Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Lamaran


__ADS_3

Yogyakarta, hotel Melia Purosani lantai tiga.


Afkar memasukan kemeja biru tua dan celana hitamnya ke dalam lemari yang sebelumnya di gantung pada hanger loundry berbahan stainless steel yang sudah tersedia di dalam lemari kamar hotel.


Membuka jendela kamar dan memandang ke bawah.


Kepada sepanjang jalan yang pernah kita lewati, tempat aku menitipkan pesan-pesan


agar daun dan kerikil yang berserak itu memberikan salam dan membuat kaki kekasihku nyaman melewatinya.


kepadaku selalu kamu bertanya


ke arah mana tempat yang kita impikan


kujawab jangan ragu dengan kesesatan


karena semua arah telah disatukan


Di jalan ini juga telah berjanji


menyimpan jejak yang melintasi lewat lorong-lorong tempatmu berlari dan mencoba bersembunyi dari cintamu yang lain agar aku sesaat tak menemukanmu


Bagaimana bisa aku kehilangan jejakmu jika petik gitar alunan lagumu terdengar jelas di pendengarku melalui perantara angin dan dinginnya malam, lagumu sampai padaku kekasihku


Jalan ini menjadi saksi yang tidak berdusta


tentang jejak-jejak yang pernah tertinggal


Lalu pinus, daun, dan bebatuan itu akan berbisik


bahwa di sini dulu cinta kita begitu manisnya


Saat aku menyusurinya lagi hari ini


Aku tak mampu menahan gejolak haru


Gejolak yang meruntuhkan bendungan airmataku.


Kekasihku,


Saat ini kenanganku menjumpai kita sedang duduk berdua.


Pada taman-taman kecil itu


Di samping ayunan dan perosotan berwana kuning gading


Di bawah sinar bulan purnama saat kamu ceritakan tentang cinta pertama mu yang bagaikan sedang ditemui malaikat maut untuk mencabut roh mu. Aku menakutkan sekali ya? kekasihku memang terkadang menerjemahkan sesuatu berlebihan.


Di jalan ini juga setelah kita jatuh dan memutuskan untuk saling mencintai kita sempat menyerah,


Satu malam itu aku tiba di jalan ini lagi.


Aku melihatmu yang sedang melukis kepiluan dengan kebisuan


Lalu kulihat aku yang sedang menggenggam tanganmu dengan erat, kemudian memelukmu yang menangisi begitu dalam pada dadaku, memintaku untuk pergi.


Masih melihatku yang masih bisa bicara dengan kekuatan semesta sementara jiwakupun sudah akan meninggalkan ragaku.


Mulutku yang menguatkanmu sementara hatiku menyimpan segetir luka yang menyayat pilu.


Hingga di jalan ini aku juga melihat kamu.


Melepas genggamku dan hilang di belantara waktu.


Sebanyaknya aku menyesatkan diri dalam ingatanmu, entahlah sebisa apa kamu melewatinya.


Jalan yang terlekat di ingatan,


Aku yang lemah mencoba mengukirkan senyum di balik basah pelupuk mataku


Benda hitam di atas meja membuyarkan lamunannya.


" Assalamualaikum bidadari"


" Waalaikum salam ka, sudah dapat kamar?"


" Sudah, ini aku baru selesai membereskan pakaian"


" Istirahat saja dulu ka, nanti teman ka Pandu mengantarkan mobil ke hotel"


" Kalau aku maunya sekarang saja, sudah tidak sabar melamarmu, hehehe"


" Uuhh, yang sudah berusia, pengen kawin, hahaha"


" Alyaaa"


" Hehehe, maaf pak bos"


" Nanti aku tanyakan ibu dan kak Mia, kapan mereka siap".


" Iya, mama sama papah juga barusan datang, masih istirahat"


" Ya sudah, aku mau ke kamar ibu dan menanyakan kapan bisa ke sana"


" Boleh, Arga juga sudah sampai, sedang di tempat Roni, mereka juga akan ke rumah ka Pandu, Sylvia juga"


" Reunian nih?"


" Sekalian, kata Roni nanti mau melatih ka Afkar biar ijab kabulnya lancar"


" Waah, kalau mereka yang melatih kenapa aku jadi grogi ya, sahabat-sahabatmu itu kan usilnya diatas rata-rata, hehehe"


" Kalau urusan serius begini mana berani mereka usil ka"


" Iya".


Tidak tau saja kamu Afkar, kemarin saja kamu sudah termakan kejahilan Arga masalah Kevin, dia sedang tidak bercanda kan?


" Ya sudah, aku mau menanyakan kesiapan ibu dulu ya sayang"


" Iya , ditunggu, jangan tersesat lagi ya ka"


" Aku tidak pernah tersesat, hatimu saja yang suka pindah seenaknya"


" Pindahnya tidak jauh-jauh, kakak saja yang malas nguber-ngubernya"


" Biarpun tidak jauh, tapi sembunyinya lincah banget"


" Ngajak berantem?"


" Enggak, ya udah, Assalamualaikum"


" Yaah di putusin, padahal berantemnya baru mulai start, hehehe. Oke deh ka Waalaikum salam"


" Emuuah"


" Dah ka Afkar"


Klik.


Modern Kontemporer intensif, mungkin lebih pantas dinamakan pada ruang tamu hunian rumah Pandu. Tidak terlalu besar namun cukup lega jika diadakan acara kecil-kecilan dengan cuma menampung beberapa tamu seperti kali ini.


Hal ini didukung dengan lantai beton modern yang dipadukan dengan dinding putih, ornamen kayu dan jendela besar yang membiarkan cahaya bebas masuk dengan visual indah di baliknya. menciptakan hunian kekinian yang memberikan kehangatan intens dalam bercengkerama di ruang tamu.


Jam dinding berbentuk bundar tepat menunjukan angka tiga. Sylvia dan baby Leeony sejak jam satu siang sudah berada di rumah Pandu. Gadis mungil bermata biru dengan rambut pirang itu terlihat sangat akrab dengan si tampan Danish.


" Syl, jodohin deh Lee sama Danish"


Alya mengikat rambut Lee yang sedang asik memainkan balok bangun susun di temani Danish


" Enggak"


" Danish tampan"

__ADS_1


" Gue tau"


" Kenapa di tolak?"


" Kalau dijodohin aja mulus sih boleh, enggak ada Afkar nya, kalau Afkar nya datang tiba-tiba bagaimana? anak gue lama di gantung, dipertahanin cape, di lepas masih sayang, iiihh kasian anak gue"


" Hahahaa, sialan lo, calon laki gue"


" Hahaha"


Pandu ikut duduk diantara mereka


" Ngaco lo de, enggak bakal anak gue main jodoh-jodohin, biar mereka saja yang akan saling menemukan"


" Alya becanda ka, hehehe"


Bunyi suara mobil berhenti di depan rumah Pandu


" Mobil Roni tu"


Sylvia berdiri diikuti Alya


" Gila lo Al, seminggu di Banjarmasin ketemu jodoh, terkabul do'a kami"


" Do'a nyokap gue Ron, enggak yakin gue lo doain gue"


Arga turun dari pintu kemudi


" Al, sebentar gue mau bicara"


Alya dan lainnya bengong, datang-datang ngapain ngajak Alya ngomong. Arga melepas sepatunya dan langsung masuk ke dapur Pandu.


" Assalamualaikum"


" Waalaikum salam, eh apaan nih narik-narik perawan mama"


Mama yang baru memasang jilbab dan keluar kamar kaget melihat Arga menarik tangan Alya


" Penting tante, mumpung belum jadi istri orang, Aaaww"


Cubitan mama mendarat di pinggang Arga


" Kalian ini bisa jaga sikap enggak sih, nanti tidak sadar di depan keluarga Afkar"


" Belum datang ini"


Mama menggeleng dan berjalan menuju ruang tamu menunggu tamu mereka.


" Al, gue minta maaf sebelumnya"


" Ga, jangan bikin gue gugup ya"


Arga menarik kursi makan dan duduk


" Al, kemarin gue nelf Afkar"


" Terus?"


" Gue tanya kapan ke jogya biar gue bisa beli tiket dan kesini, dia bilang belum tau karena kalian belum dapat restu keluarganya"


Alya mengangguk


" Benar, memang kemarin pagi belum"


" Gue kesal Al, dia selalu begitu, lamban bersikap"


" Heh, lo jangan ngejelekin calon suami gue walaupun memang bener dia lamban"


" Gue bilang saja, kalau dia telat, lo akan di bawa Kevin ke Hongkong"


" Haaah? ngapaian lo ngomong begitu?"


" Biar dia maju Al, dan berhasil kan?"


Alya mengangguk


Arga menepuk jidatnya


" Astaga Al, gue bukan bermaksud begitu, gue buru-buru cerita ke elo biar nanti kalau dia tanya ke elo soal Kevin jawaban kita sama"


Alya tertunduk


" Aaall, duuh salah ngomong gue Alyaaa"


Sylvia datang


" Kenapa lo Al? Arga lo apain Alya?"


Arga menggeleng


" Gue cuma cerita Afkar, kemarin gue bohongi, gue bilang Kevin akan datang buat jemput Alya ke Hongkong"


Sylvia meninju bahu Arga kemudian menatap Alya


" Lo mau ke Hongkong Al?"


Arga sangat gemas melihat Sylvi


" Iih, pengen gue gigit juga lo Syl, makin memperkeruh suasana"


Alya menatap Arga


" Terimakasih Ga, karena lo akhirnya ka Afkar bisa tegas, gue enggak marah"


" Lo juga jangan marah sama Afkar Al, dia sudah berusaha biar kalian bisa melalui ini dengan jalan yang baik"


Alya mengangguk


" Iya, akhirnya bisa sampai di sini benar-benar karunia"


Roni masuk dan bergabung


" Lo cerita yang tadi sama Alya Ga?"


" Iya Ron"


" Eh nanti malam kita kumpul di kedai Bowo ya"


" Setuju"


" Setuju"


" Setuju"


" Sebentar Ga, gue belum melampiaskan kemarahan gue, ngapain kemarin lo nonjok ka Afkar?"


Arga tertawa


" Maaf Al, dikit doang"


" Lo nonjok Afkar Ga?"


" Iya Ron, sesuai janji, hehehehe"


Tasya berlari masuk ke dapur


" Ka, rombongan mempelai pria datang"


Mereka berdiri bersamaan dan saling berpandangan. Mama masuk sebentar dan memastikan empat serangkai ini tidak berbuat ulah.


" Kalian,, jangan ada yang berisik, jangan ikutan ngomong, diam saja, ingat itu"


" Wuuuiih, kita jauh-jauh datang di suruh bengong liatin orang lamaran"

__ADS_1


Sylvia meletakan jari telunjuk di bibirnya


" Diem Ron, kalian disini saja, biar gue yang temani tante"


" Gue??"


" Lo disini juga Al, pinter-pinter jangan berisik, titip Leeony"


" Lo pikir kita penitipan"


Roni duduk kembali setelah dapat instruksi jangan ikut campur.


Terdengar sayup suara dari ruang tamu, Alya Arga, Roni dan Tasya memasang kuping dengan tegak


" Assalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Sesaat kemudian muncul kepala mama di dapur dan setengah berbisik


" Alya, itu yang datang benar Afkar?"


" Dari suaranya memang ka Afkar, kenapa ma?"


" Kok beda sih sama Afkar yang dulu datang nginap di rumah kita"


Alya melongo


" Iya beda lah tante, itu kan enam tahun yang lalu"


Roni menjawabkan pertanyaan mama


" Zaman Afkar ceking, hehehe"


Alya menyenggol lengan Arga di sampingnya


" Huuss"


" Sorry Al, emang kenyataan"


" Tambah ganteng kan ma?"


Mama mengangguk


" Enggak salah kan Alya pertahankan dia hehehe"


Mama kembali ke ruang tamu, diskusi yang tidak akan berakhir bersama mereka pikirnya.


Selama sepuluh menit perbincangan perkenalan a b c d, papah lebih mempertanyakan tentang Banjarmasin dan prospek usaha di sana, sementara mama lebih bicara nyambung dengan Kak Mia karena pekerjaan mereka yang sama. Pandu sesekali duduk bergabung kemudian masuk ke dapur memastikan hidangan minuman dan kue sudah siap. Alya dan Tasya menemani dua bayi cantik dan tampan di dapur, istri Pandu sibuk dengan menata hidangan pada nampan yang akan di bawa Pandu ke ruang tamu.


" Maksud kedatangan kami kesini untuk bersilaturahmi"


" Alhamdulillah, dengan silaturahmi akan memperpanjang umur dan diluaskan rezeki"


" Aamiin"


Pandu datang dengan baki berisi minuman diiringi Tasya dengan kue-kue hangat buatan mama Danish.


" Alya yang mana?"


Kak Mia sangat penasaran dengan sosok bernama Alya


" Ada, di dalam. Syl, panggil Alya"


Sylvia mengangguk dan berdiri


" Permisi"


Sementara di ruang dapur Alya gelabakan dan bingung


" Gue keluar, gue grogi, gimana tampilan gue"


" Sudah cakep, asal lo enggak ngomong lo jadi wanita tercantik"


" Syl, rambut gue gimana?"


" Bagus, enggak sia-sia gue dandanin lo tadi"


Alya menatap dua sahabat lelakinya


" Sudah cantik Al, ribet banget sih lo".


Roni mencomot satu kue bolu dari piring besar


" Ayoo Al"


Alya berdiri


" Bismillahi Rahmani Rahim"


Sylvia menggandeng tangan Alya yang mulai berkeringat, kenapa tiba-tiba gugup begini.


Alya akhirnya keluar, memberi salam dan mencium tangan ka Mia dan ibu, melewati Afkar yang duduknya memang lebih pojok, duduk disamping mama, semua mata tertuju padanya, kecuali Afkar. Sejak Sylvia menjemput Alya dia hanya menundukan kepala, semoga Alya tidak berlaku konyol kali ini, berulang-ulang dengan do'a yang sama.


" Ini Alya? lebih cantik daripada fotonya ya"


Ka Mia mencoba mencairkan suasana saat melirik adiknya tertunduk. Kata cantik membuat Afkar menegadahkan kepalanya


Ini Alya? cantiknya kekasihku, heyy alismu kenapa lebih tajam, matamu juga kenapa lebih tegas, kamu beri garis apa di bawah kelopak matamu? pipimu berwarna lebih merah, apa kamu sedang malu dan gugup sehingga pipimu merah begitu? lipstikmu juga terlihat lebih tebal, warnanya juga beda dari biasanya? Rambutmu seperti habis dari salon? kamu apakan sehingga geraiannya membuatku sedikit bergetar untuk menciumnya.


" Kenapa Afkar? mau kenalan sama Alya?"


Papah sedikit menggoda karena melihat Afkar begitu terpana melihat Alya dengan tatapannya, dan ini membuatnya tersenyum malu, om kenapa menggodaku di saat aku gugup begini


Sementara Alya tertunduk, kakak ngapain ngeliatin aku begitu? kayak kita belum pernah ketemu saja.


Setengah jam dalam pembicaraan serius akhirnya terjadi juga kesepakatan. Pernikahan akan dilangsungkan dua minggu lagi, sebenarnya Afkar meminta agar pernikahan dilangsungkan minggu depan, tapi mengingat mereka beda kota dan Afkar harus meminta surat rekomendasi dari wilayah asal ditakutkan tidak selesai dalam beberapa hari, mereka juga harus melakukan pendaftaran dulu di KUA tempat Alya berdomisili sesuai Kartu Identitas, melakukan pengecekan kesehatan. Dan yang membuat mama terhenyak Afkar meminta pernikahan dilakukan dan langsung dilanjutkan dengan resepsi perkawinan hari itu juga. Sempat mama protes.


" Langsuuung? tante bisa tidak ya menyelesaikan ini dengan waktu yang singkat begini"


" Bisa kok Tante, kita pakai EO saja, tante santai aja kaya Sylvi dulu"


Saran Sylvia agar mama bisa lebih tenang, mama mengangguk.


" Setelahnya kami akan melangsungkannya di Banjarmasin"


Alya melongo, tidak ada pembicaraan ini sebelumnya ka, kenapa bikin keputusan sendiri, kawinnya kan sama gue?


" Jadi Alya tidak keberatan kan tinggal di Banjarmasin?"


Ibu akhirnya bertanya, takut nanti setelah perencanaan selesai akan ada masalah kedepannya


" Iya bu"


" Kerja di kantor Afkar ya?"


Alya menggeleng


" Tidak tante, kemarin Alya ditugaskan ke Banjarmasin untuk menyelesaikan kerjasama, jika proyek ini berhasil Alya memang akan ditempatkan di kantor cabang yaitu Banjamasin"


Pandu menjelaskan pada ibu.


" Ooh, kerjasamanya sudah disepakati Alya?"


Kak Mia meneruskan pertanyaan ibu. Kali ini mama yang menjawab


" Sedang dalam tahap proses ya Al, tapi sepertinya Alya bisa kok menjalankan misi ini, walaupun bos nya galak, mohon di bantu ya Afkar"


Alya dan Afkar melongo.


Alyaaaa, belum berakhir cerita bos galak itu di depan orang tua mu? Afkar meminum air teh hangat dari gelasnya untuk menutupi kekacauan pikirannya, sedangkan Alya memainkan jemarinya, tolong maaa jangan dilanjutkan.


Tawa kompak Roni dan Arga terdengar dari ruang dapur mendengar percakapan terakhir dari mulut mama dan membuat Pandu segera beranjak ke dapur untuk kembali mengingatkan dua lelaki konyol yang sekarang tidak bisa menahan tawa, bos galaknya menantumu tanteeee.

__ADS_1


__ADS_2