Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Kebijaksanaan Pak Wijaya


__ADS_3

Menunggu,


dengan segala kekosongan hati


Segalanya terlihat sempurna


Semua terlihat nyata


Kamu yang masih fana.


Menunggu,


Di bawah dedaunan yang berguguran


Melewati terpaan angin meniupkan kembali ingatan


Untuk satu jiwa yang ingin kumiliki sepenuhnya lagi saat kembali kutemukan.


Telah kulewati tujuh ratus malam untuk bisa kembali menatap teduh matamu


Terseok bersembunyi ke dalam hangat pelukan mesramu.


Saat kakiku lemah di bawah pintu penantian.


Tak berjejak tak meninggalkan tanda.


Menatap siang yang hampir menyerah


Bukan matahari yang kalah


Aku yang terengah meleleh dan terlelah.


Jarum jam sudah berada di angka dua belas, satu panggilan telefon atau pun pesan belum masuk ke ponsel hitam yang sejak tadi digenggam Alya dengan hati yang dingin.


Apa yang terjadi di sana? bisakah ka Afkar mempertahankanku atau malah akan menyerah saja karena jasa yang tidak mungkin dia tinggalkan begitu saja.


Tiitt.


Alya sedikit bergetar, tangan gemetar nya sekarang malah menjadi basah.


" Assalamualaikum ka"


" Waalaikum salam, bidadari di mana?"


" Di kamar ka"


" Ooh"


" Bagaimana kak?"


" Darel sudah pulang, Pak Wijaya sedang bersiap akan ke mesjid dan Aprill sedang di kamarnya"


" Terus hasilnya bagaimana?"


" Hhmm, setelah shalat zuhur bersama Pak Wijaya, aku akan menemuimu".


" Ka, apa yang terjadi? Alya ingin tau"


" Nanti saja"


" Ka Afkaarr, jawab dulu"


" Sepertinya kamu memang harus pulang ke Yogya".


Hening.


" Sayang,,,"


" Sudah Alya duga, ka Afkar tidak akan pernah bisa meninggalkan mereka"


" Justru sayang yang akan meninggalkan orang tua sayang sebentar lagi, sayang akan pulang ke Yogya dan aku akan ke Jakarta"


" Apa maksudnya?"


" Aku akan menjemput ibu, dan sayang tunggu manis di rumah, kami akan datang untuk melamarmu"


" Ka Afkaaarr"


" Heheheh, ternyata aku lebih mudah berusaha sendiri daripada sayang yang membantu"


" Kenapa?"


" Kalau sayang yang menyelesaikan sesuatu terlalu banyak emosi, permasalah inti malah terpecah-pecah"


Alya tersenyum walau pun Afkar tidak bisa melihat bagaimana bahagianya wajah itu sekarang.


" Sayang???"


" Iya ka"


" Aku shalat dulu, nanti kujemput kita makan siang. Jangan kemana-mana ya"


" Iya ka"


" Assalamualaikum"


" Waalaikum salam ka"


" Emuuahh"


" Heheehe".


Klik.


Betapa leganya menerima kabar ini, apapun yang sudah terjadi tadi aku seakan tidak ingin tau lagi, ka Afkar berhasil entah dengan cara yang bagaimana. Memandangi foto mereka enam tahun yang lalu dan memeluknya.


" Semua dari kita sudah berubah ka, kamu yang ceking dan penampilan sederhana sekarang sudah menjadi lelaki dewasa yang tampan dan beribawa. Begitupun Alya yang saat itu masih dengan celana jeans dan kaos ketat, sandal jepit yang dibilang ka Kevin bulukan, tanpa segan menenteng gitar ke tempat kedai kopi Bowo. Sekarang tidak lagi, Alya sudah berubah baik karena ka Kevin yang menyiapkan Alya menjadi wanita terhormat dan bermartabat katanya, ternyata bukan untuk mendampinginya, tapi mendampingimu ka Afkar. Tapi dari semua perubahan itu, satu yang masih sama dan akan tetap sama, kita yang selalu akan saling jatuh cinta di setiap pertemuan. Aku mencintaimu ka".


Merebahkan diri dalam lamunan yang sekarang bukan lagi lamunan, impian yang sebentar lagi akan menjadi kenyataan.


Tiiit


Panggilan telefon


" Assalamualaikum ka"


" Waalaikum salam, aku sudah di bawah"


" Iya, Alya turun"


Membereskan sedikit penampilan di depan cermin, segera meraih ponsel dan dompet untuk dimasukan ke dalam tas clutch. Senyuman kekasih menyambutnya dari balik kemudi


" Cantik sekali sayangku, lagi senang ya"


Alya menurunkan sedikit dress nya yang tertarik ke atas saat sudah duduk.


" Iya, tadi kekasih Alya menghubungi dan memberi kabar baik"


Afkar mengusap rambut Alya tapi langsung di tepisnya


" Iih, jangan diberantakin, nanti tidak cantik lagi"


" Biarin, mau bener kek, berantakan kek, aku tetap sayang"


Alya mencibir


" Ka, Alya lapar"


Afkar memutar kemudinya


" Ini juga mau diajakin makan".


Alya menoleh ke samping kanannya

__ADS_1


" Ka, gimana ceritanya sampai kakak sukses hari ini?"


" Tadi pagi pak Wijaya memintaku menemani beliau di kamar setelah kami shalat subuh. Beliau menanyakanmu"


" Apa katanya?"


" Katanya bagaimana perasaanmu tadi malam, beliau juga minta maaf kalau perlakuan dan kata-kata Aprill menyakitimu. Aku jawab saja yang sebenarnya, sayang sedih dan kecewa, dan perlakuan Aprill sudah sayang maafkan"


" Sudah? kapan Alya memaafkan?"


" Bawel ya, aku kan lagi membuatmu sangat baik di hadapan beliau, diterusin enggak nih ceritanya"


" Iya, terusin, hehhe"


" Beliau bilang, aku yang salah"


" Memang"


" Sayaaaang"


" Hehehe, terusin"


" Aku harusnya mempertahankanmu jika memang aku mencintaimu. Ku bilang aku sangat mencintai kekasihku, tapi aku tidak bisa meninggalkan beliau. Aku tidak bisa tetap berada di samping beliau dengan bersamamu"


Afkar membelokan mobilnya ke kanan menuju Jalan Brigjen Haji Hasan Basri setelah sempat berhenti karena lampu lalu lintas berwarna merah.


" Beliau menjawab jika masalahnya adalah Aprill, beliau akan sangat merasa bersalah, Aprill puteri beliau, sedangkan aku juga sudah beliau anggap anak. Tidak semua keinginan Aprill harus menjadi tanggung jawabku untuk memenuhinya lagi, Aprill sudah besar, cepat atau lambat kami memang akan berpisah nantinya"


" Bukannya Aprill mencintai ka Afkar"


" Iya, itu kuutarakan, dan aku malu sekali sayang dengan jawaban beliau"


Afkar tersenyum dan meliirik Alya


" Kenapa ka?"


" Beliau menjawab, yakin Aprill mencintaimu? aku bingung. Katanya, Aprill itu memerlukan sosok yang bisa melindunginya dan menjaganya, dan sosok orang tua, sosok saudara itu ada padaku. Seandainya Aprill bisa menemukan itu di diri orang lain saat ini, mungkin dia tidak akan sekeras ini sekarang"


" Kakak cerita Darell?"


Afkar mengangguk


" Perlahan kuceritakan tentang seorang lelaki yang baik, perhatian, bertanggung jawab dan dewasa, beliau mulai tertarik. Seorang lelaki yang mencintai puteri beliau dengan sabar dan tidak memaksakan kehendaknya. Beliau bertanya dari mana aku tau dia lelaki yang baik, kujawab kekasihku sudah menguji dan mempercayai lelaki itu. Beliau memujimu dengan satu kalimat yang membuatku tidak bisa menahan tertawa"


" Apa ka?"


Alya penasaran dan dibuat bingung dengan tingkah kekasihnya sekarang.


" Dia bilang, dia sangat mempercayai apapun pilihanmu, terbukti kamu sudah memilih aku lelaki yang sangat pantas untuk kamu jadikan pasangan hidupmu, yang setia, sabar, jujur, berwawasan dan penuh kasih sayang"


" Pak Wijaya memuji Alya atau memuji kakak?"


" Memujiku lewat perantara kamu, hehehe"


Alya mencubit pinggang Afkar.


" Aprill bagaimana?"


" Tadi kami sudah bicara saat Darel datang"


" Lalu?"


" Pak Wijaya meminta Darel untuk bisa menjaga Aprill selama di kampus dan setelahnya, tentu saja dengan batas kewajaran, tetapi masih bang Jali yang akan mengantarnya kemana-mana"


" Aprill menerima?"


" Dia diam saja, tapi tidak ada penolakan, dan lagi Darel itu kan kekasihnya"


" Benar, kakak saja yang terlalu jauh masuk ke dalam yang bukan kapasitasnya"


Dan berlanjutlah celoteh ringan tentang masa depan.


Satu jam sejak penjemputan Alya dan menyelesaikan makan siang, Alya dan Afkar duduk di mobil dengan hening. Seusai makan siang dengan menu ayam bakar lalapan dan sambal pedas favorit Alya mereka memutuskan untuk mengabari kedua orang tua Alya dulu sebelum Afkar menjemput ibunya di Jakarta.


" Sayang, kenapa aku gugup begini ya?"


" Santai saja ka, ka Afkar sudah kenal mama kan? ajakin bercanda saja dulu"


" Mana mungkin aku bisa bercanda dengan beliau, aku kan pernah di tolak mentah-mentah sayang"


Alya tertawa


" Giliran di kantor kaya singa marah-marah, mau nelfon calon mertua panas dingin"


Afkar menatap Alya


" Sayang, ini beda. Bagaimanapun beliau pernah sangat tidak menginginkanku menjadi kekasihmu, dan sekarang aku bicara ingin melamarmu"


Alya semakin kuat menggenggam tangan Afkar.


" Kapanpun kakak siap, Alya tunggu"


Diam dengan keheningan, satu menit, dua menit, tiga menit.


" Sayang, aku sudah siap"


Afkar menghela napas panjang, Alya melepaskan genggaman tangannya


" Baik, Alya akan di sini ka, Alya akan bantu ngomong"


Afkar mengangguk, walaupun tidak sepenuhnya mempercayai kekasihnya yang usil ini, tapi setidaknya ini adalah saat serius, bukan waktunya bercanda.


Panggilan video


Tiiiit


Terlihat wajah seorang wanita cantik dengan memakai jilbab duduk di sofa dan memangku anak laki-laki kecil yang tampan.


" Assalamualaikum sayang"


" Waalaikum salam mama, eh ada cintanya aunty, apa kabar sayang, emuuah emuuah"


Alya memonyongkan bibirnya


" Lagi dimana Alya?"


" Di jalan ma, barusan makan siang"


" Kami juga baru makan, kami menginap di sini, pagi kemarin berangkat, nanti sore balik"


" Sama papah ma?"


" Tidak, papah sibuk, sama Tasya, mobil kamu di kuasi Tasya Al, mama sudah bilangin jangan dipake Sampai emosi mama naik level 5"


" Kok cuma 5 mah, naikin lagi dong levelnya, itu kan mobil Alya, belum ada izin lagi pinjem enak aja"


" Sisa levelnya buat marahin kamu".


" Hah? Alya kebagian juga, kasihkan sama Tasya aja mah, salah Alya apa?"


" Salah apa? tiga hari tidak kasih kabar, mama mau menghubungi takutnya kamu lagi sibuk sama singa galak itu, nanti kamu kena marahnya juga kalau telefon kamu berdering, dia masih suka marah Alya?"


Alya tersenyum kecut, iih mama kok bahas itu, singa itu ada di samping Alya sekarang, Alya melirik Afkar yang sedang memandangnya dengan tatapan yang tidak dipahami Alya saat suasana kurang bersahabat begini.


" Hehehe,, maaf deh ma, Alya memang sedang sibuk, ada urusan penting"


" Ngabarin mama enggak penting?"


" Mama kenapa sewot sih ? lagi dapet ya?? hahaha"


" Alyaaaa"


Alya tertawa dan melirik lagi pada Afkar yang sangat terlihat bingung dan gugup, Alya memberinya kode apakah dia sudah siap untuk bicara pada mama, Afkar mengangguk.

__ADS_1


" Alya kamu sedang bersama siapa?"


" Eemm mah, ada yang mau menyapa mama"


" Oh ya, siapa Alya?"


Alya memindah posisi kameranya dan sekarang layar ponsel Alya sudah ada wajah lelaki tampan dengan senyum mematikannya.


" Assalamualaikum tante, selamat siang"


" Waalaikum salam"


Mama terlihat bingung, kok mirip sama foto yang tergantung di dinding kamar Alya sih.


" Maaf, kok mirip seseorang ya"


Afkar mengernyitkan alisnya, Alya di sampingnya tertawa.


" Mirip siapa ma?"


" Mirip dia Alya"


Alya semakin mengerasakan tawanya dan membuat Afkar mencubit pelan lengan Alya


" Sayang, sadar"


Alya menepiskan tangan Afkar.


" Sebut saja ma namanya, mirip siapa coba, hahhaa"


" Mirip Afkar"


Jawab mama pelan takut jawabannya membuat masalah.


" Iya, saya memang Afkar tante"


Afkar tersenyum.


" Lho, ini benar Afkar? tambah berisi, tidak ceking lagi ya"


Duuuh, anak sama mama kok tingkat penghinaannya sama, Afkar kembali mencolek lengan Alya yang semakin bahagia punya teman untuk meruntuhkan kewibawaan Afkar.


" Kok tau Alya ada di Banjarmasin Afkar? bagaimana ceritanya bisa ketemu Alya?"


Afkar diam, kok tau? puteri tante yang menemui saya


" Saya tinggal di Banjarmasin tante, sudah dua tahun"


" Oh,, kamu hilang itu ada di Banjarmasin? syukur lah kamu masih hidup, Alya bilang mungkin kamu sudah meninggal"


Napas Afkar tercekat


Mereka berdua ini memang mengharapkan aku sudah mati ya, saya masih hidup tante, tahlilan nya buat yang sudah meninggal saja. Kali ini Alya tidak tertawa, duuuh singaku marah tidak ya?? mama ngapain ikutan ngomong itu sih?.


" Tante dan om apa kabar? sehat?"


" Alhamdulillah kami sehat, kamu bagaimana?"


" Alhamdulillah, saya juga sehat tante"


Hening, Alya beberapa kali mencolek pinggang Afkar agar bicara, tapi Afkar tidak bisa memulainya.


" Oh iya Afkar, kamu kan sudah dua tahun di Banjarmasin, mungkin kamu kenal dengan perusahaan tambang tempat Alya ingin bekerja sama itu"


Afkar mengangguk


" Tolong lah Alya, kasian kan dia kalau harus berurusan dengan bos yang galak itu, mungkin kamu punya kenalan di kantor itu, sedikit memberi penjagaan pada Alya akan menguatkannya, apalagi,,, eeemm dari kamu Afkar"


Kenapa kalimat terakhir tante begitu. Heeyy,, siapa maksudnya bos galak itu? itu saya tante, calon menantu tante, Afkar melirik Alya yang pura-pura sibuk memperhatikan jalan walaupun mobil mereka sedang tidak kemana-mana. Cerita apa kamu Alya tentang aku? uuhh calon menantu apa aku terlihat sudah buruk begini.


" Akan saya coba tante"


Mama tersenyum


" Sudah lama tidak bertemu, kapan main ke sini Afkar?"


Afkar mengangguk


Ini saya mau ke tempat tante, mau melamar puteri tante, huuuups, kenapa cuma kukatakan di dalam hati sih.


(ayo Afkar, lampu kuning calon mertuamu sudah berwarna sangat kuning, kuning tuaaaa, cepat gantikan ke warna hijau, jangan sampai saya gantikan ke merah lagi nih. Tu kan saya ikutan lagi masuk ke dialog, sebel Afkar ini kelamaan kalau mau bersikap).


" Eee, iya saya akan ke Yogya nanti tante"


" Iya, tante tunggu ya, tapi nungguin Alya beres dulu urusan sama rekanan kerjanya itu, tolong di bantu ya Afkar"


Afkar mengangguk dan tersenyum.


Alya gerah melihat Afkar yang belum juga menyampiakan tujuan inti, dari tadi cuma ngobrolin omong kosong doang.


Alya memberinya kode dengan menunjuk bibir nya sendiri agar Afkar paham sudah saatnya bicara. Karena hanya wajah Afkar yang ada di depan layar dan Alya hanya pemain figuran di belakang layar, Alya sepuasnya berbuat seperti sutradara yang menginstruksikan sesukanya agar pemain bisa melakoninya, memberi kode lewat alis, lewat mata, lewat tangan, lewat bibir. Aku tau Alyaaaa, bisa diam tidak? aku sedang mengembalikan kata-kata yang hilang akibat lelucon calon mertua yang membuat otakku kehilangan hapalan lagi.


" Eemm tante ,,,"


" Iya Afkar"


Kenapa aku yang gugup sih, Alya mendadak diam, ka Afkar bagaimana bilangnya ya? perlu bantuan tidak? oh tidak aku diam saja, katanya aku bantu ngomong malah bisa merusak ingatannya.


" Tante beberapa hari ini ada kesibukan?"


" Kesibukan biasa sih, kerja dari pagi sampai sore, sore merawat tanaman, sekarang tanaman tante tambah banyak, kalau nunggu Tasya yang bantu bisa mati tanaman tante, apalagi sejak Alya pergi, dia bisa mendadak hilang sama si putih itu. Malamnya tante buka praktik kan. Memang kenapa Afkar?"


Afkar menghela napas, sibuk sekali sih tante kedengerannya.


" Saya mau ke Yogya tante sama Alya"


" Urusan Alya kan belum selesai? apa jangan-jangan dia gagal kerja sama, Alya menyerah ya? baru satu minggu kok, apa nanti kata kantornya, bantuin dulu lah dia Afkar, bagaimana pun pekerjaan ini adalah kebahagian Alya, cuma pekerjaan yang bisa membuat dia kembali ceria lagi sejaaaakkk,,,,"


Mama menutup mulutnya, sementara Alya melongo. Mama curhat sama seseorang yang sedang diomongin, mama tidak sadar ya, huuuhhuu, mama sadarlah...


Afkar masih menunggu kelanjutan ocehan mama, sejak apa tante? sejak saya hilang atau sejak Kevin pergi?.


Afkar melirik Alya yang masih dengan tingkat kebengongan tinggi.


Alya memutar posisi ponselnya ke arah wajahnya lagi, tenang Alya,, tenang.


" Daniissh aunty, sudah makan belum"


Wajah imut Danish langsung tertawa lebar melihat aunty cantiknya


" Udaaaah"


" Danish kangen aunty?"


" Angeeen"


" Gantengnya anak aunty, habis ini bobo dulu ya"


Danish menggigit satu biskuit cokelat dan membuat bibirnya belepotan coklat.


" Ma, itu mulut Danish kotor"


" Iya, mama ambil tissue sebentar"


Mama berdiri dan hilang dari layar. Alya tidak menyiakan waktu.


" Ka, ngomooong"


" Aku sudah bicara, tapi kenapa temanya sama isi percakapannya tidak nyambung"


" Langsung saja bilang, tante,,,saya mau melamar puteri tante"


Mama kembali di depan layar dan terlihat wajahnya sangat kaget

__ADS_1


" Apaaa? mau melamar Alya? Afkar mau melamar Alya??"


Huuuuppp, Alya lupa walaupun wajah mama hilang dari layar, suara mereka kan masih terdengar. Alya dan Afkar saling berpandangan dan Afkar langsung menggenggam tangan Alya. Kok malah begini siiihh.


__ADS_2