Ribut amat, santai aja kenapa sih Ra"
" Dipikir mereka beneran Ga"
" Ya udah benerin aja"
" Iih, enggak banget gue"
" Jangan enggak-enggak lo, hati-hati jatuh cinta, hahaha"
" Pak Arga, ada tamu yang sudah menunggu bapak?"
Seorang wanita cantik bertubuh tinggi dan bertugas sebagai receptionis yang kebetulan sedang berjalan di depan ruang Arga memberitahunya
" Tamu? darimana?"
" Banjarmasin"
" Heh? Banjarmasin?"
Dara menoleh
" Bukannya Alya ada di Banjarmasin Ga? apa dia polisi ya yang memberitahukan Alya bikin rusuh disana"
Arga menarik ekor rambut Dara.
" Sembarangan. Tasya, suruh masuk ke ruanganku ya"
" Baik pak"
Arga memasuki ruangannya, membuka ponsel dan membaca WhatsApp group nya. Alya yang curhat tadi malam tentang manager muda yang sok, nyebelin dan pemarah.
Tok, tok, tok
" Masuk"
Kreeeekk, pintu terbuka.
" Assalamualaikum Arga"
" Waalaikum salam".
Arga terpana melihat siapa tamu yang datang menemuinya pagi ini.
" Afkar?"
Afkar berjalan mendekati Arga dan mengulurkan tangannya
" Apa kabar?"
Arga terdiam
" Tadi baik, tapi belum tau sekarang. Silakan duduk".
Dua lelaki yang sama-sama menggunakan kemeja lengan panjang yang sedikit digulung itu saling berhadapan dengan keadaan duduk. Arga menatap tajam Afkar sedangkan Afkar menatap Arga dengan perasaan kacau.
" Maaf aku datang kesini"
" Sebentar, tadi receptionis bilang tamuku dari Banjarmasin, maksudnya siapa?"
" Aku"
" Kamu? dari Banjarmasin"
" Iya, aku sudah dua tahun tinggal di sana sejak Alya memintaku untuk meninggalkannya".
Arga menyandarkan kepalanya pada kursi besar berwarna hitam.
" Alya sedang ada di Banjarmasin sekarang, dia ditugaskan menangani satu proyek di sana"
" Aku tau"
" Maksudnya?"
Arga mengernyitkan alisnya
" Dia sekarang ada di kantorku, aku adalah manajer yang ingin ditemuinya"
" Jadi??"
Arga langsung berdiri dari tempat duduknya dan
__ADS_1
Plaaakk.
Satu tamparan keras mendarat di wajah Afkar, ada darah keluar dari sudut bibirnya.
Afkar hanya menatap Arga tanpa pembalasan, tapi hatinya sangat terluka, bukan semacam luka pada sudut bibirnya, hati yang semakin hancur melihat sahabat kekasihnya memperlakukannya begini.
" Kamu membiarkan dia duduk di depan ruanganmu sekarang tanpa kamu kabari kalau kamu tidak berada di tempat sekarang?"
" Masih tidak akan sebanding dengan penantianku"
Arga memukul meja
" Aku pernah berjanji pada Alya untuk menghajarmu jika bertemu, dan itu sudah kulakukan, dan sekarang aku ingin memasukanmu ke rumah sakit karena aku benar-benar sudah siap meremukan tubuhmu"
" Arga, kamu tidak tau apa yang terjadi, betapa Alya sangat membuatku menderita"
" Apa? aku tidak tau?. Sebentar. Aku akan menghubungi Alya untuk menyuruhnya pulang dan tidak menunggumu duduk sendiri di sana"
" Jangan katakan aku di sini"
Arga langsung mengambil ponselnya dan melakukan panggilan video
Tiitt...
" Iya Ga, sstt jangan video call, bos nya galak, gue takut kena marah juga seperti karyawan nya yang lain"
" Bodo, gue enggak peduli dengan bos yang galak atau siapapun dia, sekarang lo pulang Al"
" Pulang kemana?"
" Ke penginapan, mending lo tidur daripada nungguin dia"
" Kalau gue pulang, gimana nanti kalau dia datang pas gue enggak ada? dia bisa membatalkan ini, bisa-bisa kerjaan gue kacau, ini karir gue Ga"
" Kalau lo di pecat dari pekerjaan gara-gara bos yang nyebelin itu, lo gue pindahin ke perusaahan gue"
" Ngarang lo, jadi menurut lo gimana? gue malas balik, jauh Ga, 35 kilometer"
" Ya udah lo jalan-jalan aja, katanya disana banyak cinderamata, beliin gue"
" Ooh iya, gue beliin kain sasirangan ya, tidak jauh dari sini, kalau sudah belanja gue balik lagi ke kantor ini, siapa tau manager nya sudah datang"
" Enggak usah, kalau sudah selesai belanja lo balik aja ke penginapan, bos nya enggak bakal datang hari ini"
" Ngeramal dari mana lo?".
" Apa yang enggak gue tau tentang lo Al, sebel banget gue kalau sampai ada yang bilang gue enggak tau sama kehidupan lo"
" Haah? emang ada yang bilang gitu? hahaha, enggak waras aja dia"
" Betul Al, memang enggak waras"
" Ya udah gue mau kerja dulu, kalau ada apa-apa kabarin gue ya Al"
" Pasti Ga"
" Udah ya Al, turutin kata-kata gue, pulang lo, jangan nungguin dia hari ini"
" Okee Arga, terima kasih. Gue mau mampir dulu nyariin kain, terus langsung pulang".
" Okee"
" Dah Arga, assalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Klik.
Arga mematikan panggilan video dan meletakan ponsel disampingnya
" Lo tega liat Alya nungguin lo yang jelas hari ini tidak menemuinya, bisa lo jelasin kemarin untuk apa menawarkan sekretaris lo mengajaknya makan bakso, lalu saat dia balik ke kantor lo, lo malah sudah pergi. Menghindar rendahan ini Afkar"
" Kemarin aku langsung mencari tiket ke Jakarta, jadi aku langsung pulang untuk menyiapkan keberangkatan"
Beberapa lembar tisue yang berada di atas meja diserahkan Arga pada Afkar
" Mulut lo berdarah".
Afkar mengambil dan meletakan di ujung bibirnya
" Lo tidak tau penderitaan Alya selama ini, masih tega lo nyakitin dia setelah bertemu kemarin? gue tidak bisa membaca pikiran lo"
" Menderita? aku yang menderita, sementara dia berbahagia"
" Bahagia apa?"
" Dia yang menghindariku, memutuskan tali silaturahmi dengan mengganti nomor ponselnya setelah aku menghubunginya, dia memang benar-benar tidak ingin berhubungan denganku lagi meski cuma lewat telefon"
" Alya tidak memutuskan silaturahmi, ponsel kartu dan semua data diambil Kevin, dan memang kelalaian Alya untuk tidak menghapal nomor ponsel penting. Bagaimana bisa dia menghubungimu? dia bahkan menunggumu menghubunginya kembali tanpa dia sadar nomor ponselnya juga berubah. Lalu saat gue ingin memberikan nomor ponselnya yang baru kenapa lo menolak, sebenarnya siapa yang ingin memutuskan silaturahmi ini? lo kan"
" Aku hanya tidak ingin terlalu mengejarnya jika dia sudah tidak mau menerima telefon, itu saja, aku tidak berpikir apapun"
" Sekarang gue tanya, kenapa lo tidak menghubunginya setelah mendapatkan nomor ponsel barunya?"
" Nomor baru apa?"
" Afkar, lo jangan pura-pura bego. Lo pikir untuk apa gue dan dia ke tempat kerja lo di Surabaya, mendatangi kantor lo, menemui om lo dan menitipkan nomor ponsel Alya pada om lo"
Afkar terdiam
" Aku tidak pernah menerima nya"
__ADS_1
Arga kaget.
" Kalian ke Surabaya? ke kantorku?"
Arga berjalan mendekati jendelanya, membuka tirai dan menyalakan rokoknya.
" Dia seperti orang gila Afkar, saat kami di depan kantor lo, dia bahkan perlu waktu lama untuk bisa turun dari mobil. Dia memandang gedung kantor lo, menanyakan di mana lo biasa memarkirkan motor, di mana kantin tempat lo makan, di mana ruangan lo, dia hapal pakaian yang hari itu di pakai karyawan, katanya melihat gedung kantor lo saja dia merasa hidup lagi. Lalu kami menunggu om lo, saat beliau datang Alya malah di sebut penyebab kepergian lo, Alya di sebut penyebab penderitaan lo, lo bisa rasakan bagaimana tertekannya Alya sejak itu? dia tidak berontak, tidak membela diri, dia menerimanya, gue yang sakit hati melihat Alya diperlakukan begitu. Gue menuliskan nomor Alya pada selembar kertas dan menitipkannya pada om lo. Berhari-hari berbulan Alya menunggu lo menghubunginya Afkar, dia ingin menjelaskannya. Ternyata sampai kalian bertemu lo memang tidak menghubunginya"
Afkar merasakan hatinya semakin tertusuk. Perlahan mengambil ponsel dari sakunya, menekan tombol panggilan.
Tiiit,
" Assalamualaikum"
" Waalaikum salam, maaf mengganggu om"
" Tidak Afkar, ada apa?"
" Mau tanya, kemarin ada yang mencari saya di kantor? dua tahun yang lalu?"
" Dua tahun? siapa ya?"
" Alya om"
Hening
" Ooh, iya ada dia kesini dengan temannya"
" Dia menitipkan sesuatu?"
" Iya, selembar kertas"
" Isinya apa om"
" Nomor ponsel"
" Kenapa om tidak mengabari saya?"
" Maaf, om lupa, tidak akan penting untukmu Afkar"
" Baik om, terima kasih, Assalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Klik.
Asap rokok sedikit mengenai wajah Afkar dan membuatnya membuang muka ke samping.
" Alya sudah berusaha memperbaiki kesalahpahaman ini, harusnya lo jangan membalas dengan mengganti nomor juga"
" Aku terlalu kecewa karena memperlakukanku begitu. Dan ini tidak bisa diulang. Tapi kenapa dia tidak meminta nomorku padamu?"
" Dia tidak tau kalau aku menyimpan nomormu"
Afkar tertunduk. Om Andi kenapa om tidak mengabariku tentang ini?. Aku sangat kecewa om, seharusnya aku tau tentang ini dan tidak membuatku mencoba untuk membencinya walaupun memang tidak akan pernah bisa. Betapa aku menyiksa diri dengan mengumpulkan emosi-emosi, betapa sudah kubuang waktu untuk memberanikan diri mencoba menghadirkan hal-hal buruk tentangnya, walaupun dia akan terlihat sempurna dan sempurna lagi di hatiku.
" Lo tau, sejak kami balik dari Surabaya, Alya hanya menunggu kabarmu, menantikan kamu akan menghubunginya. Bahkan dia pingsan di kampus, gue dan Roni yang membawanya ke rumah sakit, dia dirawat selama tiga hari di sana. Lo tidak tau betapa lemahnya dia saat itu, semua menyebut dia kelelahan, memang dia sedang serius menjalankan skripsinya, tapi kami sebagai sahabatnya tau apa penyebab sakitnya, lo Afkar. Lo yang menghilang begitu saja dengan masalah yang seharusnya bisa dibicarakan"
Tangannya semakin mengepal, dadanya semakin sesak. Alya, kenapa aku terlalu jahat padamu.
" Tapi bukankah ada Kevin disampingnya yang menggantikanku? bukankah dia sendiri yang memilih perpisahan ini"
" Iya, Kevin yang baik itu memang selalu ada disampingnya, merawatnya, menyayanginya, mencukupi semua keperluannya. Sampai di rumah sakit itu, Kevin membuka ponsel Alya dan membaca semua pesan WhatsApp kami. Lo tau apa isi dari obrolan kami? tentang lo, tentang cinta Alya yang hilang entah dimana, tenang penantiannya, tentang kesedihannya bersama seorang yang belum juga bisa ia cintai. Kevin membacanya Afkar, menurutmu masih bisakah Kevin bertahan? tidak!. Kevin bahkan pergi ke Hongkong tanpa menemui Alya dulu, hanya berpamitan dengannya melalui telefon"
" Kevin pindah ke Hongkong?"
" Iya, dia pergi meninggalkan Alya yang sedang berusaha membangunkan diri dari mimpinya bersama lo, dia mulai merencanakan untuk bisa menerima Kevin. Tapi terlambat, bahkan Kevin menetap di Hongkong dan menyudahi hubungan itu sendiri. Alya mempertahankannya, dia bahkan membiarkan Alya jatuh sendiri kedalam lubang yang sudah lama mereka buat"
Afkar memejamkan matanya. Kamu sekuat itu kemarin Alya? kamu sendiri menghadapinya?.
" Alya tumbang, bukan hanya fisik. Alya hampir memutuskan kuliahnya, dia hanya melamun, duduk di teras sendiri, tidak makan, tidak melakukan apapun, hanya melamun dengan air mata yang kamipun tidak bisa membantu menghapuskannya. Akhirnya selama tiga bulan dia tidak kuliah, Alya dibawa kerumah orang tuanya karena mereka khawatir pada kondisi kejiwaannya"
" Dia begitu karena aku atau karena Kevin?".
" Karena keduanya. Bahkan hal yang semakin membuatnya tersiksa adalah kalimat-kalimat yang selalu menyalahkannya, Kevin pergi karena kesalahannya yang masih saja mencintaimu. Sedang keberadaanmu pun dia tidak tau. Bersama dengan kami itu berbeda, tidak akan sama dengan seseorang yang dia rindukan, tidak ada penyembuhnya saat itu. Beruntung Kevin sesekali menghubungi dan memberinya semangat, akhirnya Alya bisa kembali meneruskan skripsinya, dan kami bisa wisuda bareng, seandainya tidak ada kejadian itu, pasti Wisuda nya akan lebih cepat daripada kami"
" Bagaimana wisudanya?"
" Sendiri. Dia bilang selalu membayangkan akan memakai jubah hitam bertopi itu dengan didampingimu. Kami sempat takut jika hari itu dia kembali rapuh, ternyata tidak, dia jauh lebih kuat. Dia hanya bersama kedua orang tuanya. Dia sangat cantik hari itu, seperti bidadari".
Afkar menatap Arga
" Dia memang bidadari, boleh aku melihat fotonya saat wisuda?"
" Sudah lama Afkar, sudah satu tahun, mungkin sudah jauh sekali jika aku mencarinya di galeriku"
" Aku akan menunggu, kumohon aku ingin melihat wajahnya"
Arga meraih ponsel dan membuka galeri, selama tiga menit terus saja menscrol ke bawah dan menemukan foto setahun yang lalu. Menyerahkan ponselnya pada Afkar
Afkar menerima ponsel dan menatap dalam wajah yang ada di layar, mengusap dengan tangannya.
" Aku mencintaimu Alya, maafkan aku"
" Kamu mencintai tapi juga sangat menyakitinya. Alya selalu menangis karenamu, itulah sebabnya aku menjanjikan akan menghajarmu untuk mengeringkan air matanya"
Afkar semakin diam dan larut pada penyesalan.
" Boleh kirim ke ponsel ku Ga?"
Arga menatap wajah Afkar, satu wajah dengan kehancuran yang teramat. Akhirnya Arga mengirim foto itu dengan memasukan nomor ponsel Afkar terlebih dahulu.
__ADS_1