
Langit malam membentang perkasa, ribuan bintang sebagai dayang bertabur membuat langit bak penguasa. Tapi tunggu, siapa malam jika tidak menghadirkan putri rupawan, akan menjadi seberharga apa langit tanpa menampilkan bulan. Bukan seberapa kuatnya mereka jika berdiri sendiri-sendiri, tapi akan begitu sempurna kuasi Illahi jika mereka bersatu dalam sapuan kuas penciptaNya pada lembaran dunia.
Arga menghamparkan karpet yang disewakan di taman, sambil memesan minuman mereka duduk di bawah keindahan malam.
"Ka Afkar, gimana kelanjutan hubungan kalian"
Tanya Alya memecah kebisuan
"Sudah tidak ada yang bisa diperbaiki lagi Al, semua sudah berakhir"
" Bagus lah kalau begitu, ka Afkar sekarang lebih baik memperbaiki diri untuk menyambut sesuatu yang baru dan lebih baik lagi".
Afkar tersenyum memandang Alya
"Mudah-mudahan Al" sambungnya masih dengan pelan
Agra menyodorkan minuman kepada Afkar
" Minum dulu Afkar, kita santai dulu di sini"
" Maaf ya kalau aku mengganggu kalian"
Afkar merasa tidak enak harus terus ikut bergabung
" Engaak apa-apa ka, kita malah senang" jawab Alya
Afkar menatap Arga
"Kalau hubungan kalian baik-baik aja kan?"
Alya tertawa
" Kami ini cuma status nya aja ka, sebenarnya kami ini cuma teman, sebentar lagi juga putus kok"
Arga mendelik " Senang betul lo kalau ngebayangin kita putus yang"
" Lho, memang begitu kan? gini ceritanya ka,,,,,,,,,,,,,"
Alya pun menceritakan kejadian awal mula mereka bisa berstatus tanpa perasaan begini
"Hahahaa,,kalian lucu juga" Afkar tertawa.
Alya memandangi Afkar, baru kali ini liat Ka Afkar tertawa.
Alisnya tebal, matanya teduh, hidungnya mancung, tawanya begitu nyaman terdengar. Deg,,, apaan ini?
Jantung Alya seperti terhenti per sekian detik.
Hei Afkar tersenyum padanya,,ini bukan senyum pertama dari Afkar untuknya, tapi kenapa senyuman ini seperti menusuk hatiku jantungku sampai ke ginjal malah. Heeyy, kenapa mata itu seperti ingin menanungiku, Aku ingin terlelap saja di bawah mata teduhnya, aku ingin duduk diam di ujung senyuman itu, aku ingin,,,,
"Iya Afkar dari kejadian itu, malah Alya jatuh cinta beneran sama gue"
Arga menghentikan lamunan Alya yang sama sekali tidak ia pahami. "Ngaco, bohong ka, yang ada gue tiap hari nanyain kapan bisa putusnya?"
" Kalau bisa tidak putus ya tidak usah, siapa tau ini memang takdir yang sudah ditentukan dengan cara yang lucu begini, jalani saja"
Afkar memberi wejangan yang membuat Arga kesenangan
" Dengerin tu yang, bener yang dibilang Afkar, santai aja kenapa sih"
Alya melongos " lo tadi bilang kan kita boleh bubar jalan kalau gue sudah menemukan cinta"
" iya, tapi sampai sekarang kan lo belum nemu" Arga terbahak.
" iya, aneh juga si Alya, orang lain menghindari yang namanya putus, eh dia malah menunggu qa sabar, liat ni gue, jadi nyesel gue gampar Dimas tadi"
" Heh kenapa nyesel, lo masih sayang" tanya Alya
" Nyesel gue gampar sekali doang, harusnya gue gampar, gue jambak, gue injak-injak"
" hiii serem KDRT tu namanya Syl, bisa di pidana lo"
sahut Arga.
" Kaya gue makanya, sempat gampar dia 3 kali, puas gue"
__ADS_1
Uupppss, Alya menutup mulutnya yang keceplosan, sesaat setelah melihat Arga dan Afkar memandangnya kaget
" Yang, lo gampar Dimas tadi?? ck ck ck,,, berani betul pacar gue, gimana kalau pacar lo yang nyelingkuhin lo, babak belur dah, qa jadi deh gue mau selingkuh, daripada mati sia-sia".
" Arga, boleh Alya kupinjam sebentar" Afkar memandang Arga meminta izin
Arga mengangguk " Boleh"
Dada Alya berdegub keras, memandangi Afkar dengan tatapan menyelidik.
" Aku mau berterima kasih Al"
Afkar berdiri dari tempat duduknya dan menoleh pada Alya, menunjuk ke depan agar Alya mengikutinya. Alya pun mengikuti tubuh jangkung kurus di depannya.
" Ada apa ka?"
Afkar dan Alya melangkah perlahan tanpa tau apa yang akan mereka tuju.
" Terima kasih Al, kamu sudah memberikanku saran, awalnya kupikir ide kamu itu membuatku bertambah sakit, tapi beberapa saat kujalani perlahan, aku menyadari ini memang harus kuterima dan harus kulalui. Aku tidak bisa lemah dan terpaku begini, semakin aku mengingat kisah kami, aku semakin sakit. Tidak mudah Al melupakannya, sangat tidak mudah, semua yang pernah kami lalui selalu saja singgah di ingatanku di saat apapun, pemikiranku dipenuhi dengan dirinya"
Afkar menghela napas
" Entah sampai kapan aku bisa melupakannya, tapi aku tidak lagi ingin memikirkannya, semakin ingin kulupa, semakin juga cerita itu kembali terbaca. Sekarang aku fokus bekerja, aku ingin menjadi lebih baik dari sekarang"
" Alya setuju ka, kaka masih muda, untuk apa harus berkorban rasa dengan hal semacam ini, banyak yang harus kaka raih, masa depan kita panjang"
" Terima kasih Al, kamu sudah membuka pikiranku". Afkar berhenti dan memandang Alya
Tau perasaan Alya???
Dia sedang berada di pinggir jurang, kali ini jantungnya mulai berulah lagi, senyuman pertama tadi membuat jantungnya seakan berhenti berdetak, kali ini jantungnya berdetak puluhan kali per sekian detik, detakannya keras berbunyi seakan-akan bunyinya terdengar keluar dan dapat terdengar sampai jarak ber mil-mil. Tangannya bergetar hebat, seandainya Alya memegang sehelai kapas saja, pasti kapas itu akan terlepas karena lemahnya kekuatan tangannya saat itu, bahkan tanah yang dipijaknya seperti sedang menarik kakinya untuk masuk ke dalam pori-pori tak terlihat. Siapapun tolong akuuuu!!! Aku ingin pingsan saja.
"Alyaaa"
Bisik Afkar lembut dan sedikit menunduk agar wajahnya sejajar dengan wajah Alya, maklum tubuh jangkungnya tidak mengimbangi dengan tinggi wajah Alya yang berada hanya di bawah dagunya.
"Eh iya ka,,,"
Oh jantung, tolong kondisikan, jangan copot dulu, ini aku kenapaaaa??
" Kamu sakit Al?"
Deg, ya ampunnn, jangan ngomong lagi ka, ini kenapa lagi saluran pernapasanku terasa tersumbat sampai ke saluran pencernaan. Apakah malaikat pencabut nyawa sedang mendekati dan ingin mencabut nyawaku sekarang? Istigfar Al,,,,Istigfar.
Bulaaan, bisa tidak sedetik saja berhenti bercahaya, aku malu keadaanku terlihat ka Afkar, pegangin tanganku, aku mau jatuuuhh,,, tolooong.
" Alyaa,,,kamu sakit Al, kita duduk dulu ya"
Tangan Afkar meraih pergelangan tangan Alya dan membawanya ke bangku panjang yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri"
" Tanganmu dingin sekali Al, kamu sakit, maaf. Kita kembali saja ya". Alya mengangguk.
Afkar membimbing tubuh mungil Alya menuju tempat mereka berempat duduk tadi. Arga yang dari jauh melihat Afkar menggandeng tangan Alya dan Alya yang seperti orang kelaparan, padahal tadi sudah makan banyak di restoran.
"Kenapa yang?" tanya Arga cemas
" Alya sakit" jawab Afkar yang bahkan juga masih bingung
" Bawa pulang aja Ga, aku tidak bisa mengantar karena aku bawa motor, kalian kan pakai mobil"
Arga mengangguk dan perlahan melepaskan tangan Alya dari Afkar dan mengambil alih kekuasaan.
Afkar yang tidak sadar langsung melepaskan tangannya " Maaf" katanya tekejut.
" Kami duluan ya Afkar, ayo Syl".
Bertiga mereka menuju parkiran meninggalkan Afkar yang masih bengong.
Aku salah ngomong ya tadi? kok mendadak Alya tiba-tiba begitu, atau Alya punya penyakit kronis yang dia sembunyikan? Atau Alya kesurupan? Ah,,, Afkar menepiskan tangannya ke depan wajahnya sendiri, besok aku akan ke kost nya untuk mengetahui keadaannya, aku merasa bersalah. Semoga Alya cepat sembuh.
Di dalam mobil, Alya mematung. Sementara 2 orang lainnya sibuk, Arga sibuk menginterogasinya, sambil memegang kemudi, dibelakang Sylvi sibuk mencari minyak kayu putih, atau minyak angin, atau balsem yang bisa membuat Alya tersadar, walaupun Alya tidak pingsan, tapi seperti orang tidak sadar
"Yang, lo kesambet? Apa jangan-jangan hantu di pohon jambu tadi ngikutin lo, tadi naik pohon lo izin qa ?
Alya menegakan posisi duduknya
__ADS_1
"Ngomongin apa sih kalian, sembarangan"
" Trus kenapa lo jadi mendadak sakit begini"
Tanya Sylvi sambil menggosokan minyak kayu putih ke hidung Alya, langsung dijauhkan Alya
" Ini lagi, bau Syl, qa mau gue kaya anak bayi aja"
Terdiam
" Al, lo istirahat aja deh, kalau nanti badan lo masih qa enak telf gue ya". Mobil berhenti tepat di depan kost Alya
" Tenang aja Ga, gue nginep di sini, gue jagain dia baik-baik, malam ini dia jadi bos gue, karena pacarnya sudah membelikan gue hadiah-hadiah tadi"
Merekapun memasuki kost, dan Arga melajukan mobilnya menuju pulang sambil terus berpikir, kayanya gue harus ngadain selamatan nih, mungkin benar penjaga pohon jambu tadi marah Alya naik seenaknya tidak izin dulu, hiiii.
Di dalam kamar
Alya merebahkan dirinya di kasur, sementara Sylvi mandi di lantai bawah. Kenapa dengan gue, kenapa tiba-tiba begini waktu ka Afkar mandangin gue. Apa ini yang namanya jatuh cinta? mau nanya Sylvi malu, apalagi nanya Arga. Apalagi nanya makhluk yang satu ini, begitu matanya menangkap sosok Yanti sudah berada disampingnya.
" Lo kenapa Al"
Menempelkan telapak tangannya ke dahi Alya
" Tidak panas" Jawabnya sendiri.
Alya menggeleng, " Qa tau juga Yan, tiba-tiba tadi lemes berasa mau pingsan, padahal sudah makan sama Arga dan Sylvi"
" Masuk angin kali ya, kan tadi lo di taman sama anak-anak padahal sudah malam"
" Bisa jadi Yan"
Yanti memandang Alya
" Mau gue buatin wedang jahe biar badan lo enakan?
Alya mengangguk.
Duuh, kayanya gue harus nerusin sandiwara ini, masa iya sakit mendadak sehat mendadak. Lagian gue sakit apaan sih.
Sylvi yang sudah mandi dan memakai baju Alya karena nginap tidak direncakan duduk disampingnya.
" Nanti kita tidak usah keluar malam lagi ya Al, kalau Arga ngajakin kita shooping lagi, siang aja biar qa kejadian kaya gini lagi"
" Syl, lo itu peduli sama kesehatan gue apa peduli sama dompetnya Arga"
" Dua-duanya Al"
Sambil mencium pipi Alya dan terkekeh
" Udah tidur, gue ngantuk, geser Al"
" Kebiasaan lo Syl, kalau nginep di kost gue, berasa gue yang numpang tidur di kost orang, tersisih gue"
Yanti masuk ke kamar dengan membawa secangkir wedang jahe
" minum dulu Al biar enakan tubuhnya"
Alya bangun dan meminum wedang jahe buatan Yanti
" Makasih Yan"
Sambil berbaring dan memainkan handphone Sylvi iseng nanya.
"Al, lo belum cerita ke gue tadi ka Afkar ngomong apa ama lo"
Yanti yang sudah merebahkan tubuhnya langsung bangun dan duduk
"Afkar???"
" Iya Yan, tadi kami ketemu di mall, katanya dia kerja di sana sebagai OB, trus kami ajakin santai di taman, qa lama ka Afkar izin mau pinjem Alya, eh balik-balik si Alya langsung sakit begini" Jawab Sylvi. Alya yang mendengar langsung menutup seluruh tubuh dan wajahnya dengan selimut. Tolong Yan, jangan dibahas, gemetar tadi aja belum selesai, jangan ditambahin lagi, gue qa mau pingsan beneran.
Ada apa antara Afkar dan Alya, batin Yanti. Besok gue tanyain, kayanya Alya sudah tidur. Di balik selimut ada seseorang yang berpura-pura tidur, tapi sampai jam 2 malam tidak bisa tertidur karena sedang memikirkan sedang sakit apa gue. Sampai kapan sandiwara sakit ini akan berlanjut.
Alya mencium tangannya sendiri, tangan yang tadi disentuh Afkar, deeg, tangan gue diperawanin ka Afkar, terbayang lagi tatapan dan senyum Afkar, Alya tersenyum dan membatin, apa benar ini jatuh cinta??? .
__ADS_1