Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Cemburu


__ADS_3

Menikmati pemandangan di bawah lewat jendela kamarnya yang berada di lantai dua. Sudah banyak motor dan mobil yang berlalu lalang, terlihat anak sekolah berseragam putih biru putih abu memenuhi pandangan matanya. Ada yang naik motor sendiri, berboncengan, diantar orang tua, ada juga sepasang sepasang lelaki dan perempuan tanpa baju seragam, mungkin mereka sepasang kekasih yang berangkat kuliah. Alya tersenyum mengingat masa kuliahnya yang di lalui dengan luar biasa, tawa dan air mata menemani saat itu.


Tiiitt


" Assalamualaikum ka"


" Waalaikum salam bidadari, sudah mandi?"


" Sudah"


" Sarapan?"


" Belum ka, Alya liat dari jendela warung makan masih penuh-penuh, nanti kalau sudah agak berkurang Alya turun"


" Sudah jam tujuh, sarapan saja sayang, nanti juga pengunjungnya berkurang"


" Iya, ka Afkar sudah sarapan?"


" Ini lagi sarapan sama Juan di depan rumah sakit"


" Aprill kenapa ka?"


" Asam lambungnya naik, semenjak menyiapkan skripsi dia memang sibuk, padahal kami sudah sangat memperhatikan jam makannya, tapi memang akhir-akhir ini dia kelelahan, pulang kuliah apalagi kalau pulang malam, langsung tidur, tidak bisa lagi dibangunkan, kalau kupaksa dia malah marah dan menyuruhku keluar"


Alya mendengarkan dengan hati yang sangat tidak nyaman


" Keluar? dari mana?"


" Kamarnya"


Deg deg,, kenapa di kamar? sedekat apa sih kalian?


" Sekarang dia bagaimana?"


" Tadi sudah makan bubur, ada sih makan lima sendok, katanya sudah sangat mual, jadi aku berhenti menyuapinya?"


Hah? menyuapi? ngapapain? yang sakit perutnya, bukan tangannya kan?.


" Sayang makan dulu, nanti kalau aku sudah bertemu dokter aku ke Banjarmasin menemuimu ya"


" Alya sudah kurang berselera ka, kalau masih sibuk tidak usah kesini, Aprill lebih membutuhkan ka Afkar di sana"


" Sayang kenapa?"


" Tidak apa, Alya sehat, kan Aprill yang sakit"


" Sayang, jangan berpikir macam-macam, sesegeranya aku ke penginapanmu, aku menunggu dokter dulu, nanti aku pulang untuk mandi, dan segera ke Banjarmasin"


" Terserah"


" Sayaaaang, jangan begitu dong. Makan dulu, nanti kita ke Martapura buat beli cincin ya"


" Hhmm"


" Tutup dulu sebentar"


Klik.


Alya menatap ponselnya, kenapa di matikan?


Tiiiit, panggilan video.


" Iya ka"


" Sayang kenapa sih sepagian begini?"


" Tidak apa-apa, ka Afkar sibuk mengurus Aprill, dia lagi sakit, Alya yang sehat lah yang mengalah"


Afkar menatap wajah Alya


" Baiklah, sekarang sayang turun dan cari sarapan ya, aku mau masuk ke ruangan dulu, mungkin sebentar lagi dokternya datang"


Alya mengangguk.


" Jangan cemberut dong"


Alya menarik sudut bibirnya sedikit


" Kok masih jelek sih sayang".


Alya memonyongkan bibirnya


" Nah begitu cantik, hahhaa"


" Apaan sih"


" Ya udah, sarapan ya? aku masuk dulu, Assalamualaikum"


" waalaikum salam"


" Emuuah"


Alya tersenyum, ini panggilan video ka, dari sini saja terlihat di tempat sarapan kaka banyak orang, enggak malu banget.


Alya melambaikan tangan nya.


Juan tidak dapat menahan tawanya, bahkan sangat keras membuat Afkar menyikut sikunya


" Ssst, Juan jaga sikapmu"


" Bos yang tidak bisa jaga sikap, kaya anak SMA saja pakai emuuah emuuah gitu, ini tempat umum"


" Dia kekasihku, ada yang salah?"


" Salah tempat, hahaha".


Afkar kembali menyendok nasi ke mulutnya, ini adalah suapan terakhir.


" Aku sudah melamarnya tadi malam, minggu depan aku akan pulang untuk menemui ibu ku dan membawa beliau ke Yogya"


" Aprill bagaimana?"

__ADS_1


" Bagaimana apa?"


" Ditinggal begitu saja?"


" Apa maksudmu?"


Juan menggeleng


" Perasaan Aprill bagaimana bos tinggal nikah sama Alya?"


" Dia adikku"


" Adik apa? ada yang namanya adik suapin begitu? dia memelukmu dan semalaman kamu menemaninya di ruangan tanpa dia melepaskan tanganmu. Dan kamu bisa jelaskan untuk apa dia kemarin berlari keluar ruanganmu dan menangis saat melihat perbuatanmu bersama Alya berdua"


" Juan, sudah kubilang itu salah paham, aku hanya ingin melihat apakah Alya masih memakai kalungku"


" Aku bisa percaya karena aku bersamamu saat Arga bercerita kemarin, tapi Aprill?? Dia cemburu"


Afkar hanya melihat ke depan, matanya melihat lalu lalang kendaraan bermotor yang sangat padat.


" Aku mencintainya seperti adikku sendiri"


" Tapi dia mencintaimu seperti kekasih"


" Jangan membuatku marah Juan"


" Terserah, aku hanya bicara yang aku lihat, itu pun aku tidak melihat hubungan akrab kalian di rumah, walaupun kalian tidak satu atap, tapi jarak rumahnya dengan kamarmu hanya beberapa langkah. Sebelum tidur kamu bahkan patroli ke seluruh isi rumah, apakah pak Wijaya sudah beristirahat, apakah Aprill sudah makan, tugas kuliahnya apakah ada yang belum selesai dan kamu akan sigap menyelesaikannya, jika dia lapar dan sangat sibuk kamu akan membawakan makan malam untuknya ke kamar dan menemaninya makan sampai selesai. Begitupun paginya, kamu kembali mengontrol apakah pak Wijaya sehat, mengecek apakah makanan beliau sudah tersedia, memastikan obat maag dan vitamin mereka masih lengkap.


Membangunkan Aprill yang suka bangun telat. Mengecek apakah baterai ponsel Aprill sudah penuh agar ia tidak punya alasan kehabisan baterai saat tidak mengangkat telefonmu karena ia sedang jalan-jalan lalu mengaku di perpustakaan. Melakukan video call di jam pulang karena kamu khawatir dia keluyuran tanpa sepengetahuan bang Jali.


Sore sebelum pulang bos juga selalu menelfonnya untuk menanyakan apakah sudah shalat ashar dan mau menitip makanan apa untuk kamu bawa pulang. Aku hanya melihat itu sekilas dan beberapa kali saat aku di minta pak Wijaya membantu mu saat kita lembur, aku tidak tau apa yang tidak kulihat selainnya, mungkin saja masih banyak hal dan perhatian yang kamu berikan pada Aprill sehingga dia semakin merasakan kamu bukan hanya seorang kakak"


" Aku melakukannya karena merasa itu tanggung jawabku, Galih jauh, dia tidak bisa selalu memantau keadaan dan kesehatan Pak Wijaya dan Aprill, dia juga mengamanahiku untuk itu. Selainnya aku merasa harus berbuat sebaik dan sebanyak nya kebaikan untuk keluarga mereka. Aku dibawa kesana, diperlakukan baik bahkan sampai diberikan pekerjaan ini seperti mimpi, tidak ada darah yang sama mengalir diantara kami, tapi sungguh beliau adalah manusia paling baik yang pernah ada di hidupku"


Juan mengangguk


" Itu versimu bos betul sekali. Tapi Aprill perempuan, dia punya perasaan. Dan itu lebih peka daripada kita lelaki. Aprill pernah tau tentang Alya?"


" Tidak, tapi pak Wijaya tau"


" Apalagi itu, dia tidak tau kamu masih menyimpan perasaan cinta untuk mantan kekasihmu, makanya dia dengan leluasanya merasa kalau kamu itu miliknya"


" Dia tidak pernah bilang begitu"


" Tentu saja tidak, tapi kami bisa melihatnya bos. Saat di kantor misalnya, dengan santainya dia akan memeluk pinggang mu saat berjalan, benar kamu tidak membalasnya, terkadang kamu sangat sibuk dengan ponselmu atau mengatur kami yang sebenarnya tidak perlu diatur lagi. Terkadang juga saat kamu mengontrol kerja kami tiba-tiba dia datang, dia cuek saja mencium pipimu dan segera berlalu jika kamu melotot padanya. Kamu menyadari itu tidak?"


Afkar menggeleng.


" Sebaiknya sebelum kamu pulang ke Jakarta menemui ibumu, bereskan dulu perasaan Aprill"


" Kenapa kamu bisa berpikir begitu dan aku tidak?"


" Karena hatimu sudah kamu kunci untuk seorang Alya"


" Aku salah memberi perhatian pada Aprill ya?"


" Perhatian tidak salah, tapi berlebihan itu yang membuat Aprill berpikir bos pun mempunyai perasaan yang sama, lebih dari perasaan kakak dan adik"


" Aku hanya mengutarakan apa yang aku lihat bos"


Afkar melirik jam tangannya


" Sudah setengah delapan, aku akan menunggu dokter, lalu pulang"


" Bos akan menemui Alya?"


Afkar mengangguk


" Kami akan membeli cincin pernikahan"


Juan menghela napas panjang


" Semoga Aprill bisa menerimanya"


" Alya adalah cinta sejati dan cinta yang kuingini, aku tidak ingin lagi kembali kehilangan dia dan hancur"


" Semoga kamu bisa mendapatkan kebahagiaanmu".


Dress selutut berwarna biru muda dengan sedikit payet menghias bagian dada. Alya memoles bedak ke dua pipi dan lipstik tipis pada bibirnya. Setengah jam yang lalu Afkar menelfon dan mengabarkan akan menjemputnya.


Benar saja, tidak lama satu panggilan telefon dari Afkar kalau dia sudah di depan penginapan.


" Assalamualaikum"


" Waalaikum salam ka"


Alya duduk dengan manis di samping Afkar. Afkar langsung memutar kemudi dan perlahan keluar dari halaman guest house.


" Sayang mau kemana?"


" Katanya ke Martapura kan?"


" Iya, barangkali mau mampir kemana dulu"


" Tidak usah"


" Tidak sabar mau memasang cincin pernikahannya ya? hehe"


Alya tersipu dan menonjok pelan bahu kiri Afkar


" Awww, sakit sayang, lengan kiriku kaya berasa pegal"


" Kenapa?"


" Tidak tau, apa karena tadi malam semalam Aprill memegangi lenganku ya, jadi pas bangunnya pegal banget. Punggangku juga sakit, tidurnya sambil duduk sih "


" Tidurnya sama Aprill?"


" Bukan, aku duduk di samping tempat tidurnya, dia megang lengan kiriku semalaman, jadi bangunnya baru kerasa pegal"


Alya membuang mukanya ke samping kiri.

__ADS_1


Ngapain ka kamu semalam sama Aprill? kamu buru-buru meninggalkanku tadi malam karena mendengarnya masuk rumah sakit, lalu menceritakan hal semesra ini padaku? kenapa hatiku merasa sakit ya?.


" Ka,,,"


" Eemmm"


" Kita pulang saja, Alya malas beli cincinnya, kapan-kapan saja"


Afkar melirik sebentar.


" Sayang kenapa sih dari tadi pagi bete begitu? aku salah apa?"


" Alya cuma lagi malas, enggak mood. Kan sayang nanti salah pilih cincin"


" Memang sayang mood nya mau kemana? iya deh kuantar kemana saja"


" Alya mau pulang".


Afkar tetap saja menjalankan mobilnya


" Ka, dengar tidak Alya mau pulang"


" Sepertinya kita harus bicara banyak tentang Aprill, kita makan siang dulu"


" Alya tidak mau dengar tentang dia"


" Harus Alya, kamu cemburu"


' Tidak, biasa saja"


" Bagus lah, tapi aku tetap harus bercerita, aku tidak mau kamu berpikir yang tidak-tidak"


" Cerita saja sekarang"


" Sayang mau mendengarnya?"


" Kaka kan mau cerita, ngomong aja, soal dengar atau tidak biar telinga Alya yang memutuskannya"


Afkar menepikan mobil di satu rumah makan dan mematikan mesin mobil saat sudah terparkir.


" Jangan terlalu keras kepala Alya, sesekali dengarkan aku"


Alya tidak ingin semakin marah, disimpan saja dulu kekesalan di dalam hatinya.


" Dua tahun yang lalu aku pergi dari Surabaya ke kota ini sendiri, teman kost ku saat di Yogya bernama Tama menyarankannya untuk bekerja sebagai grab car. Aku menyetujuinya, aku ke Banjarmasin hanya dengan kekuatan hati dan restu ibuku. Aku menyewa satu kamar kost kecil, aku juga menyewa satu mobil sebanyak 4 juta perbulan untukku bekerja. Aku tidak memperdulikan apapun lagi, siang malam aku harus bekerja agar bisa membayar sewa mobil, sewa rumah, dan bertahan hidup.


Aku punya tabungan hasil kerja di Surabaya, tapi aku tidak pernah mengambilnya, aku bahkan berusaha menambahnya, untuk apa? untuk tetap menabung dan merencanakan menikahimu, dengan catatan kita masih bisa bertemu dan kamu sudah berpisah dengannya. Kemudian aku mengenal anak ibu kost, Windi namanya, saat itu dia sedang skripsi, dia sering mengajakku untuk duduk santai di Siring ataupun taman sambil mengerjakan laporannya. Aku selalu membayangkan siapa yang menemanimu di saat kamu ingin rehat sejenak dari kelelahan skripsi, lalu aku menelfonmu untuk menanyakan nya, sayangnya tidak pernah terjawab sampai sekarang. Windi kemudian mengungkapkan perasaannya padaku, aku tidak bisa berpikir saat itu, aku hanya kesal, marah, kecewa, sedih karenamu yang mengganti nomor ponselmu.


Maka kujawablah akupun menyukainya, dan selama tiga bulan aku melalui keadaan yang tidak kuinginkan. Dan satu malam saat aku akan berangkat bekerja lagi, Windi memasuki kamar kost ku, dia melihat seluruh dinding kamarku terisi dengan fotomu dan kita, dia marah. Dia memintaku menurunkan semua fotomu, malam itu kami bertengkar hebat.


Setelah pulang kerja aku memang menuruti kemauannya untuk menurunkan semua fotomu"


Alya menoleh dan memandang Afkar yang sejak pertama bercerita tadi sudah memandang Alya walau Alya mengacuhkan.


" Ka Afkar menurunkannya?"


" Iya, semua tanpa tersisa, aku juga mengepak semua barang-barang lainnya, aku pindah"


Alya tertunduk


" Meminta fotomu diturunkan? aku tidak terima sayang, kamu terlalu berharga, siapa yang bisa melarangku untuk tetap nyaman melihatmu walau hanya dalam bentuk foto"


Alya kembali menatap Afkar


" Ka Afkar pindah kemana?"


" Besok paginya aku langsung pindah ke tempat baru, penumpang kemarin sore yang kubawa mengenalkanku pada kost nya, beruntung masih ada kamar kosong.


Sampai suatu malam saat aku masih bekerja, sekitar jam setengah sepuluh malam, ada satu pesan di aplikasi grab car ku, ternyata seorang lelaki yang meminta antarkan ke Martapura dari Banjarbaru. Aku mengantarkannya, dan saat aku sudah sampai di kost aku melihat ada satu bungkusan tertinggal di bangku penumpang, aku membukanya agar bisa memastikan itu milik penumpangku yang mana, ternyata uang sayang, banyak sekali, saat itu aku takut dan langsung mengembalikannya. Dia adalah Pak Wijaya, seseorang yang membuat hidupku berubah dan menjadi seperti ini. Beliau teramat baik, aku bahkan berjanji pada diriku sendiri untuk menjaga beliau untuk selamanya aku hidup"


" Menjaga pak Wijaya, bukan menjaga puteri beliau kan?"


" Termasuk juga Alya, aku menjaga beliau, menjaga puteri beliau, menjaga harta beliau. Istri beliau sudah lama pergi, Aprill kehilangan sosok ibu, saudara satu-satunya Galih juga jauh, sedang pak Wijaya terlalu sibuk. Tapi sejak aku datang, Pak Wijaya menjadi punya waktu, sekarang beliau lebih sering berada di mesjid, di majelis, kegiatan keagamaan dan untuk urusan lainnya diserahkan padaku.


Galih juga sering menghubungiku dan memintaku untuk menjaga Aprill. Walaupun tingkahnya terkadang membuatku marah, tapi dia sudah seperti adikku, yang mengajakku berantem, mengajakku jalan, mengajarinya tentang dunia luar, selama ini dia hanya terkurung di rumah, waluapun denganku dia masih tidak bisa bebas. Dia sepertimu sayang, dia sangat lucu, konyol, menjengkelkan, tapi dia juga rapuh, sebentar menangis untuk hal sepele. Kamu hidup di dirinya, tapi memang bukan kamu, aku mencurahkan kasih sayang ku sebagai kakak, terkadang seperti itu kamu, tapi sungguh, bukan cinta pada kekasih, aku sangat menjaga dan melindunginya, seperti aku ingin menjaga dan melindungimu, sayangnya itu tidak sempat, kamu sudah lebih dahulu terjaga dengan orang lain"


" Benar ka Afkar tidak mencintainya sebagai kekasih?"


Afkar mencubit hidung Alya


" Kalau aku mencintainya, kenapa aku harus menunggu selama ini? aku pasti sudah menikahinya kan? Dan sekarang aku malah mengajakmu mencari cincin berlian untuk pernikahan kita"


Alya tersenyum.


" Jadi bagaimana? jadi kita cari cincinnya? aku tidak hanya tidak sabar untuk memasangkannya di jarimu. Aku juga tidak sabar untuk satu hal"


" Apa?"


" Mengucapkan kuterima nikahnya Alyana Puteri Pratama".


Alya tertawa


" Sudah hapal dari dulu kan?"


" Iya, tapi hanya kuhapal di dalam hati, belum pernah kuucapkan dengan lantang di depan penghulu, hehehe"


Alya tersipu


" Sudah siap menjadi Nyonya Afkar sayangku?"


Afkar mengangkat dagu Alya dan menggodanya dengan mata yang membunuh dan membunuh lagi. Bahkan kali ini membuat dada Alya bergetar hebat, kenapa aku harus jatuh cinta setiap saat begini sih ???


" Ka,,"


" Iya sayang?"


" Alya lapar"


" Hahhaa, aku lupa mengajakmu turun untuk makan karena terlalu bersemangat mengajakmu ke pelaminan"


Alya dan Afkar tertawa bebas sebelum turun dari mobil dan menikmati makan siangnya.

__ADS_1


__ADS_2