Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Buat Aku Tenang


__ADS_3

Kevin mengetuk-ngetuk jari nya pada kemudi mobil di depan nya. Sesekali kepalanya menoleh ke samping kanan melihat dari kaca jendela. Terlihat seorang pria berusia 40 tahunan berbadan kekar mendekati mobilnya dan mengetuk kaca jendela kirinya. Kevin menekan tombol di sampingnya dan membiarkan lelaki itu bisa masuk dan duduk di samping nya


" Maaf tuan, saya terlambat"


" Tidak apa, saya baru sampai 5 menit yang lalu"


" Apa yang bisa saya bantu?"


Kevin melirik ke arah pria itu.


" Carikan saya informasi sebanyak-banyaknya dari seseorang"


" Baik, data apa yang akan bisa membantu saya menemukannya?"


" Namanya Afkar Rahadian, dia bekerja di Surabaya".


Lelaki itu terdiam


" Ada info tambahan lagi tuan?"


Kevin mencoba mengingat kembali percakapan 2 hari yang lalu bersama Alya.


" Dia pernah bekerja di sini, pindah kerja ke Surabaya baru 2 tahun"


Lelaki disebelahnya masih saja menunggu


" Dia punya kekasih, namanya Alyana Putri"


" Maaf tuan, boleh tau bekerja dimana?"


" untuk itu aku meminta bantuanmu, turunkan semua anak buahmu mendapatkan informasinya padaku"


" Tuan punya fotonya?"


" Tidak ada"


" Kapan kami sudah bisa bekerja?"


" Hari ini, aku minta kamu sudah memberikan informasi selama tiga hari"


" Baik tuan"


Lelaki itu pamit dan keluar dari mobil Kevin.


Kevin menyandarkan kepalanya pada sandaran kursinya


Siapa dia Alya?? kenapa begitu berartinya untukmu sampai aku merasa terhina dan tidak berartinya untukmu?.


Ponselnya bergetar


" Iya pa Budi?"


" Mobil pesanan tuan sudah saya antarkan dan sudah saya masukan ke garasi. Kunci dan surat-suratnya saya titip sama Bi Yani"


" Baik Pa Budi, terima kasih"


" Sama-sama tuan".


Klik.


Alya kamu pernah mengatakan padaku, gelang kakimu yang berisik itu nanti akan bisa membantuku mencarimu di saat aku kehilanganmu, ternyata itu tidak benar, bahkan semua yang sudah aku berikan sama sekali tidak bisa mengikat hatimu. Maaf untuk kali ini aku akan mengirimkan mata-mata ke Surabaya, aku hanya ingin tau siapa Afkar. Seberapa besarnya dia sampai kamu harus memantaskan diri untuknya dan melepaskanku yang sedang berusaha memantaskan kamu untukku.


Sudah pukul setengah delapan pagi, kenapa ka Afkar belum menghubungiku, aku kan mau kuliah


Tiiit,,tiit.


Huh, kenapa dari tadi cuma nada tunggu, apa Ka Afkar marah dengan ceritaku tadi malam?


Judika,,


" Assalamualaikum ka"


" Waalaikum salam sayang, maaf tadi aku ketiduran, ini baru bangun"


" Ooh enggak apa-apa, Alya cuma mau berangkat kuliah dulu, kaka gimana?"


" Iya, nanti aku kabari"


" Iya deh, Alya pulang jam setengah 11 ka"


" Iya, maaf ya tidak bisa mengantar"


" Enggak papa ka, tapi nanti jemput ya "


' Iya sayang".


" Assalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Klik


Lho, ditutup? mana salam ciumnya???. Jangan-jangan lagi mengigau, hehehe, coba tadi aku video call aja biar keliatan dia masih tidur atau sudah bangun.


Afkar menatap ponselnya, semalaman aku tidak bisa tidur, setelah shalat subuh baru aku terlelap dan kaget ada telfon masuk. Pikiranku kacau, bukan hanya sedih, tapi cemburu, luka dan takut. Walaupun kamu bilang kamu tidak punya hubungan lagi dengan Kevin, tapi bagaimana perasaan nya? bagaimana orang tua kalian? Kesalahanku yang terlalu lamban. Membuka phonenbook dan menekan tombol hijau


" Assalamualaikum"


" Waalaikum salam, aku sudah datang, kamu pagi ini kuliah?"


" Gue masuk jam 11, kenapa?"


" Bisa kita bicara"


" Lo dimana?"


" Aku di hotel Lestari"


" Sebentar lagi gue kesana, lo sudah sarapan?"


" Belum"


" Mau gue bawain bubur ayam? ini gue lagi sarapan"


" Boleh, terima kasih Arga"


" Okee, Assalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Klik.


Arga,, terima kasih bantuannya, dan maaf sepertinya aku akan banyak meminta bantuanmu lagi. Afkar bangun dan menuju kamar mandi untuk mandi, sebentar lagi Arga akan datang, butuh jiwa dan raga yang kuat untuk mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi selama ini. Semoga aku kuat.


Arga membuka tirai dan jendela kamar hotel Afkar


" Gue merokok, lo enggak keberatan kan"


Afkar menggeleng


" Silakan, kamu mau minum apa? sekalian aku mau bikin minuman"


" Kopi ada?".


" Ada"


Afkar menyeduh secangkir kopi dan secangkir teh hangat, meletakan kopi di samping Arga. Dia sendiri duduk di kursi dekat tempat tidur


" Aku makan ya Ga".


" Ya, silakan"


Sambil terus mengisap rokoknya


" Sejak kapan kamu merokok?"


" Baru beberapa minggu ini, kadang gue suntuk, coba-coba ternyata gue ketagihan, gue tau ini enggak sehat, tapi nanti gue kurangi"


" Kedengarannya sama kaya janji Alya, katanya mau ngurangin makan sambel pelan-pelan, sampai tadi malam tetap nyendok sambel sesuka hati"


Arga dan Afkar tetawa


" Gue sering beliin obat mulesnya, sudah bosan gue ngasih tau, enggak di pake juga, mending beliin obat sakit perutnya"


" Hahaha".


" Kapan lo datang?"


" Kemarin sore, Alya yang jemput, tidak bilang dia?"


" Dia cuma bilang lo datang, tidak bilang mau jemput, kalau dia bilang gue bisa kok jemput lo"


" Terima kasih Arga, kami sudah banyak merepotkan kalian".


" Biasa aja, tapi akhir-akhir gue sadar kami semakin jauh dari Alya"


" Iya, Alya pernah cerita"


" Gue minta maaf Afkar, baru ngasih tau lo sekarang tentang kelakuan Alya, setiap gue bilangin dulu, dia selalu jawab akan mengakhiri hubungannya dengan Kevin secepatnya, jadi gue pikir tidak perlu lah dulu lo harus pulang, biar dia yang menyelesaikannya sendiri. Tapi akhirnya gue juga enggak sabar, puncaknya malam kemarin gue ajak ke kedai berdua buat omongin baik-baik, tapi yaa kemampuan gue terbatas lah". Afkar diam dan mencerna kalimat Arga, baru malam kemarin? berarti Alya memutus Kevin saat aku mengabari rencana kepulanganku.


" Kalian sudah bicara?"


" Iya tadi malam, aku sangat kaget, sama sekali tidak menyangka, terkadang ada sih rasa curiga setiap video call ku tidak diangkat, dia bilang sedang bersama teman-temannya, tapi aku selalu membuang jauh curiga itu, aku bahkan memperkokoh benteng percayaku"


" Gue percaya dia setia sama lo"


" Dia mencintai Kevin?"


" Tidak".


Afkar memandang serius wajah Arga, ada sedikit rasa lega.


" Kamu tau darimana?"


" Alya itu kadang sangat tidak memperdulikan Kevin, dia hanya perduli saat dia butuh saja"


" Mereka sering bersama? jalan-jalan?"


" Gue enggak mau terlibat terlalu jauh, menurut Alya gimana?'


" Katanya kalau keadaan terdesak saja"


Arga mematikan rokoknya di atas piring yang sebenarnya berfungsi sebagai alas gelas kopi.


" Arga, aku sebenarnya sangat cemburu, aku sakit hati mendengar pengakuannya, aku bahkan beberapa kali tidak mempercayai jawabannya. Tapi kemudian aku berfikir ini terjadi karena salahku, aku terlalu lamban, segala yang akan kulakukan harus dengan matang kupikirkan, dan aku lupa untuk Alya tidak bisa begitu, dia selalu bersikap spontan dan menggebu-gebu"


" Maksudmu?"


" Aku tidak bisa menyalahkan nya dan cemburu, bukan salahnya, ini salahku"


Arga memandang sinis, kupikir cuma Alya yang rada ****, cowoknya juga. Kamu itu kekasihnya, kamu marah juga wajar, tu anak sudah keterlaluan, tanya Bowo, enak enggak penglihatan nya liat Alya bawa Kevin ke kedainya, malah dia yang berasa berkhianat, hello bro ini elo yang dihianatin, malah nyalahin diri sendiri.


" Terserah lo"


" Kamu yakin Alya benar tidak mencintai Kevin?"


" Sebatas penglihatan dan pendengaran gue, tapi memang sekarang kami sudah jarang curhat, semoga saja gue tidak salah arti".


" Kalau malam kemarin dia tidak bisa dihubungi dia dimana?"


" di rumah Ka Pandu, disidang nyokapnya"


" Tentang?"


" Ya tentang mutusin Kevin dan Alya tetap mempertahankan lo"


" Aku bisa mengerti kemauan orang tuanya, aku ini apa Ga?"


" Lo minder?"


" Bicara minder sekarang sudah telat, dari kenal kalian aku sudah minder, tapi sekarang sudah tanggung begini mau diapain, aku tidak mau mundur"


" Bagus lah, tapi kalau lo berniat maju, gue saranin sampai titik darah penghabisan, kalau lo maju mundur maju mundur, lo bakal nambahin beban gue"


" Hahaha"


Keduanya tertawa.


" Seseram apa ya orang tuanya kalau marah, aku kan cuma pernah ketemu sekali"


" Gue juga enggak tau, kalau ketemu mereka kan enggak pernah kena marah, paling kena sabet".


" Sylvia sama Roni bagaimana?"


" Baik, mau bulan madu tu Sylvia, hehehe"


" Kalau pacarmu?"


" Yaa begitu lah"


" Begitu kenapa??"


" Gue jalanin, tapi berasa belum sreg"


" Kenapa kamu jadikan kekasih kalau kamu belum mempunyai perasaan?"


" Itu yang terjadi sama Alya dan Kevin, iya kan? hahaha"


Afkar terdiam, bisa-bisanya hubungan bisa berjalan tanpa perasaan, kasian kan nanti akan ada yang tersakiti.


" Lo bawa motor Alya kesini?"


" Enggak, tadi malam aku bawa koper susah kalau pakai motor, jadi naik taksi saja"


Arga menoleh melihat koper Afkar yang tidak terlalu besar


" Padahal motor baru Alya muat kok kalau koper segini, matic nya gede".


Deeg,motor baru? Apa pemberian Kevin? Katanya di tolaknya.


" Yang pemberian Kevin itu"

__ADS_1


" Iya".


Tuuh, Arga jawab tanpa beban, kan katanya Afkar sudah tahu, jadi dimana salahnya? Salahnya sahabat konyol kamu itu bohong, dia bilang ke Afkar motornya di tolak, tapi mlaah ada di Alya sekarang. Kalau tau Alya kamu yang bocorin Ga, habis tu rambut dijambaknya.


Alya bohong lagi, berapa banyak bohong kamu tadi malam Alyaaaa???.


" Sudah jam 10, lo mau jemput Alya?"


Afkar tersadar dari lamunannya


" Iya"


" Mau kemana hari ini?"


" Rencana mau ke tempat orang tuanya, tapi Alya menolak katanya situasinya belum baik"


" Bener sih, kemarin malam aja dia di sidang dan sedih banget, jadi enggak usah ditambah dulu deh, kasian dia kalau tambah dimarahi lagi"


" Alya dimarahi?"


" Katanya, dia enggak cerita?"


Kali ini Arga menyadari dia sudah keceplosan


" Tidak, dia cuma bilang kalau aku dibandingkan dengan Kevin, itupun bukan malam kemarin".


Alya, maafkan aku. Aku bahkan sempat marah dan emosi karena usaha jujurmu yang tetap bohong. Tapi detik ini, aku ingin memelukmu memberimu kekuatan, karena aku kamu begini.


" Jadi bagaimana? ikut ke kampus atau Alya nyamperin kesini?".


" Kujemput saja, aku tidak mau dia bikin rusuh disini"


" Whahhaa, gue tiap hari dibikin rusuh tetap sabar, katanya dia bisa insyap kalo sudah lo kawinin"


Afkar tertawa dan berdiri menuju cermin untuk membenahi rambutnya.


" Aku ikut ke kampus, nanti aku tinggalin aja di halaman parkir, biar tidak ketahuan ikut kamu, nanti bisa panjang urusan kalau dia tau kamu dari sini"


" Oke, kita berangkat sekarang"


Afkar dan Arga menuruni lift dan menuju ke halaman parkir depan hotel.


Melihat Afkar sedang memainkan ponselnya di halaman parkir Alya setengah berlari mendatanginya


" Ka Afkar". Afkar menoleh


" Iya sayang, sudah selesai?"


" Sudah ka"


" Ya udah, kita mau kemana?"


" Terserah kaka".


" Sayang ada ide? mungkin selama aku tidak ada kemarin ada tempat yang ingin didatangi"


" Enggak ada sih"


" Sebenarnya aku masih ingin bertemu orang tua mu hari ini, setelah aku bertemu mungkin aku bisa tenang"


" Ka, percayakan Alya untuk ini, Alya akan melihat situasi, nanti akan Alya bicarakan lagi perlahan". Afkar hanya memandang kekasihnya dengan sayu.


" Kabari aku secepatnya jika keadaan membaik ya"


Alya mengangguk


" Iya ka"


Alya menyerahkan kunci motor nya pada Afkar, Afkar meraihnya dan berjalan menuju motor hitam itu terparkir.


Perlahan keluar dari halaman kampus


" Kita mau kemana ka?"


" Aku juga tidak tau"


" Kaka kenapa?"


" Aku sedikit pusing"


" Kita berhenti saja ka, lebih baik kita duduk saja di taman biasa"


" Iya".


Afkar memarkir motornya di parkiran taman


" Ka Afkar sakit?"


Alya meletakan telapak tangannya di dahi Afkar


" Panas, kaka demam"


" Mungkin kecapean aja"


" Tadi malam ka Afkar tidak tidur?"


" Tidur"


" Kenapa tadi pagi jam setengah 8 belum bangun? biasanya subuh sudah bangunin Alya"


Afkar diam saja dan memandang ke depan. Aku tidak bisa berpikir saat ini Alya.


" Kita ke dokter ka".


" Tidak usah, nanti aku minum pereda demam saja, kalau aku cape biasanya memang begini"


" Kalau begitu kaka istirahat saja"


" Aku mau bersama kekasihku".


Afkar tersenyum dan mencubit pipi Alya.


" Sakit aja masih genit"


" Kita di sini saja ya sayang".


" Iya ka, apa aja maunya kaka Alya iya in deh hari ini"


" Kalau besok?"


" Enggak lagi, hahaha".


Afkar menggenggam tangan Alya dan meletakan di pangkuannya.


" Aku ingin sekali membawamu pulang bersamaku, aku tidak ingin berpisah lagi"


" Kaka takut Alya diambil orang ya?' Alya mulai ingin menggoda dengan senyum setengah jahatnya


" Enggak, aku takut aku yang diambil perempuan lain"


Alya mencubit lengan Afkar


" Emang bisa meninggalkan Alya???"


" Whahaha".


" Mau ikut aku enggak besok?"


Afkar memandang Alya serius, Alya tiba-tiba menjadi gugup


" Apaan sih"


" Aku serius"


" Mau menculik Alya?"


" Tidak, hari ini kita pamit sama orang tua sayang, besok ikut aku"


" Disana Alya mau di apain?"


" Aku nikahin, terus sayang bisa lanjutin kuliah, aku kerja, rumah kecil itu sudah menunggu ratu nya untuk menempati"


Huupp, ini seperti kata-kata ka Kevin. Permisi ka Kevin, jangan muncul sekarang.


" Hehehe"


" Sayang enggak mau?"


" Mau, tapi bukan sekarang"


Afkar menghela napas panjang


" Apa yang harus kulakukan sebelum aku pergi?'


" Begini saja sudah sangat menguatkan Alya ka".


Afkar menarik tubuh Alya, membawa ke dada dan membelai rambutnya.


" Aku sebisanya akan membuatmu bahagia, memilikimu tanpa beban, mencukupi kebutuhanmu"


" Alya tidak perlu materi ka, cukup dikasih makan 3 kali sehari juga cukup, makannya juga tidak banyak, hehehe"


Alya mencoba bercanda di situasi ini? salah Alya. Justru air mata jatuh satu-satu dan membasahi baju Afkar.


Afkar melepas pelukannya dan menghapus air mata itu


" Kamu tidak bahagia bersamaku?"


" Alya bahagia"


" Kenapa saat bersamaku sayang sering menangis?"


" Makanya jangan keseringan ninggalin"


" Ini aku ajakin ikut besok"


" Kalau nawarin itu yang masuk akal aja ka"


" Sayang masih mau kan menjalani ini bersamaku?"


" Masih"


" Janji jangan lagi nakal?"


" Ih, siapa yang nakal?"


" Aku mau tanya, motor itu sayang tolak atau sayang ambil"


" Tolak"


" Sekarang motornya dimana?"


Alya terdiam, jangan-jangan dia sudah tau kebohonganku


" Di kost Alya" Menyerah sajalah, awas nih siapa yang ngasih tau


" Kenapa belum dibalikin?"


" nanti kalau dia datang Alya balikin"


" Sayang masih nunggu dia datang lagi?"


" Tidak"


" Terus kapan balikinnya?"


" Apa kita sekarang aja berdua ngantarnya?" Ide becanda yang sangat salah, kenapa bisa mampir begini konyol gue


" Boleh, sekalian aku mau kenalan sama dia"


Heeeyy, ide gila apa ini, aku becanda ka, mana aku berani


" Alya enggak tau rumahnya"


" Telfon aja dia mau ketemu dimana, tidak mungkin kan sayang tidak tau no kontaknya?"


Alya memandang Afkar dengan sinis


" Aneeh"


" Yang aneh siapa?"


" Ka Afkar yang aneh"


" Aku kan berhak bicara sama dia, memastikan kalian tidak punya hubungan lagi"


" Kaka tidak percaya?"


" Percaya, memastikan saja"


" Itu namanya tidak percaya"


" Sayang takut mempertemukan aku dengan Kevin?"


" Tidak"


" Lalu apa masalahnya?"


Masalahnya Alya kan break sama dia.


" Sudahlah ka, tidak usah ide seperti itu"


" Supaya aku lebih tenang sayang"


" Tapi itu akan menyakitinya, dia orang yang Alya pilih untuk diputuskan, kenapa harus Alya pertemukan dengan kaka yang sudah Alya pilih untuk masa depan"


Afkar membenarkan ucapan Alya walaupun itu seperti alasan yang dibuat-buat.


" Alya marah?"


Alfkar melirik kaki Alya yang sedang dimain-mainkan nya ke tanah pertanda seseorang sedang kesal

__ADS_1


" Tidak"


" Marah dong"


" Apaan sih"


Alya membuang mukanya ke samping


" Sayang, tau tidak uang kuno makin lama makin antik?"


" enggak tau iya kali"


Masih dengan ngambeknya


" perbedaannya kalau sayang makin marah makin cantik"


Alya tidak perduli, walaupun sedikit menarik juga hapalan kekasihnya ini


" Ngemil apa yang enak? duh tidak dijawab ya, ya udah aku jawabin aja, ngemilll likin kamu selamanya"


Alya masih dengan diamnya


" Ketawa dong sayang".


Afkar menarik wajah Alya agar memperhatikannya


" Sayang egois banget sih?"


Alya mendelik, mau nyari masalah ya


" Orang tua sayang manusia, saudaranya manusia, sayang kok bidadari?"


Kali ini Alya tertawa dan mulai dengan keusilan tangannya mencubit


" Aww lihat kebunku penuh dengan bunga, lihat tawamu hatiku berbunga".


Alya mencibir tapi perlahan merebahkan kepalanya di bahu Afkar, dibalas dengan tangan Afkar yang merangkul pundaknya.


" Nge gombal sama cewe lain begini ya?"


" Tidak"


" Alya percaya enggak ya?"


" Maksudku kalau menggombal ke cewe lain makin panas"


Alya mencubit hidung Afkar


" Ni hidung makin mancung aja, kebanyakan bohong tambah mancung kaya Pinokio"


" Kalau sayang yang jadi pinokio jangan-jangan hidung sayang sudah panjangnya dari Yogya ke Surabaya saking banyak banget bohongnya"


" Untunglah Alya bukan pinokio cuma jadi kekasihnya Pinokio"


" Jangan bohongi aku lagi ya Alyana"


" Sudah dibilangi Alya tidak bohong, cuma menutupi"


" Sama aja sayangku".


Mereka tertawa dengan lepasnya, serasa ringan hatiku Alya saat bersamamu, buatlah aku nyaman juga saat tidak berada disampingmu.


" Masih sakit ka?"


Alya mengangkat kepalanya dari bahu Afkar dan kembali meletakan telapak tangannya ke dahi Afkar


" Sudah mendingan, liat dan dengar suara kamu seperti nya hidupku terang lagi"


" Tadi gelap?"


" Iya, gelap, kabut, suram".


" Hahaha, sini bayarannya?'


" Bayaran apa?"


" Kan enggak jadi ke dokter, Alya pasang tarif nih buat nyembuhin sakitnya Kaka"


" Nanti aku bayarin setelah kita menikah"


" Hahhaha, sabar ya cintanya Alya,


Afkar mencubit pipi Alya gemas


" Aku sudah hapal nih buat akad nikah"


" Hah?"


" Biar kalau di tangkap satpol pp sudah tidak perlu latihan lagi, hahaha"


" Katanya enggak boleh ngomong begitu, Alya kemarin dibilangi begitu sama kaka"


" Kalau sekarang biarin deh ditangkap dan dikawinin, aku pusing gimana caranya biar kita berdua bisa secepatnya nikah"


" Kerja yang bener deh ka, sebentar lagi Alya skripsi, semoga lancar biar cepat lulus, nah siap deh dilamar"


" Asal sayang janji jangan meninggalkan aku ya, aku ini sedang berjuangnya buat bidadariku yang tadi malam sampai subuh tadi bikin aku tidak tidur"


" Tuh bener kan tidak tidur, ya udah mending kaka istirahat aja dulu di hotel, tidur, nanti sore atau malam baru kita ketemuan lagi"


" Sayang sudah bosan sama aku ngusir begini?"


" Enggak lah ka, sampai mati juga Alya selalu bahagia sama kaka, tapi kaka kan ini lagi enggak enak badan, masa Alya egois begini sih tidak memberikan kaka waktu berisitirahat"


" Iya deh, kita makan siang dulu, nanti aku ke hotel, sore aku ke kost ya"


" Ka, tadi sarapan apa?"


" Sarapan bubur ayam dianterin,,,"


Stop, baru ingat jangan sampai bocor


" Dianterin??? siapa?"


" Pesan online, makan di kamar"


" ooh ya udah, kita makan ayam bakar ya ka"


" Iya, tapi mampir ke apotik dulu aku mau beli obat"


" Katanya sudah mendingan"


" Tadi sudah mendingan, dengar dokter cintanya bilang minta bayaran, berasa pusing lagi aku"


" Whahaha, oke deh kita mampir ke apotik dulu, cepat sembuh cintanya Alya".


Alya mencium pipi kiri Afkar


" Waah, aku kok keduluan sayang terus sih"


Sambil memandang Alya dengan tertawa bahagia, centil sekali kamu sayangku


" kaka ini apa aja selalu mikirnya lama, gerakannya lambat, bikin greget"


" Aku takut aja nanti mencium pipi Alya keterusan, hehehe"


" Genit yang tidak terbukti"


Afkar melingkarkan tangannya di pundak Alya sambil berjalan menuju parkiran motor


" Mau di uji sekarang? ayuuu"


" Whahhaha,enggak usah, Alya takut pingsan"


" sayang yang pingsan?"


" Bukan, tapi kaka"


Sayangkuu,,, kumatnya kelewatan, jangan pernah begitu sama lelaki lain ya.


Makan siang di sebuah rumah makan dengan menu ayam bakar dan es jeruk, sedangkan Afkar memilih makan ayam goreng dengan minuman teh hangat


" Jadi magangnya kapan sayang?"


" 2 bulan lagi ka"


" Rencananya dimana?"


" Alya sih maunya ikut Arga, magang di perusahaan papahnya di Jakarta"


" Di Surabaya bukannya ada juga perusahaan Arga?, biar kita bisa bersama"


" Kata Arga dia maunya di Jakarta saja, enggak tau juga kenapa"


" Iya, kalau sayang sama Arga aku lebih tenang, ada yang jagain, Sylvia dimana?"


" Dia sih gampang ka, perusahan kakek ada dimana-mana, ajukan saja semua sama dosen pembimbing, biar dosen yang milihin"


" Enak juga ya kalau orang tua kaya, punya banyak perusahaan bisa pilih mau yang mana".


Tiba-tiba Alya ingat ucapan mama, kehidupan orang yang punya perusahaan itu beda sama kehidupan orang yang bekerja di perusahaan


" Tergantung juga ka"


" Setidaknya anak-anak dan keturunan tidak terlalu pusing memikirkan masa depan, kalau aku baru saja mau merintis dari 0, semoga saja nanti aku juga bisa sukses, supaya sayang dan anak-anakku terjamin kehidupannya"


Duh kok sama lagi sih


" Alya selalu mendukung ka Afkar. Dibalik kesuksesan suami kan ada istri yang hebat"


Afkar tersenyum


" Iya benar itu, nanti jadi istri sholehah yang sayang"


Alya mengacungkan jempol dan mengedipkan matanya


" Aamiin, makan dulu yu".


" Obatnya jangan lupa ka"


Alya berdiri dan mengambilkan air mineral dari sebuah rak di bagian pojok ruangan


" Minumnya pake ini ka".


Afkar mengambil air mineral dari tangan Alya


" Pintar betul kekasihku"


" Langkah pemula buat jadi istri sholehah"


" Hahaha"


Setelah makan siang, Afkar mengantar Alya ke kost nya, dan setelahnya kembali ke hotel dengan meminjam motor sewaan dari Alya


" Bawa aja motor Alya ka"


" Sewanya mahal"


" Iya dong, sekalian bayarnya buat sewa enam bulan yang lalu juga belum dibayarin"


" Kalau tukeran sama rumah aja gimana?"


" Rumah kaka di Surabaya yang belum lunas itu"


" Sayang, keras banget kode nya nyebut belum lunas"


" Memang ada yang sudah lunas?"


" Memang belum ada"


" Nah itu kan sudah bener"


" Tadi aku mau romantisan"


" Iya deh lanjut, tukeran sama rumah apa cintanya Alya?"


" Tukeran sama rumah ,,, tangga kita"


Alya tertawa,


"kalau ini kayanya enggak nyontek deh"


" Kok tau?"


" Yang lucu itu bukan kalimatnya, tapi wajah kaka yang keliatan banget lagi mikir keras buat dapat kalimat itu".


Afkar tertawa dan mengambil kunci yang terletak di atas meja ruang tamu


" Nanti sore aku kesini ya"


" Iya, kalau masih enggak enak badan bilang aja ka, jangan dipaksa"


" Biasanya di bawa istirahat sebentar sudah sehat lagi kok, ya udah aku pamit dulu, baik-baik sayang".


" Iya, hati-hati ka"


Tangan mungilnya melingkar di pinggang Afkar yang sedang menuju halaman tempat motor si parkir.


" Assalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Emuuah"


" Hahahah, lucu banget di cium pake kode begini padahal bisa live kok"


" Lupa ya kalau live bisa keterusan, hehehe"


" Dah ka Afkar".


Mungkin obatnya memang sudah bekerja atau memang hati Afkar sudah mendapatkan sedikit ketenangan, maka jadilah sejak shalat zuhur sampai sore dia tidur dengan sangat pulas. Alya pun tidak ingin menghubunginya karena tau si kekasih sedang berisitirahat.

__ADS_1


Ka Afkar, jangan sakit ya, Alya sudah pernah liat kaka sedih di dua tahun yang lalu karena Hani. Alya tidak ingin kali ini kaka sakit karena Alya.


__ADS_2