
Afkar mendorong kopernya keluar dari kamar hotel, sudah waktunya check out. Walaupun mengambil penerbangan sore dan sekarang masih jam setengah 11 siang, tapi Afkar memilih untuk check out saja. Sejak sore kemarin Arga meminjaminya mobil, sebenarnya Afkar nenolak tapi setengah dipaksa juga. Mulut Alya tidak henti ribut karena demam Afkar belum turun, sedangkan Alya bingung harus menemani di hotel tidak mungkin, di kost nya akan membuat Afkar kikuk karena di sana selain Alya juga ada penghuni lain. Sedangkan untuk tidak melihat Afkar terasa akan menjadi sia-sia kepulangan kali ini. Arga langsung memberikan solusi agar Afkar memakai mobilnya saja agar mereka masih bisa bersama di detik-detik perpisahan ketiga ini. Tadi malam mereka tidak kemana-mana, hanya duduk di dalam mobil dekat taman setelah makan malam. Membicarakan masa depan, Afkar tidak ingin mengulang membicarakan yang sudah terjadi karena itu membuatnya sakit dan membuat Alya dalam keadaan bersalah, padahal itu salahku. Afkar membawa mobil sport hitam itu menjemput Alya. Dengan senyum manisnya Alya berlari ketika melihat mobil hitam itu datang.
Afkar membuka tombol di samping kanannya, Alya pun langsung masuk
" Hai ka".
" Assalamualaikum"
" Hehehe waalaikum salam ka".
" Sudah selesai kuliahnya sayang?"
" Sudah ka, gimana keadaanya?"
Sambil memeriksa dahi Afkar
" Lumayan, sudah lebih baik"
" Kita santai aja dulu ka di depan jalan itu, ada pohon-pohon rindangnya, nanti baru makan siang"
" Iya"
Afkar mulai menjalankan mobilnya
" Sayang, ini nanti balikin ke Arga gimana?"
" Nanti Alya yang nganterin kaka ke bandara, biar Alya yang balikin"
" Ooh, bilangin terima kasih ya sudah dikasih pinjem mobilnya".
" Iya".
Afkar menghentikan mobilnya di parkiran sebuah tempat yang belum bisa disebut tempat wisata sih, tapi tempatnya teduh dan asri. Beberapa pohon besar berdiri tegak dan rapi. Di bagian pojok kanan berbaris beberapa tempat minum dan makan.
" Di sini aja dulu ka, kita dengerin musik"
Alya mulai mengambil remote untuk mencari musik.
Afkar menurunkan kaca jendela sisi kiri dan kanannya.
" Sayang masih suka menyanyi di tempat Bowo?"
" Sekarang sudah mulai jarang ka, malas sendiri kesana"
" Salam ya sama Bowo, kita belum sempat kesana"
" Iya ka"
" Kalau nanti magang di Jakarta aku boleh mampir?"
" Enggak usah mampir, pindahin aja kantor kaka di samping tempat magang Alya biar kita bisa saling intip dari jendela masing-masing"
" Hahaha, kaya kakek nenek kita dulu ya ngintip dari balik jendela"
" Iya kali, Alya tidak pernah menanyakan itu sih sama mereka"
" Kalau magang di kantorku aja gimana?"
" Enggak deh"
" Lho, katanya pengen kita deket, tapi enggak mau sekantor"
" Nanti di pantau terus, Alya enggak bisa nyari gebetan baru, pasti kaka ngumumin ini kekasih aku, gitu kan?"
" Mau cari gebetan baru lagi?"
" Kalau ada yang lebih cakep dari kaka ya bisa Alya pertimbangkan deh"
" Emang ada yang lebih cakep dari aku?"
" Saat ini belum ada , enggak tau pas nanti magang"
Afkar terkekeh
" Jangan diniatin ya sayang".
Alya menepuk punggung Afkar
" Yang ini aja Alya lagi kerja keras biar kita cepat bisa bersatu, masa Alya cari yang lain lagi"
" Kerja keras apa?"
" Kerja keras meyakinkan orang tua biar kaka diterima jadi mantu"
" Kita berjuang berdua, jangan sendirian".
Alya tersenyum
" Iya deh berdua, tapi nanti piala nya buat Alya ya"
" Semua ambil buat sayang aja, aku di kasih senyum sayang aja berasa sudah ada di surga"
" Mau godain lagi ya?"
" Tidak, otakku lagi low nih, efek demam tidak bisa nyari gombalan"
" Enggak demam juga nyontek".
Afkar memandang leher Alya dan menyentuhnya, mengelurkan kalung dengan liontin tersembunyi. ALFAR
" Masih di pakai sayang?"
Alya mengangguk
" Maaf ya sayang aku belum bisa memberikan apa-apa"
Afkar teringat tentang motor baru pemberian Kevin
" Alya senang banget ka Afkar sudah kasih ini"
" Hari ini aku pergi lagi, aku ingin sepuasnya bisa memandangmu mesra"
" Hehe. Ka, kenapa pertemuan kita cepat sekali berakhirnya?
" Biar saat perpisahan begini sakitnya tidak terlalu lama"
" Tapi Alya tetap selalu sedih setiap melepas kaka"
" Kan sudah mulai terbiasa"
Afkar menggenggam jemari Alya dan menciumnya.
" Ka, kenapa perpisahan itu seperti ucapan selamat datang untuk hari-hari yang rindu?"
" Karena itu adalah konsekuensi dari adanya pertemuan"
Alya menatap mata teduh Afkar
" Sayang, setiap orang memiliki kesedihannya masing-masing. Yang membedakan adalah cara menunjukannya. Ada yang memilih untuk berbagi cerita, ada yang mendiamkannya sendiri di dada. Ada yang bersemangat dan akan bangkit, ada juga yang menyerah dan kalah".
" Untuk rindu bagaimana?"
" Tuhan menciptakan rindu di saat berpisah, tapi diciptakannNya jua sebuah pertemuan".
" Kalau boleh memilih, Alya pengen tidak usah jauhan begini deh, pisahnya lama, ketemunya sebentar"
__ADS_1
" Kita hanya berjarak, bukan berpisah. Dan yang jauh hanya pijakan bukan perasaan yang berjarak hanya raga bukan rasa".
" Pergilah ka, hati yang mencinta selalu menanti. Biar kujaga lagi malam ini, melawan beban yang menghujani hati. Seperti katamu, ada yang mempunyai masalah dan menyimpan saja semua di dada, aku tidak setangguh itu, akan kuceritakan dengan aksara lewat pena dan pastinya untukku saja akan mengulang membaca. Aku tidak ingin ditemani air mata, apalagi jika bulan melihat kerinduanku yang patah.
Padamu yang akan pergi, kutitip rindu pada langit senja yang seteduh matamu dan selembut senyummu.
Padamu pemilik cintaku
Pulanglah dan jangan tersesat
Jika besok kamu datang, ketuk pintu dahulu, agar ku tau yang datang itu kamu dan akan segera kubuka pintunya, karena semua bagian dari rumahmu ini akan kukunci rapat sampai kamu kembali".
Afkar mengusap pipi Alya
" Aku tidak bisa menjagamu dari jauh, bahkan walau dekat sekalipun"
" Biar Alya yang sambung ya"
Afkar mengangguk
" Biar doa-doa yang akan menjaga kita"
" Aamiin".
" Kaa,,"
" Iyaa"
" Lapar"
" Ooh kupikir masih ada kelanjutan romantis romantisannya lagi, ayo kita cari makan"
Alunan saxophone Kenny G the moment baru saja berakhir dan di sambung dengan Forever in Love. Semakin menjadi-jadi saja perasaan sepasang kekasih ini.
Di sebuah toko musik Afkar memarkir mobilnya
" Mau cari apa ka?"
" Gitar"
" Buat siapa?"
" Kekasihku"
Alya memegang tangan Afkar
" Buat Alya?"
" Kekasihku ada berapa sayang?"
Afkar tersenyum merasa sangat gemas melihat wajah bengong Alya
" Waaahh, ayu lah"
Alya langsung turun dari mobil dan menggandeng mesra lengan Afkar
" Sayang pilih sendiri ya, aku tidak paham"
" Budgetnya berapaan ka?"
" Maksudnya?"
" Gimana Alya bisa pilih kalau tidak tau berapa kemampuan kaka"
" Pilih aja, emang berapa sih harga gitar?"
" Macam-macam lah ka"
" Yang sering sayang pakai itu gimana?"
" Ya udah kita masuk aja dulu, enggak usah mikirin harga, kalau kurang nanti ada aja yang bisa kita tukar tambah"
" Apa ka?"
Afkar menunjuk mobil hitam Arga
" Whahaaa, enak di Alya matiin Arga, habis dia dipancung bokapnya".
Afkar ikut tertawa, bersama kamu aku terasa tidak pernah menua.
Akhirnya Alya memilih satu gitar standar dengan harga yang standar, dia sengaja mengecek harga dulu, walau bagaimanapun dia sudah mulai mengerti Afkar dan Kevin itu berbeda, Uuuhh kenapa kali ini aku memperbandingkan keduanya, pergi dulu ka Kevin.
Berpegangan tangan menuju ruang tunggu. Saling memandang dan sesekali mengucapkan hal manis.
" Ini ketiga kali ka Alya mengantar"
" Iya, sudah bosan ya"
" Iya, Alya tidak ingin lagi mengantar begini"
" Kita berdoa saja setelah ini kita yang pergi berdua"
" Iya ka"
" Sayang mau pulang? nanti kesorean"
" Tidak apa, pakai mobil juga, sebentar lagi kan penerbangannya?"
" Sayang jangan lupa kabari terus ya keadaannya, juga tentang masalah kita, semoga orang tua bisa menerima aku"
" Alya akan mengabarinya ka"
" Dan jangan lupa nanti balikin motornya, kalau sayang mau ganti motor, aku bisa kok beliin yang baru juga"
" Iya, nanti Alya balikin, Alya juga belum perlu motor baru, mending uangnya buat kita kawin, hehehe"
Afkar mengusap rambut Alya
" Iya, terima kasih pengertian nya, aku juga sedang menabung buat kita, dan buat anak-anak kita"
Alya tersipu, merah pipinya sudah tidak bisa dikendalikan
" Kenapa sayang?"
Afkar mencolek dagunya
" Enggak apa-apa"
" Tuh pipinya merah, hehehe. Iya kan semua memang buat kita"
" Iya ka, terima kasih, obatnya sudah diminum?"
" Oh iya, biar nanti di pesawat aku tidur aja, supaya enggak liat pramugari"
" Eeh, ketahuan ya ternyata selain pulang ngeliatin Alya juga seneng liat pramugari"
Afkar tertawa
" Airnya tadi mana sayang?"
Alya mengambil air mineral dalam botol berukuran sedang di sampingnya. Kemudian meraba dahi Afkar
" Sudah tidak panas kaya kemaren sih ka, tapi masih hangat"
Afkar menelan obat pereda demamnya dan meminum air mineral yang sudah dibuka Alya tutupnya.
__ADS_1
" Besok masuk kerja ka?"
" Iya, mudah-mudahan staminaku bagus"
" Tidak usah terlalu keras kerjanya ka"
" Enggak juga, tapi yang namanya tanggung jawab kan harus dikerjakan sayang"
" Iya, ka nanti kalau Alya magang bantuin Alya ya soal kantor-kantoran"
" Iya sayang"
Afkar melirik jam tangannya
" Sayang sebentar lagi pesawatnya, aku pamit, baik-baik"
Afkar memeluk tubuh Alya, mencium keningnya dan kali ini,pipi kanan dan kiri Alya. Tanpa tangisan, Alya tersenyum dan mencium tangan Afkar
" Hati-hati ka, Alya sayang ka Afkar"
" Aku sayang Alya, bidadariku"
" Ka, tungguin Alya disini, Alya nanti melambai dari pintu
Afkar tertawa
" Iya, aku tunggu disini"
" Assalamualaikum ka"
" Waalaikum salam"
Alya melangkah menuju pintu, tersenyum dan melambaikan tangannya.
Afkar membalas lambaian nya, semoga kamu bisa menyelesaikan ini Alya, kabari aku, aku akan pulang untuk menemanimu jika saatnya sudah bisa.
Ponsel bergetar dari atas meja makan, Kevin melangkah dan mengangkat nya
" Selamat sore Tuan Kevin".
" Iya sore"
" Data yang anda inginkan sudah kami dapatkan, kapan kami bisa mengantarkannya?"
" sekarang, saya sudah ada di rumah"
" Baik, saya segera kesana"
" Saya tunggu".
Klik.
Sudah 3 hari aku menunggu, aku sangat penasaran siapa dia. Kevin mengganti bajunya dengan baju rumahan yang santai, dia baru saja pulang kampus, tesisnya sudah berjalan baik dan tinggal menunggu ujian akhir agar bisa meraih gelar masternya. Semoga saja dalam sebulan atau dua bulan ini semua susah selesai sesuai dengan yang diharapkan.
Ting tong
Kevin melangkah menuju pintu dan mempersilakan dua tamunya untuk masuk
" Bagaimana?"
" Begini Tuan, sebelumnya saja ingin menjelaskan dulu selama 3 hari ini kami bekerja dan mengerahkan 5 orang terbaik kami, dengan data yang Tuan punya kami segera menyelidikinya"
" Baik"
" Namanya Afkar Rahadian bekerja di perusahaan PT.Jaya Graha Usaha sebagai staf marketing"
Kevin spontan memukul meja, dua orang dihadapannya terkejut, Kevin yang santun tiba-tiba bersikap seperti ini.
" Kalian bisa bekerja tidak? kalian salah orang, aku kecewa"
" Maaf Tuan, boleh kami lanjutkan?"
Kevin menghela napas dan mulai mengaturnya satu satu.
" Maaf, silakan"
" Dia anak kedua dari 3 bersaudara. Ayahnya seorang pensiunan tenaga pendidik dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Kakak pertamanya seorang perawat dan sekarang berdomisili di Jakarta, anak kedua Tuan Afkar dan anak ketiga seorang gadis berusia 20 tahun dan baru menjadi mahasiswi di perguruan swasta di Jakarta. Ayahnya sudah 6 tahun yang lalu meninggal, sehingga ibu nya ikut tinggal bersama anak pertama nya di Jakarta begitu juga adiknya. Sekarang Tuan Afkar tinggal sendiri di perumahan Komplek Berlian No 75. Pertama beliau bekerja berkat bantuan Om beliau yang juga bekerja di perusahaan tersebut sebagai kepala Divisi Marketing. Tuan Afkar pernah berkerja di Yogya selama 2 tahun sebagai OB di satu mall"
Kevin tersandar dan sepertinya kepalanya langsung berputar
" Kalian benar-benar salah orang"
" Masih ada informasi yang mungkin berguna untuk Tuan"
Kevin hanya mengangguk, tenggorokannya seperti tercekik
" Saat ini Tuan Afkar sedang mengambil cuti 2 hari ke Yogya untuk menemui kekasih beliau yang sedang menjadi mahasiswi, putri dari Bapak Rangga Pratama dan ibu Siska Wulandari bernama Alyana Putri Pratama"
" Apaaa?"
Kedua orang suruhannya terdiam tidak berani melanjutkan lagi. Kevin meraih ponselnya dan menekan panggilan telf.
" Pa Budi, sekarang cek apakah nona Alya ada di kost nya atau tidak?"
" Tuan sejak jam setengah 11 tadi saya sudah ada di depot depan kost nona Alya, tapi motor yang biasa nona Alya pakai masih ada di halaman, begitu juga motor pemberian Tuan, masih ada Tuan, saya tidak tau apakah nona masih berada di dalam rumah atau memang belum pulang dari kampusnya"
" Baik, kamu tunggu saja disana, beri kabar kalau Alya sudah terlihat"
" Baik Tuan"
Klik
Kevin memandang dua orang dihadapannya
" Kamu tadi bilang cuti 2 hari, kapan berakhir?"
" Hari ini pa"
" Hari ini?"
Kevin melihat arloji sudah jam lima sore, apakah mungkin Alya sedang mengantar Afkar ke bandara?
" Saya akan ke bandara sekarang, tugas kalian belum selesai, nanti malam kalian boleh menemui saya lagi"
" Baik Tuan"
Kedua orang itu pamit dan segera pulang.
Kevin dengan tergesa mengambil kunci mobil, kali ini dia tidak memakai mobil silver kesayangannya, tapi mobil hitam yang baru saja dibelinya, mobil itu memang sengaja dibeli agar selama sebulan dia dan Alya tidak berkomunikasi, dia masih bisa memantau keselamatan Alya, dan agar tidak di curigai dia akan memakai mobil hitam itu untuk sementara waktu.
Kevin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju bandara. Apakah ada penerbangan jam sekarang menuju Surabaya? atau dia sudah pulang siang tadi?. Kevin memarkir mobilnya di gerbang pemberangkatan, hatinya ragu, bagaimana jika ada Alya di sana bersama Afkar? apa yang aku lakukan? Tapi jika aku diam saja disini aku tidak akan menemukan jawabanku. Dengan keyakinan diputuskannya untuk masuk. Baru saja melangkah keluar dia melihat seorang gadis cantik sedang melambai-lambai kan tangannya kearah ruang tunggu, dia Alya. Kevin membalikan tubuhnya agar Alya tidak melihatnya, segera setelah Alya menuju parkiran mobil Kevin berlari menuju ruang tunggu, mencari seseorang yang dia juga tidak tau bagaimana seseorang yang sedang dia cari. Perlahan matanya tertuju pada seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan sebuah koper kecil dan tas ransel yang ada di punggungnya, apalah dia? aku tidak bisa melihat wajahnya, sudah terlalu jauh. Alya?? Kevin langsung berlari keluar, dimana Alya? matanya menangkap Alya masuk ke parkiran mobil. Kevin mengejarnya dan masih dengan cara mengendap-endap. Itu kan mobil Arga, apa Alya bersama Arga? Hey, dia membuka pintu pengemudi, Alya membawa mobil Arga sendiri? Kevin langsung memasuki mobil dan mengejar mobil Arga, mau kemana dia? selama 20 menit Kevin mengikuti, akhirnya mobil Arga memasuki komplek dimana komplek itu adalah komplek kost para mahasiswa karena tempatnya yang strategis berdekatan dengan kampus-kampus. Kevin tidak masuk, hanya menepikan mobilnya di depan komplek, ini kan komplek kost Arga, artinya Alya mengembalikan mobil ini. Tepat dugaan Kevin, tidak lebih dari 10 menit mobil itu keluar, Kevin pun langsung mengikuti, mobil memasuki komplek kost Alya. Sepertinya sudah cukup, Alya sudah aman sampai di kost nya, Kevin mulai memutar kemudi, ponsel berdering
" Iya pa Budi"
" Tuan Kevin, Nona Alya baru saja datang diantar seseorang dengan menggunakan sebuah mobil sport berwarna hitam, sayangnya saya tidak bisa melihat karena pengemudi itu tidak ikut turun, nona Alya langsung masuk ke dalam rumah"
" Iya, temannya itu namanya Arga pa. Terima kasih untuk hari ini, bapak boleh pulang, besok bapak harus sudah disana sejak jam 7 pagi, nona Alya akan masuk kuliah jam 8 pagi, biasanya dia akan sarapan dulu, awasi jangan sampai lepas pa, saya tidak ingin ada yang mengganggu kegiatan nya, siapapun yang mendekatinya selain Arga dan Roni cepat bapak kabari saya"
" Siyap pa, terima kasih"
Klik.
Kevin melajukan mobilnya untuk pulang.
Alya, jadi kamu memutuskan hubungan denganku kemarin karena ini? karena Alfkar akan datang? seperti katamu tidak ingin me dapat gangguan saat bersamanya. Baiklah, kita lihat sayangku setelah Afkar pergi lagi, kamu masih bisa sendiri atau kembali harus mencari seseorang yang bisa menemanimu dan membantumu. Apalagi sebentar lagi kamu akan magang dan skripsi, bisakah kamu bertahan dengan Afkar kekasih tanpa raga itu. Dan aku akan tetap menjagamu dengan caraku. Sepertinya pa Budi akan butuh seseorang lagi untuk mengawasi Alya, dia itu perempuan yang terlalu gesit, pergerakannya terlalu cepat dan lincah, pa Budi akan kewalahan mengikutinya non stop selama 1 bulan, aku akan mencari bantuan. Aku tidak ingin Alya mengalami kesusahan dalam kesehariannya tanpa aku. Keselamatan Alya sampai sore ini sudah selesai, aku belum puas dengan cerita Hans tadi sore, malam ini akan kulanjutkan, Afkar??? benarkah kamu yang akan bersaing denganku??.
__ADS_1