Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Dia Tidak Merelakanmu


__ADS_3

Satu Lagu lama dari Richard Marx mulai terdengar di dalam mobil. Afkar memposisikan tubuhnya menghadap Alya dan menggenggam tangannya.


...Oceans apart day after day...


...And I slowly go insane...


...I hear your voice on the line...


...But it doesn't stop the pain...


...If I see you next to never...


...How can we say forever...


...Wherever you go...


...Whatever you do...


...I will be right here waiting for you...


...Whatever it takes...


...Or how my heart breaks...


...I will be right here waiting for you...


...I took for granted, all the times...


...That I thought would last somehow...


...I hear the laughter, I taste the tears...


...But I can't get near you now...


...Oh, can't you see it baby...


...You've got me going crazy...


...Wherever you go...


...Whatever you do...


...I will be right here waiting for you...


...Whatever it takes...


...Or how my heart breaks...


...I will be right here waiting for you...


...I wonder how we can survive...


...This romance...


...But in the end if I'm with you...


...I'll take the chance...


...Oh, can't you see it baby...


...You've got me going crazy...


...Wherever you go...


...Whatever you do...


...I will be right here waiting for you...


...Whatever it takes...


...Or how my heart breaks...


...I will be right here waiting for you...


...Waiting for you...


" Sayang, jangan membuatku merasa bersalah begini'


" Alya tidak menyalahkan ka Afkar"


" Ini ngambek, kan aku merasa disalahkan"


" Ka, sikap ka Afkar pada Aprill itu terlalu berlebihan untuk penjagaan seorang kakak kepada adiknya. Perempuan mana yang tidak berharap lebih ketika mendapatkan perlakuan yang begitu nyaman dari kakak"


" Aku hanya memperlakukannya dengan wajar".


" Sama sekali tidak wajar ka, untuk apa kaka memberikan dada kaka saat dia menangis?"


" Aku ingin membuatnya berhenti, sayang tau aku paling tidak kuat melihat wanita menangis di hadapanku kan?".


" Tidak perlu juga memeluknya ka"


" Terus bagaimana?"


" Cukup berikan kata-kata yang menenangkan saja, kakak punya ribuan kata untuk membuat wanita luluh kah, seperti kaka sering membuat Alya percaya saja walaupun mungkin saja bohong"


Afkar tersenyum


" Itu kan cuma buat sayang, mana pernah aku bohong, sayang saja yang kuperlakukan begitu"


" Kata-kata cuma buat Alya, pelukan buat wanita lain? aneh"


" Sayang, itu di luar pemikiranku, sungguh aku tidak tau sikapku itu bisa membuat dia berpikir beda denganku, aku hanya ingin memberikan perlindungan"


" Lalu soal makan? kenapa sebesar itu harus disuapi?"


" Kamu tidak tau, dia kalau makan di kamar lama, masa aku harus menunggu berjam-jam untuk menunggunya menghabiskan makan malamnya?"


" Kenapa harus di tunggu?"


" Aku harus memastikan sebelum tidur semua aktifitas sudah selesai"


" Itu termasuk tanggung jawab juga?"


Afkar diam, seharusnya tidak, tapi kenapa selama ini seperti iya.


" Aku tidak tau, tapi begitu semua aktifitas mereka selesai, aku merasa bisa tidur dengan nyenyak".


" Dan apa manfatnya sebelum tidur ka Afkar mengelus rambutnya, membisikan hal manis, ingin memasukan jiwa kakak ke dalam mimpi indahnya? sudah seharian penuh memperhatikannya malam harus masuk juga? begitu juga bangun, membelai rambutnya biar apa? biar seharian dia hanya mengingat kakak?"


Afkar diam saja, Alya benar-benar marah, dia cemburu? aku memang bertindak di luar kewajaran ya?


" Ka, kalau dengan pak Wijaya itu sangat wajar, kakak menyiapkan keperluan makan, obat dan vitamin beliau, kakak sepagian menyiapkan akan berangkat shalat subuh di mesjid, itu memang kewajiban kakak untuk membayar jasa beliau. Tapi Aprill itu diluar kewajaran ka, pertama dia itu anak gadis orang, sedang kakak siapa? kakak kandungnya? atau sekalian pelayannya? itu baru bisa ka. Kakak hanya lelaki baru yang muda, cakap, pintar, bodi bagus, dan,,, sedikit tampan".


Afkar menarik sudut bibirnya, kekasihku, sulitnya untukmu memujiku.

__ADS_1


" Apa tersenyum?"


" Tidak, lanjutkan saja ngomelnya"


" Wanita mana yang diperlakukan begitu dari seorang Afkar dan tidak jatuh cinta? tidak ada, termasuk Alya dan Aprill"


Afkar mendengarkan semua ocehan Alya yang sebagian benar menurutnya, tapi sebagian lagi berlebihan.


" Tidak ada yang memberikanku peringatan sebelumnya, aku tidak tau akan begitu"


" Dan satu lagi ka"


Afkar mengangguk dengan gaya seperti seorang murid yang terciduk menyontek saat ulangan kemudian mendengarkan nasihat guru agar tidak lagi mengulanginya, masih setia menunggu omelan apalagi yang akan keluar dari bibir kekasihnya, suka sekali sih mengomel, kalau nanti menikah apakah setiap hari aku akan mendapatkan suasana begini? bisa pusing kepalaku sebelum ke kantor sarapannya seperti ini.


" Kenapa Aprill harus meminum kopi dari gelas ka Afkar? kenapa tidak minta buatkan bibi-bibi nya saja?"


" Begini sayang, dia itu tidurnya tengah malam, aku tau setelah aku pulang jam sepuluh malam dari rumahnya dia tidak tidur, dia pura-pura, kulihat dia online sampai jam dua belas, kadang ku chat untuk memintanya tidur, baru dia berhenti. Kalau dia meminum kopi, dia semakin saja tidak bisa tidur, kan aku sendiri yang repot membangunkannya untuk shalat dan kuliah"


" Kenapa jadi urusan kakak lagi sih dia mau bangun jam berapa jam berapa, memang sebelum ka Afkar datang dia pernah telat kuliah?"


" Dia kan harus shalat sayang? sebelum aku datang, dia mengaku jarang shalat subuh"


" Okee, lalu apalagi alasan untuk meminum kopi dari gelas kaka?"


" Kalau dia suka minum kopi sepertimu, siapa yang akan mengajaknya ke kedai kopi? aku tidak akan membiarkannya bersama teman-temannya, pak Wijaya akan khwatir jika itu terjadi, lalu bersamaku? mana aku punya waktu untuk menemaninya, aku sudah punya banyak urusan, tidak mungkin itu, jadi lebih baik dia tidak mengenal kalau meminum kopi di cafe itu sangat menyenangkan, cukup kamu wanita satu-satunya yang akan aku temani untuk itu".


" Mendengar jawaban kakak, seolah kakak benar semua, tapi sayangnya itu salah semua ka?"


Afkar menggeleng.


" Aku tidak mengerti maksudmu"


" Intinya ka, Aprill itu jatuh cinta pada ka Afkar karena perhatian dari kaka yang berlebihan"


" Ooh".


" Oh apa?"


" Aku baru tau sekarang, ya sudah. Kan aku sudah mengenalkanmu tadi padanya kamu adalah kekasih ku dan kita akan menikah, kenapa kamu sibuk mempermasalahkan ini?"


" Dia Aprill ka, bukan Cindi"


" Kenapa bawa Cindi lagi sih, aku tidak mau mengajaknya, sayang tau tidak, sekarang saja mobil kita sudah mulai berat banyak penumpang nih, hehehe"


" Alya tidak bercanda ka, maksud Alya kemarin ka Afkar bisa dengan mudah memutuskan Cindi karena kakak tidak punya beban, tidak ada jasa yang harus dibayar"


" Membayar jasa? kepada Pak Wijaya?'


" Iya"


" Dia orang yang tulus Alya"


" Melalui Aprill ka, jasa itu harus terbayar karena permintaan Aprill".


Afkar melepaskan tangannya dari tangan Alya dan bersandar di kursi dengan kepala sedikit di rebahkan.


" Maksudmu aku harus menerima semua permintaan Aprill?"


" Entahlah, tapi ka Afkar tidak bisa menolak karena membayar jasa pada Pak Wijaya"


" Permintaan Aprill yang mana?"


" Untuk tidak meninggalkannya, apalagi untuk seorang Alya yang baru ditemuinya, orang baru yang akan mengambil ka Afkar dari sisinya"


" Jangan terlalu jauh berpikir begitu sayang, ini tidak serumit yang kamu pikirkan"


" Mungkin akan lebih rumit ka, Alya mempercayai hati ka Afkar hanya untuk Alya, sungguh Alya percaya itu, tapi Alya lupa bahwa di luar sana banyak hati yang menunggu untuk ka Afkar cintai"


" Sayang, aku tidak pernah ingin hal lain selain kamu, cukup kamu saja"


Tiiitt,,


Panggilan telepon


" Iya bang Jali"


" Non Aprill mengamuk, ikam dimana?"


" Ulun masih di parkiran rumah sakit, ulun langsung masuk"


Afkar menatap Alya.


" Aprill mengamuk, sayang tunggu di sini atau ikut masuk?"


" Alya tunggu di sini saja ka".


Afkar mengecup kening Alya


" Tunggu aku jangan kemana-mana"


Afkar langsung turun dari mobil, dan berlari masuk ke dalam rumah sakit. Alya menatapnya dari dalam mobil dengan hati yang kecewa. Ka Afkarku bukan yang dulu lagi. Bukan seseorang yang memohon untuk kucintai, seseorang yang memang menutup hatinya untuk mencintai wanita lain, tapi lupa menutup pintu lainnya untuk dimasuki hati yang lain, dan sekarang dia sudah bukan Afkar yang terlihat lemah lagi, dia memiliki segalanya, termasuk hati-hati lain yang memiliki kuasa lebih daripada aku yang mengandalkan cinta, cinta pertama.


Aku takut kehilanganmu ka, begitupun Aprill.


Sudah setengah jam, Ka Afkar masih belum menghubungiku, mengamuk apa Aprill di dalam sana sehingga Ka Afkar belum bisa keluar atau sekedar mengabariku.


Alya mengelurkan ponselnya dan mengirim pesan di group WhatsApp


" Maaf mengganggu, ada yang sedang tidak sibuk?"


Lima menit kemudian


" Ada apa Al? gue lagi santai aja di showroom"


" Gue mau curhat"


" Curhat aja, gue baca"


" Gue baru mau masuk lagi, tadi makan siang dan shalat"


" Ron, Arga, gue lagi sedih"


" Afkar lagi?"


" Iya, dia sudah melamar gue, ini kami mau beli cincin pernikahan, tapi masih ada masalah"


" Apalagi?"


" Puteri majikannya mencintai ka Afkar"


" Afkar nya milih lo kan?"


" Iya, tapi tidak akan mudah untuk kami melanjutkan ini Ga, ka Afkar harus membalas jasa papah gadis itu"


" Jasa apa? keluar saja dari perusahaan itu, cari kerjaan lain, waluapun tidak mempunyai jabatan lagi, tapi kalian bisa memulai bersama kan?"

__ADS_1


" Tidak seperti itu Ron, ka Afkar sudah banyak tertolong oleh Pak Wijaya, sehingga dia bisa menjadi sekarang, dan puteri beliau mencintai ka Afkar. Ka Afkar tidak mungkin meninggalkan mereka dengan seenaknya setelah Pak Wijaya memberikannya kehidupan yang sangat baik hanya karena gue yang terlihat sebagai orang baru"


" Maaf baru menyimak, ka Afkar milih lo kan Al? ya sudah perjuangkan saja, ini kan hidup lo, masa lo ngalah-ngalah terus, engga capek"


" Gue capek Syl, tapi apa hidup gue bisa tenang menyakiti hati wanita lain?"


" Bukan lo yang nyakitin Al, ini adalah tanggung jawab ka Afkar untuk menyelesaikannya dengan menjauhi wanita itu dan menikahi lo, bukan kewajiban lo untuk mundur"


" Gue tidak bisa merebut ka Afkar darinya Syl, ka Afkar terlalu memberikannya perhatian sehingga wajar gadis itu menginginkan hubungan yang lebih dari kakak dan adik".


" Lo omongin dulu deh sama ka Afkar Al, jangan mengambil keputusan sendiri, dulu lo mengambil keputusan sendiri tanpa melibatkan ka Afkar akhirnya begini kan? malah kalian berdua yang menderita, sekarang lo sudah berencana menikah, masa lo mundur begini"


Kretek, Afkar membuka pintu dan duduk di kursi pengemudi, menoleh dan tersenyum


" Maaf sayang, lama menunggu"


Alya mengangguk


" Tidak apa ka, Alya juga sedang chating sama teman-teman"


" Ooh, kita jadi ke Martapura?"


" Boleh pulang saja tidak?"


Afkar meraih jemari Alya dan menciumnya


" Terserah sayang saja, kalau besok mau ya, jangan diundur lagi"


Alya mengangguk.


Afkar memutar kemudi dan berbalik arah menuju Banjarmasin lagi


" Aprill kenapa ka?"


" Tidak apa-apa, masih anak-anak dia"


Alya melirik


"anak-anak apa? dia sudah jatuh cinta pada kaka"


Afkar tidak menjawab.


Hey itu apa


" Ka, lengannya kenapa?"


Alya memegang lengan Afkar yang seperti habis kena cakaran


" Tidak apa"


" Berantem sama Aprill? ka Afkar dicakarnya?"


Afkar diam saja sambil terus berkonsentrasi pada jalan.


" Aprill marah sama Alya kan ka?".


" Tidak, jangan dipikirkan sayang, dia sudah menjadi urusanku, nanti aku yang bicara pada pak Wijaya"


" Bicara apa?"


" Sepertinya beliau harus bicara dengan puterinya, aku tidak mau kehidupan cintaku hancur kembali"


" Lalu?"


" Sayang, jika aku tidak lagi menjadi manager dan mencari pekerjaan lain, sayang masih mau berjuang denganku?"


Alya menatap Afkar


" Ini bukan masalah Alya mau atau tidak ka, Alya selalu bersedia sejak dulu, ini masalah tanggung jawab ka Afkar ada Aprill"


" Sayang, aku tidak melakukan apapun yang membuat aku harus bertanggung jawab padanya"


" Ka, Aprill sudah masuk ke dalam pesona dan kebaikan kaka, tidak akan mudah baginya untuk melepaskan kakak untuk Alya"


" Bisakah kita untuk hanya memikirkan masa depan kita? jangan memasukan orang lain lagi, aku sudah lelah"


" Alya juga ka, Alya tanya . Jawab jujur di dalam tadi kenapa lama sekali?"


" Aprill marah"


" Lalu?"


" Dia kembali mengancamku untuk memberitahukan pak Wijaya tentang kita"


" Tentang kita?"


" Alya, aku sudah sangat siap menghadapi apapun, tolong aku. Apa kamu masih mau berjuang bersamaku di saat aku kembali tidak mempunyai apa-apa?"


" Ka, Alya benci pertanyaan ini, apakah Alya mempermasalahkan itu? Alya hanya ingin ka Afkar tegas, pilih Alya atau Aprill?"


" Tentu saja aku memilihmu"


Afkar membelokan kemudinya pada bundaran Liang Anggang menuju Banjarmasin.


" Tapi terlihat dari sikap ka Afkar juga menyayanginya"


Afkar terdiam.


Tiiiit.


Panggilan video


Alya membuka ponselnya, ka Kevin?


Afkar melirik, dadanya bergemuruh hebat.


" Kenapa tidak diangkat?"


Alya diam


" Angkat saja"


Alya melirik lelaki disampingnya yang terlihat sedang tidak baik


" Alya tidak ingin membuat ka Afkar berpikir yang tidak-tidak, ka Kevin sudah lama sekali tidak menghubungi Alya"


" Aku akan berpikir begitu jika tidak kamu angkat sekarang"


" Kami sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi ka"


" Aku percaya, angkat saja, mungkin aku bisa berkenalan dengannya sekarang"


Alya membiarkan ponselnya berdering dan tidak lama mati karena tidak di terima.


Alya menoleh lagi ke arah Afkar yang fokus menatap ke arah jalan. Ka Kevin kenapa menghubungiku di keadaan gawat begini sih?.

__ADS_1


__ADS_2