Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Perdebatan Berbonus Sakit


__ADS_3

Plaaak


Sebuah pukulan tangan menghantam meja kaca, beberapa gelas bergetar tapi tidak sampai jatuh


" Kamu berani sekali Alya, mama malu sama mereka"


Alya mencoba mengangkat kepalanya


" Apa yang berani ma? Alya bertanya, kemudian dijawab, Alya bertanya lagi, salahnya dimana?"


" Bukan pertanyaan mereka, tapi jawaban kamu"


" Alya jawab yang sebenarnya, Alya diajarkan bicara jujur kan?"


" Kami juga mengajarkan kamu sopan santun"


" Alya masih sopan dan menjaga kesantunan ma"


" Tidak, kamu sama sekali melupakan itu barusan"


" Mungkin karena yang lain juga melupakan kalau Alya juga punya perasaan ma, Alya sudah bilang dari awal dulu kalau Alya tidak bisa mencintai ka Kevin, tapi selalu tidak dianggap, selalu diremehkan"


" Karena memang seharusnya tidak ada yang lain Alya"


" Tapi ada ma"


Mama menatap tajam Alya


" Semakin berani ya kamu Alya"


" Alya hanya mempertahankan apa yang harus Alya pertahankan ma"


" Sayangnya pertahanan kamu itu lemah, apa yang membuatmu masih harus mempertahankan Afkar di saat begini?"


" Apa yang membuat Alya harus meninggalkannya?"


" Kamu bahkan tidak punya jawabannya"


" Alya punya jawabannya nya, ka Afkar bisa membuat Alya mempercayakan masa depan, dan itu sudah menjawab semuanya ma"


" Itu bukan jawaban, kamu hanya bersembunyi"


" Ma, kenapa semua orang meremehkan kami, apa salah kami? apakah kami merugikan orang lain?"


" Tidak ada yang meremehkan mu, kami bahkan menganggapmu seorang gadis yang pantas untuk ditinggikan, jadi jangan merendahkan dirimu sendiri."


" Tapi Alya merasa sangat tidak dihargai, tidak dicintai di tengah keluarga Alya sendiri"


" Alya kamu tau bagaimana cinta mama? kamu itu permata bercahaya buah kasih kami, buah hati kami.Kami mengharapkan dan selalu mendoakan masa depanmu jauh lebih baik dari sekarang. Sejak kamu terlahir kami mencoba membuatmu bisa tegar menghadapi rintangan hidup. Dan ketika kamu melalui proses-proses merangkak, duduk, berdiri, berjalan, berlari, sedikit saja kamu menangis karena terjatuh, terguling, kami sangat mengkhawatirkanmu walaupun itu adalah proses agar kamu bisa melangkah lagi untuk proses yang lebih luar biasa, luka di badanmu, seperti menyayat di tubuh mama, jika airmata menetes , sejuta lara menyiksa mama dengan perasaan kebersalahan. Kami menjaga mu bak kaca, sangat hati-hati dan sangat waspada, tidak ingin membuatmu retak apalagi pecah tersia-sia"


" Menjaga dan mencintai seharusnya bukan menggenggam dan mengikat pada tali dan sangkar emas kan ma?"


" Tidak Alya, tapi sekarang didepanmu ada masa depan yang baik, kenapa kamu mempertahankan yang samar?"


" Ka Afkar tidak samar ma, dia sangat baik"


" Baik saja tidak cukup"


" Dia mencintai Alya"


" Kevin kurang cinta apa? dia menjagamu, melindungimu, mama juga bisa melihat sebenarnya kamu juga menyayanginya"


" Alya tidak mencintainya ma"


" Tapi kamu juga tidak bisa meninggalkannya kan?"


Alya terdiam, entahlah ma.


" Sudahlah Alya, terlalu lama kamu berpikir, kenapa tidak juga punya keputusan"


" Alya sudah memutuskannya ma, tapi selalu tidak didengar"


" Karena pilihanmu tidak benar"


" Tidak pernah ada yang salah dengan perasaan ma"


" Selama masih ada pilihan yang lebih baik, keputusan mu ini masih tidak benar"


" Ma, bisakah untuk mendengarkan Alya?"


" Bisakah kamu yang mendengarkan kata kami? semua memilih Kevin Alya, cuma kamu yang memilih Afkar, jadi siapa sebenarnya di antara kita ini yang lebih berfikir? kami yang semua atau kamu yang sendiri?"


Alya menghembuskan napasnya


" Alya lelah ma, tidak adakah yang mencoba mengerti kami?"


" Kami mengerti, justru kamu yang berpura tidak memahaminya"


" Materi ma?


" Tidak hanya itu, Kevin mampu memberikan perhatian, perlindungan, kenyamanan bahkan keperluanmu, mama tau walaupun kamu tidak cerita, darimana kamu bisa beli tas branded, gaun mewah, sepatu bermerk, uang jajanmu saja kami yang mengatur, semua Kevin kan? dan kamu memakainya Alya, artinya kamu juga menyenangi itu"


" Kalau tidak ada Alya juga senang ma, sebelum ini Alya kan tidak pernah juga meminta uang jajan lebih buat membeli barang-barang itu, jadi kalau sekarang Alya dikembalikan lagi seperti dulu tidak akan bermasalah"


Mama memandang papah yang dari tadi hanya duduk mendengarkan


" Pah, Alya semakin berani sekarang"


Papah berdiri dan duduk disebelah Alya


" Sekarang katakan, Afkar akan melakukan apa padamu saat ini jika kami merestui hubungan kalian?"


Deegg, pertanyaan apa ini pah?


" Katanya setelah Alya lulus kami akan menikah dan Alya akan ikut ke Surabaya"


" Lalu?"


" Ya,,, Alya akan mencari pekerjaan disana"


" Kemudian?"


" Hhmm, kami akan membuktikan kalau kami mampu berjuang bersama"


Papah mengelus kepala Alya


" Papah percaya Alya, jika berjuang bersama-sama itu akan membuahkan hasil yang baik"


Alya menatap papah dengan sendu


" Tapi itu jika tidak ada pilihan lain"


Alya kembali tertunduk, papah kenapa seperti mengangkat Alya ketempat tinggi, sedetik kemudian menghempaskannya


" Papah sudah melihat bagaimana Kevin berusaha menjaga mu, bahkan disaat dia tidak ada disampingmu sekalipun, dan itu luar biasa untuk seorang laki-laki yang sedang harus bersaing dengan lelaki lainnya, kemudian orang tuanya, mereka begitu mencintai dan memperhatikanmu, mereka sempat bercerita kalau kalian menikah mereka akan memberikanmu kantor ataupun pekerjaan lain lagi dimanapun kamu mau, dan untuk rumah, Kevin juga sudah menyiapkan tabungannya. Kamu tidak perlu berjuang seperti yang kamu katakan tadi Alya, kamu hanya perlu mengelolanya"


" Pah, nasib seseorang tidak ada yang tau kan?"


" Benar sekali, tapi bukankah kita bisa memilih Alya? dan penglihatan mata kita saat ini kamu akan lebih nyaman bersama Kevin, kami sudah melihat tanggung jawab dan kedewasaannya"


" Ka Afkar juga pah, dia dewasa dan bertanggung jawab"


" Papah percaya, tapi sayangnya kami tidak melihatnya, boleh kamu tunjukan juga pada kami?"


Kembali Alya terdiam


" Pah Alya tidak suka selalu memperbandingkan mereka, bisa tidak ini dihentikan saja?"


" Bisa"


" Caranya?"


" Terimalah Kevin"


Apa yang salah dari kami?


" Kalau Alya masih menolak?"


Mama meninggikan suaranya


" Alya, kamu sekarang benar-benar sudah berani melawan kami, siapa yang mengajarkan ini?"


" Sudah ma"


Papah mencoba menenangkan mama yang sudah dalam keadaan emosi


" Kamu tidak mau mendengarkan kami lagi Alya? kamu sudah mau membangkang kami? karena Afkar? kenapa mama merasa sakit hati begini Alya?"


"Sudah lah, kita istirahat saja, cukup dulu malam ini, Alya, masuk kamar dan istirahat"


" Iya pah"


Papah dan mama memasuki kamar, sementara Alya memandangi kedua orang tuanya, aku membangkang? aku melawan? mama sakit hati karena aku memilih ka Afkar? sebegitu jahatkah aku sebagai seorang anak? aku hanya mempertahankan perasaanku, kenapa tuduhannya berat begini? semua ini kan bukan aku yang memulai tapi mereka, kenapa aku yang harus terlibat dan harus menjadi pemeran utama dari semua keinginan mereka?


kenapa penglihatan ku tiba-tiba seakan berputar. Alya memegangi kepalanya. Bik Inah yang melihat diskusi atau lebih mirip dengan pertengkaran tidak berani membereskan meja tempat gelas dan piring piring saji yang berisi makanan kecil dan kudapan itu, begitu melihat tuan dan nyonya ke dalam kamar dan tinggal nona Alya dia segera mendatangi ruang tamu untuk membereskannya, tapi dia malah melihat nona Alya memegangi kepalanya sendiri


" Non, kenapa?"


" Pusing bii"


" Sini bibi bantu ke kamar ya"


Alya meraih tas dan memasukan ponsel nya, tapi ketika ingin berdiri kakinya ikut lemah


" Non Alya,,,"

__ADS_1


Papah yang sudah selesai membawa mama ke kamar keluar untuk memastikan pintu dan jendela semua dalam keadaan terkunci, begitu sampai di ruang tamu melihat bi Inah mencoba membopong Alya yang terduduk di lantai


" Alya kenapa??"


Papah menggendong Alya ke kamarnya diikuti bi Inah sambil membawakan tas ranselnya, sementara mata Alya terpejam karena melihat seluruh pandangannya seperti berputar.


Adzan subuh sudah berkumandang, seperti biasa mama langsung mengecek dan membangunkan anak-anaknya, mengetuk pintu kamar Tasya dan membukanya


" Tasya bangun, shalat"


Menguap dan menggeliat


" Iya mah"


Dan seperi biasa mama tidak akan mempercayai ucapan iya dari anak-anaknya sebelum mereka benar-benar berjalan ke kamar mandi


"Tasya, mau hitungan ke berapa mama tungguin? satu,,, ti,,,"


Tasya duduk


" Coba jadi guru saja, jadi perawat kalau hitungan satu selalu loncat jadi tiga, dua nya ditinggalin"


" Cepat wudhu"


Tasya berdiri dan mulai berjalan sempoyongan.


Mama kemudian keluar dan mengetuk pintu kamar Alya


Tok tok,kemudian cekrek membuka pintu. Alya masih berselimut dan hanya terlihat kepalanya saja


" Alya bangun sudah subuh"


Alya diam tanpa reaksi


" Alya ayo bangun"


Mama menarik selimut dan terlihat Alya meringkuk, baju yang dikenakannyapun masih pakaian kemarin


" Alya, kamu sakit?"


Mama meraba dahinya


" Demam, ini sepertinya diatas 38, sebentar mama ambil termometer"


Mama menarik selimut yang dipakai Alya


" Jangan pakai selimut"


Mama keluar dari kamar Alya dan memasuki ruang praktiknya, mengambil termometer dahi. Termometer ini menggunakan suhu kulit untuk menentukan suhu tubuh. Penggunaan termometer berbentuk tipis ini cukup ditempel pada dahi.


Mama kembali masuk ke kamar Alya dan menempelkannya


" 39"


Mama kembali ke ruang praktik dan mengambil obat penurun panas dan Paracetamol. Sebelum ke kamar mama menuju dapur dan mengambil beberapa potong kue. Papah yang baru datang dari mesjid melihat mama mondar-mandir


" Kenapa mah?"


" Alya demam tinggi, 39 pah, ini mau mama kasih obat penurun panas"


" Sakit?"


Mama dan papah memasuki kamar Alya, papah memegang dahi Alya


" Alya bangun, bisa shalat tidak?"


" Alya lagi halangan mah"


" Kalau begitu duduk bisa? makan dulu kue nya baru minum obat"


Papah mendudukan Alya di sandaran tempat tidurnya perlahan, mama menyodorkan sendok yang sudah berisi potongan kue, Alya menggeleng


" Enggak mau ma, obat aja"


" Sedikit saja Al, perut kamu kosong"


Alya membuka sedikit mulutnya dan mulai menggigit pelan, mama menyodorkan lagi sendok kemulutnya, Alya menggeleng


" Alya mau muntah mah"


" Sudah lah ma, daripada Alya muntah obat aja langsung"


Mama ke dapur dan mengambil segelas air putih, membuka obat penurun panas dan menyodorkan pada Alya, Alya menelan obat yang diberikan dan langsung meminum air di dalam gelas


" Istirahat saja dulu, tidak usah masuk kantor"


Alya mengangguk dan kembali berbaring


" Pintunya tidak mama tutup ya Al, kalau perlu apa panggil mama atau bibi


Setelah kedua orang tuanya meninggalkannya Alya meraba sebelah kirinya, membuka tas dan mengambil ponsel.


2 pesan tak terbaca


" Assalamualaikum sayang"


." Sayang sudah bangun?"


Alya merasa pusing dan tidak bisa membalas pesan, tapi tangannya cepat menekan tombol hijau


Tiiit


" Assalamualaikum sayang"


" Waalaikum salam ka?"


" Apa kabar? sudah mandi?"


" Belum ka, Alya demam, tidak bisa mandi"


" Lho, kenapa sakit sayang? kecapean ya kemarin mengurusi kerjaan di kampus?"


Alya cuma diam, kerjaan di kampus apaan, Alya tadi malam kerja keras ka, sendiri


" Mungkin"


" Boleh video call?"


" Iya"


Klik


Panggilan video


Alya terbaring di tempat tidur dengan posisi sedikit miring


" Sudah minum obat sayang?"


" Barusan ka"


" Tidak usah masuk kantor dulu ya"


" Iya ka"


Hening, Afkar memandang wajah sendu Alya, kenapa matamu agak bengkak seperti habis menangis sayang? senyum itu sangat sepi, matamu juga merah, demammu tinggi? atau baru saja menangis?


" Sayang menangis?"


" Tidak"


" Jangan bohong"


" Hehehe, sedikit ka"


" Baiklah, nanti kalau sudah agak baikan cerita ya sayang"


" Iya ka"


Afkar kembali memandang kekasihnya, ada apa sayangku, apakah kamu sudah bicara dengan orang tuamu? apakah mereka tetap tidak mengizinkan kita bersama? apakah mereka tetap memilih Kevin?


Tiba-tiba mama muncul dari balik pintu, Alya langsung mematikan panggilan videonya


" Alya, sebentar lagi om Hadi dan tante Risma kesini, barusan mereka telfon katanya pamit mau Ke Jakarta, mendengar kamu sakit mereka malah mau jenguk kamu dulu"


Mama yang baru menyadari Alya menutup panggilan video melirik ponsel Alya


" Afkar?"


Alya cuma terdiam tanpa menjawab


" Kamu ganti baju dulu ya, mama bantuin, mama ambil air hangat dulu buat kamu cuci muka, sebentar lagi mereka datang"


Alya mengangguk. Mama keluar dari kamar , Alya kembali melihat ponsel nya


Satu pesan tak terbaca


" Semoga cepat sembuh sayang, aku siap-siap mau berangkat dulu, istirahat ya, Emuuah. Assalamualaikum"


Setelah berganti pakaian dibantu mama, Alya duduk bersandar di tempat tidurnya, tapi tetap memejamkan mata, karena kalau dibuka ruangan kamarnya seperti sedang mengelilinginya


" Alya,,"


Mama masuk dan Alya membuka matanya perlahan


" Tante"

__ADS_1


Alya sebentar membuka matanya kemudian menutup lagi, benar-benar berputar dan membuatnya ingin muntah


" Tante bawakan bubur ayam, kata Kevin kamu suka makan ini"


Alya cuma tersenyum sambil terus memejamkan matanya


" Maaf mba, Alya pusing kalau buka mata katanya berputar dan ingin muntah"


Mama menjelaskan pada tante Risma


" Iya, istirahat saja, tapi buburnya di makan ya, tante suapi ya?"


Alya diam, apaan disuapi, nanti aja


" De Siska, bisa ambilin sendok dan minuman, biar aku yang suapin Alya"


Mama meninggalkan mereka ke dapur untuk mengambil sendok dan minuman, di ruang tamu sudah berdiri Kevin


" Tante Alya bagaimana?"


" Kevin mau liat?"


Kevin mengangguk


" Ikut tante"


Kevin mengikuti mama menuju ke kamar Alya, sudah ada mamanya yang menunggu di samping Alya sambil mengusap rambutnya


" Ini mba sendok nya"


Tante Risma melepaskan tangannya dari kepala Alya dan mengambil sendok dari tangan mama, mama membantu membuka tempat makan yang berisi bubur ayam


" Makan ya Al"


Tante Risma mulai menyendok ke mulut Alya yang sebelumnya sudah di rabanya kalau bubur ini sudah tidak terlalu panas untuk di telan, Alya membuka sedikit mulutnya dan mulai merasakan hangat makanan kesukaannya ini, karena sedang terpejam Alya membayangkan ini adalah sarapan yang dibelikan Afkar untuknya seperti dua tahun yang lalu, walaupun tadinya ingin muntah, tapi membayangkan ini adalah bubur ayam yang diberikan dari Afkar ,Alya bisa menelannya walau perlahan-lahan


" Lagi ya sayang"


Tante Risma kembali menyendok ke mulut Alya, dan Alya kembali membuka mulutnya sedikit, bisa lagi. Mama tersenyum, cepatnya majumu nak, tadi kue segigit saja kamu mau muntah, ini bahkan suapan ketiga dari makanan yang dibawa Kevin kamu bisa menelannya, ini yang kamu sebut tidak mencintainya? justru ini obatmu Alya


Tapi di suapan kelima Alya menyerah dan mendekatkan tangannya ke tangan tante Risma


" Sudah, Alya mau muntah"


" Iya sayang, kita selesai mau minum?"


" Iya"


Mama menyerahkan gelas air dan meminumkannya ke mulut Alya.


" Ma, Alya mau berbaring"


Kevin langsung mendekat dan membantu tubuh Alya agar bisa berbaring, wangi Kevin tercium di hidung Alya, dia langsung membuka matanya, benar saja Kevin yang merebahkan tubuhnya, dan begitu menyadari Alya membuka matanya, Kevin tersenyum, wajah mereka sangat dekat , uuhhh sial kenapa hidungku terasa nyaman?.


Alya membiarkan matanya terbuka karena ingin melihat apa saja yang mereka lakukan di kamarku


" Alya, maafin tante soal tadi malam ya, tapi tante sudah bicara sama Kevin"


Alya dan mama terdiam, apa yang tante bicarakan? Alya juga sudah bicara dan sedikit berantem, dan hasilnya begini, Alya terkapar tidak jelas, kalau tante hasilnya apa?


" Tante sudah menasihati Kevin agar lebih bisa memperhatikan ,menjaga dan melindungimu, agar Kevin lebih bisa mencintaimu lagi, agar kamu bisa menerima segala kekurangannya, maafkan Kevin ya yang sering lalai jagain kamu, yang sering lupa mengingatkan jam makanmu, yang sering telat jemput kamu di kampus"


Apaaa???? supaya ka Kevin lebih memperhatikan aku??


Cerita apa lagi ini? aku yang **** atau sudah takdirku selalu terjebak di dalam hal yang tidak aku pahami?


" De Siska, mungkin ada yang mau mereka bicarakan, bisa kita bicara di luar?"


Mama mengangguk, tante Risma dan mama meninggalkan mereka berdua. Kevin duduk di bagian kaki Alya


" Ka, ngomong apa tadi malam sama tante?"


" Aku bahkan diam saja sejak pertama meninggalkan rumahmu ini sampai ke tempat tante Lusi, bahkan mama yang sepanjang jalan dan di rumah tante Lusi ngomelin aku gara-gara aku yang kurang perhatian sampai kamu belum bisa menerimaku, aku sama sekali tidak membela diri, aku siap disalahkan atas kesalaham yang tidak aku lakukan"


" Kenapa kaka tidak bicara jujur?"


" Aku diam dan menjadi sebab kesalahan dari orang lain saja kamu sudah sakit begini, apalagi kalau aku cerita yang sebenarnya"


" Kenapa mau saja, bicaralah agar kaka tidak menjadi penyebab kesalahan dari Alya"


" Untuk apa? aku malas membela diri, malah akan semakin kamu benci"


Hening


" Ka, tadi malam Alya berantem sama mama"


" Ooh"


" Mereka memperbandingkan kalian?"


" Aku sudah bisa menebak hasilnya"


" Apa?"


" Aku dimenangkan mereka, tapi aku terbanting-banting olehmu"


Alya tersenyum


" Norak"


" Betul kan?"


" Iya"


" Lalu?"


" Tidak ada selesainya, mereka masih dengan keinginannya, dan Alya masih dengan keinginan Alya"


" Itu juga sudah kutebak"


" Kaka mau nya bagaimana?"


" Aku ya mau kita terus, aku bahkan belum mengeluarkan jurus-jurus mautku, masa aku harus mundur?"


" Katanya tadi malam menyerah?"


" Mana mungkin aku menyerah, kamu saja tadi malam terus mengikutiku, aku semakin yakin saja, kamu memang mencintai Afkar, tapi belum bisa melepasku"


" Masih mau berjuang walaupun tetap akan kalah?


" Biarpun kalah, setidaknya tadi malam bukan menjadi malam terakhirku bisa melihatmu lagi, mungkin juga ini adalah awal untuk kemenanganku"


Alya terpejam


" Ka, tau tidak kalau saat ini Alya tidak pusing kaka sudah Alya apain?"


" Tau"


" Apa?"


" Bahuku di tinju, lengan atau pahaku di cubit, kakiku di tendang"


Alya terkekeh


" Kok hapal susunannya?"


" Kan sudah jadi makananku sehari-hari, hehehe"


" Ka, kapan balik ke Bandung?"


" Rencana besok, tapi batal"


" Kenapa?"


" Selain hati, ada raga yang harus aku jaga dulu sampai sembuh"


" Maksudnya?"


" Kamu"


" Ngapain?"


" Bukan aku terlalu cinta ya, kamu tidak usah besar kepala, tapi aku cape di omelin mama lagi karena tidak bisa menjagamu, sudahnya aku disalah-salahin karena kamu belum mencintaiku, padahal karena kamu mencintai orang lain, itu sudah aku terima, sekarang kamu sakit karena membela kekasihmu, aku masih juga disalahkan karena lalai menjagamu, aku lebih baik pindah saja ke planet lain yang tidak ada Alya nya"


" pindah aja biar kekasih Alya tidak punya saingan lagi"


" Tapi kupikir lebih baik tetap bersamamu yang biasa-biasa ini daripada harus bersama makhluk lain di luar angkasa sana yang mungkin saja lebih menyeramkan daripada kamu"


Walau sambil terpejam Alya masih bisa melancarkan aksinya menendang kaki Kevin dari ujung kakinya


" Awww"


" Hahaha"


Tawa mereka terdengar sampai ruang keluarga, lebih tepatnya bukan terdengar, tapi memang yang lain menguping


Mama dan mama terlihat bahagia


" De, semoga cepat ya mereka bisa bersatu, aku sudah tidak sabar mau melaksanakan pernikahan mereka"


" Iya mba, maafin ya tingkah Alya, kalau ngomong suka nyablak"


" Bukan salah Alya, tapi salahku yang terlalu menjurus, memang aku sangat ingin, tapi mulai sekarang aku harus lebih pelan-pelan sama Alya, dan pastinya salah Kevin, dia tidak terlalu perhatian sama Alya, makanya Alya belum bisa mencintai nya"


Mama tersenyum kecut. Untuk bagian itu mbak tidak perlu tau, kami hanya minta waktu lagi untuk menyadarkan Alya. Akhirnya keberangkatan ke Bandung dan Jakarta hari itu semua gagal, di tunda sampai lusa, menunggu demam Alya turun, dan jadilah hari itu ada 3 dokter di rumah Alya, mama, tante dan Kevin. Semuanya menjadi dokter spesialis, ada spesialis mengukur suhu tubuh dan menyiapkan obat, ada yang spesialis menyuapi makan atau cuma kue, dan ada spesialis tempat curhat .

__ADS_1


__ADS_2