Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Semakin Dekat


__ADS_3

Petang jum'at di sebuah kantor dengan tiga lantai bernuansa putih. Alya perlahan berjalan mengelilingi setiap ruang per divisi untuk berpamitan, hari ini adalah hari terakhir magang, sudah dua bulan Alya belajar disini, dengan catatan terlalu banyak meminta izin untuk bepergian dan sakit. Tapi biarkan saja, yang bikin gue sering izin kan Ka Kevin, tanggung jawab dia lah bagaimana nilai gue bisa bagus. Sebentar dengan kata-kata pamit, minta maaf dan terima kasih, ritual berpisah selayaknya anak magang normal lainnya berjalan lancar. Alya menyalakan mesin mobilnya, memanaskan sebentar sambil mengatur pendingin suhu mobil dan menyetel musik yang akan menemaninya pulang.


Sebuah ketukan di pintu samping membuatnya kaget


" Ka Keviin"


Alya menurunkan kaca mobilnya


" Ngapain kesini?"


" Masih saja tanpa sapaan mesra"


" Hahhaa"


Alya perlahan membuka pintu dan keluar


" Kapan datang ka?"


" Tadi siang, aku langsung kesini, hari ini kan hari terakhir magang? aku mau ikut aja kalau-kalau akan ada perayaan".


" Kok ingat, Alya kan tidak bilang kalau hari ini terakhir"


" Lupa ya kalau aku banyak tau perihal kamu, dan yang pertama mengantar kamu kesini kan aku, jadi aku masih berkewajiban untuk membawamu pulang, hehehe"


" Ya udah, ini mau ikut Alya pulang?"


" Kalau boleh aku nebeng pulang, ya mau lah"


" Jangan lupa bayar kalau sudah sampai"


" Tapi di cicil ya"


" Sampai kapan?"


" Sampai kita bisa duduk di pelaminan"


Alya tersenyum


" Enggak janji ya"


Alya berjalan memutar dan sekarang Kevin yang bertugas membawa mobilnya


" Sebelum pulang mau kemana sayang?"


" Kaka ada rencana mampir kemana?"


" Tidak ada"


" Langsung pulang aja deh ka"


" Masih jam setengah lima magrib masih lama, kita cari bakso dulu yu"


" Okelah"


" Sayang tau tempatnya?"


" Ada di depan sana ka".


Mobil berhenti sesuai arahan Alya. Setelah memesan 2 mangkok bakso dan 2 es jeruk mereka menempati bangku yang saling berhadapan di satu meja


" Kamu pernah makan disini?"


" Pernah ka minggu kemarin?"


" Sama siapa?"


" Sendiri"


" Ooh"


" Kenapa nanya gitu?"


" Galaknya kok belum berkurang juga sih, aku kan cuma nanya"


Alya cuek saja dan mulai menyalakan ponselnya yang sejak pagi tadi memang dimatikannya karena ngantor, sok jadi pekerja banget deh, biar totalitas kerja di hari akhir katanya. Melihat banyak sekali pesan masuk di group WhatsApp nya.


Arga, Sylvia, Roni yang saling berkomentar, Alya hanya melihat sekilas, tanggung komentar sekarang, nanti saja di rumah


" Senyum-senyum baca apaan?"


" Group WhatsApp ka, nanti aja balasnya"


" Iya, nanti aku enggak ada temannya kalau kamu sibuk sama ponsel"


Alya memasukan lagi ponsel ke dalam tasnya, pesanan pun datang. Mereka mulai menikmati bakso yang Alya bilang rasanya lumayan.


" Sayang malam sudah tidak chatingan lagi kan?".


" Jarang ka, soalnya teman-teman juga jarang memulai, mungkin kecapean juga kali ya seharian ngantor, hehehe"


Alya, kamu tidak paham maksdku ya? bukan chatingan sama teman-temanmu.


" Kalau sama yang lain?".


Alya melirik sebentar kemudian kembali melanjutkan makannya.


Kenapa tidak dijawab sih, aku masih menunggu jawabannya


" Alya mau nambah?"


" Sudah kenyang ka"


" Sudah mulai masuk kuliah lagi kapan?"


" Senin dan mau konsultasi apakah bisa langsung mengambil skripsi semester depan"


" Memang mata kuliahnya sudah habis?"


" Sudah ka, tinggal perbaikan nilai aja, soalnya masih ada nilai C nya, hehehe"


" Kalau sudah habis biasanya sih bisa langsung skripsi"


" Semoga aja, Alya sudah tidak sabar memakai toga, dulu liat ka Pandu, kemarin liat ka Kevin, kan keren banget tu ya Alya pakai kebaya dan sanggul kreasi, berjalan ke depan podium, disebutin nih Alyana Putri Pratama, putri dari Bapak Rangga Pratama, lulus dengan cumlaude, gimana ka?"


" Keren banget, tapi yakin lulus dengan cumlaude"


" Nganggap Alya **** ya?"


" Bukan begitu sayang, hehehe, tadi baru aja ngomong ada beberapa nilai yang C"


" Kan ini sambil diperbaiki ka"


" Iya deh, nanti aku yang jadi tukang fotonya ya"


" Whahaha, kasian banget"


" Habisnya kan kayanya belum diniatin jadi pendamping, jadi mimpinya biar jadi tukang foto dulu, yang penting bisa dekat kamu".


" Hahaha"


" Alya, apakah Afkar pernah lagi menghubungimu?"


Alya sesaat terdiam seolah sedang berpikir


" Kenapa nanya itu?"


" Wajar kan aku tau, aku hanya ingin memperjelas statusku"


" Selama ini status kaka begini ya kita masih bersama juga, apa bedanya?"


" Alya, aku serius, dia masih menghubungimu?"


Alya mengangguk


" Untuk apa, bukannya kamu sudah bilang kalau hubungan kalian sudah berakhir?"


" Hubungan bisa saja berakhir, tapi perasaan kita tidak tau kan ka?"


" Kamu juga masih mencintainya?"


" Masih mencintainya atau sudah menyudahinya sama saja ka, Ka Kevin adalah pemenangnya, iya kan?"


Alya meneguk minuman terakhir dari gelasnya


" Tapi kalian masih berhubungan di telfon, ini kebohongan Alya"


" Ka Kevin maunya apa? Alya sudah menuruti kehendak orang tua Alya, kemauan orang tua kaka, dan juga menyetujui permintaan kaka agar kita bisa menjalin hubungan ini, mau menuntut apa lagi dari Alya? katakan saja, Alya masih bisa kok menerima permintaan apapun"


" Alya, kamu sudah menerimaku, dan aku tidak mau itu setengah-setengah, tidak ada yang namanya memberi raga tapi menyimpan rasa untuk hati yang lain"


" Kalian terlalu banyak menuntut"


" Kamu yang terlalu banyak menolak".


" Okeee, kaka minta apa lagi?"


" Bisa untuk memutuskan komunikasi dengannya?"


Alya tertunduk, aku sudah menduga ka pada akhirnya kamu akan meminta ini padaku.


" Agar aku bisa yakin kamu tidak akan lagi berhubungan dengannya, dengar Alya kita ini sekarang sudah mempunyai ikatan, malam itu adalah malam pertunangan kita, kamu belum melupakan ya kan?"

__ADS_1


Itu bukan pertunangan ka, itu pengikatan untukku. Entah akan seberapa mampu akan kukumpulkan kata yang berserak berjatuhan kemudian kuikatkan ke sebuah pohon yang aku beri nama pengorbanan


" Aku tidak lagi meminta Alya, hanya itu, jikapun tidak bersedia tidak apa, setidaknya kamu sudah tau inginnya aku apa"


Alya memainkan sendok di tangannya


" Kita tidak bisa lama bersama, sebentar aku pergi sebentar aku datang lagi, dan itu akan terus berlanjut sampai kamu lulus dan memastikan hatimu sudah bisa penuh menerimaku. Tolong yakinkan aku selama kita belum sepenuhnya bersama sekarang, bahwa percayaku ini tidak sia-sia, aku yang menjaga setia dan menuntut juga kamu mau melakukannya"


" Alya bisa saja mengatakan iya dan mau melakukan yang kaka minta, tapi dibelakang Alya bisa saja masih melakukan nya kan?"


Kevin mendesah


" Iya benar, tidak berguna juga memaksamu jika kamu memang tidak ingin melakukan nya"


" Biarkan Alya yang memutuskannya sendiri ka, jangan perintahkan Alya, jika kemauan Alya sendiri akan mudah nanti benar-benar melakukannya"


" Alya, aku ini kekasihmu, hargai aku, aku tidak bisa membebaskanmu dalam hal perasaan, apalagi untuk dia. Seseorang tidak akan bisa menghilangkan masa lalu dari seorang lainnya, semua mempunyainya, tapi untuk sesuatu yang belum juga tuntas, tolong disegerakan untuk mengakhirinya, ini hubungan Alya, bukan percobaan"


" Perintahkan Alya untuk hal lain ka, tapi jangan ini"


Kevin menggeleng.


" Sampai kapan?"


" Semua mempunyai waktunya ka, dulu kaka sering bertanya, kapan bisa memiliki Alya, sudah sampai kan waktunya sekarang?"


" Iya, tapi tidak begini"


" Jangan terlalu rakus ka, terlalu banyak yang sudah kaka punya dan miliki"


Kevin hanya bisa memandangi kekasihnya yang terlalu keras kepala, orang tuamu benar Alya, kamu memang keras kepala, walaupun belum masuk kategori pembangkang, buktinya kamu masih mau dan bersedia menerima permintaan orang tua kita. Aku harus lebih banyak menciptakan sabar.


Langit mulai merubah warna menjadi jingga, aku selalu menyukainya. Aku menyukai senja karena warna yang dilukiskannya pada bentangan langit Senja selalu indah, bahkan dalam balutan awan mendung sekalipun. Walaupun lukisannya tidak selalu sama, atau bahkan aku memandangnya di ruang yang berbeda, tapi cantiknya selalu membuatku terpana. Dan senja kali ini aku memandangnya tidak sendiri, bersama dia yang menyebutku kekasihnya, pastinya kami menikmati senja ini dengan rasa dan cerita yang berbeda, biarlah aku dengan inginku, dan dia melihat dengan harapannya.


" Sudah tenggelam sayang, kita pulang, nanti magribnya terlewat"


Kevin menggandeng tangan Alya memasuki mobil, walaupun ini bukan pantai atau gunung dimana senja akan terlihat lebih anggun, tapi cukup untuk memberi ruang untuk jiwaku bernapas lagi.


Setelah shalat magrib dan mandi mereka makan malam bersama, dengan menu yang sudah disediakan keluarga Alya, sesekali terdengar perbincangan papah dan Kevin tentang perusahaan barunya, bahkan lelucon konyol Tasya membuat satu meja tertawa, tapi ada yang kurang, dimana tawa Alya yang spontan dan keras, dimana gaya bicara nyablak dan seenaknya itu tersimpan, terlihat Alya hanya melemparkan senyum, bukan tawa yang kadang harus di tutup paksa mama karena terlalu keras. Kevin sungguh mengamati itu, kamu lelah Alya? bukankah ini hari terakhirmu magang, sudah lepas runtinitasmu yang kamu sebut ngantor.


Menenteng gitar Afkar dan duduk diseberang Kevin yang sudah lebih dulu menatap bulan dan bintang-bintangnya


" Ka, tidak terganggu kan kalau Alya main disini"


Kevin malah meminta Alya untuk duduk disampingnya


" Disini sayang, aku sudah lama tidak liat kamu main gitar, lagu yang romantis boleh?"


" Mau lagu apa?"


" Apa aja"


" Sebentar ya Alya cari dulu"


Alya membuka ponselnya dan mulai berselancar mencari lagu apa yang bisa dia mainkan.


Em C G Bm….(2x)


 Em


masih ku merasa angkuh


 C


terbangkan anganku jauh


 G


langit kan menangkapku


 Bm


walau kan terjatuh ….


 Em


dan bila semua tercipta


 C


hanya untuk ku merasakan


 G


semua yang tercipta


 Bm


[Interlude]


Em C G Bm


*)


 Em


lelah tatapku mencari


 C


arti untukku membagi


 G


menemani langkahku


 Bm


namun tak berarti….


 Em


dan bila semua tercipta


 C


tanpa harus ku merasakan


 G


cinta yang tersisa


 Bm


hampa hidup terasa….


[Reff]


                C


bagai bintang di surga


           G


dan seluruh warna


              D


dan kasih yang setia


           Bm


dan cahaya nya..ta….


              C


oh bintang di surga


          G


berikan cerita


             D


dan kasih yang setia


         Bm


dan cahaya nyata


Kevin tersenyum usai Alya menyanyikan satu lagu


" Sayang kapan balik ke kost?"


" Besok ka"


" Tidak lusa saja, besok kan hari sabtu?"


" Alya mau beres-beres dulu ka, biar senin bisa segaran ke kampus"


" Aku antar ya besok"

__ADS_1


" Boleh, ka Kevin balik ke Bandung kapan?"


" Minggu sore, mau ikut?"


" Kapan-kapan deh"


Kevin mencubit hidung Alya


" Tidak usah, nanti saja sehabis wisuda ikut sekalian ya, hehehe".


Alya meletakan gitar disampingnya dan menatap lurus ke depan


" Alya masih ingat dulu kita manjat di sana ka"


Sambil menunjuk pohon jambu di halamannya


" Iya, kamu pakai celana pendek, baju kaos, naik ke atas memetik jambu sambil bernyanyi"


" Jelek banget ya ka?"


" Iya"


Alya menendang kaki Kevin dari samping


" Aku juga jelek ya dulu?"


" Mana Alya ingat"


" Kasiannya nasibku sayang, sekarang tidak diperhatikan, apalagi dulu"


Alya cuma melirik


" Waktu sudah mentakdirkan kita bertemu, semoga takdir masih mengizinkan kita untuk bersama. Aku masih menunggu bukan hanya di awal tapi juga di ujung-ujung waktu, bahkan di tiap-tiap penjuru. kesabaran yang merayap pada hati yang sepi. Tapi aku percaya akan ujung dari sebuah penantian"


" Maaf Alya tidak bisa menjanjikan ka"


" Tidak apa, selama kamu masih mau meniatkan semua akan baik-baik saja sayang"


Alya hanya tersenyum


" Sayang, selama aku pergi nanti baik-baik ya"


" Hhmm, iya"


" Aku menghargai kejujuranmu walau akan menyakiti dan melukaiku dan membuat dadaku sesak. Bahkan seperti sekarang saat ragaku bersamamu, tapi ingatan dan mimpimu bersamanya. Atau isi kepalamu masih penuh dengannya tanpa menyisakan untukku"


" Jangan berpikir begitu, kaka tidak tau apa yang Alya pikirkan"


" Maaf aku terlalu egois dengan semua prasangka ku tentangmu, dan kadang membuatku sedikit goyah, semoga kamu bisa memahaminya"


" Sudah lah ka, Alya tidak ingin semakin tertekan begini, kaka tidak usah lagi berpikir apapun, yang terjadi kaka sudah memiliki Alya, kan selesai"


Alya menunduk


Kevin menggenggam tangan Alya


" Aku minta maaf, tapi sungguh aku mencintai dan selalu ingin melindungi agar kamu nyaman dan bahagia"


Alya mengangguk


" Ka, sudah malam, sebaiknya kita istirahat, besok jadi mengantar Alya?"


" Iya, mau jam berapa?"


" Terserah ka"


" Habis ashar bagaimana? biar nanti kita masih bisa menikmati senja"


" Sudah jatuh cinta juga dengan senja ka?"


" Apapun yang kamu cintai aku juga akan belajar mencintainya"


Kevin mengedipkan sebelah matanya, Alya hanya tertawa melihat seorang Kevin yang berperawakan tinggi, kekar, wajah tampan dewasa dengan karisma pemimpinnya, bisa berlaku kekanakan begini saat bersamanya, tapi jika dihadapan orang lain, benar-benar menjadikan dirinya paduka raja, huuh, kamu berkeperibadian ganda atau memang sudah terbutakan dengan perasaanmu sendiri?


Yogya memang tidak pernah habis cerita cantiknya, apalagi malioboro di malam hari lampu-lampu gemerlapan, sapaan yang ramah, tata kota yang eksotis, dengan lampunya dan terlihat orang-orang yang duduk lesehan di warung angkrinang. Berjalan santai dan menyaksikan sekelompok orang membawakan musik dengan menggunakan alat musik tradisional.


Alya dan Kevin memilih memasuki satu kedai bertema outdoor, sudah ada pengamen jalan yang melakukan live musik disana, beratap langit dengan lampu-lampu tertata sehingga menjadi instagramable. Memesan 2 porsi roti bakar dan 2 gelas juice, mereka menikmati suasana malam minggu ini berdua


" Sayang, ini malam minggu pertama kita"


" Heh, maksudnya ka?"


" Walaupun aku sering mengunjungimu di kost malam minggu, tapi kita belum berstatus apapun, memang dari dulu aku sudah menganggapmu kekasih, tapi tidak pernah kamu anggap, dan sejak kita di Bandung kemarin, rasanya hubungan kita ini sudah mendapatkan legalitas, hahaha"


" Kaya izin mau mendirikan usaha aja"


" Aku bahagia sekali bisa berdua begini malam minggu dengan kekasihku, kekasihku saja"


" Jangan mulai lagi ya ka"


Alya mulai memotong roti bakar dari piringnya dan memakannya


" Sayang, bagi dong".


" Itu punya kaka ada"


" Sayang liat deh itu"


Kevin menunjuk satu pasangan yang duduk tidak jauh dari mereka, sedang suap-suapan


" Aku juga ingin diperlakukan begitu"


" Iih norak"


" Alyaaa, itu namanya romantis"


" Makan aja sendiri"


" Pelit"


Kevin memotong sendiri roti di depannya, Alya melihatnya menjadi tersenyum sendiri, kasian banget sih cowo depan gue ini


Alya memberikan garpu dari tangan kanannya yang sudah berisi roti bakar dan mendekatkan ke mulut Kevin yang posisi mereka mereka duduk bersebelahan, Kevin melongo dan bingung


" Kok bengong, enggak mau? ya udah"


Alya berniat menarik tangannya lagi, dan langsung di tangkap Kevin


" Apaan enggak jadi enak aja, lanjutin, hehe"


Alya tersenyum dan kembali mendekatkan garpunya ke mulut Kevin. Kevin menerima suapan Alya dengan sangat bahagia dan matanya tak lepas memandang Alya


" Terima kasih sayangku, lagi"


Alya mendelik.


" Ogaah, makan aja sendiri"


Alya kembali memotong roti bakar dipiringnya dan menyuap ke mulutnya sendiri sambil melirik Kevin yang masih senyum-senyum genit


" Sekali lagi dong".


Alya menggeleng


" Enggak"


Kevin sangat gemas melihat kelakuan Alya, tadinya ingin dicubitnya pipi itu, tapi segera diurungkannya ketika ingat ini adalah malam minggu pertamanya dengan kekasih lama yang barunya, eh apa maksudnya sih?


Kevin mendekatkan wajah dan mendaratkan ciuman ke pipi kanan Alya


" Selamat malam minggu sayangku"


Alya kaget dan menoleh


" Ka,,"


" Kenapa? mau lagi?".


" Sekali lagi kaka mencium akan Alya suapin pake garpu"


" Waah, ayo deh"


" Bukan ke mulut kaka, tapi ke mata ka Kevin"


Kevin malah tertawa sambil merangkul pundak Alya


" Seram sih seram, tapi jangan KDRT sayangku"


Alya ikut tertawa kekasih apaan begini nyolok kekasihnya, pengen bunuh?


Kevin bahkan melakukannya sekali lagi karena kekasihnya ini terlalu menggemaskan di matanya, dan Alya tidak melakukan ancamannya, sayang juga kalau sampai cowo secakep ini cidera, Alya hanya menendang kaki Kevin dan semakin di tendang Kevin semakin erat merangkulnya


" Jangan berisik, ini tempat umum"


" Lepasin"


" Jangan menendang lagi, tapi kalau mau menciumku boleh sebanyak-banyaknya"


Alya mendorong tubuh Kevin tapi sia-sia, tenaga Kevin jauh lebih besar, dan Alya hanya bisa membiarkan pundaknya dirangkul Kevin dengan erat kemudian melemah dan akhirnya dengan rangkulan mesra. Tak lama pemandangan menjadi berubah, Kevin yang menyuapi Alya dengan garpunya, sementara Alya akhirnya luluh juga, bagaimana tidak, jika menolak satu suapan, maka akan digantikan dengan satu ciuman, cowo gila.


Menghabiskan malam Minggu ditemani lagu-lagu romantis dari pengamen jalan. Kevin bahkan tidak berani membayangkan ini akan dapat dia rasakan dengan Alya berdua, sekarang, benar kata Alya semua akan mempunyai waktunya masing-masing.

__ADS_1


Terima kasih penakluk hatiku untuk malam ini.


__ADS_2