Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Suratku


__ADS_3

Kalung itu, dia masih memakai di lehernya. Sudah dua tahun, apakah dia tidak pernah melepasnya? atau karena Kevin saat ini masih ada di Hongkong sehingga dia berani memakainya? tapi apa artinya? dia masih mengingatku? dia masih menyimpan perasaan untukku seperti aku yang bahkan semakin gila saja sejak tiga bulan terakhir ini karena selalu dekat dengan Aprill dan selalu membayangkan itu kamu.


Secangkir minuman kopi terhidangkan di depan Afkar.


" Silakan minum Afkar"


" Iya, terima kasih. Kalau Arga dimana?"


" Arga di Jakarta, kerja di tempat bokapnya"


" Sylvia dan Roni masih di sini?"


" Iya, Roni meneruskan showroom orang tuanya, dan Sylvia sudah punya satu anak"


Afkar tersenyum, benar-benar susah banyak berubah. Jika ceritaku pun di buka, akan banyak yang berbeda, tapi tidak, biar saja mereka menganggapku masih bekerja di Surabaya, toh aku juga belum menjadi apa-apa jauh merantau, apa kata Alya aku yang sekarang malah menjadi supir pribadi, semakin saja aku tidak berarti.


" Kapan Alya akan kesini lagi Bowo"


" Gue belum tau, kemarin kata Arga mereka akan rutin ngumpul setiap empat bulan sekali, artinya tiga bulan lebih lagi, tapi gue juga enggak tau bakal mampir kesini atau enggak. Arga mengambil sabtu minggu kalau kesini, dengan banyaknya tempat nongkrong mereka, mungkin saja sih cafe gue enggak masuk di daftar mereka bulan nanti, kecuali Alya kangen sama kopi gue,hehehe, kenapa?"


" Aku mau meninggalkan pesan pada Alya"


" Lucu lo Afkar, Pesan pakai apa? telefon aja langsung"


Afkar diam, aku tidak punya lagi nomor handphone nya, aku juga sudah mengganti nomor ponselku, mana bisa kami berhubungan lagi. Aku juga tidak ingin memintanya padamu, nanti kalau aku menghubungi, bisa-bisa dia ganti nomor lagi, sangat memalukanku diperlakukan berulang dengan cara begitu.


" Boleh aku minta kertas dan pena?"


" Lo mau nulis surat? hahaha, enggak salah dengar gue Afkar?"


Afkar tersenyum


" Tidak, aku mau menulis surat untuknya. Nanti kapanpun dia datang, aku minta tolong serahkan suratnya ya"


Bowo berhenti tertawa melihat wajah Afkar yang begitu sendu, heeyy, maafkan aku kawan menertawaimu. Tapi sebaiknya kamu jangan juga bersikap aneh begini, masih mau mempertahankan Alya? kamu sudah sering dibohonginya, aku saksi kalau dia sering kesini bersama Kevin, dengan gaya congkak memamerkan mobil putihnya, menyebut lelaki yang dibawanya itu adalah lelaki pilihan orang tua yang tajir melintir. Alya yang kalau salah sedikit takaran kopi dan gula buatan dari tangan karyawanku akan bilang kalau salah lagi dia akan membeli kafe ini beserta gue sebagai pemiliknya, dia pikir gue cowo gampangan dapat dia beli seenaknya.


Arga yang kemarin menasihatinya agar dia berhenti mempermainkan lo sama Kevin malah di ajaknya berantem. Lo masih cinta sama dia? tapi sebentar, terakhir tadi gue sempat gabung mereka dan Alya beberapa kali menyebut nama lo, lo yang hilang. Gue tidak pernah sih ikut pembicaraan serius mereka, gue selalu disibukan dengan pelanggan-pelanggan gue yang lain dan yang waras.


" Sebentar gue ambil di ruangan gue, tapi tidak ada kertas surat, cuma kertas buat ngeprint doang sama kertas tulis biasa"


" Kertas apapun Bowo, asalkan bisa untuk ditulisi dan terbaca"


" Iya"


Bowo kembali berjalan keruangannya dan keluar membawa beberapa lembar kertas polos hvs.


" Kalau mau diketik di laptopku juga boleh, nanti kita print"


" Tidak usah merepotkan, aku langsung menulis di sini saja"


Bowo menyerahkan kertas dan dua pena. Di zaman begini masih ada yang menulis surat dengan kertas dan pena, ajaib sekali kamu Afkar, sama ajaibnya dengan teman konyol gue Alya itu.


" Silakan Afkar, gue mau ke ruangan gue dulu mau bikin laporan keuangan, kalau ada apa-apa temui saja gue"


" Iya Bowo"


" Oh iya, lo bisa disini sampai kapanpun, jangan terburu-buru. Kalau mau makan panggil karyawan gue ya, kami juga menyediakan makanan di sini"


Afkar mengangguk


" Iya"


Bowo meninggalkan Afkar menuju ruangannya. Baru kali ini gue terima tamu begini, biasanya cuma minta menu, kali ini minta kertas dan pena buat menulis surat. Buat Alya lagi, kenapa gue malah kepikiran banget ya, dari awal memang gue sudah merasa kasian sama Afkar gara-gara Alya. Dan sekarang gue melihat tatapan sedihnya, gue ambil fotonya dulu dari sini, nanti akan gue kasihkan ke Alya kalau dia datang. Beberapa jepretan kamera mengarah ke Afkar yang mulai menulis. Tidak puas dengan foto, Bowo juga mengambil videonya. Ada apa dengan mereka ya?.


Sudah setengah jam, Bowo membuka sedikit pintu ruangannya, memandang Afkar dari samping, dia masih menulis, sebanyak apa tulisannya? apakah selalu salah dan mengulang dari awal? tadi aku memberikan berapa lembar ya?. Bowo melambaikan tangganya pada satu karyawan


" Don, kasihkan kertas ini pada lelaki yang menulis itu"


Bowo menyerahkan lagi beberapa lembar kertas pada Doni, dan Doni segera mendekati Afkar dan menyerahkannya, Afkar terlihat mengangguk kemudian melanjutkan lagi menulis. Bowo menutup lagi pintu dan kembali menghitung keuangan kafe nya.


Sudah hampir satu jam, Bowo kembali membuka pintu, astaga, Afkar masih di posisinya semula dan masih saja memegang pena dan menuliskan pada kertas-kertasnya. Dia sedang bikin cerita novel ya? selama itu apa saja yang ditulisnya?. Bowo mengambil ponsel dan mengabadikan kejadian itu dalam bentuk video.


Sudah tiga lembar penuh, Afkar meremas beberapa kertas yang sudah di tulis namun batal untuk diserahkan pada Alya, hanya tiga lembar.


Afkar memandang sekeliling, beberapa pengunjung sedang menikmati kopi dan makanan mereka. Sudah jam satu siang, aku sudah lapar dan belum shalat. Afkar berjalan menuju pintu ruangan Bowo dan mengetuknya.


Tok tok tok


Bowo membukakan pintu


" Iya Afkar?"


" Bowo, aku minta tolong berikan surat ini pada Alya saat dia datang nanti"


Bowo mengambil kertas dengan lipatan kecil dari tangan Afkar


" Perlu gue kasih amplop dan di lem?"


Afkar tertawa


" Tidak usah, aku percaya surat ini akan terbaca pertama kali oleh Alya"


Bowo ikut tertawa


" Makan dulu Afkar?"


" Tidak, aku mau ke hotel, mungkin bos memerlukanku"


" Baiklah, terima kasih sudah mampir Afkar, nanti kalau kebetulan pulang kesini jangan lupa mampir lagi ya"


Afkar mengulurkan tangannya


" Terima kasih Bowo, semoga usahamu lancar dan pelanggan tambah banyak"


" Lo juga, semoga sukses bro"

__ADS_1


Afkar mengangguk dan berpamitan, Bowo mengantarnya sampai ujung tangga, memandangi Afkar yang menuruni tangga dan memasuki mobil. Kenapa gue terenyuh begini ya? gue sama sekali tidak tau ada apa dengan mereka, tapi gue bisa menangkap kesedihan luar biasa dari Afkar, gue memang tidak kenal Afkar, tapi wajahnya itu seperti kehilangan sesuatu, bukan ketampanan, dia masih setampan saat Alya membawanya pertama kali kesini.


Handphone Arga bergetar, satu notifikasi masuk


" Ga, kalau ada waktu telepon gue, penting"


" Okee, gue lagi meeting"


" Siipp"


Emo jempol terkirim dari ponsel Arga. Bowo kenapa, jam begini mau bicara apa? nanti deh, pulang kerja gue hubungin . Arga meletakan ponsel di sampingnya dan melanjutkan meeting sampai sore.


Beberapa berkas diantar seorang perempuan muda masuk ke dalam ruangan Arga. Arga yang sekarang menjadi kepala divisi menatapnya dengan lesu, yang ada saja belum selesai, masih di tambah setumpuk berkas lagi.


" Dara, bisa tidak nanti saja, gue pusing ini"


Perempuan muda bernama Dara itu duduk di kursi depan meja Arga.


" Ini lah tanggung jawabmu, baru kepala divisi, tahun depan kamu akan memimpin perusahaan ini , jadi siap-siap saja semakin pusing, hehehe"


" Kalau gue nanti jadi dirut, lo gue bawa jadi sekretaris pribadi gue biar lo ikut sama pusing gue"


" Pusing saja sendiri, gue sih menikmati saja,hehehe"


Arga dan Dara tertawa. Mereka seumuran, dan sama-sama anak orang penting di perusaahan ini, bedanya Dara sangat ogah dan menolak di tempatkan di jabatan penting, katanya dia ingin bebas saja, untuk apa bekerja keras toh bokap nyokapnya sudah kaya, dan nanti kalau menikah ada suami yang harus banting tulang menghidupinya, bukan dia. Makanya jabatan apapun yang ditawarkan akan langsung di tolaknya, dia sangat menyenangi pekerjaannya sekarang sebagai tim pengecek berkas masuk sebelum sampai ke kepala-kepala divisi untuk di tandatangani.


" Arga, kamu jadi berangkat lusa ke Bandung?"


" Iya, lo mau ikut?"


" Enggak banget, gue cuma mau titip bawain oleh-oleh"


" Kalau enggak ikut jangan minta oleh-oleh, ribetin gue aja nyariinnya"


" Iih, pelit"


" Dara, gue pikir lepas dari Alya bakalan bebas hidup gue, ternyata di sini ada lo yang enggak kalah bikin ribut, sekarang Alya sudah cukup waras sih, haha"


Dara melotot


" Gue enggak waras? eh Ga, sudah ada kabar Afkar?"


Arga menggeleng


" Enggak ada, gue maunya Alya cepat menemukan pengganti, biar dia tidak tersiksa begitu lagi"


" Ya udah, lo aja ajukan diri buat dia, biar Alya enggak jomblo lagi"


Arga tertawa


" Gue memang mencintai Alya, tapi sebagai saudara. Gimana kalau gue mengajukan diri buat lo aja? kan lo masih jomblo juga, hahaha"


Dara mencibirkan bibirnya


" Noh Fanya mau di taruh di mana? enggak berani gue bersaing sama dia"


" Sialan lo Ga, tuh berkas udah gue cek, jangan nambahin pekerjaan gue lagi ya ngebalikin ke gue, gue mau ngebakso dulu di kantin"


" Eh, ikut"


Arga berdiri dan ikut berjalan mengikuti Dara mendengar kata bakso. Arga menggulung lengan bajunya, katanya biar keliatan lebih muda, Dara beberapa kali menertawainya.


Sambil menikmati bakso bang Diman di jam empat sore ini memang menyenangkan, diantara jam lapar dan belum lapar.


Tiiit, Bowo.


Astaga, gue lupa nelfon balik dia


" Hallo Wo"


" Arga, lo sibuk apa lupa sih?"


" Whaahaha, awalnya beneran sibuk, lama-lama jadi lupa, maaf Wo"


" Sekarang lo lagi ngapain?"


" Makan bakso sama nona cantik tapi mirip kuntilanak"


Dara melirik


" Beraninya gue dibilang kuntilanak"


" Hahhaa, udah selesai Wo, apa yang penting sih?"


" Gini Ga, tiga hari yang lalu Afkar ke kedai gue"


Arga menyemburkan air mineral yang baru di teguknya dari botol, membuat Dara disampingnya yang belum selesai menghabiskan bakso marah.


" Arga jorok ih, gue belum selesai, huuh Arga ngilangin selera gue aja, ngapain tadi ikut-ikutan kesini"


Bowo yang mendengar dari seberang bingung


" Ga, siapa yang berani bentak lo selain Alya?"


" Ini, kuntilanak. Lanjut Wo, kaget gue"


" Dia lama lo Ga di tempat gue, dia nanyain Alya, nanyain lo, Roni, Sylvia. Ya gue jawab aja"


" Wo, lo minta nomor ponselnya?"


" Memang dia ganti nomor?"


Arga menepuk jidatnya


" Astaga Wo, disitu masalahnya"

__ADS_1


" Enggak ada yang mesanin gue"


" Yaaa, kami juga enggak nyangka dia bakal datang, ke tempat lo lagi"


Hening


" Ga, dia nitip surat buat Alya"


" Surat?"


" Iya, tiga lembar kertas hvs Ga"


" Isinya apa?"


" Mana gue berani buka"


" Iya ya"


" Kabarin Alya deh Ga, biar dia ambil ke tempat gue"


Hening


" Enggak, dia enggak boleh sendiri mengambilnya, harus gue temani"


" Kapan lo ke sini"


" Lusa gue ke Yogya"


Dara menyenggol lengan Arga


" Heh, lusa lo ke Bandung, dua minggu. Mau kabur ke Yogya segala"


Arga melongo


" Astagaa, gue lupa, gue ke Bandung Wo"


" Ya biarin Alya aja yang ambil sendiri, cuman dua jam aja dari tempat kerjanya ke kedai gue"


" Bukan masalah jaraknya, dia akan shok Wo, apapun isi surat itu pasti akan ada tindakan setelahnya"


" Gue yang jagain deh, gue temanin Alya pas lagi baca"


" Bukan begitu, lo enggak tau sih ceritanya. Gimana kalau Afkar memintanya nyusul ke Surabaya ataupun kota dia sekarang berada? gimana kalau ini pembalasan?"


" Emang Afkar dimana?"


" Lo enggak nanya Wo?"


" Bener-bener lo Ga, gue ulangin lagi, memang kalian pernah titip pesan kalau Afkar datang ke kedai gue tanya semua tentang dia?"


Arga mengetuk-ngetuk jarinya ke atas meja sedang berpikir keras


" Jangan sampai Alya tau Wo, pokoknya pulang dari Bandung gue langsung ke Yogya"


" Huuh, ribet kalian ini, surat begitu aja."


" Aja lo bilang? ini penting Wo"


" Lo sih tidak menelfon balik gue kemarin"


" Iya, nyesal gue Wo"


" Ga, gue liat jelas wajah Afkar, dia sedih banget, kaya orang hilang harapan begitu"


" Oh ya?"


" Gue sempat ambil gambar dan videonya kemarin, nanti gue tunjukin ke Alya"


" Simpan Wo, apapun tentang Afkar akan sangat berarti buat Alya"


" Oke Ga, gue mau mengurus kedai dulu ya, salam sama kuntilanak di samping lo"


Arga menyenggol lengan Dara, Dara menoleh ke arah Arga


" Dapat salam dari pangeran Arjuna"


Sambil menunjuk ponselnya.


Dara cuma mencibir.


" Di tolak salamnya Wo, kuntilanak cari pasangan yang harus lebih seram dari dia. Oke deh, nanti gue kabarin ya Wo"


" Iya Ga, gue tunggu. Assalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Klik.


Dara menatap Arga yang langsung melamun


" Ga, kenapa?"


" Afkar masih hidup, dia nitip surat buat Alya"


" Suruh aja Alya ambil ke tempat teman lo tadi".


" Enggak akan gue biarin Alya sendiri membacanya, gue juga enggak bisa membayangkan isinya apa, tapi bisa gue yakini, tangisan Alya akan membanjiri kedai Bowo"


" Ooh, ya udah. Kita balik kerja Ga, kerjaan lo belum beres"


" Bantuin gue Ra"


" Malas, gue mau nonton sama teman-teman gue pulang kerja"


" Enggak setia kawan banget lo"

__ADS_1


" Biarin, bayarin Ga"


Arga berdiri menuju kasir dan membayar dua porsi bakso dan air mineral. Berjalan gontai menuju ruangannya. Afkar, apa yang kamu tulis pada suratmu? apakah akan membuat hubungan kalian bisa kembali? atau menceritakan kalau lo sudah mendapatkan penggantinya? Gue merasa gelisah. Andai saja ke Bandung bisa diwakilkan, gue mau ke Yogya menemani Alya besok.


__ADS_2