
Sabtu pagi di satu hunian besar dengan dua lantai. Afkar dan Alya sudah duduk di sofa mewah belaggio terbuat dari bahan kayu jati yang di finising melamine salak brown pada ruang tamu pak Wijaya. Lelaki dengan perawakan sedang dan rambut beruban itu sejak tadi mendengarkan cerita Afkar dengan teliti dan sesekali menganggukan kepala. Terlihat juga senyumnya yang ramah menghiasi wajahnya yang terlihat begitu nyaman di mata Alya.
" Jadi kalian baru bertemu senin pagi tadi? ini ya yang kemarin izin sama saya ada urusan mendadak? hehehe"
Afkar mengangguk
" Maaf pak, saya tidak bicara jujur kemarin, soalnya keadaannya darurat"
" Untuk soal cinta memang selalu darurat Afkar, hehehe"
Pak Wijaya mengambil gelas berisi teh hangat dari meja dan meneguknya. Selesai itu Afkar langsung mengambil gelas dari tangan pa Wijaya dan mengembalikan ke atas meja.
Alya mengamati setiap gerakan Afkar dan pak Wijaya yang terlihat sangat akrab.
" Nak Alya jangan bingung ya, kami memang setiap hari begini, Afkar selalu melayani saya saat dia belum ke kantor ataupun sudah pulang"
Alya tersenyum dan mengangguk.
" Semua yang ada di dalam rumah ini dalam pengawasannya, saya sekarang lebih tenang setiap akan meninggalkan rumah ini karena dia sangat bertanggung jawab"
" Iya pak".
Alya kembali mengangguk
Sangat jelas pak, kemarin saya hanya mendengar saja, tapi pagi ini saya melihat dengan mata kepala saya sendiri.
" Jadi bagaimana rencana kalian selanjutnya?"
" Kami berencana menikah pak"
Tegas sekali jawabanmu ka, kali ini Alya begitu kagum melihat Afkar, rasanya sudah mantap sekali untuk kujadikan pasangan hidup.
" Bagus lah nak, itu adalah tujuan hidup, menikah, berumah tangga, dan mempunyai keturunan yang sholeh dan sholehah. Bapak mendukungmu nak"
Afkar mencium tangan pak Wijaya yang berada di sampingnya.
" Terima kasih pak, saya meminta restu bapak seperti orang tua saya"
Pak Wijaya menepuk pundak Afkar
" Kamu memang anak saya"
Afkar menatap Alya, Alya memberinya kode untuk bercerita masalah intinya.
" Begini pak, kemarin saya sempat bercerita pada Aprill, dan dia tidak menerimanya"
Pak Wijaya mengangguk, kenapa dia tidak terkejut.
" Iya, sejak kamu bercerita tentang nak Alya tadi saya justru langsung terpikir Aprill"
Afkar dan Alya menatap wajah pak Wijaya yang terlihat sangat tenang.
" Kenapa pak?"
" Dia pasti akan sangat kehilangan kamu, satu-satunya orang yang saat ini dekat dengannya, nyaman untuknya, pelindungnya"
Alya tertunduk, bukan cuma itu pak, Aprill juga mencintai kekasih saya.
" Saya sangat mencintai Aprill, ibunya sudah meninggalkan kami sejak usianya lima tahun, masih terlalu kecil, sedangkan saya terlalu sibuk dengan pekerjaan, dia tumbuh bersama Galih yang saat itu berusia 15 tahun. Usia mereka memang jauh berbeda. Sebenarnya kami mempunyai satu putera lagi setelah Galih dan sebelum Aprill, tapi dia sudah meninggal karena sakit. Sejak lulus SMA Galih kuliah di Yogyakarta, dan Aprill kembali tanpa teman. Hanya asisten rumah tangga yang menemani hari-harinya. Selesai menyelesaikan kuliah, Galih kemudian pindah ke Tabalong untuk mengurus perusahaan kami, kemudian dia menikah. Sudah sangat jarang dia kemari apalagi untuk menemani Aprill. Kemudian datang Afkar, seorang laki-laki muda yang jujur, santun penuh perhatian dan begitu menyayangi Aprill. Mereka sangat akrab, dan saya sendiri merasakan bahwa kehadiran Afkar merubah banyak kebaikan untuk kami. Hingga saya putuskan untuk mengangkat Afkar sebagai anak, tidak ada yang tertulis memang karena ketika saya menemukannya dia sudah sebesar ini, hehhee"
Pak Wijaya menepuk punggung Afkar yang duduk di samping beliau dan dengan sabar mendengarkan cerita yang berulang dan berulang di dengarnya dari mulut pak Wijaya saat memuji kebaikannya.
" Di minum nak Alya, itu kue nya Afkar kasihkan ke Alya"
Pak Wijaya mempersilakan Alya untuk minum dan menikmati kue bolu yang tadi pagi di bikin acil Niah. Alya mengangguk, segera Afkar berdiri di dekat Alya dan menyerahkan satu piring kecil yang sudah berisi potongan kue bolu rasa cokelat sesuai pesanan Afkar pada acil Niah karena coklet dan alpukat adalah toping yang menjadi favorit Alya.
" Di makan sayang, ini tadi buatan acil Niah, dibantu aku juga sih"
" Bantu apa kamu Afkar?"
Pak Wijaya curiga karena Afkar memang suka memasak ikan dan sayuran, tapi belum pernah dia mencicipi kue karya tangan Afkar
" Bantuin acil Niah ngobrol supaya sidin kada ngantuk, heheeh"
" Pantas saja, saya pikir selain ikan dan sayuran, kue juga bisa, hahhaaha"
Alya memandang Afkar, ka Afkar bisa masak ikan dan sayuran? kok aku tidak tau ya? kebetulan lah bisa ku fungsikan nanti, hehehe.
" Pak, kami mohon bantuan bapak agar Aprill bisa mengerti dan memberikan kami izin"
Afkar kembali duduk di samping Alya yang berhadapan dengan pak Wijaya.
" Izin apa? yang berhak memberimu izin hanya ibumu Afkar"
" Tapi kemarin dia marah pak pada saya?"
Pak Wijaya diam.
" Jangan-jangan cakaran kucing di tanganmu itu hasil cakaran Aprill?"
Afkar mengangguk. Alya melongo
Ka Afkar mengaku itu carakan kucing? iya, kucing betina yang cemburu ka.
" Kamu bicara apa padanya?"
" Saya bilang saya akan menikah dengan Alya, dia tidak menerimanya pak"
Pak Wijaya menghela napas dan menatap Afkar.
" Kalian sudah menceritakan tentang cerita kalian di masa lalu?"
Afkar menggelang, Pak Wijaya tertawa dan menatap Alya.
" Itu bagianmu nak Alya"
Alya bingung, bagaimana bisa ini menjadi bagianku, ka Afkar saja kena cakaran, aku tidak mau.
Alya menoleh ke arah Afkar di sampingnya, tapi Afkar tidak membalasnya, huuuh sengaja kan tidak memperhatikanku? kenapa? ingin membalasku? ka Afkaaaaaar. Betapa ingin dicubitnya pinggang Afkar seandainya tidak di depan pak Wijaya, halloo, liatin aku kaaaa. Sepersiakan detik tidak ada yang berubah.
__ADS_1
" Bagaimana nak Alya? kenapa saya menyarankan begitu? karena kalian sesama wanita, ceritakan saja hubunganmu selama ini dengan Afkar, sudah begitu banyak yang kalian lalui, sampai Afkar berada di sini. Dan sekarang kalian sudah merencanakan pernikahan yang sudah sangat di tunggu Afkar, bukan begitu Afkar? hahhaha"
Afkar tersenyum dan sedikit menunduk.
" Pak, seandainya Alya sudah bicara padanya dan Aprill masih saja tidak menerima ini, saya tetap akan menikahi Alya dengan restu bapak, tetapi mungkin saya akan mundur pak"
" Mundur apa?"
" Saya akan kembali ke Yogyakarta bersama Alya dan mencari pekerjaan lainnya, saya tidak mungkin masih menggantungkan hidup pada Bapak sementara puteri bapak membenci kami"
Pak Wijaya mengernyitkan alisnya
" Siapa yang akan menjaga saya? kamu tega meninggalkan saya yang sudah setua ini dan sudah merasa sangat nyaman berada di dekatmu?"
" Saya sangat menyayangi bapak, saya sangat mengkhawatirkan bapak, sebenarnya ini adalah pilihan yang sangat berat untuk saya, tapi Aprill sudah sangat marah pak, dia mencaci dan mengancam saya, kalau masalah mencakar itu tidak saya perdulikan lagi, bagaimana bisa saya masih berada di samping bapak jika puteri bapak akan melakukan hal itu setiap kami bertemu? seandainya saja bisa, bapak yang saja ajak untuk tetap bersama saya"
Alya memandang Afkar, mencaci dan mengancam? kemarin tidak ada cerita begini? kamu menyembunyikan ini dariku ka?
" Kamu adalah anak saya. Ada yang bisa memisahkan orang tua dan anaknya?"
Afkar dan Alya terdiam. Benar ka Afkar, pak Wijaya adalah orang paling baik dan bijaksana yang pernah ada di hidupmu.
" Usaha saja dulu, semoga tidak ada hal buruk yang terjadi. Saya tidak akan mengizinkanmu untuk meninggalkan saya walaupun kalian sudah menikah, kita akan urus dimana kalian akan tinggal, tapi tidak akan jauh dari saya dan Aprill"
Pak Wijaya menatap Alya
" Alya bersedia kan untuk tidak jauh dari kami"
Alya mengangguk.
" Iya pak, dimanapun suami saya berada, saya akan selalu bersama dan mendukungnya selama itu di dalam kebaikan"
Afkar melirik, darimana dapat kata bijak begitu? dewasa sekali, kenapa saat bersamaku justru hinaan dan omelan saja yang terdengar. Aku bahagia Alyaku, akan kuberikan hadiah manis untukmu hari ini karena kedewasaanmu sayangku.
" Memang seharusnya begitu nak Alya. Oh iya Afkar, Aprill sudah lebih baik, bawa pulang saja dia hari ini, semakin manja di rumah sakit, hahhaa"
" Iya, saya akan urus hari ini"
" Saya ada acara di mesjid, persiapan acara untuk malam ini"
" Habib dari Surabaya itu jadi datang di mesjid kita pak?
" Iya, saya panitia, sebentar lagi mau kesana, kamu urus semua ya Afkar, kalau saya lupa pulang untuk makan siang hubungi"
Afkar mengangguk.
" Nak Alya, makan siang di sini saja, atau temani Afkar mengurus kepulangan Aprill, kamu akan bisa lebih dekat dengannya, dan bisa untuk bicara perlahan dengannya"
Alya mengangguk
" Saya usahakan untuk bicara dengannya pak"
Pak Wijaya berdiri.
" Saya mau siap-siap dulu"
" Pak, vitaminnya belum di minum, sudah saya letakan di atas meja, teh nya mau ditambah atau air putih saja?"
" Saya bisa minum sendiri, kamu temani Alya saja"
Pak Wijaya sudah melangkah tapi Afkar masih mengikutinya.
" Pakaian sarung dan pecinya sudah saya siapkan di kamar pak, nanti saya antar dulu ke mesjid baru saya ke rumah sakit"
Pak Wijaya mengangguk dan berjalan masuk menuju meja makan untuk meminum vitamin yang sudah disiapkan Afkar.
Alya menatap pandangan di depannya. Bagaimana bisa ka Afkar meninggalkan pak Wijaya, beliau sudah sangat tergantung padanya. Betapa besarnya kasih sayang keduanya. Sebentar, ini adalah pemandangan ka Afkar dan pak Wijaya, bagaimana pemandangan keromantisan ka Afkar dan Aprill di dalam rumah ini? Saat mereka nonton televisi berdua dan meminum kopi dari gelas yang sama? saat Ka Afkar membelai rambutnya dan mengucapkan selamat tidur, atau saat Aprill tertidur di depan televisi dan Ka Afkar menggendong ke kamarnya? Dan saat Ka Afkar memeluknya saat Aprill menangis dalam pelukannya kemudian mengusap air matanya dengan tangan ka Afkar. Dan menyuapi makan? uuuh bisa gila aku membayangkan hal itu. Alya memandang Afkar dengan sedikit geram. Afkar malah tersenyum dan duduk di samping Alya setelah mengantar pak Wijaya ke ruang makan.
" Sayang,,, sekarang giliranmu bekerja, aku akan mendukung dan membantu doa, hahaa"
Alya langsung mencubit pinggang Afkar
" Alya lagi kesal sama ka Afkar"
" Apalagi?"
Afkar mengernyitkan alisnya
" Kenapa tadi diam saat pak Wijaya minta Alya yang menghadapi Aprill? pura-pura tidak melihat Alya lagi, mau balas?"
" Kan sayang yang diminta, bukan aku? masa aku protes dan meminta aku saja yang bicara pada Aprill, aku selama ini tidak pernah membantah beliau"
" Tapi bisa kan bilang, kalau kita berdua yang akan bicara dengannya?"
" Sayang mau nanti kalau aku yang bicara pada Aprill lalu dia menangis, bahu dan dadaku akan menjadi tempat bersandarnya yang paling nyaman lagi, aku akan disalahkan sayang lagi kan?"
Alya kembali mencubit kali ini lebih keras
" Jangan genit"
" Makanya aku menghindari hal yang aku inginkan"
" Ka Afkaaaaarr"
" Hahaha,, ssstt, becandanya di luar saja sayang, kedengaran pak Wijaya"
" Alya mau tanya, dengan pak Wijaya kaka sebaik dan seperhatian itu di dalam rumah ini, dengan Aprill bagaimana?"
" Barangkali lebih baik dan lebih perhatian"
" Ka Afkar, Alya serius, bagaimana akrabnya kalian berdua?"
" Aku lupa"
" Ka"
" Untuk apa sih tanya itu, cemburu?"
" Tidak"
__ADS_1
" Ya sudah, eh tadi aku kagum mendengar jawabanmu, yang akan mengikuti suami kemana saja, so sweet banget"
" Lupa Alya suka bohong?"
" Alyaaaaa".
Afkar menggelitiki tangannya ke pinggang Alya, sekarang gantian Alya yang tertawa keras.
Tawa kedua nya terdengar sampai ruang makan, pak Wijaya tersenyum dan bicara pada acil Niah
" Cil, raminya kena lah amun Afkar sudah menikah, apalagi kena aku jadi kai anaknya Afkar, kada sunyi lagi rumah"
( Bi, ramainya nanti kalau Afkar sudah menikah, aku jadi kakek anak Afkar, tidak sepi lagi rumah)
" Inggih pak, abut tu pang rumah pian lawan kuciakan kakakanan, hehehe"
( Iya, ribut nanti rumah bapak dengan teriakan anak-anak).
Setelah mengantar pak Wijaya ke mesjid untuk menyiapkan acara nanti malam. Afkar dan Alya menuju rumah sakit untuk membawa Aprill pulang. Alya ikut kemana saja Afkar pergi, dia belum siap bicara pada Aprill karena mengingat bagaimana perlakuan mulut dan tangan Aprill yang menyiksa kekasihnya.
" Kalau sayang mengikutiku terus kapan bicaranya?"
" Alya belum siap kena cakarannya ka"
" Tidak mungkin kalau sayang bicara baik-baik dia sembarangan mencakar"
" Kenapa kemarin ka Afkar kena cakaran? tidak bicara baik-baik"
" Mungkin, sayang orang baru, dia akan memperlakukan dengan sopan kok"
" Alya tidak yakin ka, bicara nya besok saja deh"
" Aku dibilang singa tapi sayang berani bicara bahkan memakiku, dengan Aprill kenapa takut?"
Afkar kembali berjalan ke depan rumah sakit untuk menyelesaikan administrasi, Alya masih mengikuti dan menarik baju Afkar.
" sayang lepasin, kenapa bajuku di tarik-tarik"
" Ka Afkar jalan nya cepat, Alya tidak bisa mengikuti"
" Bukannya suka lari? dulu selalu berlari"
" Iih, itu dulu, sekarang sudah feminim"
Afkar tertawa.
" Ya sudah sini tangannya"
Alya mengulurkan lengannya dan langsung dipegang Afkar
" Aku gandeng saja, dari pada ada yang liat aku ditarik-tarik wanita begini di rumah sakit"
" Tidak ikhlas?"
" Ikhlas sekali, jangankan tangan, pegang yang lain juga siap, tapi nanti kalau sudah kuhalalkan"
Alya tertawa dan kembali mengikuti langkah Afkar yang sudah jauh lebih pelan.
" Kaa, Alya punya ide untuk bicara sama Aprill"
Afkar menghentikan langkahnya dan menatap Alya.
" Ide?"
Alya mengangguk dan tersenyum.
" Apa?"
" Tebak"
" Aku malas mikir"
Alya mencubit lengan Afkar.
" Katanya cinta, masa tidak bisa membaca pikiran Alya"
Afkar terdiam sebentar, kemudian mencubit pipi Alya
" Aww"
Alya langsung menepis tangan Afkar
" sakit"
" Aku tau idemu sayang,, hehehe"
Alya tertawa dan membalas menarik hidung mancung Afkar.
"Kekasih Alya memang sudah lebih cekatan sekarang"
Afkar kembali menggandeng tangan Alya
" Kita selesaikan administrasi ini dulu, sampai di rumah nanti baru kita jalankan misi".
Alya tertawa
" Ka Afkar percaya kan dengan kecerdikan Alya?"
" Tentu saja, aku saja sering kena tipu kancilku yang cantik ini"
" Iih, masa Alya sama an sama kancil, enggak mau, balikin bidadari lagi"
" Enggak, panggilan baru kesayangan ku sekarang kancil"
" Ka Afkaaaaaar"
" Kenapa marah, aku dipanggil singa saja pasrah, tidak bisa melarang"
Andai belum sampai di loket pembayaran, keributan baru masih akan berlanjut.
__ADS_1