
Sudah 2 jam berada di depan laptop, semangat Alya luar biasa untuk menghadapi sesuatu hal besar yang bernama Skripsi, kemarin saat menghadap dosen pembimbing dan berkonsultasi, dosen yang bertugas mendampingi dan memberikan konsultasi akademis kepada mahasiswa selama masa kuliah, termasuk menyusun rencana studi dan memberi pertimbangan dalam memilih mata kuliah dan jumlah kredit yang akan diambil, sesuai perkembangan studi mahasiswa. Alya mengajukan permohonan untuk mengajukan skripsi, dan melalui berbagai pertimbangan akhirnya permohonannya disetujui semester depan, yang artinya hanya sebulan lagi. Alya pun mulai browsing mencari apa yang bisa diajukan untuk judul skripsinya, Mengerjakan skripsi tentu butuh niat yang besar dan semangat yang tak boleh padam. Ide yang benar-benar menarik berpengaruh besar dalam membantu mempertahankan niat dan semangat. Judul yang diajukan biasanya tidak hanya satu dan diurutkan berdasarkan prioritas. Masing-masing judul yang diajukan juga menyertakan latar belakang. Untuk data tambahan akan menyesuaikan.
Setelah mengajukan judul pastinya akan ada kemungkinan, diterima atau di tolak, jika judul ditolak, maka harus melakukan pengajuan judul ulang. Apabila judul diterima, langkah selanjutnya adalah menghubungi pembimbing skripsi untuk kemudian memulai pembuatan pra skripsi.
Alya berdiri dari tempat duduknya di kamar, berjalan ke balkon lantai atas dan memandang ke bawah, sudah jam 8 malam, pantas saja perutku sudah lapar. Aku mau beli nasi goreng saja didepan sana. Alya masuk ke kamar dan memasang jaket pemberian Afkar, sebelum memakai jaket itu diciumnya, saat kamu tidak disisiku saja aku bisa merasakan hadirmu. Mengganti celana jeans pendek dengan jeans panjang, mengambil selembar uang kertas dan memasukannya di saku celana jeans bagian belakang. Meraih kunci motor di atas meja kecil dan mengantongi ponsel. Turun dari tangga, mengambil helm di bawah tangga dan berjalan ke halaman. Baru saja menstarter motor matic, sebuah sapaan membuatnya terkejut
" Assalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Alya menoleh ke arah pemberi salam. Tangannya tiba-tiba bergetar, tubuhnya hampir saja sempoyongan
" Mau kemana malam begini ?"
" Mau cari makan"
" Kebetulan aku juga mau makan, kita bareng ya"
Alya mengangguk.
" Mau makan dimana?"
" Nasi goreng di depan".
" Naik motor atau jalan kaki?"
Alya terdiam
" jalan kaki saja ka"
" Ya sudah, kalau jalan kaki, itu motornya kunci dulu"
Alya mencabut kunci dari motor dan memasukannya ke dalam saku belakang celananya.
Berdua berjalan pelan menuju depan komplek untuk mencari makan malam
" Apa kabar ka?"
" Baik, kamu?"
" Baik"
" Bagaimana pengajuan skripsinya? boleh"
" Iya, baru disetujui"
" Semoga semua lancar ya"
" Kapan datang ka?"
" Barusan, langsung cari hotel dan kesini"
Percakapan apa ini, aku kangen Alya, aku ingin memelukmu, menenggelamkan kepalamu di dadaku, mencium jemarimu, menatap bola matamu yang selalu berbinar, menertawai pipi merah merona yang akan hadir tiba-tiba jika kuucapkan pujian, kamu adalah pahatan terindah dari sang pemahat yang sempurna, bahkan sekarang untuk menyentuh tangan mu aku tidak bisa.
Ka Afkar, jangan memberiku percakapan aneh begini, bagaimana bisa kehadiran luar biasa ini hanya kita isi dengan pertanyaan dan jawaban sederhana. Aku ingin memelukmu, bersandar di bahumu, aku ingin menenggelamkan seluruh tubuhku di dalam pelukanmu, memberiku kekuatan kalau pilihan ku ini salah, benarkan aku dengan keyakinan ka.
" Kita makan dimana?"
Langkah Alya terhenti, sudah sampai??
Aakkhh, aku linglung, kenapa lupa kalau aku kesini mau mencari makan
" Terserah ka"
" Katanya tadi mau makan nasi goreng?"
Alya mengangguk, iya gue lupa tadi mau makan nasi goreng, tapi apa bedanya sekarang, makan apa saja apakah bisa tertelan? apakah akan berbeda rasanya?
Afkar mempersilakan Alya duduk di satu bangku sedang dia berjalan menuju satu warung yang menyediakan nasi goreng, sebentar dia sudah duduk disamping Alya, tidak ada kata-kata, pembicaraan, masing-masing sibuk dengan monolognya.
Seorang wanita datang dengan membawa baki berisi 2 porsi nasi goreng dan 2 gelas teh hangat.
Afkar mengambil satu piring nasi dan meletakkan nya di pangkuan Alya, kemudian mengambil 1 piring lagi dan meletakan di sampingnya.
" Kita makan Alya"
Alya mengangguk dan perlahan mulai memasukan nasi ke dalam mulutnya, kenapa tawar begini, kenapa hambar begini, kenapa tidak ada rasanya begini, bisa aku telan? bisa aku menikmatinya?
Melirik ke samping, Afkar bahkan belum memasukan nasi sama sekali ke dalam mulutnya, dari tadi terlihat hanya mengaduk di bagian satu sisi, apa diapun merasakan sepertiku?.
Afkar merasa diperhatikan menoleh pada Alya, Alya kaget karena ketahuan melirik, cepat mengembalikan wajah ke arah piringnya. Afkar tersenyum, kamu masih sama Alya
" Alya, sepertinya sampai subuh pun kita tidak akan selesai menghabiskan sepiring nasi ini kalau kita terlalu sibuk dengan pikiran kita"
Kali ini Alya menoleh dengan sempurna
" Jadi bagaimana?"
" Bicaralah"
" Kaka saja"
" Aku tidak bisa bicara sebelum kamu yang bicara"
Alya meletakan piring ke sampingnya, begitupun Afkar, berhadapan saling pandang, masih saja dengan diam.
Bicara Alya, terlalu banyak yang aku tunggu dari ceritamu.
Bruuk
Alya memeluk Afkar dan menumpahkan air matanya, tanpa bicara, hanya isakan yang terus menerus. Afkar membalas pelukan Alya
" Menangislah, keluarkan semuanya, aku di sini"
__ADS_1
Afkar membelai rambut Alya, mencium pucuk rambut dan menghirup sedalam-dalamnya
Alya semakin tenggelam dan merasa tidak ingin keluar dari kenyamanan pelukan ini, "Bisakah Alya untuk berada di pelukan ini saja, Alya tidak ingin lagi melepasnya, Alya takut kembali sendiri. Ini rasa yang tidak bisa Alya rasakan dimanapun dan dengan siapapun, bisakah menjelaskan ini, adakah yang bisa memahaminya"
Afkar mencoba untuk kuat dan menguatkan
" Maafkan aku tidak memberimu kabar dan menanyaimu kabar sejak kamu putuskan. Aku sedang belajar untuk tau diri dan tidak mengusikmu lagi, meski hatiku terluka dan terluka berulang kali. Mengingat di mata mereka kita hanyalah dua manusia yang tidak sepatutnya bersama, mereka tidak akan bisa melihat kita sedang tertawa bersama dan mencipta bahagia. Bagi mereka kita adalah ketidak jelasan saja. Mungkin memang sejak awal aku tidak boleh menggenggam cintamu, dua tahun aku berpikir apakah memang pantas untukmu, walau kemudian aku berani mati untuk menyatakannya. Benar saja, aku masih saja belum pantas untuk ini. Tidak ada yang salah, cinta tidak akan mengkhianati pemiliknya. Aku yang menaruh harapan dan mimpi yang terlampau tinggi, tapi ternyata aku salah mengartikannya, entah hatimu sudah berada di mana, disaat aku masih saja berandai-andai. Jiwaku sekarat di ambang kematian nya, tapi tidak cintaku, dia selalu mengarahkannya padamu walau ruh seakan sudah tertarik dari tubuhku, walau aku luka meratapi semua yang diberi, tersedu saat kau minta lepaskan dirimu, mengalah demi kuasa yang sedang berkuasa, demi bahagiamu dengannya kekasihku. Sejak kamu memutuskan hubungan kita yang kusebut cinta sejati ini, aku menampar diri agar tidak lagi hidup di dalam mimpi, dan sejak itu tidak ada yang baik di dalam hari-hariku"
Alya semakin dalam dengan kesedihannya.
" Jika kamu sudah mencintainya sejak kau masih bersamaku, aku tidak bisa menyalahkanku, memang aku yang penuh dengan kurangku sehingga dia bisa menutup dengan lebihnya. Dan sakitnya ketika aku baru mau menyadarkan diri, kamu sudah jauh melangkah bersamanya. Aku seperti pengembara yang tersika karena cinta, kemana lagi aku bisa bersinggah pulang jika rumahku sudah mempunyai penghuni? pintu yang dulu dijanjikan rapat terkunci memang masih terkunci saat aku pulang, tapi sudah ada seseorang di dalamnya, bahkan aku yang terlarang memasukinya. Dulu aku adalah malam yang selalu menemanimu, memberikan keindahan bersama bintang-bintang sebelum akhirnya meninggalkanku adalah pilihanmu. Entah sebisa apa aku pada akhirnya, aku mencintaimu dengan begitu hebatnya, tapi kau meninggalkanku dengan begitu mudahnya. Aku sekarang datang menepati janji untuk tidak meninggalkanmu, meski berat harus membiarkanmu meninggalkanku"
Alya melepaskan pelukannya, Afkar menghapus air mata yang masih mengalir dengan sesukanya, mengecup kening Alya.
" Air mata ini akan terus mengalir hingga kaki langit, pedih menusuk kalbu tanpa mau permisi pamit ,ketidak mampuanku untuk bertahan dan mempertahankan, seperti saat ini dikala aku yang tak mampu kau beri. Maafkanlah kebodohanku yang berusaha membuatmu selalu tersenyum dengan segala caraku bahkan sampai membuatmu kecewa begini, bukan karena aku belum mengenalmu dengan baik hingga aku melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan hatimu. Dalam hidup, terkadang kita akan mendapatkan apa yang tidak kita inginkan, bahkan tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, dan itu terjadi pada kita sekarang, sekuat apa aku mampu menjadikan yang diinginkan menjadi mendapatkan? atau menghilangkan yang sudah didapatkan untuk menjadikannya ketiadaan? Kita sedang berbicara takdir, bukan perasaan"
" Alya, takdir dan waktu itu pernah berpihak dan mempertemukanku denganmu. Kita sepasang takdir yang kemarin masih saling menunggu, masih saling merindu, tapi sekarang malah kau jauhkan itu padaku, sementara aku masih saja berdoa agar kamu tetap menjadi takdirku"
" Jangan menyalahkanku ka, bagaimana bisa kau runut dari kemarin saja, sehingga terlihat ini hanya salahku, bisakah kau ingat lagi sesuatunya dari semula yang lebih mula, dimana kaka saat aku masih mengharap untuk secepatnya kaka ikat? sudah lah Alya benci harus mengingat kesalahan keterlambatan itu, biar cukupkan semua kesalahan ini pada ku, dan biarkan akan menjadi ganjil, tidak perlu lagi mencari genapnya"
Afkar mencium jemari Alya
" Aku tau penyebab semua ini aku, benar katamu kita akan lelah dan menjadi benci ketika mengingat pemula dari keterlambatanku hingga kamu menjadi begini"
Alya tidak ingin melepaskan pandangan nya dari Afkar, mata teduhmu yang aku rindukan, datang malam ini untuk menyejukan, bisakah aku terus bisa bernaung disana seperti aku jatuh cinta pertama kali padamu di sebuah taman kota malam itu, sampai saat ini keteduhan itu yang berkali-kali memberiku rasa nyaman dan terlindungi, rasa nyaman?? aku akrab sekali dengan kata itu, nyaman terlihat untuk dia dan mereka, pernahkah menanyakan apa arti nyaman menurutku?
Afkar mengambil piring dan menyendok nasinya, perlahan memberikan sendok berisi nasi itu ke mulut Alya
" Kita makan sepiring berdua saja ya, supaya hemat, hehehe"
Alya menghapus lagi air mata yang baru di seka tapi mengalir lagi
" Iya ka"
Afkar menyuapkannya ke mulut Alya kemudian ke mulutnya lagi, berulang-ulang sampai piring itu kosong.
" Masih ada satu piring nasi lagi, mau nambah?"
" Sudah kenyang, kaka saja"
" Aku juga sudah kenyang"
Afkar memandang Alya yang sudah selesai dengan tangisannya dan kini juga sedang memandangnya
" Apa yang bisa kita perbaiki lagi Alya?"
" Tidak ada yang rusak dari hubungan kita, kenapa harus diperbaiki?"
" Artinya kita memang benar-benar berakhir?"
Alya hanya diam, katakan ka apa yang bisa membuatku kuat dan masih bisa mempertahankanmu. Katakan ka apa yang akan kamu lakukan
" Aku tidak bisa memaksamu yang terlahir ditengah keluarga bahagia, mereka yang melahirkan dan membesarkanmu, menjadikan buah hati dan kesayangan, mereka yang menuntunmu di jalur berliku.
Ucapannya adalah kamus dan petunjuk hidupmu, berteduh dalam naungan do’anya, bahkan di bawah telapak kakinya tergelar Syurga, mengajarimu dengan kedewasaan dan selalu menginginkan bahagiamu. Bahkan untuk jatuh cinta kamu memerlukan waktu lama agar tidak salah, semua hal tercerita agar mereka tau kamu selalu berada bersama dengan mereka yang menyayangi dan membuatmu aman dan nyaman. Kamu taat aturan, anak yang baik tidak akan keras kepala apalagi durhaka. Kita ini berasal dari dunia yang berbeda, apalah artinya aku yang baru saja mengenalmu lalu terburu-buru meminta hati bahkan jiwamu. Aku tau kamu akan kuat, patahkan hati sendiri saja kamu berani, asal jangan orang tua yang kita sakiti. Biarlah begini, hati akan bisa menyembuhkan luka sendiri dan biarkan cinta mengambil alih kendali. Belajar mengikhlaskan takdirku bukan takdirmu"
Alya semakin patah mendengarkan kepasrahan Afkar, tidakkah kamu masih ingin berjuang seperti katamu kemarin? saat aku tersalahkan karena katamu aku tidak seberjuang yang kamu pikirkan
" Ikhlas dalam hal melepaskan itu tidak pernah akan sempurna, tapi jika terus menggenggam dan akan membuat kita tidak bahagia karena tidak ada restu mana baiknya? yang paling tidak kusuka dari sebuah kedatangan adalah kepergian Sesuatu yang tidak bisa kucegah kemudian hilang untuk kurelakan. Terkadang kita harus merelakan sesuatu hal bukan karena kita menyerah tapi mengerti bahwa ada hal yg tidak bisa dipaksakan"
" Ka Afkar tidak ingin bertemu dengan ka Kevin dan bicara dengannya?"
" Bicara apa?".
" Katakan kalau kita saling mencintai"
" Untuk apa? kamu pikir sekarang hanya aku yang sakit? dia juga sedang tidak sepenuhnya di keadaan aman. Aku yang harus merelakan dan dia yang sedang mempertahankan sama-sama sedang berjuang. Mana sakitnya harus melepaskan dan berpura-pura ikhlas, dengan yang mempertahankan tapi tau hati kekasihnya belum bisa ia kuasai?"
Alya masih saja tidak habis pikir, kamu kenapa ka? dari tadi hanya bicara tentang merelakan dan mengikhlaskan? kata perpisahan yang aku ucapkan masih bisa kucabut, asalkan kamu tampil sebagai perisai di depanku, sejak memandang lembut matamu dan berada di dalam pelukanmu, aku menjadi seberani ini, aku siap untuk menentang ini, aku kuat menghadapi siapapun yang menghalangi, tapi kamu melumpuhkan kekuatanku. Aku ingin kamu berkata ayo kita berjuang bersama seperti katamu kemarin.
" Aku sengaja datang sekarang karena aku ingin menenangkan diri dulu, aku tidak ingin salah mengambil keputusan, jika menurutkan ingin, aku sudah membawamu pergi sekarang juga, kita menuju satu tempat dimana tidak ada seorangpun lagi yang bisa menemukan kita, kita memulai hidup nyata. Tapi untuk apa? apakah kita bisa tenang, apakah kita bisa bahagia? bagaimana kita akan memperkenalkan anak-anak kita sebagai cucu mereka, dimana kita bisa mencium tangan orang tua kita dan meminta ampunan nya, bagaimana doa mereka yang selalu untuk kebaikan kita? demi keegoan dunia".
" Kalau kaka memang sudah menerima ini, kenapa harus datang? bisa kan telfon saja Alya? kedatangan ini justru menyakiti ka"
" Aku pernah datang padamu dengan baik, pertemuan kita dimulai dari perkenalan, jabat tangan, bahkan kisah anehmu di taman kota itu, kubawakan sarapan, kepala benjolmu, kesalahan pahaman kita di malam tahun baru, itu adalah bagian yang indah Alya, kenapa kututup dengan hanya menelfonmu tanpa memandangmu, tanpa menjabat tanganmu, bisa sesederhana itu? aku tidak mau. Aku ingin benar-benar nyata melihatmu dan memastikan kamu kuat menerima ini, bahwa perpisahan ini bukan karena kita saling membenci, walau tidak ada perpisahan yang tidak menyakitkan dan baik saja, pasti menyakitkan menjalaninya walaupun diakhiri dengan semanis mungkin"
Alya memainkan jemarinya, Kevin meraih jemari itu
" Maafkan aku belum sempat membelikanmu benda yang seharusnya sudah ada di jari manismu ini, jika besok kamu sudah mendapatkannya dari orang lain, jaga baik-baik ya, jangan lagi menyusahkan orang lain ya, hehehe"
Alya menatap Afkar, leluconmu sangat menyakitiku
" Ka, apakah setelah ini kaka akan mencari pengganti?"
" Kenapa?"
" Alya tidak mau"
" Kamu sudah mendapatkan orang lain, kenapa aku dilarang?"
" Alya tidak rela"
" Membayangkannya saja kamu tidak rela, tapi kamu sudah melakukannya dan aku masih bisa bernafas sampai sekarang kan?"
Afkar membelai rambut Alya
" Jika takdir memang untuk kita bagaimanapun kita terpisah pasti akan bersama lagi"
" Jika tidak?"
" Kita akan memulainya sekarang, kamu akan diberikan yang jauh lebih baik".
" Dan kaka akan mendapatkan yang lebih baik dari Alya?"
__ADS_1
Afkar tersenyum
" Baik-baik ya sayang, aku masih sangat sayang padamu, aku bahkan tidak pernah terpikir untuk mencari yang lain?"
" Benarkah?"
" Iya, tapi barusan kamu memberikanku ide, aku jadi punya pikiran baru"
Afkar mencubit pipi Alya
Alya merebahkan kepalanya di bahu Afkar dan disambut dengan rangkulan tangan Afkar
" Ka, apakah setelah ini kaka tidak akan menghubungi Alya lagi?'
" Baiknya bagaimana?"
" Alya akan sangat merindukan ka Afkar"
" Belajarlah untuk tidak sangat lagi, perlahan-lahan kita akan terbiasa"
" Bagaimana jika suatu saat nanti Alya akan bilang tidak bahagia?"
" Kamu akan bahagia"
" Seandainya tidak?"
" Kamu akan bahagia bersama siapapun"
" Seandainya,,,"
" Berpikirlah yang baik-baik, maka semua akan baik- baik saja, percayalah"
" Kapan balik ke Surabaya ka?"
" Besok pagi"
" Artinya ini adalah pertemuan terakhir kita?"
" Entahlah"
" Kenapa sebentar sekali?"
" Aku sudah tidak punya rumah di sini"
Alya memeluk tubuh Afkar dengan erat
" Kita tidak usah saling mencari, biar takdir saja yang menemukan. Aku masih boleh sesekali menghubungimu untuk menanyakan kabar?"
" Alya selalu menunggu itu ka"
" Dengan siapapun nanti kamu akan menjalani hidup, baik-baik dan berbahagialah".
Alya melepas pelukannya
" Ka Afkar juga, baik-baik dimanapun. Semoga ini tidak menjadi pertemuan terakhir kita"
" Aamiin"
Alya mencium pipi kanan dan kiri Afkar, kali ini begitu tegar, tanpa tangisan, tanpa isakan.
" Apapun yang terjadi kemudian setelah ini, Alya janji akan lebih dewasa, akan mempersiapkan diri lebih kuat dan tidak lagi manja. Alya akan menjadi wanita tangguh, dan kapanpun takdir yang akan menemukan itu datang, ka Afkar akan menemukan Alya yang baru"
" Tidak usah memaksa berubah, semua akan berjalan sendirinya. Alya, aku ingat pertama kali kamu datang ke tempat ku, kamu bilang aku adalah OB paling cakep, apa itu masih benar?"
" Kenapa?"
" Kalau masih benar, mungkin setelah ini aku akan menebar pesona biar aku bisa cepat mendapatkan penggantimu, hehehe"
Alya diam, Afkar heran
" Tidak meninjuku, atau mencubitku?"
" Lakukan saja sesuka kaka sekarang, Alya bukan siapa-siapa lagi"
" Secara status memang kita bukan siapa-siapa lagi, tapi kamu adalah CINTA SEJATIKU"
Alya menggenggam tangan Afkar, pun sebaliknya, biar begini saja ka, jangan pergi dan jangan mengajakku pulang, aku tidak tau bagaimana hidupku besok, apakah tetap seperti hidupku kemarin, apakah masih bisa terhadirkan ceria dan tawa-tawaku. Aku bahkan tidak bisa lagi mengucapkan apapun padamu, rintihanku bahkan tidak akan habis walau sampai seribu purnama.
Malam,
Langit,
Rembulan,
Bintang,
Aku pamit
Jaga dia yang kukasihi dengan teramat
Lelapkan tidurnya
Hapuskan letihnya
Hiasi mimpinya
Jagakan dari mimpi buruknya
Dengarkan keluh kesah saat nanti dia bercerita padamu
Jangan memarahinya jika dia salah
Jangan meninggalkan nya saat dia menangis
__ADS_1
Selalu lah bisikan setiap dia bertanya
Aku selalu menyayanginya, Alya ku.