
Alya memasukan buku catatan kuliahnya ke dalam tas, sudah setengah 11. Mengeluarkan handphone dan membuka pesan
" Sayang mungkin aku agak telat jemput, bisa nunggu setengah jam tidak?"
Ka Kevin
" Sayang, kalau kuliahnya sudah selesai bisa aku telf?'
Ka Afkar
Alya langsung membalas pesan Kevin
" Iya ka, Alya tunggu di kampus, ini masih ada urusan juga" Pesan terkirim
Menekan tombol panggilan telepon
" Assalamualaikum"
" waalaikum salam ka"
" Kuliahnya sudah selesai sayang?"
" Sudah ka"
" Bisa bicara sebentar"
" Sampai besok juga Alya lawan"
" Nantang banget sih sayangnya Afkar. Begini aku cuma mau bilang lusa aku mau pulang, sayang tidak kemana-mana kan?"
" Pulang?"
" Iya, kangen sama kekasihku"
" Ada urusan ya ka?"
" Iya, rindunya sudah enggak bisa di tahan lagi"
" Alya ini enggak mimpi kan?"
" Enggak"
" Beneran ka?"
" Sayang kenapa?"
" Kaget aja"
" Ya udah ini aku masih ada tamu, nanti kita sambung lagi ya sayang"
" Iya ka"
" Assalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Emuuah"
" Hehehe".
Alya menutup panggilan telfonya dan kelur ruangan mencari Arga yang juga sudah selesai kuliah di ruang berbeda
" Arga".
Arga menoleh melihat Alya berlari mendatanginya
" Sudah tua masih aja suka lari, sesekali ikutan lomba deh lo, siapa tau dapat setrikaan".
" Ga, gue lagi malas becanda, duduk sini, gue mau ngomong"
Alya menarik tangan Arga menuju bangku di depan salah satu ruangan yang kebetulan kosong
" Apaan?"
" Ga, ka Afkar barusan nelfon, dia mau datang lusa"
" Ooh bagus, kan lo sudah kangen juga"
" Gue gimana?"
" Ya di sambut lah, kekasih lo kan, perlu gue adakan pesta penyambutan pakai kalung bunga dan tarian?"
" Enggak perlu".
Arga tertawa
"panik sih panik Al, tapi enggak usah pake **** segala".
Alya menatap Arga
" Ka Kevin gimana?"
" Lo mau umpetin kaya waktu umpetin Afkar dulu, gue siap ajakin Kevin jalan-jalan muter-muter juga sebagai balasannya, gantian kan biar adil".
Alya meninju bahu Arga
" Ga,,simpati sedikit sama gue kenapa sih?"
" Ini gue simpati, mau nyariin jalan keluar".
Sylvia menepuk pundak Alya
" Lagi ngomongin apa sih mukanya sampe gitu".
Alya menoleh
" Sini duduk Syl. Begini lusa ka Afkar datang"
" Terus?"
" Ka Kevin gimana?"
" Lo kan jago lari, ya lari aja ,,,dari kenyataan, hehehhe"
" Sebel gue sama lo berdua, ini gue serius".
Sylvia dan Arga saling berpandangan.
" Mungkin ini sudah saat nya Al, lo tidak bisa ngulur-ngulur waktu lagi"
Arga mengeluarkan sebatang rokok dari tas nya dan mulai menyalakan api
" Sejak kapan lo ngerokok?"
Sylvia terbelalak
" Sejak gue mulai kesal sama Alya"
Alya melirik Arga dengan tatapan sinis juga
" Gue yang kesal sama lo"
" Ini apaan sih, gue kok enggak tau kalau lo berdua berantem"
" Tau nih Arga"
__ADS_1
Alya membalikan tubuhnya agar asap rokok Arga tidak mengenai wajahnya
" Syl, tolongin gue".
" Bener kata Arga, kayanya ini saatnya lo bikin keputusan, sebelum keduanya bertemu, seram gue bayanginnya Al"
Alya tertunduk
" Gue sayang banget sama Ka Afkar"
" Ya udah putusin ka Kevin"
" Tapi gue sudah terlanjur nyaman ada yang melindungi gue Syl"
Sylvia merangkul pundak Alya
" Masih ada kita Al, biarpun kita sudah tidak sesering dulu ngumpul, lo masih bisa minta bantuan kita Al, iya kan Ga?"
Arga melirik
" Iya, kalau dia masih nganggap kita sahabatnya"
" Lo kok ngomong begitu Ga?"
" Tanyain aja Alya".
Judika,,,
" Iya ka"
" Aku sudah di parkiran sayang"
" Iya, Alya turun ka".
Alya menutup telfonnya
" Ka Kevin di bawah, jemput gue"
Sylvia menggenggam tangan Alya
" Gue percaya lo sanggup memutuskannya".
Alya menoleh ke Arga yang sudah mematikan sebatang rokoknya.
" Ga, lo janji ya kalau gue perlu apa-apa lo masih ada buat gue"
Arga tidak mengangguk dan tidak menggelang, hanya menatap tajam Alya
" Ga, ntar ke dokter THT lo, ditanyain enggak denger. Syl, gue balik duluan ya"
" Iya, hati-hati Al".
Alya berjalan menuruni tangga diikuti tatapan dua sahabatnya
" Ka Afkar ngapain pulang sekarang ya Ga?"
" Gue yang nyuruh"
" Hah? kapan?"
" Tadi malam"
" Kenapa?"
" Gue takut Alya makin tidak bisa mengakhiri ini Syl, Afkar harus tau"
" Kenapa?"
" Karena kalau Afkar datang, sedetik saja, Alya pasti bisa memutuskan pilihan nya"
" Iya, Afkar adalah napasnya"
" menurut lo hari ini Alya akan ngomong putus sama Kevin?".
" Menurut gue, tapi kita liat aja, seberani apa dia nanti akan menentang keluarganya".
Sylvia menyandarkan tubuhnya di sandaran bangku
" Semoga yang terbaik ya Ga"
"Aamiin".
Kevin membukakan pintu untuk Alya.
" Maaf telat ya sayang, ada sedikit revisi tadi"
" Enggak apa-apa ka. Kalau sibuk Alya bisa kok minta anterin Arga atau Roni"
" Aku selalu senang kok kalau bisa antar dan jemput sayang"
" Hehehe".
" Kita makan di mana ya?"
" Terserah aja ka".
Kevin mulai menjalankan mobilnya.
" Ka, Alya bisa ngomong sesuatu?"
" Banyak juga enggak apa-apa, ngomong apa sayang?"
Alya memandang wajah kokoh Kevin, tampan nya kamu hari ini ka, sayang banget kalau ketampananmu ini hanya akan berakhir sia-sia bersamaku
" Ka, Maafin Alya sampai sekarang Alya belum bisa mencintai kaka"
" Aku akan bersabar sayang"
" Bagaimana kalau Alya memang belum mencobanya".
Kevin diam saja dan membelokan mobilnya di sebuah halaman taman kecil. Memarkir mobil dan sedikit membuka kaca mobilnya, terasa angin alami bisa masuk ke dalam. Menekan tombol di samping tangan kanannya dan mulai menurunkan sedikit kaca jendela Alya. Tangannya meraih remote dan mulai mencari lagu pada tape mobil. Bukan lagu, hanya instrumen Ludwig van Beethoven.
" Kenapa diam sayang? aku mendengarkan"
" kenapa kaka berhenti disini, membuka kaca mobil dan malah menyalakan musik begini"
" Aku tidak bisa melanjutkan perjalanan sebelum aku benar-benar mendengarkan penjelasan mu, sepertimya aku harus mendengar dengan teliti alasan-alasanmu untuk belum mencobanya. Mungkin dengan mendengar musik ini nanti aku lebih bisa menenangkan hatiku jika nanti akan ada kata-katamu yang bisa membuatku terluka"
Alya menatap Kevin dengan sendu, bagaimana aku akan memulainya?dari mana?
" Ka, maafin Alya"
" Jangan meminta maaf duluan, aku kan belum tau sayang mau ngomong apa, siapa tau itu bukan suatu kesalahan, iya kan?"
Kevin tersenyum, kenapa hari ini senyummu manis ka? apakah kemarin begini juga tapi aku tidak memperhatikan?
" Ka, sebenarnya Alya sudah mencintai orang lain sebelum ka Kevin?"
Hening.
" Alya jatuh cinta padanya sejak Alya baru masuk kuliah, tapi kemudian dia pergi ke kota lain, selama dua tahun. Tiba-tiba ka Kevin datang sedang Alya belum punya status dengannya walaupun kami tau kami saling mencintai. Alya baru saja akan memulai untuk belajar mencintai ka Kevin, dan dia datang untuk memberikan kepastian kami. Alya menerimanya ka".
Alya tertunduk lemas.
" Sejak kapan Al?' terdengar begitu lirih
__ADS_1
" setelah ka Kevin meminta Alya untuk belajar mencintai ka Kevin"
" Aku yang mengambilmu darinya atau dia yang mengambilmu dariku?"
Deegg, pertanyaan apa ini? tentu saja lebih dulu ka Afkar
" Lebih dulu Ka Afkar ka, bukankah perasaan itu sudah dua tahun sebelum ka Kevin datang"
" Katamu setelah aku memintamu belajar mencintaiku"
" Iya kedatangannya memang setelah itu"
" Artinya dia yang merebutmu dariku"
" Tidak seperti itu ka"
Hening.
" Jadi selama ini aku di duakan?"
Alya menunduk dan semakin dalam
" Alya sudah lama ingin mengatakan ini ka, tapi selalu saja berbagai halangan datang, dari tante Risma selalu menelfon Alya, mama yang juga semakin over sama Alya, kaka semakin perhatian sama Alya, semakin membuat Alya nyaman, dan Alya tidak tega untuk mengatakannya ka"
" seandainya ini kamu katakan sebelumnya mungkin tidak membuat aku kecewa begini Al".
Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.
" Jadi sekarang kita bagaimana?"
Kevin memandangi Alya yang masih saja tertunduk
" Sepertinya ini memang harus diakhiri sekarang ka"
" Setelah aku kamu buat menggilaimu begini?'
" Alya tidak memaksa kaka untuk mencintai Alya kan? ini ide orang tua kita kan?"
" Iya, ini memang berasal dari orang tua kita, lalu kita menjalaninya"
" Hubungan kita terlalu dicampuri orang tua ka"
" Awalnya memang begitu, aku juga bertanya dalam hatiku kapan kamu bisa menganggapku selayaknya kekasih, tapi apa artinya akhir-akhir ini kamu semakin baik dan semakin membalas cintaku. Kamu juga menanyakan jadwalku, kamu menanyakan tadi malam aku tidur jam berapa, menanyakan bagaimana perusahaanku, menanyakan kuliahku, bahkan sesekali kamu juga menggandeng tanganku saat aku terlepas menggandeng tanganmu saat di mall. Kamu juga memberikanku tatapan hangatmu seakan mengatakan kamu sudah bisa menerimaku, itu sama sekali tidak ada campur tangan orang tua Alya, itu adalah sikap spontan kita"
" Iya, Alya memang memperlakukan kaka lebih baik sekarang, karena kaka memang baik dan sudah pantas Alya membalas kebaikan kaka"
" Alya, ini artinya kamu sebenarnya sudah mau belajar,.kalau kamu tidak ingin mencobanya, tentu tidak akan membawamu pada sikapmu yang baik akhir-akhir ini"
" Ka, apapun itu, tapi Alya memang hanya akan kembali dan tetap mencintai kekasih Alya"
Kevin menyandarkan kepalanya dan membuka seluruh kaca jendelanya. Menghirup angin sebanyak yang mampu dilakukan oleh hidungnya. Tangannya mengepal, betapa ingin dihancurkannya kaca jendela itu dengan jari-jarinya. Aku diduakan? oleh Alya? tidak tanggung-tanggung, selama 6 bulan. Bodohnya aku sampai tidak mengetahuinya. Dimana harga diriku, aku terinjak-injak oleh kebodohanku, tidak semenarik itu kah aku di mata kekasihku sendiri. Cinta yang kubangun dipandang gerah, bahkan sekarang kamu taburkan duri penghancur nadi untuk kulewati. Masih jelas terbayang suara lembutmu yang bergetar di sela lirih hujan, menyeka air hujan di wajahku yang basah. Aku juga masih bisa merasakan hangat jantungku saat kamu sandarkan kepala di punggungku, betapa berartinya aku saat itu. Sekarang hujan yang merindukan titik pada wajahku itu mengalir hingga darah mencumbu napasmu yang bahkan kau hentikan. Ataupun pelukan sepi yang bersandar ragamu di punggungku kau patahkan.
" Siapa dia Al?"
"Afkar Rahadian. Dia bekerja di Surabaya"
" Bekerja dimana?"
" Apa itu penting?"
" Aku hanya akan merelakanmu jika ia pantas untukmu".
" Alya yang akan memantaskan diri untuknya"
Kevin memejamkan mata menahan amarahnya, kamu ini sungguh keterlaluan, selama ini aku berbuat sebanyak-banyaknya kebaikan untuk mengubah penampilanmu, gaya bicaramu, bahkan gaya hidupmu, agar apa? agar kamu pantas untukku, seorang Nyonya Kevin pemilik perusahaan, kamu sekarang malah mengatakan kamu akan memantaskan dirimu untuknya, siapa dia Alya? pemilik apa dia? aku tidak pernah mendengar namanya dari perusahaan mana, aku hanya tau Arga Fernanta, sahabatmu itu calon penerus tunggal perusahaan PT. Reksa Persada yang sudah mempunyai 5 anak perusahaan besar, dan sahabatmu Roni, pemilik shoowroom terbesar di kota ini. Aku pastikan kamu tidak tau Alya kalau silsilah keluarga sahabatmu itu bernama besar, kalau sahabatmu sekelas mereka bahkan kamu tidak segannya dan begitu berani mengolok dan mengerjai mereka padahal mereka orang besar. Aku, bahkan sekarang sedang menunggu peresmian saja karena aku sudah menjadi pimpinannya, kamu acuhkan dan terinjak-injak harga diri begini. Siapa kekasihmu itu?. Seberharga dan sebesar apa dia? Dari keluarga mana mereka?.
" Kamu mau kita berpisah Alya?"
" Maafin Alya ka, tidak ada jalan lain"
Kevin menatap sendu Alya
" Bagaimana kalau kita break dulu saja?"
" Kenapa?"
" Aku tidak siap menerima ini sekarang, banyak hal yang sedang ada di pikiran ku, dan kumohon kamu masih mau mempertimbangkan ini"
" Alya tidak ingin lebih lama kita larut dalam keadaan ini ka, inipun sudah sangat telat, harusnya sudah Alya katakan dulu".
" Kumohon Alya,, aku minta kita break saja dulu, aku tidak akan menghubungi mu, aku tidak akan menjemput dan mengantar mu, aku tidak akan menemanimu jalan-jalan, aku tidak akan menemanimu sarapan, makan siang, makan malam, ke kedai kopi, ke resto favorit kita, ke perpustakaan, ke mall, ke boutique. Kita saling mengistirahatkan pikiran, andai kita bisa benar-benar saling melupakan, kita akan berpisah baik-baik, bukan seperti ini"
" Kita ini sedang berpisah baik-baik ka"
" Baik untukmu, belum baik untukku"
" Alya tidak mau, Alya tidak ingin ada perjanjian apapun lagi pada kaka, nanti Alya lagi yang salah karena kebodohan Alya"
" Kamu tidak bodoh sayangku, justru kamu terlalu cerdik mampu membuat aku tidak bisa melepaskanmu begini saja"
" Tidak ka, Alya ingin benar-benar tidak ada halangan lagi bersama Ka Afkar"
" Aku penghalang nya maksudmu?"
" Bukan kaka, tapi ide aneh orang tua kita"
" Aku tidak melarangmu untuk mencintai dia, silakan kamu lakukan apa yang kamu mau, tapi jangan putuskan hubungan ini, kita break selama sebulan, nanti kita akan saling berkabar setelahnya, disana kita akan tau apakah kita masih saling membutuhkan atau tidak"
Alya terdiam, ide apa lagi ini, jangan membuatku terpojok lagi nantinya. Otakku belum sampai untuk bisa menterjemahkan apa yang kamu mau. Aku hanya ingin bebas, aku ingin bertemu kekasihku.
Alya membuka pintu mobil dan berjalan ke taman, Kevin segera mengunci mobil dan berlari menghampiri Alya
" Alya, jangan lari, aku belum selesai"
Alya menoleh
" Alya tidak lari, Alya lapar ka"
Kevin tersenyum walaupun terasa sangat hambar
" Maaf, aku sampai lupa kita belum makan dari tadi, mau makan apa?"
" Kita makan di sini saja ka"
" Di sini?"
Kevin memandang sekeliling, tenda-tenda kecil dengan berbagai menu sederhana yang disajikan, tempat cuci piringnya pun terlihat dari sini, apa bisa kita makan di tempat lain Al? batinnya, tapi kembali apapun maunya Alya, akan tetap diturutinya.
" Jadi bagaimana sayang? kamu setuju untuk kita break dulu? satu bulan"
Alya menoleh sambil tetap meneruskan makannya sambil duduk di bangku panjang taman itu.
" Terserah Kaka, tapi Alya janji, apapun yang terjadi Alya akan selalu mencintai Ka Afkar".
Kevin mengangguk
" Aku janji tidak akan mengganggumu dulu sayang, kita juga tidak tau apa yang bisa saja terjadi selama satu bulan ini".
Mereka melanjutkan makan siang duduk di taman kecil itu. Kevin sangat berusaha untuk bisa melahap hidangan di depannya, tapi selain hatinya memang sedang sakit, tempatnya juga membuatnya seakan tidak bisa menelan, makan di tempat terbuka begini, duduk pun di bangku panjang di tengah taman, bagaimana jika ada yang melihatku begini, tertunduk dan kembali lesu.
Di sebrang kota
Begitu mendengar kalimat Arga, Afkar teramat gelisah, apa yang sedang terjadi dengan bidadariku, kami baik-baik saja, tidak ada perlakuan Alya yang berbeda, sesekali memang dia tidak mengangkat panggilan video ku, tapi kemudian dia dengan cepat akan membalas panggilan telfon ku, katanya sedang bersama teman-temannya, tidak enak melakukan video call. Postingannya pun masih sama seperti dulu, bermain gitar di kedai kopi, mengerjakan tugas dengan teman-teman di perpustakaan, sarapan dengan sambal yang banyak, makan siang, makan malam, ke mall. Tidak ada yang aneh. Tapi kabar singkat Arga ini pasti sangat penting. Aku tidak bisa lagi mengabaikan hal-hal yang kuanggap remeh, apapun bisa saja terjadi dengan hubungan berjarak ini.
Setelah sampai di kantor dan absen, Afkar langsung menghadap, bu Laily untuk meminta cuti lagi, sepertinya tidak bisa satu tahun mengambil dua kali cuti. Beri saya dua hari saja bu. Bu Laily menyetujuinya, Afkar pun langsung menelfon Alya untuk memastikan Alya masih ada di Jogya dan tidak kemana-mana, setelah Alya menjawab dia ada di tempat, Afkar langsung memesan tiket penerbangan sore hari, lusa.
__ADS_1