
Hotel Swiss Belhotel Borneo Banjarmasin, Februari.
Satu hotel ternama di Kalimantan Selatan, terletak di kota besar atau tujuan resor, berbintang lima, unik mengesankan dan memiliki arsitektur ikonik, desain dan perabotan interio mewah, mempunyai tekhnologi canggih, berada di lingkungan vital menjadi hotel yang dipilih Afkar untuk melaksanakan resepsi perkawinan kedua setelah Yogyakarta. Resepsi mewah kedua ini dilaksanakan pada minggu malam minggu ke dua Februari.
Aula besar berkapasitas 700 hingga 1000 tamu. Mengusung tema putih internasional. Dari pelaminan, panggung, aksesoris dekorasi, mini garden, foto booth. Kursi tamu dan meja prasmanan. Event organizer sudah menyiapkan semua dan pihak keluarga tidak lagi ikut campur karena sudah ditangani.
Pada bagian depan aula sudah ada foto besar Alya dan Afkar saat melangsungkan pernikahan dan resepsi perkawinan di Yogyakarta. Pengantin wanita tampil bak Cinderella dengan gaun putih dengan sedikit sentuhan merah jambu pada bagian dada dan ekor gaun. Mahkota tiara berwarna biru dengan hiasan berlian membuatnya seperti bidadari. Begitupun Afkar dengan tubuh tingginya terlalu tampil maksimal untuk acara besar dalam hidupnya malam ini. Berbagai tamu rekanan pak Wijaya dari berbagai kota ikut hadir dan memberi selamat pada mereka. Tamu dari perusahaan pak Wijaya baik di Martapura maupun Tabalong memenuhi aula dengan suasana ceria. Malam ini tidak di temukan bos galak sesangar singa, entah dimana dia disembunyikan Alya.
Khusus untuk malam ini, Afkar sudah menyewa semua kamar di hotel ini untuk tamu yang memang jauh dan harus menginap, keluarga dan rekan pun di manjakan dengan sama. Acara yang dimulai sejak jam delapan malam berakhir di jam sebelas. Tidak benar-benar selesai, hiburan dan acara makan malam tetap dibuka. Hanya mempelai dan keluarga yang mulai meninggalkan pelaminan.
Alya bergabung sahabat duduk di satu meja dan menikmati makan malam.
" Gimana tampilan gue malam ini?"
" Kapan-kapan lo jadi bidadari beneran, panggilan doang dari ka Afkar, malam ini kan jadi kenyataan".
Alya melirik Afkar, lelaki berjas hitam dengan diberi sedikit hiasan bunga pada kantung jasnya sedang berdiri dan berbincang dengan para tamu.
" Syl, selama sebulan ini hidup gue kaya mimpi"
" Iya ya Al, cepat sekali perubahannya, dari lo yang diminta tugas kerja ke Banjarmasin, ketemu ka Afkar, berbagai masalah, sampai detik ini berada di sini"
" Semua karena takdirNya Syl"
" Sebagian lagi usaha gue"
Alya menoleh Arga yang duduk berdampingan dengan Fanya
" Iya Ga, gue enggak akan melupakan lo, Fan, lo beruntung ngedapetin Arga, gue adalah saksi hidup kalau dia ini adalah sahabat paling baik"
Fanya tertawa
" Makanya gue akhirnya luluh juga Al, walaupun dia biasa-biasa saja, tapi yaaa mau bagaimana lagi"
Arga menyenggol pundak Fanya
" Terpaksa banget kedengerannya, lo enggak tau aja, tanya mereka gue ini bintangnya juga di kampus, banyak yang naksir gue"
Fanya mencibir
" Bener Fan, banyak kok yang naksir Arga, cuma dia terlalu belagu, hehehe"
Afkar duduk di samping Alya
" Sudah makan sayang?"
" Sudah, ka Afkar belum, mau makan apa Alya ambilin"
" Aku ambil sendiri, gaunmu ini panjang sekali, liat aja aku yang berasa jatuh keinjek-injek"
Afkar berdiri dan berjalan menuju meja prasmanan dan mengambil sendiri makan malamnya.
" Kalian sudah dapat kamar kan?"
" Sudah Afkar"
" Selamat menikmati ya, dan maaf kalau pelayananku di sini masih kurang"
" Sudah keren banget Afkar, kami yang berterima kasih sudah dilayani begini"
Alya tidak sengaja melihat jari di tangan Fanya
" Heeyy, lo udah dibeliin Arga cincin tunangan? kode nih kayanya tidak lama lagi, iya Ga?"
Arga tersenyum
" Kapan Fanya siap gue siap, sekarang juga hayuu"
" Ciyeee, ya udah cepetin aja Ga"
" Iya Al, udah gue bilangin semua cepetan biar Lee punya banyak temen"
" Kita yang belum ini kan punya alasan, lo yang sudah nikah, sudah belum nyetak yunior?"
Candaan Roni membuat Afkar tersedak
" Uhuuuk"
Alya mengambilkan air dan menyerahkan gelasnya pada Afkar sambil menepuk punggung belakang
" Al, enggak sopan banget lo di depan tamu KDRT begitu"
Alya menghentikan kegiatannya.
" Hahaha, Afkar bingung jawabnya Ron"
Roni kembali menggoda Alya
" Sudah belum Al?"
Alya dengan cueknya menjawab
" Belum"
Dan tawa sahabat kompak banget, Nemu jawabannya juga
" Kenapa belum?"
" Kepo nih"
Alya yang baru sadar akhirnya menyesal memberikan jawaban sementara Afkar meneruskan makannya, punya istri begini banget. Liat saja Alya, akan kuselesaikan malam ini juga, di pikir sahabatmu aku ini tidak mampu apa?.
Panggilan Juan membuat Afkar berdiri dan mendekatinya. Sementara Alya kembali menjadi bulan-bulanan sahabatnya.
" Al, kenapa belum? sudah seminggu Afkar di puasain"
" Puasa dari mana, makannya aja tiga kali sehari, gue yang nyiapin"
" Puasa batin Alyaaa"
" Tau ah"
" Gagal nyokap lo mengawasi terus ya? hahaha"
" Hari pertama begitu, hari selanjutnya aman"
" Kenapa belum juga?"
" Gue halangan"
" Hahhaa, nasib Afkar memang selalu lo bikin susah Al"
Alya melotot
" Gue enggak nyusahin Ron, memang dia aja suka dibikin susah, hehehe"
" Tapi malam ini bisa dong?"
Alya melirik Sylvia dan tersipu
" kayanya sih, hehehe"
" Gimana kalau malam ini kita ngumpul di kamar lo Al, kita kan mau pisah nih"
" enggak"
" Ayo lah Al, kamar lo kan paling gede, muat kok kita semua, ya kan Ron"
" Setuju banget, kita main kartu deh, atau catur"
" Awas kalian ya, mau gue pulangin sekarang?"
" Wuuuiih, Ga. Belagunya naik lagi, mentang-mentang bini konglomerat"
" Kalian yang bikin gue naik darah"
" Harusnya Afkar Al yang malam ini naik darah ke elo, hahahaa"
Candaan berhenti saat Pak Agus dan Afkar kembali bergabung
" Sudah jam dua belas, kita istirahat saja Sayang"
Arga mengedip ke arah Alya
" Afkar, tadi Alya bilang kami disuruh ngumpul ke kamar lo, sebagai malam perpisahan kita"
Afkar menoleh Alya dan sedikit kaget, sementara Alya melongo
" Apaan, enggak ada, bubar bubar, sudah gue sediakan kamar masing-masing, Dan lo Ga, jangan sampe bikin ide konyol, gue capek, mau tidur"
Arga tertawa
" Al, lo enggak usah ikutan naik darah ya, biar Afkar aja, hahaha"
Afkar melirik Arga, ngomongin apa sih mereka.
Alya menarik tangan Afkar
" Enggak usah diladeni kak, yu"
" Ciyeee Alya, berani ngajakin, hahaha"
Alya yang sudah berdiri menoleh kebelakang
" Lo mau pulang besok atau malam ini juga Ga?"
Kekesalan Alya ditanggapi dengan tawa sahabatnya.
kamar dengan luas 161 meter persegi dengan ruang tamu serta dapur terpisah. Kamar mandi yangi besar yang dilengkapi bathtub dan shower.
Di dalam kamar tersedia Pendingin ruangan dengan pengaturan pribadi, ranjang ukuran king, ruang tamu terpisah, area ruang makan pribadi, telepon dengan sambungan IDD, TV LCD dengan program satelit dan kabel, akses internet kecepatan tinggi, fasilitas teh dan kopi, mini-bar
Afkar membuka jendela dan melihat ke bawah jalan utama yang ada di Banjarmasin
Alya melepas mahkota dan mulai membersihkan wajahnya di depan meja rias.
" Ka, kenapa melamun?".
Afkar mengalihkan wajahnya dan menatap Alya
" Besarnya anugerah yang sudah diberikan pada kita ya"
Alya mengangguk
" Dulu setiap aku datang ke Yogya, membuka jendela dan menatap jalan, aku selalu berdoa suatu saat nanti akan bisa melakukan ini bersamamu sebagai istriku"
Alya melanjutkan membersihkan wajahnya sambil mendengarkan Afkar dengan cerita lamunannya
" Waktu membawamu kembali padaku"
" Jika Alya tidak datang kemarin, apa kita tidak begini?"
" Pasti ada cara lain, jodoh tidak akan salah orang"
Afkar menatap lekat Alya
" Aku berjanji pada Kevin untuk membahagiakanmu"
" Ka Kevin?"
" Iya, bagaimanapun caranya aku harus membuatmu selalu berbahagia bersamaku"
Alya berdiri ke depan jendela dan mendekati Afkar.
" Pernah Alya tidak bahagia jika bersama ka Afkar?"
" Jangan pernah lagi menangis ya?"
Alya tersenyum
" Tidak ada lagi alasan untuk menangis jika selamanya Alya ada di samping ka Afkar"
Afkar memeluk lembut tubuh Alya dan mencium rambutnya
" Jadilah pendampingku sehidup sesyurga"
" Bimbing Alya selalu ka"
" Selama sayang selalu mematuhiku, aku akan selalu berusaha menjadi imam untukmu"
Alya melepaskan pelukannya.
" Alya sayang ka Afkar"
" Aku juga"
Afkar tersenyum dan membelai wajah istrinya. Alya merasakan kembali gugup, matamu kenapa berbeda ka, tajamnya seperti ingin melahapku tapi bukan tatapan singamu, senyummu juga terlihat genit, cepat otakknya loading, ooohh nooo jangan-jangan sudah saatnya, sebentar, sebentar, bisa lari ke pojok mana nih? gue belum siap, uuuh matamu ingin melahap apa dariku?
" Alya mau mandi"
" Aku temani"
" Kakak di sini saja"
" Aku juga mau mandi"
" Gantian"
" Lama"
" Kakak saja duluan"
" Sayang batal mandi?"
" Di tunda"
" Ya sudah kita tunda, nanti saja setelah,,,"
Afkar tertawa melihat Alya yang gelabakan sendiri
" Ka, kita suit deh siapa yang mandi duluan"
__ADS_1
" Enggak"
" Norak nih"
" Biarin"
" Ka, Alya mau mandi sekarang, kakak tunggu di sini, lagian Alya juga tidak bisa kabur kemana-mana, nanti kalau sudah selesai gantian,,"
Afkar meletakan telunjuknya ke bibir Alya
" Sayang terlalu berisik,,,kita mandi sama-sama"
" Enggaaak mau,,,Alya dulu"
Alya melepaskan pelukannya dari tangan kekar Afkar. Tapi bibir Afkar sudah mendarat tepat di atas bibirnya, napasku kenapa mau habis, bernapaslah hidungku,,, seperti biasa, jangan berhenti, aku belum siap mati. Beruntung tidak lama.
" Aku mau melanjutkan kejadian di taman kemarin, kita perlu banyak latihan, setelahnya kuizinkan sayang mandi,,, tapi tetap bersamaku"
Alya memasrahkan saja semuanya karena tenaganya tidak akan cukup untuk mendorong Afkar.
Satu malam ini di bawah purnama,
memeluk cinta di setiap kedip mata. Enam tahun menapak jejak bersama, walau tidak bersama raga telah memagut getarku tak bersisa. Perlahan kupetik sekuntum bunga 'suci pada raga' yang sudah kamu jaga baik hingga saat ini untukku.
Ini malam kita penuh cinta, aku hanya tahu bagaimana cara mengungkapkannya dalam ketelanjangan apa adanya. Dengan segenap raga, hati, dan jiwaku yang mengulum kepasrahan tanpa syarat. Biarkan saja keletihan dan kesedihan kita lepas semua.
Di malam hebat ini, aku memelukmu dengan bermiliar rasa rindu. Kudekap detak kita beradu. Menatap matamu yang memasrahkan raga dan hati untuk kujaga sampai mati.
Lepaslah sesuatu yang terjaga baik dan selalu kamu lindungi kekasihku. Kembali kubisikan terima kasih untuk ini cintaku.
Satu hunian satu lantai dengan pagar teralis berwarna putih dengan sedikit ornamen cokelat muda. Saat membuka pagar langsung di sambut manis dengan jejeran Bambino Baby Allison, dan afterglow, Sedangkan di teras tersusun rapi tanaman hias montsera, palm, aglaonema. Alya turun dari mobil Mercedes-benz E Class warna silver. Menekan satu tombol di remote dan duduk di teras. Membuka ponsel dan menekan tombol hijau.
" Assalamualaikum Sayang"
" Waalaikum ka, dimana?"
" Di kantor, ada meeting, kenapa?"
" Alya pusing, ini sudah pulang"
" Sayang sakit?"
" Enggak tau, tiba-tiba mual dan pusing"
" Eemm, sayang istirahat dulu, minta bikinkan minuman panas sama Acil Odah, sebentar aku tutup meeting dulu, aku segera pulang"
" Enggak usah ka, Alya cuma ngabarin saja, Alya mau tidur dulu juga"
" Begitu? sekarang sudah jam tiga, aku akan pulang lebih awal, kita ke dokter, sudah mau ashar, sayang tunggu ashar dulu baru tidur ya"
" Iya ka, Assalamualaikum"
" Waalaikum salam bidadari, emuuahh"
Tepat jam empat Afkar sudah berada di rumah, langsung masuk ke kamar dan melihat Alya tertidur. Afkar mendekati dan mencium pipinya, Alya membuka matanya
" Sudah pulang ka?"
" Iya, kita ke dokter sekarang sayang"
" Alya cuma pusing ka"
" Sekarang masih pusing?"
" Iya"
" Nah makanya, jangan minum obat sembarangan, kita ke dokter ya"
Alya mengangguk dan duduk di tepi tempat tidur, kenapa kamar ini berputar, Afkar melihat mata Alya berkerjap-kejap
" Sayang kenapa?"
" Muter-muter kamarnya"
Afkar menyandarkan tubuh Alya di tempat tidur
" Jangan berbaring, bersandar bisa?"
Alya memejamkan matanya, sementara Afkar sibuk membuatkan minuman hangat dan menyendok ke mulut Alya.
" Kalau sudah lebih baikan kita segera berangkat ya"
" Heeeeh"
Alya takut bicara, mual dan pusing begini bisa-bisa aku muntah di ajakin ngomong.
Afkar membuka lemari dan berganti pakaian, dia juga mengambilkan satu dress selutut warna biru muda untuk Alya. Memijat kepala Alya sebentar.
" Ka, sudah mendingan"
Alya membuka matanya. Afkar menyerahkan dress pada Alya
" Bisa ganti pakaian sendiri atau kubantu?"
" Bisa sendiri"
" Aku ke depan dulu ya"
" Iya".
Setengah jam kemudian mereka sudah berada di tempat praktik dokter, nomor antrian lima, ini sudah dua, sebentar lagi. Afkar memandangi Alya yang bersandar di bahunya sambil memejamkan matanya
" Sayang masih pusing?"
" Iya, mau muntah"
" Gimana, aku carikan tempat atau bagaimana?
Kenapa lama sih di antriannya?
Yang didalam periksa apa sih sudah lima menit?
Mbak masih lama?
Alya jengah dengan kelakuan suaminya yang ribut di tempat praktik
" Ka, ribut banget Alya tambah pusing"
Afkar mengecup rambut Alya
" Maaf sayang, tapi ini beneran lama"
Alya kembali memejamkan mata, ka Afkar malu-maluin, dia pikir ini kantornya seenaknya.
" Nyonya Alyaa"
Terdengar panggilan, Afkar membantu Alya berdiri dan berjalan menuju ruangan dokter.
" Selamat sore bapak ibu"
" Sore dok, istri saya pusing dan mual, tolong di periksa"
" Iya pak"
" Silakan duduk bapak ibu"
Afkar mendudukan Alya pada kursi di hadapan dokter cantik ini.
" Keadaan ibu baik"
" Baik apa dok, dia pusing dan mual, alat nya benar kan?"
Alya mencubit paha Afkar
" Kaa"
Afkar terdiam dan mendengarkan lagi keterangan apa yang akan diberikan dokter ini.
" Mungkin ibu akan kita periksa di ruang sebelah ya, dokter kandungan"
" Dok, kami sudah lama mengantri, setelah dokter periksa kami malah disuruh pindah dokter, bagaimana sih tempat praktik di sini"
Afkar yang sudah kesal dari tadi akhirnya tidak sabar juga untuk mengucapkan kekesalannya
" Maaf bapak ibu, kita harus menggunakan alat lain untuk mengecek kesehatan ibu, di ruangan ini tidak menyediakan"
" Bagaiamana bisa tempat praktik dokter tidak punya alat lengkap begini?"
Kali ini Alya lebih keras mencubit paha Afkar
" Ka, ikut saja, jangan ribut"
" Bapak ibu tidak usah antri lagi, asisten saya akan mengantarkan langsung, Ana,, bantu bapak dan ibu Alya ke ruang kandungan.
" Sayang, kamu punya kelainan apa sih sampai kita harus pindah ruang pemeriksaan begini? punya penyakit kronis?"
Alya menggeleng, dia cuma tau punya penyakit maag dan stres saat dua kekasih meninggalkannya sekaligus dulu, hehehe.
Seorang dokter yang lebih berusia meminta Afkar merebahkan Alya di tempat tidur, cairan gel diberikan pada bagian perut Alya, Afkar kembali berulah
" Mau disedot lemak dok? dia sudah kurus"
" Bukan pak, kita mau liat isi perut istri bapak"
" Sayang masih makan cabe banyak? tuh kan belum dikurangin juga?"
Dokter tertawa melihat kelakuan Afkar yang aneh, sementara asisten muda tersenyum, suaminya ini ganteng, cakep tapi ribet banget. Sebuah alat mulai bergerak di atas perut Alya, Afkar diminta untuk melihat layar besar di depan mereka
" Bapak liat apa di sana?"
Afkar menggeleng
" Apa? saya tidak tau"
Dokter tertawa
" Di sana sudah ada calon anak bapak ibu, sudah ada janin di dalam perut ibu"
Alya dan Afkar saling pandang dan bingung
" Maksudnya dok?"
" Istri bapak hamil"
Afkar memeluk Alya dan menciumnya berkali-kali, membuat Alya risih dan mendorongnya
" Ka, sakit"
Afkar melepaskan pelukannya
" Sudah berapa bulan dok?"
" Ibu ingat haid terakhir?"
Alya menatap Afkar
" Tepat kita menikah ka"
" Oh iya, awal februari dok"
" Tepat, ini sudah menunjukan janinnya berumur delapan minggu"
Alya duduk setelah Afkar tidak lagi berulah
" Apa yang harus kami lakukan dok?"
" Tidak ada apa-apa, lakukan saja aktifitas seperti biasa, tapi jangan capek"
" Kalau begitu mulai besok sayang cuti"
" Hah? enggak mau"
Dokter tertawa
" Cutinya nanti saja pak, setelah berumur sembilan bulan, lebih bagus kalau ibu banyak bergerak"
Afkar mengangguk
" Berikan kami resep dok, cukupkan sampai istri saya melahirkan"
" Saya akan memberikan resep untuk satu bulan dulu ya pak, kita akan liat kondisi tubuh ibu dan bayi, nanti bapak ibu silakan datang lagi dan saya akan memberikan resep lagi"
Afkar mengangguk mengerti, untunglah lelaki ini tidak lagi ngotot.
Di dalam perjalanan menuju pulang begitu banyak larangan yang di buat Afkar untuknya
" Sayang, mulai besok jangan nyetir sendiri, aku yang atar jemput"
" Mana bisa, ka Afkar saja pulangnya sering telat , mau Alya di culik orang jahat di kantor?"
" Oke, kalau begitu kucarikan supir pribadi"
" Boleh, tapi yang lebih muda dan lebih cakep dari kakak"
" Alyaaa"
" Hehehe"
" Makannya nanti kita liat di google, makanan apa yang bagus untuk ibu hamil"
" Dengar tidak tadi kata dokter Alya bebas makan apa saja"
Afkar terdiam lagi.
" Jam tidurnya juga akan kujaga, tidak boleh lewat dari jam sembilan malam"
" Yeess"
" Kenapa?"
" Berarti ka Afkar libur selama sembilan bulan lagi, ka Afkar kan minta ditemani bobo setelah jam sepuluh malam, Alya tidak ada tugas tambahan lagi deh mulai sekarang"
__ADS_1
Afkar terdiam dan perlahan memasuki halaman rumahnya
" Kalau begitu jam sepuluh deh, aku akan menyelesaikan tugas apapun sampai jam sembilan saja,biar sayang tetap bisa menjalankan ibadahnya"
" Curang, tadi katanya jam sepuluh"
" Mau aku bikin peraturan dimajukan jam delapan malam? biar kita punya dua jam ekstra lagi" Afkar mencolek dagu Alya
" Enggak, ya udah deal tidur jam sepuluh malam, Setelahnya tidak ada aktifitas lagi"
Afkar mencubit pipi Alya
" Kok sayang yang bikin peraturan?"
Alya tertawa
" Iya pak boss"
" Iya begitu istri manisku"
Banjarbaru, November.
Mama, Afkar, acil Odah sepagian sudah sangat sibuk, setelah shalat subuh Alya mulai merasakan mules pada perutnya
" Sayang sudah mau melahirkan?"
" Mana Alya tau, mules kaa"
Afkar berlari menemui mama yang sejak tiga hari yang lalu berada di Banjarbaru dan meminta cuti untuk menemani Alya melahirkan
" Maaa, Alya sakit perut"
Mama membuka pintu kamar
" Alya sudah sakit?"
Afkar mengangguk
Mama segera masuk ke kamar Alya, Alya justru terlihat santai memainkan ponselnya
" Alya, katanya sakit perut?"
" Iya tadi, sekarang sudah hilang ma"
Mama mengangguk.
" Lho sayang? tadi katanya sakit?"
Afkar duduk di samping Alya
" Afkar, kalau mau lahiran memang begitu, sakit berhenti, sakit berhenti, kecuali kalau sudah bukaan delapan apalagi sembilan, hampir tidak berjeda lagi sakitnya"
" Ooh, terus kita gimana ma?"
" Tas berisi pakaian Alya sama pakaian bayinya di mana?".
" Sudah di mobil ma, sudah cukupkan isinya sayang?"
Alya mengangguk
" Kan Ka Afkar yang mengisinya kemarin? Alya cuma menemani"
Sesaat Alya mulai merasakan sakit lagi.
" Awww"
" Sayang, sakit lagi? ma di liatin dong Alya sudah bukaan berapa?" Afkar membuka baju atasan tidur Alya memperlihatkan perut buncit istrinya biar mama bisa memeriksa
" Enggak bisa begitu, bukan perutnya yang diliatin Afkar, aneh kamu ini"
" Kalau begitu kita ke rumah sakit sekarang ma"
" Jangan panik begitu, mama jadi ikutan panik nih, kita tunggu sebentar lagi, Alya makan dulu ya, biar tenaganya banyak".
Alya mengangguk
" Tapi sebentar ma, masih sakit"
" Acil Odah, siapin makan Alya"
Afkar ke dapur dan memastikan acil Odah menyiapkan makanan Alya, Afkar mengambil piring yang sudah berisi nasi dan lauk, segera membawanya ke kamar
" Makan dulu sayang"
Afkar menyuapi Alya perlahan sementara mama kembali ke kamar untuk berganti pakaian karena setelah Alya makan mereka akan pergi ke rumah sakit.
Mobil pajero sport Afkar sudah meninggalkan halaman rumah, Afkar menyetir di depan sementara Alya dan mama duduk di belakang, sesekali Alya mulai mengeluh sakit lagi. Mama menoleh ke bagasi
" Afkar, tas nya mana?"
" Di belakang ma"
" Belakang mana? tidak ada?"
" Ada, kemarin malam saya yang masukin"
Alya menjawab pelan
" Ka, kemarin kaka masukin ke mobil Alya"
" Haaah , Astagfirullah. Iya benar, kemarin kumasukin kesana karena aku khawatir kalau kamu sakit perut aku masih di kantor, jadi bagaimana?"
" Ya ambil Afkar, kamu mau anak sama istrimu telanjang setelah melahirkan?"
Afkar terdiam sebentar dan langsung meraih ponselnya
" Assalamualaikum, Juan. Aku menuju rumah sakit, Alya sakit perut, perlengkapan bayi ada di mobil Alya, sekarang kamu ke rumahku dan bawakan perlengkapan bayinya"
" Siap, kuncinya dimana?"
" Di,, dimana sayang?" Afkar menoleh ke belakang
Alya menggeleng, perutnya sudah semakin mules
" Astaga, kuncinya di tas pinggang ku, sekarang tas nya kubawa"
" Jadi bagaimana?"
" Kamu ke rumah sakit Banjarbaru sekarang, ambil kuncinya, lalu kamu balik ke rumahku"
" Ribet banget sih"
" Juaaaan"
" Iya boss, segera"
Klik.
Mama menatap Afkar dengan sedikit emosi
" Kamu kenapa teledor sih Afkar?"
" Tidak tau juga ma"
" Yang mau melahirkan Alya, yang tidak konsentrasi kamu"
" Namanya juga pertama ma"
" Memang mau berapa biar kamu bisa konsentrasi kalau Alya mau melahirkan?"
" Lima deh ma"
" Enggak mauuuu,, awwww"
Afkar menoleh kebelakang
" Sakit lagi sayang?"
Kali ini mama yang emosi
" Kamu sih Afkar, jawabnya bikin Alya makin pusing"
Menantu penuh kontroversi ini kembali fokus dengan jalan, mertuaku ini memang dari dulunya begini atau setelah punya mantu aku jadi begini, tadi aku ditanyain, giliran jawab disalah-salahin.
Afkar memarkirkan mobilnya di tempat parkir
" Sayang bisa jalan atau aku bawakan kursi dorong?"
" Jalan saja ka, ini sedang tidak sakit"
Satu jam kemudian Alya sudah berada di ruang persalinan, ditemani mama dan Afkar
" Ma, sakiiit"
" Sudah bukaan berapa kata perawat tadi Al?"
" Tujuh ma"
" Sebentar lagi, istigfar Alya"
Alya berkomat kamit dengan kesakitan yang mulai menjalar-jalar dari pinggang, perut, kaki dan sepertinya sudah keseluruh tubuhnya. Afkar duduk di kursi samping Alya dan tidak melepaskan tangannya. Sedang tangan satunya memijat punggung Alya yang katanya sakit seperti mau patah.
" uuuhhh"
" Alya jangan teriak, istigfar, nanti kalau sudah bukaan lengkap, sesuai instruksi dokter ya, jangan membuang tenaga mengejan semaunya"
Afkar semakin merasa gugup
" Sakit dimana lagi sayang?"
" Semuaaaa, huuu"
" Dibilang jangan teriak malah nangis, Alya istigfar Alya"
Mama berbisik berdiri di samping Alya dan memberikannya kekuatan
" Tahan Alya,,"
Seorang perawat datang dan kembali memeriksa bukaan Alya
" Sudah cukup, mohon maaf cuma satu yang bisa mendampingi pasien"
Mama dan Afkar berpandangan
" Saya saja"
Afkar menatap mama dan mama menjawab dengan mengangguk. Mama mencium kening Alya
" Mama selalu mendoakan mu sayang, yang kuat ya"
Alya mengangguk lemah. Ibu dokter langganan setiap bulan mereka mendekati Alya dan menatap matanya
" Sudah siap ibu Alya"
Alya mengangguk dan merasakan kesakitan pada sekujur pinggangnya, mungkin pinggang gue retak ini, kenapa gue mau BAB sih saat sakit pinggang begini, gimana jalan ke toiletnya ya.
" Bapak Afkar pegangi istrinya ya"
Ibu dokter membuka lapisan kain pada kaki Alya dan sekarang yang tertutup hanya dari pinggang ke atas.
" Baik ibu Alya, silakan mengejan,,satu dua,,tiga,,
Afkar merasakan tangannya digenggam erat Alya begitu kuat, kekuatan apa ini sehingga telapak tanganku seakan ikut retak
" Eeeehhhhmmmm"
Afkar sempat melirik tangannya, masih utuh, sayang jangan mematahkan tanganku, tangan ini masih banyak tanggung jawab untuk menafkahimu dan anak-anak kita berlima nanti
" Bagus, tahan sebentar,,, satu dua tiga,,,"
" Eeehhhhmmm"
" Bagus, sudah keluar bu,, sedikit lagi,,, satu dua tigaaa,,,
" Eeeehhhmmmmm"
" Ooeeeeeeeeeeee".
Afkar melepaskan tangannya dan langsung memeluk Alya
" Terima kasih sayangku,,,"
Buliran air mata air Alya ikut membasahi pipi Afkar.
" Selamat bapak Afkar ibu Alya, bayinya laki-laki, sempurna"
Afkar menghapus air mata Alya
" Alhamdulillah"
Bayi yang masih merah dan belum dibersihkan segera diberikan ke sisi Alya, masih dengan tangisan kerasnya.
" Sebentar kami bersihkan, bapak akan segera mengadzankannya"
Alya mencium pipi lembut bayinya dari samping dan kembali meneteskan air mata, serasa hilang semua penat keringat dan tulang-tulang yang patah beberapa saat tadi, lenyap ketika bisa melihat dan mencium bayi cinta mereka. Afkar berkali-kali mencium tangan dan pipi Alya sambil terus memeluknya.
Selamat datang malaikat kecilku,
hadir sebagai sumber keindahan
melangkahlah dengan kegagahan
kalahkan rintangan dengan kata bijak
Lihatlah hamparan kehidupan maha luas
jejak dan lewati dengan keberanian
Tangismu buah hati
amanah terindah dari Illahi
__ADS_1
kau lahir dari perpaduan cinta dan do'a.